Tuesday, December 30, 2008

Candi Jiwa



Penat kota mengantar kami serombongan ke pinggiran Karawang. Perjalanan panjang pun dimulai. Begitu keluar tol Karawang, suguhan sawah terhampar di sepanjang jalan. Candi Jiwa adalah tujuan kami. Candi Buddhis ini terletak di Batujaya, Karawang.




Thursday, December 25, 2008

Greetings

SELAMAT NATAL & TAHUN BARU 2009.
Semoga kedamaian menyebarluas di BUMI MANUSIA.

Wednesday, December 24, 2008

Selamat Hari Ibu

Agak terlambat aku melihat tayangan siang itu. Di kotak ajaib terpampang seorang ibu, menggendong setengah menyeret anaknya. Rambutnya hampir semua berganti uban. Sepotong adegan itu lalu diikuti sebuah cuplikan judul, Tukirah. Rentetan wawancara dalam bahasa Jawa menyusul, tentu diiringi teks warna kuning. Dokumenter cerita itu terus mengalir. Ya Tukirah, dengan penuh kesabaran mengasuh ketiga anaknya yang mengalami kecacatan sejak lahir. Tanpa kenal lelah tentu. Mulai dari memandikan, menyuapi, hingga membantu anaknya ketika buang hajat. Jika dilihat, ketiga anaknya sudah dewasa dengan kumis menggelatung.

Bagi Tukirah, anak dengan segala kondisinya merupakan titipan yang di atas. Harus tetap disyukuri. Segenap waktu seluruhnya ia dedikasikan hanya untuk merawat ketiga anak-anaknya. Banyak yang memuji keteguhannya, namun tak jarang ada pula yang mencibir. Namun semua itu hilang dengan ketelatelannya dalam menjaga & membesarkan ketiga anaknya itu. Dengan keriangan seorang ibu, ia terus menemani anak-anaknya. Beruntung ia memiliki suami yang penuh perhatian. Suaminya, Samidan, seorang pendidik. Walau ia tak berpendidikan tinggi, namun ia memperoleh banyak pelajaran dari sang suami. Tukirah kadang merasa malu. Malu karena waktunya lebih banyak mengurus sang anak. Tugas sebagai istri akhirnya menjadi korban. Namun sang suami justru mendukung. Ia tidak pernah menuntut. Kadang kala pagi sebelum berangkat kerja sang suami tak sempat sarapan. Begitu sampai rumah, ternyata Tukirah juga belum sempat menyiapkan semuanya. Suaminya sangat mengerti dengan kondisi ini. Bagi Tukirah dan suami, anak-anak mereka adalah yang utama. Samidan tak pernah mau diistimewakan. Kadang kala, ketika makan, Tukirah mendahulukan sang suami, namun justru hal itu ditampik Samidan. Ia tak mau diistimewakan. Yang perlu diistimewakan adalah ketiga anaknya.

Walau terlihat teguh, ternyata Tukirah menyimpan kegundahan. Apalagi jika bukan ketakutan akan usianya. Ia takut jika kelak di panggil Yang Kuasa, siapa yang lantas mau menjaga anak-anaknya. . Ia justru berharap biarlah anak-anaknya dulu yang dipanggil. Sebab menjaga anak dengan keterbatasan, tak hanya butuh kesabaran. Sentuhan seorang Ibu diyakini tak akan pernah tergantikan.

Selamat hari Ibu.

Thursday, December 11, 2008

Buta Baca, Baca Buta

Sebuah pagi yang muram. Mendung sendu bertebaran. Tapi nyanyi burung terdengar riuh di pohon mangga. Hari itu sudah waktunya bayar pajak "si hitam". Niat hati bangun pagi, tapi rengek malas menggelayut. Agak siang akhirnya baru ku pacu "si hitam" ke samsat. Setengah jam sudah "si hitam" mengguncang badanku. Tiba jua akhirnya di kantor itu. Gedungnya tinggi, kokoh. Parkir motor sudah agak penuh. Wah coba kalau pagian dikit, pasti kebagian ditempat yang sejuk. Beberapa orang hilir mudik membawa berkas. Di sudut sana, kantin mulai ramai orang untuk mengganjal perut yang tak sempat sarapan. Di ujung berikutnya tukang foto kopi sibuk menerima order. Dengan gesit ia merobek lembar demi lembar dengan bekas plat nomor kendaraan. "Mas, habis ini kemana nih" tanya ibu muda. "Ya masukin aja tuh ke kantor sana" tunjuk seorang bapak di sebelahku. "Duh ribet nih kayaknya" timpal ibu muda ini. Dari gelagatnya bisa dipastikan ini adalah pengalaman pertamanya mengurus & membayar pajak. Tak berselang lama, selesai juga foto kopianku. "Semua 2.000 Mas" ujar tukang foto kopi itu.

Alat detektor (entah berfungsi atau enggak) mencegat di pintu masuk. Beberapa orang berjaga-jaga waspada. Begitu masuk ternyata sudah ramai. Terlihat seorang polisi berpakaian resmi memakai selendang bertuliskan "Pemandu". Terlihat ada perubahan memang. Langsung saja mampir ke satu loket mengambil formulir pendaftaran. Sejurus aku sudah ditengah-tengah kerumunan orang mengisi lembaran kosong itu. Disana disediakan alat tulis, juga contoh lembar isian yang harus diisi. Aku bertemu lagi dengan ibu muda tadi. Lagi-lagi ia bertanya. "Ini gimana ngisinya Mas" ujarnya cemas. Hampir semua orang menjadi korban ketidaktahuannya. Padahal jelas-jelas disana tertulis jelas contoh pengisian formulir itu. Ternyata tidak hanya ibu muda ini saja yang bertanya. Seorang bapak tua juga bertanya hal yang sama. Belum lagi seorang anak muda berikutnya. Padahal disana semua sudah terpampang jelas. "Apa mereka tidak membaca ya?" pikirku. "Atau jangan-jangan mereka memang tidak bisa membaca?". "Masak hari gini masih ada orang gak bisa membaca sih?".

Ingatanku menerawang pada tulisan seorang teman di Bali. Karena sedang menggelar hajatan, tokonya tutup sementara waktu. Di depan toko jauh hari terpampang pengumuman kalau hari itu toko tidak buka. Namun apa lacur. Masih banyak saja orang datang menanyakan tokonya buka atau tidak hari itu. Sekali dua kali ia masih sabar memberi penjelasan. Tapi lama-lama ia jengkel juga. Dengan dongkol ia menyuruh membaca tulisan di depan toko setiap kali orang bertanya.

Di tengah berpacu menghindari jalan keriting sepanjang jl. Daan Mogot, aku termenung atas semua kejadian tadi. Ternyata banyak dari kita memang tidak pernah benar-benar melihat bacaan dengan baik. Lebih senang mendengar dan melihat daripada membaca. Lihat saja di bawah tanda dilarang parkir ternyata banyak pula mobil berjajar seenak hati. Tak heran banyak rumah di pintu tertulis: "SELAIN ANJING, DILARANG PARKIR DISINI". Aku jadi teringat ketika masih SD, di setiap genteng rumah terpampang B3B, bebas tiga buta. Sebuah program mulia pemerintah kala itu. Salah satunya bebas buta aksara. So, jangan-jangan kita memang belum sepenuhnya B3B! Jadi kita masih saja mengalami buta baca.

Wednesday, December 3, 2008

Siti Sumiyati: Bidan Apung Pulau Seribu

"Iya saya Ibu Sum" julur Ibu berkerudung coklat marun itu kepada kami. Usianya sudah 56. Bedak putih nampak tercecer di wajah yang mulai menua. Seragam PNS melekat di tubuhnya yang besar itu. Setelah menyempatkan kami duduk, ia terus memeriksa pasien. Ada yang sakit gatal, tapi kebanyakan ibu hamil. "Ibu jangan banyak makan garam ya, tensinya tinggi nih"semburnya kepada seorang ibu gembul. "Nanti harus sering periksa lagi ke sini ya" ujarnya sambil memberikan resep obat. Di ujung pintu periksa ia berteriak "Ayo siapa lagi". Seorang ibu tergopoh masuk ruangan dengan perut membuncit. Sementara di seberang sana, seorang lelaki tua teronggok di kursi menunggu giliran. Hiruk pikuk di pagi menjelang siang itu terasa di puskesmas Pulau Panggang. Hilir mudik petugas dan warga terlihat. Sesekali terdengar celotehan diantara mereka.

Ibu Sum demikian bidan ini biasa disapa. Nama lengkapnya Siti Sumiati. Ia sudah bertugas sebagai petugas kesehatan di pulau sejak 1971. Itu artinya sudah 38 ia sudah berkeliling pulau seribu memberi pelayanan kesehatan. "Kalau bukan karena panggilan, sudah saya tinggalkan pulau ini jauh-jauh hari Mas" ujarnya membuka cerita. "Kalau dulu Ibu mah kemana-mana masih serba terbatas". "Kapal motor buntut deh pokoknya". "Kalau sekarang sudah banyak kemajuan". "Ojek kapal juga sudah semakin banyak". "Jadi banyak banget perbedaannya". "Selain itu tenaga kesehatan sekarang juga sudah banyak". Hampir semua pulau yang ada di pulau seribu sudah ia singgahi. Termasuk Pulau Sebira yang harus ditempuh 7 jam kala itu. Namun sekarang cukup 2 jam dengan fasilitas speedboat puskesmas keliling. Seorang ibu membenarkan kiprah Ibu Sum. Ia yang kami temui di dermaga pulau pramuka bahkan mengatakan kelima anaknya yang lahir semua ditangani Ibu Sum. "Ibu Sum itu jasanya banyak banget untuk warga sini" ujarnya sambil menawarkan bungkusan ikan teri. "Hampir semua anak pulau sini, semua lewat tangan Ibu Sum" tegasnya.

Meski sudah memasuki masa pensiun, namun jasa Ibu Sum masih dibutuhkan warga. Untuk itu pemerintah memperpanjang masa pensiunnya. "Ibu sebenarnya sudah mau istirahat, tapi gimana lagi?" "Ya sudah dinikmati saja" ujarnya. Dalam setiap memeriksa pasiennya, ia selalu mewanti-wanti untuk menjaga pola makan. Maklum sebagian besar pasiennya memang ibu hamil. "Mereka itu kan riskan, jadi mesti benar-benar menjaga pola makan".

Ibu Sum sebenarnya ditugaskan sebagai bidan di kecamatan. Namun karena kecamatan yang ditunjuk tidak memiliki kantor, ia akhirnya "membantu" di puskesmas pulau Panggang. Tenaganya di pulau terpadat ini justru dirasa banyak warga. "Ibu Sum itu cekatan kalau periksa"ujar Susanti seorang warga. "Memang orangnya bawel, tapi ya memang begitulah orangnya".

Tiap hari Ibu Sum menyebrang ke Pulau Panggang dari rumahnya di Pulau Pramuka. Semua itu ia lakukan atas nama kemanusiaan. "Sehari saja saya tidak masuk, wah besokannya bakalan antri tuh warga" ujarnya terkekeh. "Maklum kadang saya harus pergi untuk banyak urusan. Hampir semua pelatihan saya ingin selalu terlibat". "Sebab pendidikan saya memang tidak tinggi". "Biar begitu saya harus terus mengasah diri biar tidak tertinggal". Atas semua jerih payahnya itu ia di ganjar penghargaan dari WHO sebagai penyelamat ibu melahirkan. Ini karena angka kematian ibu melahirkan di pulau Panggang dan sekitarnya nol persen. Artinya tidak terjadi kematian ibu ketika melahirkan. Ia diundang untuk datang di Glasgow, Skotlandia untuk menerima penghargaan itu Juni lalu. "Dari Indonesia cuma saya lho" ujarnya bangga. "Selain saya, yang dapat penghargaan dari Kuba". "Seumur-umur ini pengalaman paling berharga". "Selain bisa ke luar negeri, banyak juga ilmu yang bisa ditimba".

Beberapa kali Ibu Sum juga diundang untuk berbagi pengalaman dengan bidan-bidan muda. Ia selalu menekankan bahwa menjadi tenaga kesehatan itu adalah panggilan kemanusiaan, bukan untuk mencari material semata.

Wednesday, November 26, 2008

PKBM Pelita: Penerang Warga Pelosok

Sambil menggendong anaknya, Ibu Uum menggerakkan pensil di tangan. Tak sedikit rasa lelah. Dengan tekun ia mengikuti instruksi dari tutor hari itu. Satu persatu huruf ia rangkai membentuk sebait kata dan kalimat. Sesekali ia menenangkan anaknya yang mulai rewel kepanasan. Kadang ia harus bangkit dari kursi. Sekedar membuat tenang sang anak. Ibu Uum, satu dari sekian peserta belajar kejar paket A. Sore itu, ruang kelas itu penuh sesak warga belajar. Di bangku yang lain, seorang anak terlelap di dekapan ibunya. Sementara sang ibu terus mencatat. "BERSIH ITU CERDAS". Itu yang tergores di papan tulis. Kelas ini satu dari beberapa kelas yang di buka PKBM Pelita. Selain kejar paket A, disini pula dibuka kejar paket B. Berpusat di desa Kadudampit, Kec. Saketi, Pandeglang, PKBM ini tak hanya menyelenggarakan kejar paket. Di kompleks PKBM ini juga tersedia ruang belajar bagi PAUD (anak usia dini), bimbingan al-quran, kelas memasak juga life skill.

Adalah Ahmad Suhaery, seorang putra daerah yang menggagas PKBM ini. Alumni UPI Bandung ini prihatin melihat kondisi pendidikan warganya. "Sekitar 60% dari jumlah warga sini hanya tamatan SD". "Penduduknya banyak yang bekerja sebagai buruh tani. Upahnya pun cuma Rp 10.000,- per hari. Sebagian lain merantau dengan berbagai pekerjaan."ujarnya. Sambungnya, seluruh kegiatan ini tidak dipungut biaya. "Semua masih saya usahakan sendiri dibantu teman-teman"ungkapnya. "Belum pernah ada bantuan dari pemerintah". "Saya tak pernah memaksa mereka untuk ikut". "Ini semua atas kemauan mereka sendiri". "Mungkin karena banyak diantara mereka yang melamar pekerjaan di Jakarta hanya mengandalkan keahlian bela diri. Eh tak tahunya tanpa ijasah mereka tidak bisa melamar pekerjaan" ungkap bapak dua anak ini.

Sambungnya, pendidikan itu harus berkelanjutan. Artinya tak hanya sebatas pada ijasah saja. Kemampuan mereka pun harus ditingkatkan. Makanya program life skill juga digagas. Dengan memanfaatkan sumber yang ada, akhirnya diputuskan untuk membuat emping. Maklum disekitar rumah warga memang banyak pohon melinjo. Ibu-ibu diberdayakan per kelompok. Mereka bekerja di rumah masing-masing tanpa harus meninggalkan anak-anaknya. Sementara kegiatan belajar tetap disesuaikan aktivitas. Jangan sampai pekerjaan terganggu jam belajar. "Makanya jam belajar ini pun masyarakat sendiri yang memutuskan". Jelas, penghidupan dapat, demikian pula pendidikan. Semua diserahkan kepada warga belajar.

Asep Muhammad Natsir, seorang warga belajar kejar paket B mengatakan ingin segera punya ijasah. Dengan begitu ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Ami, peserta lain, yang belajar bersama dengan ibunya yang sudah sepuh mengatakan pengen lancar membaca dan menulis. "Biar anak saya ketika bertanya soal PR saya bisa membantu. Nanti kalau gak tahu, saya diketawain anak-anak"ujarnya. "Harapan saya belajar ini semakin maju, meski saya semakin tua. Cari ilmu kan boleh sampai tua kan".

Ahmad Suhaeri yang akrab dipanggil Ade berharap, PKBM ini bisa segera mandiri. "Target saya, tahun 2009 PKBM ini sudah sepenuhnya dikelola masyarakat. "Dari, oleh, dan untuk masyarakat itu prinsipnya" tegasnya. Sebab ia berkeinginan mengembangkan PKBM sejenis di tempat lain. Sebuah niat yang sangat mulia. Di tengah dunia pendidikan kita yang masih agak gelap, tentu pelita-pelita yang dinyalakan Ade semoga bisa memberi terang benderang ke pelosok negeri ini.

(foto by Irena)

Monday, November 24, 2008

Harga Sebuah Stempel

Pagi itu jam tanganku belum lama beranjak dari angka sembilan. Suasana lalu lintas sudah mulai ramai. Tapi kantor kelurahan Duri Kosambi masih agak sepi. Meski di dalam ternyata sudah banyak warga yang mengantri mengurus berbagai surat. Di temani kakakku, hari itu aku bermaksud mengurus beberapa surat. Maklum, negara ini memang tak pernah lepas dari soal birokrasi. Di dalam kantor yang berasap karena rokok itu, ada seorang ibu yang mengurus surat domisili. "Untuk buka rekening Pak" jawabnya ketika di tanya petugas.

Beberapa orang juga tampak menunggu giliran. Dengan berbagai keperluan mereka datang. Tak menunggu lama, akhirnya giliranku tiba. "Pak ini surat pengantarnya dari RT" ujarnya sambil menyerahkan secarik kertas putih. "Ya pokoknya bikin sesuai surat pengantar ini Pak" pintaku. Bunyi mesin printer terdengar ditengah keheningan pagi itu. Berharap segera selesai semua urusan ada di kepala barisan antrian. "Pak Lurah lagi ke wali kota" ungkap seorang petugas. "Wah berarti gak bisa selesai dong hari ini" timpal seorang bapak. "Tapi biasanya sih sekretaris lurah udah bisa kok Pak" hiburnya. "Duh hampir saja umpatan aku lontarkan". Beruntung urusan pagi itu di kelurahan cepat selesai. Tanpa ba bi bu, sekretaris lurah yang masih muda membubuhkan tanda tangan satu per satu.

Mendung tebal menggelayut di luar. Lalu lalang kendaraan makin padat saja. Jalanan ternyata sudah agak gerimis. Motor, gerobak, mobil saling bertarung merebut jalan. Klakson menggema dimana-mana. Tiba saatnya setelah kelurahan, kantor kecamatan yang harus dituju. Ini pengalaman pertama. Maklum tak pernah sekalipun aku berurusan dengan kantor ini. Suasana pagi itu sepi sekali. Beberapa pegawai tampak baru datang. Pelampung dan persiapan banjir teronggok di sudut kantor kecamatan yang agak lusuh. Tiba di lantai dua. Setelah menyerahkan berkas kepada seorang pegawai, segera ku istirahatkan badanku. Di bangku itu kudapati seorang ibu menunggu cap untuk mendapatkan gakin dari rumah sakit. Orangnya sudah paruh baya. Suaminya terkena vonis prostat di rumah sakit. Di seberang sana, beberapa pegawai kecamatan sibuk baca koran. Ada yang ngobrol. Ada yang bawa map kesana-kemari. Ada yang mengumpulkan uang untuk beli gorengan. Sangat kontras dengan kegelisahan Ibu ini. "Ibu sudah lama?" tanyaku. "Sudah Mas, tapi saya tak tahu juga kok lama begini". "Padahal kayaknya ya gak rame-rame amat ya". "Yah sabar deh Bu" hiburku. Setengah jam sudah berlalu. Akhirnya panggilan itu datang juga. "Saya duluan ya Mas" pamitnya. "Iya Bu silahkan". Tak kurang lima belas menit, namaku akhirnya di panggil. "Mas ini ada biaya untuk bulan dana PMI". "Masing-masing 5000, jadi semua 10.000". Kaget bukan kepalang. Padahal disana tercetak jelas bahwa satu kwitansi bulan dana PMI itu hanya 1.000. Seribu. SE-RI-BU. Dengan berat hati akhirnya kuikuti kemauan pegawai berkerudung itu. Aku yakin Ibu tadi juga kena jumlah yang sama. Jumlahnya mungkin memang tidak banyak. Tapi jika dikalikan dalam sehari saja, potensi korupsi dana PMI di kecamatan ini sangat besar. Ini baru satu kecamatan. Kalikan saja dengan jumlah kecamatan di Jakarta. Maskud PMI yang mulia, ternyata masih saja dikotori oleh tangan-tangan tak bermoral. Jika kwitansi dana PMI saja di korupsi, gimana dengan proyek yang lain. Sebuah harga stempel yang mahal tentunya.

Wednesday, November 19, 2008

Darah Juang

Karena suatu keperluan, seorang teman memperlihatkan beberapa "lagu kiri" beberapa waktu lalu. Semua terasa asing di telingaku. Aku sendiri waktu mahasiswa tak pernah menyanyikan lagu ini. Maklum, ketika itu, demonstrasi sudah agak jarang. Dari total lagu yang disodorkan, lagu Darah Juang, yang paling menarik hati. Walau sudah agak lama, tapi apa yang ada di lirik lagu ini benar-benar masih terasa . Intinya sebuah pertanyaan besar dari mahasiswa terhadap keadaan negeri ini. Bagaimana pemerintah yang bobrok dan brengsek. Bagaimana tidak. Negara yang kaya raya, melimpah semua bahan alam, tapi dimana-mana rakyatnya kelaparan. Rakyatnya sengsara. Bagaimana bisa, negara penghasil minyak, tapi dimana-mana rakyat mengantri minyak. Negara kaya, namun rakyat terjepit kemiskinan.

Lagu Darah Juang adalah lagu perjuangan mahasiswa Indonesia yang lahir di era reformasi sejak menjelang jatuhnya orde baru. Lagu ini karangan aktivis John Sonny Tobing, Ketua KM UGM pertama, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM sekitar 1990. Lirik lagu ini dikerjakan bersama Andi Munajat (Fakultas Filsafat UGM). Lagu ini kemudian menjadi ikon perjuangan setiap demonstrasi mahasiswa di seluruh Indonesia.

Rasanya lagu ini sampai sekarang masih tetap terasa semangatnya. Di tengah carut marut negeri, tak jua ada perubahan mendasar dari reformasi. Hidup makin sulit. Bahkan banyak banyak rakyat yang terusir di tanah sendiri. Negara masih belum berhasil mensejahterakan rakyatnya.

Darah Juang
Di sini negeri kami
Tempat padi terhampar luas
Samuderanya kaya raya
Tanah subur kami Tuhan

Di Negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja

Mereka terampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk membebaskan rakyat

Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti
Tuk membebaskan rakyat

(dari beberapa sumber)

Thursday, November 13, 2008

Prof: Komaruddin Hidayat: Indonesia Proyek Masa Depan yang Belum Selesai.

Tonggak kebangkitan bangsa Indonesia mencapai seabad tahun ini. Dalam proses kebangkitan itu tak terpungkiri peran kaum muda. Disela-sela kesibukan yang padat dalam rapat majelis rektor di Hotel Atlet Century, Prof. Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Nasional Jakarta, yang biasa disapa Komar mengungkapkan penilaiannya tentang kebangkitan nasional ini kaitannya dengan peran kaum muda. Berikut petikan wawancaranya:

Tonggak panjang kebangkitan Indonesia sudah ditancapkan kaum muda. Seberapa penting Bapak melihat peran kaum muda dalam melakukan perubahan?

Bagi saya persoalannya bukan tua atau muda ya, tapi sebuah kesadaran bersama bahwa yang namanya Indonesia itu sebuah proyek masa depan. Proyek politik, kebudayaan, sebagaimana dicita-citakan oleh semangat proklamasi. Jadi Indonesia bukan warisan masa lalu yang sudah jadi, sudah selesai, tapi ini sebuah proyek masa depan. Nah kesadaran ini yang semestinya harus dimiliki oleh komponen-komponen bangsa, tidak peduli tua atau muda.

Tidak hanya tua muda saja ya Pak?

Iya, jadi tidak ada tua muda. Tua muda itu kan pengaruh struktural dalam rumah tangga kecil, orang tua meninggal lalu digantikan muda. Tapi kalau ke-Indonesiaan itu, hemat saya sebuah agenda besar yang harus disadari bersama. Bahkan sejak anak SD pun harus sadar tentang Indonesia lewat civic education, mahasiswa, termasuk orang tua. Jadi kesadaran bahwa Indonesia itu proses sejarah, budaya, yang belum selesai ini harus menjadi kesadaran bersama baik tua maupun muda, parpol, perguruan tinggi, businessman, ini harus menyadari bersama. Nah yang kedua bagaimana kita itu memperkuat dari etnic group menjadi etnic nation tetapi lebih dari etnic nation tetapi civic nation. Tapi kalau sekarang kan etnic group itu masih kuat ya, itu malah belum sampai. Nah etnic nation tapi pelan-pelan ini menjadi Indonesia, dari etnic-etnic menjadi Indonesia, Indonesia yang tetap melindungi identity etnic tapi diperkuat dan diikat oleh civic values. Makanya civic education, education of citizenship ini penting. Disitu apa kontennya? Misalnya tentang human dignity, respect others, demokrasi, etos kerja, menghargai ilmu pengetahuan, kesadaran tentang modernitas, kesadaran globalitas, nah yang begini-begini harus disadari dan diimplementasikan. Jadi kita tetap menghargai melindungi warisan etnic-etnic, local wisdom dalam satu pilar, satu bingkai civic nation.

Tapi pada kenyataannya sekarang ini yang dominan malah lebih etnic group – dalam bentuk primordialisme itu Pak?

Itu memang tidak bisa dihilangkan ya kedaerahan itu. Primordial itu kan artinya begini. Sesuatu yang kita terima sebelum lahir, itulah primordial. Saya terlahir laki-laki itu kan primordial. Saya terlahir sebagai orang Jawa itu primordial. Saya terlahir sebagai orang Islam itu kan primordial. Dan itu gak bisa dihilangkan.

Tapi itu bukannya yang sekarang dikedepan?

Nah persoalannya itu sekarang dikasih tempat tapi kemudian nilai-nilai primordial yang bagus itu, seperti local genius, local wisdom itu dikembangkan di angkat sebagai civic values tadi. Karena kita gak mungkin akan menghilangkan identity keluarga, etnis. Untuk masa depan mungkin saja, tapi kapan? Itu tidak bisa dielakkan. Mengingkari itu sama saja dengan mengingkari realitas.

Tapi tetap saja maksudnya sifat kedaerahan itu yang lebih menonjol jika dibandingkan nation itu?

Pertanyaannya kan bagaimana dan mengapa itu terjadi? Karena apa ya? Ketika pendidikan semakin menguat, law enforcement juga berjalan, lapangan kerja berkembang dengan baik. Hemat saya secara alami yang namanya keIndonesiaan itu akan terwujud. Dan secara alami sesungguhnya proses ke arah Indonesia itu berlangsung tanpa teriak-teriak. Generasi anak saya saja sudah menjadi anak indonesia. Saya sudah lintas suku, istri saya. Anak saya sudah lintas lintas suku lagi. Jadi kalau saja pendidikan itu maju lapangan kerja terbuka itu secara alami akan menguat ke arah sana, di kalangan eksekutif sesungguhnya sudah terjadi. Cuma yang menjadi sorotan kita kan ngomong politik, parpol, padahal realitas lebih dari itu.

Kembali soal peran kaum muda, seberapa pentingkan peran mereka dalam melakukan perubahan?

Di Indonesia sesungguhnya jumlah lapisan muda ini sangat besar dibanding di Jepang. Disana yang tua itu banyak. Di Indonesia ini muda itu kuat sekali. Nah kalau saja pendidikan itu bagus…..Sebuah negara yang bagus itu kan kalau pilar-pilarnya itu saling bekerja sama. Misalnya pilar pendidikan, pilar ekonomi industri, pilar masyarakat, parpol, pilar birokrasi, masing-masing itu kan sebuah pilar untuk membangun bangsa kan. Jadi kalau masing-masing ini dunia pendidikan, dunia industri, dunia politik dan birokrasi itu punya spirit dan diikat dengan spirit keindonesiaan dengan civic values dengan patriotisme yang inklusif maka diharapkan terjadi satu proses akomodasi dan sekaligus ruang bagi setiap generasi yang tumbuh. Di birokrasi terjadi peremajaan, sosial politik terjadi, yang lain terjadi, itu alami saja. Ibarat satu taman ya sesungguhnya itu kan alami saja. Ketika yang atas itu tidak nutupin. Nah kalau di alam malah alami sekali itu tumbuh. Sedangkan di Indonesia proses regenerasi agak terhenti kemarin itu ya.

Apa penyebabnya menurut Bapak?

Sesungguhnya jaman Pak Harto banyak anak-anak muda yang diakomodir. Di sektor-sektor industri, birokrasi itu kan banyak anak-anak muda. Banyak sekali. Hanya kemarin itu karena regenerasi kepemimpinan nasional saja yang terhambat sehingga mengganggu yang lain. Jadi karena kepemimpinan nasional itu terganggu, maka kemudian seakan-akan tua melulu. Padahal yang muda juga tumbuh. Sekarang ini misalnya Pak Harto itu kan lama sementara kemudian sekarang juga masih pemain lama walau yang maju ini muda, seakan-akan yang muda gak dapat kesempatan. Karena kita hanya ngomong dimensi itu. Tapi di kampus, regenerasi berjalan. Di sektor ekonomi, anak-anak muda tumbuh semuanya. Saya dimana-mana ketemu anak muda. Banyak. Cuma kalau kita ngomong muda kita itu kaitannya kan vertikal politik saja. Gubernur banyak yang muda-muda. Bupati muda-muda. Problem kita kan bukan muda atau tua., problem kita kan bagaimana manajemen aset bangsa, pemberdayaan aset bangsa.

Jadi begitu penting kaum muda Pak?

Bagi saya tidak dikotomi kok. Itu alami. Persoalan kita kan bagaimana pemimpin nasional me-manage aset bangsa. Gak peduli tua muda, karena tua muda itu alami kok. Mau dilarang-larang pun tidak bisa. Kaum muda itu alami dimana pun gak bisa dibendung. Wong orang tua juga akan mati kok. Jadi makanya saya gak begitu hanyut tertarik untuk membuat dikotomi tua muda karena itu alami. Yang diperlukan itu adalah manajemen aset bangsa, misalnya manajemen sumber daya alam, manajemen penduduk, manajemen apa, sehingga kemudian potensi bangsa ini optimal. Dimana pun banyak anak muda. Kecuali di beberapa tempat ada yang tua. Tapi mereka akan berapa lama sih orang tua itu bertahan? Ya kalau sekarang yang tua, ya yang muda konsolidasilah nanti 2014 sudah siap. Ngapain ribut-ribut.

Tapi kalau menurut bapak sampai sekarang kita masih kesulitan me-manage aset bangsa itu?

Bukan kesulitan ya. Problemnya itu adalah bahwa kemarin itu ada satu kader-kader negarawan yang bagus-bagus, yang ketika Pak Harto kuasa itu tidak diberi peran distribusi, tidak ada pemerataan peran karena sentralisasi. Ini kan ekses dari sentralisasi. Kalau di dunia bisnis sudah terjadi. Don’t put your egg in the same basket. Jangan menaruh telur di keranjang yang satu. Sebab kalau ini pecah akan pecah semuanya. Bussinessman sekarang kan dipecah-pecah kan. Kalau ini jatuh ini ada gantinya, karena ini semua ter-inter connected work. Nah dulu ketika Pak Harto itu harusnya sudah banyak. Sehingga ketika Pak Harto turun tidak terjadi keributan dimana-mana. Kan itu saja problemnya. Jadi dia tidak meng-grooming negarawan yang bagus-bagus, yang pinter-pinter. Jadi ada satu missing generasi yang bagus-bagus yang dianggap saingan Pak Harto kemudian disingkirkan. Akibatnya kemudian kita krisis manajemen aset. Kalau sumber daya manusia kita banyak banget.

Kalau sekarang masih terjadi krisis manajemen aset itu?

Ya kita masih kedodoran sampai saat ini. Karena pemerintah sekarang kan masih belum efektif. Gak efektif. Karena sistemnya yang ditinggalkan itu begitu berantakan, tidak sistemik. Ini bedanya negara-negara yang dulu pernah ada transfer skill management british. British itu kan ketika dia meninggalkan negaranya itu ada transfer manajemen. Manajemen skill, knowledge. Jadi bangunannya itu pilar-pilarnya terpelihara kan. Tapi ketika Belanda itu kan dihancurkan, tidak boleh pinter, dua-duanya. Yang menguasai itu kan VOC kan. Bukan pemerintah Belanda. Kamar dagangnya kan. Kita kan dibuat bodoh lalu kita melawan. Begitu merdeka itu juga terjadi satu fragmented of power, di Sumatera ada, di Jawa ada, disini ada, ini kan butuh waktu. Jadi fragmentasi politik itu disamping karena lingkungan sosial budaya yang begitu pluralistik juga tradisi yang berontak dan itu butuh waktu lama. Lalu kemudian Bung Karno itu tidak tuntas menyelesaikan, dia sendiri merupakan skenario, awalnya Pak Harto juga melupakan, jadi seakan-akan kita ini bangsa yang belajar-belajar terus. Itu hemat saya terpengaruh. Kita itu mendapat warisan sistem yang belum mapan. Ini yang kemudian tidak efektif dalam me-manage sampai sekarang. Nah kita harapkan kalau toh SBY ini turun ini kan presiden pertama yang mengikuti sistem kan. Yang lain kan enggak. Yang lain gak sesuai dengan sistem. Karena kita belum mapan sistemnya.

Kalau menurut bapak kapan sistem kita settle?

Ya sekarang sudah benar. On the right track. Asal kita bersabar dengan demokrasi saja sudah benar.. Demokrasi butuh kesabaran.

Tapi banyak yang gak sabar nih Pak?

Ya itu resikonya. India sabar sekali. Ongkosnya mahal. Tapi kan akhirnya ada stabilitas kan. Berapa tahun India demokrasi? Berapa puluh tahun? Lama kan. Tapi dia terus…..jadi kalau seandainya kita bisa sabar dengan demokrasi ini, yang tua yang muda harus diingatkan terus. Jangan berpikir sesaat. Saya pikir kita pasti belajar dari proses ini. Misalnya memilih pemimpin. Partai nanti yang tidak baik pasti akan berguguran kan, sehingga lama-lama akan mati.

Sabar itu bukannya ada batasnya pak?

Sabar itu kan kita jangan lupa dengan tujuan. Walaupun ada problem seperti apa kita commited menjaga martabat demokrasi, nilai-nilai kejujuran. Apapun tantangannya kita commited dan sabar. Jadi kalau kita commited….yang diperlukan kan bangsa yang memiliki komitmen cita-cita kemerdekaan. Jadi siapapun pemimpinnya kalau punya komitmen itu saya optimis. Bahwa sekarang kelihatannya amburadul itu bagian dari ongkos perjalanan. Seperti ongkos sekolahlah. Tapi selama sabar pasti ada hasilnya. Dan rakyat lama-lama kan juga belajar. Kalau terjadi demitologisasi simbol-simbol primordial, entah itu agama, figur kharismatik atau apa itu kan terjadi proses demitologisasi kan. Artinya apa? Rakyat itu sekarang semakin kritis dan rakyat semakin terbuka partisipasinya. Ini sehat. Ini demokrasi. Walau kalau pemilu banyak yang golput, nanti lama-lama partai kan juga belajar dari golput ini. Itu kalau tidak memilih itu ya salahmu sendiri kalau nanti ada pemimpin yang gak bagus. Kalau anda mau mencari pemimpin yang nilainya 10 ya mimpi dong. Gak ada dong. Kalau memang ada 6 atau 5,5, daripada gak memilih. Tapi ini kan proses demokrasi.

Perubahan besar di negeri ini seperti Boedi Oetomo hingga Reformasi 1998 juga digerakkan kaum muda. Namun ketika kaum muda terlibat bahkan duduk di tampuk kekuasaan, mereka seolah tak terdengar lagi suara lantangnya. Apa ada yang salah?

Peran pemuda itu menguat ketika institusi belum mapan dan pendidikan belum maju. Dulu jaman kemerdekaan ya yang paling pinter ya mahasiswa. Tahun 65 juga mahasiswa, pemuda, tapi ketika institusi mapan, sistem mapan maka kekuatannya bukan lagi sama pemuda. Tapi pada gagasan dan institusi. Di Jepang yang mapan kan tua-tua kan bukan yang muda-muda. Di Amerika sistem sudah mapan, jadi siapapun yang punya pikiran dan gagasan misalnya Obama bisa saja. Tapi McCain bisa juga meski tua. Kekuatannya bukan tua atau muda kan, kekuatannya tetap pada satu tawaran-tawaran pikiran.

Iya, tapi jika melihat kaum muda ketika di luar parlemen suaranya sangat lantang, Namur ketika di dalam parlemen tidak terdengar lagi?

Artinya yang membuat sistemnya kan. Ketika sistemnya bagus mau tua atau muda dia akan terbawa. Misalnya namanya pemuda, mahasiswa, nah sekarang kan ada s3, namanya mahasiswa…..lha mahasiswa umur berapa? Kalau dulu mahasiswa s1 boleh dong, nah kalau sekarang kan gak cukup. Muda atau tua itu yang penting gagasan dan kedewasaan sebuah sistem. Makanya kalau ingin memperbaiki sistem di perbanyak orang yang baik-baik yang bisa merubah. Kalau sendiri berat. Sendiri bisa saja menjadi tukang peluit kebakaran. Dan itu sudah terjadi kan. Ada beberapa anggota DPR ketika dia teman-temannya terima uang dia terima uang, sebab kalau tidak terima akan dikucilkan. Tapi diserahkan ke KPK. Dari situ kemudian terbongkar yang lain. Ada beberapa anggota DPR yang saya tahu. Jadi walau sedikit pun ternyata ada peran kalau memang ada komitmen. Jadi dia terima kemudian dari situ dia pulangkan. Memang belum banyak, syukur-syukur bisa banyak. Jadi kalau sedikit itu agak beratlah tapi itu pun sudah mulai. Jadi DPR yang punya komitmen ternyata diam-diam entah formal maupun informal sudah memulai. Sekarang sudah agak lumayan. Saya tahu ada beberapa orang, karena komitmen bisa berubah.

Tahun ini kita memperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Apa bangsa kita sudah benar-benar bangkit?

Ya sebenarnya bangkit itu ukurannya apa sih? Kebangkitan sadar dari penjajahan, ya kita sudah bangkit, karena itu menyangkut harga diri ya. Ya dulu ketika melawan Belanda itu kan sebuah kesadaran untuk berubah dan itu harus dihargai dong. Luar biasa. Nyawa taruhannya lho. Nah kalau sekarang ada penjajahan baru sadar atau tidak itu lain persoalan. Tapi pada jamannya kan luar biasa. Nyawa taruhannya. Diponegoro, Imam Bonjol, yang lain-lain, jangan dianggap ringan itu. Itu mata rantai dari pengorbanan batu bata dari bangsa ini. Berkah kesadaran perlawanan pengorbanan. Jaman Kartini mungkin hanya dalam bentuk tulisan. Itu juga sudah suatu kebangkitan untuk tulisan. Lalu menyatakan merdeka itu suatu kebangkitan. Itu hanya berapa orang saja di Pegangsaan. Sementara yang lain mungkin lagi minum-minum dengan Belanda, itu hanya sekelompok orang. Dan saya kagum sekali. Jadi kebangkitan itu jelas. Hanya saja kemudian dalam konteks global tantangan diluar tenyata berkembang. Ada globalisasi, kapitalisme, free market dan sebagainya. Ada bangsa yang sudah lebih siap menghadapi ada yang terkaget-kaget. Kita juga macem-macem, pluralistik. Ada sekelompok yang belum siap. Kalau kita bilang kita itu kita yang mana? Kita Papua, kita Jakarta, Jakarta sendiri Jakarta yang mana? Jadi sebenarnya kalau kita bilang kita itu kita yang mana? Tapi kalau secara general kita ya masih tertinggal. Sebenarnya sudah bangkit, hanya yang lain bangkitnya lebih maju lebih lari. Betapa pun bangsa ini sudah bangkit. Hanya saja kemudian kalau dulu tantangan intervensi global itu tidak seterbuka sekarang. Pelabuhan saja kita punya 400 pelabuhan. Jadi bayangkan kalau ekpor China ditolak AS karena krisis, sementara mereka harus bergulir terus industrinya, apa gak lari ke sini? 400 pelabuhan bisa jebol kan. Industri dalam negeri kan bisa hancur itu. Itu baru dari pelabuhan. Kemudian jebolnya lewat perbankan, belum lagi lewat udara, Internet, saham, informasi, tambang, sumber daya alam, jadi kita sesungguhnya satu sisi itu peluang kita masuk dalam suatu pergaulan global, tapi di sisi lain kalau kita gak siap ibarat pemain kelas kabupaten kita ketemu pemain sepakbola kelas eropa, ….

Tapi kan ada beberapa aset yang harus tetap di protect Pak?

Dalam beberapa hal harus. Dalam beberapa hal. Ya misalnya Korea Selatan, di sana itu gak ada mobil Jepang, mobil asing itu jarang-jarang, yang ada buatan dalam negeri dan kalau mereka menggunakan produk asing itu di sindir gitu, jadi malu gitu. Di India juga begitu kan.

Sektor apa yang harus di protect?

Ya misalnya sumber daya alam, mestinya itu di protect untuk semakin meningkatkan putra-putra dalam negeri, kemandirian teknologi. Hanya saja mungkin kalau kita ingin maju, negara lain juga banyak yang gak seneng karena berarti menutup pintu ekspor mereka kan. Coba kalau kita membuat industri kereta api misalnya, itu sama saja menutup ekspor Jepang kan. Jadi artinya apa? Artinya tidak semua negara tetangga itu senang kalau kita maju. Karena kalau kita maju mereka akan terganggu ekonominya. Nah itu perlu disadari. Ada beberapa hal kita bisa bekerja sama sebab kalau dijauhkan juga tidak mungkin. Tapi untuk aset-aset penting memang harus ditutup dari asing.

Ya memang sekarang berantakan. Itu kan warisan masa lalu yang terjadi kan atas nama negara. Maka perlu DPR itu mengawasi. Tapi DPR juga harus yang benar, sebab sekali kita membuat transaksi dengan negara asing siapa pun presidennya yang bayar negara kan. Kalau gak kita kan bisa jatuh di mata dunia. Kita tidak bisa membatalkan sepihak karena investor juga tidak bisa masuk, Indonesia tidak bisa di pegang omongannya. Tapi memang sebetulnya bisa kok, hanya perlu keberanian. Iran berani, Bolivia berani. Tapi hemat saya Indonesia itu pluralistik sekali. Kecuali kita punya pemimpin yang agak diktator. Yang diperlukan itu pemimpin yang strong, clean, and clever yang membangkitkan Indonesia. Jakarta ini misalnya sudah tidak sanggup menyangga bebannya. Jakarta harus bisa bangun kota baru. Tapi siapa? Selain Pak Harto gak ada lagi. Kita sendiri memang paradoks. Salahnya kita selalu menyalahkan pemimpin tapi rakyat tidak partisipatif, mau gak prihatin begitu? Kita menuntut demokrasi tapi kita gak mau tunduk sama hukum. Kita terlambat banyak hal ternyata.

Jika begitu apakah sekarang kita masih mengalami crisis multidimensi?

Krisis itu sebenarnya kan tantangan juga. Kalau di respon dengan cerdas, kita bisa keluar dari krisis kok. Paling krisis sebenarnya kan Yahudi tuh, tapi mereka tetap tegar dan bekerja cerdas. Tapi dimana-mana sekarang banyak orang Yahudi. Palestina juga krisis. Tapi dimana-mana pemudanya gigih dan pintar. Kita itu masih enak dibandingkan dengan negara lain. Saking enaknya akhirnya menjadi manja dan cuma bisa menuntut. Di India itu 200 juta itu mungkin absolut miskin, ….Indonesia itu masih jauh lebih baiklah.

Harapan Bapak terhadap kaum muda?

Apapun situasinya kalau pemuda itu pendidikannya bagus ya dan punya integritas dan dia punya mimpi-mimpi untuk harapan bangsa ini. Tapi kalau pemuda itu sudah tidak mau belajar, akan sulit. Belajar itu sudah lebih dari sekolah ya. Kedua kalau dia sudah tidak punya integritas dan dedikasi terhadap bangsa dan kerjanya hanya teriak-teriak, hanya menuntut tapi tidak pernah menuntut pada dirinya. Pernahkah orang yang menuntut itu balik menuntut kepada dirinya? Aku harus belajar keras, kerja keras, untuk menolong diriku sendiri sebelum menolong orang lain. Tapi kalau kerjanya itu hanya membuat proposal mencari sumbangan resana kemari dan laporannya tidak bagus kalau toh dia jadi pejabat saya gak yakin dia akan bener. Dia menuntut mengkritik orang lain, tapi dia tidak pernah mengkritik dirinya.

Bagaimana dengan gaya hedon kaum muda saat ini?

Tidak hanya kaum muda, bangsa ini sudah dimanjakan, jadi sulit untuk kembali hidup prihatin lagi, tidak tua dan muda. Karena waktu orde baru kita dimanjakan oleh sistem dan itu fatal. Sekarang ini untuk kembali hidup lagi untuk ukuran orang tua jaman dulu, orang tuanya kasihan sama anaknya, anaknya gak punya pengalaman tenderita, jadi mentalitasnya sudah mentalitas konsumtif. Mentalitas memanjakan diri. Ini sulit diubah, sebab perubahan generasi itu butuh 20 tahun.

Bagi saya apapun itu, selama pendidikan itu dibuat maju , pemimpin itu baik & jujur, saya masih ada harapan untuk bangsa ini. Tetap optimis. Asal pendidikan diperhatikan dan pemimpin punya komitmen terhadap bangsanya, dan jujur. Kita bisa maklumi kok kalau bodoh dan salah. Asal seseorang itu jujur aja dan mau belajar. Orang itu jujur dan mau belajar tidak malas itu pasti masih ada harapan. Semua itu perlu dukungan keluarga dan sekolah. Ketika saya di pesantren diajarkan, jangan mencari pekerjaan, ciptakanlah pekerjaan. Tangan diatas lebih baik daripada dibawah. Kalau kamu tidak bisa menolong orang lain, minimal kamu tidak menyakiti orang lain, minimal jangan bikini susah orang lain. Itu pendidikan yang saya terima di pesantren. Lebih baik menghargai karya orang daripada membenci, terlalu banyak yang bisa dikritik, tapi kamu sendiri apa yang sudah dilakukan?

Asal pendidikan bagus, prestasi kita bagus, pasti nasionalisme baru akan muncul. Orang-orang India dimana-mana, tetap cinta India, ternyata mereka itu jembatan bagi kemajuan India. Orang China yang di Amerika ternyata pintu gerbang. Selama dalam negeri bagus, orang-orang kita pasti kembali. Orang kita itu terrenal cinta negaranya. Yang diperlukan beresi pendidikan, keadilan, kemakmuran, nasionalisme itu pasti akan ada.

(dimuat di Majalah Hikmahbudhi edisi 314).

Sunday, October 26, 2008

Jangan Berhenti Bermimpi

Mungkin agak terlambat menulis tentang film ini. Tapi tak apalah. Lebih baik terlambat. Satu hal yang ditangkap dari film ini: Bermimpilah. Itu yang aku tangkap dari film Laskar Pelangi. Hasilnya, penggalan kisah kecil di pelosok Pulau Belitong mampu menginspirasi banyak orang untuk berubah ke arah yang lebih baik. Mimpi atau cita-cita adalah hak semua orang. Mimpi untuk menjadi yang terbaik, memiliki hidup yang baik. Itu semua adalah impian kita. Apapun yang kita lakukan, semata-mata demi impian-impian kita.

Mimpi, kata kamu online wikipedia adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra-indra lain dalam tidur. Namanya saja bunga tidur. Nah, artinya begitu kita bangun mimpi itu sudah buyar seketika. Namanya juga mimpi....:)

Ada banyak contoh kisah sukses yang dibangun dari cuma sekedar mimpi ini. Soichiro Honda bukan berasal dari keluarga konglomerat. Ayahnya hanya seorang pandai besi. Di sekolah pun prestasinya biasa aja. Tapi siapa sangka dari impian sederhana, kita semua sekarang mengenal merk otomotif handal bernama Honda dengan filosofi yang cemerlang “The Power of The Dream”. Kita juga mengenal Thomas Alfa Edison sebagai penemu lampu pijar, lampu bohlam. Bahkan gerakan anti diskriminasi ras yang digalang Martin Luther King pun diilhami dari impian atas nama kesetaraan antara kaum kulit putih dan hitam. Meski akhirnya ia tertembus timah panas atas mimpinya ini. Dan bangunan impian panjang itu sekarang dinikmati luas oleh warga Amerika, dengan bukti terpilihnya Obama. Semuanya berasal dari keberanian untuk bermimpi. Namun mimpi tidak bisa terwujud hanya dalam waktu semalaman saja. Ia butuh waktu untuk terus mengerucut menjadi jalan lapang.

Nidji bahkan bilang, kalau mimpi itu adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Dan bagiku, orang yang tidak "bermimpi" sama dengan dia sudah mati ketika masih hidup. Bukankah Indonesia sudah diimpikan sejak 1908 dan baru merdeka 1945? So, jangan pernah berhenti untuk bermimpi.

(Masih dalam rangka mewujudkan "Mimpi")

Wednesday, October 8, 2008

Laskar Pelangi: Film Pencerahan

Gambar indah langsung tersaji ketika melihat film ini. Meski belum pernah membaca novelnya, tapi film ini mampu menggeser film mainstrem yang disokong "Suami-suami Takut Istri" & "Barbie" yang melulu menjual sensualitas & hedonisme. Film ini lagi-lagi menunjukkan tangan dingin Riri Reza yang sangat baik mengadaptasi novel sebagaimana halnya dengan Catatan Seorang Demonstran: Soe Hok Gie. Film dan buku memang berbeda. Maka banyak diantara mereka yang sudah membaca buku banyak yang kecewa karena ternyata di filmnya tak "seheboh" bukunya.

Hanya ada satu adegan yang agak menjenuhkan. Yakni ketika Lintang beberapa kali terhadang buaya ketika akan berangkat sekolah. Termasuk ketika akan berangkat ikut lomba cerdas cermat yang memang kemudian dimenangkan sekolah "kandang ayam" ini.
Kontrasisasi yang berada dan kaum papa tergambar jelas dalam film ini. Bagaimana anak-anak ini bersekolah tanpa seragam, kondisi kelas yang tak layak, dll, dimana hal ini jauh kontras dengan sekolah PN Timah yang bergelimang fasilitas.

Tokoh sentral dalam film ini adalah Lintang. Anak cerdas yang telah ditinggal ibunya. Tempat tinggalnya agak jauh dari sekolah. Ia harus mengasuh adik-adiknya karena ayahnya melaut mencari ikan. Adegan Lintang yang kehilangan ayah dan dipaksa menjadi orang tua bagi adik-adiknya sekaligus berpisah dengan bangku sekolah, bagiku menjadi scene paling menggetarkan hati. Bagaimana bisa seorang anak SD yang baru akan lulus harus menanggung itu semua. Menjadi kakak sekaligus menjadi orangtua bagi adik-adiknya. Hampir saja air mata tertumpah. Sedih, haru, juga terbahak semua menyatu dalam film ini. Ini semua karena kekompakan murid-murid sekolah yang kondisinya tak jauh dengan kandang kambing ini begitu menonjol. Mahar yang jago seni memanfaatkan akal budinya untuk memanfaatkan apapun yang ada disekitarnya untuk lomba kesenian. Walau mereka sederhana hanya memakai dedauan, ternyata mereka mendapatkan applause dari masyarakat.


Harus diakui bahwa secara umum film ini memang layak menjadi film terbaik tahun ini. Bagaimana tidak, dengan tanpa teriak-teriak, film ini mampu "menyentil" semua orang, terutama pemangku kekuasaan di negeri ini. Jika dulu Pak BY termehek-mehek melihat "Ayat-Ayat Cinta" yang cuma ngajarin bagaimana berselingkuh, sekarang saatnya Pak BY termehek-mehek beneran karena inilah realitas rakyatnya yang sesungguhnya. Semoga Pak BY gak cuma termehek-mehek tapi benar-benar tercerahkan!

Thursday, September 25, 2008

Change

Buku ini saya pinjam dari kantor secara tak sengaja. Lumayan tebal, jadi agak lama bacanya. Kata-kata dalam sampul buku karangan Rhenald Kasali ini menarik perhatian. Disana tertulis TAK PEDULI SEBERAPA JAUH JALAN SALAH YANG ANDA JALANI, PUTAR ARAH SEKARANG JUGA. Sebenarnya kata change sudah ada sejak dulu. Buddha mengajarkan bahwa hidup adalah perubahan. Semua tidak kekal. Selalu berubah. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Dalam buku setebal 428+28 hal daftar pustaka ini, ada kata yang menarik perhatianku. Turn arround. Kurang lebih intinya ya balik badan, putar haluan. Turn arround yang paling tepat adalah ketika kita berada di posisi puncak. Hal ini pula yang dilakukan salah satu legenda MU, Eric Cantona. Di usia 30, ia bukan pergi dari MU untuk berlabuh ke klub lain, tapi Ia meninggalkan sepakbola ketika di usia 30 tahun. Usia dimana bagi sebagian sepakbola merupakan usia emas. Tapi Cantona memilih hal lain. Keputusan yang diambil "King Cantona" ini tepat. Meski sudah lama, namun namanya tetap dihati pendukung setia setan merah hingga kini.

Perubahan adalah pertanda kehidupan. (Change is the only evidence of life) Evelyn Waugh. Manusia yang hidup akan selalu berubah. Jim Collins (2001) mengatakan bahwa "Good is the enemy of great". Artinya, kalau seseorang menganggap prestasinya sudah baik (good) dan para pengikutnya merasa yakin mereka telah mencapai kondisi itu maka mereka akan terhalang untuk berevolusi memasuki kondisi yang lebih baik (great). (hal. 39). Buku ini juga menawarkan berbagai strategi dalam proses "berubah" itu. Selain itu juga kita belajar cari contoh kasus yang diberikan yang memang pernah terjadi.

Paradox of Change: A Leader takes people where they want to go. A great leader takes people where they don't necessarily want to go but ought to be. (Rosalynn Carter). Kondisi bagus adalah lawan dari kejayaan. Bangsa yang sudah puas akan berhenti belajar dan menjadi angkuh. Pada saat itulah kehidupan kita mengalami ujian yang sesungguhnya.

Berubah atau diubah. Semua ada di tangan kita sendiri. Change is the law of life (John F. Kennedy). The purpose of life is life. (Karl Lagerfield).
"Change" juga menjadi jargon Barack Obama dalam upaya menuju Gedung Putih. Bahkan debat publik Obama yang mengusung "Change" ini mengalahkan jumlah final piala dunia silam.

Friday, September 19, 2008

Yang Tersisa dari Taman BMW

Siang itu udara terik sekali. Tapi suasana itu makin "terik" ketika menyambangi eks taman BMW. Sepanjang mata memandang, reruntuhan bekas pembongkaran terlihat. Ditemani Romo Sandyawan, pengagas Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK), kami menuju salah satu posko darurat. Disana sudah ada beberapa orang. Satu diantara mereka sebut saja namanya Ibu Ana. Berawakannya agak besar. Rambut dibiarkan tergerai diterjang angin siang itu. Badannya agak hitam kepanasan. Beberapa kali air mukanya diseka ketika bercerita tentang pembongkaran paksa 24 Agustus silam. Rasa geram dan marah berkecamuk di dadanya. Rumah satu-satunya yang ia bangun bersama sang suami luluh lantak di buldozer aparat satpol PP. Yang membuatnya makin geram, pembongkaran itu tidak disertai dengan peringatan apalagi uang kerohiman. Hingga kini Ibu Ana dan sekitar 400 KK tetap bertahan tinggal di eks-taman BMW dengan mengandalkan bantuan makanan dari berbagai pihak. "Saya tak tahu lagi harus kemana Pak" ujarnya mulai menitikan air mata. "Saya tidak boleh putus asa, sebab anak-anak akan bagaimana". "Sebisa mungkin saya berjuang demi anak-anak".

Yang tersaji sepanjang hari itu, memang tampak beberapa gubuk telah berdiri kembali. Tapi kerusakan jelas masih tersisa. Sebuah topi lusuh, salah satu SMP Negeri, tampak teronggok di atas reruntuhan. Seorang warga menuturkan, setidaknya ada 80 anak SD yang tidak sekolah disini. Itu belum yang SMP dan SMA. "Kita ini ibarat hidup tidak di dalam negeri sendiri"timpal seorang ibu yang menggendong putranya. "Saya juga pernah jadi TKW, di gusur sana-sini, jadi kejadian ini sama persis yang saya alami ketika di Malaysia dulu". "Jika sudah begini, kemana kami harus mengadu". "Di negara sendiri saja kami seperti tidak dikehendaki". "Rakyat miskin memang selalu dibikin makin miskin".

Romo Sandyawan yang sejak awal mendampingi korban gusuran ini tak kalah geramnya. "Jika memang tidak boleh mengapa disini mereka bisa menikmati air dan listrik". "Itu kan sama halnya bayar pajak". "Nah pajak itu sekarang kemana" gusarnya. "Artinya keberadaan mereka kan diakui"ungkapnya sengit. Warga jelas kecewa karena pembongkaran ini belum ada titik temunya. Artinya belum jelas akan kemana mereka akan dipindahkan. "Ini jelas pembangunan yang memiskinkan rakyat"ungkap Romo Sandy. "Kalau memang mau gusur ya mbok dikasih pilihan yang baik "pintanya. Lanjutnya, perlu dipikirkan proses pembangunan kota yang memanusiakan manusia. Romo Sandy menambahkan, ketika proses penggusuran paksa, di Taman BMW juga terdapat peternakan kambing. Dan itu diberikan tenggat waktu, sementara warga disana tidak diberikan tenggat waktu untuk pindah. "Masak harga manusia tak lebih tinggi dari pada nilai kambing?" ujarnya geram. Romo Sandy juga meyayangkan sikap satpol pp yang terus berpatroli di sekitar taman BMW. "Ini adalah bentuk teror pemerintah terhadap warganya". Jelas teror ini membuat Ibu Ana & warga lain ketar ketir. Sewaktu-waktu satpol pp ini bisa saja menggusur paksa kembali begitu ada perintah dari komandannya.

Ibu Ana dan warga lain juga menyadari bahwa tanah yang mereka tinggali memang bukan milik mereka. Tapi pembongkaran yang sepihak dan tidak diberikan alternatif pilihan tepat jelas membuat hari warga makin merana. Negara gagal melakukan kewajibannya untuk melindungi warganya. Taman BMW kini tak lagi bersih, manusiawi, apalagi ber(Wibawa).

Capung

Ketika kecil binatang yang satu ini biasa aku temui. Entah ketika di sawah atau ketika sedang menggembalakan kambing-kambingku. Warnanya yang khas selalu menarik perhatian. Biasanya capung hanya tak lama terbang, setelah itu hinggap di pucuk-pucuk rumput bahkan padi. Menjelang sore biasanya ia akan "berpesta" dengan berkumpul bersama sesamanya. Dengan warna warni yang berbeda "pesta" itu selalu ramai. Capung alias kinjeng biasa kita temui di sawah. Ia termasuk kelompok serangga yang tak pernah jauh dari air, tempat mereka bertelur dan menghabiskan masa pra dewasa anak-anaknya. Capung tidak termasuk hama. Capung bahkan menjadi sahabat para petani karena membantu mengusir beberapa jenis serangga yang menjadi hama tanaman, seperti walang sangit. Capung juga disebut helikopter karena bentuk dan cara mendaratnya hampir sama persis. Warna warni capung yang semarak membuatnya sering diburu anak-anak untuk dijadikan mainan.

Di Jawa ada kepercayaan, bahwa capung dapat juga dijadikan sebagai obat untuk menyembuhkan kebiasaan mengompol pada anak-anak. Caranya capung yang masih hidup didekatkan dan ditempelkan pada pusat si anak agar digigit. Hal yang sama juga bisa dilakukan bila mau bepergian jauh. Katanya sih, mabuk dalam perjalanan bisa dihindari dengan cara murah meriah ini. Tapi kayaknya nangkap capung gak segampang itu deh?

Thursday, September 18, 2008

The Mask by The Maestro

TOPENG KEDOK TIGA BETAWI - Berasal dari pinggiran Jakarta, Tarian ini kini terbilang sangat langka. Dalam beberapa referensi, Topeng Betawi ini secara lebih spesifik disebut dengan Topeng Kedok. Ada yang menyebutnya dengan Topeng Cisalak atau juga Topeng Kedok Tiga. Nama Topeng Cisalak sendiri diberikan berdasarkan tempat menetap dan kesenian topeng berkembang saat itu di Kampung Cisalak, Cimanggis Depok Jawa Barat. Padahal saat pertama kali muncul tahun 1918 Topeng Kedok ini bernama topeng Kinang oleh dua pelopornya Djioen dan Mak Kinang. Hal ini tidak dapat dibantah kalau kesenian topeng ini masuk dalam lingkup Budaya Betawi. Meskipun nyanyian dan waditra yang dipergunakan asli Sunda tapi dialek yang dimainkan lebih banyak Betawinya dan juga Tionghoa atau Betawi Ora (Betawi Pinggiran) di mana seni topeng berkembang. Kini kondisi para seniman Topeng semakin mengkhawatirkan. Selain kurang minatnya generasi penerus akan seni tradisi leluhur mereka juga tidak mendapat dukungan dari pihak pemerintah. Topeng Kedok Tiga ini pertama kali muncul tahun1918. Kesenian yang dulunya terkenal dengan topeng Kinang ini dipelopori oleh Djioen dan Mak Kinang. Tokoh sentral dalam tari ini adalah Kartini. Keluarga dari pelopor kesenian inilah yang meneruskan keberadaan Topeng Cisalak hingga kini. Kartini adalah salah seorang cucu dari Mak Kinang yang hingga kini masih serius meneruskan keberadaan kesenian ini.


TOPENG PAJEGAN -
Di masyarakat Bali, Topeng lebih dikenal melalui
upacara-upacara keagamaan Hindu. Karena di Bali, kesenian lebur dalam agama dan masyarakat. T
openg Bali merupakan kesinambungan dari karya seni manusia pra sejarah yang mencapai kesempurnaan bentuk pada masa budaya Hindu di Bali atau Bali klasik serta mendapatkan fungsi baru, sebagai dramatari dengan membawakan lakon babad dan sejarah. Kata pajegan mengacu kepada kegiatan pedesaan masyarakat Bali agraris, yang kini bisa diterjemahkan dengan ''memborong' '. Penari Topeng Pajegan memborong semua peran yang ada di dalam cerita. Yang ada hanya seorang pemain, dan cerita berkembang dengan seutuhnya lewat satu pemain. Pada intinya, Topeng Pajegan adalah ritual yang mengiringi upacara keagamaan Hindu dalam budaya Bali yang diakhiri dengan Topeng Sidakarya sebagai puncak dari ritual itu. Oleh karena itu, penari Topeng Pajegan adalah orang yang tinggi tingkatan spiritualnya, karena dia harus memberikan pencerahan kepada masyarakat (penonton) apa inti upacara itu, apa tujuan upacara, dan apa akibatnya apabila upacara ini tidak dilaksanakan. Seorang penari Topeng Pajegan adalah seorang pendharma wacana yang piawai, sekaligus memiliki kemampuan bercerita seperti seorang dalang Tokoh sentral tari ini adalah I Made Djimat - Putra dari maestro tari Bali Ni Ketut Cenik ini mengikuti jalur yang ditekuni oleh keluarganya. I Made Djimat adalah seorang penari Bali yang kini telah menjadi seorang maetro tari topeng Bali. Nama I Made Djimat kini tersohor di berbagai pentas-pentas seni pertunjukan bergengsi di dunia. Meskipun demikian, dalam berbagai kesempatan, Djimat juga masih tampil di berbagai Pura untuk membantu hari-hari perayaan di Bali.


WAYANG TOPENG YOGYAKARTA -
Di tanah Jawa, ada banyak versi dari tari
Topeng Klana ini. Mulai dari gaya Keraton Surakarta (Mangkunegaran dan Kasunanan), Keraton Yogyakarta, gaya Klaten. Ada pula komposisi khusus yang melebur dalam Reog Ponorogo, hingga Topeng Klana dalam gaya Topeng Jabung Malang, Ini belum terhitung dari sebaran lainnya mulai dari Cirebon, tanah Pasundan hingga daerah pesisir selatan Kalimantan atau Banjarmasin. Ada berbagai alasan dibalik penggunaan topeng pada komposisi ini. Sebagian beranggapan bahwa ini hanyalah alasan estetis. Sebagian lagi beranggapan karena tarian ini pada awalnya ditarikan di pendopo kerajaan, demi menjaga kesopanan terhadap raja, maka sang penari diminta mengenakan topeng. Namun ada pula cerita yang berkembang di rakyat Jawa Timur yang percaya pada keberadaan Prabu Klana mengatakan bahwa topeng dibuat karena keinginan Prabu Klana sendiri tatkala ia meminang sang putri Candrakirana guna menutupi wajahnya. Tari Topeng Klana yang akan disajikan di Bimasena adalah komposisi klasik yang didasari oleh Topeng Klana klasik dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Beberapa master tari Yogyakarta – diantaranya Bagong Kussudiardjo dan Romo Sas, telah membuat sebuah perubahan pada gerak dan tempo tarian Topeng Klana ini menjadi lebih ekspresif dengan perubahan pada tempo yang lebih cepat. Saat ini tarian ini cukup jarang ditarikan. Namun otentisitas kekeratonannya masih sangat terlihat. Tarian Topeng Klana dari Yogya ini dibawakan oleh Lantip Kuswala Daya. Selain sebagai penari, Lantip juga merupakan seorang penggerak kesenian tradisional dan klasik dari Yogyakarta. Energi dan hidupnya ia curahkan sepenuhnya untuk kesenian. Dalam kesehariannya ia dibantu oleh istrinya, seorang wanita berdarah Amerika dan Korea yang bernama Jeannie Park - yang kini lebih memantapkan pilihan hidupnya untuk mencintai kesenian Jawa. Lantip banyak belajar tari Jawa dari Sasmita Mardawa atau lebih populer dengan sebutan Romo Sas yang merupakan empu tari gaya Yogyakarta. Daklam berkesenian Lantip telah menjelajah dunia membawakan tari Jawa gaya Yogyakarta.

Sempulur

Belajar Naik Kuda




Duh kudanya lari gak ya?






Ternyata mayan enak juga, meski pertama kali. Perut rasanya kontraksi!










Pose dulu ah? Mirip gak ya? Ha......:)











Tuk wak tuk wak......Asyik juga ternyata. Tapi kasihan banget nih kudanya.









Udah dulu deh. Meski belum waktunya turun, karena kasihan kudanya.

Santai Sejenak




Wah ada yang menarih tuh disana....









Wow lautnya jauh menarik juga ya. Walau siang bolong begini....










Disini nih...............









Another pose....:)








Langit biru sebiru-birunya hati.










Pose bersama kawan sejawat. Ring road lagi Pak?

Monday, September 15, 2008

Otak Setetes!

Perawakannya agak kurus tinggi. Sorot matanya tajam. Meski tajam, namun kelopak matanya agak menjorok ke dalam. Bicaranya ceplas ceplos seperti kebanyakan orang Betawi. Agus Sadikin namanya. Berbagai jenis narkoba pernah masuk ke dalam badannya. Mulai dari ekstaksi hingga heroin. Semua hampir pernah di cobanya. Semua berubah ketika ia mendapati beberapa temannya bergelimpangan karena OD. Ketika itu pula puluhan konseling dan rehabilitasi dijalani.


Setahap demi setahap proses rehab ia jalani. Tak cuma medis tapi juga psikis. Hingga akhirnya ia menemukan jalan bertemu dengan “After Care” sebuah lembaga yang didirikan dr. Aisyah yang memang khusus bergerak menangani mantan pengguna narkoba. Perjumpaan yang berkesan. Apalagi di dalam After Care, banyak program sengaja dibuat bagi para mantan pemakai narkoba ini. Bagi Agus, “After Care’ tak hanya menyelamatkan nyawanya, namun juga menyelamatkan seluruh hidupnya. Sebab di lembaga ini tak hanya dilakukan pendampingan medis, namun juga dibekali berbagai ketrampilan. Seperti membuat kerajinan dari koran bekas, main musik, hingga kursus brodcasting.


Tiap tahun “After Care” memiliki tema besar dalam “menggembleng” mantan pecandu. Untuk tahun ini, multimedia menjadi temanya. Maka kursus broadcasting di pilih. Mereka diajari teknik kamera, pengambilan gambar, tata cahaya, hingga proses editing. Sebuah production house bernama 515 yang didirikan dr. Aisyah bersama suami juga menjadi tempat belajar anak-anak ini. Bahkan beberapa dari mereka talent dari proyek-proyek yang digarap PH ini.
Menurut Agus, para mantan pecandu ini memang harus sengaja diberi banyak aktivitas supaya otaknya tidak “tidur”. Kita ini ibarat otak setetes. Jadi perlu terus di beri rangsangan aktivitas. Sebab jika dibiarkan tidur sebentar saja, godaan untuk kembali ke jurang gelap itu.

Agus yang juga kehilangan adiknya karena narkoba ini pun kini tak lagi memiliki otak setetes. Ia menjadi pendamping bagi anak-anak yang masuk di “After Care”. Baginya bebas dari narkoba adalah sama halnya dengan tidak berhubungan sama sekali dengan barang haram ini. Zero, istilah dia. “Jika masih make dikit-dikit itu sama halnya dengan makin menjerumuskan diri sendiri”ujarnya. Jika sudah tercebur sulit sekali beranjak. Kuncinya ada pada diri sendiri. “Jangan pernah nyoba deh” pesan akhirnya.

Thursday, August 28, 2008

Qaryah Thayyibah: Sekolah yang Memerdekakan

Terjepit diantara belantara rumah desa. Sekilas tak berbeda dengan rumah yang lain. Yang membedakan bangunan ini agak lebih tinggi dibanding dengan tetangganya. Disinilah letak sekolah alternatif Qaryah Thayyibah. Tepatnya di desa Kalibening, Salatiga, sekolah ini terkenal dengan sebutan QT. Bahruddin,warga setempat adalah penggagasnya. Ia prihatin dengan kondisi pendidikan yang bobrok dan makin mahal harganya. Rumahnya disulap menjadi tempat bermain sekaligus belajar bagi anak-anak. ak ada yang dibatasi dalam sekolah ini. Jaringan internet juga bisa diakses sewaktu-waktu dengan harga yang sangat murah. Cuma 1000 per jam. Kenapa harus dihargai bukan digratiskan? "Semata-mata sebagai bentuk pertanggungjawaban saja" katanya.

Bahruddin menambahkan, di QT model pembelajarannya adalah murid sebagai subyek pembelajaran, bukan sebagai obyek. Sebab muridlah yang paling tahu apa yang harus dipelajari dan tidak. Walau di pedesaan, sekolah ini juga mengadakan english morning setiap paginya. Maka murid disini mahis cas cis cus dalam bahasa Inggris. Menurut Bahruddin, walau format sekolah ini adalah sejenis sekolah terbuka, akan tetapi ia mengubah kecenderungan sekolah terbuka sekadar sebagai lembaga untuk membagi-bagi ijazah dengan mengelola pendidikannya secara serius. Bahruddin menambahkan, sekolah ini tidak mengeluarkan surat tamat belajar, sebab baginya belajar adalah sepanjang hayat manusia. Jika manusia tamat belajar itu sama saja dengan mati!

Walau sekilas tampak tak tertata, namun murid-murid disini sangat menikmati sekolahnya. Bersekolah merupakan sesuatu yang menyenangkan. Guru bukan sebagai otoritas penguasa di kelas, melainkan sebagai teman belajar. Mereka bebas merdeka berbicara dengan guru dalam bahasa Jawa ngoko, stratata bahasa yang hanya pantas dipergunakan bagi kawan yang seusia.

Di sekolah ini tak ada papan nama. Apalagi pagar pembatas. Sebab pagar hanya akan memagari kreativitas anak-anak saja. Murid disini disebut sebagai warga belajar. QT menyebutnya sebagai komunitas pembelajar. Maia misalnya. Ia sudah jatuh mati dengan sekolah ini. Baginya sekolah ini benar-benar membebaskan warga belajar untuk memilih materi pembelajaran. Sementara kalau di sekolah formal semua serba diatur, dimana belum tentu sesuai dengan kesukaan murid didik. Hal yang sama diakui Giaz. Ketika ditanya mengapa memilih bersekolah di QT, kecewa dengan sekolah formal adalah jawabannya. Baginya sekolah di QT memerdekakan dirinya untuk belajar mengatur diri sendiri. Mengatur kapan harus belajar, kapan harus bermain, dll. Ia dkk bahkan belajar membuat susu kacang sekaligus belajar menjualnya sendiri kepada warga sekitar untuk bertahan hidup. Selain itu, Giaz juga rajin mengumpulkan bahan bekas untuk dijahit menjadi berbagai barang yang layak pakai kembali, seperti tas, dompet, dll. "Mana ada sekolah yang begini" tegasnya.

Lingkungan dan rumah warga yang tersebar disekitar rumah Bahruddin adalah tempat mereka belajar. Maka ketika bertandang kesana, jangan bayangkan akan banyak kelas-kelas. Sebab yang ada adalah bangunan rumah-rumah saja. Bangunan kelas hanya ada dua kelas, itupun digunakan sebagai kelas perantara, supaya mereka yang tadinya belajar di sekolah formal tidak kaget. Setelah itu, warga belajarnya dibebaskan untuk memilih forum sesuai minat dan bakatnya. Forum adalah istilah bagi mereka yang berkelompok sesuai dengan minat dan bakat. Ada forum fotografi, film, teater, musik, berternak kelinci, daur ulang, dll. Maka tak heran sekolah ini maju dalam berkesenian. Di bawah bimbingan guru musik, Soedjono, anak-anak sekolah ini bergabung dalam grup musik Suara Lintang. Grup musik anak-anak ini juga telah diperbanyak dalam bentuk kaset, video CD album Tembang Dolanan Tempo Doeloe yang diproduksi sekaligus sebagai upaya penggalangan dana. Semua siswa bisa bermain gitar, yang menjadi keterampilan wajib sekolah ini. Seperti yang saya lihat sore itu. Seorang anak berjilbab asyik membetot bass. Moeksa, salah satu murid dari Jakarta berujar: mana ada sekolah desa seperti ini yang bisa membuat album musik.

QT dan mungkin banyak komunitas lain sudah barang tentu menjadi bahan pelajaran bagi pemerintah kita dalam mengelola pendidikan di negeri ini. Institusi belajar harusnya bukan lagi sebagai obyek "pemerasan" saja tiap tahunnya, namun harus menjadi subyek keberdayaan dari komunitas sekelilingnya.