Tuesday, July 8, 2008

Mbah To & Mbah Panut: Penunggu Gn. Lawu

Wajahnya agak lusuh. Pertanda kurang mandi. Perawakannya agak kurus. Penutup kepala buram menempel di kepala yang penuh uban. Sekilas cuek. Tapi matanya terus berkeliaran memperhatikan kami. Mbah To, itu namanya. Suprapto nama lengkapnya. Ia bersama istrinya, Mbah Panut sudah belasan tahun menjadi penghuni lereng Gn. Lawu.

Tak kenal maka tak sayang. Rasa penasaran mengantarkanku di peraduannya. Dari sekedar numpang menghangatkan badan, hingga pada obrolan seru. Ternyata mereka sangat ramah. Ini terlihat "rumah"-nya penuh sesak para pendaki. Sementara tak ada ruang lagi bagi sepasang suami istri ini. Ia merelakan semua tempatnya "diduduki" pendaki. Dari obrolan itu ternyata Mbak To sudah naik Gn. Lawu ketika masih berusia 12 tahun. Dan sejak 1970, ia bersama istri, Mbah Panut, memutuskan berdiam di Gn. Lawu, tepatnya persis di depan Sendang Drajat. Sendang Drajat adalah satu-satunya sumber air di lereng Lawu. Tempat ini diyakini sebagai petilasan yang harus dijaga dan dilindungi. Untuk itu Mbah To, menjadi penjaga tempat keramat ini. Di sekitar Lawu sendiri terdapat banyak petilasan keramat yang sampai kini banyak dikunjungi orang, apalagi hari-hari tertentu, seperti malam 1 Suro.

Untuk menjaga Sendang Drajat ini, Mbah To membuat rumah seadanya, mereka juga menyiapkan makan dan minum bagi pendaki yang kelaparan. Rumahnya pun unik, tersela dilereng, layaknya sebuah gua. Selain bertugas menjaga Sendang Drajat, Mbah To juga diperbantukan dinas kehutanan untuk menjaga hutan sekitar Lawu. Tak jarang pula, Mbak To menjadi pihak pertama yang diberitahu ketika pendaki tersesat. Hampir semua pencarian pendaki yang hilang selalu melibatkan Mbah To. "Disini hidupku tentram Mas" ujarnya singkat. "Nek dibawah sana, semrawut" katanya beralasan.

Di rumah barunya itu, Mbah To & Mbah Panut membuka warung sederhana. Tujuan cuma satu, membantu pendaki yang kehabisan bekal. "Kasihan mereka mas kalau kelaparan" sambung Mbah Panut. Untuk harga tidak ada patokannya. Bahkan tak jarang banyak pendaki yang tidak bayar karena lupa. Mbah Panut berujar semua itu ia relakan. Tak ada dendam, bahkan umpatan yang terdengar. Justru ia merasa bersyukur karena sudah bisa membantu.

Mbah To & Mbah Panut, seminggu sekali bergantian turun ke bawah untuk belanja. "Nek bareng-bareng mboten saget Mas, lha sing njagi niki sinten". Mereka juga sangat jarang mengunjungi keluarga, kecuali memang ada keperluan yang sangat mendesak, seperti kematian, dll. Sementara itu, anak dan cucu dari Mbah To & Mbah Panut sudah banyak yang tinggal & bekerja di Jakarta. Mbah Panut bercerita, lebih enak tinggal di gunung daripada di kota besar. Kalau disana, aku iso nyasar mas, nek ning gunung mboten nate kesasar.

Puncak Lawu: Hargo Dumilah 3265 dpl



Angan-angan naik gunung akhirnya kesampaian juga. Setelah terpendam cukup lama, hasrat itu terwujud.

Friday, June 27, 2008

Film Itali: Cinta Tak bisa Dibeli

Antonio, Lucia, Maria, dan Paolo adalah tokoh utama film semalam. Lucia bekerja di sebuah biro modeling. Maria dan Paolo tengah mengikat janji menjadi sepasang suami istri. Maria juga bekerja di sebuah biro model yang berbeda. Lucia, Maria, dan Paolo bersahabat sejak lama. Di tengah persiapan pernikahan Maria dan Paolo, diam-diam ternyata Lucia juga menaruh hati dengan Paolo. Sebaliknya Paolo juga demikian. Di tengah kesibukan, dan tentu tak diketahui Maria, mereka sering berkencan. Dengan tekad bulat, Lucia mencari berbagai cara untuk memisahkan Maria & Paolo. Dengan pekerjaan di biro model, Lucia dengan mudah mencari calon lelaki yang akan dijadikan "umpan" untuk menjebak dan memainkan perasaan Maria. Dari sekian pilihan, akhirnya ia memilih Antonio. Seorang pengangguran yang tinggal bersama mantan kakak iparnya di sebuah flat yang kumuh. Alasan keuangan menjadikan Antonio menerima tawaran gila Lucia. Karena latar belakang yang sangat berbeda, Lucia mengajarkan banyak hal kepada Antonio tentang Maria. Mulai dari makanan kesukaan, tontonan favorit, tempat nongkrong, termasuk karya sastra yang paling disukai Maria.

Tingkah polah Antonio menghafal, menghayati setiap detil perannya ini membuat kekonyolan makin menjadi. Sebagai langkah awal pendekatan, Lucia menugaskan Antonio menonton teater yang juga sedang di tonton Maria seorang diri. Dengan berbekal buku tentang pentas teater itu, ia mantap mengambil duduk sebelah gadis berkaca mata tak jauh dari duduk Maria. Hanya saja bukannya menyimak jalan cerita teater itu, justru ia tertidur pulas dengan buku lepas dari genggaman. Buku yang terjatuh inilah yang akhirnya menjadi titik awal perkenalan Antonio dan Maria. Hingga akhinya hubungan Maria-Antonio makin dekat. Maria bukannya tanpa beban menjalani affair ini. Beberapa kali ia merasa bersalah dengan apa yang dilakukan. Dan Lucia pun menjadi pemenang untuk sementara waktu. Dan beberapa lembar uang Lira pun berpindah ke tangan Antonio. Sementara Maria berselancar dengan hubungan barunya, demikian pula Paolo-Lucia. Masing-masing tenggelam dalam benang kusut yang dibuat sendiri ini. Celakanya mereka semua menikmatinya. Benang kusut ini akhirnya menjalar pula pada pekerjaan Lucia. Bahkan ia hampir dipecat, hingga akhirnya ia memberdayakan segenap rasa untuk membuktikan bahwa pemecatan itu bisa dibatalkan. Dan memang akhirnya ia berhasil. Di tengah keberhasilan menyakinkan atasannya, ia pun diliputi kecemasan yang dasyat hubungannya dengan Paolo. Dalam hati dia merasa bersalah. Apalagi ia pun tak mau merusak persahabatan dengan Paolo-Maria.

Di sudut lain, Maria-Antonio tengah di mabuk asmara. Maria pun sudah berbulat hati memutuskan tali tunangannya dengan Paolo. Niat itu sudah bulat. Hanya saja akhirnya tidak sanggup ia sampaikan. Sementara Antonio pun sudah jatuh hati "betulan". Mendengar niat Maria, Antonio menjadi marah dan gusar. Ia pun mengumpat dan mengecam Lucia. Kata yang aku ingat, Antonio mengatakan bahwa cinta itu tidak bisa dibeli dengan uang. Sebab cinta itu datang dari hati. Di tengah ketersambungan kembali tali kasih Maria-Paolo, Antonio memutuskan pergi keluar negeri. Sementara Lucia ternyata merasa kehilangan Antonio. Dengan berbagai cara ia mencari Antonio. Biar bagaimana pun ia berhutang banyak dengan Antonio. Berbekal penuturan mantan kakak ipar Antonio, didapat kabar bahwa memang Antonio sudah berangkat ke bandara. Dan segera Lucia meluncur menyusul. Lalu lalang orang yang padat, membuat ciut Lucia untuk mencari Antonio. Seperti kebanyakan film lainnya, akhirnya Lucia pun berhasil mempertemukan Antonio. Usut punya usut ternyata, pertemuan dibandara ini merupakan skenario Maria yang ingin menyatukan Lucia dan Antonio. Jadi mereka semua ternyata menjadi sutradara masing-masing bagi sahabat-sabahatnya. Lucu juga.

Cerita film ini mungkin sudah jamak di layar kaca kita. Hampir semua sinetron kita pun sudah sering mengangkat cerita ini. Bahwa cinta itu memang tidak bisa dipaksakan, apalagi ditukar dengan materi. Seperti lagu Padi: Cinta bukan sekedar kata, cinta pasti bukan hanya harta dunia semata................

Thursday, June 26, 2008

Bus Way, Bye Bye

Pagi tadi, aku bangun seperti biasa. Hanya saja hari ini ada perlu persiapan ekstra yang perlu dilakukan. Maklum, aku dkk jauh hari berencana naik gunung. Tepatnya gunung Lawu. Dan kami sepakat nanti malam kita berangkat ke Solo naik kereta api. Agak pagi, sengaja aku bangun untuk mempersiapkan semuanya. Harapannya bisa naik busway. Maklum hari ini aku tidak naik motor seperti biasa ke kantor. Tas besar sudah di punggungku. Agak berat ternyata. Tak apalah, naik gunung memang yang perlu dibawa banyak. Akhirnya dengan berusaha melangkah santai aku menuju halte busway tak jauh dari kostku.

Aku tak lihat pasti jam berapa aku berangkat. Tapi rasanya sih masih pagi. Lalu lalang orang dan kendaraan sudah mengeriyap di hadapanku. Tak biasa rasanya. Sebab tiap pagi, aku memang tidak melewati jalur umum ini. Tanpa pikir panjang, beli tiket busway, 3.500. Cukup murah sebenarnya. Di halte itu, tak banyak orang. Hanya beberapa antrian aja. Semenit dua menit menunggu. Ada busway meluncur kencang.Tapi kosong dan melintas saja di depan. Ruat muka kecewa hampir semua terlihat. Was-was akan terlambat datang ke kantor terjadi. Beberapa busway memang datang, tapi sudah sangat sarat penumpang. Tiap kali berhenti, yang bisa naik hanya satu orang. Gila.
Seorang perempuan muda terlihat beberapa kali mengangkat telpon selulernya. Pertanda mengabarkan ketidaksabaran menunggu. Sejurus kemudian ia memutuskan membubarkan diri dari antrian dan beranjak keluar halte. Tak lama menunggu ia sudah di atas bus Patas arah Blok M. Sementara aku dan beberapa orang masih menunggu dan menunggu.

Melirik ke arah sebelah, ternyata jam sudah hampir pukul 8. Wah bisa telat nih, batinku. Aku memutuskan untuk mengikuti jejak perempuan tadi meninggalkan halte busway. Ojek akhirnya menjadi pilihan. Dalam boncengan aku berpikir. Wah bisa sinting kali kalau tiap pagi selalu begini keadaannya. Busway selama ini memang menjadi angkutan alternatif. Sayang manajemennya masih amburadul. Ulah sopir yang masih jauh dari ideal, jadwal yang kacau balau, masih menggelayut. Busway ideal bagi mereka yang gak dikejar-kejar waktu. Sebab selain harus menyambung halte berikut jika tak searah, penyediaan jalur khusus pun tak mampu menjawab "kecepatan" busway. Jika memang mepet waktu tak ada gunanya menggunakan busway. Lebih baik cari angkutan yang lain.

Busway, bye bye aja deh. Mending naik "si hitam" aja pasti cepat sampai tak perlu menggerutu menanti busway yang selalu penuh sesak.

Tuesday, June 24, 2008

22 Juni

22 Juni bisa jadi hari istimewa buat aku. Hari jadi kota Jakarta juga menjadi peringatan hari kelahiranku beberapa tahun silam. Ning adalah orang pertama yang kasih ucapan. Tepat pergantian hari, dia telpon. Beberapa saat, Ibu OHL sms. Isinya sama. Mengucapkan selamat ulang tahun. Segera pun aku balas. Kebetulan hari itu Ibu OHL juga berulang tahun. Paginya aku sempat mengulangi ucapan ini tapi via telpon. Tak lama kemudian, Ibuku sendiri telpon. Mengucapkan ulang tahun. Tak sempat berbicara banyak karena dia harus berangkat menuju TPS. Maklum hari itu Jawa Tengah mengadakan pilkada. Di tengah asyik telpon, diam-diam, Isy, teman kostku mengguyur aku dengan air kendi. Aku sempat semprot dia. Beberapa teman kost akhirnya juga memberi selamat. Aku terima ucap salam mereka dengan suka hati. Abangku yang di Jogja juga sms mengucapkan selamat. Di sms itu ada kata-kata: "Mana kadonya"? Hah? Bukannya yang ulang tahun yang harusnya dikasih kado? Hari itu inbox HP-ku beberapa kali berdering. Teman-teman di Semarang, Surabaya, bahkan dari Balik Papan memberi pesan ucapan selamat. Banyak juga ternyata yang kasih ucapan.

Semangat baru pasti selalu ada ketika peringatan hari lahir tiba. Namanya peringatan, pasti kita diingatkan beberapa saat tentang diri kita. Siapa kita, keluarga kita, komunitas kita, dll. Hari itu aku mengawali hari dengan berbenah kamar kost. Maklum selama ini kamar itu aku agak bengkalaikan. Mungkin cuma numpang tidur saja tepatnya. Beberapa buku yang tercecer aku rapikan. Nyapu dan ngepel akhirnya aku lakukan. Hari itu pula, aku nitip belanja ke Mbak Gina, pembantu kost kami. Ada beras, ayam, bumbu, lalapan, dll untuk makan malam teman-teman. Aku memang sengaja mengundang mereka untuk merayakan hari lahir itu. Mungkin sudah lama aku tak melakukannya. Meski sederhana, yang penting mereka bisa merasakan kebahagiaan bersama.

Resolusi? Entahlah. Aku sama sekali tak mengenal istilah itu. Yang ada diotakku ya berusaha menjalani saja hidup ini sebaik mungkin. Kadang jika melihat teman-teman seusiaku, memang banyak yang berbeda. Tapi toh perbedaan itu memang pilihan yang kita ambil sendiri. Bukankan hidup itu cuma serangkaian pilihan-pilihan saja?

Bagiku, ulang tahun sebenarnya tak beda jauh dengan hari-hari yang lain. Yang berbeda cuma satu bahwa aku makin tua. Jatah hidup makin berkurang. Ibarat kita punya jatah hidup 50 tahun di bumi ini. Tiap tahun kita dikurangi jatah hidup itu. Jadi sebetulnya yang tepat menurutku bukan selamat ulang tahun, tapi selamat memperingati hari lahir. Supaya kita selalu ingat bahwa hidup kita makin singkat dan berkurang. Selamat memperingati hari lahir untuk diriku sendiri.

Friday, June 20, 2008

Bubur Istana

Hari itu, seperti hari-hari lain aku menunaikan tugas seperti biasa. Pagi-pagi benar sudah harus sampai kantor karena ada acara Bike to Work bersama SBY jam 7 pagi. Sebenarnya sangat berat harus bangun pagi. Tapi karena tugas apa mau dikata. Bukankah pekerjaan ini memang aku yang mau sendiri. Suruh siapa mau bekerja yang tidak mengenal waktu?

Informasi yang kita dapat, peserta akan dibagi beberapa titik temu. Salah satu titik bundaran HI. Tempat ini memang titik paling strategis seantero Jakarta. Siapa sih yang gak kenal? Saban demo pasti tempat ini menjadi titik favorit. Begitu kami datang, sudah ada beberapa orang yang memarkirkan sepedanya. Wajah ceria tampak diiringi gelak celoteh diantara mereka. Mereka masih menunggu beberapa kawan yang akan bergabung. Satu per satu peserta datang, termasuk ketua Bike to Work, Mas Toto Sugito. Ternyata kedatangan Mas Toto membawa keramaian. Di tangan dan kakinya terdapat beberapa luka. Usut punya usut Mas Toto mengalami kecelakaan. Katanya sih nabrak pohon. Nah lho. Mas Toto lain kali, ati-ati ya. He........:) Ketika di bundaran HI ini, aku berpikir, acara besar seperti ini kok gak ada yang liput ya? Apa karena kepagian?

Rombongan akhirnya berangkat juga. Dengan santai namun semangat, mereka menggenjot sepeda masing-masing menuju Monas. Dan ternyata di pelataran Monas, Jl. Merdeka Selatan, SBY sudah menanti. Tentu disini, sudah bejibun wartawan yang nongkrong. "Ternyata aku salah tempat nih" batinku sesal. Bertandem dengan Ibu Ani, SBY tampak bersiap menggenjot sepedanya. Acara hari itu juga diikuti beberapa menteri. Tampak Marie E. Pangestu, Rachmat Witoelar, Purnomo Yusgiantoro, Menpora Adhyaksa Dault, dll. Tak ketinggalan bang kumis, jubir Presiden, Andi Malarangeng. Tak lama setelah berkumpul, SBY pun memimpin rombongan ini menuju istana. Yang pasti jaraknya tak jauhlah. Lha wong sekelabatan mata saja, istana sudah nampak kok dari lokasi rombongan ini. Tapi yang penting suasana dan kampanye untuk irit energi patut diapresiasi. Para pemburu berita, sibuk dengan kamera masing-masing. Tak ketinggalan aku juga. Namun segera setelah SBY mengayuhkan sepedanya, semua bubar berebut naik ke mobil pick up yang sudah dipersiapkan. Dan celakanya aku kurang gesit diantara mereka. Akhirnya tertinggallah diriku. Kecewa pasti, tapi apa mau dikata. Sementara rombongan sudah bergerak, akhirnya aku langkahkah kaki menuju istana bersama beberapa orang yang tertinggal. Yah ternyata ada temannya juga. Gak malu-malui bangetlah kalau gitu. He......

Begitu sampai dipintu masuk istana, ternyata kami tak tertinggal jauh dengan peserta bike to work. Banyak peserta juga yang baru sampai. Kami pun langsung berbaur dengan mereka bersama masuk ke dalam istana. Beberapa pemeriksaan tetap dilakukan walau agak santai. Hingga tiba di pintu pemeriksaan terakhir, seorang penjaga menanyakan identitas istana bagi wartawan. Lalu aku jawab gak ada karena memang sehari-hari, saya tidak bertugas disana. Namun kali ini kami diperbolehkan untuk masuk istana. Uh..........:)

Di dalam istana suasana sangat santai. Beberapa orang tampak berfoto ria. SBY sendiri pun berbaur dengan mereka. Sangat berbeda dengan keseharian yang penuh protokoler. Setelah lepas lelah, Mas Toto memberi sambutan yang diteruskan SBY. "Saya kira banyak yang bisa kita dapatkan karena itu saya telah sampaikan kepada saudara Toto, mari kita buat kegiatan ini lebih reguler dan rutenya lebih panjang, terutama untuk kami. Lebih pagi sedikit supaya tidak mengganggu lalu lintas" ujarnya disambut tepuk tangan komunitas bike to work.

Acara pagi itu dilanjutkan dengan penyerahan satu bingkai foto bergambar SPBU dengan tangki berbentuk galon air. Segera setelahnya, peserta bike to work menyerbu beberapa gerobak makan yang sudah disediakan SBY. Ada lontong sayur, ada pula bubur ayam. Dan akhirnya aku memutuskan memilih bubur ayam untuk mengurangi kesemrawutan pagi itu. Untung ada bubur istana. Jalan kaki monas-istana terbayar sudah. Hah!

Thursday, June 19, 2008

RENCANA BESAR

by Padi (Tak Hanya Diam)

Bisakah ku singgah dihatimu
Berharap sebentuk tempat yang tulus
Sesuatu yang kupercaya
Ada tersimpan disana

Terlalu lama aku harus terdiam
Atau mungkin ku tak percaya sungguh
Akan kesempatan dan kemungkinan
Yang terjadi nanti

Karna ku yakin ada pintu yang terbuka
Diantara hatiku dan hatimu

Its been years since we've met
And days had gone by
Now its time to make up my mind
And I hope that we can make it to the end

Bila firasat ini memang benar
Memilikimu adalah maksud
Dari sebuah rencana besar
Merubah hidupku

Jikalau aku harus berhitung benar
Akan kemungkinan yang bisa ada
Bilaku bisa memilikimu
Bahagialah aku

Karena ku yakin ada pintu yang terbuka
Diantara hatiku dan hatimu

Its been years since we've met
And days had gone by
Now its time to make up my mind
And I hope that we can make it to the end

Its been years since we ve met
And days had gone by
Now its the time to make up my mind
Oh...May be I could nev er have you in my life

(Perkenankanlah aku singgah dihatimu
Berharap sebentuk tempat yang tulus
Sesuatu yang kupercaya
Ada tersimpan disana)


Note: Lagu ini menurutku mantap banget. Minimal bisa bikin goyang kaki & kepala. Kalau gak percaya cari aja deh mp3-nya. Dijamin gak cukup dengar sekali.
Time to make up my mind. Rasanya itu yang perlu aku lakukan sekarang ini.!!