Wednesday, March 30, 2011
Parkir oh Parkir
Saya masih ingat benar, betapa kejamnya parkir disini. Jangan harap motor kita akan mulus sekeluar dari mall yang selalu ramai ini. Baret sana-sini adalah sebuah pemandangan sehari-hari. Lecet sudah biasa. Sebab selain memang jumlah motor yang terus meningkat, parkiran di ITC Mangga Dua, memang kurang daya dukung. Geser kanan-kiri, jika mau keluar sudah menjadi rahasia umum. Terlebih sikap petugas parkir yang sepertinya melengos ketika kita minta bantuan.
Belum lama ini, seorang kawan motornya raib di parkiran. Ketika cek ke loket keluar, tercatat motor ini belum keluar. Pertanyaannya: mengapa motornya raib? Sampai hari, kasus ini belum ada penyelesaian yang berarti.
Belum lama juga, seorang kawan kaca mobilnya dipecah ketika parkir. Padahal petugas sering mondar-mandir. "Harga parkir naik, kok malah begini" gerutu kawan.
Konsumen adalah raja, rasanya belum berlaku disini. Saya bukan tidak mau harga parkir naik. Sepanjang itu dibarengi dengan pelayanan & fasilitas yang memadai, rasanya harga naik sebuah kewajaran. Tapi jika sebaliknya, mungkin memang sudah demikianlah laku hukum pelayanan di negeri kita.
Boleh naik, asal parkir kita manusiawi. Asal parkirnya dibeneri. Asal petugasnya juga melayani dengan hati!
Parkir oh parkir.
Friday, March 25, 2011
Siapa mereka?
Selasa. Cepat sekali kakinya menuruni tangga eksalator. Tergopoh ia menggendong anak perempuannya yang terlihat beringus. Tergopoh pula ia karena menggendong bekas kardus di pundak lainnya. Beberapa detik langkahnya sudah tertelan waktu. Mungkin takut tertangkap petugas keamanaan yang rutin mengusir sambil bawa pentungan. Sorenya aku melihat dia lagi. Di dalam pagar pemisah jalan,di bawah jembatan penyebarangan mall, ia sibuk melipat kardus dan plastik yang dikumpulkan sedari siang. Deru lalu lalang kendaraan tak dihiraukan. Baginya makin cepat kardus dan plastik itu rapi, makin cepat pula ia bisa memberi makan anaknya.
Rabu. Jakarta masih sangat gelap. Tadi diujung sana, sebuah gerobak mulai bergerak. Mengais sisa sampah kota. Di dalam gerobak, tergolek istri dan anaknya pulas. Meski bercampur bekas sampah, mereka tak terganggu. Mungkin sudah biasa. Tak menjanjikannya lagi lahan pertanian di desa membuatnya angkat kaki ke kota. Ibukota adalah hamparan harapan baginya. Meski tak memiliki keahlian, tapi ibukota tetaplah tumpuan mencari makan. Gerobak ini pula menjadi rumahnya ketika malam tiba. Dengan atap rel kereta yang menjulur dari Kota hingga Manggarai, keluarga ini biasa tinggal. Bau anyir sampah sudah menjadi keseharian keluarga ini. Bau sampah adalah bau rupiah. Mungkin itu pemikirannya.
Kamis. Lalu lintas pagi itu macet. Orang berebut segera naik bis kota menuju tempat kerja. Penuh sesak bis kota biru itu melaju. Tak berselang naik 3 orang berpakaian sederhana.Meski sesak, mereka mendesak minta tempat. Tak berselang lama, mereka bersuara. "Pak, Bu, saya bukan mau nodong, saya cuma minta keikhlasan ibu, bapak sekalian. Seribu, duaribu, tidak akan membuat bapak, ibu menjadi miskin. Asal tahu aja, saya baru aja keluar dari Cipinang". Sontak, bis sesak itu makin sumpek karena keberadan mereka.
Jumat.Perempatan jalan. Sore itu ramai sekali. Maklum, orang mulai bergegas pulang. "Tahan, tahan. Ayo Pak, belok kiri pak, ya terus aja terus terus" ujar salah satu dari mereka. Sementara yang lain menahan mobil lain. Sambil mengacungkan ember bekas, mereka minta tinggalan recehan. Mereka biasanya berkelompok. Hasil yang didapat di ember, dibagi setelah operasi selesai. Kerja mereka terkadang membantu, tapi juga terkadang menyebabkan kemacetan makin panjang. Karena yang mereka kejar sebenarnya bukan membantu kemacetan, tapi sejumlah rupiah saja. Pak Ogah, itulah sebutannya.
Sabtu. Sore itu hujan menderu. Padahal pagi-siang, panas menyengat. Cuaca memang tak pernah bisa diprediksi, bahkan oleh BKMG sekalipun. Prakiraan mereka sering kali tak tepat. Ya namanya juga prakiraan. Kadang tepat, kadang pula sebaliknya. Anak-anak berlarian basah kuyup. Padahal tangan mereka menggenggam payung. Oh, ternyata payung itu tidak mereka pakai. Tapi mereka tawarkan untuk siapa saja yang membutuhkan. Tentu, ganjarannya, beberapa lembar ribuan berpindah ke kantong mereka. Menggigil kedinginan tak mereka hiraukan. Yang penting, sang pelanggan terlayani. Makin banyak yang memakai payungnya, makin banyak pula rupiah masuk.
Minggu. Hari ini aku belum melihat mereka-mereka lagi. Entah kemana mereka perginya. Atau aku saja yang tak cermat mengamati lagi. Aku justru melihat Pak BY di TV minta kenaikan gaji. Katanya sudah 7 tahun ini, dia gak naik gajinya. Padahal gaji Presiden itu 65 juta sebulan. Belum lagi dana taktis yang angkanya bikin bulukuduk berdiri. 2 M. Itu tentu bukan sedikit. Itu tentu jauh dari cukup. Itu tentu bisa mensejahterakan mereka-mereka yang ada di hari Senin-Sabtu. Agak lama aku termenung. Aku merasa makin gak kenal siapa sebenarnya mereka. Kepada siapa sebenarnya mereka bekerja?
Benar-benar makin tak kenal siapa mereka!
Suparman yang Super
Tubuhnya mengalami kelainan pertumbuhan sejak kecil. "Semua keluarga saya normal mas" ujarnya mulai bercerita. "Gak tahu kenapa, tapi ya sudahlah saya terima aja". "Memang awalnya sulit menerima, tapi ya lama-lama terbiasa juga". "Keluarga saya itu keluarga besar, 8 bersaudara". "Semuanya normal" tegasnya. Suparman kecil dihabiskan di Kutoarjo, pinggiran Jogja. Sekolah ia jalani selayaknya anak normal lainnya. Meski ejekan juga tak terhindarkan. "Dulu, kalau ada yang mengejek saya marah". "Tapi kalau sekarang, ya sudahlah, buat apa juga". Seni, menjadi daya tariknya. Dari situ pula, ia akhirnya mulai ikut bermain dalam berbagai pertunjukkan seni, terutama ketoprak, seni tradisional Jawa. "Dari setiap tampil, saya selalu jadi punokawan" imbuhnya. Hingga SMA, hal ini terus dilakukan sambil sesekali mengajar di SMA Seraphine di Jogja. Ketika kuliah ia bimbang. Ayah angkatnya ingin ia mandiri dengan menempuh pendidikan ekonomi. Tapi hati kecilnya ingin ke seni. Hingga semester 3 ia berhasil mengelabui keluarga, terutama ayah angkatnya. Ia mengaku kuliah ekonomi, padahal sehari-hari ia justru kuliah di Akademi Seni dan Drama. Ayah angkatnya marah besar ketika tahu. Sejak saat itu, sang ayah angkat tak mau lagi peduli dengan keseharian Suparman. Meski berusaha mandiri, Suparman, akhirnya tak kuat juga menanggung sendiri biaya hidupnya. Kehidupan pertunjukkan melalui ketroprak kembali dilakoni.
Lepas dari ketoprak, ia sempat mengadu keberuntungan di sebuah kafe di Cikarang. Dari menjadi komedian, hingga menjadi asisten manajer. Tapi hatinya selalu berontak. Suparman pun kembali lagi ke desanya. Sempat menganggur, Suparman akhirnya menemukan jalan. Jodoh bersambut ketika ia diminta untuk membantu SMA Seraphine Jogja membuat operet dalam menyambut Natal. Kepala sekolah puas dengan pertunjukkan itu. Suparman pun ditawari untuk menjadi guru seni di Sekolah Seraphine Bakti Utama, Cengkareng, Jakarta.
Meski bertubuh mungil, tak tampak dari murid-muridnya yang memandang ke bawah. Semua memandang ke atas. Mengikuti semua perintahnya. Pertanda hormat. "Kalau sudah mengajar seni, drama, atau teater, saya kadang merasa seperti orang normal mas", "Gak ada lagi tuh perasaan kalau tubuh saya ini kecil begini" ujarnya terbahak.
Melalui seni, Suparman ingin mendidik karakter anaknya dengan baik. Tanpa lelah ia selalu menyemangati anak didiknya. Salah satunya Selly, mantan anak muridnya yang hingga saat ini masih aktif mendampingi. Meski sudah lulus, Selly terus membantu Pak Suparman mengajar seni di sekolah. Selly sendiri merasa telat mengenal Pak Parman. "Saya sudah mau lulus, Pak Parman baru masuk" sesalnya sambil berkaca. Baginya, Pak Parman bukan sekedar guru, tapi juga teman yang baik untuk berbagi.
Meski bertubuh mungil, Seuparman memiliki semangat yang super luar biasa. Kegemarannya dalam berkesenian mengantarkan murid didiknya meraih banyak prestasi. Teater, drama, dan musik menjadi ladangnya dalam menempa diri dalam berbagi. Pak Suparman yang super memberi bukti kepada kita semua bahwa segala keterbatasan tak menghalangi tercapainya beragam harapan dan impian. Selama ada niat dan tekad yang kuat, niscaya semuanya akan terwujud.
Pak Suparman benar-benar manusia Super.
Treatment Bertani & Belajar Kehidupan
Ini dia treatmentnya:
Treatment: “Bertani dan Belajar Kehidupan”
Narasumber: Johan Purnama (Direktur Karang Widya)
Opening
Salam jumpa. Pemirsa, alam telah memberi manfaat begitu banyak bagi manusia. Namun banyak manusia yang alpa untuk membalasnya. Salah satu cara berterima kasih kepada alam adalah melalui metode pertanian organik. Bagaimana cerita selengkapnya? Sebelum berbincang dengan narasumber saya hari ini, mari kita simak tayangan berikut ini:
VT1
Pemirsa, saat ini saya sudah bersama DirekturYayasan Karang Widya, Bapak Johan Purnama yang melakukan pendampingan terhadap budidaya pertanian organik. Terima kasih atas waktunya ya Pak.
Pertanyaan:
1. Pak Johan, pertanian organik meletakkan prinsip ekologi sebagai dasarnya yakni sebagai sistem ekologi kehidupan? Bisa dijelaskan lebih lanjut?
2. Apa urgensinya pertanian organik ini ditengah beragam masalah lingkungan Pak?
3. Apa benar bahwa pertanian organik ini adalah satu-satunya cara bertani yang ramah terhadap alam? (cerita tentang biaya produksi yang rendah dan juga tidak merusak lingkungan)
4. Apakah ini menjadi keuntungan terbesar dari sistem pertanian organik kaitannya dengan kondisi bumi sekarang ini?
5. Pak Johan, di Karang Widya kemudian juga memilih untuk melakukan budidaya pertanian organik ya? Apakah ada alasan tersendiri dengan pilihan pertanian organik ini? (cerita tentang respecting the future of humanity depends on us respecting nature. Organic farming is about respecting and working with nature, not against it).
Bumper 5”
6. Saya dengar sasaran program ini adalah anak jalanan dan pengangguran. Apakah benar demikian?
7. Bagaimana proses anak-anak ini bisa ke Karang Widya? Apakah mencari sendiri ke pelosok-pelosok?
8. Apakah ada persyaratan khusus dalam program di Karang Widya?
9. Pak Johan, saat ini berapa banyak yang bergabung Pak? Dan darimana saja mereka berasal?
10. Apa yang ingin dituju sebenarnya dalam program ini?
Jeda
Baik Pak Johan, menarik perbincangan kita ya. Tapi kita juga ingin tahu aktivitas sesungguhnya dalam komunitas Karang Widya. Bagaimana selengkapnya, mari kita simak liputan berikut ini:
VT2
Aktivitas di Karang Widya, bertani di ladang, belajar, dll
11. Pak Johan, pendidikan yang diterapkan disini ternyata tidak hanya bertani, namun juga lebih kepada terapi jiwa ya? Apa maksudnya? (Di sini mereka diajar disiplin, bekerja, dan dilatih untuk memiliki kesadaran alam. Kehidupan di jalanan bisa membuat mereka tidak sensitif lagi dengan alam. Mereka di sini dituntut mengembangkan kepekaan. Air dan tanah bisa menjadi terapi jiwa, bisa menyejukkan pikiran yang panas).
12. Apakah karena itu pertanian organik sengaja dipilih sebagai media untuk pendidikan karena pertanian organik membutuhkan ketekunan dan kecintaan terhadap tanah dan tanaman?
13. Pak Johan, yang bergabung disini kan lumayan banyak ya? Dan saya dengar dalam mengolah lahan pertanian organik mereka dibagi beberapa kelompok? Bisa cerita tentang hal ini lebih lanjut Pak?
14. Dan mengapa harus dikerjakan secara berkelompok seperti ini?
Bumper 5”
15. Pak Johan, pertanian organik ini kan bertumpu bahan dari alam. Termasuk dalam mengusir hama, dll. Apakah disini juga melakukan hal itu?
16. Bagaimana proses secara keseluruhan sistem pertanian organik disini? (cerita tentang pemanfaatan pupuk kandang, air seni kambing, air cuci beras, dll yang semuanya dilakukan sendiri oleh anak-anak di Karang Widya).
17. Bagaimana pula dengan pembuatan perencanaan tanam hingga pemasaran? Apakah mereka juga diajarkan Pak?
18. Selain berbagai hal tentang pertanian organik, apalagi yang diajarkan di komunitas ini?
19. Apakah setelah selesai pendidikan disini mereka harus juga menjadi petani organik?
Jeda
Baik Pak Johan, kita jeda lagi ya. Pemirsa, bagaimana tanggapan anak-anak yang terlibat dalam program pertanian organik di Karang Widya ini? Mari simak tayangan berikut:
VT3
Vox pop anak-anak Karang Widya
20. Pak Johan, banyak anak-anak yang mendapatkan begitu banyak manfaat dari pendidikan disini ya. Bagaimana pendapat Pak Johan sendiri?
21. Pak, tentu sudah banyak alumni dari pendidikan di Karang Widya ini dan sudah banyak pula yang meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Tapi apa sesungguhnya yang menjadi tolor ukur keberhasilan pendidikan di Karang Widya secara keseluruhan Pak?
22. Pak Johan, apalagi yang akan dikembangkan untuk masa yang akan datang di Karang Widya ini?
23. Terkait dengan hari bumi, apa harapan Pak Johan hubungannya pertanian organik ini dengan kondisi bumi kita? (Pertanian organik membangun tanggung jawab pelakunya pada kelestarian lingkungan. Keberhasilan sistem pertanian organik akan memberikan sumbangan berarti bagi kelestarian lingkungan dan keselamatan dunia pada umumnya).
Closing
Pemirsa, tidak hanya mengajarkan kepada anak-anak mengolah tanah dan tanaman, tetapi komunitas ini juga membantu mengolah tubuh dan jiwa mereka untuk menyongsong kehidupan di masa depan yang lebih baik. Sampai jumpa.
Friday, February 25, 2011
Srikandi dari Lasem
Bengkel batik yang dibuatnya pun terbilang sederhana. Tepat di depan rumahnya, dia sulap sebidang lahan kosong menjadi tempatnya berkarya. Dibantu Maryati, yang jago membuat motif, KUB ini menghidupi 12 orang pengrajin.
Desa Jeruk, tak jauh dari Rembang, sebuah
Hampir semua kaum perempuannya dulu adalah pembatik. Mereka biasanya bekerja di
Selama 4 tahun lebih ia berjuang mengatasi pengangguran yang dialaminya. Mau menghidupkan batik kembali terbentuk permodalan. Sementara hanya membatiklah satu-satunya keahlian yang dimiliki. Hingga datang tawaran dari Institut Pluralism Indonesia (IPI). “Tak mudah meyakinkan Ibu Ramini” beber William Kwan, direktur IPI. “Butuh waktu 4 bulan, saya meyakinkan”. “Padahal menemukan Ibu Ramini juga bukan perkara mudah, eh begitu sudah ketemu, belum mau juga” lanjutnya.
Setelah berpikir panjang, Ramini akhirnya menerima tawaran Pak Willy, begitu ia biasa menyebut William Kwan. Ia kumpulkan kembali teman-temannya. “Ini semua dari nol Mas” cerita Ramini. Meski sudah memiliki dasar membatik, namun IPI mengirim mereka ke sentra pembatikan seperti Pekalongan, Solo dan Jogja. Mereka tidak hanya diminta untuk belajar membatik, tetapi juga manajemen.
Bentuk kelompok usaha bersama mereka pilih atas keinginan mereka sendiri. Mereka sadar betapa sulitnya jika bergantung dengan pengusaha. Pengalaman krisis moneter yang mengakibatkan mereka menganggur menjadi pelajaran berharga. Karena berbentuk KUB, segala keputusan dirundingkan bersama. Mulai dari membeli bahan, motif, hingga harga jual. Mereka sendirilah yang memutuskan, mau dihargai berapa buah karya mereka. Mereka sendiri pula yang mencari target pemasaran. Prinsipnya semua dilakukan atas nama kebersamaan. Mereka pula yang menentukan upah mereka setiap hari, yakni 18,000. Lebih murah sedikit yang dulu mereka terima ketika masih menjadi buruh, yakni 20,000. Meski lebih sedikit lebih murah, namun melalui KUB mereka tidak lagi harus jauh menggenjot sepeda setiap hari. Sebab lokasi bengkel batik dengan rumah mereka terbilang dekat. Belum lagi, ketergantungan pengusaha tak lagi mereka rasakan. Sebab merekalah pengusaha atas diri mereka sendiri.
Keberhasilan Ramini dkk di KUB Srikandi Jeruk ini menepis anggapan bahwa buruh batik selamanya akan menjadi buruh. Padahal selama diberi kesempatan, mereka bisa menjadi lebih sejahtera. Mereka pula bisa menjadi srikandi bagi diri mereka sendiri.
Tuesday, July 27, 2010
Kuda Tuli
Dum... suasana tenang itu mendadak berubah. Panas. Bukan karena matahari datang, tapi panas karena kegaduhan orang. Seketika kami menyingkir mencari perlindungan. Tepatnya kami berlari menghindari massa yang terus datang entah dari mana. Makin lama makin banyak. Makin lama makin beringas saja mereka. Entah berapa jumlah mereka. Kami sudah tidak peduli. Yang penting cuma satu, menyelamatkan diri.
Setengah berjuang kami akhirnya bisa sampai juga di asrama. Radio Sonora segera kami putar besar-besar. Waktu itu seingatku TV berita belum ada. Jadi radio menjadi andalan lewat live reportnya yang gak putus-putus. Waktu itu sama sekali aku tak mengerti apa itu politik. Buta. Lamat-lamat, terdengar suara bentrokan dari radio usang kami. Agak sorean kami lihat di tv swasta, Jl. Imam Bonjol yang baru siang tadi kami lewati sudah membara. Api membumbung tinggi. Duh.
Jauh hari setelah itu, aku baru ngerti, itu adalah bagian dari mulainya pergolakan politik nasional kita. Megawati yang menang telak di kongres PDI tidak diakui pemerintah. Sementara Soeharto sudah punya PDI tandingan. Dan dia ingin PDI Soeharto inilah yang menempati gedung yang sekarang tak terurus itu. Banyak yang bilang kalau itu memang permainan Soeharto untuk mengangkangi kekuasaannya. Maklum saja, kala itu dukungan terhadap Mega jauh lebih besar. Jatuh korban tak terhitung. Tapi data valid belum juga didapat kepastiannya.
Kini sudah belasan tahun berlalu. Hingga sekarang, entah sudah berapa orang hilang tak berbekas. Negara tak lagi peduli. Negara tepatnya mengambil sikap membiarkan. Pembiaran. Ya itu mungkin kata yang paling tepat. Biarkan berlalu seiring waktu. Setelah itu banyak orang hilang tak berbekas. Sampai sekarang pun, negara tak peduli. Negara anggap semuanya angin lalu. Negara anggap mereka adalah korban sebuah perjalanan demokrasi yang memang tak perlu lagi diurus.
Bagaimana nasibmu kawan yang hilang? Yang sekarang entah dimana? Semoga arwah mereka tenang di alam sana.
Tuesday, July 13, 2010
Perubahan
Perubahan memang tidak bisa dihindari. Entah kita suka atau tidak, perubahan itu akan menghampiri. Keriput, misalnya. Ibu saya, mungkin sekarang usianya nyaris 70an, keriputnya jelas dimana-mana. Terkadang agak canggung saya mencuri pandang ke wajah tuanya. Tak tega rasanya melihat. Terlebih ketika terbayang akan masih berapa lagi usia ibu saya? Tak tahu. Meski takut, siap atau tidak siap, jika memang sudah waktunya perubahan itu datang, saya harus siap. Setiap pulang meski hanya beberapa saat, tak berani rasanya saya melihat utuh wajah ibu saya.
Hari-hari kita selalu ditemani yang namanya sang perubahan ini. Perubahan bagi sebagian orang dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari. Yang harus ditakuti. Tapi bagi sebagian lagi yang lain, perubahan ada kesempatan. Kesempatan untuk bertindak, kesempatan untuk mencipta peluang. Dan peluang itu justru mendatangkan berbagai kesempatan. Bahkan seorang Prof. Rhenald Kasali mendirikan sebuah kawasan yang dinamai Rumah Perubahan. Diambil dari www.rumahperubahan.com, RP, sebutan untuk Rumah Perubahan, didirikan untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik melalui misi perubahan, baik pada level individu, komunitas, organisasi usaha sosial, dan pemerintah. Di RP, selain menjadi inkubator bagi pengembangan diri, juga ada pusat pengolahan sampah, yang tentu mendatangkan berkah. Tak hanya bagi RP, tapi juga bagi warga sekitar. Selain persoalan sampah selesai, fulus ekonomi dari pengolahan sampah ini bisa menjadi income tersendiri yang tidak bisa dipandang sepele. Selain itu, ada pula beragam pemberdayaan. Seperti pendampingan pemberdayaan ikan, PAUD, posyandu, usaha kreatif, dll. Semuanya demi satu tujuan, perubahan hidup yang lebih baik.
Perubahan. Ya ya, kita semua mengalami perubahan. Usia tua, sakit, uban di kepala, itu salah satu pertanda saja. Padahal setiap saat, setiap detik, kita mengalami perubahan. Di rumah, di sekolah, di kantor, semuanya berubah seiring waktu. Orang tua meninggal, guru yang harus berpindah tugas, teman yang harus berpindah kantor, kawan yang entah berbagai sebab memang harus berpisah, semuanya itu menunjukkan ada perubahan. Pertanyaannya apakah kita sudah menyiapkan diri untuk menghadapinya? Entahlah.