Tuesday, December 10, 2013

Jadi maunya apa?

Hari itu saya bertemu kawan lama. Ketika bersekolah dulu kami cukup dekat. Meski setelah itu kami lama tidak bertemu, terlebih saya melanjutkan kuliah di luar Jakarta. Setelah sekian banyak janji yang belum bisa dipenuhi karena kesibukan masing-masing, sore  itu kami sepakat bertemu di salah satu mall di Jakarta Barat. Sebetulnya tidak terlalu bersemangat saya ketika meninggalkan rumah. Bukannya tidak mau bertemu. Bukan tidak mau silaturahmi. Bukan itu. Entah apa penyebabnya. Tersahut di telepon beberapa hari sebelumnya, kawan ini cerita kalau dia sekarang menjadi "pengusaha". Meski belum besar, tapi lumayan hasilnya. Itu cerita dia via telepon. Dia juga menanyakan apakah saya memiliki jaringan untuk memasarkan barang-barang dagangannya. Singkat cerita kami janjian bertemu.

Hari sudah agak gelap. Lalu lintas minggu sore tidak terlalu ramai. Agak kepagian dari jadwal yang kami sepakati. Akhirnya saya masuk toko buku Gramedia untuk membunuh waktu. Tak lama, pesan bbm masuk. Dia bilang kalau sudah sampai. Segera berkemas dan bergegas menuju lantai 3 sesuai janji kami. Banyak ide, pemikiran yang berseliweran di atas kepala. Apa jadinya ya kawan sudah lebih 10 tahun tak bertemu? Ada cerita apa? Akan ada tawaran apalagi? dll Pasti seru. Batin saya. 

Tak berselang lama, dia muncul bersama kakaknya. Kami sengaja memesan tempat yang agak mojok biar bisa bertukar cerita banyak. Sembari pesan makanan, saya cek sekali lagi handphone. Kali saja orang rumah mencari. Ternyata tidak ada pesan apapun. Saya putuskan untuk menyimpannya di dalam tas. Berharap sekali waktu kami isi dengan obrolan. Bukan bertemu tapi sibuk dengan handphone masing-masing di tangan seperti meja sebelah. Agak lama, kawan ini baru meletakkan handphonenya di atas meja makan. Sembari makan kami ngobral sana-sini yang menurut saya sangat biasa. Tidak ada isinya sama sekali. Makanan sudah mulai tandas. Pikir saya, mungkin akan bisa ngobrol banyak lagi setelah makan. Tapi ternyata prediksi saya keliru. Si kawan sudah mulai sibuk dengan handphonenya. Sementara saya sekuat hati untuk tidak melongok handphone di tas. Saya sengaja ingin tahu, sebetulnya apa yang dia inginkan dari pertemuan itu. 

Satu menit, dua menit, 10, 15 menit berlalu, tanpa ada sesuatu yang berarti. Saya mulai gusar, tapi gak enak kalau harus undur diri terlebih dahulu. Saya kuatkan pantat untuk tidak tercabut dari bangku yang mendadak terasa panas. Dia masih asyik dengan handphone di tangannya. Mungkin itu yang lebih berarti daripada pertemuan itu sendiri. Pada akhirnya kami bubar setelah tagihan makanan di bayar. Sama sekali tak ada kesan yang berarti.

Di perjalanan pulang, saya berpikir, sebetulnya apa yang dimaui orang-orang seperti ini ya? Keberadaan teknologi, gadget dan seperangkat alat penunjangnya bukan hanya sudah membantu, tapi juga sekaligus  "mengganggu" hidup manusia. 

Jadi maumu apa kawan?

www.wiedodo.blogspot.com

Friday, October 11, 2013

#DhirakumaraBodhiWidana

Happy 8th months of My Son!

Semoga selalu sehat,
Sukses pendidikan,
Sukses pekerjaan,
Juga sukses kegiatan sosial kemasyarakatanmu ya!

11-02-13
11-10-13

alasan

Sebuah sore. Sebuah percakapan. Dua orang berseberangan telepon genggam saling berjanji. "Pokoknya barangnya harus dikirim besok ya Mas"ujarnya. "Iya besok pasti dikirim"sahut suara di seberang. Klek. Telepon genggam tak lagi bersuara. 

Selang keesokan, barang yang dijanjikan belum jua datang. "Mas gimana barangku kok belum dikirim?, padahal janjinya kan hari ini". Suara di seberang tersahut, "iya nih karyawanku ada yang gak masuk". Bla bla bla #

Kita semua pasti atau setidaknya pernah memberikan beribu alasan untuk sebuah janji yang tidak bisa kita tepati. Entah karena beragam sebab. Alasan pasti kita cari. Kambing hitam selalu kita cari. Alasan kita bikin agar kita "lolos" dari hukuman atas janji yang tak kita tepati. Alasan adalah cara kita berkelit untuk bebas dari hukuman. Koruptor atau bandar narkoba juga mencari beribu alasan agar lolos dari palu sidang hakim. Meski sudah terbukti bersalah, mereka akan selalu mencari cara untuk setidaknya meringankan hukumannya. Lagi-lagi alasan yang dipakai. 

Sakit bisa kita jadikan alasan untuk tidak masuk kerja. Padahal mungkin tidak sakit betulan. Sama halnya, koruptor ketika tertangkap, semua mendadak beralasan "sakit". Alasan, entah beribu cara, akan dan akan selalu dipakai untuk mengelabui janji yang sudah terucap. Seorang suami akan beralasan macet ketika terlambat menjemput istrinya belanja. Lagi-lagi alasan yang berasal dari luar diri kita. Seorang terlambat kerja, beralasan jalanan macet, padahal nyatanya yang bersangkutan memang terlambat bangun.

Kita sering sekali tidak mau mencari alasan dari dalam diri. Kita tidak pernah mau jujur mengakui memang kesalahan pada diri kita. Kita selalu mencari alasan yang berada diluar diri kita. Kita terlambat memang karena kita telat bangun, bukan karena jalanan macet. Kalau memang sudah tahu jalanan macet, mengapa bangun siang? 

Mari mencari alasan yang berasal dari diri kita. 

Monday, October 7, 2013

Belajar Berhitung ala Tukang Parkir

Hari minggu kemarin saya ada keperluan ke daerah Casablanca. Minggu pagi jalanan relatif lancar. 30an menit, sampai juga akhirnya di daerah elit itu. Seperti biasa, motor saya parkir di dekat warteg samping jalan apartemen Casablanca. Tak biasanya, kali ini seorang bapak tua menghampiri sambil memberikan "tanda parkir". Belum juga helm saya lepas, dia minta uang parkir. Saya keluarkan uang 2,000. "Empat ribu Mas" semburnya. Setengah kaget saya keluarkan uang 5,000. Dia kembalikan 2,000. Artinya saya cuma ditarik 3,000 sebagai uang parkir. Urusan dengan tukang parkir saya anggap selesai. Lalu saya berjalan menuju apartemen Casablanca.

Urusan di apartemen Casablanca tak sampai 20 menit. Saya kembali ke parkiran untuk mengambil motor. Saya acungkan tanda parkir ke orang tua itu lagi. Tergopoh dia menghampiri saya. Saya mengembalikan kartu tanda parkir. Bapak tua pun berlalu. 

Bersiap saya mengambil helm, menyalakan motor untuk berlalu. Tapi belum sempat motor menyala, bapak tua kembali dengan memberikan uang logam 500 2 buah. "Hah kok dikasih kembalian lagi" batin saya. Uang logam 500 2 buah saya terima dan langsung masuk ke kantong celana. Motor saya pacu melintas Manggarai. Di perjalanan saya sempat berpikir, bapak tua itu kok masih mau mengembalikan uang 1,000 ya? Apa dia salah hitung? Di awal ketika dikasih 2,000, dia minta 4,000. Lalu ketika dikasih 5,000, justru dikembalikan 2,000. Lalu dikembalikan lagi 1,000. 

Jadi bukankah pada akhirnya uang parkirnya cuma 2,000? 

Friday, July 26, 2013

pesta getir

Berturut-turut kita kedatangan Arsenal, Liverpool, dan terakhir Chelsea. Dengan Arsenal timnas kalah telak 7-0. Agak mendingan ketika lawan Liverpool cuma 2-0. Tapi kita dibantai lagi 8-1 sama Chelsea di pertandingan terakhir. 

Lalu apa yang kita dapatkan dari semua pertandingan itu? 

Dari segi suporter, tentu kedatangan mereka membawa kegairahan tersendiri. Dari segi klub yang datang pasti memberi keuntungan baik langsung maupun tidak langsung. Dari para pemain, selain mereka bisa dapat jersey pemain idamannya, tentu pengalaman bertanding sangat berkesan. Meski bukan lawan yang sepadan. Bahkan Mourinho, pelatih Chelsea, berseloroh kalau pemain kita gak punya passion bermain. Mungkin Mou juga setengah menyesal membawa pasukannya kesini. Jika bukan karena alasan branding, marketing, penjualan jersey, rasanya tidak mungkin mereka ke sini. 

Arsene Wenger dan Rodgers berturut-turut juga mengomentari timnas kita. Katanya kita punya potensi. Katanya kita punya pemain-pemain bagus. Katanya bla bla bla. Pokoknya yang bagus-bagus, meski terdengar kamuflase saja. 

Bagi saya yang suka nonton bola, kedatangan klub-klub eropa tak lebih sebagai opera saja.  

Lalu apa?

Lihat saja kompetisi kita? Apa menariknya? Berapa banyak penonton yang mau datang ke stadion dengan model kompetisi acang adut seperti itu? Kisruh PSSI sebagai penentu kebijakan sepakbola juga makin tak terarah. Kompetisi yang merupakan ajang pembuktian kerja mereka saja tidak pernah berjalan maksimal.


Padahal harusnya ini adalah kesempatan yang baik untuk para pengurus PSSI melihat dari dekat bagaimana sebuah klub dikelola dengan profesional. Dibanding kondisi disini, rasanya bumi dan langit. Tunggakan gaji pemain terjadi hampir di semua klub. Belum lagi klub diperlakukan tak lebih dari sebuah entitas politik semata.  

Spirit kedatangan Arsenal, Liverpool, Chelsea mungkin seperti kembang api, yang berpijar dan berkembang ketika dinyalakan. Sejenak kita bersuka cita, tapi setelah itu, perlahan padam, hilang kembali sedia kala. Menjadi pesta yang semu bin getir.

*)terilhami tulisan serupa.

Wednesday, July 17, 2013

Mas Bedjo

Mas Bedjo. Usianya sudah menginjak kepala 3, tapi tak lebih 35 tahun. Dulu dia kuliah di salah satu universitas swasta di kawasan Tembalang, Semarang. Jurusan yang dipilih teknik sipil. 

Mas Bedjo memutuskan untuk tidak melanjutkan ilmunya dalam mencari hidup. Berdagang nasi kucing menjadi pilihannya. Banyaknya mahasiswa di kawasan Tembalang menjadi konsumen potensialnya. Nasi kucing-bagi yang belum tahu- adalah jenis makanan yang berisi aneka lauk, seperti ikan, ayam, teri, plus sambal. Tentu porsi masing-masing lauk cuma secuil. Makanya disebut nasi kucing. 

Mas Bedjo tanpa sebab memilih berdagang. Baginya dengan berdagang, ia bisa leluasa mengatur dan menikmati hidupnya. Selain juga persaingan lulusan teknik sipil yang tidak berpihak kepadanya. Berdagang baginya justru lebih mematik semangat hidupnya. Berdagang membuat pikirannya terus "hidup". Berdagang membuat pikirannya "mletik". 

TV kecil menjadi hiburan di warung Mas Bedjo. Sesekali ia perhatikan berita tv. "Opo yo kuwi sing arep digowo mati" ujarnya ketika melihat berita korupsi di tv. Pejabat yang hilir mudik di tv tak lupa dikomentari. "Lha yo, pas mau jadi pegawai semua antri nyogok sana-sini, lha sekarang kok malah antri masuk penjara KPK" imbuhnya. 

#jleb


****
*)ditulis di guest house Amelia.


Sunday, June 23, 2013

22 Juni

22 Juni
Hari ini pasti berbahagia, tapi juga sekaligus sedih. Bahagia karena diingatkan kembali makna sebuah arti kelahiran. Bersedih karena jatah hidup sebagai manusia kembali berkurang. Perayaan bahagia sudah biasa digelar. Ketika sebuah kelahiran datang, bayi biasanya akan menangis. Sementara ketika kematian menjemput, justru yang ditinggalkan yang tersedu menangis. Kelahiran disambut gegap gempita seisi rumah. Kematian ditangisi seisi rumah.

22 Juni
Pertanda bahwa harus banyak kebaikan yang diperbuat. Karena jasa kebaikan inilah yang akan dibawa sebagai bekal di perjalanan berikutnya. Tak perlu lagi mati-matian mengejar apa yang tidak bisa dibawa ketika mati. 

22 Juni
Penanda hidup harus makin bermanfaat. Penanda harus menjadi lebih dewasa dan bijak. Sebab umur pasti bertambah, tapi menjadi dewasa itu pilihan. Penanda untuk terus berkawan dengan kebaikan. Sebab kebaikanlah yang akan dikenang ketika kita sudah tidak ada lagi. 

22 Juni
Pengingat bahwa Kelahiran itu adalah awal kematian (Buddha).