Tuesday, March 18, 2014

Idealis

Pagi itu saya mewawancara seorang calon karyawan. Sebut saja namanya Santi. Santi lulusan perguruan tinggi negeri dengan IPK 3 koma sekian. Cukup baik prestasi akademiknya dengan jurusan eksakta. 

Saya: "Apa motivasi terbesar kamu melamar kerja di sini"
Santi: "Saya ingin belajar Pak"
Saya: "Tapi ini tempat kerja, bukan sekolahan"
Santi: diam........

**********
Saya: "Baik jika kamu ingin belajar, apa yang ingin kamu pelajari disini"
Santi: "Saya ingin dapat ilmu, berkenalan dengan banyak orang, bla bla.........."
Saya: "Saat ini apa aktivitas kamu?"
Santi: "Saya sedang mengembangkan pendampingan untuk warga di sebuah kampung di Banten bersama teman-teman saya Pak".
Saya: "Lha kalau mau ketemu banyak orang, bukankah melalui program pendampingan itu kamu bisa juga melakukannya?"
Santi: "Tidak bisa Pak"
Saya: "Kenapa tidak bisa"
Santi: "Ya saya merasa tidak bisa Pak"
Saya: diam..........

**********
Saya: "Baik jika saya terima kamu, apa yang bisa kamu berikan?"
Santi: "Saya akan memberikan seluruh kemampuan saya Pak".
Saya: "Jika saya terima kamu dan saya tugaskan kamu pergi ke suatu tempat, sementara hari itu juga kamu harus berangkat melalukan pendampingan masyarakat, mana yang kamu pilih?"
Santi: "Saya memilih berangkat melakukan pendampingan Pak".
Saya: "Kenapa? 
Santi: "Karena menurut saya itu yang lebih penting".
Saya: "Terus bagaimana dengan pekerjaan utama kamu?"
Santi: @#?
Saya: "Kalau sekarang posisinya dibalik, kamu menugaskan saya untuk bekerja, sementara saya tidak mau mengerjakan, bagaimana reaksi kamu?"
Santi: *****+_
Saya: "Lalu buat apa kamu melamar pekerjaan, sementara kamu ingin memilih melakukan pendampingan masyarakat?"
Santi: diam................

******
Dari wawancara kemarin, saya banyak belajar. Dulu ketika baru saja selesai kuliah, saya juga termasuk yang sangat idealis dengan berbagai pilihan hidup. Dan pada akhirnya yang terpenting adalah kita sendiri maunya apa. Jangan-jangan idealisme kita hanya semata-mata karena pengaruh teman-teman kita? Jangan-jangan kita belum menemukan kita sendiri maunya apa. 




Kartu Kredit

Hari itu kami sekeluarga ke Medan melalui terminal 3. Selesai check in juga menyelesaikan urusan bagasi, kami segera menuju ruang tunggu. Tapi sebelumnya kami bermaksud makan malam dulu di bakmi GM. Maklum, sudah waktunya isi perut, karena perjalanan ke Medan selama 2 jam lebih. 

Begitu kaki ke arah bakmi GM, ternyata beberapa sales kartu kredit menyerbu. Menawari aplikasi yang "katanya" gratis. Kata-kata "gratis" terus diujarkan, sementara saya terus berlalu. Saya juga sudah sejak awal melambaikan tangan pertanda tidak membutuhkan. Sales kartu kredit memang saya akui sangat pantang menyerah. Saya terus dikejar sambil disodorkan berbagai hadiah langsung seandainya saya apply aplikasi kartu kreditnya. 

Selesai memilih menu, saya duduk menunggu pesanan bakmi GM tiba. Sales itu masih terus menunggu. Bahkan dia mulai bertanya, "apakah saya boleh duduk sekalian?". Saya mulai gusar. Saya jawab "saya mau makan". Saya dari awal menghargai cara kerjanya dengan menolak secara halus. Tapi jika terus mendesak seperti ini, mohon maaf saya harus agak kasar. Dan pada akhirnya jurus terakhir saya keluarkan untuk menghardiknya. "Sorry mas, saya kalau mau beli sesuatu lebih suka cash, gak ngutang". Dan sang sales pun akhirnya pergi. 

Monday, February 24, 2014

Mas Parkir

Sebuah pagi. Langit masih muram. "Harus cepat nih, kalau tidak bisa basah kuyup seperti tempo hari" gumam saya. Segera pamitan dengan orang rumah dan berlalu.

Kuda besi lawas segera dipacu. Melintasi 3 kelokan, tiba juga di jalan agak besar itu. Banyak sekali motor mengambil arah berlawanan saya. "Ada apa ya" batin saya. "Pasti ada yang gak beres". Dan betul parkir massal menyergap di depan mata. Dengan sabar saya memutuskan untuk tetap mengambil jalur itu. Sebab diujungnya berupa perempatan biasanya tidak terlalu stuck dibading jalanan sebelah yang sedari tadi menggoda karena kelancarannya. Jalanan sebelah biasanya lebih lancar, tetapi perempatannya seringkali bikin kepala nyut-nyutan. 

Setelah berjibaku 30 menitan lebih, tiba juga di kantor. Eng ing eng, baru sadar jika kartu langganan parkir tertinggal. "Damn!!!" "Ya sudah alamat keluarin duit untuk bayar parkir". Kebodohan serupa pernah juga saya alami, meski tidak sering. Pengalaman yang sudah-sudah, setiap kali tidak membawa kartu parkir langganan pasti bayar sama seperti orang pada umumnya yang tidak berlangganan. Itu adalah aturan yang tidak bisa diganggu gugat. Seharian cuma 10 ribu. Tapi meski cuma 10ribu kan lumayan juga. He..:) Ya sudah terima saja kebodohan pagi ini!!!

Siangnya saya keluar kantor untuk sebuah urusan di bank. Dan betul saja ketika di pintu keluar saya harus membayar 5000. Saya bilang ke petugas loketnya kalau kartu saya tertinggal, tapi dia bilang harus tetap bayar. Ya sudah. Lembaran Teuku Imam Bonjol itu berpindah cepat. Saya pun berlalu. 

Kembali dari urusan di bank, saya pencet tombol tanda parkir. Dan si hitam segera terparkir. Itu artinya 5000 lagi harus saya siapkan lagi ketika nanti pulang.

Waktu berlalu cepat. Sekitar pkl 19.00 saya keluar kantor. Dari kejauhan saya melihat petugas jaga loket parkir sudah berganti shift. Yang siang tadi memang orangnya ramah. Sering tegur sapa, juga tersenyum. Dan yang kali ini, mas yang biasanya dinging, kaku, jarang menegur. Cara kerjanya pun mirip robot. Tanpa berbicara biasanya segera dia ambil kartu, gesek, dan cepat mengembalikan sambil memencet tombol agar portal terbuka tanda kita boleh jalan terangkat. Itu semua dilakukan hanya dalam hitungan detik. 

Tapi hari itu dia agak berbeda. Ketika saya sodorkan kertas parkir, dia tanya kartu langganan. Alih-alih segera minta bayaran parkir, dia justru segera mengontak kawannya di kantor yang tak jauh dari loketnya. dan ketika kawannya tidak merespon, segera dipacu beat-nya ke kantor untuk mendata nomor langganan  saya. Tak sampai satu menit, dia sudah tiba lagi di loket. "Pak ini nomor langganannya dicatat ya, jadi kalaupun tidak membawa kartu langganan gak harus bayar" jelasnya. "Ok mas, terima kasih ya", sambut saya. 

Hari itu saya merasakan ada yang berbeda. Mas yang biasanya begitu pelit senyum, negur orang saja jarang terlihat. Tapi justru hari itu saya banyak dibantu. Dari segi nominal mungkin tidak seberapa. Tapi ketulusan dia dalam melayani saya patut acungkan 2 jempol. Perkataan "don't judge the book from the cover" ada benarnya juga. 

Terima kasih mas parkir. 

Wednesday, January 1, 2014

Resolusi 2014

Tahun baru dan resolusi, biasanya menjadi tak terpisahkan. Tahun baru, semangat baru. Tahun baru, bla bla baru. Bla bla baru. Biasanya yang bagus-bagus yang ditulis. Biasanya yang membawa angin kesegaran dan perubahan. 

Jika ingin berbagi, inilah beberapa daftar yang ingin saya harapkan tercapai di 2014:
1. Menjadi anak, suami, menantu, ayah, kakak, paman sebaik-baiknya. 
2. Mengurus rumah 11A dengan baik. 
3. Mengurus dan membesarkan @dwproduct. Semoga tahun ini bisa masuk retail.

Tak perlu banyak-banyak. Yang terpenting dijalani dengan penuh kesadaran. Semoga terpenuhi semua. Semoga tidak ada yang terlewat karena beragam sebab. Juga tidak terlewat karena kemalasan. 

Semoga semua makhluk berbahagia. 

Thursday, December 26, 2013

Konfirmasi

Pasti kita tidak suka ditanya berulang kali untuk pertanyaan yang sama. Sebab kita pasti akan mengulang jawaban yang sama. Sekali dua kali masih wajar, tapi bagaimana jika terlalu sering? Misalnya kawan yang menanyakan alamat rumah, no hp, pin bb, termasuk no rekening kita ketika mereka membutuhkan? Lantas,tersimpan dimana data-data yang selama ini kita sudah berikan?

Belakangan saya baru menyadari pentingnya untuk selalu memastikan segala sesuatu sebelum bertindak. Contohnya memeriksa alamat, denah, rute, dll sebelum berangkat ke suatu tempat. Saya pernah tersesat karena tidak melihat peta terlebih dahulu. Saya juga sempat di tahan satpam perumahan, gara-gara lupa alamat rumah kawan, sementara HP saya kehabisan baterai. 

Ada baiknya kita menyimpan dengan rapi semua data yang pernah kita minta. Terlebih jika data tersebut sering kita butuhkan. Apalagi teknologi sudah memanjakan kita dengan segala aplikasinya. Tinggal kita manfaatkan saja dengan bijak. 

Tuesday, December 10, 2013

Belajar Integritas

Mengawali tulisan ini saya ingin berbagi sedikit soal buku yang belum lama ini saya baca. Dan tulisan ini memang terilhami dari buku "Follow Your Passion" karya Muadzin, salah satu pendiri semerbak coffee (SC). Di buku ini dijelaskan bagaimana dia memulai usahanya mendirikan SC bersama kawan SMPnya. Benang merah buku ini adalah soal integritas. Ya integritas. Bagaimana perjuangan Muadzin ketika masih bekerja, namun juga dalam waktu bersamaan mulai merintis usaha kopinya ini. Seperti bagaimana dia mampu memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Salah satunya yang patut diacungi jempol adalah dia memanfaatkan waktu istirahat untuk mengurus bisnis rintisannya. Makanan sengaja titip beli sama office boy, sehingga waktu istirahatnya maksimal untuk mengurus segala tetek bengek bisnisnya. Mulai dari desain pamplet, dll.  Dia sama sekali tidak korupsi mencuri-curi waktu kerjanya untuk mengurus bisnisnya. Dia juga tidak memakai alat kantor, bahkan sekedar telepon atau numpang printer untuk keperluan pribadinya. Sungguh luar biasa. Tak heran SC sudah menyebar ke berbagai kota. Bahkan di pojokan jalan juga sudah ada. Terakhir saya dengar, dia mulai membuka kedai kopi satu lagi yang dinamai Ranah Kopi. Meski saya belum pernah sekalipun mencicipi kopinya, tapi saya merasakan integritasnya yang tinggi melalui buku ini.

Dari buku ini, saya banyak berpikir. Termasuk juga tentang diri saya. Lalu berdentuman pertanyaan memborbardir diri. Berapa persen jiwa dan raga kita "betul-betul" tercurahkan untuk urusan kantor yang menggaji kita? Seberapa banyak potensi diri kita yang bener-bener kita serahkan untuk urusan kantor? Lalu berapa banyak juga waktu kita untuk "mencuri-curi" waktu dan berbagai fasilitas kantor untuk urusan pribadi kita?  Terlebih ketika banyak juga kita saksikan di sekitar kita yang justru melakukan perilaku curang. Menggunakan fasilitas kantor untuk urusan pribadi kita. Juga menggunakan waktu kerja untuk mengurusi urusan pribadi yang belum selesai. Termasuk juga untuk melihat, mencari barang-barang yang ingin kita beli? Rumah, mobil, baju, aksesoris, dll? Berapa banyak dari kita yang justru menggunakan telepon kantor untuk menelepon anak kita, keluarga kita, kerabat kita, teman kita? Mungkin banyak, mungkin juga tidak. Belum lagi banyak dari kita yang "melemparkan" pekerjaan utama kita dikantor ke orang lain, sementara diri sendiri justru asyik masyuk mengurusi keperluan pribadi. 

Seorang kawan bercerita, dia harus melakukan banyak pekerjaan sampingan karena tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Segera saya timpali dengan pertanyaan kalau tidak cukup mengapa masih disini? Sementara keberadaannya disini juga tidak maksimal?  

Saya tidak bermaksud menghakimi teman-teman. Saya sendiri juga masih belajar soal integritas ini. Silahkan teman-teman berkaca dan menilai diri sendiri.

www.wiedodo.blogspot.com

Jadi maunya apa?

Hari itu saya bertemu kawan lama. Ketika bersekolah dulu kami cukup dekat. Meski setelah itu kami lama tidak bertemu, terlebih saya melanjutkan kuliah di luar Jakarta. Setelah sekian banyak janji yang belum bisa dipenuhi karena kesibukan masing-masing, sore  itu kami sepakat bertemu di salah satu mall di Jakarta Barat. Sebetulnya tidak terlalu bersemangat saya ketika meninggalkan rumah. Bukannya tidak mau bertemu. Bukan tidak mau silaturahmi. Bukan itu. Entah apa penyebabnya. Tersahut di telepon beberapa hari sebelumnya, kawan ini cerita kalau dia sekarang menjadi "pengusaha". Meski belum besar, tapi lumayan hasilnya. Itu cerita dia via telepon. Dia juga menanyakan apakah saya memiliki jaringan untuk memasarkan barang-barang dagangannya. Singkat cerita kami janjian bertemu.

Hari sudah agak gelap. Lalu lintas minggu sore tidak terlalu ramai. Agak kepagian dari jadwal yang kami sepakati. Akhirnya saya masuk toko buku Gramedia untuk membunuh waktu. Tak lama, pesan bbm masuk. Dia bilang kalau sudah sampai. Segera berkemas dan bergegas menuju lantai 3 sesuai janji kami. Banyak ide, pemikiran yang berseliweran di atas kepala. Apa jadinya ya kawan sudah lebih 10 tahun tak bertemu? Ada cerita apa? Akan ada tawaran apalagi? dll Pasti seru. Batin saya. 

Tak berselang lama, dia muncul bersama kakaknya. Kami sengaja memesan tempat yang agak mojok biar bisa bertukar cerita banyak. Sembari pesan makanan, saya cek sekali lagi handphone. Kali saja orang rumah mencari. Ternyata tidak ada pesan apapun. Saya putuskan untuk menyimpannya di dalam tas. Berharap sekali waktu kami isi dengan obrolan. Bukan bertemu tapi sibuk dengan handphone masing-masing di tangan seperti meja sebelah. Agak lama, kawan ini baru meletakkan handphonenya di atas meja makan. Sembari makan kami ngobral sana-sini yang menurut saya sangat biasa. Tidak ada isinya sama sekali. Makanan sudah mulai tandas. Pikir saya, mungkin akan bisa ngobrol banyak lagi setelah makan. Tapi ternyata prediksi saya keliru. Si kawan sudah mulai sibuk dengan handphonenya. Sementara saya sekuat hati untuk tidak melongok handphone di tas. Saya sengaja ingin tahu, sebetulnya apa yang dia inginkan dari pertemuan itu. 

Satu menit, dua menit, 10, 15 menit berlalu, tanpa ada sesuatu yang berarti. Saya mulai gusar, tapi gak enak kalau harus undur diri terlebih dahulu. Saya kuatkan pantat untuk tidak tercabut dari bangku yang mendadak terasa panas. Dia masih asyik dengan handphone di tangannya. Mungkin itu yang lebih berarti daripada pertemuan itu sendiri. Pada akhirnya kami bubar setelah tagihan makanan di bayar. Sama sekali tak ada kesan yang berarti.

Di perjalanan pulang, saya berpikir, sebetulnya apa yang dimaui orang-orang seperti ini ya? Keberadaan teknologi, gadget dan seperangkat alat penunjangnya bukan hanya sudah membantu, tapi juga sekaligus  "mengganggu" hidup manusia. 

Jadi maumu apa kawan?

www.wiedodo.blogspot.com