Friday, April 7, 2017

Terserah

Terserah. Kata ini sering saya jumpai. Mau makan apa? Terserah. Mau minum apa? Terserah.  Mau lewat mana? Terserah. Mau pilih yang mana? Terserah. Terserah dalam KBBI online salah satu padanannya adalah masa bodoh. Dan di sebuah pagi, kata ini juga kembali saya temui. 

Pagi itu, saya dihampiri seorang remaja. Sebut saja namanya Andi. Perawakannya agak tinggi besar. Tergopoh dia menenteng tas ransel untuk masuk ke ruangan. Layaknya mahasiswa yang akan segera habis masa studinya, ia mengutarakan niat untuk magang di kantor kami. Dia studi di salah satu kampus penyiaran di kawasan Daan Mogot. 

Tiba di ruangan, saya coba menyelami apa yang menjadi kebutuhannya, demikian juga saya menyampaikan kebutuhan yang kami inginkan. 

Saya (S): Apa yang kamu inginkan di magang ini?
Andi (A): apa ya Pak?
S: Kamu mau belajar apa?
A: Gak tahu Pak
S: Kamu mau di bagian apa?
A: Apa saja. 
S: Apa yang kamu ingin dapatkan dari magang ini?
A: Apa ya Pak? (jawabnya kebingungan)
S: Kamu kan belajar tentang penyiaran, lha kamu sendiri apa  yang ingin dipelajari? 
A: Saya ingin jadi kameraman Pak
S: Kalau itu kebijakan kami tidak bisa, karena yang pegang kamera harus karyawan. Karena kalau anak magang terlalu riskan, terlebih alatnya kan mahal. Nanti kalau rusak  bagaimana pertanggunjawabannya?
A: Oh gitu ya Pak
S: Iya
A: Kalau jadi switcherman bisa Pak?
S: Tidak bisa juga untuk anak magang.
A: Jadi apa ya? Saya juga bingung.
S: Oke begini saja, kamu tolong pulang dulu, coba renungkan dulu, sebetulnya tujuan magang kamu apa? Apa cuma sekedar cari nilai? Atau yang lain? Sebab kalau  hanya cari nilai saja, sayang waktunya. 
A: Oh gitu ya Pak
S: Iya, ini email saya (saya menuliskan email di surat pengantar magangnya). Tolong email saya apa yang kamu inginkan selama magang. Saya tunggu sampai besok siang ya.

Besoknya dia email dan segera saya balas untuk keesokan paginya untuk datang lagi. Tapi sampai sekarang tidak kelihatan batang hidungnya. Dalam hati, saya juga ternyata bilang "terserah". Hahahah. 




Sunday, March 26, 2017

Belajar Perubahan

Perubahan. Itu intisari sharing Mas German Mintapraja hari minggu kemarin. Mas German pernah malang melintang di dunia TV luar negeri. CNN dan National Geographic pernah ia disinggahi. Belum lagi pengalaman menjadi kameraman balapan F1. Juga pengalaman naik Airforce1, pesawat kepresidenan AS.

Apakah kamu siap dengan perubahan? Begitu sapanya diawal. Saya tadinya berpikir Mas German akan banyak bicara tentang pengalamannya menjelajah 52 negara dengan kamera. Tetapi dugaan saya salah. Dia justru lebih banyak bicara soal perubahan. Ya Perubahan. Dia mencontohkan kericuhan antara taksi online dengan konvensional, sebetulnya karena perubahan tuntutan jaman. Ricuh karena tidak siap berubah.

Demikian juga dengan perubahan yang terjadi di dunia penyiaran. "Muka saya, muka analog" sambungnya. Ya jaman ketika video masih berbasis tape, mulai Betacam hingga DVCAM pernah ia rasakan. "Tapi saya juga mau belajar digital" lanjutnya. Sebab kalau tidak berubah ya pasti ketinggalan jaman. "Bahkan saya selalu menantang diri sendiri untuk ambil bagian yang tersulit". "Pokoknya bagian-bagian yang paling sulit, saya biasa memaksa diri untuk terima". Kenapa? karena dari situ kita bisa belajar banyak sesuatu yang baru"ujarnya.

Banyak wejangan yang menarik kemarin. Dia juga mengatakan kalau kita harus total menjalani profesi  yang kita pilih. Jika kita belum bisa totalitas, artinya kita masih belum menemukan profesi yang sesuai. Poin ini sangat menarik. Kenapa? Meski saya juga masih belajar untuk bekerja dengan baik, tetapi saya banyak menjumpai teman yang bekerja sekedarnya. Bekerja hanya sesuai dengan porsi pekerjaannya. Atau juga ada yang memandang pekerjaaannya sebagai sebuah persinggahan status saja. Karena meski badannya ada di kantor, namun pikirannya berkelana kemana-mana. Atau malah lebih suka berselancar ke toko online daripada mengurus pekerjaan utamanya. Tak heran kualitas pekerjaannya sama sekali jauh dari kata memuaskan. 


What's next.
Hal lain yang kemarin disampaikan juga soal waktu. Seperti kurva, semuanya pasti ada waktunya berakhir. Termasuk juga karier dan jabatan kita. Untuk itu harus bersiap berubah, Seperti kurva, ketika yang di atas, suatu hari pasti juga akan turun. Tugas kita semua untuk memastikan proses turunnya ini tidak terjun bebas. Kita memang harus turun, tapi turunlah seperti burung. Karena bersayap, burung ketika turun ke bawah, bisa naik lagi. Bahkan lompatannya bisa melebihi capaian sebelumnya. Tak heran, Mas German saat ini sedang menyelesaikan pendidikan S3 di Malaysia. "Saya ingin berubah menjadi profesional ke akademisi, karena saya juga ingin berubah". Berubah atau diubah, Dua pilihan yang bisa kita ambil. Kalau tidak mau berubah, orang lainlah yang akan mengubah kita. 

Meski singkat, Mas German banyak memberi wejangan seperti orang tua sendiri. Terima kasih Mas. 

Sunday, January 22, 2017

Istirahatlah kata-kata

Saya tidak kenal Wiji Widodo alias Wiji Thukul. Terlebih saya juga berada di generasi perlintasan. Kenapa saya sebut perlintasan, karena waktu gerakan 98, saya masih kelas 3 SMA. Saya juga tidak paham kenapa ketika melewati kampus Trisakti suatu siang banyak tentara menenteng senjata. Yang saya cuma pahami, sewa hotel yang sedianya digunakan untuk pelepasan kelulusan batal sebatal-batalnya. Penerimaan ijasah juga sendu. Banyak teman-teman yang tidak berani ke sekolah untuk ambil ijasah. Banyak juga teman yang mencari tempat yang lebih aman. Beberapa ada saya dengar sudah pindah ke negeri orang. Dan pada akhirnya peristiwa 98 juga membuat saya "menyingkir" ke Semarang. Dan di Semarang saya cuma merasakan demo sisaan. Karena demonya sudah tidak sebesar ketika 98. Jaman itu jadi mahasiswa kalau tidak demo, rasanya ada yang kurang. Meski demo sisaan, saya ikut merasakan bersama kawan-kawan  yang lain. Lambat laun, diskusi dan literasi soal apa yang terjadi di negeri ini mulai saya pahami. Dari situ saya sedikit terpapar puisi Wiji Thukul. "Hanya ada satu kata: "Lawan"! Jadi inspirasi jargon demo  yang sangat kuat ketika itu.  Saya juga tidak pernah melihat langsung wujud Wiji Thukul. Saya  cuma mendengar cerita dari kawan dan melihat dari bacaan kisahnya. Dan kemarin saya disuguhi wujud lain Thukul dalam bentuk film. Film yang banyak mengisahkan pelarian panjangnya di Pontianak. Dari film yang penuh interpretasi ini kita disuguhi kisah manusiawai yang begitu mendalam. Bagaimana sebuah keluarga bertahan ditengah pengawasan ketat aparat yang ketika itu begitu menakutkan. Bagaimana seorang istri cemas memendam rindu tapi tak tahu harus berbuat apa. Seperti tersaji dalam dialog "Saya senang kamu pulang tapi juga sedih kamu pulang". Dialog yang sangat menyentuh. Belum lagi siulan "Darah Juang" Sipon yang begitu menyayat.  Meski saya tidak kenal Thukul, tapi saya meyakini apa yang dilakukannya sangat berjasa terhadap kebebasan yang sekarang kita hirup. Demokrasi, kebebasan berpendapat, berserikat, berkumpul adalah hasil perjuangan Thukul dkk. Thukul bagi saya adalah sekeping mozaik dari sekian banyak keping mozaik lain yang menyebabkan kita bisa seperti sekarang ini. Semoga suatu hari Thukul bisa segera ditemukan. Dan jikapun Thukul sudah tiada, semoga bisa beristirahat dengan tenang, setenang istrihat kata-katanya.    Tabik

Thursday, December 29, 2016

Tolelot Dhira

Tadi pagi istri cerita kejadian lucu beberapa hari lalu. Waktu itu istri, mama mertua, dan Dhira pergi ke petak sembilan, Glodok. Selesai belanja, pulang naik grab car. Di dalam mobil grab, putra kami yang hampir 4 tahun ini tiba-tiba bilang kalau mau pulang ke Pati. Secara berkala kami memang pulang ke kampung halaman saya untuk menjenguk ibu. Biasa kami menggunakan bis karena bisa naik dan turun di depan rumah. Waktu ditanya kenapa mau pulang ke Pati, Dhira menjawab kalau mau naik bis o o (maksudnya bis Bejeu yang memang berwarna hitam). “Kenapa mau naik bis?”tanya istri lagi. Dhira langsung jawab “mau dengar tolelot”.
Istri terpingkal. Saya juga terpingkal. Entah darimana dia tahu fenomena tolelot, sementara selama ini kami tidak pernah mengajarinya. Heheheh :)

Tuesday, December 27, 2016

Organik: Bisnis Kepercayaan

Belakangan mulai banyak yang peduli akan makanan yang sehat. Imbasnya permintaan pasokannya juga meningkat. Bahan makan yang segar/fresh banyak digemari. Selain itu, bahan makan organik juga banyak diburu masyakarat. Mulai dari sayur hingga beras. 
sumber: organikilo.co


Meski dari sisi harga pangan organik lebih mahal, tapi demi kesehatan harga menjadi nomor sekian. Secara kasat mata, pangan organik, terutama sayur, tidak berbeda jauh dengan pangan non organik. Justru tampilan fisiknya malah seringkali tidak sedap di pandang. 

Isu organik memang menarik ditelisik. Ada yang mengatakan asal ada sertifikat organik dijamin produknya pasti organik. Tapi ada juga yang bilang asal tidak pakai pupuk kimia, sudah masuk kategori organik. Lha tapi gimana kalau cara tanamnya organik, tapi sekelilingnya masih menggunakan pupuk kimia? Bukankah itu bisa mencemari juga? 

Untuk menjawab perdebatan ini, maka hadirlah lembaga sertifikasi organik. Di Indonesia mulai banyak, seperti Biocer yang digagas AOI (Aliansi Organik Indonesia), Sucofindo, Inofice, Lesos, dll. Kalau yang internasional ada IFOAM. Juga yang lainnya. Untuk mendapatkan sertifikat organik beragam tarif dan mekanismenya. Dan banyak pegiat organik, terutama petani kecil yang belum sanggup melakukannya. Alasan utamanya adalah fulus. 

Saya pernah ketemu Pak Widodo, petani beras organik di Magelang, Jawa Tengah. Saya diajak melihat langsung sawah organiknya. Dia menanam Mentik Susu, Beras Merah, dan Beras Hitam. Sawah organiknya bersebelahan persis dengan sawah lain yang menanam dengan sistem non organik. Artinya mereka sama-sama menggunakan sumber air yang sama. Sedikit banyak pasti air yang sudah tercemar pupuk kimia mengalir ke sawah Pak Widodo. Tapi Pak Widodo terkekeh ketika saya tanya soal hal ini. "Gimana mungkin bisa mas kita lepas dari pupuk kimia". "Kalau memang mau organik 100 % kita mesti bertani di atas gunung"ujarnya. Pak Widodo juga tidak memusingkan dengan label organik. Selain mahal, baginya yang penting adalah kepercayaan konsumen. "Saya mungkin satu-satunya petani disini yang menerapkan pertanian begini Mas" tambahnya sambil menyiangi rumput. "Saya tidak takut, karena saya sudah menemukan pasar untuk beras saya". "Setiap panen, selalu habis, bahkan saya kewalahan menerima permintaan konsumen". "Saya apa adanya dengan konsumen saya, tidak ada yang saya tutup-tutupi, toh mereka bisa lihat sendiri bagaimana proses saya bertani" tegasnya. 

Pak Widodo juga membuat lumbung sederhana dirumahnya yang asri. Gabah organik biasa disimpan di sini setelah kering. Gabah baru diselep setelah ada permintaan. "Tapi biasanya gak pernah lama Mas, karena konsumen selalu datang mencari" ujarnya. Pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa memang bisnis organik itu adalah  bisnis kepercayaan. 

Tabik.

Catatan Tsunami

Desember hari itu seperti desember yang lain. Banyak yang sudah membuat rencana untuk merayakan natal juga tahun baru. 

Tapi desember hari itu, kelam. Sendu. Tepat sehari setelah natal ombak besar menghantam Aceh dan sekitarnya. Pagi hari ditengah sebagian besar orang masih terlelap, ombak hitam itu datang. Ada yang bilang, kalau ombak ini setinggi pohon kelapa. Tsunami. Kata ini segera menghiasi semua media kita. Hari itu adalah hari paling berduka bagi kita semua. Banyak saudara kita yang meninggal. Terseret ombak hitam tsunami. 

Hari itu juga kita diminta bersiap diri jika sewaktu-waktu dikirim ke Aceh. Tentu banyak orang yang ingin masuk Aceh. Dengan satu kata demi panggilan kemanusiaan. Tim pertama sudah dikirim, artinya tinggal menunggu saja giliranku. Akhirnya setelah segala urusan dibereskan, tanggal 31 kami mencapai Medan, sebelum tepat tanggal 1 Januari, kami tiba di Banda Aceh. Saya masih ingat betul, bagaimana senyapnya kota medan di malam pergantian tahun. Tak ada lalu lalang terompet. Kota seperti mati. Dari atas jendela kamar hotel, lampu jalan pun samar-samar menyala. Mungkin ikut berduka pula.

Pagi dini hari, sekitar jam 3 kami berlarian menuju pesawat carteran menuju Aceh sambil membawa logistik secukupnya. Tiba di bandara Banda Aceh, kami disambut raungan tangis yang tak berkesudahan. Bandara penuh sesak orang-orang yang sakit. Yang mencari saudara yang hilang. Juga penuh sesak oleh mereka yang ingin segera meninggalkan Banda Aceh. Terlihat beberapa pesawat masih berdiam. Hercules juga masih terdiam menanti muatan.

Mencari kawan yang sudah tiba duluan juga bukan perkara mudah. Kondisi bandara yang semrawut, tenda dimana-mana, belum lagi akses telpon yang belum bersahabat menjadi kendala. Tapi akhirnya bertemu juga. Kawan terlihat berpeluh. Terpampang jelas wajah-wajah yang lama tak berbasuh air bersih. Tapi demi tugas mulia semua diabaikan. 

Kami berteduh didalam tenda yang sudah disiapkan tim relawan pendahulu. Tim di bagi 2: pelayanan kesehatan dan pembagian logistik. Tiap hari kami mengikuti mereka. Akses jalan masih terbatas, demikian pula penerangan. Terlihat tim dari negara lain yang akomodasi dan perbekalannya yang baik. 

Satu yang paling berkesan ketika kami mengunjungi pos pengungsi di Jantho. Banyak anak kecil yang menangis karena tidak ada susu. Selain juga masih banyak orang-orang yang patah kaki karena menyelamatkan diri. Tentu tak terhitung berapa dari mereka yang trauma ombak hitam tsunami. 

Belum lagi jadwal makan kami yang tak menentu. Kami pernah juga memakan kelapa untuk mengganjal perut di siang hari, karena memang kami mengirimkan logistik ke daerah yang sulit terjangkau. Sebuah pengalaman yang sangat berharga. 

Kondisi Banda Aceh dan sekitarnya hari itu belum juga membaik. Bau anyit mayat masih ada disana-sini. Belum lagi hilir mudik informasi tentang kontak senjata GAM dan TNI yang benar-benar simpang siur, menjadi tantangan tersendiri. 

Hampir 1 bulan akhirnya kami harus pulang. Bukannya tidak mau berlama lagi mengabadikan beragam aktivitas kerelawanan di tanah Naggroe. Tapi memang tugas kami untuk sementara harus diakhiri. "Tenang, save energi kalian untuk perjalanan selanjutnya" demikian kabar dari kantor yang kami terima. Sebuah perjalanan yang sangat berharga ditengah banyak orang yang ingin membantu ke Aceh, namun belum bisa menuntaskan niat mulianya. 

Sejak itu, tak terhitung lagi kami bolak-balik ke Aceh. Setelah hanya sekitar 1 minggu di Jakarta, akhirnya kami ditugaskan kembali. Kali ini ke Aceh lagi, tapi ke bagian lain, yaitu Meulaboh, di Aceh Barat. Daerah ini termasuk wilayan Aceh yang tingkat kerusakannya terparah. Hampir semua sektor kehidupan lumpuh total. Maklum pusat kota tak jauh dari bibir pantai. 

Dengan dibantu dan dipandu relawan dari Sinar Mas, kami berangkat dari Medan. Sejak siang hingga menjelang sore hari kami terus bersiap diri. 11 truk sudah siap dengan muatan logistik. Belum lagi beberapa mobil pribadi. Sekitar jam 8 malam kami semua bergerak, beriringan. Konvoi. Biar tidak ada yang tercecer. Di perjalanan ini yang terkesan adalah perjalanan di Tapak Tuan. Bagian pesisir Aceh ini juga terlihat bekas bencana tsunami. Meski tidak terlalu parah. Sepanjang mata memandang, lautan pantai menghampar. Kami berhenti sejenak untuk mengisi perut dan menikmati pemandangan. Tapi tidak bisa berlama-lama. Sebab tujuan akhir masih jauh. 

Hampir 2 hari 2 malam, kami akhirnya tiba di Meulaboh. Kota ini mati total. Listrik belum banyak tersedia. Bala bantuan lembaga kemanusiaan juga belum banyak. Kami mencari staf mensos yang sedari awal menjanjikan tempat sebagai posko. Tapi ternyata janji ini tinggal janji. Pada akhirnya kami harus mencari sendiri posko yang ingin kami tempati untuk beberapa waktu ke depan. Beruntung salah satu relawan dari Sinar Mas memiliki famili. Meski ada korban jiwa, namun rumahnya masih dalam kondisi baik karena agak jauh dari bibir pantai. Kami mendirikan tenda tepat di samping rumahnya. Besokannya kami membersihkan tanah kosong dari semak-semak untuk menampung semua aktivitas kami. Dari titik inilah semua bantuan didistribusikan ke berbagai penjuru Meulaboh dan sekitarnya. 

Kami juga berkesempatan mendistribusikan bantuan ke Teunom. Wilayahnya  yang agak terpencil menyebabkan banyak bantuan belum mengalir ke daerah ini. Sebagain besar wilayahnya memang berada di bibir pantai. Tak heran kerusakannya juga sangat besar. Bantuan kami diangkut helikopter Perancis. Sepanjang perjalanan kerusakan masih terserak. Kami akhirnya sampai di Teunom, setelah hampir 1 jam terguncang di udara. Dibantu warga bantuan kami segera turunkan. Setelah survei dan koordinasi sana-sini, diputuskan bantuan baru didistribusikan keesokan harinya. Bantuan pakaian, makanan, dll segera ludes terdistribusi. Saatnya kami pamit kembali ke Meulaboh. Kali ini perjalanan saya ke Teunom hanya dengan Sx Endang, relawan Tzu Chi Medan. Kami saling berpandangan kebingungan ketika akan kembali ke Meulaboh. Jika waktu datang kami naik helikopter, saatnya pulang harus naik apa? Salah satu warga menawarkan ojek motor. Perjalanan akhirnya dimulai. Mula-mula jalannya masih ok, tapi lama-lama sangat mendebarkan. Beberapa kami harus turun dari motor karena jalan yang berlumpur. Kami membelah hutan rawa yang banyak membelah. Tak heran banyak babi hutan melintas di dekat kami. Hampir setengah hari kami habiskan. Pantat sudah tidak karuan rasanya. Tapi pengalaman ini sangat berkesan. 

Hari-hari selanjutnya diisi dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan, baik medis maupun pangan. Hampir 1,5 bulan kami di Meulaboh. Dan setelah itu bokal-balik  beberapa kali ke Aceh lagi. Bencana dasyat ini sudah menggerakkan jutaan ribu tangan-tangan kemanusiaan untuk berbagi meringankan beban saudara kita yang tertimpa  bencana tsunami. Dalam sebuah wawancara Pak Kuntoro sebagai ketua BRR Aceh Nias mengatakan bahwa kunci rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh begitu cepat karena adanya kepercayaan dari masyarakat dan dunia internasional terhadap kinerja BRR. Pak Kun, begitu biasa disapa melanjutkan, "bencana tsunami itu ibarat kita diminta untuk menghabiskan kue yang besar sekali dalam waktu yang singkat". "Kita tidak perlu berdebat dari mana kita menghabiskan kue itu, yang perlu kita segera lakukan adalah memakannya saja". "Kalau memang perlu dirasa kita geser posisi makan, ya tinggal geser saja" tegasnya. "Semoga gak ada bencana lagi" harapnya mengakhiri perbincangan pagi itu. 

Tabik. 


Monday, December 26, 2016

AHOK

Saya gak kenal pribadi. Saya kenal juga cuma lewat media. Pertama kali lihat Pak Ahok, justru waktu dia masih di Golkar. Kebetulan waktu itu, saya dkk mengantar kawan kita yang mau maju ke DPR RI mengisi program ring debat di ANTV. Sekilas tak ada yang spesial. Saya juga belum tahu kalau dia pernah jadi bupati di Belitung. Sebab fokus saya waktu itu hanya seorang kawan yang mau ke DPR. Jadi jelas, persepsi saya, jagoan kita lah yang paling bagus.

Selang beberapa waktu, kawan saya tidak masuk DPR. Sementara Pak Ahok justru ke DPR. Setelah lama tak dengar beritanya, Pak Ahok maju jadi wakilnya Pak Jokowi di Pilkada DKI. Euforia saya waktu itu cuma satu, gimana caranya mengalahkan Foke yang incumbent dan tidak banyak melakukan perubahan. Maka saya akhirnya memilih pasangan no 2 ini. Dan ternyata menang. Balada kedua orang ini terus berlanjut hingga sekarang. Pak Jokowi akhirnya menjadi Presiden, dan Pak Ahok menggantikannya. 

Selebihnya saya hanya mengikuti sepak terjang Pak Ahok via media massa. Bisa berfoto  berdua pun waktu mantu anaknya Pak Jokowi di Solo. Sesekali saya melihat langsung hasil program kerjanya. Waduk Pluit adalah proyek yang luar biasa. Kalau di dekat rumah, jelas banyak perubahan. Gang sebelah yang dulunya tidak ada drainase, akhirnya dibongkar dan dibuatkan drainase yang cukup besar yang ditembuskan langsung ke Cengkareng Draine. Bekas TPS di pinggir Cengkareng Draine yang disulap jadi taman juga langkah fenomenal. Meski di samping taman masih ada TPS kecil, tapi semoga nantinya bisa ditata lagi, sehingga tidak mengganggu warga yang berolahraga. Pelayanan satu pintu di tiap kelurahan juga terobosan birokrasi DKI yang biasanya semrawut. Jalan-jalan gang juga banyak yang sudah diperbaiki berkat aplikasi qlue. Yang terakhir, pembangunan RPTRA di bekas taman yang kurang terurus dekat rumah jadi bukti bagaimana semua program Pak Ahok dirasakan warga.

Jikapun kelemahan Pak Ahok menurut saya cuma mulutnya saja yang agak bikin sebagian orang tersulut. Setiap program gubernur pasti menimbulkan pro kontra. Kita lihat sisi baiknya. Semua pasti demi kebaikan semua warganya.  

Jika sudah banyak yang teruji dan berbukti kenapa mesti cari yang masih menebar janji dan belum tentu ditepati?

Tabik,