Sekian lama dibumpat, akhirnya era itu datang juga. Sejak kran kebebasan dibuka Habibie, masyarakat bebas menumpahkan segala unek, aspirasi, dan kehendak. Hanya saja kata Buya Syafiie Maafif, kran itu terlalu lebar dibuka. Sehingga yang ada ya seperti sekarang ini terjadi. Dimana orang dengan bebas sesuka hati memotong hak orang lain tanpa beradab. Menghantam pihak yang berseberangan dengan pentungan seperti tragedi Monas minggu silam. Itu dilakukan kelompok yang mengatasnamakan pembela agama. Padahal agama mana sih yang menghalalkan kekerasan atas alasan apapun? "Boleh saja berbeda pendapat dan argumen, tapi yang dewasa dong"begitu kelakar teman suatu sore. Benar juga. Jika melihat yang terjadi sekarang, otak tak lagi dipakai sebagian orang untuk menyampaikan aspirasinya. Yang digunakan cuma otot dan okol. Yang penting apa yang diinginkan terpenuhi. Persetan dengan hak orang lain yang tercarut. Ini kan alam demokrasi, jadi bebas sesuka hati. Boleh bebas, tapi apa boleh bebas juga menginjak-injak orang yang berseberangan pikiran dan pendapat?
Alam bebas itu kini dimaknai dengan demonstrasi. Unjuk rasa biasanya identik dengan demontrasi. Demo itulah yang belakangan kerap terjadi. Bahkan intensitasnya ada tiap hari. Lihat saja TV kita. Tiap hari pasti selalu disuguhi berita demontrasi dengan berbagai sebab. Gaji yang tak dibayar, hak yang terampas, dan seabreg ketidakadilan disana. Prinsipnya demo atau unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak yang merugikan. Namun tak jarang unjuk rasa dan demonstrasi dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu dengan tujuan tertentu pula. Ringkasnya sesuai pesananlah. Jadi kelompok ini berunjuk rasa tergantung siapa yang bayar, walau tak paham betul apa yang diunjukrasakan. Maklum jaman sekarang cari pekerjaan susah. Bahkan Pram dalam salah satu tulisan mengatakan "orang Melayu itu kalau berjuang cuma sampai perut." Artinya, kalau perut sudah terisi, maka kekritisan hilang dengan sendirinya. Itu pula yang menghiasi wajah-wajah demontran kita. Meski tak semua begitu. Tapi begitulah yang terjadi.
Bang kumis, Andi Malarangeng mengatakan bahwa demonstrasi adalah bunga-bunga demokrasi. "Silahkan berdialog, berargumen, tapi jangan anarkis"pintanya. Memang benar adanya bahwa demonstrasi merupakan hal lumrah dalam alam demokrasi. Terlebih ketika parlemen tak memiliki daya dan tenaga dalam mengatasi aspirasi yang berkembang. Sehingga, demonstrasi biasa disebut sebagai "parlemen jalanan". Tapi justru dari parlemen jalanan inilah, biasanya kekuatan massa terbentuk untuk membuat perubahan yang lebih besar. Jika melihat peristiwa 98 justru disinilah titik pijak perubahan bangsa ini dimulai, bukan dari dalam parlemen yang kala itu menjadi "hamba" penguasa saja.
Disisi lain, tak bisa dipungkiri, peran media begitu besar dalam mendorong terjadinya demokrasi ini. Sayangnya, media hanya men-cover hal yang bombastis dan sensasional saja dari proses demokrasi ini. Ini terbukti dari ucapan seorang wartawan 9 tahun silam ketika saya masih menyandang status mahasiswa. Ia mengatakan kalian percuma saja teriak-teriak. Akan seru kalau ada bentrokan. Itu baru berita. Ini kan kacau balau. Justru yang memprovokasi terkadang wartawan itu sendiri. Bahkan grup media besar, membuat dua koran yang saling bertentangan di Ambon. Ini bukti kecil dari sekian ribu andil media dalam memprovokasi proses demokrasi yang akhirnya sering berujung anarki. Padahal jauh hari jurnalisme damai digembar-gemborkan. Ide ini muncul ditengah berkecamuknya media yang selalu berdarah-darah (kekerasaan). Hingga kini idealime jurnalisme yang santun masih terus diperjuangkan. Sebab idealisme ini kurang mendapat porsi yang lebih dalam media ditengah persaingan media yang makin bebas. Memang tak ada hukum yang melarang media untuk mengekpos tindak kekerasan. Bad news is good news. Itulah pedoman dasar yang dipakai pemilik media. Atas nama oplah dan rating, mereka memburu berita apapun tanpa pernah mau berpikir terhadap eksesnya. Yang penting oplah dan rating naik. Habis perkara. Tak peduli berita itu berdarah-darah dan menitikkan air mata kesedihan, yang penting oplah dan rating berlipat-lipat. Jika sudah begitu, kuncinya cuma satu: diperlukan kecerdasan masyarakat dalam memaknai berita media dalam arus deras demokrasi sekarang ini. Jangan hanya melihat permukaannya saja. Jika tidak maka demonstrasi akan menjadi democrazy yang disertai anarki.
Thursday, June 5, 2008
Monday, June 2, 2008
BLT vs BKM
Sempat menuai protes dari segara penjuru, pemerintah tetap berkeras menaikkan harga BBM. Alasannya sederhana; harga minyak dunia makin melejit, APBN menipis. Pertanyaannya kemudian, jika harga minyak tak terkendali begini, apakah pemerintah akan terus menaikkan BBM? Pemerintah berdalih subsidi BBM selama ini hanya dinikmati oleh kaum mampu. Padahal efek domino dari kenaikan BBM ini otomatis akan berlangsung. Barang-barang pasti akan melejit. Untuk "membantu" warga miskin, pemerintah menurunkan BLT, bantuan langsung tunai, sebesar 100rb untuk sebulan. BLT pun nasibnya sama dengan BBM. Sama-sama diprotes oleh banyak kalangan, termasuk perangkat desa yang tergabung dalam Parade Nusantara. Mereka menilai bahwa selain tidak dilibatkan dalam pembagian BLT ini, padahal merekalah yang paling mengetahui data siapa-siapa saja kelompok yang paling membutuhkan. Jika demikian, pemerintah dapat data itu darimana? BLT memang membantu bagi rakyat miskin. Tapi itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Sebab BLT akan habis masa berlakunya. Sementara beban rakyat akibat kenaikan BBM tak akan ada batas berlakunya.
Kelompok terbesar yang menentang keras kenaikan BBM adalah kaum mahasiswa. Jatuh korban pun tak terelakkan ketika aksi mahasiswa ditanggapi dengan pentungan aparat seperti yang terjadi di Unas beberapa waktu lalu. Aksi ini menyulut api besar demonstrasi anti kenaikan BBM di beberapa wilayah lainnya. Hari-hari mahasiswa dipenuhi dengan aksi ini. Mahasiswa sebagai agen perubahan sosial tentu paham betul dengan penderitaan rakyat. Untuk itu aksi ini diambil semata-mata beban rakyat yang pasti makin berat jika harga BBM naik.
Dari dalam istana, SBY mencanangkan ada perlunya mahasiswa juga diberikan bantuan. Dan program bantuan khusus mahasiswa (BKM) pun dilakukan. Semangat untuk membantu/mensejahterakan rakyat, dalam hal ini mahasiswa sih patut diberi apresiasi. Sayangnya BKM dilakukan ditengah berkecamuknya demonstrasi mahasiswa menentang kenaikan BBM pemerintah. BKM pun tak luput dari sasaran protes. Walau ada yang mendukung, tapi lebih banyak yang melihat sebagai mudaratnya. Alih-alih membantu mahasiswa, bantuan ini diindikasikan sebagai upaya pemerintah saja dalam menekan daya kritis mahasiswa belakangan ini.
Fajroel Rachman dalam Kompas bahkan dengan lantang mengatakan bahwa BKM adalah suap terhadap daya kritis mahasiswa. Pertanyaannya apakah daya kritis mahasiswa akan mandul karena BKM ini? Kita memang tidak perlu skeptis dengan program ini, tapi jika tidak mengapa program ini diterbitkan ketika mahasiswa ramai turun ke jalan? Jangan-jangan sinyalemen bahwa BKM ini sebagai "suap" kepada mahasiswa benar adanya?! Silahkan "nurani" mahasiswa bersuara.
Kelompok terbesar yang menentang keras kenaikan BBM adalah kaum mahasiswa. Jatuh korban pun tak terelakkan ketika aksi mahasiswa ditanggapi dengan pentungan aparat seperti yang terjadi di Unas beberapa waktu lalu. Aksi ini menyulut api besar demonstrasi anti kenaikan BBM di beberapa wilayah lainnya. Hari-hari mahasiswa dipenuhi dengan aksi ini. Mahasiswa sebagai agen perubahan sosial tentu paham betul dengan penderitaan rakyat. Untuk itu aksi ini diambil semata-mata beban rakyat yang pasti makin berat jika harga BBM naik.
Dari dalam istana, SBY mencanangkan ada perlunya mahasiswa juga diberikan bantuan. Dan program bantuan khusus mahasiswa (BKM) pun dilakukan. Semangat untuk membantu/mensejahterakan rakyat, dalam hal ini mahasiswa sih patut diberi apresiasi. Sayangnya BKM dilakukan ditengah berkecamuknya demonstrasi mahasiswa menentang kenaikan BBM pemerintah. BKM pun tak luput dari sasaran protes. Walau ada yang mendukung, tapi lebih banyak yang melihat sebagai mudaratnya. Alih-alih membantu mahasiswa, bantuan ini diindikasikan sebagai upaya pemerintah saja dalam menekan daya kritis mahasiswa belakangan ini.
Fajroel Rachman dalam Kompas bahkan dengan lantang mengatakan bahwa BKM adalah suap terhadap daya kritis mahasiswa. Pertanyaannya apakah daya kritis mahasiswa akan mandul karena BKM ini? Kita memang tidak perlu skeptis dengan program ini, tapi jika tidak mengapa program ini diterbitkan ketika mahasiswa ramai turun ke jalan? Jangan-jangan sinyalemen bahwa BKM ini sebagai "suap" kepada mahasiswa benar adanya?! Silahkan "nurani" mahasiswa bersuara.
FPI = Front Preman Indonesia?
Minggu sore yang tenang berubah menjadi gelisah kacau begitu melihat berita di salah satu TV swasta. FPI lagi-lagi membawa berita. Sudah seperti biasa, bukan aksi simpatik, tapi aksi antipatik. Aksi penyerangan lagi-lagi menjadi "berita" setiap kali FPI naik menjadi bintang. Kali ini yang menjadi ketika beberapa orang dari aliansi kebangsaan untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan (AKK-BB) terluka diserang massa yang memakai atribut FPI. Hari itu rencananya aksi damai ini akan berjalan dari Monas menuju Bunderan HI. Namun aksi ini batal karena penyerangan itu. Banyak korban luka akibat aksi preman jalanan ini.
Jubir FPI mengatakan bahwa aksi penyerangan ini dilakukan karena massa dari berbagai ormas pluralisme ini ingin mendukung eksistensi Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah jelas-jelas sudah dibubarkan melalui Bakor Pakem. Namun disisi lain, SKB Ahmadiyah dari pemerintah melalui tiga menteri hingga kini tak kunjung ada. Baginya tak ada lagi negosiasi dengan eksistensi Ahmadiyah. Ahmadiyah katanya adalah organisasi kriminal. Jadi apapun yang dilakukan harus ditumpas. Yang disebut kriminal itu apa sih? Bukankah kriminal itu adalah sebutan bagi mereka yang melakukan perusakan, penghancuran, bertindak kriminil. Ini kata bung wikipedia:seorang kriminal adalah seseorang yang melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak kejahatan. Perbuatannya disebut kriminalitas atau tindak kriminal. Biasanya yang dianggap kriminal adalah seorang maling atau pencuri, pembunuh, perampok. Dari terjemahan bebas arti kriminal ini saja, FPI sudah salah mengartikan. Sementara Ahmadiyah tak pernah kedengaran melakukan perusakan dan kekerasan terhadap orang lain, juga tidak pernah merusak fasilitas umum dan mengganggu milik pribadi dengan dalih memberantas judi dan maksiat. Ahmadiyah yang terdengar adalah kelompok yang cinta akan kedamaian. Bahkan ketika terjadi penyerangan dan pembakaran mesjid Ahmadiyah di beberapa wilayah di tanah air, massa Ahmadiyah tak pernah sekalipun terdengar membalasnya. Terakhir malah terdengar untuk memperingati hari kebangkitan nasional mereka menggelar berbagai donor darah dan pengobatan bagi rakyat miskin. Jadi siapa lebih yang kriminil?
Walau desakan dari banyak tokoh dan organisasi mengemuka untuk membubarkan FPI dan ormas sejenis, namun hingga kini pemerintah tak bergeming. Entah apa alasannya. Padahal jelas-jelas, tak ada gunanya keberadaan mereka, kecuali kekacauan dan ketidaknyamanan di berbagai penjuru negeri ini. ketika negara tidak mampu melindungi rakyatnya dari kekerasan akibat perbedaan sikap dan pendapat, artinya negara sudah gagal menjalankan fungsinya. Mengutip seorang kawan: ketika kekacauan sudah merebak itu artinya pertanda demokrasi telah mati. Belajar dari kasus kemarin, (tidak adanya aparat keamanan yang memadai) ketika aksi itu berlangsung, makin memperkuat kegagalan pemerintah melindungi rakyatnya. Lantas apa yang bisa diharap dari pemerintah kalau begitu?
Yang membuat sesak dada adalah kekerasan ini selalu dan selalu dilabeli dengan nama agama. Agama dipakai sebagai legalisasi kekerasan untuk menindas kelompok lain yang tidak seirama. Padahal kelompok ini juga berasal dari agama tersebut. Lha jika dalam satu agama saja tidak bersahabat bagaimana akan bersahabat dengan kelompok agama lain? Artinya kebebasan beragama yang digadang-gadang Pancasila butir 1 menyisakan bopengan noda. Noda yang dibuat sendiri oleh mereka yang katanya paling "beragama". Selamat memperingati hari lahir Pancasila yang ternoda.
Jubir FPI mengatakan bahwa aksi penyerangan ini dilakukan karena massa dari berbagai ormas pluralisme ini ingin mendukung eksistensi Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah jelas-jelas sudah dibubarkan melalui Bakor Pakem. Namun disisi lain, SKB Ahmadiyah dari pemerintah melalui tiga menteri hingga kini tak kunjung ada. Baginya tak ada lagi negosiasi dengan eksistensi Ahmadiyah. Ahmadiyah katanya adalah organisasi kriminal. Jadi apapun yang dilakukan harus ditumpas. Yang disebut kriminal itu apa sih? Bukankah kriminal itu adalah sebutan bagi mereka yang melakukan perusakan, penghancuran, bertindak kriminil. Ini kata bung wikipedia:seorang kriminal adalah seseorang yang melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak kejahatan. Perbuatannya disebut kriminalitas atau tindak kriminal. Biasanya yang dianggap kriminal adalah seorang maling atau pencuri, pembunuh, perampok. Dari terjemahan bebas arti kriminal ini saja, FPI sudah salah mengartikan. Sementara Ahmadiyah tak pernah kedengaran melakukan perusakan dan kekerasan terhadap orang lain, juga tidak pernah merusak fasilitas umum dan mengganggu milik pribadi dengan dalih memberantas judi dan maksiat. Ahmadiyah yang terdengar adalah kelompok yang cinta akan kedamaian. Bahkan ketika terjadi penyerangan dan pembakaran mesjid Ahmadiyah di beberapa wilayah di tanah air, massa Ahmadiyah tak pernah sekalipun terdengar membalasnya. Terakhir malah terdengar untuk memperingati hari kebangkitan nasional mereka menggelar berbagai donor darah dan pengobatan bagi rakyat miskin. Jadi siapa lebih yang kriminil?
Walau desakan dari banyak tokoh dan organisasi mengemuka untuk membubarkan FPI dan ormas sejenis, namun hingga kini pemerintah tak bergeming. Entah apa alasannya. Padahal jelas-jelas, tak ada gunanya keberadaan mereka, kecuali kekacauan dan ketidaknyamanan di berbagai penjuru negeri ini. ketika negara tidak mampu melindungi rakyatnya dari kekerasan akibat perbedaan sikap dan pendapat, artinya negara sudah gagal menjalankan fungsinya. Mengutip seorang kawan: ketika kekacauan sudah merebak itu artinya pertanda demokrasi telah mati. Belajar dari kasus kemarin, (tidak adanya aparat keamanan yang memadai) ketika aksi itu berlangsung, makin memperkuat kegagalan pemerintah melindungi rakyatnya. Lantas apa yang bisa diharap dari pemerintah kalau begitu?
Yang membuat sesak dada adalah kekerasan ini selalu dan selalu dilabeli dengan nama agama. Agama dipakai sebagai legalisasi kekerasan untuk menindas kelompok lain yang tidak seirama. Padahal kelompok ini juga berasal dari agama tersebut. Lha jika dalam satu agama saja tidak bersahabat bagaimana akan bersahabat dengan kelompok agama lain? Artinya kebebasan beragama yang digadang-gadang Pancasila butir 1 menyisakan bopengan noda. Noda yang dibuat sendiri oleh mereka yang katanya paling "beragama". Selamat memperingati hari lahir Pancasila yang ternoda.
Tuesday, May 27, 2008
Berdoa Saja Tak Cukup
Kami menanyakan beberapa hal, terutama kondisi terakhir di Burma. Dengan sangat lugas Ven. Ashin Nayaka menjelaskan kondisi terakhir Burma pasca hantaman badai Nargis. Banyak warga yang menderita. Tapi junta malah menolak (meski akhirnya menerima dengan syarat) bantuan internasional. Jika kita melihat junta membagikan makanan, itu sebenarnya mereka hanya membagikan di lingkungan terdekat saja. Sementara korban masih banyak yang belum menerima bantuan. Ven. Ashin sendiri sebenarnya telah lama meninggalkan Burma dan menetap di New York, AS. Sehari-hari beliau mengajar di beberapa universitas. Namun melihat penderitaan rakyat Burma yang makin berat, beliau bersama teman-temannya keliling dunia untuk meminta bantuan internasional menekan Burma. Sementara Ven. Awbhasa sendiri merupakan salah satu bhikkhu yang melakukan unjuk rasa september silam. Namun karena persoalan keamanan, akhirnya mengasingkan diri ke Sri Lanka. Dan hingga kini tidak bisa berkomunikasi dengan sanak keluarga & teman-teman di Burma.
Sama dengan di Indonesia, mereka berdua mengatakan bahwa bhikkhu di Burma berada di posisi tinggi dalam sosial kemasyarakatan. Artinya mereka adalah contoh panutan baik bagi rakyat maupun penguasa. Namun tingkah polah junta yang makin membuat menderita rakyat, akhirnya mengundang para bhikkhu melakukan beberapa perlawanan. Sebetulnya, para bhikkhu ini sudah menyampaikan "protes" kepada junta, tapi ternyata tak di gubris. "Demo-demo kecil sudah sering kami gelar" ujar Ven. Ashin. "Hingga yang terbesar september tahun silam". Itu adalah puncak akumulasi kekesalan bhikkhu terhadap junta. Sebelumnya, sebagai protes, para bhikkhu memboikot setiap upacara seremoni junta yang menghadirkan para bhikkhu. "Demonstrasi besar kemarin adalah bukti bahwa para bhikkhu peduli dengan penderitaan rakyat". "Kami tak mau hanya berteori mengajarkan kebaikan di vihara-vihara". "Membaca doa itu penting tapi tidak cukup" sambung Ven. Ashin. Harus ada tindakan konkret terhadap apa yang terjadi di Burma. Apalagi, di tengah eskalasi politik yang makin akut akibat junta militer, Burma juga tengah di hantam badai Nargis. Ven Ashin menambahkan, junta adalah seorang buddhis, tapi apa yang dilakukannya bukanlah cerminan seorang buddhis.
Buddha mengajarkan bahwa hidup adalah penderitaan. Dan sudah merupakan KEWAJIBAN para bhikkhu untuk membantu melenyapkan penderitaan itu. Tidak hanya berdoa saja tentunya. Karena berdoa saja ternyata tidak cukup. Justru yang menjadi persoalan adalah jika para bhikkhu yang merupakan penjaga ajaran Buddha, tidak membantu melenyapkan penderitaan itu. "Jadi jika ada bhikkhu yang membiarkan (tanpa melakukan apapun) penderitaan rakyatnya, itu yang patut dipertanyakan." "Saya bukan seorang politisi, saya seorang bhikkhu, tapi saya memiliki kewajiban untuk turut serta melenyapkan penderitaan rakyat saya" tegasnya. Bhikkhu Burma yang telah lama menetap di New York ini juga mengatakan bahwa penderitaan yang terjadi di Burma itu bukan alamiah, tapi buatan. Dibuat secara sistematis oleh junta militer. Sangat sulit untuk merubah mindset junta saat ini. Yang bisa dilakukan adalah terus menerus menggalang dukungan dunia internasional untuk bersama menekan junta hingga terjungkal. Dan satu lagi: berdoa saja tidak cukup!
Monday, May 26, 2008
Andong Pak Kamto



Siang itu aku dkk bermaksud ke Borobudur dari Mendut. Karena terik, kami putuskan untuk naik angkutan umum. Karena menunggu bus agak lama, lalu terlintas mengapa tidak naik andong di ujung sana? Segera setelah sepakat soal harga, kami berdelapan pun terguncang dalam alunan andong. Sensasi pasti kami rasakan. Maklum tidak setiap hari kami menaiki angkutan tradisional ini. Sambil menikmati suasana, aku ngobrol ngalor ngidul dengan kusirnya. Namanya Pak Kamto. Sebut saja begitu. Usianya 70an. Ini terbukti dengan kerutan penanda tua disana-sini. Dengan topi khas kebesarannya, Pak Kamto beberapa kali melecut kudanya agak berjalan lebih cepat. "Namanya Parjiem Mas, kan cewek," kelakarnya sembari mengayunkan pecutnya. Pak Kamto lalu cerita. Dulu narik andong sangat menguntungkan. Karena memang belum ada saingan. "Wah Mas, kalau sekarang susah. Ojek udah dimana-mana". Dan mereka pasti lebih cepat daripada naik Andong. "Tapi kenapa Bapak masih mau narik Andong?"tanyaku. "Yah daripada kudanya nganggur Mas" ujarnya mantap. Lagian narik andong kan disela-sela kerjaan utama. Samben (nyambi). "Lha kerjaan utamanya apa Pak?" tanyaku lagi. "Kerjaan utama ya tetap tani Mas"terangnya mantap. "Ya nanam cabe, sayur, dll." "Jadi kalau bosen nanam, narik Parjiem. Ya begitulah keseharian saya." ujarnya.Kerja keras dan semangat meski sudah berumur itulah cerminan Pak Kamto. Dan satu lagi: Tanpa mengeluh. Dia tetap pacu terus kuda betinanya. Tanpa pernah protes terhadap kondisi, tanpa protes kepada pemerintah, tanpa protes kepada ojek pesaingnya.
Museum Affandi
Museum Affandi berada di Jalan Laksda Adi Sucipto 167, Yogyakarta. Jalan ini juga terkenal dengan sebutan Jalan Solo karena menghubungkan dua kota besar, yaitu Yogyakarta dan Solo. Museum yang terletak di sebelah barat Sungai Gajah Wong ini memiliki area seluas 3500 are yang terdiri dari museum itu sendiri dan bangunan yang dulunya merupakan rumah Affandi. Bentuk permukaan tanah yang tidak lazim memberikan inspirasi kepada Affandi untuk merancang bangunan yang unik dan lingkungan yang mengitarinya. Hasilnya, sebuah lingkungan terpadu yang sangat unik hasil dari rancangan Affandi sendiri.Sebagai bagian dari komplek museum, rumah milik Affandi memiliki atap berbentuk daun pisang, sama seperti galeri-galeri sebelumnya. Rumah yang memiliki dua lantai ini sebagian besar terbuat dari kayu. Lantai atas merupakan kamar pribadi Affandi. Sebagai tambahan, lantai bawah digunakan sebagai tempat bersantai dan juga terdapat garasi. Menikmati suasana alami dari lantai bawah ini merupakan kenyamanan tersendiri. Suasana santai yang berbeda dengan lingkungan artistik yang penuh dengan sentuhan seni.
Jejak kerja artistik sepanjang hayat Affandi dengan lugas ditampilkan disini. Tak lupa, goresan kanvas, Kartika, anaknya juga turut dipajang. Lelah keliling kita bisa duduk santai di kursi ban bekas sambil nyeruput minuman dingin. Suara gemericik air sungai sebelah juga makin menambah suasana damai siang itu.
Satu yang pasti: Dari semua itu Affandi begitu sayang dengan istrinya Maryati. Beberapa lukisannya mengambil subyek istrinya ini. Sebagai bentuk "sayang", pemerintah Jogja juga mengabadikan nama jalan Gejayan menjadi Jl. Affandi.
(di kutip dari beberapa sumber)
Monday, May 12, 2008
10th silam.............
Sebuah hari di bulan Mei. Ketika itu aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tepatnya kelas 3. Hari-hari kami lalui dengan belajar dan belajar. Maklum saja, setelah ujian sekolah terlewati beberapa hari, saya masih harus menggeluti soal-soal demi bisa masuk ke PTN yang saya idamkan. Saya sangat beruntung, karena diberikan kesempatan untuk mendapat pelajaran tambahan berkat kebaikan dari seorang Guru saya. Dengan bantuan ini, saya belajar pematangan materi di sebuah SMA terbaik di Jakarta Barat. Hampir tiap hari saya ke SMA tersebut dengan naik bis dari sekolah saya. Meski lelah, namun semua harus dijalani demi sebuah cita-cita.
Hari itu, seperti biasa sehabis bubar sekolah, saya langsung menuju SMA 78 di bilangan Kemanggisan. Sepanjang perjalanan semua terasa biasa. Kemacetan di kawasan Roxy yang kala itu belum ada jembatan fly overnya, membumbung di depan mata. Setelah oper ke metromini 91, saya berusaha menenangkan nafas. Jalanan masih seperti biasa. Orang beraktivitas seperti biasa. Rasanya memang tak ada yang istimewa hari itu. Belajar tambahan pun berjalan seperti biasa. Soal-soal dibagikan, lalu kami kerjakan. Habis itu pembahasan. Dari situ terlihat meningkat tidaknya prestasi kita dari hari ke hari. Setelah 2 jam-an berkutat di sekolah yang megah itu, akhirnya selesai juga belajar kala itu.
Pulang dengan bis yang sama. Metromini 91 warna orange. Sengaja aku duduk di dekat jendela agar mendapat angin segar. Agak ngantuk sebenarnya. Tapi aku paksakan melihat soal-soal yang tadi aku kerjakan. Ternyata banyak salah karena kecerobohanku yang tidak teliti menjawab soal.
Bis yang aku tumpangi memang tak sesak. Maklum masih agak siang. Belum banyak orang pulang kantor. Menjelang di kawasan Tanjung Duren, bis ternyata tak jalan-jalan. Macet dimana-mana. Hampir semua penumpang menggerutu. Samar-samar terdengar, kenek bis meminta kami untuk turun karena bis sama sekali tidak bisa bergerak. Akhirnya setengah menanggung kantuk, aku paksakan turun dan melangkah, berharap diujung sana masih ada bis yang masih jalan. Ya. Begitu jalan, ternyata memang kemacetan parah terjadi. Kendaraan sama sekali tidak jalan. Saya terus berjalan ke arah Universitas Tarumanegara. Disini kondisinya malah makin parah. Selain kendaraan tidak ada sama sekali, beberapa titik telah terjadi pembakaran.
Aku tak ingat jelas apa yang terjadi. Aku menuju jembatan penyeberangan arah kampus I Untar. Dari atas jembatan, aku lihat barisan panjang pasukan loreng menghadap ke arah Grogol. Entah pasukan dari mana. Yang pasti jumlahnya sangat banyak. Juga membawa tameng dan senjata. Aku paksakan berjalan terus ke arah Grogol. Melewati kampus Tri Sakti, aku melihat beberapa mahasiswa teriak-teriak dari dalam kampus. Di bawah jembatan layang Grogol, sebuah truk sampah (kalau tidak salah) telah dijilati api. Sepanjang jalan depan Tri Sakti tumpah ruah oleh mahasiswa. Di seberangnya polisi mulai memainkan gas air mata. Aku sempat terkena sedikit. Agak perih. Tapi karena tak terlalu mengganggu, aku lanjutkan langkah kaki.
Lelah juga kaki melangkah. Di depan terminal Grogol, ternyata tak jua angkot berada. Semua mata terlihat terpana tak percaya apa yang terjadi. Sementara pompa bensin dekat terminal Grogol pun sudah dibakar massa. Massa mulai banyak bergerak dari arah Kyiai Tapa ke kampus Tri Sakti.
Terus saja aku melangkah. Di persimpangan Roxy, akhirnya aku menemukan bus kuning. Ya bus sekolah jurusan Grogol-P. Jayakarta yang berbelok arah. Di dalam bus sudah penuh sesak. Semua orang ingin segera mungkin sampai di rumah.
Sampai di asrama (saya tinggal di asrama bersama teman-teman), segera kami monitor radio. Dilaporkan bahwa ternyata sudah terjadi proses pembakaran didepan Roxy, lalu meluas ke Gajah Mada, dan itu artinya sudah tak terlalu jauh dengan tempat kami tinggal. Kami semua tidak boleh keluar rumah. Beberapa kali telpon asrama berdering. Intinya sama-sama menanyakan keadaan kami seasrama. Stok makan kami cek. Beruntung stok makanan di rumah masih tersedia. Telpon masih berdering. Hingga akhirnya, salah seorang pengurus asrama meminta salah seorang dari kami untuk melihat kondisi rumah familinya di kawasan Kota. Akhirnya aku memberanikan diri keluar rumah. Aku berjalan keluar rumah. Ternyata benar berita radio. Bangunan hampir di sepanjang jl Gajah Mada & Hayam Wuruk banyak yang dibakar dan dijarah. Glodok pun tak luput dari pembakaran & penjarahan. Perasaan was-was tentu ada, namun tetap aku beranikan diri melangkah ke Kota. Ada yang bawa gerobak untuk mengangkut kulkas dan TV super besar. Ada anak kecil yang bawa gitar listrik. Sesekali orang-orang yang melihat ditawarinya. Orang sebelahku, suatu kali dia tanya: Mas, kok gak ikut ambil barang-barang disana?" tunjuknya ke arah Harco. "Enggak mas, cuma mau lihat sekitar aja kok"jawabku seketika. Banyak orang lalu lalang dengan berbagai bawaan. Yang pasti banyak barang elektronik. Makin sore makin banyak saja orang yang menjarah.
Agak sore aku langkahkan kaki pulang. Di sana sini masih banyak pembakaran dan penjarahan. Juga pelemparan kaca-kaca gedung. Di rumah, kami sama-sama memantau berita via radio. Sebab setiap saat radio meng-update beritanya. Pembakaran yang pasti makin meluas. Sentra perdagangan menjadi prioritas. Entah apa sebabnya. Kala itu yang aku ingat cuma satu: Manusia dan binatang tak ada bedanya. Semua menjadi anarkis tak terkendali. Entah dimana aparat kita.
Hari-hari berikutnya hanya dilengkapi dengan ketidakpercayaan atas peristiwa ini. Berita terakhir, terjadi penembakan di kampus Tri Sakti yang tadi siang baru saja aku lewati. Hah??? Gila......
Hari kelabu menjadi historikal tersendiri akhirnya. Pesta perpisahan SMA yang sudah kami siapkan jauh hari pun tak terjadi terlaksana. Proses penerimaan NEM pun di sekolah sepi sekali. Beberapa teman bahkan sudah berangkat ke luar negeri menyelamatkan diri.
Hari-hari berikutnya, lembar koran kita disuguhi berita tentang reformasi & KKN. Dan ternyata sampai sekarang berita tentang ini tak pernah habis dibahas & di kupas. Kala itu, mahasiswa mampu menduduki gedung "rakyat" dan akhirnya memaksa Pak Harto lengser kepabron setelah berkuasa 32 tahun. Demo besar di Jakarta diikuti juga kota-kota lain. Rasanya kala itu, mahasiswa dan rakyat memiliki satu musuh: Soeharto.
Sekarang sudah 10 tahun berlalu. Angin reformasi memang sudah kencang terasa. Pers bebas tumbuh. Orang-orang bebas bersuara tanpa perlu takut diculik & di cekal lagi. Itu sekelumit buah manis reformasi. Tapi juga reformasi masih meninggalkan beberapa PR besar. Kesulitan hidup adalah persoalan mendasar. Dan itu makin diperparah dengan kenaikan BBM bertubi-tubi. Otomatis kehidupan rakyat makin sengsara saja. Mengutip demo mahasiswa di Jogja beberapa waktu lalu: "Naik-naik, BBM naik, tinggi tinggi sekali. Kiri kanan ku lihat banyak rakyat yang sengsara". PR reformasi sekarang adalah bagaimana meningkatkan derajat kehidupan rakyat di tengah neoliberalime dan kapitalisme yang merajalela. Sebab kebanyakan rakyat sekarang memaknai reformasi sebagai REPOT-NASI! alias susah cari makan.
Hari itu, seperti biasa sehabis bubar sekolah, saya langsung menuju SMA 78 di bilangan Kemanggisan. Sepanjang perjalanan semua terasa biasa. Kemacetan di kawasan Roxy yang kala itu belum ada jembatan fly overnya, membumbung di depan mata. Setelah oper ke metromini 91, saya berusaha menenangkan nafas. Jalanan masih seperti biasa. Orang beraktivitas seperti biasa. Rasanya memang tak ada yang istimewa hari itu. Belajar tambahan pun berjalan seperti biasa. Soal-soal dibagikan, lalu kami kerjakan. Habis itu pembahasan. Dari situ terlihat meningkat tidaknya prestasi kita dari hari ke hari. Setelah 2 jam-an berkutat di sekolah yang megah itu, akhirnya selesai juga belajar kala itu.
Pulang dengan bis yang sama. Metromini 91 warna orange. Sengaja aku duduk di dekat jendela agar mendapat angin segar. Agak ngantuk sebenarnya. Tapi aku paksakan melihat soal-soal yang tadi aku kerjakan. Ternyata banyak salah karena kecerobohanku yang tidak teliti menjawab soal.
Bis yang aku tumpangi memang tak sesak. Maklum masih agak siang. Belum banyak orang pulang kantor. Menjelang di kawasan Tanjung Duren, bis ternyata tak jalan-jalan. Macet dimana-mana. Hampir semua penumpang menggerutu. Samar-samar terdengar, kenek bis meminta kami untuk turun karena bis sama sekali tidak bisa bergerak. Akhirnya setengah menanggung kantuk, aku paksakan turun dan melangkah, berharap diujung sana masih ada bis yang masih jalan. Ya. Begitu jalan, ternyata memang kemacetan parah terjadi. Kendaraan sama sekali tidak jalan. Saya terus berjalan ke arah Universitas Tarumanegara. Disini kondisinya malah makin parah. Selain kendaraan tidak ada sama sekali, beberapa titik telah terjadi pembakaran.
Aku tak ingat jelas apa yang terjadi. Aku menuju jembatan penyeberangan arah kampus I Untar. Dari atas jembatan, aku lihat barisan panjang pasukan loreng menghadap ke arah Grogol. Entah pasukan dari mana. Yang pasti jumlahnya sangat banyak. Juga membawa tameng dan senjata. Aku paksakan berjalan terus ke arah Grogol. Melewati kampus Tri Sakti, aku melihat beberapa mahasiswa teriak-teriak dari dalam kampus. Di bawah jembatan layang Grogol, sebuah truk sampah (kalau tidak salah) telah dijilati api. Sepanjang jalan depan Tri Sakti tumpah ruah oleh mahasiswa. Di seberangnya polisi mulai memainkan gas air mata. Aku sempat terkena sedikit. Agak perih. Tapi karena tak terlalu mengganggu, aku lanjutkan langkah kaki.
Lelah juga kaki melangkah. Di depan terminal Grogol, ternyata tak jua angkot berada. Semua mata terlihat terpana tak percaya apa yang terjadi. Sementara pompa bensin dekat terminal Grogol pun sudah dibakar massa. Massa mulai banyak bergerak dari arah Kyiai Tapa ke kampus Tri Sakti.
Terus saja aku melangkah. Di persimpangan Roxy, akhirnya aku menemukan bus kuning. Ya bus sekolah jurusan Grogol-P. Jayakarta yang berbelok arah. Di dalam bus sudah penuh sesak. Semua orang ingin segera mungkin sampai di rumah.
Sampai di asrama (saya tinggal di asrama bersama teman-teman), segera kami monitor radio. Dilaporkan bahwa ternyata sudah terjadi proses pembakaran didepan Roxy, lalu meluas ke Gajah Mada, dan itu artinya sudah tak terlalu jauh dengan tempat kami tinggal. Kami semua tidak boleh keluar rumah. Beberapa kali telpon asrama berdering. Intinya sama-sama menanyakan keadaan kami seasrama. Stok makan kami cek. Beruntung stok makanan di rumah masih tersedia. Telpon masih berdering. Hingga akhirnya, salah seorang pengurus asrama meminta salah seorang dari kami untuk melihat kondisi rumah familinya di kawasan Kota. Akhirnya aku memberanikan diri keluar rumah. Aku berjalan keluar rumah. Ternyata benar berita radio. Bangunan hampir di sepanjang jl Gajah Mada & Hayam Wuruk banyak yang dibakar dan dijarah. Glodok pun tak luput dari pembakaran & penjarahan. Perasaan was-was tentu ada, namun tetap aku beranikan diri melangkah ke Kota. Ada yang bawa gerobak untuk mengangkut kulkas dan TV super besar. Ada anak kecil yang bawa gitar listrik. Sesekali orang-orang yang melihat ditawarinya. Orang sebelahku, suatu kali dia tanya: Mas, kok gak ikut ambil barang-barang disana?" tunjuknya ke arah Harco. "Enggak mas, cuma mau lihat sekitar aja kok"jawabku seketika. Banyak orang lalu lalang dengan berbagai bawaan. Yang pasti banyak barang elektronik. Makin sore makin banyak saja orang yang menjarah.
Agak sore aku langkahkan kaki pulang. Di sana sini masih banyak pembakaran dan penjarahan. Juga pelemparan kaca-kaca gedung. Di rumah, kami sama-sama memantau berita via radio. Sebab setiap saat radio meng-update beritanya. Pembakaran yang pasti makin meluas. Sentra perdagangan menjadi prioritas. Entah apa sebabnya. Kala itu yang aku ingat cuma satu: Manusia dan binatang tak ada bedanya. Semua menjadi anarkis tak terkendali. Entah dimana aparat kita.
Hari-hari berikutnya hanya dilengkapi dengan ketidakpercayaan atas peristiwa ini. Berita terakhir, terjadi penembakan di kampus Tri Sakti yang tadi siang baru saja aku lewati. Hah??? Gila......
Hari kelabu menjadi historikal tersendiri akhirnya. Pesta perpisahan SMA yang sudah kami siapkan jauh hari pun tak terjadi terlaksana. Proses penerimaan NEM pun di sekolah sepi sekali. Beberapa teman bahkan sudah berangkat ke luar negeri menyelamatkan diri.
Hari-hari berikutnya, lembar koran kita disuguhi berita tentang reformasi & KKN. Dan ternyata sampai sekarang berita tentang ini tak pernah habis dibahas & di kupas. Kala itu, mahasiswa mampu menduduki gedung "rakyat" dan akhirnya memaksa Pak Harto lengser kepabron setelah berkuasa 32 tahun. Demo besar di Jakarta diikuti juga kota-kota lain. Rasanya kala itu, mahasiswa dan rakyat memiliki satu musuh: Soeharto.
Sekarang sudah 10 tahun berlalu. Angin reformasi memang sudah kencang terasa. Pers bebas tumbuh. Orang-orang bebas bersuara tanpa perlu takut diculik & di cekal lagi. Itu sekelumit buah manis reformasi. Tapi juga reformasi masih meninggalkan beberapa PR besar. Kesulitan hidup adalah persoalan mendasar. Dan itu makin diperparah dengan kenaikan BBM bertubi-tubi. Otomatis kehidupan rakyat makin sengsara saja. Mengutip demo mahasiswa di Jogja beberapa waktu lalu: "Naik-naik, BBM naik, tinggi tinggi sekali. Kiri kanan ku lihat banyak rakyat yang sengsara". PR reformasi sekarang adalah bagaimana meningkatkan derajat kehidupan rakyat di tengah neoliberalime dan kapitalisme yang merajalela. Sebab kebanyakan rakyat sekarang memaknai reformasi sebagai REPOT-NASI! alias susah cari makan.
Subscribe to:
Posts (Atom)