"Eh jangan langsung makan, kita fotoin dulu ya buat IG" itulah sekelumit obrolan anak-anak remaja di meja sebelah. Cekrek upload, biar kekinian. Eksistensi jadi yang utama bagi anak-anak ini. Tak heran saban libur mereka berduyun mengunjungi tempat-tempat yang intagramable. Soal budget? Rasanya selama bisa eksis, berapapun akan diupayakan. Makin banyak yang likes di IG, makin senang hatinya. Selain jumlah likes, kesohoran anak sekarang juga ditentukan seberapa banyak followers di sosial media kita. Semakin banyak followers indikasinya semakin sukses. Saya pernah tanya seorang kawan yang followers IG-nya sudah menginjak angka 10.000 lebih. "Dapat apa dari followers sejumlah itu?" tanya saya. "Belum dapat apa-apa" ungkapnya. "Paling cuma barter produk aja, belum yang bener-bener jadi endorse" tambahnya. "Itupun juga dapat dari teman atau saudara aja".
Lain lagi kawan lain yang sedang merintis menjadi youtubers, terutama soal make up. Hampir tiap minggu dia mengeluarkan review produk-produk make up terbaru. Karena tuntutan, barang-barang dan tempat tongkrongannya juga tak boleh sembarang. Karena menyangkut image. Entah darimana dia membiayai "tuntutan" itu semua. Sementara tawaran jadi "artis endorse" juga belum menghampiri.
Sosmed-pobia, demikian saya menyebutnya. Istilah yang juga naik daun belakangan. Kita dengan mudah menemukan aktivitas teman-teman sejawat. Dengan menyantap sosial media kawan kita, entah disadari atau tidak, kita pun terbawa untuk melakukan hal yang sama. Ingin segera menikmati "pengalaman" yang sudah dialami kawan kita ini. Celakanya tak jarang yang melakukan karena hanya sekedar gengsi. Hanya sekedar tak di cap ketinggalan jaman. Sehingga segala cara dipakai, termasuk dengan berhutang. Repotnya lagi kartu kredit dengan mudah menawarkan "pinjaman" ini, yang bunganya mencekik leher.
Kalau saya pribadi lebih suka tulisan di bak truk yang tempo hari lewat. "urip kuwi ora perlu tenar, ora perlu sangar, sing penting rejekine lancar"
Friday, December 15, 2017
Sunday, December 3, 2017
Pejuang tangguh, tanggung berjuang
Beberapa hari terakhir saya melihat banyak teman-teman yang memiliki lebih dari satu pekerjaan. Berkat aplikasi online, sembari berangkat kerja seorang teman buka menerima tebengan yang searah. Hasilnya? Ternyata lumayan banget. Anggep saja sekali jalan 20.000, PP berarti 40.000. Dalam sebulan hari kerja 20 x 40.000 = 800.000. Tentu angka yang lumayan untuk pengganti bensin. Tentu angka itu tergantung banyak hal, jarak tempuh salah satunya.
Selain itu ada juga yang bekerja kantoran sambil berjualan. Ada yang bawa gorengan, sambal bajak, roti, buah, baju, juga yang lain. Tak ada perasaan malu di raut mereka ketika setiap pagi menenteng barang dagangannya. Dan marketing mulut ke mulut masih menjadi andalah utama. Ada banyak cerita didalamnya. Ada yang memang terpaksa jualan karena kebutuhan. Ada juga yang karena mengikuti tren. Tapi apapun alasannya, sepertinya muaranya adalah kebutuhan rumah yang meningkat. Terutama bagi yang sudah berkeluarga. Gaji bulanan pasti sudah ada kaplingnya. Jadi untuk kebutuhan yang lain, perlu dicari sumber yang lain. Dan jualan tentu bisa jadi solusinya. Bagi saya, yang terpenting dari semua ini adalah pembagian waktu yang tepat antara bekerja dan berjualan. Harus pintar memilah waktu, terutama yang jualan di kantor. Pekerjaan utama harus tetap didahulukan.
Bagi saya, apa yang dilakukan teman-teman ini jauh lebih mulia dibanding harus berebut muka di depan atasan, termasuk juga rebutan proyek, korupsi sana-sini dan lain-lain.
Bagi saya juga semangat teman-teman ini luar biasa. Seperti yang disampaikan Mas Yodhia Antariksa, pemilik strategimanajemen.net yang sering saya baca. Mas Yod kasih tahu bahwa daripada kita berhemat melintir, sampai terkesan kikir, lebih baik mencari cara untuk mencari pemasukan tambahan.
Selain itu ada juga yang bekerja kantoran sambil berjualan. Ada yang bawa gorengan, sambal bajak, roti, buah, baju, juga yang lain. Tak ada perasaan malu di raut mereka ketika setiap pagi menenteng barang dagangannya. Dan marketing mulut ke mulut masih menjadi andalah utama. Ada banyak cerita didalamnya. Ada yang memang terpaksa jualan karena kebutuhan. Ada juga yang karena mengikuti tren. Tapi apapun alasannya, sepertinya muaranya adalah kebutuhan rumah yang meningkat. Terutama bagi yang sudah berkeluarga. Gaji bulanan pasti sudah ada kaplingnya. Jadi untuk kebutuhan yang lain, perlu dicari sumber yang lain. Dan jualan tentu bisa jadi solusinya. Bagi saya, yang terpenting dari semua ini adalah pembagian waktu yang tepat antara bekerja dan berjualan. Harus pintar memilah waktu, terutama yang jualan di kantor. Pekerjaan utama harus tetap didahulukan.
Bagi saya, apa yang dilakukan teman-teman ini jauh lebih mulia dibanding harus berebut muka di depan atasan, termasuk juga rebutan proyek, korupsi sana-sini dan lain-lain.
Bagi saya juga semangat teman-teman ini luar biasa. Seperti yang disampaikan Mas Yodhia Antariksa, pemilik strategimanajemen.net yang sering saya baca. Mas Yod kasih tahu bahwa daripada kita berhemat melintir, sampai terkesan kikir, lebih baik mencari cara untuk mencari pemasukan tambahan.
Wednesday, November 22, 2017
Naik Kelas
Sebuah kelas ada 10 anak murid. Namanya murid, pasti ada yang pandai, setengah pandai, dan belum pandai. Guru pasti lebih suka mengajar anak yang pandai dan setengah pandai. Karena tidak membutuhkan waktu yang lama untuk diajari. Lalu bagaimana yang belum pandai? Guru yang bijak, biasa meluangkan waktu lebih lama untuk mengajari. Tapi banyak juga yang "dibiarkan" saja.
Setiap lomba guru pasti menunjuk anak yang pandai dan setengah pandai. Karena harapan juara pasti lebih besar. Dan benar saja, beberapa kali lomba, beragam piala dibawa pulang. Kalaupun tidak juara 1, setidaknya juara 3.
Suatu hari, ada perlombaan lain. Celakanya hari itu, semua anak pandai dan setengah pandai juga sedang bertanding di tempat lain. Tinggal anak-anak yang belum pandai. Dengan berat hati Guru mengirimkan anak-anak yang belum pandai ini. Hasilnya sudah bisa diduga dari awal, gagal total. Tak satupun piala yang dibawa ke sekolah. Guru kecewa, semuanya juga kecewa. Komite sekolah juga marah besar. Terlebih sekolah selalu mengutamakan "piala-piala lomba". Ada sebuah kebanggan tersendiri katanya.
Pada akhirnya, supaya terus membawa pulang piala, anak-anak yang belum pandai tidak diikutsertakan. Kalaupun diajak, mereka hanya bertugas sebagai cheerleader alias suporter saja. Ikut menggembirakan. Meski mereka sendiri entah gembira atau tidak. Jika demikian, kapan mereka "naik kelas?"
Setiap lomba guru pasti menunjuk anak yang pandai dan setengah pandai. Karena harapan juara pasti lebih besar. Dan benar saja, beberapa kali lomba, beragam piala dibawa pulang. Kalaupun tidak juara 1, setidaknya juara 3.
Suatu hari, ada perlombaan lain. Celakanya hari itu, semua anak pandai dan setengah pandai juga sedang bertanding di tempat lain. Tinggal anak-anak yang belum pandai. Dengan berat hati Guru mengirimkan anak-anak yang belum pandai ini. Hasilnya sudah bisa diduga dari awal, gagal total. Tak satupun piala yang dibawa ke sekolah. Guru kecewa, semuanya juga kecewa. Komite sekolah juga marah besar. Terlebih sekolah selalu mengutamakan "piala-piala lomba". Ada sebuah kebanggan tersendiri katanya.
Pada akhirnya, supaya terus membawa pulang piala, anak-anak yang belum pandai tidak diikutsertakan. Kalaupun diajak, mereka hanya bertugas sebagai cheerleader alias suporter saja. Ikut menggembirakan. Meski mereka sendiri entah gembira atau tidak. Jika demikian, kapan mereka "naik kelas?"
Tuesday, November 14, 2017
Ya Wis
Sebuah ruang segi 4. Kami berbanjar membentuk huruf L. Lengkap dengan meja kursi juga camilan. Di depan tertera laptop juga proyektor. Tak lupa meja kursi untuk orator. Satu per satu kami bahas. Semuanya yang disampaikan tak ada yang salah. Cenderung normatif, jika tidak bisa dibilang miskin inovasi. Cenderung datar, kelihatan tak terarah. Mungkin karena memang tidak mempersiapkan bahan. Ketika sesi masukan digelar, tak sedikit yang mengacungkan jari. Sepertinya semua lebih tertarik mencicipi camilan. Satu dua akhirnya menimpali. Memberi input juga revisi.
Saya yang sedari tadi menyimak akhirnya menerima giliran. Sedikit agak keras saya mulai mempertanyakan satu per satu yang tadi disampaikan. Memang agak detail. Karena saya merasa ada yang janggal. Bisa jadi agak tinggi nadanya. Semua saya lakukan demi kebaikan bersama. Terlebih ini menyangkut masa depan anak orang. Tentu kita bertanggung jawab penuh. Terlebih saya juga meyakini education is not charity. Dan sorry to say, jawaban yang saya dapat memang tidak menjawab substansi pertanyaan. Lagi-lagi, sekali lagi jawabannya mirip jawaban pejabat yang tidak pernah turun ke bawah.
Jika masukan modelnya harus bermanis-manis. Iya betul saran harus disampaikan secara sopan, tapi kalau jawabannya muter disitu-situ aja siapa yang gak mangkel?
Ya Wis.
Hmmm
Sebuah diskusi panjang. Kopi mulai terseruput. Kemebulnya masih nampak. Tapi usai belum berkesudahan. Teh tawar juga mulai di putar. Dahaga sore minta bagian. Di seberang berganti sautan. Saling menyela, mencari jawaban. Tak jua saling paham, akhirnya diam jadi renungan. Sisi sana melempar gelegar, mengganggap sisi lain tak punya kerjaan. Saling saut tak terhindarkan. Bah sampai kapan diskusi panjang tanpa jawaban?
Pastinya sering kita jumpai ilustrasi di atas. Orang lain menilai kita tiada kerjaan. Dianggapnya kita makan gaji buta. Padahal itu semua tanpa penelitian. Coba dilihat lebih seksama, apa yang dikerjakan rekan kita. Jika perlu cobalah sehari barang dua hari menjadi orang lain. Menyelami pekerjaannya, menyelami rutinitasnya, juga menyelami segala tetek bengeknya. Jangan sekali-kali menilai orang lain kalau memang tidak paham. Karena orang lain juga akan melakukan hal yang sama ke kita.
Kerjakan saja bagianmu. Karena pantatku sudah penat. Hmmm
Pastinya sering kita jumpai ilustrasi di atas. Orang lain menilai kita tiada kerjaan. Dianggapnya kita makan gaji buta. Padahal itu semua tanpa penelitian. Coba dilihat lebih seksama, apa yang dikerjakan rekan kita. Jika perlu cobalah sehari barang dua hari menjadi orang lain. Menyelami pekerjaannya, menyelami rutinitasnya, juga menyelami segala tetek bengeknya. Jangan sekali-kali menilai orang lain kalau memang tidak paham. Karena orang lain juga akan melakukan hal yang sama ke kita.
Kerjakan saja bagianmu. Karena pantatku sudah penat. Hmmm
Monday, November 13, 2017
6th Wednesary
Bila saatnya tiba,
Aku dan Kamu menjadi Kita,
Semoga tak hanya Kita demi Kita,
Tapi juga Kita demi mereka.
Aku dan Kamu menjadi Kita,
Semoga tak hanya Kita demi Kita,
Tapi juga Kita demi mereka.
Bila saatnya tiba,
Aku dan Kamu menjadi Kita,
Semoga semuanya ikut berbahagia,
Sebagaimana kita akan mengusahakannya.
Aku dan Kamu menjadi Kita,
Semoga semuanya ikut berbahagia,
Sebagaimana kita akan mengusahakannya.
Bila saatnya tiba,
Aku dan Kamu menjadi Kita,
Semoga adalah jalinan karma,
Untuk terus saling topang dalam Dharma.
Aku dan Kamu menjadi Kita,
Semoga adalah jalinan karma,
Untuk terus saling topang dalam Dharma.
(Sumber: undangan pernikahan, puisi by Ivana Chang )
Friday, April 7, 2017
Terserah
Terserah. Kata ini sering saya jumpai. Mau makan apa? Terserah. Mau minum apa? Terserah. Mau lewat mana? Terserah. Mau pilih yang mana? Terserah. Terserah dalam KBBI online salah satu padanannya adalah masa bodoh. Dan di sebuah pagi, kata ini juga kembali saya temui.
Pagi itu, saya dihampiri seorang remaja. Sebut saja namanya Andi. Perawakannya agak tinggi besar. Tergopoh dia menenteng tas ransel untuk masuk ke ruangan. Layaknya mahasiswa yang akan segera habis masa studinya, ia mengutarakan niat untuk magang di kantor kami. Dia studi di salah satu kampus penyiaran di kawasan Daan Mogot.
Tiba di ruangan, saya coba menyelami apa yang menjadi kebutuhannya, demikian juga saya menyampaikan kebutuhan yang kami inginkan.
Saya (S): Apa yang kamu inginkan di magang ini?
Andi (A): apa ya Pak?
S: Kamu mau belajar apa?
A: Gak tahu Pak
S: Kamu mau di bagian apa?
A: Apa saja.
S: Apa yang kamu ingin dapatkan dari magang ini?
A: Apa ya Pak? (jawabnya kebingungan)
S: Kamu kan belajar tentang penyiaran, lha kamu sendiri apa yang ingin dipelajari?
A: Saya ingin jadi kameraman Pak
S: Kalau itu kebijakan kami tidak bisa, karena yang pegang kamera harus karyawan. Karena kalau anak magang terlalu riskan, terlebih alatnya kan mahal. Nanti kalau rusak bagaimana pertanggunjawabannya?
A: Oh gitu ya Pak
S: Iya
A: Kalau jadi switcherman bisa Pak?
S: Tidak bisa juga untuk anak magang.
A: Jadi apa ya? Saya juga bingung.
S: Oke begini saja, kamu tolong pulang dulu, coba renungkan dulu, sebetulnya tujuan magang kamu apa? Apa cuma sekedar cari nilai? Atau yang lain? Sebab kalau hanya cari nilai saja, sayang waktunya.
A: Oh gitu ya Pak
S: Iya, ini email saya (saya menuliskan email di surat pengantar magangnya). Tolong email saya apa yang kamu inginkan selama magang. Saya tunggu sampai besok siang ya.
Besoknya dia email dan segera saya balas untuk keesokan paginya untuk datang lagi. Tapi sampai sekarang tidak kelihatan batang hidungnya. Dalam hati, saya juga ternyata bilang "terserah". Hahahah.
Subscribe to:
Posts (Atom)