Monday, December 26, 2016

Resolusi 2017

Jelang akhir tahun 2016 biasa kita pakai untuk me-review dan membuat resolusi. Beberapa hal yang menjadi resolusi saya tahun 2017:

1. Melunasi hutang. Buddha pernah mengatakan, salah satu kebahagiaan di dunia adalah mereka yang tidak memiliki hutang.
2, Membangun rumah 11A. Semoga segera bisa dimulai, sehingga diperdayakan lebih lanjut.
3. Membeli kendaraan sendiri. Sehingga mobilitas keluarga dan usaha lebih maksimal.
4. Memiliki anak lagi. Biar rumah makin ramai, terlebih Dhira juga sudah 4 tahun. Jarak yang cukup ideal mengingat usia kami juga makin menua.

Semoga terealisasi. Tabik.


Tuesday, July 12, 2016

Discrupt

Beberapa kali, saya dan keluarga menggunakan jasa transportasi berbasis aplikasi. Baik gojek, grabike, bahkan grabcar. Semuanya sangat mudah. Tinggal pencet, isi tujuan, selesai urusan. Pengemudi segera datang. Sangat sederhana. Yang paling menyenangkan, tarif langsung tertera. Tidak perlu lagi takut argo bengkak karena kemacetan. 

Dari cerita driver grabcar yang pernah kami naiki, nadanya penuh semangat semua. Mobilnya juga bagus, pelayanannya juga ramah. Perjalanan makin terasa mengasyikkan bukan hanya driver yang ramah berbincang, tapi juga aplikasi penunjuk tujuan, sehingga tak khawatir nyasar atau diputar-putar. Dari obrolan ini ternyata banyak driver yang menjalankan aktivitas ini sebagai pekerjaan sampingan. Meski sampingan, jangan diremehkan penghasilannya. Yang rajin, bahkan bisa dapat 15-20 juta sebulan. Sebuah angka yang tidak kecil. Bahkan banyak yang berani membeli mobil baru dengan kredit yang dicicil dari hasil menjadi driver. Tak hanya didominasi laki-laki, driver aplikasi online juga banyak yang perempuan. Seperti yang terakhir saya alami. Sebut saja Mbak Jeni. Pekerjaan utamanya adalah agen asuransi. Menjadi driver dilakukan untuk mengisi waktu luang. "Sembari pulang kantor, cari duit di jalan mas" ujarnya terkekeh. 

Ramainya pro kontra transportasi konvensional dengan berbasis aplikasi menarik disimak sebagai sebuah pembelajaran. Bukan cuma pembelajaran bisnis, tapi juga pembelajaran hidup. Dunia yang makin berkembang dengan serangkaian tuntutan manusia di dalamnya, membuat banyak terobosan. Mobilitas manusia Jakarta yang tinggi dengan segala sengkarut transportasinya membuat transportasi online diminati. Sesuai prinsip ekonomi, ada supply ada demand

Discrupt adalah istilah yang banyak dibahas terkait fenomena bisnis aplikasi ini. Discrupt saya pahami sebagai terobosan untuk memecahkan masalah. Selain itu juga sebagai "pengganggu" bagi model bisnis konvensional. Ojek konvensional yang menunggu penumpang di gang jalan, tentu berbeda dengan ojek aplikasi yang jemput bola. Taksi konvensional beradu dengan grabcar yang tidak naik argo meski macet. 

Singkat kata, pilihannya kini cuma dua. Berinovasi atau mati! 


Monday, June 20, 2016

Rumah Duka

Saya termasuk yang memilih ke rumah duka daripada pergi kondangan. Entah kenapa. Dan entah sejak kapan kebiasaan ini terjadi. Tapi hal ini sudah lama saya lakukan. Di rumah duka biasa kita bertemu dengan orang beraneka rupa. Ngobrol sana-sini tanpa henti. Biasa ditemani kacang dan kuaci. Dua makanan wajib di rumah duka. Kadang ditambah roti dan jeruk, juga bubur ayam.  Rumah dukalah yang mempertemukan semua orang. Dari sejawat, kawan, bahkan termasuk orang-orang yang selama ini bersilang pendapat. Mendiang Pak Krish bahkan pernah berkelakar, rumah dukalah yang mempertemukan orang yang selama ini bermusuhan.  Dari rumah duka saya belajar belajar ketidakkekalan. Kita tidak tahu kapan giliran kita. Kita tidak bisa menawar atau mengulur waktu. Kita juga tidak bisa meminta injury time sama wasit "kehidupan". Dari rumah duka juga, saya selalu belajar "menyiapkan" diri sebaik-baiknya. Ketidakkekalan tidak mengenal usia, tidak mengenal kaya atau miskin. Juga tidak mengenal pangkat. Semua yang dilahirkan, pasti akan mengalami ketidakkekalan ini. Bahkan jauh hari Buddha mengatakan kelahiran adalah awal kematian. Rumah duka pulalah yang mengajarkan saya bahwa setiap hari, setiap detik, jatah hidup kita berkurang. Karena waktu terus berdentang ke depan. Tidak ada yang bisa diulang. Makanya manfaatkan setiap detik yang kita punya dengan hal yang bermanfaat. Sebab kita tidak tahu “detik” ke berapa jatah kita akan berhenti. “Detik” semuanya berhenti, meski tangisan mengiringi.



Monday, March 7, 2016

Sugeng tindak Pak Krish...

Kabar duka pagi itu tertera di salah satu grup wa yang saya ikuti. Pak Krishnanda Wijaya Mukti berpulang, setelah beberapa tahun terakhir bergulat dengan kanker hati. Sosoknya tak asing bagi umat Buddha, terlebih saya. Setidaknya 6thn umur saya secara formal berada di bawah bimbingannya, karena sejak SMP-SMA saya menjadi penerima beasiswa Lembaga Yayasan Dharma Pembangunan, salah satu dari sekian banyak organisasi sosial yang beliau dirikan. Perkenalan saya dengan dokter yang akrab disapa Pak Krish ini bermula ketika liburan ke Jakarta setelah lulus SD di kampung. Ketika itu bersama kakak saya yang pertama, Pak Krish menanyakan apakah saya mau sekolah di Jakarta? Seketika saya menjawab "tidak" sambil sesunggukan. Karena saya memang tidak ada rencana sekolah di Jakarta. Saya cuma mau liburan saja barang beberapa hari. 

Singkat cerita, pada akhirnya saya bersekolah di SMP-SMA Triratna, sekolah dimana Pak Krish menjadi ketua yayasannya hingga akhir hayat beliau. Di sela-sela mengurus sekolah, Pak Krish juga membuka praktek dokter di jl Kerajinan Dalam, Tamansari, Jakarta Barat. Di rumah inilah sebagian besar anak-anak asuhnya yang berasal dari daerah tinggal. Ada satu cerita yang saya masih ingat ketika masih menjadi anak asuhnya. Tiba-tiba, sabtu malam selepas praktek, saya diajak untuk menginap dirumahnya di kawasan percetakan negara. Begitu tiba di rumah, saya diajak makan bersama sekeluarga dalam satu meja. Dengan kikuk saya lahap pelan-pelan makanan di piring. Selesai makan, kami nonton film bersama. Film silat. Setelah itu, saya disuruh tidur dengan putra bungsunya, Brian. Minggu pagi, saya diajak membantu bersih-bersih rumahnya yang agak besar. Dari menyapu, menyabut rumput, dll. Siangnya, kami berdua menuju Bogor. Disana Pak Krish diminta untuk mengisi kegiatan mahasiswa. Sempat salah masuk pintu tol, kami akhirnya tiba di daerah yang sejuk, yang belakangan saya baru ketahui bernama Puncak. Saya tidak ingat apa materi yang disampaikan. Tapi yang saya ingat, banyak mahasiswa yang terkesima dengan materi dari Pak Krish. Pengalaman yang luar biasa untuk seorang anak desa. Pengalaman yang baru bisa saya pahami ketika aktif di HIKMAHBUDHI. 

Lepas SMA, saya sempat kuliah di Semarang, sebelum akhirnya kembali lagi ke Jakarta. Dan lagi-lagi saya bersinggungan dengan Pak Krish karena indekost di rumahnya. Di rumah inilah sering menjadi titik diskusi warna-warni. Meski sederhana dan kebanjiran, hampir semua penghuninya betah. Bahkan ada kelakar diantara kami, "jika bukan karena married, gak akan pindah". Entah kondisinya sekarang.  

Sesekali saya masih bertemu Pak Krish. Perhatiannya terhadap dunia pendidikan tak usah diragukan lagi. Juga kepedulian sosial lainnya. Banyak orang yang kehilangan. Banyak juga yang merasa terbantu karena keberadaannya. 

Semoga jasa-jasa kebajikan beliau, mengkondisikan terlahir di alam yang lebih bahagia hingga menuju pembebasan abadi. 

Sugeng tindak Pak Krish. Terima kasih sudah menjadi guru dan orang tua bagi kami semua. 


Wednesday, December 30, 2015

Makanan Sisa

Sebuah siang di rumah makan. "Habiskan saja lauknya, gak usah nasinya". Kita pasti sering dengar hal ini. Nasi selalu dianggap remeh. Seremeh orang yang makan nasi. Padahal sebagai orang Indonesia sering belum makan, kalau belum ketemu nasi. Membuang nasi sudah menjadi kelumrahan. Tidak ada perasaan bersalah sama sekali. Sangat enteng. Padahal jika ditelusuri begitu panjang proses untuk membuat sebutir nasi. Paling cepat 3-4 bulan lamanya membuat bibit padi menjadi gabah yang siap panen. Setelah itu harus dijemur beberapa hari, baru bisa digiling menjadi beras. Dalam masa tanam dibutuhkan air yang cukup, pupuk yang cukup. Belum lagi tenaga petani yang seringkali diabaikan dalam rantai produksi beras. Entah sudah berapa peluh yang keluar dalam proses membuat sebutir beras. Serangan wereng, tikus, dan hama lainnya juga mewarnai rangkaian panjang perjalanan sebutir beras. 

***

Sementara di lain waktu, sarapan pagi sebuah keluarga baru saja usai. Menu pagi itu soto ayam, yang ada nasinya juga. Sotonya hampir tandas sampai dasar mangkok. Tapi nasi masih tersisa hampir separo piring. Celakanya bukan cuma satu piring, tapi hampir semua piring sekeluarga berjumlah 4 orang ini. Ini baru sekali makan. Kalau sehari makan 3 kali, entah sudah berapa kilo nasi hasil peluh petani berbulan-bulan berakhir di tempat sampah. Sementara itu keberadaan kulkas memacu kita untuk belanja lebih banyak lagi karena bisa disimpan. Padahal kita juga sering lupa apa saja yang kita beli. Ujung-ujungnya, bahan makanan ini juga segera menuju tempat sampah. 

***

Setiap ke rumah makan, saya juga sering menjumpai kejadian serupa. Ini baru sebatas persoalan nasi. Belum makanan sisa yang lain, termasuk air, sayur, buah, roti, kopi, teh, dll. Sebuah penelitian pernah merilis bahwa hampir 60% total konsumsi kita ternyata berakhir di tempat sampah. Artinya kita tidak pernah benar-benar menghabiskan makanan yang kita pesan/beli. Beli makan, tidak habis. Beli air kemasan juga bersisa. Dengan uang kita bisa membeli diluar batas kemampuan konsumsi tubuh kita. Padahal alam, petani, tukang sayur, dll sudah banyak berkorban untuk memenuhi kebutuhan kita. "Yah ternyata kebanyakan porsinya, yah udah keburu kenyang, dll", menjadi serangkaian pembenaran yang sering kita lakukan. "Lebih baik nambah daripada gak habis" begitu nasehat orang tua yang sering saya dengar. Ungkapan ini bisa kita terapkan dalam berkonsumsi. Bahkan alm Mbah Suko, petani yang berhasil mengembangkan 39 jenis varietas padi lokal di Magelang pernah mengatakan bahwa sebutir nasi akan menangis jika tidak ikut masuk ke dalam perut bersama teman-temannya, karena masuk ke perut sama artinya masuk ke surga. "Jika begitu lantas apa kita tega meninggalkan sebutir nasi sendirian" ujarnya beberapa tahun silam. 

Selamat menjelang tahun baru. Jangan lupa tandaskan makananmu agar tidak berakhir di tempat sampah. 

foto: detikfood.com

Sunday, December 27, 2015

tangan di atas

Hari masih pagi ketika saya harus keluar rumah karena sebuah keperluan. Setelah urusan beres, segera kembali lagi ke rumah untuk berbenah. Belum juga pagar rumah terbuka, ada seorang wanita muda menghampiri. Sekitar 20an akhir umurnya. Perawakannya tidak tinggi, juga tidak pendek. Seorang diri tanpa tentengan apapun. Sepertinya juga berjalan tanpa arah. Bersandal jepit. Saya tidak pernah melihat sebelumnya. Persis ketika akan membuka pagar rumah, dia menghampiri. Berucap lirih, nyaris tak terdengar. Tapi dari bahasa tubuhnya saya dapat menangkap kalau dia meminta sumbangan uang. Saya pun menyampaikan kalau saya tidak bisa membantu. Saya termasuk pemilih dalam memberikan bantuan. Bukan apa-apa. Semata demi kebaikan yang saya berikan bantuan juga. Biasanya saya telisik, benar tidak yang bersangkutan memerlukan bantuan. Jangan hanya karena malas berusaha, akhirnya mencari jalan gampang menjulurkan tangan meminta bantuan. 


Ada banyak alasan sehingga saya tidak membantu. Ada banyak alasan juga saya biasanya tergerak membantu, bahkan terkadang yang bersangkutan tidak meminta sekalipun. Saya tidak akan membantu, kalau saya lihat pemohon bantuan dalam kondisi sehat bugar, masih muda juga memiliki jiwa yang waras. Bagi saya, model pertama ini, saya kategorikan sebagai "pemalas". Malas untuk mencari pekerjaan, malas untuk berusaha, malas untuk bersusah payah, malas untuk mencari. Maunya gampang bin instan. Di dunia ini mana ada yang instan? Bahkan mie instan aja harus direbus dulu. 

Model orang seperti ini harusnya belajar dari mbah-mbah di Pasar Bringharjo. Juga banyak bisa ditemui di pasar-pasar tradisional seantero negeri ini. Atau siapapun yang lebih tua tapi masih mau berusaha, mau bersusah payah, tak mau berpangku tangan. Bahkan termasuk ibu saya sekalipun. Di usia lanjut, orang-orang ini tidak mau menggantungkan dirinya kepada anaknya. Sekalipun itu bisa saja mereka lakukan. Mereka memilih untuk terus berusaha agar pikirannya selalu awas dan waras. 

foto: www.smstauhiid.com

Wednesday, July 15, 2015

Mbah Patmo

Rambutnya sebagian besar sudah memutih. Guratan keriput juga menutupi wajahnya. Topi lusuh menggantung di kepalanya yang kecil. Baju lengan panjangnya tampak kebesaran daripada tubuhnya. Demikian pula dengan celana pendeknya. Sandal jepit menyangga kakinya yang mulai rapuh. Sesekali ia duduk. Sesekali memandang sekeliling. Tanpa suara. Dia memajang mainan wayang-wayangan yang terbuat dari kertas, tepat di depan sebuah minimarket di pinggiran kota kecil, paling ujung Jepara. Ada punokawan, ada juga Arjuna dan yang lain. Di tengah menjamurnya mainan modern, Mbah Patmo masih setia dengan mainan tradisional syarat makna ini. 

Sebut saja namanya Mbah Patmo. Usianya mungkin sudah menginjak kepala 8. Tapi pendengarannya masih sangat baik. Mbah Patmo, tanpa suara menjual dagangannya. Di usia yang seharusnya dinikmati memomong cucu, Mbah Patmo masih gesit berjualan. Hasilnya memang tidak seberapa, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Selain untuk menambah pemasukan, kegiatan ini juga mengusir kejenuhannya di rumah.

Saya memutuskan membeli 2 mainan wayangnya Mbah Patmo. "Gangsal welas mas" jawabnya ketika saya tanya harga mainannya. Saya memberinya lebih sedikit dari yang seharusnya. Tiba-tiba tangan saya diraih sembari Mbah Patmo komat-kamit dalam bahasa Jawa halus yang saya tangkap sayup-sayup. Kurang lebih Mbah Patmo mendoakan yang baik-baik untuk saya dan keluarga. "Semoga Mbah Patmo banyak diberi kesehatan" ujar saya sembari pamit. 

Di jalan pulang, saya banyak memikirkan Mbah Patmo. Semangat mandirinya benar-benar menyentuh saya. Semangatnya untuk berdikari, tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain betul-betul menjadi pembelajaran tersendiri. Selamat menjelang lebaran Mbah Patmo. Semoga makin banyak rejeki dan makin sehat. Sungkem. 

Kelet, Jepara, 30 Juni