Monday, June 16, 2008

Kungfu Panda: Panda yang bikin Terpingkal!

"Mau nonton Kungfu Panda gak" begitu seru seorang teman diujung sana. Tanpa pikir panjang aku pun mengiyakan saja. Padahal aku gak tahu sebelumnya tentang film ini. Aku bukan maniak nonton film. Sesaat, seorang teman diujung telpon bilang, "elu gila ya masak nonton film kartun, untung gua hari ini ke Solo, jadi gak bisa ikut". Entah betulan mempertanyakan film kartun yang aku akan tonton atau perasaan iri saja karena tidak bisa nonton bareng. Ha.....:)
Bioskop malam itu ternyata sudah penuh sesak. Tak ada bangku tersisa. Semua umur lumer jadi satu. Ada anak kecil juga orang tua. Yah artinya aku bukan termasuk barisan orang yang nonton tak sesuai umur.

Po (Jack Black) si Panda adalah anak seorang penjual mie. Melihat Po yang seorang Panda dan ayahnya yang seperti bebek rasanya aneh. Tapi itulah kehebatan film kartun. Suatu hari, ketika tidur Po bermimpi menjadi jagoan Kung Fu. Namun ia takut merealisasikan mimpi ini karena tak mau mengecewakan ayahnya. Sang ayah berharap Po menjadi generasi penerus penjual mie tulen. Kesempatan tak datang dua kali. Mungkin itu yang ada di benak Po, ketika sebuah perguruan Kungfu ternama mencari pendekar naga. Ia ingin mengikuti audisi itu. Namun untuk mengelabui sang ayah, ia turut serta membawa gerobak mie ayahnya dengan alasan akan berjualan di dekat tempat audisi itu. Namun karena perguruan kungfu terletak di atas gunung, Po pun kesulitan mengangkut gerobak ayahnya. Ke pucuk gunung dengan membawa diri yang super besar saja ia kerepotan. Akhirnya gerobak ditinggal. Dengan berbagai cara dan usaha ia akhirnya sampai di tempat audisi. Sayang, ketika ia akan masuk ke dalam perguruan, ternyata pintu persis baru saja ditutup. Kecewalah si Po. Dengan seribu akal, Po berusaha masuk ke dalam, salah satunya dengan menaiki pohon dan menaiki balon udara sederhana. Cara kedua inilah yang akhirnya menuntun dia ke dalam perguruan kungfu meski itu pun secara kebetulan, khas film kartun. Ketika seorang Shifu (kepala perguruan) akan mengumumkan siapa yang akan menjadi pendekar naga, tiba-tiba tubuh tambun Po terhempas di singgasana bagi pendekar naga. Dan akhirnya Po dinobatkan sebagai pendekar naga. Dia pun masih belum menyadari hal ini. Sementara proses penobatan ini tentu membuat berang Furious Five, yang selama ini digadang-gadang sebagai calon pendekar naga. Mereka adalah Tigress, Monkey, Mantis, Viper, dan Crane. Pertemuan dan pertemanan mereka pun tak pernah akur. Po dianggap tak layak menjadi pendekar naga untuk mengalahkan Tai Lung, mantan murid perguruan itu yang tamak hingga akhirnya dijebloskan ke penjara.

Di dalam penjara, ternyata Tai Lung berhasil kabur dan menuntut balas dendam ke perguruan. Disisi lain, tubuh gendut, jalan yang lamban, dan seabreg kekurangan Po membuat dirinya tak percaya diri belajar kungfu. Bahkan Master Shifu sempat meragukannya. Namun ketika Master Oogway meninggal, Master Shifu tak punya pilihan lain untuk terus melatih Po. Ia melatih Po dengan makanan, mengingat Po memang suka sekali makan. Dan seiring berjalan waktu, cara ini berhasil. Tubuh gendutnya tak lagi halangan untuk bergerak membuat jurus kungfu.

Hingga akhirnya Tai Lung datang balas dendam.
Furious Five tak berhasil membendung Tai Lung. Termasuk Master Shifu. Melihat hal ini, Po tak tinggal diam. Awalnya Tai Lung menganggap remeh Po. Namun dengan hasil kerja keras latihannya selama ini akhirnya mampu mengalahkan Tai Lung. Po pun akhirnya dinobatkan sebagai pendekar naga sejati oleh rakyat sekitar perguruan. Ayahnya yang semula tak suka Po berlatih kungfu pun akhirnya menerima dan tentunya bangga dengan anak tambunnya.

Kungfu Panda mengingatkan aku dengan The Cars. Film kartun serupa yang tak kalah seru. Efek grafis yang membahana membuat decak kagum plus tertawa terbahak sepanjang film diputar. Film ini juga sarat makna. Bahwa tubuh tambun tak harus menjadi halangan untuk maju.

Sunday, June 15, 2008

Lagi Lagi Perempuan

Naiknya harga BBM membuat pusing banyak pihak. Dan pihak yang paling pening kepalanya sapa lagi kalau bukan ibu-ibu rumah tangga. Mereka harus berjibaku mengatur keuangan keluarga. Sebenarnya jauh hari sebelum BBM naik, mereka pasti sudah "ahli" bagaimana memilah kebutuhan yang harus dipenuhi dengan uang yang selalu mepet. Itu pula yang dilakukan Ibu Eni dan Ibu Rohmani. Mereka tinggal berhimpitan di pemukiman padat tak jauh dari terminal Pulo Gadung. Ibu Eni tinggal bersama 2 orang anak yang masih bersekolah, namun suaminya tak bekerja hingga kini karena PHK beberapa tahun silam. Keluarga yang berasal dari Sukoharjo, Solo ini mengontrak sepetak rumah seharga 400.000 per bulan. Sehari-hari Ibu Eni berdagang apa saja. "Yang penting halal Mas" ujarnya suatu ketika. Awalnya Ibu Eni menjadi Yakult Lady, penjual minuman Yakult keliling. Maksud hati ingin menambah pemasukan dengan menambah barang yang di jual, namun pihak Yakult tidak mengijinkan. Akibatnya pemberhentian pun dilakukan. Sebab memang aturannya tidak boleh menjual barang lain selain Yakult. Terpaksa, Ibu Eni mencari akal lain. Bagian konsumsi hajatan kelurahan selalu diembannya. Harapan tentu ada sedikit pemasukan dari sini. Seperti hari itu kami mengikuti Ibu Eni memesan sejumlah kue untuk acara di kelurahan. "Kalau tidak begini, anak-anak tidak bisa sekolah Mas" ungkap Ibu yang juga aktif di Komisi Perempuan Indonesia ini.

Hal serupa juga dilakukan Ibu Rohmani. Wanita asli Betawi ini telah menjanda dengan anak-anak yang sudah besar. Ndut, demikian biasa wanita berbadan besar ini di sapa. Meski memiliki rumah sendiri peninggalan orang tuanya, dengan beberapa kamar kontrakan, namun ia tak berpangku tangan. Setidaknya sudah tahunan ia menjalani sebagai seorang Yakult Lady. Pembawaan yang ceplas ceplos memudahkan ia menjaring beberapa konsumen. Seperti hari itu, ketika kami mengikutinya. Dalam sekejap beberapa botol kecil Yakult telah berpindah tangan. Bahkan ada seorang ibu yang gigit jari karena tidak kebagian. "Nanti saya datang lagi kok Bu" demikian hiburnya.

Apa yang dilakukan Ibu-ibu ini mengingatkan saya dengan Ibu di rumah. Sejak Bapak meninggal, Ibulah yang membanting tulang membesarkan kami berlima. Prinsip Ibu waktu itu cuma satu: kerja, kerja, dan kerja. Anak-anaknya tak satupun yang tidak diperbolehkan nganggur, apalagi bermain. Harap maklum, jika kami kurang banyak teman bermain. Sebab masa kecil kami, hanya diisi dengan bekerja. Mainanku cuma satu kala itu: sepak bola.

Di keluarga kami semua sudah ada jatah kerjanya. Ada yang ambil kayu, memasak, menggembala kambing, dan tentu juga membantu membuat tape singkong. Dari jenis tapioka inilah Ibu mempertahankan ekonomi keluarga, juga berhasil mengentaskan pendidikan kami. Urusan pendidikan memang tak pernah ditinggalkan Ibu. Setiap kali ada kartu pembayaran SPP datang, setiap itu pula, SPP segera dilunasi. Bahkan sampai satu tahun ajaran. Selain itu juga, jika ada buku pelajaran yang harus dibeli, Ibu segera meminta kami untuk memberi catatan untuk diberikan kepada penjual buku pelajaran tak jauh dari tempat berdagangnya di emperan pasar. Dan hari itu pula biasanya kami sudah memegang buku pelajaran yang diminta ibu guru. Meski berpeluh, tapi itu semua patut kami syukuri kini. Sebab hingga sekarang keluarga kami baik-baik saja. Ibu sudah kami minta untuk "pensiun". Biarlah kami yang menggantikannya.

Ibu Eni, Ibu Rohmani mungkin contoh umum masyarakat pinggiran dalam menyiasati melambungnya harga-harga. Walau tak jarang banyak pula yang akhirnya tergilas dalam perubahan ini dan menyerah terhadap keadaan. Namun rasa optimis harus terus ditumbuhkan. Rasa bahwa masih ada harapan tersisa dari situasi yang sulit inilah yang menjadi semangat untuk terus bertahan dan berjuang.


Thursday, June 12, 2008

May

May. Singkat. Itulah judul film yang terpampang. Diliputi rasa penasaran, aku cari infonya di internet. Info singkat yang aku dapat bahwa May merupakan kisah cinta dengan latar belakang kesaksian atas peristiwa yang merupakan catatan kelam bangsa Indonesia yaitu Peristiwa Mei 98. May menggambarkan bagaimana cinta antara tokoh Antares yang pribumi dan May yang warga keturunan harus berpisah dan hancur lebur karena peristiwa sosial yang terjadi, termasuk memisahkan orang-orang sekitar mereka. Namun demikian May juga menampilkan upaya penyembuhan luka dan pemaafan melalui cinta.

Sayang karena agak terlambat, aku tidak mengikuti pemutaran film ini dari awal. Alur maju mundur terlihat jelas di film ini. Angle dokumenter terasa sekali dalam proses pengambilan gambar film ini. Sangat memanjakan indra penglihatan kita. Maklum DOP film ini adalah seorang dokumentaris, Ical Tanjung yang memang sudah malang melintang di jagad dokumenter.

Melihat film ini awalnya saya berharap dapat melihat "rekonstruksi" utuh tentang kejadian 10 tahun silam. Maklum, saya termasuk yang melihat langsung sejarah kelam itu. Namun harapan tinggal harapan karena ini hanyalah sebuah film semata. Adegan kerusuhan, penjarahan, kebringasan 10 tahun silam tak terekam jelas. Hanya simbol-simbol saja yang berbicara. Itu pun tak tuntas sekali. Yang ada hanya samar-samar saja. Padahal dalam benak saya, justru bagian ini yang harusnya menjadi titik perhatian dalam film ini. Namun lepas dari itu semua, dramaturgi cerita film ini patut diacungi jempol. Akting Jenny Chang yang memerankan May menurut saya sangat baik. Dia mampu memerankan dua tokoh di beda jaman dengan baik, meski tidak bisa dikatakan terlalu baik. Kecentilan vs kedewasaan inilah yang menjadi kontradiksi peran May. Dia yang selalu manja dengan Antares sepuluh tahun silam berbanding terbalik dengan kondisi dia kini yang harus tumbuh sendiri tercerai berai dengan masa lalu, anak yang tak dikehendaki, juga terpisah dengan Cik Bing (ibunya) sendiri. Sayangnya, bagi saya kisah cinta May & Antares terasa sangat datar. Kisah manusia yang berbeda mungkin akan menarik jika disertai pertentangan orang tua yang memang biasa terjadi. Bagaimana perjuangan mereka dalam mewujudkan cinta itu akan menarik kalau dieksplor lebih lanjut. Mungkin karena urusan durasi, sehingga point ini kurang tergarap. Sementara itu, akting yang kurang maksimal justru datang dari Yama Carlos (Antares), pacar May. Kurang maksimal. Selebihnya akting aktris pendukung seperti Ria Irawan, Lukman Sardi, Niniek L Karim mampu menutupi kekurangan-kekurangan sebagai mana terjadi pada sebuah produksi film. Namun dari sekian banyak peran, menurut saya, justru peran Lukman Sardi yang harus diapresiasi. Dia mampu berperan sebagai orang Jawa yang patuh dan memiliki prinsip, juga memiliki hati nurani. Meski sukses, tapi karena diliputi perasaan bersalah karena telah menggadaikan sertifikat rumah Cing Bing (ketika Cing Bing mau meloloskan diri ke luar negeri), ia mati-matian berjuang, termasuk menanggung malu keluarganya sendiri demi mengobati perasaan bersalahnya kepada keluarga Cik Bing. Baginya, hidup sederhana tak memiliki beban nurani jauh lebih bermartabat daripada hidup kaya raya namun di atas derita orang. Point ini yang menurut saya kejelian penulis cerita film ini. Sebuah nilai yang patut dilihat dan diteladani punggawa negara kita yang masih jauh dari "nurani" ini.

Meski ending film ini terasa kurang menggigit, namun tontonan malam itu benar-benar sarat makna. Meski pula yang melihat malam itu bisa dihitung dengan jari, namun saya yakin mereka yang pulang ke rumah pasti membawa sesuatu. Seonggok sejarah kelam bangsa yang jangan sampai terjadi lagi!


Monday, June 9, 2008

Pancasila Sakti vs Pancasila Sakit

Silang sengkarut sosial kemasyarakatan akhir-akhir ini merajalela. Aksi kekerasan di balas kekerasan. Aksi saling menantang mengemuka di bumi pertiwi. Dengan menggandang ayat-ayat agama, orang dengan lantang memberi pentungan kepada sesama, hanya karena perbedaan sikap. Seolah negeri ini tanpa komando, tanpa pemimpin. Barbar. Yang ada cuma hukum rimba saja.

Padahal jauh hari, negeri ini dibangun atas dasar kebhinekkaan. Berbeda-beda tapi satu jua katanya. Ideologi adi luhung itu terasa hambar kini. Asam. Semua tak dipakai lagi. Semua bertindak atas kehendak sendiri. Tak ada lagi beda yang satu itu. Tak ada lagi aneka yang satu itu. Bahkan dalam sebuah peringatan hari lahir Pancasila beberapa waktu lalu, sebuah spanduk menggambarkan gambar burung Garuda sedang tertusuk tombak dan berlumuran darah. Ini pertanda bahwa Pancasila memang sedang sakit. Pancasila tak lagi dipandang sebagai ideologi bersama, namun kini masing-masing kelompok memiliki ideologi sendiri-sendiri. Ideologi yang terkadang dibenturkan dan dipaksakan kepada kelompok lain yang bersebrangan. Ideologi yang berbeda tak lagi dimaknai sebagai sebuah kekayaan, bukan lagi sebagai aset bangsa, namun dilihat sebagai musuh meski itu bangsa kita sendiri. Bahkan seorang teman beberapa kali mengatakan, sekarang ini sebenarnya kita masih terjajah. Bukan saja terjajah dengan bangsa asing, lewat liberalisasi dan globalisasi, namun juga kita terjajah oleh bangsa kita sendiri.

Entah dengan siapa lagi kita berharap negara hukum ini ditegakkan. Sementara pemerintah terkesan lamban dalam bersikap. Terlalu hati-hati. Hingga akhirnya bukannya menyelesaikan masalah, justru malah menambahi masalah. Persoalan kekerasan misalnya, tindak tanduk polisi sebagai petugas keamanan terdepan pun masih jauh dari mottonya. Pelindung dan pengayom masyarakat. Beberapa memang ada tindakan tegas, namun itu masih belum mencerminkan aparat "formal" negeri ini. Yang digaji dan difasilitasi rakyat. Namun yang cepat tanggap justru aparat "informal" yang justru hanya berkelakuan sesuai pesanan saja. Aparat "informal" inilah yang terkadang makin memperkeruh suasana. Bukankah aparat "formal" harusnya menindak aparat "informal" ini? Karena secara hukum mereka ilegal karena membawa pentungan dan kelewang kemana-mana? Bukankah UU mengatakan siapapun yang membawa senjata tajam dan membahayakan harus ditangkap?

Atas desakan semua pihak, akhirnya Pak BY pun bersuara. Ia mengatakan bahwa negara tidak boleh kalah dengan kekerasan. Ini perlu diacungi jempol. Tinggal kita lihat dan tunggu aksi nyata dari pernyataan kepala negara ini. Negara hukum yang digadang-gadang Pancasila kini sudah ditinggalkan penganutnya. Jangan-jangan Pancasila sekarang memang sudah sakit sehingga kehilangan kesaktiannya, seperti yang dikemukakan alm. Harry Rusli:
Garuda Pancasila, aku lelah mendukungmu
Patriot sudah habis
Tidak bersedia berkorban untukmu
Pancasila dasarnya apa?
Rakyat adil makmurnya kapan?
Pribadi bangsaku tidak maju maju, tidak maju maju, tidak maju maju

Thursday, June 5, 2008

Demokrasi, Demonstrasi, Democrazy

Sekian lama dibumpat, akhirnya era itu datang juga. Sejak kran kebebasan dibuka Habibie, masyarakat bebas menumpahkan segala unek, aspirasi, dan kehendak. Hanya saja kata Buya Syafiie Maafif, kran itu terlalu lebar dibuka. Sehingga yang ada ya seperti sekarang ini terjadi. Dimana orang dengan bebas sesuka hati memotong hak orang lain tanpa beradab. Menghantam pihak yang berseberangan dengan pentungan seperti tragedi Monas minggu silam. Itu dilakukan kelompok yang mengatasnamakan pembela agama. Padahal agama mana sih yang menghalalkan kekerasan atas alasan apapun? "Boleh saja berbeda pendapat dan argumen, tapi yang dewasa dong"begitu kelakar teman suatu sore. Benar juga. Jika melihat yang terjadi sekarang, otak tak lagi dipakai sebagian orang untuk menyampaikan aspirasinya. Yang digunakan cuma otot dan okol. Yang penting apa yang diinginkan terpenuhi. Persetan dengan hak orang lain yang tercarut. Ini kan alam demokrasi, jadi bebas sesuka hati. Boleh bebas, tapi apa boleh bebas juga menginjak-injak orang yang berseberangan pikiran dan pendapat?

Alam bebas itu kini dimaknai dengan demonstrasi. Unjuk rasa biasanya identik dengan demontrasi. Demo itulah yang belakangan kerap terjadi. Bahkan intensitasnya ada tiap hari. Lihat saja TV kita. Tiap hari pasti selalu disuguhi berita demontrasi dengan berbagai sebab. Gaji yang tak dibayar, hak yang terampas, dan seabreg ketidakadilan disana.
Prinsipnya demo atau unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak yang merugikan. Namun tak jarang unjuk rasa dan demonstrasi dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu dengan tujuan tertentu pula. Ringkasnya sesuai pesananlah. Jadi kelompok ini berunjuk rasa tergantung siapa yang bayar, walau tak paham betul apa yang diunjukrasakan. Maklum jaman sekarang cari pekerjaan susah. Bahkan Pram dalam salah satu tulisan mengatakan "orang Melayu itu kalau berjuang cuma sampai perut." Artinya, kalau perut sudah terisi, maka kekritisan hilang dengan sendirinya. Itu pula yang menghiasi wajah-wajah demontran kita. Meski tak semua begitu. Tapi begitulah yang terjadi.

Bang kumis, Andi Malarangeng mengatakan bahwa demonstrasi adalah bunga-bunga demokrasi. "Silahkan berdialog, berargumen, tapi jangan anarkis"pintanya.
Memang benar adanya bahwa demonstrasi merupakan hal lumrah dalam alam demokrasi. Terlebih ketika parlemen tak memiliki daya dan tenaga dalam mengatasi aspirasi yang berkembang. Sehingga, demonstrasi biasa disebut sebagai "parlemen jalanan". Tapi justru dari parlemen jalanan inilah, biasanya kekuatan massa terbentuk untuk membuat perubahan yang lebih besar. Jika melihat peristiwa 98 justru disinilah titik pijak perubahan bangsa ini dimulai, bukan dari dalam parlemen yang kala itu menjadi "hamba" penguasa saja.

Disisi lain, tak bisa dipungkiri, peran media begitu besar dalam mendorong terjadinya demokrasi ini. Sayangnya, media hanya men-cover hal yang bombastis dan sensasional saja dari proses demokrasi ini. Ini terbukti dari ucapan seorang wartawan 9 tahun silam ketika saya masih menyandang status mahasiswa. Ia mengatakan kalian percuma saja teriak-teriak. Akan seru kalau ada bentrokan. Itu baru berita. Ini kan kacau balau. Justru yang memprovokasi terkadang wartawan itu sendiri. Bahkan grup media besar, membuat dua koran yang saling bertentangan di Ambon. Ini bukti kecil dari sekian ribu andil media dalam memprovokasi proses demokrasi yang akhirnya sering berujung anarki. Padahal jauh hari jurnalisme damai digembar-gemborkan. Ide ini muncul ditengah berkecamuknya media yang selalu berdarah-darah (kekerasaan). Hingga kini idealime jurnalisme yang santun masih terus diperjuangkan. Sebab idealisme ini kurang mendapat porsi yang lebih dalam media ditengah persaingan media yang makin bebas. Memang tak ada hukum yang melarang media untuk mengekpos tindak kekerasan. Bad news is good news. Itulah pedoman dasar yang dipakai pemilik media. Atas nama oplah dan rating, mereka memburu berita apapun tanpa pernah mau berpikir terhadap eksesnya. Yang penting oplah dan rating naik. Habis perkara. Tak peduli berita itu berdarah-darah dan menitikkan air mata kesedihan, yang penting oplah dan rating berlipat-lipat. Jika sudah begitu, kuncinya cuma satu: diperlukan kecerdasan masyarakat dalam memaknai berita media dalam arus deras demokrasi sekarang ini. Jangan hanya melihat permukaannya saja. Jika tidak maka demonstrasi akan menjadi democrazy yang disertai anarki.

Monday, June 2, 2008

BLT vs BKM

Sempat menuai protes dari segara penjuru, pemerintah tetap berkeras menaikkan harga BBM. Alasannya sederhana; harga minyak dunia makin melejit, APBN menipis. Pertanyaannya kemudian, jika harga minyak tak terkendali begini, apakah pemerintah akan terus menaikkan BBM? Pemerintah berdalih subsidi BBM selama ini hanya dinikmati oleh kaum mampu. Padahal efek domino dari kenaikan BBM ini otomatis akan berlangsung. Barang-barang pasti akan melejit. Untuk "membantu" warga miskin, pemerintah menurunkan BLT, bantuan langsung tunai, sebesar 100rb untuk sebulan. BLT pun nasibnya sama dengan BBM. Sama-sama diprotes oleh banyak kalangan, termasuk perangkat desa yang tergabung dalam Parade Nusantara. Mereka menilai bahwa selain tidak dilibatkan dalam pembagian BLT ini, padahal merekalah yang paling mengetahui data siapa-siapa saja kelompok yang paling membutuhkan. Jika demikian, pemerintah dapat data itu darimana? BLT memang membantu bagi rakyat miskin. Tapi itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Sebab BLT akan habis masa berlakunya. Sementara beban rakyat akibat kenaikan BBM tak akan ada batas berlakunya.

Kelompok terbesar yang menentang keras kenaikan BBM adalah kaum mahasiswa. Jatuh korban pun tak terelakkan ketika aksi mahasiswa ditanggapi dengan pentungan aparat seperti yang terjadi di Unas beberapa waktu lalu. Aksi ini menyulut api besar demonstrasi anti kenaikan BBM di beberapa wilayah lainnya. Hari-hari mahasiswa dipenuhi dengan aksi ini. Mahasiswa sebagai agen perubahan sosial tentu paham betul dengan penderitaan rakyat. Untuk itu aksi ini diambil semata-mata beban rakyat yang pasti makin berat jika harga BBM naik.

Dari dalam istana, SBY mencanangkan ada perlunya mahasiswa juga diberikan bantuan. Dan program bantuan khusus mahasiswa (BKM) pun dilakukan. Semangat untuk membantu/mensejahterakan rakyat, dalam hal ini mahasiswa sih patut diberi apresiasi. Sayangnya BKM dilakukan ditengah berkecamuknya demonstrasi mahasiswa menentang kenaikan BBM pemerintah. BKM pun tak luput dari sasaran protes. Walau ada yang mendukung, tapi lebih banyak yang melihat sebagai mudaratnya. Alih-alih membantu mahasiswa, bantuan ini diindikasikan sebagai upaya pemerintah saja dalam menekan daya kritis mahasiswa belakangan ini.

Fajroel Rachman dalam Kompas bahkan dengan lantang mengatakan bahwa BKM adalah suap terhadap daya kritis mahasiswa. Pertanyaannya apakah daya kritis mahasiswa akan mandul karena BKM ini? Kita memang tidak perlu skeptis dengan program ini, tapi jika tidak mengapa program ini diterbitkan ketika mahasiswa ramai turun ke jalan? Jangan-jangan sinyalemen bahwa
BKM ini sebagai "suap" kepada mahasiswa benar adanya?! Silahkan "nurani" mahasiswa bersuara.

FPI = Front Preman Indonesia?

Minggu sore yang tenang berubah menjadi gelisah kacau begitu melihat berita di salah satu TV swasta. FPI lagi-lagi membawa berita. Sudah seperti biasa, bukan aksi simpatik, tapi aksi antipatik. Aksi penyerangan lagi-lagi menjadi "berita" setiap kali FPI naik menjadi bintang. Kali ini yang menjadi ketika beberapa orang dari aliansi kebangsaan untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan (AKK-BB) terluka diserang massa yang memakai atribut FPI. Hari itu rencananya aksi damai ini akan berjalan dari Monas menuju Bunderan HI. Namun aksi ini batal karena penyerangan itu. Banyak korban luka akibat aksi preman jalanan ini.

Jubir FPI mengatakan bahwa aksi penyerangan ini dilakukan karena massa dari berbagai ormas pluralisme ini ingin mendukung eksistensi Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah jelas-jelas sudah dibubarkan melalui Bakor Pakem. Namun disisi lain, SKB Ahmadiyah dari pemerintah melalui tiga menteri hingga kini tak kunjung ada. Baginya tak ada lagi negosiasi dengan eksistensi Ahmadiyah. Ahmadiyah katanya adalah organisasi kriminal. Jadi apapun yang dilakukan harus ditumpas. Yang disebut kriminal itu apa sih? Bukankah kriminal itu adalah sebutan bagi mereka yang melakukan perusakan, penghancuran, bertindak kriminil. Ini kata bung wikipedia:seorang kriminal adalah seseorang yang melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak kejahatan. Perbuatannya disebut kriminalitas atau tindak kriminal. Biasanya yang dianggap kriminal adalah seorang maling atau pencuri, pembunuh, perampok. Dari terjemahan bebas arti kriminal ini saja, FPI sudah salah mengartikan. Sementara Ahmadiyah tak pernah kedengaran melakukan perusakan dan kekerasan terhadap orang lain, juga tidak pernah merusak fasilitas umum dan mengganggu milik pribadi dengan dalih memberantas judi dan maksiat. Ahmadiyah yang terdengar adalah kelompok yang cinta akan kedamaian. Bahkan ketika terjadi penyerangan dan pembakaran mesjid Ahmadiyah di beberapa wilayah di tanah air, massa Ahmadiyah tak pernah sekalipun terdengar membalasnya. Terakhir malah terdengar untuk memperingati hari kebangkitan nasional mereka menggelar berbagai donor darah dan pengobatan bagi rakyat miskin. Jadi siapa lebih yang kriminil?

Walau desakan dari banyak tokoh dan organisasi mengemuka untuk membubarkan FPI dan ormas sejenis, namun hingga kini pemerintah tak bergeming. Entah apa alasannya. Padahal jelas-jelas, tak ada gunanya keberadaan mereka, kecuali kekacauan dan ketidaknyamanan di berbagai penjuru negeri ini. ketika negara tidak mampu melindungi rakyatnya dari kekerasan akibat perbedaan sikap dan pendapat, artinya negara sudah gagal menjalankan fungsinya. Mengutip seorang kawan: ketika kekacauan sudah merebak itu artinya pertanda demokrasi telah mati. Belajar dari kasus kemarin, (tidak adanya aparat keamanan yang memadai) ketika aksi itu berlangsung, makin memperkuat kegagalan pemerintah melindungi rakyatnya. Lantas apa yang bisa diharap dari pemerintah kalau begitu?

Yang membuat sesak dada adalah kekerasan ini selalu dan selalu dilabeli dengan nama agama. Agama dipakai sebagai legalisasi kekerasan untuk menindas kelompok lain yang tidak seirama. Padahal kelompok ini juga berasal dari agama tersebut. Lha jika dalam satu agama saja tidak bersahabat bagaimana akan bersahabat dengan kelompok agama lain?
Artinya kebebasan beragama yang digadang-gadang Pancasila butir 1 menyisakan bopengan noda. Noda yang dibuat sendiri oleh mereka yang katanya paling "beragama". Selamat memperingati hari lahir Pancasila yang ternoda.