Di Wuhan, China Tengah, anak-anak bernyanyi dan memberi hormat ke bendera merah dengan beberapa tanda bintang di tiang jauh. Semua tertib berbaris. Dengan tangan di atas pertanda hormat, anak-anak ini mengucap janji untuk setia kepada negara komunis ini.Thursday, April 30, 2009
Vote For ME: Demokrasi rasa China
Di Wuhan, China Tengah, anak-anak bernyanyi dan memberi hormat ke bendera merah dengan beberapa tanda bintang di tiang jauh. Semua tertib berbaris. Dengan tangan di atas pertanda hormat, anak-anak ini mengucap janji untuk setia kepada negara komunis ini.Tuesday, March 17, 2009
Dukung Petisi Tolak Buddha Bar
Jangan jadikan ketidak-melekatan sebagai alasan untuk sebuah ketidak pedulian.
Memang benar Buddha mengajarkan untuk tidak melekat pada simbol-simbol dan bahkan pada ke-aku-an.
Namun Beliau juga mengajarkan untuk mengembangkan kebijaksanaan supaya tidak terjerumus dalam kebodohan.
Saat pangeran Siddharta belum menjadi Buddha, beliau mencoba tidak melekat pada badan jasmaninya dengan menahan lapar dan haus, menyiksa diri demi terbebas dari penderitaan.
Namun akhirnya dia menyadari bahwa hal itu tidaklah bijaksana. Dan kembali makan dan minum demi kesehatan dan menguatkan badannya. Apakah artinya dia menjadi melekat kembali kepada badan jasmaninya?
Ada sebuah cerita juga tentang Bhikkhu yang membakar patung Buddha dari kayu untuk menghangatkan badannya di cuaca yang sangat dingin. Karena sudah tidak ada kayu bakar lagi yang bisa dipakai untuk menghangatkan tubuh. Cuaca juga terlalu buruk untuk mencari kayu di luar.
Saat ada Bhikkhu lain yang mempermasalahkan hal tersbut ia mengatakan kepada Bhikkhu-Bhikkhu yang lain bahwa patung tersebut hanyalah sebuah patung kayu, sebuah simbol dan kita tidak boleh melekat kepadanya.
Bhikkhu ini bertindak bijaksana, karena jika dia tidak membakar patung kayu tersebut, mereka semua akan mati kedinginan.
Tapi pada kasus Buddha Bar, apakah bijaksana membiarkan nama Buddha menjadi nama sebuah Bar? Apakah bijaksana meletakkan patung-patung Buddha di dalam sebuah bar?? Apakah ketidak-melekatan bisa dijadikan alasan untuk membiarkan hal ini terjadi?
Lalu bijaksanakah jika ketidak-pedulian kita akhirnya menimbulkan akibat tidak adanya penghormatan lagi terhadap agama Buddha.
Walaupun agama Buddha tidak gila penghormatan, namun bijaksanakah membiarkan kualitas agama ini menurun dan mungkin menghilang dari dunia karena tidak dihormati lagi oleh orang lain dan bahkan oleh pengikutnya sendiri.
Kondisi seperti itukah yang akan kita wariskan pada generasi mendatang?
Apakah memang tidak ada pilihan lain sehingga harus menggunakan nama Buddha, dan apakah tidak ada hiasan lain sehingga harus menggunakan hiasan patung Buddha dalam sebuah Bar?
Sebagai umat Buddha kita diajarkan untuk berpikir kritis dan bijaksana dalam melihat segala sesuatu. Membedakan antara ketidak-melekatan dan ketidak-pedulian. Mencerna esensi ajaran Guru Buddha tidak sebatas kulit luar dari apa yang tertulis.
Bertindak atau tidak, pilihan tetap ada di tangan masing-masing.
Appamadena Sampadetha
Dian Saptiana
SDM PP HIKMAHBUDHI
(meneruskan Petisi teman saja).
Monday, January 12, 2009
Izak Timisela: Bapak Kaum Diffable Pinggiran
Sayup-sayup celotehan suara itu membesar. Sumbernya dari sebuah bangunan yang menjulang di depan sana. Untuk sebuah daerah pinggiran, bangunan ini memang mencolok walau agak masuk ke dalam gang H. Ridwan, Kel. Kunciran Indah. Warna warni coraknya. Di kanan kiri masih tersedia tanah lapang. Tak di nyana, ternyata ini adalah bangunan untuk mereka yang berkebutuhan khusus alias SLB. Adalah seorang Nyong Ambon yang menggagasnya. SLB ini dinamakan Yenaiz. Singkatan dari Yenny (anak), Nanik Isiati (istri), dan Izak Timisela. Rambut Izak tersebak uban ketika menemui kami. Badan yang agak tambun tak menyurutkan langkahnya. Dengan cekat ia menjelaskan seluk beluk sekolah perjuangannya ini. Bagaimana tidak? Ia tinggalkan karier yang baik sebagai perawat demi memenuhi keinginan hatinya meningkatkan derajat kaum luar biasa ini. Namun hal ini semua tak datang begitu saja. Ini karena pengalaman melihat dengan jelas ketidakadilan sistem terhadap kaum SLB, apalagi SLB yang berasal dari keluarga tidak mampu. Ingatan akan hak-hak kaum SLB yang terampas memantapkan dirinya keluar masuk kampung untuk mendata kaum diffable ini. Data di dapat. "Tapi akan ditampung dimana anak-anak ini?" kenangnya. Ia lantas menjual rumah untuk menyewa rumah petak untuk memberi pelajaran anak-anak diffable. Istri, dan putri tunggalnya dilibatkan menjadi tutor. Sementara belajar mengajar berjalan di rumah petak, ia pelan-pelan bermimpi untuk mendirikan sekolah. Pontang-panting ia jalankan tugas mulia ini. Sementara penghidupan keluarga belum sepenuhnya normal. Beruntung ia sudah menyiapkan kebun kelapa 2 hektar di Ambon walau itu tidak sepenuhnya membantu.
Sunday, January 4, 2009
Cak Munir
Penghujung tahun kamu dapat kado "istimewa" Cak. Segepok kado yang tak membuat istrimu nyenyak tidur. Aktor utama pembunuhmu di vonis bebas. Lengkap sudah rasanya awan kelabu di balik kematianmu. Makin berat saja terungkap ajalmu nan misterius itu. Mata rantai nan panjang itu ternyata harus dihentikan di tangan seorang saja Cak. Padahal kamu dan kita menyakini bahwa rantai itu masih menyisakan tuas-tuas lainnya. Justru tuas ini dipaksa berkarat dan terputus.
Cak Munir,
5 tahun sudah berlalu dari geger beritamu Cak. Ajal tiba-tiba menitikkan sejuta air mata. Air mata itu kini harus tumpah lagi. Kasusmu tak kunjung menemui titik terang. Padahal, terang itu mestinya menjadi hak anak dan istrimu. Sebaliknya, terang itu sengaja dibikin gelap dan makin gelap. Padahal SBY pernah bilang kalau penyingkapan kasusmu ini sebagai test of our history. Nyatanya tetap saja Cak. History bangsa ini memang tak pernah berpihak pada orang kecil.
Cak,
Buram lampu jalanan malam itu, sepertinya seburam siapa aktor penjagalmu Cak. Tapi kita masih yakin, di ujung sana terbersit sinar kecil. Sebuah harapan akan terungkap. Entah kapan Cak. Istirahatlah dengan tenang Cak. Doakan perjuangan kawan-kawan mengungkap tabir ajalmu menuai hasil.
Selamat tidur Cak. Semoga prajurit HAM yang kamu tinggalkan segera menjadi panglima yang gagah perkasa.
*) atas vonis bebasnya Muhdi PR.
Thursday, January 1, 2009
tak ada tahun baru, yang ada hari berganti saja!
Di perempatan Salemba ku lihat seorang ibu memapah dua anaknya yang bertelanjang kaki. Memelas dan menengadah bunga sosial dari pengendara. Beberapa gerombolan lain melakukan hal yang sama. Ada yang mengelap mobil, main ukulele. Kawasan yang sering terjadi bentrok mahasiswa ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada yang berubah.
Di sejengkal ingatan menelusur ke kawasan Tanah Merah. Tanah seluas 165 Ha lebih ini sudah lama menjadi sengketa antara negara dan warga. Letaknya persis bersebelahan dengan kawasan Kelapa Gading. Membandingkan Tanah Merah dan Kelapa Gading ibarat sebuah perbandingan bumi langit. Puluhan tahun hingga sekarang, keberadaan warga tanah merah tidak diakui negara. Mereka tidak diberikan hak kependudukan, apalagi hak-hak lainnya. Puluhan kali pula status kependudukan ini diusahakan. Namun hingga kini belum menuai hasil. Warga Tanah Merah umumnya bekerja di sektor informal. Tak kurang 16 ribu KK hingga kini tengah terkatung menunggu kepastian kependudukannya. "Kita ini ibarat hidup dinegeri orang lain" ujar Soegianto, tokoh masyarakat setempat trenyuh.
Di sebuah kantin makan, seorang petugas keamanan mengatakan kekecewaannya terhadap pemeritahan SBY. "Dulu di lingkungan saya semua pilih SBY. Kalau sekarang gak lagi deh" ungkapnya kesal sambil menyantap tempe goreng. "Gila barang-barang tetap mahal. Ongkos juga gak mau turun padahal BBM udah diturunin" ujarnya setengah jengkel. "Belum lagi ancaman PHK gila-gilaan". "Hidup rasanya kok gak tenang, padahal di negeri sendiri".
Seorang ibu merengek minta ditunjukkan jalan. "Naik dua kali Bu" ujarku singkat. "Wah saya gak mau naik angkot", mau jalan kaki aja. "Saya ada interview kerjaan hari ini" ujarnya gusar. "Sekarang cari kerja susah banget Mas". "Saya sudah jalan dari jauh kota". Rona matanya terlihat gelisah. Beberapa kali bahasa Tuhan meluncur dari mulutnya yang tak bergincu. Cemas. Ia lalu mengeluarkan handphone. Sejurus terdengar percakapan dengan orang di seberang sana. Entah benar entah sekedar pura-pura saja. "Saya ada indomie, adik mau beli gak? Tiga ribu aja" ujarnya menawarkan. "Buat ongkos deh". "GAK" jawabku sekenanya. Dari awal aku memang sudah agak curiga. Langkah cepat ia ambil seketika. Ku lihat di ujung sana ia bertanya kepada tukang ojek sepeda. Kadang aku merasa kasihan, tapi kadang jengkel juga ketika tahu belas kasihan itu hanya dijadikan topeng semata untuk mendapatkan beberapa rupiah.
Stasiun senen hari itu agak ramai. Riuh terompet lokomotif bersautan. Seorang teman sudah naik gerbongnya. Aku hanya menunggu menjelang ular besi itu meluncur ke Semarang. Seorang bapak bertopi berjalan di depanku. Ia berhenti. "Mau kemana Mas" tanyanya. "Cuma anter teman Pak" jawabku. Sejenak ia mulai ngerocos. Saya ini korban lapindo Mas. Rumah sudah tenggelam semua. Saya ke Jakarta mau ketemu saudara, eh malah dompet saya di curi orang. Gak tahu nih gimana pulangnya. Awalnya aku masih simpatik. Namun mendengar ceritanya yang sudah mulai gak karuan, aku bisa menyakinkan kalau orang ini hanya mencari belas kasihan saja. Dan benar saja. "Kasihan saya Mas, bisa minta duit untuk makan?" ujarnya tiba-tiba. "GAK ada Pak" jawabku ketus. Aku bukannya gak mau berbagi. Ingatanku melayang pesan seorang kawan: "Berbagilah dengan cara yang mendidik".
Perayaan tahun baru saja lewat. Harapan terjulang di dada. Harapan akan kebaikan dan perbaikan terhadap warga negeri ini. Perayaan tahun baru tak ubahnya percikan kembang api yang segera habis setelah dipencarkan. Lenyap seketika. Benar mungkin, tak ada tahun baru, yang ada hanyalah hari berganti saja!