Friday, June 27, 2008
Film Itali: Cinta Tak bisa Dibeli
Tingkah polah Antonio menghafal, menghayati setiap detil perannya ini membuat kekonyolan makin menjadi. Sebagai langkah awal pendekatan, Lucia menugaskan Antonio menonton teater yang juga sedang di tonton Maria seorang diri. Dengan berbekal buku tentang pentas teater itu, ia mantap mengambil duduk sebelah gadis berkaca mata tak jauh dari duduk Maria. Hanya saja bukannya menyimak jalan cerita teater itu, justru ia tertidur pulas dengan buku lepas dari genggaman. Buku yang terjatuh inilah yang akhirnya menjadi titik awal perkenalan Antonio dan Maria. Hingga akhinya hubungan Maria-Antonio makin dekat. Maria bukannya tanpa beban menjalani affair ini. Beberapa kali ia merasa bersalah dengan apa yang dilakukan. Dan Lucia pun menjadi pemenang untuk sementara waktu. Dan beberapa lembar uang Lira pun berpindah ke tangan Antonio. Sementara Maria berselancar dengan hubungan barunya, demikian pula Paolo-Lucia. Masing-masing tenggelam dalam benang kusut yang dibuat sendiri ini. Celakanya mereka semua menikmatinya. Benang kusut ini akhirnya menjalar pula pada pekerjaan Lucia. Bahkan ia hampir dipecat, hingga akhirnya ia memberdayakan segenap rasa untuk membuktikan bahwa pemecatan itu bisa dibatalkan. Dan memang akhirnya ia berhasil. Di tengah keberhasilan menyakinkan atasannya, ia pun diliputi kecemasan yang dasyat hubungannya dengan Paolo. Dalam hati dia merasa bersalah. Apalagi ia pun tak mau merusak persahabatan dengan Paolo-Maria.
Di sudut lain, Maria-Antonio tengah di mabuk asmara. Maria pun sudah berbulat hati memutuskan tali tunangannya dengan Paolo. Niat itu sudah bulat. Hanya saja akhirnya tidak sanggup ia sampaikan. Sementara Antonio pun sudah jatuh hati "betulan". Mendengar niat Maria, Antonio menjadi marah dan gusar. Ia pun mengumpat dan mengecam Lucia. Kata yang aku ingat, Antonio mengatakan bahwa cinta itu tidak bisa dibeli dengan uang. Sebab cinta itu datang dari hati. Di tengah ketersambungan kembali tali kasih Maria-Paolo, Antonio memutuskan pergi keluar negeri. Sementara Lucia ternyata merasa kehilangan Antonio. Dengan berbagai cara ia mencari Antonio. Biar bagaimana pun ia berhutang banyak dengan Antonio. Berbekal penuturan mantan kakak ipar Antonio, didapat kabar bahwa memang Antonio sudah berangkat ke bandara. Dan segera Lucia meluncur menyusul. Lalu lalang orang yang padat, membuat ciut Lucia untuk mencari Antonio. Seperti kebanyakan film lainnya, akhirnya Lucia pun berhasil mempertemukan Antonio. Usut punya usut ternyata, pertemuan dibandara ini merupakan skenario Maria yang ingin menyatukan Lucia dan Antonio. Jadi mereka semua ternyata menjadi sutradara masing-masing bagi sahabat-sabahatnya. Lucu juga.
Cerita film ini mungkin sudah jamak di layar kaca kita. Hampir semua sinetron kita pun sudah sering mengangkat cerita ini. Bahwa cinta itu memang tidak bisa dipaksakan, apalagi ditukar dengan materi. Seperti lagu Padi: Cinta bukan sekedar kata, cinta pasti bukan hanya harta dunia semata................
Thursday, June 26, 2008
Bus Way, Bye Bye
Pagi tadi, aku bangun seperti biasa. Hanya saja hari ini ada perlu persiapan ekstra yang perlu dilakukan. Maklum, aku dkk jauh hari berencana naik gunung. Tepatnya gunung Lawu. Dan kami sepakat nanti malam kita berangkat ke Solo naik kereta api. Agak pagi, sengaja aku bangun untuk mempersiapkan semuanya. Harapannya bisa naik busway. Maklum hari ini aku tidak naik motor seperti biasa ke kantor. Tas besar sudah di punggungku. Agak berat ternyata. Tak apalah, naik gunung memang yang perlu dibawa banyak. Akhirnya dengan berusaha melangkah santai aku menuju halte busway tak jauh dari kostku.Aku tak lihat pasti jam berapa aku berangkat. Tapi rasanya sih masih pagi. Lalu lalang orang dan kendaraan sudah mengeriyap di hadapanku. Tak biasa rasanya. Sebab tiap pagi, aku memang tidak melewati jalur umum ini. Tanpa pikir panjang, beli tiket busway, 3.500. Cukup murah sebenarnya. Di halte itu, tak banyak orang. Hanya beberapa antrian aja. Semenit dua menit menunggu. Ada busway meluncur kencang.Tapi kosong dan melintas saja di depan. Ruat muka kecewa hampir semua terlihat. Was-was akan terlambat datang ke kantor terjadi. Beberapa busway memang datang, tapi sudah sangat sarat penumpang. Tiap kali berhenti, yang bisa naik hanya satu orang. Gila. Seorang perempuan muda terlihat beberapa kali mengangkat telpon selulernya. Pertanda mengabarkan ketidaksabaran menunggu. Sejurus kemudian ia memutuskan membubarkan diri dari antrian dan beranjak keluar halte. Tak lama menunggu ia sudah di atas bus Patas arah Blok M. Sementara aku dan beberapa orang masih menunggu dan menunggu.
Melirik ke arah sebelah, ternyata jam sudah hampir pukul 8. Wah bisa telat nih, batinku. Aku memutuskan untuk mengikuti jejak perempuan tadi meninggalkan halte busway. Ojek akhirnya menjadi pilihan. Dalam boncengan aku berpikir. Wah bisa sinting kali kalau tiap pagi selalu begini keadaannya. Busway selama ini memang menjadi angkutan alternatif. Sayang manajemennya masih amburadul. Ulah sopir yang masih jauh dari ideal, jadwal yang kacau balau, masih menggelayut. Busway ideal bagi mereka yang gak dikejar-kejar waktu. Sebab selain harus menyambung halte berikut jika tak searah, penyediaan jalur khusus pun tak mampu menjawab "kecepatan" busway. Jika memang mepet waktu tak ada gunanya menggunakan busway. Lebih baik cari angkutan yang lain.
Busway, bye bye aja deh. Mending naik "si hitam" aja pasti cepat sampai tak perlu menggerutu menanti busway yang selalu penuh sesak.
Tuesday, June 24, 2008
22 Juni
Semangat baru pasti selalu ada ketika peringatan hari lahir tiba. Namanya peringatan, pasti kita diingatkan beberapa saat tentang diri kita. Siapa kita, keluarga kita, komunitas kita, dll. Hari itu aku mengawali hari dengan berbenah kamar kost. Maklum selama ini kamar itu aku agak bengkalaikan. Mungkin cuma numpang tidur saja tepatnya. Beberapa buku yang tercecer aku rapikan. Nyapu dan ngepel akhirnya aku lakukan. Hari itu pula, aku nitip belanja ke Mbak Gina, pembantu kost kami. Ada beras, ayam, bumbu, lalapan, dll untuk makan malam teman-teman. Aku memang sengaja mengundang mereka untuk merayakan hari lahir itu. Mungkin sudah lama aku tak melakukannya. Meski sederhana, yang penting mereka bisa merasakan kebahagiaan bersama.
Resolusi? Entahlah. Aku sama sekali tak mengenal istilah itu. Yang ada diotakku ya berusaha menjalani saja hidup ini sebaik mungkin. Kadang jika melihat teman-teman seusiaku, memang banyak yang berbeda. Tapi toh perbedaan itu memang pilihan yang kita ambil sendiri. Bukankan hidup itu cuma serangkaian pilihan-pilihan saja?
Bagiku, ulang tahun sebenarnya tak beda jauh dengan hari-hari yang lain. Yang berbeda cuma satu bahwa aku makin tua. Jatah hidup makin berkurang. Ibarat kita punya jatah hidup 50 tahun di bumi ini. Tiap tahun kita dikurangi jatah hidup itu. Jadi sebetulnya yang tepat menurutku bukan selamat ulang tahun, tapi selamat memperingati hari lahir. Supaya kita selalu ingat bahwa hidup kita makin singkat dan berkurang. Selamat memperingati hari lahir untuk diriku sendiri.
Friday, June 20, 2008
Bubur Istana
Informasi yang kita dapat, peserta akan dibagi beberapa titik temu. Salah satu titik bundaran HI. Tempat ini memang titik paling strategis seantero Jakarta. Siapa sih yang gak kenal? Saban demo pasti tempat ini menjadi titik favorit. Begitu kami datang, sudah ada beberapa orang yang memarkirkan sepedanya. Wajah ceria tampak diiringi gelak celoteh diantara mereka. Mereka masih menunggu beberapa kawan yang akan bergabung. Satu per satu peserta datang, termasuk ketua Bike to Work, Mas Toto Sugito. Ternyata kedatangan Mas Toto membawa keramaian. Di tangan dan kakinya terdapat beberapa luka. Usut punya usut Mas Toto mengalami kecelakaan. Katanya sih nabrak pohon. Nah lho. Mas Toto lain kali, ati-ati ya. He........:) Ketika di bundaran HI ini, aku berpikir, acara besar seperti ini kok gak ada yang liput ya? Apa karena kepagian?
Rombongan akhirnya berangkat juga. Dengan santai namun semangat, mereka menggenjot sepeda masing-masing menuju Monas. Dan ternyata di pelataran Monas, Jl. Merdeka Selatan, SBY sudah menanti. Tentu disini, sudah bejibun wartawan yang nongkrong. "Ternyata aku salah tempat nih" batinku sesal. Bertandem dengan Ibu Ani, SBY tampak bersiap menggenjot sepedanya. Acara hari itu juga diikuti beberapa menteri. Tampak Marie E. Pangestu, Rachmat Witoelar, Purnomo Yusgiantoro, Menpora Adhyaksa Dault, dll. Tak ketinggalan bang kumis, jubir Presiden, Andi Malarangeng. Tak lama setelah berkumpul, SBY pun memimpin rombongan ini menuju istana. Yang pasti jaraknya tak jauhlah. Lha wong sekelabatan mata saja, istana sudah nampak kok dari lokasi rombongan ini. Tapi yang penting suasana dan kampanye untuk irit energi patut diapresiasi. Para pemburu berita, sibuk dengan kamera masing-masing. Tak ketinggalan aku juga. Namun segera setelah SBY mengayuhkan sepedanya, semua bubar berebut naik ke mobil pick up yang sudah dipersiapkan. Dan celakanya aku kurang gesit diantara mereka. Akhirnya tertinggallah diriku. Kecewa pasti, tapi apa mau dikata. Sementara rombongan sudah bergerak, akhirnya aku langkahkah kaki menuju istana bersama beberapa orang yang tertinggal. Yah ternyata ada temannya juga. Gak malu-malui bangetlah kalau gitu. He......
Begitu sampai dipintu masuk istana, ternyata kami tak tertinggal jauh dengan peserta bike to work. Banyak peserta juga yang baru sampai. Kami pun langsung berbaur dengan mereka bersama masuk ke dalam istana. Beberapa pemeriksaan tetap dilakukan walau agak santai. Hingga tiba di pintu pemeriksaan terakhir, seorang penjaga menanyakan identitas istana bagi wartawan. Lalu aku jawab gak ada karena memang sehari-hari, saya tidak bertugas disana. Namun kali ini kami diperbolehkan untuk masuk istana. Uh..........:)
Di dalam istana suasana sangat santai. Beberapa orang tampak berfoto ria. SBY sendiri pun berbaur dengan mereka. Sangat berbeda dengan keseharian yang penuh protokoler. Setelah lepas lelah, Mas Toto memberi sambutan yang diteruskan SBY. "Saya kira banyak yang bisa kita dapatkan karena itu saya telah sampaikan kepada saudara Toto, mari kita buat kegiatan ini lebih reguler dan rutenya lebih panjang, terutama untuk kami. Lebih pagi sedikit supaya tidak mengganggu lalu lintas" ujarnya disambut tepuk tangan komunitas bike to work.
Acara pagi itu dilanjutkan dengan penyerahan satu bingkai foto bergambar SPBU dengan tangki berbentuk galon air. Segera setelahnya, peserta bike to work menyerbu beberapa gerobak makan yang sudah disediakan SBY. Ada lontong sayur, ada pula bubur ayam. Dan akhirnya aku memutuskan memilih bubur ayam untuk mengurangi kesemrawutan pagi itu. Untung ada bubur istana. Jalan kaki monas-istana terbayar sudah. Hah!
Thursday, June 19, 2008
RENCANA BESAR
by Padi (Tak Hanya Diam)
Bisakah ku singgah dihatimu
Berharap sebentuk tempat yang tulus
Sesuatu yang kupercaya
Ada tersimpan disana
Terlalu lama aku harus terdiam
Atau mungkin ku tak percaya sungguh
Akan kesempatan dan kemungkinan
Yang terjadi nanti
Karna ku yakin ada pintu yang terbuka
Diantara hatiku dan hatimu
Its been years since we've met
And days had gone by
Now its time to make up my mind
And I hope that we can make it to the end
Bila firasat ini memang benar
Memilikimu adalah maksud
Dari sebuah rencana besar
Merubah hidupku
Jikalau aku harus berhitung benar
Akan kemungkinan yang bisa ada
Bilaku bisa memilikimu
Bahagialah aku
Karena ku yakin ada pintu yang terbuka
Diantara hatiku dan hatimu
Its been years since we've met
And days had gone by
Now its time to make up my mind
And I hope that we can make it to the end
Its been years since we ve met
And days had gone by
Now its the time to make up my mind
Oh...May be I could nev er have you in my life
(Perkenankanlah aku singgah dihatimu
Berharap sebentuk tempat yang tulus
Sesuatu yang kupercaya
Ada tersimpan disana)
Note: Lagu ini menurutku mantap banget. Minimal bisa bikin goyang kaki & kepala. Kalau gak percaya cari aja deh mp3-nya. Dijamin gak cukup dengar sekali.
Time to make up my mind. Rasanya itu yang perlu aku lakukan sekarang ini.!!
Monday, June 16, 2008
Kungfu Panda: Panda yang bikin Terpingkal!
"Mau nonton Kungfu Panda gak" begitu seru seorang teman diujung sana. Tanpa pikir panjang aku pun mengiyakan saja. Padahal aku gak tahu sebelumnya tentang film ini. Aku bukan maniak nonton film. Sesaat, seorang teman diujung telpon bilang, "elu gila ya masak nonton film kartun, untung gua hari ini ke Solo, jadi gak bisa ikut". Entah betulan mempertanyakan film kartun yang aku akan tonton atau perasaan iri saja karena tidak bisa nonton bareng. Ha.....:)Bioskop malam itu ternyata sudah penuh sesak. Tak ada bangku tersisa. Semua umur lumer jadi satu. Ada anak kecil juga orang tua. Yah artinya aku bukan termasuk barisan orang yang nonton tak sesuai umur.
Po (Jack Black) si Panda adalah anak seorang penjual mie. Melihat Po yang seorang Panda dan ayahnya yang seperti bebek rasanya aneh. Tapi itulah kehebatan film kartun. Suatu hari, ketika tidur Po bermimpi menjadi jagoan Kung Fu. Namun ia takut merealisasikan mimpi ini karena tak mau mengecewakan ayahnya. Sang ayah berharap Po menjadi generasi penerus penjual mie tulen. Kesempatan tak datang dua kali. Mungkin itu yang ada di benak Po, ketika sebuah perguruan Kungfu ternama mencari pendekar naga. Ia ingin mengikuti audisi itu. Namun untuk mengelabui sang ayah, ia turut serta membawa gerobak mie ayahnya dengan alasan akan berjualan di dekat tempat audisi itu. Namun karena perguruan kungfu terletak di atas gunung, Po pun kesulitan mengangkut gerobak ayahnya. Ke pucuk gunung dengan membawa diri yang super besar saja ia kerepotan. Akhirnya gerobak ditinggal. Dengan berbagai cara dan usaha ia akhirnya sampai di tempat audisi. Sayang, ketika ia akan masuk ke dalam perguruan, ternyata pintu persis baru saja ditutup. Kecewalah si Po. Dengan seribu akal, Po berusaha masuk ke dalam, salah satunya dengan menaiki pohon dan menaiki balon udara sederhana. Cara kedua inilah yang akhirnya menuntun dia ke dalam perguruan kungfu meski itu pun secara kebetulan, khas film kartun. Ketika seorang Shifu (kepala perguruan) akan mengumumkan siapa yang akan menjadi pendekar naga, tiba-tiba tubuh tambun Po terhempas di singgasana bagi pendekar naga. Dan akhirnya Po dinobatkan sebagai pendekar naga. Dia pun masih belum menyadari hal ini. Sementara proses penobatan ini tentu membuat berang Furious Five, yang selama ini digadang-gadang sebagai calon pendekar naga. Mereka adalah Tigress, Monkey, Mantis, Viper, dan Crane. Pertemuan dan pertemanan mereka pun tak pernah akur. Po dianggap tak layak menjadi pendekar naga untuk mengalahkan Tai Lung, mantan murid perguruan itu yang tamak hingga akhirnya dijebloskan ke penjara.
Di dalam penjara, ternyata Tai Lung berhasil kabur dan menuntut balas dendam ke perguruan. Disisi lain, tubuh gendut, jalan yang lamban, dan seabreg kekurangan Po membuat dirinya tak percaya diri belajar kungfu. Bahkan Master Shifu sempat meragukannya. Namun ketika Master Oogway meninggal, Master Shifu tak punya pilihan lain untuk terus melatih Po. Ia melatih Po dengan makanan, mengingat Po memang suka sekali makan. Dan seiring berjalan waktu, cara ini berhasil. Tubuh gendutnya tak lagi halangan untuk bergerak membuat jurus kungfu.
Hingga akhirnya Tai Lung datang balas dendam. Furious Five tak berhasil membendung Tai Lung. Termasuk Master Shifu. Melihat hal ini, Po tak tinggal diam. Awalnya Tai Lung menganggap remeh Po. Namun dengan hasil kerja keras latihannya selama ini akhirnya mampu mengalahkan Tai Lung. Po pun akhirnya dinobatkan sebagai pendekar naga sejati oleh rakyat sekitar perguruan. Ayahnya yang semula tak suka Po berlatih kungfu pun akhirnya menerima dan tentunya bangga dengan anak tambunnya.
Kungfu Panda mengingatkan aku dengan The Cars. Film kartun serupa yang tak kalah seru. Efek grafis yang membahana membuat decak kagum plus tertawa terbahak sepanjang film diputar. Film ini juga sarat makna. Bahwa tubuh tambun tak harus menjadi halangan untuk maju.
Sunday, June 15, 2008
Lagi Lagi Perempuan
Hal serupa juga dilakukan Ibu Rohmani. Wanita asli Betawi ini telah menjanda dengan anak-anak yang sudah besar. Ndut, demikian biasa wanita berbadan besar ini di sapa. Meski memiliki rumah sendiri peninggalan orang tuanya, dengan beberapa kamar kontrakan, namun ia tak berpangku tangan. Setidaknya sudah tahunan ia menjalani sebagai seorang Yakult Lady. Pembawaan yang ceplas ceplos memudahkan ia menjaring beberapa konsumen. Seperti hari itu, ketika kami mengikutinya. Dalam sekejap beberapa botol kecil Yakult telah berpindah tangan. Bahkan ada seorang ibu yang gigit jari karena tidak kebagian. "Nanti saya datang lagi kok Bu" demikian hiburnya.
Apa yang dilakukan Ibu-ibu ini mengingatkan saya dengan Ibu di rumah. Sejak Bapak meninggal, Ibulah yang membanting tulang membesarkan kami berlima. Prinsip Ibu waktu itu cuma satu: kerja, kerja, dan kerja. Anak-anaknya tak satupun yang tidak diperbolehkan nganggur, apalagi bermain. Harap maklum, jika kami kurang banyak teman bermain. Sebab masa kecil kami, hanya diisi dengan bekerja. Mainanku cuma satu kala itu: sepak bola.
Di keluarga kami semua sudah ada jatah kerjanya. Ada yang ambil kayu, memasak, menggembala kambing, dan tentu juga membantu membuat tape singkong. Dari jenis tapioka inilah Ibu mempertahankan ekonomi keluarga, juga berhasil mengentaskan pendidikan kami. Urusan pendidikan memang tak pernah ditinggalkan Ibu. Setiap kali ada kartu pembayaran SPP datang, setiap itu pula, SPP segera dilunasi. Bahkan sampai satu tahun ajaran. Selain itu juga, jika ada buku pelajaran yang harus dibeli, Ibu segera meminta kami untuk memberi catatan untuk diberikan kepada penjual buku pelajaran tak jauh dari tempat berdagangnya di emperan pasar. Dan hari itu pula biasanya kami sudah memegang buku pelajaran yang diminta ibu guru. Meski berpeluh, tapi itu semua patut kami syukuri kini. Sebab hingga sekarang keluarga kami baik-baik saja. Ibu sudah kami minta untuk "pensiun". Biarlah kami yang menggantikannya.
Ibu Eni, Ibu Rohmani mungkin contoh umum masyarakat pinggiran dalam menyiasati melambungnya harga-harga. Walau tak jarang banyak pula yang akhirnya tergilas dalam perubahan ini dan menyerah terhadap keadaan. Namun rasa optimis harus terus ditumbuhkan. Rasa bahwa masih ada harapan tersisa dari situasi yang sulit inilah yang menjadi semangat untuk terus bertahan dan berjuang.