Friday, May 1, 2009

Siapapun Pemenangnya, Rakyatlah Pemenang Sejati

Pemilu legislatif untuk memilih wakil kita di DPR baru saja usai. Setelah mata kita disuguhi berbagai pose caleg menjajakan diri, entah itu di pohon, di perempatan jalan, juga di tembok kusam ibu kota. Mereka kini harap-harap cemas menanti. Harap dan cemas karena apakah seluruh usaha dan biaya sebanding dengan hasil yang diinginkan. Belum usai perhitungan selesai dilakukan, ternyata banyak caleg yang tumbang. Dari mulai stress ringan, migren, pening, bahkan ada pula yang depresi yang berujung pada bunuh diri. Entah apa akhirnya itu yang menjadi pilihan mereka. Belum lagi beberapa caleg malah mengambil kembali bantuan yang diberikan ketika melihat peluang mendulang angkanya kian tipis. TV, karpet yang pernah diberikan di pangkalan ojek pun di tarik kembali. Jelas ini bukti ketidakdewasaan dan kesiapan mereka. Harusnya dari awal sudah bisa mengkalkulasi diri. Apakah memang pantas dan layak menjadi wakil rakyat atau bukan. Layak dari segi intelegensia, kapasitas, kapabilitas, juga akuntabilitas. Belum lagi soal dana yang memang harus dipersiapkan. Tak ada modal, jangan coba-coba mimpi menjadi wakil rakyat. Apalagi belum apa-apa, masyarakat sudah minta jatah ini itu. Ini celaka. Bagaimana wakil rakyat kita benar-benar tidak akan korupsi jika dari sedari awal masyarakat memang mengajarkan mereka untuk segera mengembalikan modal yang dikeluarkan untuk ini itu tadi. Memang sulit. Tapi itulah adanya wajah bopeng potret demokrasi kita. Jika lantas ketika kampanye mereka berduyun mendatangi mimbar kampanye, bukan semata mereka mau mendengarkan visi dan misi partai. Mereka cuma mencari hiburan, selebihnya ya apalagi kalau bukan cari amplop. Demokrasi kita bukan demokrasi sejati. Tapi demokrasi pancingan. Artinya rakyat akan bergerak kalau ada iming-imingnya, bukan karena ideologi apalagi kata hati. Jangan harap.

Hajatan demokrasi kali ini benar-benar amburadul. Bahkan menjadi terburuk sepanjang sejarah pemilu kita, termasuk pemilu orde baru. KPU sebagai lembaga paling berwenang, kedodoran. Banyaknya rakyat yang tak terdaftar sebagai pemilih menjadi bukti budjet 14an triliun yang digelontorkan tak sebanding. Kinerja KPU bener-bener payah. Belum lagi soal distribusi logistik yang tak kalah kacaunya. Mana ada logistik bisa nyasar. Belum lagi yang sudah dicontrengi oleh petugas nakal. Juga angka golput yang mencapai 40 persen lebih, ini menjadi tanda bahwa pemilu kali ini bikin miris hati. Bagaimana tidak angka golput tinggi, rakyat mau menggunakan haknya saja malah di pasung. Antar anggota KPU juga saling berseberangan pendapat. Jelang hari pencontrengan, ada yang mengatakan bagi rakyat yang tidak kebagian surat undangan bisa menggunakan KTP, namun anggota lain mengatakan hal itu tidak diperkenankan. Lantas rakyat harus mengikuti yang mana. Persoalan DPT (daftar pemilih tetap) menjadi persoalan yang paling krusial . Bayangkan seorang mantan panitia KPPS, kali ini tak bisa menggunakan hak pilihnya. Belum lagi seorang caleg yang namanya tak ada di daftar kartu suara. Jika boleh diberi rapor, mungkin angka 5 menjadi hak KPU kali ini. Artinya mereka tidak naik kelas alias gagal total. Mengapa DPT bisa bermasalah? Bukankah harusnya mereka sudah dipersiapkan jauh-jauh hari? Bukankah mereka sudah lewat fit and propertest ketat di gedung dewan? Bukankah mereka itu para ahli di bidangnya? Entahlah.

Walau secara resmi belum diumumkan karena menunggu perhitungan manual, namun dari quickcount, sudah bisa ditebak siapa yang akan menguasai jagat senayan lima tahun mendatang. Elit politik pun berakrobat, bermanuver sana sini menaikkan harga jual diri. Yang ada di benak mereka cuma kursi dan kepentingan sendiri. Lupa sudah dengan janji mereka ketika kampanye kemarin. Benar mungkin kata teman: caleg itu memang tidak bisa memberi janji apa pun. Karena mereka hanya bisa memberi janji tanpa pernah mampu merealisasi.

Lepas dari carut marut pemilu kali ini, setidaknya kita bisa menjadi penonton yang baik. Meminjam kata dari Bang Komaruddin Hidayat, kita harus mengucapkan terima kasih kepada semua yang terlibat, baik yang menang maupun yang kalah. Ibarat permainan sepak bola, kalah menang itu biasa. Kalau tidak ada yang menang dan yang kalah, tentu pertandingan tak seru dilihat. Tapi tetap haruslah, ujung-ujungnya, siapapun pemenangnya, pemenang sejati haruslah rakyat.

The Shadow of the Flag: referendum tak berkesudahan

Mengambil seting bumi Timor Leste pasca referendum. Film dokumenter ini dibuka dengan dentuman gerak baris sipil bersenjata. Sejurus golok ada di komandan regu. Sesekali ia membentangkan goloknya pertanda barisan belum rapi. Wajah tua tak menyurutkan langkah tegap bak tentara sungguhan. Semua siap seolah perang segera dimulai. Maklum saja, euforia gempita kemenangan atas kemerdekaan baru saja mereka raih. Referendum menjadi jalan bagi kebebasan baru itu. Sesekali jejak konflik pasca referendum kental terlihat di film yang disutradarai Tony Trimarsanto ini. Semua penduduk Timor berharap referendum menjadi pintu bagi kemaslahatan. Maria, salah seorang warga mengatakan bahwa baginya referendum bisa mengubah garis hidup. Baginya menjadi warga Negara Indonesia tak ubahnya menjadi diri yang terjajah. “Terjajah di negeri sendiri” itulah kami waktu dulu, ujarnya. Mereka menganggap Indonesia adalah penjajah. “Dulu kami kemana-mana selalu takut, karena banyak tentara”. Bisa dimaklumi, ketika mereka menang referendum, mereka bersorak ada seberkas harapan disana.

Semua terekam dengan baik. Walau agak bertele, terutama bagian awal. Pembagian jatah beras dari WFP terlalu lama. Beberapa potong adegan kamp pengungsian dan seutas tampah berisi beras sisa saja mestinya sudah bisa menggambarkan kegetiran hidup mereka. Beberapa gambar juga terlalu over pencahayaannya. Selain itu, audio terkadang memekakkan telinga.

Harapan Maria tinggal harapan. Pasca referendum ternyata kehidupan mereka tak lagi berubah. “Maju tidak, mundur juga tidak. Ibaratnya kami terjebak diantara lautan air luas, tidak bisa kemana-mana” ujarnya. Mencari pekerjaan saja sulit. Bersekolah juga sama. Kalau mau kerja harus ada ketrampilan bahasa Inggris, komputer, dll. Mana bisa kami berbahasa Inggris. Selama 24 tahun kami selalu memakai bahasa Indonesia, tapi sekarang jika memakai bahasa ini dianggap sebagai bahasa penjajah. Jadi semuanya serba repot.

Soal pendidikan pun tak kalah payahnya. Guru yang mengajar tidak banyak yang memenuhi kualifikasi. Seorang lulusan SMP mengajar SMA? Bagaimana kami bisa maju. Pemimpin yang ada pun sangat sulit dicari pengharapan. Mereka sibuk dengan urusan sendiri. Jadi ujung-ujungnya kami hanya bisa berharap dengan diri kami sendiri. Pasca transisi pun tak banyak perubahan. Justru disinyalir ini mainan baru antara Portugal dan Australia. Jadi, lagi-lagi korbannya rakyat kecil.

Walau getir, namun film ini juga menampilkan lempengan pantai dan laut yang memang terkenal eksotis. Film ini berhasil memotret sisi lain bumi Timor Leste. Kemerdekaan memang mahal harganya. Konflik untuk merdeka. Merdeka untuk mencari pengharapan yang tak berkesudahan.

Thursday, April 30, 2009

Vote For ME: Demokrasi rasa China

Di Wuhan, China Tengah, anak-anak bernyanyi dan memberi hormat ke bendera merah dengan beberapa tanda bintang di tiang jauh. Semua tertib berbaris. Dengan tangan di atas pertanda hormat, anak-anak ini mengucap janji untuk setia kepada negara komunis ini.
Suasana riuh di dalam kelas. Seorang guru perempuan mengumumkan akan dilakukan pemilihan ketua kelas. Tapi bukan sembarang pemilihan sebagaimana yang sudah-sudah. Kali ini anak-anak sendirilah yang memilih, bukan lagi dipilih oleh guru kelas. Segera sang guru menunjuk tiga orang sebagai kandidat (tetap saja cara diktator keluar,he….). terpilih Xiaofei (perempuan), Cheng cheng (ketua kelas terdahulu), dan Duo Lai. Dalam beberapa hari ke depan semua kandidat diminta untuk berkampanye. Cara inilah yang menjadi domain film dokumenter Vote for Me. Pemilihan ketua kelas 1 menjadi contoh sebuah demokrasi di negara komunis China.
Xiofei, anak tunggal seorang janda. Ibunya serius mempersiapkan segala keperluan kampanyenya. Tak jelas pekerjaan ibunya. Menyiapkan materi pidato, melatih intonasi, termasuk mengajari bermain musik.
Cheng cheng anak seorang komisaris polisi, ibunya seorang polwan. Cara militer diajarkan orang tua Cheng cheng agar ia terpilih. Seperti mengajak jalan-jalan naik monorail. Maklum, di Wuhan, China, naik monorel masih menjadi barang mewah. Selain itu, gaya pidato militer juga pembagian amplop liburan jelang akhir kampanyenya.
Duo Lai, anak seorang insiyur. Ibunya menjadi ibu rumah tangga biasa. Keluarga ini juga tak kalah seru mempersiapkan bahan kampanye anaknya. Walau terkenal bandel, Duo Lai mau tak mau menuruti semua perintah orang tuanya demi menjadi ketua kelas.
Hari pertama kampanye digelar. Xiofei mendapat giliran pertama. Namun bukannya memberikan materi kampanye. Ia malah sesunggukan. Menangis. Itu karena ia grogi. Tisu diayunkan membasuh pipinya yang mulai basah. Dengan terdiam sejenak, ia menarik nafas, lalu melanjutkan sisa pidatonya yang terpenggal.
Sepanjang film berdurasi hampir sejam ini, kita disuguhi adu strategi dari ketiga kandidat. Jangan harap ada gambar indah dalam film ini. Sebab percakapan dan ekspresi langsunglah yang banyak digelar. Jika ada gambar establish itu pun cuma sepotong sekolah saja. Namun justru inilah titik kuat film ini. Bagaimana Duo Lai yang kesal karena kecapean & lupa menghafal pidato tumpah tanpa sensor. Begitu pula Xiao Fei yang tersedu menanti hari pemilihan, belum lagi kerepotan orang tua Cheng cheng mengatur strategi anaknya.
Di kelas, masing-masing kandidat saling menyiapkan tim suksesnya. Xiao Fei yang perempuan memiliki dukungan kuat di hati kaum hawa. Cheng cheng percaya diri saja. Justru Duo Lai yang berjibaku. Berbagai manuver ia lakukan. Dari yang bersih hingga yang paling kotor sekali alias intimidasi. Badannya yang besar menguatkan hal ini. Sayang ia lupa kalau Cheng cheng didukung orang tuanya yang memang pintar strategi. Ia mengira Cheng cheng akan berada di belakangnya. Namun diam-diam, Cheng cheng justru membelot, dan memilih jalan sendiri. Apalagi ia ketua kelas terdahulu. Mana mau, jabatannya diserahkan begitu saja kepada Duo Lai. Menjabat dua kali tak ada salahnya, begitu pikirnya.
Sesi terakhir beradu debat. Semua kandidat di adu satu per satu. Kebiasaan buruk lawan menjadi senjata umpatan. Sesi ini sangat menarik. Anak-anak begitu menjiwai. Saling ngotot dan serang terjadi. Hingga beberapa teman mereka tampak bengong menyaksikan, termasuk sang guru. Yang paling seru debat antara Cheng cheng dan Duo Lai. Duo Lai salah strategi lagi. Cheng cheng sangat menyiapkan diri. Bahkan ia menyiapkan waktu khusus untuk berlatih dengan ayahnya yang seorang komisaris polisi. Persiapan matang membuahkan hasil yang matang pula. Dan inilah yang akhirnya terjadi. Cheng cheng memenangi perdebatan sengit ini.
Voting tertutup akhirnya harus digelar. Dan sudah diduga pemenangnya adalah Cheng cheng. Duo Lai kalah telak. Bahkan ia kalah dari Xio Fei. Duo Lai tak kuasa menahan tangis. Teman-teman menjauhi, karena ia kerap berlaku kasar. Ia kini merasa sendirian. Namun cepat, sang guru mendamaikan seantero kelas. Mereka pun saling bersalaman dan berpelukan.
Demontrasi kecil di sekolah dasar ini mungkin sebagai contoh kecil jika di negeri tirai bambu ini paham demokrasi mulai diajarkan, walau masih secuil. China yang selama ini identik dengan komunis terlihat mulai melirik demokrasi. Walau masih sebatas film dokumenter, minimal cuilan film ini bisa menjawab. Tak di pungkiri jika ada yang beranggapan bahwa ini cuma untuk kebutuhan film saja, bukan terjadi di dunia sebenarnya. Mana yang benar, tak tahulah.

Tuesday, March 17, 2009

Dukung Petisi Tolak Buddha Bar

Jangan jadikan ketidak-melekatan sebagai alasan untuk sebuah ketidak pedulian.
Memang benar Buddha mengajarkan untuk tidak melekat pada simbol-simbol dan bahkan pada ke-aku-an.
Namun Beliau juga mengajarkan untuk mengembangkan kebijaksanaan supaya tidak terjerumus dalam kebodohan.

Saat pangeran Siddharta belum menjadi Buddha, beliau mencoba tidak melekat pada badan jasmaninya dengan menahan lapar dan haus, menyiksa diri demi terbebas dari penderitaan.
Namun akhirnya dia menyadari bahwa hal itu tidaklah bijaksana. Dan kembali makan dan minum demi kesehatan dan menguatkan badannya. Apakah artinya dia menjadi melekat kembali kepada badan jasmaninya?

Ada sebuah cerita juga tentang Bhikkhu yang membakar patung Buddha dari kayu untuk menghangatkan badannya di cuaca yang sangat dingin. Karena sudah tidak ada kayu bakar lagi yang bisa dipakai untuk menghangatkan tubuh. Cuaca juga terlalu buruk untuk mencari kayu di luar.

Saat ada Bhikkhu lain yang mempermasalahkan hal tersbut ia mengatakan kepada Bhikkhu-Bhikkhu yang lain bahwa patung tersebut hanyalah sebuah patung kayu, sebuah simbol dan kita tidak boleh melekat kepadanya.

Bhikkhu ini bertindak bijaksana, karena jika dia tidak membakar patung kayu tersebut, mereka semua akan mati kedinginan.
Tapi pada kasus Buddha Bar, apakah bijaksana membiarkan nama Buddha menjadi nama sebuah Bar? Apakah bijaksana meletakkan patung-patung Buddha di dalam sebuah bar?? Apakah ketidak-melekatan bisa dijadikan alasan untuk membiarkan hal ini terjadi?

Lalu bijaksanakah jika ketidak-pedulian kita akhirnya menimbulkan akibat tidak adanya penghormatan lagi terhadap agama Buddha.

Walaupun agama Buddha tidak gila penghormatan, namun bijaksanakah membiarkan kualitas agama ini menurun dan mungkin menghilang dari dunia karena tidak dihormati lagi oleh orang lain dan bahkan oleh pengikutnya sendiri.

Kondisi seperti itukah yang akan kita wariskan pada generasi mendatang?
Apakah memang tidak ada pilihan lain sehingga harus menggunakan nama Buddha, dan apakah tidak ada hiasan lain sehingga harus menggunakan hiasan patung Buddha dalam sebuah Bar?

Sebagai umat Buddha kita diajarkan untuk berpikir kritis dan bijaksana dalam melihat segala sesuatu. Membedakan antara ketidak-melekatan dan ketidak-pedulian. Mencerna esensi ajaran Guru Buddha tidak sebatas kulit luar dari apa yang tertulis.

Bertindak atau tidak, pilihan tetap ada di tangan masing-masing.

Appamadena Sampadetha

Dian Saptiana

SDM PP HIKMAHBUDHI


(meneruskan Petisi teman saja).

Monday, January 12, 2009

Izak Timisela: Bapak Kaum Diffable Pinggiran

Sayup-sayup celotehan suara itu membesar. Sumbernya dari sebuah bangunan yang menjulang di depan sana. Untuk sebuah daerah pinggiran, bangunan ini memang mencolok walau agak masuk ke dalam gang H. Ridwan, Kel. Kunciran Indah. Warna warni coraknya. Di kanan kiri masih tersedia tanah lapang. Tak di nyana, ternyata ini adalah bangunan untuk mereka yang berkebutuhan khusus alias SLB. Adalah seorang Nyong Ambon yang menggagasnya. SLB ini dinamakan Yenaiz. Singkatan dari Yenny (anak), Nanik Isiati (istri), dan Izak Timisela. Rambut Izak tersebak uban ketika menemui kami. Badan yang agak tambun tak menyurutkan langkahnya. Dengan cekat ia menjelaskan seluk beluk sekolah perjuangannya ini. Bagaimana tidak? Ia tinggalkan karier yang baik sebagai perawat demi memenuhi keinginan hatinya meningkatkan derajat kaum luar biasa ini. Namun hal ini semua tak datang begitu saja. Ini karena pengalaman melihat dengan jelas ketidakadilan sistem terhadap kaum SLB, apalagi SLB yang berasal dari keluarga tidak mampu. Ingatan akan hak-hak kaum SLB yang terampas memantapkan dirinya keluar masuk kampung untuk mendata kaum diffable ini. Data di dapat. "Tapi akan ditampung dimana anak-anak ini?" kenangnya. Ia lantas menjual rumah untuk menyewa rumah petak untuk memberi pelajaran anak-anak diffable. Istri, dan putri tunggalnya dilibatkan menjadi tutor. Sementara belajar mengajar berjalan di rumah petak, ia pelan-pelan bermimpi untuk mendirikan sekolah. Pontang-panting ia jalankan tugas mulia ini. Sementara penghidupan keluarga belum sepenuhnya normal. Beruntung ia sudah menyiapkan kebun kelapa 2 hektar di Ambon walau itu tidak sepenuhnya membantu.

Tak kurang ribuan proposal ia layangkan demi impian mulianya. "Tak jarang saya harus naik sepeda ke Depsos di Salemba" kenangnya. Padahal ia tinggal di Kunciran, Ciledung. "Ya mau bagaimana lagi sebab memang tidak ada uang kala itu". Lewat sebuah perjuangan tanpa lelah, ia akhirnya berhak mendapatkan dana sebesar 250 juta setelah menyisihkan ribuan proposal yang masuk. Hibah ini disambut dengan tangis haru. Bantuan ini lalu sepenuhnya digunakan demi pengembangan sekolah impiannya. Tak lama berselang bantuan dari Jepang datang. Ia lantas menyekolahkan beberapa tutor ke UNJ jurusan SLB. Selain itu, program pemberdayaan bagi orang tua siswa SLB yang memang berkekurangan pun ia gagas. "Membantu mereka mesti tuntas, ya anaknya ya orang tuanya" tegasnya. Total anak SLB yang bersekolah di Kec. Pinang ini 130. Sementara di Cipondoh, walau masih menumpang di rumah petak, mampu menampung 30an anak. "Kami tidak memilih siswa, jadi tak heran semua kecacatan anak ada disini. Mulai tuna rungu, grahita bahkan autis sekalipun" tandasnya.

Jangan tanya soal prestasi dan kebolehan. Beberapa deret tropi dan piala menghiasi sebuah lemari. Sore itu kami disuguhi ketrampilan anak-anak. Walau mengalami kekurangan, mereka lincah menari mengikuti langgam Jawa. Padahal beberapa dari mereka adalah tuna rungu. Semua itu berkat bimbingan guru dan tutor yang merupakan warga sekitar. "Saya biasanya tes dulu orang yang mau menjadi guru. Sebab mengajar disini sangat berbeda dengan mengajar di tempat lain". Bukan hanya persoalan materi yang minim, namun mengajar mereka yang berkebutuhan khusus ini harus dengan hati" tegasnya.

Tak hanya anak SLB yang menjadi siswa di sekolah ini. Ketika hari beranjak, anak-anak yang putus sekolah ia tampung dalam program pendidikan luar sekolah (PLS) atau biasa disebut kejar paket. Guru dan tutor ia sengaja rekrut dari warga sekitar dengan aneka ragam aktivitas. Ada dosen, guru, ibu rumah tangga menjadi tutor dan guru di sekolah yang selalu ramai aktivitas ini. "Mereka semua tergerak hatinya" ujar Izak.

Bagi Izak sekolah ini harusnya gratis. Karena memang hampir semua dari siswa di SLB ini berasal dari keluarga kurang mampu. Namun setelah dibentuk komite sekolah yang terdiri dari orang tua murid diputuskan biaya sekolah 5.000 - 10.000. Izak pun tak kuasa menolak putusan bersama ini.

Puas dengan apa yang sudah dicapai? Ternyata tidak. Izak bercita-cita mengulang sukses SLB Yenaiz di tempat lain. "Saya maunya Yenaiz ada di seluruh komunitas bangsa ini. Di Jawa, Bali, Kalimantan, bahkan Irian" ujarnya mantap. Biar mereka bergerak sesuai dengan komunitas setempat. "Ini kan seperti Indonesia kecil" ujarnya di derai tawa. "Kalau SLB untuk orang mampu sudah banyak, saya ingin membangun SLB bagi mereka yang benar-benar tidak mampu" ujarnya penuh harap. Semoga tercapai Pak Izak.

Sunday, January 4, 2009

Cak Munir

Cak Munir yang terbaring,
Penghujung tahun kamu dapat kado "istimewa" Cak. Segepok kado yang tak membuat istrimu nyenyak tidur. Aktor utama pembunuhmu di vonis bebas. Lengkap sudah rasanya awan kelabu di balik kematianmu. Makin berat saja terungkap ajalmu nan misterius itu. Mata rantai nan panjang itu ternyata harus dihentikan di tangan seorang saja Cak. Padahal kamu dan kita menyakini bahwa rantai itu masih menyisakan tuas-tuas lainnya. Justru tuas ini dipaksa berkarat dan terputus.

Cak Munir,
5 tahun sudah berlalu dari geger beritamu Cak. Ajal tiba-tiba menitikkan sejuta air mata. Air mata itu kini harus tumpah lagi. Kasusmu tak kunjung menemui titik terang. Padahal, terang itu mestinya menjadi hak anak dan istrimu. Sebaliknya, terang itu sengaja dibikin gelap dan makin gelap. Padahal SBY pernah bilang kalau
penyingkapan kasusmu ini sebagai test of our history. Nyatanya tetap saja Cak. History bangsa ini memang tak pernah berpihak pada orang kecil.

Cak,
Buram lampu jalanan malam itu, sepertinya seburam siapa aktor penjagalmu Cak. Tapi kita masih yakin, di ujung sana terbersit sinar kecil. Sebuah harapan akan terungkap. Entah kapan Cak. Istirahatlah dengan tenang Cak. Doakan perjuangan kawan-kawan mengungkap tabir ajalmu menuai hasil.

Selamat tidur Cak. Semoga prajurit HAM yang kamu tinggalkan segera menjadi panglima yang gagah perkasa.

*) atas vonis bebasnya Muhdi PR.

Thursday, January 1, 2009

tak ada tahun baru, yang ada hari berganti saja!

Sebuah pagi di hari pertama 2009. Langit agak cerah di ujung sana. Ku susuri jalanan. Sekedar ingin cepat berbaring setelah semalam suntuk ngoceh gak karuan di rumah kawan. Jalanan sepi sekali. Banyak warga Jakarta meninggalkan kota ini menjelang pergantian tahun. Jika masih tinggal, tentu jam sepagi ini mereka masih terlelap. Semburan kembang api masih terlintas di pening kepala. Sepi. Wah seandainya tiap hari begini, alangkah enaknya tinggal di Jakarta. Sepanjang jalan Hayam Wuruk, bekas terompet semalam masih berserakan. Petugas kebersihan tampak berjuang membereskan. Sengaja aku pilih jalan protokoler pagi itu. Semua lengang. Bunderan HI saja yang agak ramai. Itu pun karena air muncratnya dibuka lebar-lebar. Sebuah TV swasta nampak mengambil gambar. Jalan Diponegoro yang teduh, membuat mata makin mengantuk saja.

Di perempatan Salemba ku lihat seorang ibu memapah dua anaknya yang bertelanjang kaki. Memelas dan menengadah bunga sosial dari pengendara. Beberapa gerombolan lain melakukan hal yang sama. Ada yang mengelap mobil, main ukulele. Kawasan yang sering terjadi bentrok mahasiswa ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada yang berubah.

Di sejengkal ingatan menelusur ke kawasan Tanah Merah. Tanah seluas 165 Ha lebih ini sudah lama menjadi sengketa antara negara dan warga. Letaknya persis bersebelahan dengan kawasan Kelapa Gading. Membandingkan Tanah Merah dan Kelapa Gading ibarat sebuah perbandingan bumi langit. Puluhan tahun hingga sekarang, keberadaan warga tanah merah tidak diakui negara. Mereka tidak diberikan hak kependudukan, apalagi hak-hak lainnya. Puluhan kali pula status kependudukan ini diusahakan. Namun hingga kini belum menuai hasil. Warga Tanah Merah umumnya bekerja di sektor informal. Tak kurang 16 ribu KK hingga kini tengah terkatung menunggu kepastian kependudukannya. "Kita ini ibarat hidup dinegeri orang lain" ujar Soegianto, tokoh masyarakat setempat trenyuh.

Di sebuah kantin makan, seorang petugas keamanan mengatakan kekecewaannya terhadap pemeritahan SBY. "Dulu di lingkungan saya semua pilih SBY. Kalau sekarang gak lagi deh" ungkapnya kesal sambil menyantap tempe goreng. "Gila barang-barang tetap mahal. Ongkos juga gak mau turun padahal BBM udah diturunin" ujarnya setengah jengkel. "Belum lagi ancaman PHK gila-gilaan". "Hidup rasanya kok gak tenang, padahal di negeri sendiri".

Seorang ibu merengek minta ditunjukkan jalan. "Naik dua kali Bu" ujarku singkat. "Wah saya gak mau naik angkot", mau jalan kaki aja. "Saya ada interview kerjaan hari ini" ujarnya gusar. "Sekarang cari kerja susah banget Mas". "Saya sudah jalan dari jauh kota". Rona matanya terlihat gelisah. Beberapa kali bahasa Tuhan meluncur dari mulutnya yang tak bergincu. Cemas. Ia lalu mengeluarkan handphone. Sejurus terdengar percakapan dengan orang di seberang sana. Entah benar entah sekedar pura-pura saja. "Saya ada indomie, adik mau beli gak? Tiga ribu aja" ujarnya menawarkan. "Buat ongkos deh". "GAK" jawabku sekenanya. Dari awal aku memang sudah agak curiga. Langkah cepat ia ambil seketika. Ku lihat di ujung sana ia bertanya kepada tukang ojek sepeda. Kadang aku merasa kasihan, tapi kadang jengkel juga ketika tahu belas kasihan itu hanya dijadikan topeng semata untuk mendapatkan beberapa rupiah.

Stasiun senen hari itu agak ramai. Riuh terompet lokomotif bersautan. Seorang teman sudah naik gerbongnya. Aku hanya menunggu menjelang ular besi itu meluncur ke Semarang. Seorang bapak bertopi berjalan di depanku. Ia berhenti. "Mau kemana Mas" tanyanya. "Cuma anter teman Pak" jawabku. Sejenak ia mulai ngerocos. Saya ini korban lapindo Mas. Rumah sudah tenggelam semua. Saya ke Jakarta mau ketemu saudara, eh malah dompet saya di curi orang. Gak tahu nih gimana pulangnya. Awalnya aku masih simpatik. Namun mendengar ceritanya yang sudah mulai gak karuan, aku bisa menyakinkan kalau orang ini hanya mencari belas kasihan saja. Dan benar saja. "Kasihan saya Mas, bisa minta duit untuk makan?" ujarnya tiba-tiba. "GAK ada Pak" jawabku ketus. Aku bukannya gak mau berbagi. Ingatanku melayang pesan seorang kawan: "Berbagilah dengan cara yang mendidik".

Perayaan tahun baru saja lewat. Harapan terjulang di dada. Harapan akan kebaikan dan perbaikan terhadap warga negeri ini. Perayaan tahun baru tak ubahnya percikan kembang api yang segera habis setelah dipencarkan. Lenyap seketika. Benar mungkin, tak ada tahun baru, yang ada hanyalah hari berganti saja!