Thursday, June 13, 2013

anatta

Beberapa minggu lalu saya dan istri ke vihara. Sudah agak lama kami tidak beribadah. Kami putuskan untuk menyambangi vihara tempat kami menikah hampir 2 tahun silam, Saddhapala yang memang tak jauh dari rumah kami. Kebetulan masih dalam suasana Waisak, sebuah hari besar agama kami. Ada perasaan berbeda setiap kali menginjakkan kaki ke tempat ini. Ada damai terasa. Sandal kami letakkan di tempat yang memang sudah disiapkan. Masuk ke tempat ibadah kami memang harus bertelanjang kaki. 

Hampir setiap minggu, setiap puja bakti (sembahyang) selain baca paritta, juga ada penceramah. Hari itu kebetulan yang ceramah adalah Pak Handaka Vijjananda, founder Ehipassiko, sebuah yayasan yang banyak bergerak di bidang penerbitan, pelatihan, juga penyuluhan agama Buddha. Mom Han, biasa Pak Handaka di sapa. Semua orang yang ditemui biasa dipanggil Mom. Kenapa Mom? Meski kita seorang laki-laki? "tanya saya suatu kali. Mom Han, menyakini bahwa di kehidupan lampau, kita semua pernah menjadi seorang ibu dan pernah juga menjadi keluarga kita. Dan untuk menghormati sosok Ibu, setiap orang dia sapa "Mom".

Mom Han, selalu membawakan ceramahnya berbeda dengan yang lain. Tidak pernah duduk. Tidak pernah diam. Tapi selalu berdiri, sama seperti sedang berdemonstrasi. Mom Han, termasuk penceramah yang saya gemari. Materi yang dibawakan selalu kontekstual. Jarang sekali dia mengutip sesuatu yang diluar nalar kita. Semua disajikan segar. Jadi mudah mencerna dalam-dalam. 

Mom Han, hari itu berbicara tentang anatta. "Wah topik berat nih" batinku. Tak banyak orang yang bisa menjelaskan anatta secara gamblang, bahkan termasuk bhikkhu sekalipun. Anatta adalah salah satu dari trilogi agama Buddha selain Anicca (semua hal yang terkondisi tidak kekal) dan Dukkha (penderitaan). Anatta itu artinya tanpa ego, tanpa aku. 

Menurut Mom Han setidaknya ada 6 cara agar kita terbebas dari anatta:
1. Aku berubah, maka dunia berubah.
2. Sadari bahwa aku ini kotor.
3. Kotoran itu ada di dalam, bukan di luar.
4. Berlatih welas asih, kasihani semua makhluk.
5. Semua ini hanya pikiran yang muncul dan berlalu.
6. Ulangi ke-5 tahap ini seribu kali. 

Konsep terakhir dia pilih sebagai jawaban atas pertanyaan jika kita belum bisa melakukan step 1-5 secara sungguh-sungguh. Kalau diulangi terus apa memang tidak bisa? Jadi ingat konsep 1=21. Ternyata untuk membangun sebuah kebiasaan diperlukan 21 kali melakukan kegiatan tersebut secara berturut-turut tanpa putus. Misalnya kita mau bangun pagi setiap hari pukul 6, itu harus kita lakukan selama 21 hari berturut-turut. Niscaya kita akan bisa bangun pagi tepat jam 6 setiap harinya. Silahkan dicoba deh. He...:)

Pemahaman konsep anatta memang tidak mudah.

Monday, June 10, 2013

Pembangunan untuk Manusia (PuM)

Buku ini bagi saya masuk kategori yang relatif berat. Membaca buku karangan Sulak Sivaraksa harus memahami buah pikirnya di beberapa buku yang lain. Buku terjemahan yang diterbitkan oleh Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) dan Institut Nagarjuna ini layak untuk dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami tentang pembangunan yang tidak melulu bertumpu pada kekuatan modal, tapi bertumpu pada manusia seutuhnya.

Bab Satu tentang "Utusan Surgawi".
Sulak mengaitkan 4 peristiwa penting yang membuat Pangeran Sidharta keluar istana, dengan badai krisis yang menghantam Asia medium 1998. Jika tidak ada 4 peristiwa penting, mungkin Sidharta tidak keluar istana untuk mencari obat bagi sakit, tua, dan mati. Sementara krisis 98 telah memaksa kita semua untuk mencari pembangunan alternatif yang tidak rentan dihantam krisis. Bab ini mengkritisi bahwa pembangunan yang selama ini dibanggakan ternyata "kosong" dan ambruk diterjang krisis. Seperti yang ditulis Sulak di hal 13, bahwa janji kapitalisme untuk mewujudkan emansipasi melalui pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus, seperti yang dikatakan Jerry Mander, tiadklah masuk akal. Tidak ada yang bisa tumbuh selamanya. Semua ada batasnya. Sebelum kita semua kelewat batas menggerogoti segala hasil bumi, kita harus mengubah haluan dan membangun masa depan yang berlandaskan ada kebijaksanaan dan welas asih. Bab ini menurut saya lebih menekannya bagaimana suatu kondisi krisis dan kritis memaksa kita untuk mencari jalan lain, jalan alternatif. Kelangkaan BBM adalah "utusan surgawi". Sementara pencarian energi alternatif biodesel dari limbah salak, biopelet pengganti gas, dll adalah jalan alterantif. Sama seperti ungkapan Soe Hok Gie yang terkenal "lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan". 

Bab Dua tentang "Menciptakan Perdamaian". 
Sulak banyak membahas tentang perang yang dimotori AS. Alasan terorisme menjadi alasan kuat bagi AS untuk memberondongkan sejatanya ke segala penjuru. Terlebih paska peristiwa 9/11, dan terbukti gagal. Perang AS bukan sekedar terorisme, tapi perang dalam rangka penguasaan minyak. Sulak mengaitkan ajaran Buddha ahimsa (tanpa kekerasan) dalam bab ini. Sulak menyakini bahwa banyak cara untuk menyelesaikan peperangan. Dialog adalah kata kuncinya. Bahkan Sulak dengan tegas mengatakan daripada membelah dunia menjadi baik dan jahat, yang paling utama, kita harus melihat orang lain sebagai sesama umat manusia.

Menengok ke Indonesia, bab ini menggiring kita pada angka APBN yang menganggarkan lebih besar untuk pertahanan dibandingkan kesehatan, bahkan pendidikan. Itu artinya negara lebih memilih berdamai dengan cara membeli lebih banyak senjata daripada memperkuat kapasitas rakyatnya pentingnya sebuah perdamaian. Belum lagi soal rencana departemen pertahanan yang mengusulkan untuk diadakan satuan cadangan organik alias wajib militer yang sampai hari ini masih terus diperdebatkan. 

Bab Tiga, "Pembangunan dari Bawah ke Atas". 
Bab ini banyak menyoroti ketidakberdayaan golongan bawah. Petani yang beralih profesi berbondong menyerbu kota untuk sekedar bertahan hidup, ketika tanah garapan tak lagi menjanjikan. Belum lagi banyaknya tanah petani yang berpindah tangan ke petani berdasi. Ujungnya petani tak memiliki posisi tawar dalam hal menentukan harga pasar, harga sewa, dan upah harian. Pembangunan yang tidak merata juga jadi sebab ketidakberdayaan mereka. Meminjam pendapat Kwik Kian Gie beberapa tahun silam, golongan bawah, sebetulnya memiliki banyak potensi. Masalahnya adalah kesempatan mereka mengembangkan potensi tersebut yang tidak tersalurkan, terlebih dalam era globalisasi sekarang ini. Kesempatan menjadi kata kunci dalam menguatkan pembangunan yang berasal dari bawah. Pembangunan yang top down hanya akan menciptakan manusia robot yang patuh terhadap remote control. Yang programnya belum tentu dimaui oleh masyarakat, yang pada akhirnya pembangunan tersebut belum tentu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pembangunan macam ini hanya akan menghamburkan uang rakyat. Sudah waktunya kembali pada pembangunan bottom up. Masyarakatlah yang membangun dirinya sendiri. Karena masyarakatlah yang paham betul kebutuhan pembangunannya. 

Bab Empat, "Reka Ulang Pendidikan". 
Pendidikan dewasa ini telah menjadi sangat sempit wawasannya. Kita meraih gelar hanya semata-mata untuk mencari pekerjaan dengan upah tinggi. Richard Rodriguez mengatakan "Pendidikan membutuhkan reformasi diri yang radikal". Tugas universitas bukanlah mengajar, khususnya mengajar mahasiswa/i menjadi sekelompok kelas masyarakat yang spesial, istimewa. Memberi pelajaran dan melatih para murid-mengembangkan kemampuan dasar-seharusnya menjadi tugas sekolah dasar dan menengah. Universitas harusnya memprioritaskan pembelajaran sebagai prioritas utamanya. Sebab banyak pendidikan tinggi yang hanya menghasilkan para pelayan bagi penguasa, bukan menghasilkan individu rakyat yang penuh welas asih dan bertanggung jawab. 

Bab ini membawa kita kepada pemahaman bahwa dunia universitas berbeda sekali dengan dunia sekolah. Artinya kita tidak cukup hanya belajar. Rute hidup kita tidak cukup rumah/kost -  kampus saja. Rute hidup kita harus banyak, karena tidak semua yang nanti kita butuhkan terpenuhi oleh dunia kampus. Nilai tinggi, tidak menjamin kesuksesan kita kelak setelah dunia kampus berakhir. Justru proses pembelajaran yang kita lakukan di sela-sela menikmati dunia kampus yang serba dinamislah yang akan menuntun kita, ke arah mana kita kelak. Bahkan Sulak secara provokatif mengatakan pendidikan yang bersifat praktikal dan komtemplatif adalah jantung pembangunan perdamaian. 

Bab Lima, "Pemerintahan Berbasis Moral". 
Di bab ini Sulak mengatakan para penguasa haruslah tulus dan rendah hati, mau belajar dari setiap orang yang ia temui sepanjang hidupnya, bukan hanya mau menemui para teknokrat, pengusaha, dan mereka yang memiliki hak istimewa. Penyalahgunaan kekuasaan mewakili kebencian dan akumulasi harta kekayaan berlebihan mewakili keserakahan. Apabila keserakahan menjadi akar dari sebuah pemerintahan, institusi tersebut akan dengan cepat hanyut daam perangkap budaya konsumerisme dan sangatlah rentan untuk dimanipulasi oleh para pelobi dan politikus lainnya. 

Hal lain yang lebih buruk dari keserakahan dan kebencian adalah ketidaktahuan. Seorang pemimpin seharusnya bertindak dengan sikap tercerahkan, menerangi jalan menuju pemahaman holistik, sembari mengijinkan adanya perbedaan pendapat dan kritik. Artinya, seorang pemimpin itu seharusnya bersedia dikritik. Sebab kritik membantu seorang pemimpin mempersempit hak istimewanya dan menumbuhkan rasa tanggung jawabnya. 

Pemerintah yang amanah adalah yang mau mendengar dengan hati apa yang menjadi kebutuhan masyarakatnya. Mau menerima kritik. Mau mendengar kritik. Itulah pemimpin yang sejati. Bukannya justru bersembunyi, mengurung diri terhadap kritik. Atau justru berkeluh kesah terhadap kritik yang ditujukannya seolah-olah ia terzolimi oleh kritik tersebut. Jika mau memimpin, tetapi mengapa tidak mau dikritik?

Bab Enam, "Keamanan yang Sesungguhnya".
Janji pembebasan oleh kaum kapitalis melalui pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kemajuan teknologi terbukti mustahil. Tidak ada perekonomian yang dapat terus tumbuh besar selamanya. Kemajuan teknologi bukanlah tanpa batas. Kapitalisme mensyaratkan kekayaan yang terus bertumbuh. Dalam kenyataannya, pertumbuhan ekonomi juga ikut melebarkan kesenjarangan jurang pendapatan. Visi masa depan yang berkesinambungan tidak bisa berakar pada mitos pembebasan kaum kapitalis. Masa depan semestinya dibangun atas dasar kearifan dan budaya tradisional. Masa depan dunia haruslah mencakup persepektif mengenai kesalingterikatan, yakni sebuah dunia yang dibangun atas prinsip-prinsip perdamaian, tanpa kekerasan, dan keadilan bagi semua makhluk. Kebijaksanaan yang sejati berasal dari kelapa dan hati kita. Ketika kita menyelami penderitaan diri kita dan orang lain, ketika kita bernafas dengan penuh kesadaran sepanjang hari, perdamaian dan kebahagiaan akan muncul dan kita dapat berbagi rasa damai ini dengan lainnya. Ini merupakan fondasi keamanan yang sesungguhnya.

Bab Tujuh, "Buddhisme dalam Dunia yang Berubah".
Setiap hari, puluhan ribu orang mati kelaparan di dunia yang berlimpah dengan makanan. Sistem ekonomi global menguntungkan segelintir kelompok minoritas, sementara semakin banyak orang terjerumus dalam kemiskinan. Dua puluh persen penduduk dunia mengendalikan lebih dari 80 persen kekayaan dunia. Kekuatan ekonomi globalisasi, yang dimotori IMF dan Bank Dunia tidak hanya menjerumuskan jutaan orang ke dalam kemiskinan, tetapi juga menciptakan lahan untuk mengembangbiakkan keserakahan, yang menjadi pemicu kekerasan. 

Ajaran Buddha menawarkan banyak cara untuk meringankan penderitaan dunia. Pada tingkat politik, sikap berkesadaran dapat membantu usaha kita dalam melawan budaya konsumerisme, perlakuan tidak adil terhadap perempuan, militerisme, dan paham-paham lainnya yang dapat merusak integritas kehidupan. Kesadaran dapat menjadi sarana dalam membantu kita mengkritisi masyarakat, negara, dan bahkan tradisi budaya dan agama kita secara positif dan kreatif. Daripada membenci penindas kita, lebih baik membongkar sistem yang menindas. Ada dorongan besar untuk perubahan. Dan saatnya mengutamakan manusia. 

Bab Delapan, "Nafas Perdamaian".
Sulak pada bab ini menegaskan peran penting keterlibatan agama dalam beragam masalah sosial. Betul bahwa diri sendirilah yang pertama melakukan transformasi, namun hal ini tidak serta merta harus memisahkan diri terhadap transformasi lingkungan sosial. Justru keduanya berjalan beriringan. Ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan, karena keduanya saling menguatkan. Perubahan sosial dan pertimbangan spiritual tidak dapat dipisahkan. Agama terletak pada jantung perubahan sosial, dan perubahan sosial adalah intisari agama.  

Menurut saya, kelemahan buku yang sangat padat isinya adalah contoh konkret dari setiap babnya. Termasuk contoh konkret keterlibatan Buddhis dalam membendung proyek pembangunan ala Bank Dunia atau IMF. Ibarat masakan khas Thailand, Tom Nyam, dimana Sulak berasal, buku ini lebih terasa Thailandnya, jadi perlu kerja keras untuk menyesuaikan dengan lidah orang Indonesia. 

Tuesday, June 4, 2013

Buat apa marah?

BBM pesanan saya terima dalam-dalam. Tertera alamat sang pemesan. Sebuah perumahan elit. Tercatat jelas di otak rute yang harus dilalui. Jika tersasar, gampang, tanya saja satpam. Buku yang pernah saya baca tentang konsumen, mengatakan bahwa konsumen itu adalah raja. Buku juga bilang jika kita berjanji dengan konsumen hari kamis, tetapi hari selasa atau rabu kita bisa mengirim barangnya, konsumen akan puas dengan pelayanan kita. Customer satisfaction bahasa kerennya. 

Dengan maksud menerapkan teori buku itu, saya mengantarkan pesanan hari senin. Saya memang janji mengantarkan pesanannya hari rabu, tapi senin malam saya berusaha mengantarkan dengan harapan memberi "kejutan". Kebetulan senin malam juga mengantar ke arah yang sama. Sempat tersasar, tapi beruntung satpam sigap memberi jawaban. 

Tak ada bel di rumah mewah itu. Beberapa kali di panggil juga tak ada sautan. Beruntung sang tuan rumah membuat spanduk usahanya di teras. 08xxxxx saya pencet. Lama terhubung, akhirnya diangkat juga. Saya ucapkan salam dan memberi tahu maksud kedatangan. Saya juga minta maaf jika malam-malam datang mengganggu. Di ujung telpon, sang tuan rumah tidak berkenan menerima barang pesanannya. Alasannya kok malam-malam? "Saya pamali menerima pesanan malam-malam" ujarnya di seberang sana. Saya lihat jam belum genap bergeser dari angka 8. "Padahal masih pagi" gundah saya. HP saya tutup. Tak lupa saya meminta maaf lagi. "Kejutan" yang saya siapkan ternyata "mengejutkan" saya sendiri. Di jalan arah pulang, saya sempatkan berhenti sejenak. Mengirim pesan pendek meminta maaf lagi. Saya juga sampaikan jika memang tidak jadi membeli barangnya, tidak jadi soal.

Sepanjang jalan arah pulang saya banyak berpikir. Awalnya saya kecewa sekaligus marah. Marah terhadap situasi. Marah terhadap diri sendiri. Tapi lamat laun, saya juga menyadari ternyata marah tidak menyelesaikan masalah. Saya malam itu belajar apa arti sebuah konfirmasi. "Jika memang sudah rejeki, gak akan kemana" batinku yakin. Sesampai di rumah, pesan pendek masuk lagi dari sang tuan rumah itu. "Kalau Anda tidak berminat jual juga gak papa" begitu bunyi pesannya. Saya berusaha memahami maksud pesan itu. Saya sudah tidak lagi memendam amarah. Saya release, saya legowo, apapun yang akan terjadi. Akhirnya saya bersepakat untuk mengirim barang pesanannya selasa pagi, jam 8an. Dan tepat hampir setengah 9 saya mengirimkan. Rupanya sang tuan rumah sudah menunggu. Barang saya serahkan sambil (sekali lagi) minta maaf. Sang tuan rumah terlihat masih menyimpan "kekesalan" semalam. "Makanya kalau mau antar jangan malam-malam" ujarnya. Saya amini ucapannya dengan anggukan pertanda setuju. Dia menyerahkan uang 50,000. Lalu saya kembalikan 6,000 karena harganya memang 44,000. Sebelum saya beranjak dia sempat tanya ini itu. "Mungkin basa-basi" batinku. Ketika saya akan melangkah, dia mengatakan untuk mengambil kembalian 6,000 sebagai biaya kirim. Saya menolaknya. Saya kasih tahu, kalau harga itu sudah termasuk ongkos kirim. Pagi itu saya belajar #integritas. Terserah dia mau berkomentar apa terhadap penolakan saya. Itu sikap saya. Dan sikap saya tidak bisa dibeli oleh sang tuan rumah.

Sejak kejadian semalam hingga pagi saya belajar banyak hal. Ternyata beda manusia, beda keinginan. Beda kepala, beda pula perlakuannya. Jadi ingat pelajaran pertama Mom Han di vihara beberapa waktu lalu. Kalau kita berubah, maka dunia berubah. All is Well. Gitu aja kok repot!

 

 

Monday, May 13, 2013

Orang Mana?

Hari itu tukang datang memeriksa rumah. Sayang jelang magrib datangnya. Jadi gak bisa memeriksa tuntas. Sejak hujan kemarin, bagian gudang kerap bocor. Sudah ganti 3 tukang tapi belum juga beres. Akhirnya kami hanya bisa memeriksa dari jalan depan rumah. Dari kejauhan dia meraba kerusakan atap. Juga berhitung perkiraan biaya. 

"Biayanya sejutaan nih mas" ujarnya. 
"Mahal juga ya mas" timpalku. Dari logatnya aku bisa menebak darimana tukang ini berasal. Logatnya yang medok tak bisa menutupi badannya yang bongsor. 
"Mas tiyang Jawi to? Jawine pundi mas" tanyaku yakin. 
"Semarang mas" balasnya. 
Karena lumayan lama di Semarang, aku lantas membalas. "Semarange pundi mas?"
"MRANGGEN mas" ujar si tukang. 

Hah? Mranggen itu nDemak mas, bukan Semarang, sergahku. "Lha Mranggen kan Semarang maju dikit mas" ujarnya mencairkan suasana. 

Kepala lalu berputar mencari peta Indonesia, lalu di zoom in ke Jawa Tengah, zoom ini lagi ke Semarang, geser dikit ke nDemak, lalu baru ketemu Mranggen. Puta buta sekalipun, gak ada tuh daerah Mranggen di Semarang. 

........

Pintu besi hitam tinggi menjulang. Beberapa satpam berjaga di depan, membuka dan menutup pintu pagar perumahan elit. Prosedural pertanyaan dan tujuan meluncur sebelum bertukar kartu masuk. Saatnya menuju rumah no 10. Ternyata tak jauh dari pintu masuk. Ting tong ting tong, bel garasi rumah mewah itu aku pencet. Tak lama seorang perempuan belasan tahun keluar sambil memicingkan matanya. "Cari siapa" tanyanya curiga. "Mbak saya mau antar barang pesanan nyonya" balasku. Aku kembali ke motor hitam mengambil barang lalu menyerahkannya. Tak lama, seorang pria dewasa keluar dari pintu garasi. Badannya tegap. Kumis tipis mengembang. Raut mukanya mengumbar senyum. Aku membalasnya dengan membungkukkan kepala. Aku menebak dia adalah sopir nyonya pemesan barangku. 

Pak sopir: "Mas anter apa". 
Aku: "Anter telur Pak" balasku. 
Pak sopir: "Oh sampeyan wong jowo to mas" 
Aku: "Nggih pak, lha jenengan nggih tiyang jawi pak" balasku sehalus mungkin. Maklum urusan bahasa jawa halus aku selalu dapat nomer buncit. 
Pak sopir: "Iyo mas" 
Aku: "Jawine pundi pak"  
Pak sopir: "Solo Mas"
Aku: "Solonipun pundi pak?". Kebetulan ada teman yang asalnya Solo. Kali aja deket rumahnya.
Pak sopir: "Wonogiri mas"
Aku: #$%***

Sejak kapan Wonogiri dicaplok Solo? Betul sih, Wonogiri memang bisa diakses dari Solo. Betul kalau mau ke Wonogiri harus melalui Solo. Bukannya dari Solo masih perlu 2 jam-an untuk sampai Wonogiri? Lha tapi kenapa gak bilang aja Wonogiri? Kenapa harus bilang Solo? Bukannya Wonogiri ngetop juga dengan baksonya? Liat aja di sepanjang jalan yang jualan bakso atau mie ayam, pasti yang jualan banyak dari Wonogiri. 

.....

Hari itu aku diminta ngisi di sekolah seorang kawan. Materinya tak berat. Hanya sharing-sharing ringan saja. Hampir 60an anak mengisi ruang aula di lantai 2. Hampir satu jam, sesi itu harus diakhiri. Anak-anak lumayan juga tanggapannya. Banyak juga yang bertanya. Tiba waktunya berkemas. Seorang guru yang sedari tadi menjadi moderator, menyalami mengucapkan terima kasih. 

Pak Guru: "Oh masnya itu dari Pati to". Ingatannya pasti meluncur pada slide pertama perkenalanku. 
Aku: "Iya pak". "Kalau bapak sendiri darimana".
Pak Guru: "Salatiga mas".
Aku: "Salatiganya mana pak?"
Pak Guru: "Ampel mas". 
Aku: "Lho Ampel bukannya Salatiga masih maju lagi Pak"
Pak Guru: "Iya, tapi kakek buyut saya asalnya dari Salatiga"
Aku: "Oh"

......

Sepanjang jalan aku mikir, ada apa dengan asal daerah orang-orang itu ya? Apa karena kurang terkenal? Apa akan dianggap aneh kalau kita berasal dari daerah pinggiran yang kalah terkenal? Lalu, kalau bukan kita sendiri sebagai yang bikin terkenal, siapa lagi? Jadi kamu orang mana? 

####


Ubai

Badannya agak gemuk. Beberapa rambut putih mulai memenuhi kepalanya yang bulat. Kulit mukanya legam terpapar matahari, begitu juga cover penangkal angin yang dia pakai naik motor Lebak-Depok saban minggunya. Tergopoh dia menghampiri saya, tepat diujung jalan keluar perumahannya. Kami berjabat tangan erat. Senyumnya masih sama, sejak pertama kali kami bertemu dua tahunan lalu. 

Ubaidilah Muchtar namanya. Mas Ubai biasa saya sapa. Tugas negara sebagai tenaga pengajar membawanya terdampar di pedalaman Lebak, Banten, tepatnya desa Ciseel. Pertama kali kesana, sungguh pengalaman tiada banding. Setelah terguncang 5 jam menyusuri Jakarta arah Rangkas Bitung via Bogor, mobil kami terhenti di sebuah pasar tradisional. Perjalanan berakhir? Ternyata belum. Perjalanan harus kami lanjutkan dengan naik ojek. Sekali jalan tarifnya 50rb. Sepanjang jalan, udara sejuk terasa. Pemandangan alam nan indah khas Indonesia menyegarkan mata. Tukang ojek beberapa kali mengerem laju motornya, menuruni curamnya jalanan setapak. Kanan tebing tinggi, sebelah kiri selurus terlihat sungai mengalir air jernih. Kondisi jalan mirip arena offroad. Beberapa kali, harus turun dari motor, biar selamat. 45 menit kemudian kami tiba di desa Ciseel. Papan bertulis "Taman Baca Multatuli" menyambut. Banyak rumah sederhana di sekitarnya. Adat Badui kental terlihat. Rumah panggung sederhana menjadi bukti. Aliran sungai jernih gemericik memanggil. Sesekali burung riang bernyanyi. Damai sekali. 

Mas Ubai memanggil masuk rumah bacanya. Sederet buku baca lengkap tertata rapi di rak sederhana. Novel, majalah, buku cerita menghiasi rumah baca sekaligus kontrakan Mas Ubai. Tapi yang berbeda di rumah baca ini terdapat beberapa koleksi novel Max Havelaar. Sebuah novel yang saya sendiri belum pernah Baca! Mas Ubai bercerita bahwa novel Max Havelaar inilah yang menjadi "motor" rumah bacanya. Max Havelaar alias Multatuli pernah berdinas di Lebak sebagai gubernur Belanda meski singkat. Multatulilah yang menulis tentang politik balas budi, meski dia sendiri harus mendekam di penjara. Di rumah baca ini, Ubai mengajak anak didiknya untuk membaca novel Max Havelaar. Secara bergantian anak-anak diajak untuk membaca lalu meresapi makna novel kelas dunia ini.

Obrolan sore itu ditemani jengkol goreng. Ubai tentu tanpa alasan membawa "semangat" Multatuli. Lebih dari 60 tahun merdeka, desa Ciseel, yang masih berada di pulau Jawa tak teraliri listrik. Kegelapan sudah menjadi teman setia anak-anak Ciseel sekian lama. Hal inilah yang mematik Ubai untuk berpikir keras mencari hiburan untuk anak didiknya. Sepulang sekolah anak-anak dipersilahkan membaca apapun yang ada di rumah baca Multatuli. Anak-anak biasanya disana sampai menjelang magrib. Selepas baca novel, anak-anak dibiasakan menulis perasaannya. "Nanti kalau saya jadi pejabat, saya tidak akan semena-mena terhadap masyarakat", itu salah satu tulisan anaknya. Sebuah ungkapan jujur melihat tingkah polah banyak pejabat yang menyengsarakan rakyatnya, bukan hanya sejak jaman belanda, tapi hingga sekarang!

Perjuangan Ubai mendidik anak-anaknya tak hanya berhenti di taman baca. Sesekali Ubai membawa anak-anak ini turun desa, menengok dan mengenalkan jejak Multatuli di sekitar Lebak. Banyak pengalaman disini. Turun desa adalah pengalaman sebagian besar anak-anak Ubai. Tak banyak mereka yang menginjakkan kaki di luar desanya, mengingat biaya transportasi yang mahal. 

2 tahun berselang, dan kami bertemu lagi. Mas Ubai bercerita kalau anak-anak sekarang makin giat membaca. Tambahan koleksi bukunya makin bertambah. Berita yang menggembirakan, listrik akhirnya bisa mengalir ke desa ini. Sebuah berita besar untuk desa yang sudah gelap puluhan tahun. Ubai sendiri sudah jauh hari memberi terang bagi desa Ciseel. Jauh lebih terang dari bantuan listrik negara. 

Selain listrik, Ubai juga cerita kalau di desa ini ada tenaga pengajar dari Indonesia Mengajar yang digagas Pak Anies Baswedan. Lebak adalah satu-satunya daerah di Pulau Jawa yang ada Indonesia Mengajar (IM). Biasanya IM ditempatkan dipelosok-pelosok negeri. Tapi atas permintaan pemerintah setempat, IM diminta untuk mengajar.  Artinya pemerintahannya sendiri sadar diri. #syukurdeh

Hari itu, saya menyerahkan buku-buku bekas kiriman dari orang. Kumpulan majalah yang sayang jika harus berakhir di pemulung. Pasti menjadi bahan bacaan berharga untuk anak-anak Ciseel. Sebelumnya seorang kawan juga meminta untuk membongkar 1 lemari koleksi komiknya sejak SMP. Semoga anak-anak Ciseel terus bisa maju, menjadi penerang untuk sesama. Seperti yang dilakukan Mas Ubai. Semoga suatu saat bisa berkunjung lagi ke Ciseel.


Friday, May 3, 2013

Manusia Robot

Sebuah pagi di bank. Anak muda tergesa. Satpam sigap membuka pintu dan memberi salam. Senyum customer servise menghangatkan pagi. Gincu merah dan kerudung kombinasi serasi hari itu. Anak muda bergegas menyeret langkah menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendapat penjelasan, anak muda segera membuka dompet. Uang beberapa lembar sudah berpindah ke tangan CS. "Paling lama satu minggu surat perjanjiannya sudah selesai Pak" ujarnya. 

Seminggu berselang, Dua minggu terlewat. Anak muda tersadar surat perjanjian belum kunjung tiba. Segera pula ia telpon. Di ujung seberang, CS menjawab jika surat perjanjiannya masih dalam proses. "Masak surat sepenting itu harus butuh waktu yang lama" batin anak muda. Percakapan dan perdebatan terjadi diujung telpon. CS menjawab sekenanya. "Pimpinan sedang tidak ditempat, petugasnya sedang keluar kantor, dst dst, terdengar meluncur dari mulut cs. Anak muda agak naik pitam. Sementara cs terdiam membisu. 

Terlihat wajah anak muda yang masih memendam amarah. Geram. "Kenapa gak ada inisiatif dari bank untuk memberitahu proses suratnya?" "Apakah memang harus selama ini?"

.....
Sebuah kantor suatu siang. Telepon berdering, lantas terdengar percakapan.
A: "Halo bisa bicara dengan Mbak B"
B:  "Iya ini ada apa Pak"
A: "Mbak apa sudah ada jawaban dari manajer kapan saya bisa datang ke kantor?"
B: "Wah belum ada keputusan tuh Pak?"
A: "Apa selama itu Mbak keputusannya, saya kan sudah menghubungi Mbak sejak sebulanan yang lalu, masak sampai sekarang belum ada keputusan?"
B: "Ya saya gak tahu Pak"
A: "Lha kira-kira kapan saya bisa dapat kepastiannya?"
B: "Ya saya tidak tahu Pak"
A: "Manajernya memangnya kemana Mbak?"
B: "Saya tidak tahu"
A: "Lho kok bisa gak tahu Mbak"
B: "Ya saya gak tahu"
A: #jleb

......

Sebuah SPBU di malam hari. Tak banyak mobil & motor yang isi bensin. Petugas pun hanya beberapa orang saja. Tiba giliran saya isi tangki si hitam. "Lima belas ribu Mas". Tanpa mengatakan "mulai dari nol", bensin subsidi mengalir deras ke dalam tangki hitam. Entah lelah atau tidak hati-hati, petugas spbu tidak tepat mengucurkan. Beberapa ml tumpak tak berguna. Saya sempat menjerit memperingatkan petugas untuk berhati-hati. Ajaib, tidak ada satupun kata atau kalimat keluar dari mulutnya. Hanya diam membisu. Permintaan maaf pun tak terdengar. Bahkan keinginan untuk membersihkan bensin yang tumpahpun tak ada. Uang 50rb saya sodorkan. Berharap segera berlari meninggalkan kekecewaan. Ajaib, dengan enteng petugas justru melayani kendaraan di belakang saya. Kembalian isi bensin baru saya terima setelah dia mengisi lebih dari 3 kendaraan. 
 ....

Sebuah malam di perjamuan makan pernikahan. Saya duduk di meja bulat bersama kawan. Tak banyak tamu yang diundang, hanya keluarga dan kawan dekat. Mempelai duduk manis di meja depan. Makan meja berarti kita tidak perlu bersusah payah hunting makanan yang kita suka. Semua sudah disediakan dan kita dilayani oleh petugas. Rumah makan ini dijamannya memang sangat terkenal. Sayang beberapa tahun belakang kurang ramai lagi. Dan malam itu saya menyaksikan sendiri mengapa dia tidak ramai. Petugas yang menjadi ujung tombak tidak ada satupun yang bersikap ramah. Terlebih di meja saya. Makanan asal dikeluarkan. Grusa-grusu. Melayani dari hati jelas tidak terlihat. Yang penting semua makanan cepat keluar. Dan tak ada sama sekali senyum di wajah mereka. Sepertinya mereka ingin jamuan makan malam itu cepat selesai. 

......
Jangan-jangan sebentar lagi tugas manusia sudah digantikan robot-robot yang lebih memiliki hati dibanding manusia. 

*) dibuat di warung pecel di Cipayung. 

Tuesday, April 16, 2013

Gratisan

Siapa sih yang gak mau dapat barang tapi gak bayar alias gratis? Pasti semua orang mau. Lihat saja tiap kali ada sale atau diskon, pasti selalu dikerubuti orang. Biasanya menjelang lebaran, akhir tahun, atau malah tak jarang tiap akhir bulan, memanfaatkan orang habis gajian. Promo gratis, semua produk pasti sudah lazim. Dari mulai perang spanduk, iklan, bilboard, dll sering kita jumpai di jalanan. Terlebih produk telekomunikasi. Bilboardnya bisa jejeran di jalanan saling menawarkan layanan gratis. Telpon gratis sesama Ax**s, telk**s*l, bla bla. 

****

Ngomongin soal gratisan, jadi ingat cerita kawan, Sebut saja namanya Bunga. Tapi bukan korban perkosaan yang biasa ditulis koran. Terlebih, Bunga yang ini berjenis kelamin laki-laki. Bunga sudah berkeluarga, dengan tiga orang anak, satu istri tentunya. Dulu Bunga dan keluarga hidup bersama di Jakarta. Tapi seiring biaya hidup yang makin tinggi di Ibukota, Bunga "memulangkan" istri dan ketiga anaknya di kampung halaman, Jawa Tengah. Bunga menjadi tulang punggung keluarga, sementara istrinya menjadi ibu rumah tangga menjaga ketiga anaknya. Hidup irit, makan sederhana menjadi kunci di ibu kota. Jika tidak, dapur rumah gak bisa ngepul. Sayangnya, saking ingin membahagiakan orang rumah, semua cara dipakai. Hidup bunga cenderung pragmatis. Semua cara dipakai, asal menguntungkan, meski cara itu tidak benar. Intinya hidup Bunga ingin enaknya saja. Termasuk soal makan jika bisa dia makan gratis alias ada yang bayarin. Mentalitas gratisan dia muncul seiring kebutuhan. Tapi menurutku ini gak sehat. Sama sekali gak sehat. Bahkan saking ngiritnya, ketika sakit, Bunga tak mau dirawat di RS. Alasannya apalagi kalau bukan ketakutan habis uangnya. Dan benar saja, ketika badannya turun mesin, Bunga tak mau ke RS. Padahal semua jenis obat warung yang biasa diminum tak manjur. Klinik murah dekat rumah juga nihil. Dokter klinik merujuk Bunga untuk di rawat di RS. Tapi dia tak bergeming. Karena sakit ini, Bunga tak masuk kantor hampir sebulan lebih. Kekurangan uang sering kali aku dengar jika dengar cerita kondisi terakhir dia. Padahal menurutku, kalau saja gajinya di manaj dengan baik, dia tidak akan kekurangan. Mosok biaya rumah sakit karena sakit sendiri, juga harus kita-kita yang bayarin? Yang bener aja? Kencing aja bayar!!

*****
Lain Bunga, lain lagi Bruto. Sebut saja begitu. Bruto pemuda desa baru saja lulus SMA. Sebagai anak petani, Bruto sadar betul, orang tuanya tak mampu mengirim dia ke perguruan tinggi untuk kuliah. Hingga tiba tawaran dari sebuah institusi dari ibukota untuk memberikan kuliah gratis. "Bahkan selain kuliahnya gratis, kami juga menyediakan pemondokan gratis, belum lagi tiap bulan kami berikan tunjagan uang, beras, lauk-pauk, pokoknya tinggal belajar saja" begitu cerocos pegawai kampus ibukota berpromosi. Orang tua Bruto terkesima. Bruto terkesima. Orang sekampung yang berkumpul di lapangan juga terkesima. Hingga tiba waktunya Bruto dan beberapa teman sekampungnya melancong ke ibukota untuk kuliah. Tahun pertama dilaluinya dengan baik. Semangat belajarnya tinggi. Terbukti nilai IP-nya paling tinggi di kelas. Lingkungan kampus yang dinamis, memacu motivasi belajarnya. Tapi seiring waktu, Bruto mulai berulah. Pergaulan dengan kakak kelasnya merubah semuanya. Kakak kelasnya selalu mengatakan bahwa kuliah disini tak harus belajar sungguh-sungguh. "Toh sebetulnya yang butuh kita itu sebenarnya kampus ini. Biar ramai, biar keliatan banyak mahasiswanya". Bruto pun mulai gontai ke kampus. Motivasi belajarnya sudah tidak ada lagi. Dia merenungkan dengan seksama apa yang diucapkan seniornya. "Ada betulnya omongan itu" gumannya. "Kalau memang gak kenapa kampus ini begitu baik memberikan biaya kuliah semuanya gratis". Keseharian Bruto sudah berganti. Bruto sering bolos kuliah, hanya sekedar nongkrong di warung depan menghabiskan jatah tunjangan bulanannya. 

*****
Dari pengalaman itu, saya makin meyakini bahwa yang namanya gratis itu asas manfaatnya pasti tidak ada. Karena gratis, apalagi gratisan, orang pada akhirnya kurang menghargai dengan barang yang dia dapat. Tentu berbeda ketika mendapatkannya dengan penuh perjuangan. Keponakan seorang kawan yang masih SD berhasil membeli handphone idamananya dengan hasil tabungannya. Sedikit demi sedikit dia sisihkan uang jajannya. Dia bangga dengan jerih payahnya meski harus memecahkan celengan ayam jantannya. Pasti berbeda cerita jika handphone itu dibelikan langsung orang tuanya. Dia kemana-mana selalu pamer jika handphone itu dia beli sendiri. Dari sini, kita belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu butuh proses. Tidak gratis. Harus ada hal yang diperjuangkan, bukan datang dengan sendirinya. Bukan proses yang gratis, apalagi gratisan.

*)ditulis di pinggir jalan sambil menunggu seorang kawan.