Sunday, June 15, 2008

Lagi Lagi Perempuan

Naiknya harga BBM membuat pusing banyak pihak. Dan pihak yang paling pening kepalanya sapa lagi kalau bukan ibu-ibu rumah tangga. Mereka harus berjibaku mengatur keuangan keluarga. Sebenarnya jauh hari sebelum BBM naik, mereka pasti sudah "ahli" bagaimana memilah kebutuhan yang harus dipenuhi dengan uang yang selalu mepet. Itu pula yang dilakukan Ibu Eni dan Ibu Rohmani. Mereka tinggal berhimpitan di pemukiman padat tak jauh dari terminal Pulo Gadung. Ibu Eni tinggal bersama 2 orang anak yang masih bersekolah, namun suaminya tak bekerja hingga kini karena PHK beberapa tahun silam. Keluarga yang berasal dari Sukoharjo, Solo ini mengontrak sepetak rumah seharga 400.000 per bulan. Sehari-hari Ibu Eni berdagang apa saja. "Yang penting halal Mas" ujarnya suatu ketika. Awalnya Ibu Eni menjadi Yakult Lady, penjual minuman Yakult keliling. Maksud hati ingin menambah pemasukan dengan menambah barang yang di jual, namun pihak Yakult tidak mengijinkan. Akibatnya pemberhentian pun dilakukan. Sebab memang aturannya tidak boleh menjual barang lain selain Yakult. Terpaksa, Ibu Eni mencari akal lain. Bagian konsumsi hajatan kelurahan selalu diembannya. Harapan tentu ada sedikit pemasukan dari sini. Seperti hari itu kami mengikuti Ibu Eni memesan sejumlah kue untuk acara di kelurahan. "Kalau tidak begini, anak-anak tidak bisa sekolah Mas" ungkap Ibu yang juga aktif di Komisi Perempuan Indonesia ini.

Hal serupa juga dilakukan Ibu Rohmani. Wanita asli Betawi ini telah menjanda dengan anak-anak yang sudah besar. Ndut, demikian biasa wanita berbadan besar ini di sapa. Meski memiliki rumah sendiri peninggalan orang tuanya, dengan beberapa kamar kontrakan, namun ia tak berpangku tangan. Setidaknya sudah tahunan ia menjalani sebagai seorang Yakult Lady. Pembawaan yang ceplas ceplos memudahkan ia menjaring beberapa konsumen. Seperti hari itu, ketika kami mengikutinya. Dalam sekejap beberapa botol kecil Yakult telah berpindah tangan. Bahkan ada seorang ibu yang gigit jari karena tidak kebagian. "Nanti saya datang lagi kok Bu" demikian hiburnya.

Apa yang dilakukan Ibu-ibu ini mengingatkan saya dengan Ibu di rumah. Sejak Bapak meninggal, Ibulah yang membanting tulang membesarkan kami berlima. Prinsip Ibu waktu itu cuma satu: kerja, kerja, dan kerja. Anak-anaknya tak satupun yang tidak diperbolehkan nganggur, apalagi bermain. Harap maklum, jika kami kurang banyak teman bermain. Sebab masa kecil kami, hanya diisi dengan bekerja. Mainanku cuma satu kala itu: sepak bola.

Di keluarga kami semua sudah ada jatah kerjanya. Ada yang ambil kayu, memasak, menggembala kambing, dan tentu juga membantu membuat tape singkong. Dari jenis tapioka inilah Ibu mempertahankan ekonomi keluarga, juga berhasil mengentaskan pendidikan kami. Urusan pendidikan memang tak pernah ditinggalkan Ibu. Setiap kali ada kartu pembayaran SPP datang, setiap itu pula, SPP segera dilunasi. Bahkan sampai satu tahun ajaran. Selain itu juga, jika ada buku pelajaran yang harus dibeli, Ibu segera meminta kami untuk memberi catatan untuk diberikan kepada penjual buku pelajaran tak jauh dari tempat berdagangnya di emperan pasar. Dan hari itu pula biasanya kami sudah memegang buku pelajaran yang diminta ibu guru. Meski berpeluh, tapi itu semua patut kami syukuri kini. Sebab hingga sekarang keluarga kami baik-baik saja. Ibu sudah kami minta untuk "pensiun". Biarlah kami yang menggantikannya.

Ibu Eni, Ibu Rohmani mungkin contoh umum masyarakat pinggiran dalam menyiasati melambungnya harga-harga. Walau tak jarang banyak pula yang akhirnya tergilas dalam perubahan ini dan menyerah terhadap keadaan. Namun rasa optimis harus terus ditumbuhkan. Rasa bahwa masih ada harapan tersisa dari situasi yang sulit inilah yang menjadi semangat untuk terus bertahan dan berjuang.


3 comments:

Anonymous said...

Weh, nonton juga jeh. Gagasan film ini memang menarik, meski pada penggarapannya kurang mengigit. Tapi tetap saja sebuah peluang untuk sineas kita belajar membuat film yang lebih baik. Wanna make one?

hehehe

rena

hidoep@perjoeangan said...

Siapa takut. Selama ada kesempatan kenapa tidak?

hidoep@perjoeangan said...

Btw, kayaknya elu salah kasih komen deh Ren. ;) ?!