Sebuah ruang di lantai dua. Di tiga meja lebih penuh orang meriung. Sengaja dibagi sesuai minat dan obrolan. Biar nyambung. Meja ujung berisi guru-guru. Meja kedua berisi perempuan. Meja berikutnya berisi laki-laki. Di meja ujung Waktu membuat mereka banyak berubah. Apalagi sebagian besar sudah berumah tangga. Ada yang punya anak 4, 3, 2. Tapi juga ada yang sedang berjuang punya keturunan. Masing-masing meja penuh gelak-tawa. Semua saling cerita memori ketika sekolah. Ketawa-ketiwi semua. Apalagi yang ingat "hukuman" guru-guru ketika sekolah dulu. Kami semua seperti kembali ke memori 20th silam. Semuanya masih segar ingatan.
Satu per satu guru-guru memberikan testimoni. Semuanya merasa bersyukur bisa diajak ngumpul dengan murid-murid. Kita semua juga bersyukur bisa memberi sedikit perhatian ke guru-guru. Tanpa jasa mereka bisa apa kita semua ini?
Sembari makan, kami saling terus bertukar cerita. Ada yang bekerja di perusahaan minyak dan gas, ada yang punya jabatan tinggi di perusahaan, ada yang buka toko sendiri, ada pula yang ngaku cuma ibu rumah tangga. Ada yang tinggal di Jakarta, luar kota, bahkan ada juga yang tinggal di negeri kanguru.
Jelang bubar, saya mendekat ke salah satu teman. Maklum sedari tadi, kita berjauhan duduknya. Tinggi besar, sejak sekolah. Teman yang satu ini memang gak jauh beda. Bombay namanya. Ukuran celana dan baju saja yang rasanya agak membesar. Muka dan cara jalan, persis seperti dulu. Bersyukur sempat berbincang sedikit soal aktivitasnya. "Gak ngapa-ngapain" ujarnya ringkas saat ditanya kesibukannya. "Hah serius lu" prepet saya. "Iya serius, karena cuma jaga bokap yang lagi sakit" jawabnya serius. Lanjutnya "Anak dan istri sekarang pindah ke Serpong, karena kerja dan sekolah di sana".
Di waktu teman-teman mengejar karier, Bombay memilih untuk mengurus bokapnya yang sakit. Tentu bukan perkara mudah. Padahal bisa saja dia menyewa jasa suster/pembantu untuk mengurus papanya. Bombay mengajarkan pada saya, karier boleh tinggi, tapi merawat orang tua adalah karier paling tinggi sebagai anak. Kamsiah brother. Semoga bokap segera diberikan kesembuhan.
Tuesday, January 9, 2018
Thursday, December 28, 2017
Kamu yang Mana?
Tiga orang berbincang di meja bulat. Masing-masing sibuk dengan kudapannya. Campuran nasi dan sayur bersaing masuk ke mulut. Sesekali berdengar sendau gurau. Sebentar hening, sebentar terdengar gelak tawa. Hampir tandas piring bening itu. Sambil menghela nafas, salah satu dari mereka mulai bicara. Tak jauh-jauh dari urusan pekerjaan. Dari soal jam kerja yang tidak normal, atasan yang tidak manusiawi, tunjangan yang tidak juga naik, juga gaji yang segitu-gitu saja. Semuanya bermuara pada ketidakpuasan kerja yang disebabkan kesejahteraan yang merangkak seperti siput. Pelan sekali. Mereka saling menimpali. Tak ada ujungnya. Karena yang ada cuma saling menguatkan, bahwa mereka adalah "korban" dari sistem kantor.
Di lain meja juga meriung tiga orang. Kopi dan teh jadi suguhan mereka. Juga cemilan singkong goreng. Kopi dan teh masih mengepul. Baru sedikit diseruput. Mungkin karena masih agak panas. Masing-masing dari mereka sudah memiliki pekerjaan. Paham kebutuhan juga meningkat, mereka berupaya mencari penghasilan sampingan. Yang pertama bercerita soal jualan parfum onlinenya. Yang kedua cerita tentang jualan online baju. Yang terakhir sharing kesibukan tambahannya di rumah dengan membuka warung makan. Mereka bertiga saling bertukar informasi perihal usaha sampingan. Mereka juga saling berbagi soal meningkatkan penjualan utamanya era online jaman sekarang. Termasuk juga cerita perihal ragam bisnis model yang sekarang jadi tren. Juga website dan sumber ilmu lainnya yang biasa mereka akses. emata-mata untuk saling menguatkan dan menyemangati untuk berwirausaha.
Respon. Ya cara merespon pada akhirnya sangat menentukan arah mana yang pada akhirnya kita tuju. Mau mengeluh? Silahkan. Mau berbuat sesuatu? Monggo saja. Karena ada begitu banyak pilihan diluar sana. Tinggal kita mau pilih yang mana.
Di lain meja juga meriung tiga orang. Kopi dan teh jadi suguhan mereka. Juga cemilan singkong goreng. Kopi dan teh masih mengepul. Baru sedikit diseruput. Mungkin karena masih agak panas. Masing-masing dari mereka sudah memiliki pekerjaan. Paham kebutuhan juga meningkat, mereka berupaya mencari penghasilan sampingan. Yang pertama bercerita soal jualan parfum onlinenya. Yang kedua cerita tentang jualan online baju. Yang terakhir sharing kesibukan tambahannya di rumah dengan membuka warung makan. Mereka bertiga saling bertukar informasi perihal usaha sampingan. Mereka juga saling berbagi soal meningkatkan penjualan utamanya era online jaman sekarang. Termasuk juga cerita perihal ragam bisnis model yang sekarang jadi tren. Juga website dan sumber ilmu lainnya yang biasa mereka akses. emata-mata untuk saling menguatkan dan menyemangati untuk berwirausaha.
Respon. Ya cara merespon pada akhirnya sangat menentukan arah mana yang pada akhirnya kita tuju. Mau mengeluh? Silahkan. Mau berbuat sesuatu? Monggo saja. Karena ada begitu banyak pilihan diluar sana. Tinggal kita mau pilih yang mana.
Wednesday, December 20, 2017
Ricek
Sebelumnya hampir tiap pagi Coco, anjing kami dilepasliarkan di depan rumah. Tujuannya selain bisa berlarian dan bergaul dengan anjing yang lain, juga biar kencing dan buang kotorannya. Just info saja, di perumahan kita, memang ada beberapa anjing yang bebas berkeliaran. Tiba suatu pagi, Om depan rumah kasih tahu, kalau keberatan anjing kita dilepas. "Tolong anjingmu jangan dikeluarin ya" ujarnya lewat jendela mobil sebelum berangkat. "Ok om, nanti kita perhatikan ya" sambutku sambil menyiram tanaman. Kecuali Om depan rumah, selama ini tidak ada tetangga yang komplain. Bahkan Mbak Nova, seorang muslim Padang yang tinggal persis di depan rumah kami. Paling orang-orang yang lalu lalang di sekitar rumah saja yang agak takut karena digonggongi. Itupun tak banyak. Selebihnya gak ada yang keberatan. Bahkan tetangga dekat rumah yang pelihara burung banyak.
Tiba pada sebuah pagi. Saya ada perlu urus surat ke rumah Pak RT. Begitu gembok pintu depan terbuka, Om depan rumah langsung menyergap. "Eh itu kotoran anjing lu" umpatnya sambil menunjuk kotoran anjing yang memang teronggok persis di depan pintu pagarnya. "Om, anjing saya ada di dalam" sergah saya. "Kita gak ada keluarin kok" imbuh saya santai. Mungkin hatinya malu. Karena sudah terlanjur menuduh tanpa bukti. Tuduhannya salah pula. Saya melihat, Om depan rumah marah dengan jawab saya. Tapi itu yang sebenarnya. Sambil marah, saya lihat dia mencongkel kotoran anjing dengan kayu, dan dilempar ke got.
Sambil berjalan ke rumah Pak RT, dalam hati saya berujar, "mbok lain cek dulu om".
Tiba pada sebuah pagi. Saya ada perlu urus surat ke rumah Pak RT. Begitu gembok pintu depan terbuka, Om depan rumah langsung menyergap. "Eh itu kotoran anjing lu" umpatnya sambil menunjuk kotoran anjing yang memang teronggok persis di depan pintu pagarnya. "Om, anjing saya ada di dalam" sergah saya. "Kita gak ada keluarin kok" imbuh saya santai. Mungkin hatinya malu. Karena sudah terlanjur menuduh tanpa bukti. Tuduhannya salah pula. Saya melihat, Om depan rumah marah dengan jawab saya. Tapi itu yang sebenarnya. Sambil marah, saya lihat dia mencongkel kotoran anjing dengan kayu, dan dilempar ke got.
Sambil berjalan ke rumah Pak RT, dalam hati saya berujar, "mbok lain cek dulu om".
Friday, December 15, 2017
Zaman NOW
"Eh jangan langsung makan, kita fotoin dulu ya buat IG" itulah sekelumit obrolan anak-anak remaja di meja sebelah. Cekrek upload, biar kekinian. Eksistensi jadi yang utama bagi anak-anak ini. Tak heran saban libur mereka berduyun mengunjungi tempat-tempat yang intagramable. Soal budget? Rasanya selama bisa eksis, berapapun akan diupayakan. Makin banyak yang likes di IG, makin senang hatinya. Selain jumlah likes, kesohoran anak sekarang juga ditentukan seberapa banyak followers di sosial media kita. Semakin banyak followers indikasinya semakin sukses. Saya pernah tanya seorang kawan yang followers IG-nya sudah menginjak angka 10.000 lebih. "Dapat apa dari followers sejumlah itu?" tanya saya. "Belum dapat apa-apa" ungkapnya. "Paling cuma barter produk aja, belum yang bener-bener jadi endorse" tambahnya. "Itupun juga dapat dari teman atau saudara aja".
Lain lagi kawan lain yang sedang merintis menjadi youtubers, terutama soal make up. Hampir tiap minggu dia mengeluarkan review produk-produk make up terbaru. Karena tuntutan, barang-barang dan tempat tongkrongannya juga tak boleh sembarang. Karena menyangkut image. Entah darimana dia membiayai "tuntutan" itu semua. Sementara tawaran jadi "artis endorse" juga belum menghampiri.
Sosmed-pobia, demikian saya menyebutnya. Istilah yang juga naik daun belakangan. Kita dengan mudah menemukan aktivitas teman-teman sejawat. Dengan menyantap sosial media kawan kita, entah disadari atau tidak, kita pun terbawa untuk melakukan hal yang sama. Ingin segera menikmati "pengalaman" yang sudah dialami kawan kita ini. Celakanya tak jarang yang melakukan karena hanya sekedar gengsi. Hanya sekedar tak di cap ketinggalan jaman. Sehingga segala cara dipakai, termasuk dengan berhutang. Repotnya lagi kartu kredit dengan mudah menawarkan "pinjaman" ini, yang bunganya mencekik leher.
Kalau saya pribadi lebih suka tulisan di bak truk yang tempo hari lewat. "urip kuwi ora perlu tenar, ora perlu sangar, sing penting rejekine lancar"
Lain lagi kawan lain yang sedang merintis menjadi youtubers, terutama soal make up. Hampir tiap minggu dia mengeluarkan review produk-produk make up terbaru. Karena tuntutan, barang-barang dan tempat tongkrongannya juga tak boleh sembarang. Karena menyangkut image. Entah darimana dia membiayai "tuntutan" itu semua. Sementara tawaran jadi "artis endorse" juga belum menghampiri.
Sosmed-pobia, demikian saya menyebutnya. Istilah yang juga naik daun belakangan. Kita dengan mudah menemukan aktivitas teman-teman sejawat. Dengan menyantap sosial media kawan kita, entah disadari atau tidak, kita pun terbawa untuk melakukan hal yang sama. Ingin segera menikmati "pengalaman" yang sudah dialami kawan kita ini. Celakanya tak jarang yang melakukan karena hanya sekedar gengsi. Hanya sekedar tak di cap ketinggalan jaman. Sehingga segala cara dipakai, termasuk dengan berhutang. Repotnya lagi kartu kredit dengan mudah menawarkan "pinjaman" ini, yang bunganya mencekik leher.
Kalau saya pribadi lebih suka tulisan di bak truk yang tempo hari lewat. "urip kuwi ora perlu tenar, ora perlu sangar, sing penting rejekine lancar"
Sunday, December 3, 2017
Pejuang tangguh, tanggung berjuang
Beberapa hari terakhir saya melihat banyak teman-teman yang memiliki lebih dari satu pekerjaan. Berkat aplikasi online, sembari berangkat kerja seorang teman buka menerima tebengan yang searah. Hasilnya? Ternyata lumayan banget. Anggep saja sekali jalan 20.000, PP berarti 40.000. Dalam sebulan hari kerja 20 x 40.000 = 800.000. Tentu angka yang lumayan untuk pengganti bensin. Tentu angka itu tergantung banyak hal, jarak tempuh salah satunya.
Selain itu ada juga yang bekerja kantoran sambil berjualan. Ada yang bawa gorengan, sambal bajak, roti, buah, baju, juga yang lain. Tak ada perasaan malu di raut mereka ketika setiap pagi menenteng barang dagangannya. Dan marketing mulut ke mulut masih menjadi andalah utama. Ada banyak cerita didalamnya. Ada yang memang terpaksa jualan karena kebutuhan. Ada juga yang karena mengikuti tren. Tapi apapun alasannya, sepertinya muaranya adalah kebutuhan rumah yang meningkat. Terutama bagi yang sudah berkeluarga. Gaji bulanan pasti sudah ada kaplingnya. Jadi untuk kebutuhan yang lain, perlu dicari sumber yang lain. Dan jualan tentu bisa jadi solusinya. Bagi saya, yang terpenting dari semua ini adalah pembagian waktu yang tepat antara bekerja dan berjualan. Harus pintar memilah waktu, terutama yang jualan di kantor. Pekerjaan utama harus tetap didahulukan.
Bagi saya, apa yang dilakukan teman-teman ini jauh lebih mulia dibanding harus berebut muka di depan atasan, termasuk juga rebutan proyek, korupsi sana-sini dan lain-lain.
Bagi saya juga semangat teman-teman ini luar biasa. Seperti yang disampaikan Mas Yodhia Antariksa, pemilik strategimanajemen.net yang sering saya baca. Mas Yod kasih tahu bahwa daripada kita berhemat melintir, sampai terkesan kikir, lebih baik mencari cara untuk mencari pemasukan tambahan.
Selain itu ada juga yang bekerja kantoran sambil berjualan. Ada yang bawa gorengan, sambal bajak, roti, buah, baju, juga yang lain. Tak ada perasaan malu di raut mereka ketika setiap pagi menenteng barang dagangannya. Dan marketing mulut ke mulut masih menjadi andalah utama. Ada banyak cerita didalamnya. Ada yang memang terpaksa jualan karena kebutuhan. Ada juga yang karena mengikuti tren. Tapi apapun alasannya, sepertinya muaranya adalah kebutuhan rumah yang meningkat. Terutama bagi yang sudah berkeluarga. Gaji bulanan pasti sudah ada kaplingnya. Jadi untuk kebutuhan yang lain, perlu dicari sumber yang lain. Dan jualan tentu bisa jadi solusinya. Bagi saya, yang terpenting dari semua ini adalah pembagian waktu yang tepat antara bekerja dan berjualan. Harus pintar memilah waktu, terutama yang jualan di kantor. Pekerjaan utama harus tetap didahulukan.
Bagi saya, apa yang dilakukan teman-teman ini jauh lebih mulia dibanding harus berebut muka di depan atasan, termasuk juga rebutan proyek, korupsi sana-sini dan lain-lain.
Bagi saya juga semangat teman-teman ini luar biasa. Seperti yang disampaikan Mas Yodhia Antariksa, pemilik strategimanajemen.net yang sering saya baca. Mas Yod kasih tahu bahwa daripada kita berhemat melintir, sampai terkesan kikir, lebih baik mencari cara untuk mencari pemasukan tambahan.
Wednesday, November 22, 2017
Naik Kelas
Sebuah kelas ada 10 anak murid. Namanya murid, pasti ada yang pandai, setengah pandai, dan belum pandai. Guru pasti lebih suka mengajar anak yang pandai dan setengah pandai. Karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk diajari. Lalu bagaimana yang belum pandai? Guru yang bijak, biasa meluangkan waktu lebih lama untuk mengajari. Tapi banyak juga yang "dibiarkan" saja.
Setiap lomba guru pasti menunjuk anak yang pandai dan setengah pandai. Karena harapan juara pasti lebih besar. Dan benar saja, beberapa kali lomba, beragam piala dibawa pulang. Kalaupun tidak juara 1, setidaknya juara 3.
Suatu hari, ada perlombaan lain. Celakanya hari itu, semua anak pandai dan setengah pandai juga sedang bertanding di tempat lain. Tinggal anak-anak yang belum pandai. Dengan berat hati Guru mengirimkan anak-anak yang belum pandai ini. Hasilnya sudah bisa diduga dari awal, gagal total. Tak satupun piala yang dibawa ke sekolah. Guru kecewa, semuanya juga kecewa. Komite sekolah juga marah besar. Terlebih sekolah selalu mengutamakan "piala-piala lomba". Ada sebuah kebanggan tersendiri katanya.
Pada akhirnya, supaya terus membawa pulang piala, anak-anak yang belum pandai tidak diikutsertakan. Kalaupun diajak, mereka hanya bertugas sebagai cheerleader alias suporter saja. Ikut menggembirakan. Meski mereka sendiri entah gembira atau tidak. Jika demikian, kapan mereka "naik kelas?"
Setiap lomba guru pasti menunjuk anak yang pandai dan setengah pandai. Karena harapan juara pasti lebih besar. Dan benar saja, beberapa kali lomba, beragam piala dibawa pulang. Kalaupun tidak juara 1, setidaknya juara 3.
Suatu hari, ada perlombaan lain. Celakanya hari itu, semua anak pandai dan setengah pandai juga sedang bertanding di tempat lain. Tinggal anak-anak yang belum pandai. Dengan berat hati Guru mengirimkan anak-anak yang belum pandai ini. Hasilnya sudah bisa diduga dari awal, gagal total. Tak satupun piala yang dibawa ke sekolah. Guru kecewa, semuanya juga kecewa. Komite sekolah juga marah besar. Terlebih sekolah selalu mengutamakan "piala-piala lomba". Ada sebuah kebanggan tersendiri katanya.
Pada akhirnya, supaya terus membawa pulang piala, anak-anak yang belum pandai tidak diikutsertakan. Kalaupun diajak, mereka hanya bertugas sebagai cheerleader alias suporter saja. Ikut menggembirakan. Meski mereka sendiri entah gembira atau tidak. Jika demikian, kapan mereka "naik kelas?"
Tuesday, November 14, 2017
Ya Wis
Sebuah ruang segi 4. Kami berbanjar membentuk huruf L. Lengkap dengan meja kursi juga camilan. Di depan tertera laptop juga proyektor. Tak lupa meja kursi untuk orator. Satu per satu kami bahas. Semuanya yang disampaikan tak ada yang salah. Cenderung normatif, jika tidak bisa dibilang miskin inovasi. Cenderung datar, kelihatan tak terarah. Mungkin karena memang tidak mempersiapkan bahan. Ketika sesi masukan digelar, tak sedikit yang mengacungkan jari. Sepertinya semua lebih tertarik mencicipi camilan. Satu dua akhirnya menimpali. Memberi input juga revisi.
Saya yang sedari tadi menyimak akhirnya menerima giliran. Sedikit agak keras saya mulai mempertanyakan satu per satu yang tadi disampaikan. Memang agak detail. Karena saya merasa ada yang janggal. Bisa jadi agak tinggi nadanya. Semua saya lakukan demi kebaikan bersama. Terlebih ini menyangkut masa depan anak orang. Tentu kita bertanggung jawab penuh. Terlebih saya juga meyakini education is not charity. Dan sorry to say, jawaban yang saya dapat memang tidak menjawab substansi pertanyaan. Lagi-lagi, sekali lagi jawabannya mirip jawaban pejabat yang tidak pernah turun ke bawah.
Jika masukan modelnya harus bermanis-manis. Iya betul saran harus disampaikan secara sopan, tapi kalau jawabannya muter disitu-situ aja siapa yang gak mangkel?
Ya Wis.
Subscribe to:
Posts (Atom)