Tuesday, March 17, 2009

Dukung Petisi Tolak Buddha Bar

Jangan jadikan ketidak-melekatan sebagai alasan untuk sebuah ketidak pedulian.
Memang benar Buddha mengajarkan untuk tidak melekat pada simbol-simbol dan bahkan pada ke-aku-an.
Namun Beliau juga mengajarkan untuk mengembangkan kebijaksanaan supaya tidak terjerumus dalam kebodohan.

Saat pangeran Siddharta belum menjadi Buddha, beliau mencoba tidak melekat pada badan jasmaninya dengan menahan lapar dan haus, menyiksa diri demi terbebas dari penderitaan.
Namun akhirnya dia menyadari bahwa hal itu tidaklah bijaksana. Dan kembali makan dan minum demi kesehatan dan menguatkan badannya. Apakah artinya dia menjadi melekat kembali kepada badan jasmaninya?

Ada sebuah cerita juga tentang Bhikkhu yang membakar patung Buddha dari kayu untuk menghangatkan badannya di cuaca yang sangat dingin. Karena sudah tidak ada kayu bakar lagi yang bisa dipakai untuk menghangatkan tubuh. Cuaca juga terlalu buruk untuk mencari kayu di luar.

Saat ada Bhikkhu lain yang mempermasalahkan hal tersbut ia mengatakan kepada Bhikkhu-Bhikkhu yang lain bahwa patung tersebut hanyalah sebuah patung kayu, sebuah simbol dan kita tidak boleh melekat kepadanya.

Bhikkhu ini bertindak bijaksana, karena jika dia tidak membakar patung kayu tersebut, mereka semua akan mati kedinginan.
Tapi pada kasus Buddha Bar, apakah bijaksana membiarkan nama Buddha menjadi nama sebuah Bar? Apakah bijaksana meletakkan patung-patung Buddha di dalam sebuah bar?? Apakah ketidak-melekatan bisa dijadikan alasan untuk membiarkan hal ini terjadi?

Lalu bijaksanakah jika ketidak-pedulian kita akhirnya menimbulkan akibat tidak adanya penghormatan lagi terhadap agama Buddha.

Walaupun agama Buddha tidak gila penghormatan, namun bijaksanakah membiarkan kualitas agama ini menurun dan mungkin menghilang dari dunia karena tidak dihormati lagi oleh orang lain dan bahkan oleh pengikutnya sendiri.

Kondisi seperti itukah yang akan kita wariskan pada generasi mendatang?
Apakah memang tidak ada pilihan lain sehingga harus menggunakan nama Buddha, dan apakah tidak ada hiasan lain sehingga harus menggunakan hiasan patung Buddha dalam sebuah Bar?

Sebagai umat Buddha kita diajarkan untuk berpikir kritis dan bijaksana dalam melihat segala sesuatu. Membedakan antara ketidak-melekatan dan ketidak-pedulian. Mencerna esensi ajaran Guru Buddha tidak sebatas kulit luar dari apa yang tertulis.

Bertindak atau tidak, pilihan tetap ada di tangan masing-masing.

Appamadena Sampadetha

Dian Saptiana

SDM PP HIKMAHBUDHI


(meneruskan Petisi teman saja).

1 comment:

Anonymous said...

Menurutku tidak sepantasnya kita menaruh patung-patung orang suci dalam tempat menjual minuman keras. Meskipun Sang Buddha adalah orang suci sehingga Beliau tidak akan marah-marah hanya gara-gara patung-Nya diletakkan dalam bar, namun sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk menghormati-Nya. Meskipun Beliau sendiri sangat rendah hati dan sama sekali tidak gila hormat.
Permasalahannya ada pada kita sendiri. Apakah kita cukup besar hati untuk menghormati orang-orang suci atau tidak?
Kalau iya, selamat untuk kita.
Kalau tidak, berarti kita masih harus belajar banyak (sampai jumpa dalam reinkarnasi selanjutnya...)

NB: Aku sangat menghargai para mahasiswa Buddhis yang melakukan demo damai. Bawa spanduk, menuntut ini-itu, namun semuanya dilakukan dengan damai. Tak ada yang rusak, tak ada yang terluka.
Bravo, mahasiswa Buddhis...!!! Semoga para pendemo di negara ini bisa meneladani demo damaimu.