Tuesday, March 9, 2010
Tikus dalam Kopi
Sore menjelang malam kemarin, karena suatu keperluan kuda besiku harus diarahkan ke daerah Cikini. Sisa-sisa bentrok massa HMI dan polisi satu hari sebelumnya tak terlihat. Mungkin sudah dibersihkan. Suasana agak lengang meski tak terlalu sepi juga. Agak cepat ternyata aku mendahului sampai. Harus menunggu beberapa saat. Akhirnya setelah bertemu dan disepakati kami masuk ke sebuah warung kopi. Begitu masuk, aroma kopi menyambut kami. Seorang penjaga memakai baju putih tersenyum. "Mau yang di luar apa di dalam? Mau yang smoking area atau tidak?" tanyanya ramah. Akhirnya meja bulat dan dua bangku kami pilih tak jauh dari pintu masuk. Obrolan sana-sini akhirnya menemani kami. Segelas ice cappucino besar juga tak lama datang setelah tertunda beberapa menit. Segala keperluan yang memang harus kami diskusikan tak terasa sudah hampir dua jam. Lamat-lamat, kopi di gelas tinggal beberapa teguk. Sementara kawan di depan, entah sudah berapa batang rokok tersulut.
Tiba waktu undur diri. Obrolan masih saja keluar dari mulut seorang kawan dibarengi semburan asapnya. Sesekali ku lihat caranya berbicara. Namun, kali ini sesuatu berjalan di seberang sana melintasi bongkahan batu bata yang tersusun rapi. Sembari terus terdengar celotehan kawanku, ku perhatikan yang melintas. Ternyata yang melintas itu adalah tikus. Ukurannya tak besar, seperti yang biasa aku lihat di got dekat gang kostku dulu. Seketika rasanya ingin berteriak. Tapi di jajaran meja agak ramai orang bersosialita. Rasanya tak tepat jika mengganggu keasyikan mereka bercengkerama. "Warung kopi mahal & terkenal seperti ini kok ada tikusnya" batinku. Samar terdengar ocehan kawanku diseberang. Sudah ingin rasanya mencabut pantat ini dari kursi. Hilang sudah keinginan menyeruput kopi terakhirku. Ku lihat gelas kawanku sudah tandas sedari tadi.
Sunday, January 24, 2010
Menulislah saja
Thursday, October 22, 2009
Pesen untuk Pak Beye
Dari pengumuman pembantunya ini, Pak Beye banyak menuai kritik. Plin plan soal penentuan menteri kesehatan yang sekarang jadi headline media massa kita salah satu contohnya. Siapa yang di fit & propertest, kok ternyata yang dipilih lain. Belum lagi kentalnya unsur "koncoisme" seperti yang dikatakan pengamat politik, Sukardi Rinakit, memberi bukti bahwa memang Pak Beye ditahun keduanya ini mau jadi safety player. DPR yang 75 % dikuasai partai pendukung jelas menjadi bukti. Kali ini benar-benar tidak ada satupun partai yang mengambil jarak kepada Pak Beye. Pak Beye sekarang tak beda dengan raja diraja, jaman kerajaan dulu. Titahnya menjadi hukum karena tak ada yang berani menyela. Jika sekarang banyak kaum oportunis yang merapat ke Cikeas, semata-mata ingin turut menikmati manisnya kemenangan Pak Beye. Ibarat kata, Pak Beye sekarang seperti kue manis yang dikerubuti banyak semut. Mana ada sih semut yang gak doyan manisan? Tapi ya memang, ujung-ujungnya itu semua hak prerogratif Pak Beye.
Logikanya jika DPR sudah dikuasai, partai pendukung sudah diberi kursi, harusnya tak ada lagi nada-nada protes dari luar istana. Teori trias politica, yang mesti ada keseimbangan dalam pemerintahan tak terpakai di era Pak Beye sekarang. Tak ada pula check and balancing. Semua menjadi sentralistik, terpusat. Lantas, jika sudah begini, apa yang bisa diharap dari pemerintahan Pak Beye kini? Tapi, biar bagaimana pun, kita harus kasih kesempatan Pak Beye membuktikan janji-janjinya. Jika memang melanggar, ya mari ramai-ramai kita kasih sanksi.
Monday, October 5, 2009
Sebatang Lisong
Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka
Matahari terbit
Fajar tiba
Dan aku melihat depalan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan
Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.
Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………
Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya,
aku meliat wanita bunting
antri uang pensiun.
Dan di langit,
para teknokrat berkata:
bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun,
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung-gunung menjulang
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.
Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu di kaki dewi kesenian.
Bunga-bungan bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadli gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
……………….
Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.
Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.
19 Agustus 1977, ITB Bandung
WS. Rendra in memoriam…
Selamat Jalan pujangga,
Selamat terbang "Burung Merak"...
Monday, September 7, 2009
Introducing Palace Players
What is it that you do?
You gotta get back up yourself.
We know so much.
So much we do.
No answer.
In a word,
You were told
That he'd fix your shaky hand.
And what got made
Was broken, too.
Just to field with you
Switching seeds with you,
Tears us apart
I don't want it to.
Some peculiar fix,
The two of us.
I am not yourself.
I didn't want it to.
Every night turned on grey.
What is it, that you do?
You gotta get back up yourself.
We know so much,
So much we do.
No answer.
In a word
You were told,
That he'd fix your shaky hand.
And what got made
Was broken, too.
Just to field with you,
Switching seeds with you
Tears us apart.
I didn't want it to.
Some peculiar fix,
The two of us.
I am not yourself.
I didn't want it to.
Just to grieve with you,
Switching seeds with you
Tears us apart.
I don't want it to.
What are we going to do?
I'd really like it if you
Turn out the lights as we planned.
It's gonna hurt,
I don't want it to.
But if you go,
Lots of different reasons,
Does that mean you can't even come?
You think this way,
Jumping off the see-saw,
Company just wanting to be...
But if you go,
Lots of different reasons,
Does that mean you can't even come?
You think this way,
Jumping off the see-saw,
Company just wanting to be...
Thursday, June 11, 2009
Musisi Mencari Status

Riuh rendah band menyeruak. Gambarnya bergerak tanpa arah. Jungkir balik sesuai hentakan musik. Panggung sempit itu terasa jebol. Sementara penonton di bawah teriak histeris mengikuti alunan yang pecah. Itulah secuplik penggalan performance dari band Indie, Tani Maju. Namanya indie, jadi nama bandnya memang harus lucu biar mudah diingat.