Toko Yun tak jauh dari rumah kami di kampung. Toko ini menyediakan barang sehari-hari. Mulai dari sabun, kosmetik, mie instan, juga perlengkapan rumahan lainnya. Toko ini sekilas seperti swalayan kecil yang banyak bercecer di tempat lain. Bedanya, toko ini tidak ada pendingin udara saja. Juga penataan barang yang agak semprawut. Kebersihan juga kurang terjaga. Di depan kita diminta lepas alas kaki, tapi di dalam kaki terasa berjalan di atas tanah. Belum lagi, pemilik atau pelayan juga kurang paham letak barangnya. Terbukti ketika kita tanya sebuah barang, kita diminta untuk cari sendiri. Ketika membayar pun, tak pernah ada interaksi. Bahkan sekedar basa-basi.
*****
Di lain waktu, saya makan soto kudus di terminal Kudus. Seorang ibu tergopoh menghampiri warung soto ini. Ia berniat membungkus soto untuk anaknya. Namun sayang, pemilik warung soto tidak menyediakan wadah yang pas. Sementara pemilik warung keukeh meminta untuk makan di tempat. Akhirnya sang ibu tidak jadi membeli soto. Saya yang menyaksikan percakapan itu cuma bisa melonggo.
*****
Dari Toko Yun dan toko soto ini, saya jadi teringat ketika membantu seorang kawan membuat video pendek tugas kuliah S2 yang membahas soal "service excellent". Di video yang diperankan anak didik di sekolahnya ini, pelayanan yang prima menjadi kunci. Terlebih persaingan untuk mendapatkan pelanggan juga tidak mudah. Lebih tidak mudah lagi membuat pelanggan loyal dengan produk yang kita jual.
Sering kali saya melihat, sebuah bisnis (entah warung, toko, dll) yang sebetulnya bagus, cuma sayang kadang pelayanan belum digarap dengan baik. Pelayanan disini bukan sekedar soal tawaran diskon, tapi juga untuk hal-hal simpel yang kadang luput, seperti senyuman, dll. Guru saya pernah mengatakan "your problem is my business", artinya ketika kita bisa mengatasi masalah orang lain, maka orang lain itu pasti akan mencari kita. Terlebih 80% orang membeli produk kita karena mereka menyukai penjualnya.
Tuesday, February 13, 2018
Mana senyummu?
Minggu lalu, saya mengantar mertua perpanjang paspor di kantor imigrasi di Kota. Sengaja datang lebih pagi. Sekilas tak ada yang banyak berubah. Tapi begitu masuk ke kantor pelayanan, ternyata bangunan sudah jauh lebih tertata. Musola, tempat foto kopi, juga kantin nyempil tertata. Lebih kinclong.
Seorang satpam kurus tampak melayani warga. Meski sudah banyak terpampang alur sistem pengurusan paspor, tak sedikit warga yang bertanya memastikan. Seketika beberapa orang yang baru datang juga mengerubungi. Salah satu orang menanyakan, apakah bisa daftar manual? Karena sudah beberapa hari daftar online tidak bisa. Saat ini, semua harus online. Jadi tidak ada manual lagi. Untung jauh hari adik ipar sudah mendaftarkan perpanjangan paspor mertua via online. Di sana juga tertera jam berapa kita harus datang, jadi tidak perlu takut untuk tidak dilayani. Dan khusus untuk lansia, di atas 60 tahun, ada jalur khusus untuk mendapat nomor urut.
Setelah data diisi, kita lalu ke gedung A untuk menunggu panggilan. Pegawai belum banyak yang datang. Maklum belum jam 08.30. 15 menit kemudian nama mertua di panggil. Di loket 1, mertua hanya diminta foto dan cap jari saja. Setelah itu keluar. Kami menunggu untuk mendapat lembar kuitansi pembayaran. Jika dulu ketika saya memperpanjang paspor harus membayar di BNI (yang jaraknya lumayan dari kantor imigrasi), tapi kali ini kami membayar di mobil pos yang berjaga di pelataran parkir kantor imigrasi (helpfull banget nih). Setelah bayar, kami tak perlu melapor lagi. Tinggal mengambil paspor baru minggu depan.
Dari semua pelayanan hari itu, semuanya sudah sangat baik. Catatan kecil saja, petugas loket perlu dibekali cara tersenyum. Karena ketika melayani kami, tak ada sedikitpun senyum dari petugas yang melayani. Apa susahnya tersenyum?
Seorang satpam kurus tampak melayani warga. Meski sudah banyak terpampang alur sistem pengurusan paspor, tak sedikit warga yang bertanya memastikan. Seketika beberapa orang yang baru datang juga mengerubungi. Salah satu orang menanyakan, apakah bisa daftar manual? Karena sudah beberapa hari daftar online tidak bisa. Saat ini, semua harus online. Jadi tidak ada manual lagi. Untung jauh hari adik ipar sudah mendaftarkan perpanjangan paspor mertua via online. Di sana juga tertera jam berapa kita harus datang, jadi tidak perlu takut untuk tidak dilayani. Dan khusus untuk lansia, di atas 60 tahun, ada jalur khusus untuk mendapat nomor urut.
Setelah data diisi, kita lalu ke gedung A untuk menunggu panggilan. Pegawai belum banyak yang datang. Maklum belum jam 08.30. 15 menit kemudian nama mertua di panggil. Di loket 1, mertua hanya diminta foto dan cap jari saja. Setelah itu keluar. Kami menunggu untuk mendapat lembar kuitansi pembayaran. Jika dulu ketika saya memperpanjang paspor harus membayar di BNI (yang jaraknya lumayan dari kantor imigrasi), tapi kali ini kami membayar di mobil pos yang berjaga di pelataran parkir kantor imigrasi (helpfull banget nih). Setelah bayar, kami tak perlu melapor lagi. Tinggal mengambil paspor baru minggu depan.
Dari semua pelayanan hari itu, semuanya sudah sangat baik. Catatan kecil saja, petugas loket perlu dibekali cara tersenyum. Karena ketika melayani kami, tak ada sedikitpun senyum dari petugas yang melayani. Apa susahnya tersenyum?
Tuesday, January 9, 2018
Bombay
Sebuah ruang di lantai dua. Di tiga meja lebih penuh orang meriung. Sengaja dibagi sesuai minat dan obrolan. Biar nyambung. Meja ujung berisi guru-guru. Meja kedua berisi perempuan. Meja berikutnya berisi laki-laki. Di meja ujung Waktu membuat mereka banyak berubah. Apalagi sebagian besar sudah berumah tangga. Ada yang punya anak 4, 3, 2. Tapi juga ada yang sedang berjuang punya keturunan. Masing-masing meja penuh gelak-tawa. Semua saling cerita memori ketika sekolah. Ketawa-ketiwi semua. Apalagi yang ingat "hukuman" guru-guru ketika sekolah dulu. Kami semua seperti kembali ke memori 20th silam. Semuanya masih segar ingatan.
Satu per satu guru-guru memberikan testimoni. Semuanya merasa bersyukur bisa diajak ngumpul dengan murid-murid. Kita semua juga bersyukur bisa memberi sedikit perhatian ke guru-guru. Tanpa jasa mereka bisa apa kita semua ini?
Sembari makan, kami saling terus bertukar cerita. Ada yang bekerja di perusahaan minyak dan gas, ada yang punya jabatan tinggi di perusahaan, ada yang buka toko sendiri, ada pula yang ngaku cuma ibu rumah tangga. Ada yang tinggal di Jakarta, luar kota, bahkan ada juga yang tinggal di negeri kanguru.
Jelang bubar, saya mendekat ke salah satu teman. Maklum sedari tadi, kita berjauhan duduknya. Tinggi besar, sejak sekolah. Teman yang satu ini memang gak jauh beda. Bombay namanya. Ukuran celana dan baju saja yang rasanya agak membesar. Muka dan cara jalan, persis seperti dulu. Bersyukur sempat berbincang sedikit soal aktivitasnya. "Gak ngapa-ngapain" ujarnya ringkas saat ditanya kesibukannya. "Hah serius lu" prepet saya. "Iya serius, karena cuma jaga bokap yang lagi sakit" jawabnya serius. Lanjutnya "Anak dan istri sekarang pindah ke Serpong, karena kerja dan sekolah di sana".
Di waktu teman-teman mengejar karier, Bombay memilih untuk mengurus bokapnya yang sakit. Tentu bukan perkara mudah. Padahal bisa saja dia menyewa jasa suster/pembantu untuk mengurus papanya. Bombay mengajarkan pada saya, karier boleh tinggi, tapi merawat orang tua adalah karier paling tinggi sebagai anak. Kamsiah brother. Semoga bokap segera diberikan kesembuhan.
Satu per satu guru-guru memberikan testimoni. Semuanya merasa bersyukur bisa diajak ngumpul dengan murid-murid. Kita semua juga bersyukur bisa memberi sedikit perhatian ke guru-guru. Tanpa jasa mereka bisa apa kita semua ini?
Sembari makan, kami saling terus bertukar cerita. Ada yang bekerja di perusahaan minyak dan gas, ada yang punya jabatan tinggi di perusahaan, ada yang buka toko sendiri, ada pula yang ngaku cuma ibu rumah tangga. Ada yang tinggal di Jakarta, luar kota, bahkan ada juga yang tinggal di negeri kanguru.
Jelang bubar, saya mendekat ke salah satu teman. Maklum sedari tadi, kita berjauhan duduknya. Tinggi besar, sejak sekolah. Teman yang satu ini memang gak jauh beda. Bombay namanya. Ukuran celana dan baju saja yang rasanya agak membesar. Muka dan cara jalan, persis seperti dulu. Bersyukur sempat berbincang sedikit soal aktivitasnya. "Gak ngapa-ngapain" ujarnya ringkas saat ditanya kesibukannya. "Hah serius lu" prepet saya. "Iya serius, karena cuma jaga bokap yang lagi sakit" jawabnya serius. Lanjutnya "Anak dan istri sekarang pindah ke Serpong, karena kerja dan sekolah di sana".
Di waktu teman-teman mengejar karier, Bombay memilih untuk mengurus bokapnya yang sakit. Tentu bukan perkara mudah. Padahal bisa saja dia menyewa jasa suster/pembantu untuk mengurus papanya. Bombay mengajarkan pada saya, karier boleh tinggi, tapi merawat orang tua adalah karier paling tinggi sebagai anak. Kamsiah brother. Semoga bokap segera diberikan kesembuhan.
Thursday, December 28, 2017
Kamu yang Mana?
Tiga orang berbincang di meja bulat. Masing-masing sibuk dengan kudapannya. Campuran nasi dan sayur bersaing masuk ke mulut. Sesekali berdengar sendau gurau. Sebentar hening, sebentar terdengar gelak tawa. Hampir tandas piring bening itu. Sambil menghela nafas, salah satu dari mereka mulai bicara. Tak jauh-jauh dari urusan pekerjaan. Dari soal jam kerja yang tidak normal, atasan yang tidak manusiawi, tunjangan yang tidak juga naik, juga gaji yang segitu-gitu saja. Semuanya bermuara pada ketidakpuasan kerja yang disebabkan kesejahteraan yang merangkak seperti siput. Pelan sekali. Mereka saling menimpali. Tak ada ujungnya. Karena yang ada cuma saling menguatkan, bahwa mereka adalah "korban" dari sistem kantor.
Di lain meja juga meriung tiga orang. Kopi dan teh jadi suguhan mereka. Juga cemilan singkong goreng. Kopi dan teh masih mengepul. Baru sedikit diseruput. Mungkin karena masih agak panas. Masing-masing dari mereka sudah memiliki pekerjaan. Paham kebutuhan juga meningkat, mereka berupaya mencari penghasilan sampingan. Yang pertama bercerita soal jualan parfum onlinenya. Yang kedua cerita tentang jualan online baju. Yang terakhir sharing kesibukan tambahannya di rumah dengan membuka warung makan. Mereka bertiga saling bertukar informasi perihal usaha sampingan. Mereka juga saling berbagi soal meningkatkan penjualan utamanya era online jaman sekarang. Termasuk juga cerita perihal ragam bisnis model yang sekarang jadi tren. Juga website dan sumber ilmu lainnya yang biasa mereka akses. emata-mata untuk saling menguatkan dan menyemangati untuk berwirausaha.
Respon. Ya cara merespon pada akhirnya sangat menentukan arah mana yang pada akhirnya kita tuju. Mau mengeluh? Silahkan. Mau berbuat sesuatu? Monggo saja. Karena ada begitu banyak pilihan diluar sana. Tinggal kita mau pilih yang mana.
Di lain meja juga meriung tiga orang. Kopi dan teh jadi suguhan mereka. Juga cemilan singkong goreng. Kopi dan teh masih mengepul. Baru sedikit diseruput. Mungkin karena masih agak panas. Masing-masing dari mereka sudah memiliki pekerjaan. Paham kebutuhan juga meningkat, mereka berupaya mencari penghasilan sampingan. Yang pertama bercerita soal jualan parfum onlinenya. Yang kedua cerita tentang jualan online baju. Yang terakhir sharing kesibukan tambahannya di rumah dengan membuka warung makan. Mereka bertiga saling bertukar informasi perihal usaha sampingan. Mereka juga saling berbagi soal meningkatkan penjualan utamanya era online jaman sekarang. Termasuk juga cerita perihal ragam bisnis model yang sekarang jadi tren. Juga website dan sumber ilmu lainnya yang biasa mereka akses. emata-mata untuk saling menguatkan dan menyemangati untuk berwirausaha.
Respon. Ya cara merespon pada akhirnya sangat menentukan arah mana yang pada akhirnya kita tuju. Mau mengeluh? Silahkan. Mau berbuat sesuatu? Monggo saja. Karena ada begitu banyak pilihan diluar sana. Tinggal kita mau pilih yang mana.
Wednesday, December 20, 2017
Ricek
Sebelumnya hampir tiap pagi Coco, anjing kami dilepasliarkan di depan rumah. Tujuannya selain bisa berlarian dan bergaul dengan anjing yang lain, juga biar kencing dan buang kotorannya. Just info saja, di perumahan kita, memang ada beberapa anjing yang bebas berkeliaran. Tiba suatu pagi, Om depan rumah kasih tahu, kalau keberatan anjing kita dilepas. "Tolong anjingmu jangan dikeluarin ya" ujarnya lewat jendela mobil sebelum berangkat. "Ok om, nanti kita perhatikan ya" sambutku sambil menyiram tanaman. Kecuali Om depan rumah, selama ini tidak ada tetangga yang komplain. Bahkan Mbak Nova, seorang muslim Padang yang tinggal persis di depan rumah kami. Paling orang-orang yang lalu lalang di sekitar rumah saja yang agak takut karena digonggongi. Itupun tak banyak. Selebihnya gak ada yang keberatan. Bahkan tetangga dekat rumah yang pelihara burung banyak.
Tiba pada sebuah pagi. Saya ada perlu urus surat ke rumah Pak RT. Begitu gembok pintu depan terbuka, Om depan rumah langsung menyergap. "Eh itu kotoran anjing lu" umpatnya sambil menunjuk kotoran anjing yang memang teronggok persis di depan pintu pagarnya. "Om, anjing saya ada di dalam" sergah saya. "Kita gak ada keluarin kok" imbuh saya santai. Mungkin hatinya malu. Karena sudah terlanjur menuduh tanpa bukti. Tuduhannya salah pula. Saya melihat, Om depan rumah marah dengan jawab saya. Tapi itu yang sebenarnya. Sambil marah, saya lihat dia mencongkel kotoran anjing dengan kayu, dan dilempar ke got.
Sambil berjalan ke rumah Pak RT, dalam hati saya berujar, "mbok lain cek dulu om".
Tiba pada sebuah pagi. Saya ada perlu urus surat ke rumah Pak RT. Begitu gembok pintu depan terbuka, Om depan rumah langsung menyergap. "Eh itu kotoran anjing lu" umpatnya sambil menunjuk kotoran anjing yang memang teronggok persis di depan pintu pagarnya. "Om, anjing saya ada di dalam" sergah saya. "Kita gak ada keluarin kok" imbuh saya santai. Mungkin hatinya malu. Karena sudah terlanjur menuduh tanpa bukti. Tuduhannya salah pula. Saya melihat, Om depan rumah marah dengan jawab saya. Tapi itu yang sebenarnya. Sambil marah, saya lihat dia mencongkel kotoran anjing dengan kayu, dan dilempar ke got.
Sambil berjalan ke rumah Pak RT, dalam hati saya berujar, "mbok lain cek dulu om".
Friday, December 15, 2017
Zaman NOW
"Eh jangan langsung makan, kita fotoin dulu ya buat IG" itulah sekelumit obrolan anak-anak remaja di meja sebelah. Cekrek upload, biar kekinian. Eksistensi jadi yang utama bagi anak-anak ini. Tak heran saban libur mereka berduyun mengunjungi tempat-tempat yang intagramable. Soal budget? Rasanya selama bisa eksis, berapapun akan diupayakan. Makin banyak yang likes di IG, makin senang hatinya. Selain jumlah likes, kesohoran anak sekarang juga ditentukan seberapa banyak followers di sosial media kita. Semakin banyak followers indikasinya semakin sukses. Saya pernah tanya seorang kawan yang followers IG-nya sudah menginjak angka 10.000 lebih. "Dapat apa dari followers sejumlah itu?" tanya saya. "Belum dapat apa-apa" ungkapnya. "Paling cuma barter produk aja, belum yang bener-bener jadi endorse" tambahnya. "Itupun juga dapat dari teman atau saudara aja".
Lain lagi kawan lain yang sedang merintis menjadi youtubers, terutama soal make up. Hampir tiap minggu dia mengeluarkan review produk-produk make up terbaru. Karena tuntutan, barang-barang dan tempat tongkrongannya juga tak boleh sembarang. Karena menyangkut image. Entah darimana dia membiayai "tuntutan" itu semua. Sementara tawaran jadi "artis endorse" juga belum menghampiri.
Sosmed-pobia, demikian saya menyebutnya. Istilah yang juga naik daun belakangan. Kita dengan mudah menemukan aktivitas teman-teman sejawat. Dengan menyantap sosial media kawan kita, entah disadari atau tidak, kita pun terbawa untuk melakukan hal yang sama. Ingin segera menikmati "pengalaman" yang sudah dialami kawan kita ini. Celakanya tak jarang yang melakukan karena hanya sekedar gengsi. Hanya sekedar tak di cap ketinggalan jaman. Sehingga segala cara dipakai, termasuk dengan berhutang. Repotnya lagi kartu kredit dengan mudah menawarkan "pinjaman" ini, yang bunganya mencekik leher.
Kalau saya pribadi lebih suka tulisan di bak truk yang tempo hari lewat. "urip kuwi ora perlu tenar, ora perlu sangar, sing penting rejekine lancar"
Lain lagi kawan lain yang sedang merintis menjadi youtubers, terutama soal make up. Hampir tiap minggu dia mengeluarkan review produk-produk make up terbaru. Karena tuntutan, barang-barang dan tempat tongkrongannya juga tak boleh sembarang. Karena menyangkut image. Entah darimana dia membiayai "tuntutan" itu semua. Sementara tawaran jadi "artis endorse" juga belum menghampiri.
Sosmed-pobia, demikian saya menyebutnya. Istilah yang juga naik daun belakangan. Kita dengan mudah menemukan aktivitas teman-teman sejawat. Dengan menyantap sosial media kawan kita, entah disadari atau tidak, kita pun terbawa untuk melakukan hal yang sama. Ingin segera menikmati "pengalaman" yang sudah dialami kawan kita ini. Celakanya tak jarang yang melakukan karena hanya sekedar gengsi. Hanya sekedar tak di cap ketinggalan jaman. Sehingga segala cara dipakai, termasuk dengan berhutang. Repotnya lagi kartu kredit dengan mudah menawarkan "pinjaman" ini, yang bunganya mencekik leher.
Kalau saya pribadi lebih suka tulisan di bak truk yang tempo hari lewat. "urip kuwi ora perlu tenar, ora perlu sangar, sing penting rejekine lancar"
Sunday, December 3, 2017
Pejuang tangguh, tanggung berjuang
Beberapa hari terakhir saya melihat banyak teman-teman yang memiliki lebih dari satu pekerjaan. Berkat aplikasi online, sembari berangkat kerja seorang teman buka menerima tebengan yang searah. Hasilnya? Ternyata lumayan banget. Anggep saja sekali jalan 20.000, PP berarti 40.000. Dalam sebulan hari kerja 20 x 40.000 = 800.000. Tentu angka yang lumayan untuk pengganti bensin. Tentu angka itu tergantung banyak hal, jarak tempuh salah satunya.
Selain itu ada juga yang bekerja kantoran sambil berjualan. Ada yang bawa gorengan, sambal bajak, roti, buah, baju, juga yang lain. Tak ada perasaan malu di raut mereka ketika setiap pagi menenteng barang dagangannya. Dan marketing mulut ke mulut masih menjadi andalah utama. Ada banyak cerita didalamnya. Ada yang memang terpaksa jualan karena kebutuhan. Ada juga yang karena mengikuti tren. Tapi apapun alasannya, sepertinya muaranya adalah kebutuhan rumah yang meningkat. Terutama bagi yang sudah berkeluarga. Gaji bulanan pasti sudah ada kaplingnya. Jadi untuk kebutuhan yang lain, perlu dicari sumber yang lain. Dan jualan tentu bisa jadi solusinya. Bagi saya, yang terpenting dari semua ini adalah pembagian waktu yang tepat antara bekerja dan berjualan. Harus pintar memilah waktu, terutama yang jualan di kantor. Pekerjaan utama harus tetap didahulukan.
Bagi saya, apa yang dilakukan teman-teman ini jauh lebih mulia dibanding harus berebut muka di depan atasan, termasuk juga rebutan proyek, korupsi sana-sini dan lain-lain.
Bagi saya juga semangat teman-teman ini luar biasa. Seperti yang disampaikan Mas Yodhia Antariksa, pemilik strategimanajemen.net yang sering saya baca. Mas Yod kasih tahu bahwa daripada kita berhemat melintir, sampai terkesan kikir, lebih baik mencari cara untuk mencari pemasukan tambahan.
Selain itu ada juga yang bekerja kantoran sambil berjualan. Ada yang bawa gorengan, sambal bajak, roti, buah, baju, juga yang lain. Tak ada perasaan malu di raut mereka ketika setiap pagi menenteng barang dagangannya. Dan marketing mulut ke mulut masih menjadi andalah utama. Ada banyak cerita didalamnya. Ada yang memang terpaksa jualan karena kebutuhan. Ada juga yang karena mengikuti tren. Tapi apapun alasannya, sepertinya muaranya adalah kebutuhan rumah yang meningkat. Terutama bagi yang sudah berkeluarga. Gaji bulanan pasti sudah ada kaplingnya. Jadi untuk kebutuhan yang lain, perlu dicari sumber yang lain. Dan jualan tentu bisa jadi solusinya. Bagi saya, yang terpenting dari semua ini adalah pembagian waktu yang tepat antara bekerja dan berjualan. Harus pintar memilah waktu, terutama yang jualan di kantor. Pekerjaan utama harus tetap didahulukan.
Bagi saya, apa yang dilakukan teman-teman ini jauh lebih mulia dibanding harus berebut muka di depan atasan, termasuk juga rebutan proyek, korupsi sana-sini dan lain-lain.
Bagi saya juga semangat teman-teman ini luar biasa. Seperti yang disampaikan Mas Yodhia Antariksa, pemilik strategimanajemen.net yang sering saya baca. Mas Yod kasih tahu bahwa daripada kita berhemat melintir, sampai terkesan kikir, lebih baik mencari cara untuk mencari pemasukan tambahan.
Subscribe to:
Posts (Atom)