Monday, May 12, 2008

Ganti Rugi Vs Ganti Untung

Hingar bingar rencana kenaikan BBM pemerintah serta merta menyurut kemarahan di berbagai belantara kota. Rakyat marah, mahasiswa demo, sopir mogok, dan serentetan problem sosial lainnya menganga ke permukaan. Harap-harap cemas kini ada di sudut-sudut mata rakyat. Di media tak sedikit dari usaha kecil menengah gulung tikar di tengah hantaman harga yang tak terkejar lagi. Kegelisahan akan hidup esok hari mengemuka. Tapi justru di tengah kegelisahan rakyat terhadap keputusan kenaikan BBM yang ke-3 kalinya ini di era SBY-JK, Wapres malah mengeluarkan pernyataan aneh dan sangat menyesatkan. Menurut Kalla, jika kenaikan harga BBM batal, sama artinya akan membatalkan rencana pemerintah memberikan bantuan langsung tunai kepada orang miskin. "Jadi, setiap ada demonstrasi menyatakan tak setuju (kenaikan harga BBM) sama dengan mengurangi rezeki orang miskin" (Kompas, 8/5 hal 18). Pendapat hampir senada juga ditelurkan Pak BY. BY bilang, jika BBM tidak dinaikkan, itu sama halnya makin memperpanjang jangka waktu pemerintah dalam mensubsidi orang kaya. Menurut Pak BY, selama ini justru yang menikmati subsidi itu orang kaya. Padahal jika mau mencabut subsidi orang kaya kan tidak harus menaikkan BBM. Bisa saja dengan pajak barang mewah yang mahal, atau yang lain. Lhah?
Jika memang pemerintah mau memberikan (syukur-syukur) bisa meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, mengapa harus nunggu kenaikan harga BBM dulu? Bukankan harga-harga kebutuhan sudah jauh hari naik sebelum BBM naik? Artinya pemberian pemerintah itu tak ada manfaatnya sama sekali. Bukankah memang tugas pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya sesuai konstitusi? Lha kok ini mau kasih BLT kalau BBM dinaikkan dulu. Rakyat bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi dengan permen gula-gula. Menurut Dita (Kompas, 12/5) artinya rakyat baru berhak dapat sesuatu dari pemerintah setelah pemerintah mengambil sesuatu dari kita. Terima dulu kenaikan ini, baru kemudian bantuan kami kucurkan ke tanganmu. Ini sama artinya pemerintah sejatinya tidak memberikan apa-apa, nol, kosong, hampa.


Jika hal ini yang dipikirkan pemerintah itu artinya ganti rugi bukan ganti untung. Harga-harga makin tak terjangkau rakyat. Sementara BLT yang diterima (yang tak seberapa itu) akan ludes seketika untuk membayar utang di warung sebelah. Belum lagi dalam tulisan Dita (Kompas, 12/5), mengatakan bahwa data dalam departemen sosial bahwa efektivitas bantuan langsung tunai (BLT) hanya sekitar 54,96 persen saja, sementara sekitar 45 persen rumah tangga miskin penerima BLT menyatakan bahwa bantuan ini sama sekali tidak meringankan biaya hidup mereka yang kian berat pascakenaikan harga BBM sebesar 120 persen awal oktober 2005?
Rakyat sebenarnya mau bekerja asal di berdayakan. Persoalan yang dihadapi rakyat sekarang selain harga yang tak lagi terjangkau adalah persoalan pekerjaan. Daya beli yang rendah disertai pendapatan yang tak layak, jelas itu persoalan mendasar rakyat sekarang. Jadi solusinya yang benar bukan diberikan BLT, tapi bukalah kesempatan kerja seluas-luasnya bagi rakyat ini supaya mereka memiliki pendapatan. Alih-alih memberikan kesempatan kerja, pemerintah malah menaikkan BBM industri, yang ini tentu makin mempersulit ruang gerak sektor riil kita. Ujung-ujungnya industri pun kembang kempis menjalankan roda mesinnya.
BLT plus versi pemerintah "akan" dijamin sasarannya. Itu kata pemerintah. Padahal pemerintah sendiri masih simpang siur soal data orang miskin calon penerima BLT ini. Kalau tidak percaya, lihat saja proses pemberian BLT yang lalu. BLT ibarat pil pahit ditengah pahitnya hidup rakyat. Dan ternyata pil pahit ini bukannya menyembuhkan penyakit, tapi malah membuat makin parah penyakit itu sendiri. Ganti rugi memang selalu merugikan!!

Thursday, May 8, 2008

BBM, Bener-Bener Mabok!

Hari-hari belakangan ini, kita semua dikejutkan dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Hitungannya sih katanya “cuma” maksimal 30%. Tak tahulah hitungan-hitungan rumit itu. Bahkan kemarin surat kabar bilang ada 89 opsi untuk menaikkan BBM ini. Gila, banyak banget ya.

Sontak, rencana ini mengundang berbagai reaksi. Mahasiswa di berbagai kota sudah turun ke jalan. Kelangkaan BBM juga terjadi dimana-mana. Yang bikin treyuh adalah penyelundupan BBM ke negara tetangga. Satu kata: Edan! Cuma satu yang pasti bahwa rakyat makin menderita. Begitu harga BBM naik, harga-harga kebutuhan yang lain pasti juga naik. Lha wong walau sekarang masih sekedar ”rencana” saja, harga-harga sudah balapan? Siapa yang paling terpukul dampak kenaikan BBM ini? Siapa lagi kalau bukan rakyat kecil. Selama ini pemerintah berdalih bahwa meroketnya harga minyak dunialah yang menjadi keuangan pemerintah “megap-megap”. Sementara selama ini subsidi pemerintah terhadap BBM hanya dinikmati golongan mampu saja alias salah sasaran. Jika alasan pertama yang dipakai, artinya pemerintah hanya berpikir dollar sementara penghasilan kita masih rupiah. Sampai kapan pun gak bakal kesampaian. Ibarat kata: Penghasilan rupiah kok mau bergaya hidup dollar? Lalu kalau pakai analogi alasan kedua, sebenarnya silang sengkarut subsidi BBM ini sebagai bukti ketidakbecusan pemerintah dalam mengelola dan melayani rakyatnya. Padahal bangsa kita banyak orang pintar. Tim ekonomi kita juga lulusan luar negeri semua, tapi mengapa hanya bisa menaikkan harga saja?

Mengutip pendapat Kwik Kian Gie, sebenarnya Indonesia bisa terbebas dari krisis BBM dengan satu syarat mau mengelola sendiri tambang minyaknya. Tidak diprivastisasi ke asing. Contoh kasus seperti blok cepu saja. Jika dikelola sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebenarnya itu bisa. Hanya saja pemerintah tidak ada kemauan ke arah itu. Pemerintah cuma mau terima duit secara cepat tanpa mau berusaha alias bersusah payah. Jadinya tambang-tambang minyak digadaikan ke pihak asing. Bener-bener gak habis mikir. Padahal kita memiliki putra-putra bangsa yang bisa dihandalkan.

Pemerintah mengatakan bahwa sebagai kompensasi dari kenaikan harga ini akan diberikan bantuan langsung tunai plus. Tak jelas apa yang dimaksud plus ini. Jangan-jangan seperti pijat plus lagi. Ha…….:) Lha wong kemarin program BLT saja masih gak karuan, kok mau mengulang kesalahan yang sama. Keledai saja tidak akan terperanjab dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bukankah bantuan langsung itu juga tidak mendidik. Dari ilmu pemberdayaan jelas hal ini tidak tepat. Yang dibutuhkan rakyat sekarang adalah keberdayaan bukan bantuan. Artinya berilah kail, bukan ikannya. Jika rakyat diberikan ikan, yang pasti akan membuat mereka akan makin malas. Selain itu, ada waktunya ikan juga akan habis. Sementara jika diberikan kail, rakyat akan bisa memancing ikan dimana pun mereka mau dan kapan pun mereka butuh. BLT itu cuma sekejap saja sudah habis. Sementara keberdayaan selain bisa memperpanjang nafas hidup rakyat, juga bisa memicu kreativitas rakyat untuk menata hidupnya sendiri. Sebab rakyat sekarang sudah tidak bisa berharap terhadap pemerintah.

Tuesday, May 6, 2008

Perang

Buku sejarah kita selalu disuguhi adegan perang. Dari mulai perang perebutan wilayah raja-raja Jawa, perang Diponegoro, perang dengan Belanda, hingga perang dingin antar Amerika & Soviet kala itu. Di bangku sekolah dulu, dengan mantap, guru saya menceritakan soal perang dingin ini. Waktu itu aku tak tahu jelas mengapa dikatakan perang dingin. Yang ada dipikiranku, mungkin dikatakan demikian karena terjadi di benua yang menganut musim dingin?? He.........Kali.
Yup. Sejarah manusia memang diliputi dengan peperangan yang satu ke peperangan berikutnya. Entah sudah berapa banyak korban jiwa. Salah satu buku yang pernah aku baca malah bilang: Perang itu ada demi sebuah kedamaian. Hah? Bukankah perang hanya menyisakan isak tangis dan darah? Bukankah perang hanya menyisakan mesiu bedil saja? Dimana letak kedamaiannya? Aneh. Tapi itulah yang terjadi. Sampai saat ini pun sebenarnya kita masih saja diliputi berbagai macam bentuk perang. Ada perang mulut, ada perang harga, ada perang urat syaraf, dll. Jenis perang terakhir kita kenal di dunia olahraga. Menjelang pertandingan-pertandingan penting & panas, biasanya sang pelatih saling meluncurkan kata-kata "panas" untuk menjatuhkan mental lawan.
Perang saat ini memang tidak begitu se-frontal seperti dulu. Kecuali perang di Irak yang diprakarsai "polisi" dunia. Alasannya sepele, katanya di Irak sarang teroris, terjadi penimbunan senjata pemusnah massal, dan seabreg alasan yang bener-bener sepele. Padahal alasan utamanya adalah penguasaan minyak. Apalagi sih yang dicari?
Perang juga tengah hingar bingar setiap hari. Ya, perang iklan tarif telpon. Hari ini ada yang berani kasih diskon 1 rupiah per detik. Tapi besokannya sudah ada yang berani pasang tarif 0,0000001 rupiah per detik. Yang mengherankan, pemasangan iklan ini saling berdekatan. Bahkan ada yang dengan sengaja berdampingan tentu dengan iklan yang saling mencela. Bahkan ada iklan yang menggambarkan manusia kawin dengan monyet & kambing, hanya gara-gara kalau taruhan soal tarif telpon ini.
Perang memang tidak bisa dipisahkan dari hidup manusia. Karena memang perang diciptakan manusia. Mengutip candaan seorang guru sejarah SMA, Timur Tengah akan selalu perang, jika disana terjadi perdamaian, justru akan terjadi kiamat? Nah lho??!

Monday, April 28, 2008

Atas Nama Kompromi

Selama ini aku dan semua penghuni kost mengenalnya sebagai seorang wartawan yang idealis karena memang bekerja di media yang sangat idealis. Tepatnya radio. Sebut saja namanya H. Dia sebenarnya sudah mapan dengan posisinya kala itu. Posisi penting sudah ditangan. Jabatan, anak buah, tentu berbanding lurus dengan materi. Belum lagi soal jam terbang dan pengalaman. Sudah pasti, sehingga sangat tidak layak lagi untuk di bahas disini. Beberapa kali diskusi dengannya sangat menarik. Berbagai argumentasi diberikan. Dan memang rasanya masuk akal. Semua terasa nikmat. Walau terkadang terasa narsis dan egois, tapi memang demikianlah adanya dia. Kami memakluminya. Karena urusan keluarga, doi akhirnya pindah. Walau pindah, terkadang doi mampir ke kost. Sekedar say hello dengan penghuni baru atau sekedar nostalgia, entahlah.
Tiba-tiba sore itu, dia datang setelah sekian lama. Dengan cara yang sama, sedotan filter yang tak tak pernah lepas dari mulutnya. Sesekali dikebulkan asap keluar. Terkadang batuk mengiringi. Di teras depan dia bicara bahwa sekarang dia harus beranjak tugas. Intinya pindah kantor. "Pindah kemana sih bos?" tanyaku. "TVOne" ujarnya bingung. "Lha bukannya enak tuh bos". "Gaji pasti gede tuh". "Apalagi kan masih baru begitu". cerocosku. "Masalahnya bukan cuma itu". Ini soal idealisme sih. Apalagi ini kan masih berbau Bakrie. Tau sendiri kan gimana orang-orang Lapindo menderita karena Bakrie. Sementara selama ini, kita begitu dasyat mem-blow up kasus Lapindo ini. Wah repotlah pokoknya. Belum lagi kantor lama juga berat untuk ditinggal. Apa kata dunia. Begitu kira-kira. Oh itu toh yang bikin dia pening sore itu. Tapi memang mereka menawarkan sesuatu yang "konkret" bos.
Lain lagi cerita seorang teman. Dia sehari-hari bekerja di balik salah satu program infotainment terkenal. Bahkan mengklaim bahwa program ini adalah program infotainment pertama di Indonesia. Entahlah. Dia cerita bahwa lama-lama, kerja di infotainment itu kok rasanya seperti cuci otak ya. Ya rasanya kok tak sesuai nurani saja. Begitu keluhnya suatu siang di kawasan Tebet. Kita seolah dicekoki hal-hal yang kadang diluar rasionalitas kita. Hedon & konsumerisme, itu sudah pasti. "Tapi jujur aja, kita juga butuh uang dari situ". "Jadi ya sekedar numpang hidup kali ya" selorohnya.
Yup. Idealisme memang susah-susah gampang. Ditengah hiruk pikuk dunia seperti sekarang ini, sebuah idealisme memang tak mudah diejawantahkan. Solusinya mungkin adalah kompromi. Ya, kompromi. Kompromi kan bukan berarti kita menjadi kalah dengan keadaan kan? Kompromi maksudnya, jika selama ini kita berharap jalan yang kita tempuh menghasilkan angka 10, artinya kita harus menurunkan angka tersebut menjadi 7 atau 6 mungkin dengan jalan yang sama. Sama halnya dengan pernikahan. Walau aku belum menikah hingga kini, tapi aku yakin bahwa sebenarnya pernikahan itu adalah bagian dari kompromi. Kompromi untuk menyatukan dua pikiran yang berbeda. Jangankan soal pernikahan, ketika tahap pacaran pun kita gak lepas dari kompromi-kompromi. So, bukankah hidup memang bagian dari kompromi dan kompromi. Seorang teman pernah mengatakan bahwa jika kita sedang dirudung masalah, solusinya sebenarnya cuma satu, kompromi saja dengan masalah itu. Nah lho!!!

Friday, April 25, 2008

Ibu Murni: Antara Bakau & Mal

Siang itu udara di pesisir Jakarta lumayan menyengat. Sembari menunggu si empunya, saya masuk ke sebuah aula bambu yang lumayan besar. Di dinding tertempel beberpa foto kegiatan penanaman bakau. Tak hanya anak-anak sekolah, tapi juga anggota militer. Siang itu, saya berbincang dengan Ibu Murni. Seorang Ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya untuk mengurusi bakau. Perawakannya agak gemuk, namun langkahnya masih tegap. Ya, Ibu Murni menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurusi bakau di Taman Wisata Alam (TWA) Kapuk, Muara Angke. Akrab. Itu obrolan kami siang jelang sore itu. Ibu Murni cerita panjang lebar tentang perjuangannya mempertahankan hutan kota ini. Obrolan juga mengarah ke berbagai arah. Mulai dari Lia Eden, (yang Ibu Murni sebut sebagai Lia Edan - itu kata cucu saya, katanya), soal pungutan Dephut hingga pemilu 2009. Khusus Lia Eden, kebetulan Ibu Murni kenal baik. Sempat mengikuti "jalan" Lia Eden, namun berbalik arah di tengah jalan. "Sebetulnya Lia itu orangnya baik sekali, hanya saja jalan yang ditempuh menjadi tidak baik". Lia itu dulunya pengusaha bunga.
Khusus mengenai kegigihannya mempertahankan hutan bakau seluas hampir 1000 ha ini, tak lain karena panggilan hati. "Masak setiap jengkal tanah di Jakarta tak ada tumbuhannya". "Apalagi hutan?" Hampir tak ada kan. Karena adanya bakau, ya akhirnya saya memilih melestarikan bakau. "Disini kami melakukan pembibitan, juga membantu penanaman". "Selain itu juga perawatan". "Banyak kan yang selesai tanam gak tumbuh-tumbuh karena gak di rawat" kelakarnya. "Liat aja tuh penanaman bakau di Marunda"kritiknya. "Semangat menanamnya sih boleh, tapi kan tak cukup sampai disitu". "Kalau disini, begitu selesai tanam, anak-anak saya minta turun untuk mengecek, bener tidaknya cara menanam orang-orang itu"terangnya.
Obrolan kami terpenggal. Sesaat kemudian, saya diantar salah seorang pegawai Ibu Murni untuk melihat secara langsung proses pembibitan dan juga persiapan penanaman bakau. Memang terbukti apa yang disampaikan Ibu Murni. Bakau disini tumbuh lebat. Karena tidak hanya dijaga, namun juga lokasi dan jarak penanaman diperhitungkan dengan matang. Saya melihat beberapa orang sedang mempersiapkan pot-pot dari bambu untuk penanaman. Pot-pot ini sedianya akan ditanami organisasi gereja beberapa hari kemudian.
Rimbun, itulah kesan yang saya dapat. Sementara selama ini, ketika kita berlibur di Jakarta hanya selalu disodori mal dan mal, TWA ini bisa menjadi pilihan. Wisata alam di Jakarta. Kapan lagi?
Setelah melihat sekeliling, saya kembali ke ruang bambu itu. Ibu Murni masih disana. Sambil minum teh, Ibu Murni kembali bercerita. "Saya tuh heran sama dephut". "Lha wong kita ini mau ngurusi bakau kok malah mereka minta duit". "Harusnya kan justru mereka yang kasih duit ke kita karena kita mau ngurusi hutan bakau ini". "Iya gak". Karena urusan duit ini, sebenarnya saya malu. Dephut maunya di TWA ini ada retribusi karcis masuk, dll. Ya intinya harus menghasilkan. Mereka beranggapan bahwa TWA itu tempat wisata, jadi harus ada kontribusi ke dephut. "Saya sudah diultimatum 3x". "Akhirnya saya menyerah deh, walau itu bertentangan dengan hati nurani saya". "Daripada fungsi hutan bakau ini akan diselewengkan". "Siapa yang bisa menjamin, hutan ini akan tetap seperti ini kalau di pegang orang dephut". "Jangan salah mas, yang incer tempat ini tuh banyak". "Kemarin malah ada yang nawari mau bikin mal". "Gila apa?". "Pemda malah sempat mengusulkan akan dijadikan TPA pengganti Bantar Gebang". "Apa kurang sintingnya tuh ide pemda". "Belum lama ini orangnya Ciputra juga datang". "Mereka bilang: Ibu Murni mau butuh berapa M". "Kalau saya gelap mata, mungkin sudah saya ambil saja tuh uang mereka". "Jaman sekarang siapa yang tidak butuh uang". "Nah karena itulah saya mati-matian perjuangkan hutan bakau ini". "Sebab kalau sampai jatuh ke tangan yang salah, bisa-bisa hutan bakau Jakarta hanya tinggal kenangan" imbuhnya. Jangan-jangan disini nantinya akan menjadi "BAKAU MAL". Ha............

Tuesday, April 15, 2008

Kembang Mbah Siti

Hari itu aku dalam sebuah perjalanan menuju Ungaran, Jawa Tengah. Begitu naik, ternyata masih banyak bangku yang kosong. “Asyik” batinku. Aku dengan bebas memilih bangku agak belakang, favoritku. Segera saja kudaratkan badan yang terasa pegal setelah semalaman terguncang di dalam ular besi dari Jakarta. Walau lelah, tapi aku paksakan melihat sekeliling kota Semarang yang beberapa waktu silam pernah aku tinggali. “Bandung bandung” teriak kenek bus. Yang dimaksud Bandung bukannya kota Bandung di Jawa Barat, tapi Bandungan, sebuah daerah sejuk di lereng Menoreh. Tak banyak yang berubah. Kota tua masih seperti dulu. Tapi agak tertata sekarang. Beberapa bangunan mengalami renovasi. Yang paling mencolok atribut kampanye pemilihan gubernur Jawa Tengah bertebaran dimana-mana. Calonnya lumayan banyak. Ada wali kota Semarang, ada mantan Pangdam, ada mantan dosen bahasa Jepangku juga. Wah bakal semarak sepertinya. Bus masih melaju pelan sambil terus mencari penumpang. Menginjak Jl. Dr Cipto, tepatnya di perempatan kampung kali, seorang nenek tua naik dan duduk di sebelahku. Awalnya aku diam saja. Hanya anggukan yang aku berikan ketika si nenek permisi mengambil duduk di sebelahku. Warna putih menghampiri hampir semua rambutnya. Beberapa helai masih tampak hitam, tapi itu sudah jauh berkurang. Wajah tuanya tak bisa disembunyikan. Kerut kulit terlihat jelas di sana-sini. Dari wajah hingga kaki. Pertanda si empunya memang sudah berusia lanjut. Matanya sudah cekung masuk ke dalam. Dengan baju motif cerah dipadu terusan batik, tak lupa selendang kesayangan tak henti melekat di leher. Selendang ini pula yang dijadikan tempat penyimpanan harta. Usianya aku perkirakan 70-an tahun. Mungkin lebih. Sebab hampir sama dengan Ibuku di rumah.

Akhirnya aku beranikan diri ngobrol dengannya. Turun mana, dari mana adalah pertanyaan standar yang aku sodorkan. Dengan ramah, dia jawab semua pertanyaanku.

Bade wonten pundi Mbah” tanyaku.

Mantuk Mas. Wonten Sumowono” tungkasnya.

Oh Sumowono, wah tebih ngeh Mbah” lanjutku.

Nggih, tebih Mas” jawabnya.

Ben dinten nggih kados niki”. Sadean kembang Mas”.

Gadahan piyambak Mbak” tanyaku lagi.

Mboten Mas, mendet saking tiyang” pungkasnya.

Belum sempat aku tanya namanya. Naik seorang ibu. Usianya agak lebih muda. Begitu naik, mereka terlibat obrolan. Setelah itu, naik lagi seorang ibu paruh baya. Sama. Mereka saling akrab. Dari obrolan itu bisa aku pastikan bahwa mereka bertetangga. Dari obrolan itu pula, aku tahu kalau nama nenek yang duduk di sebelahku itu adalah Siti. Ya Mbah Siti. Walau terlihat sepuh, tapi jangan ditanya soal energi. Hampir tiap hari, Mbah Siti membawa bunga-bunga bukit Menoreh untuk dijajakan di Semarang dan sekitarnya. Subuh biasanya ia berangkat, jauh sebelum magrib sudah berada di bus menuju pulang ke rumah lagi. Demikian kesehariannya. Tak tampak rasa lelah apalagi kecewa di wajahnya. Itu yang aku kagum.

Bus makin melaju. Seketika, penuh sesak penumpang terjadi. Mbah Siti sudah tidak bisa lagi berbincang dengan tetangganya. Dan lelap akhirnya yang dipilih. Aku pun rasanya terpengaruh lelap Mbah Siti. Tapi mata ini tak mau terpejam. Aku biarkan kepala Mbah Siti sesekali mampir di pundakku. “Tak apalah” pikirku. “Kasihan Mbah Siti”. Tak selang lama, aku pun siap-siap turun. Sementara Mbah Siti masih jauh dari tujuan. Setelah minta diri, aku pun siap-siap menjejakkan kaki ke jalan aspal besar. Dengan susah payah aku berhasil keluar dari sesakan penumpang. Bus sudah jauh melaju. Pikiranku ternyata juga ikut melaju….. Selang berjalan beberapa meter, perut rasanya minta diisi. Segera aku hampiri, tukang nasi kucing. “Es teh mas” pesanku sembari mencomot nasi tempe kering. Sambil melahap potongan mendoan, aku masih terpikir dengan sosok Mbah Siti. Usia sepuh tak menghalanginya beraktivitas. Semangatnya itu lho. Aku yang jauh lebih muda merasa kalah. Tiap kali diberi beban pekerjaan sedikit aja selalu ada kata keluhan. Ini kurang, itu kurang, dsb. Mbah Siti mengajarkanku apa itu semangat. Ya semangat. Semangat itulah yang belakangan aku merasa kehilangan. Semoga kembang Mbah Siti terus mekar di benak semangatku. Ya semoga.

Friday, April 11, 2008

Good Writing = Rewriting

Selama ini aku merasa bahwa menulis itu adalah pekerjaan yang mudah & gampang. Mengapa? Bukankah dari sejak TK kita sudah diajari ibu guru? Lantas waktu SD kita selalu di ajak menulis di papan hitam: ini Budi, ini bapak Budi, ini ibu Budi? Kita juga diajari nulis yang rapi, dst, dst.

Dan seperti itulah adanya jika melihat teman-teman di kantor. Mereka sepertinya tak menemui banyak kesulitan dalam membuat skrip atau naskah lainnya. Toh selama ini rasanya lancar-lancar saja (Mungkin aku tak tahu kesulitan mereka secara dalam) karena memang aku hanya mengamati dari luar saja. Memang kadang kala aku dengar si bos membenarkan atau merapikan skrip yang telah ditulis biar sesuai dengan tema atau angle yang diangkat. Kebetulan aku jarang berhubungan dengan teknis menulis secara langsung.

Walau sepintas mudah, menulis ternyata tidak mudah. Banyak hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya, tujuan kita menulis. Walau banyak orang bilang, kalau mau nulis ya nulis aja, tapi ternyata kita harus tetap memperhatikan untuk apa tulisan itu kita buat. Minimal kita menyiapkan pikiran kita sebelum menulis. Itu yang disampaikan bosku di kantor dalam training: clear business writing. Think, then we can write. Begitu ujarnya. Beliau juga menegaskan, apapun pekerjaan kita, entah level manajemen, entah level teknis sekali pun, diperlukan adanya skill writing ini. Sebab ini adalah penilaian dasar manajemen terhadap karyawan. Di Indonesia kita masih lebih senang memakai budaya lisan. Alias cuap-cuap saja. Padahal komunikasi tertulis jauh lebih penting. Setidaknya bisa sebagai reminder, sebab kemampuan otak manusia ada batasnya. Menulis internal memo saja, itu ternyata juga tidak mudah. Padahal sering kali aku baca, intenal memo ya intinya begitu begitu saja. Padahal di balik itu semua ternyata rumit juga. Bagaimana kita menyampaikan "kekesalan" kita melalui internal memo, apalagi itu. Kalau dalam dunia tulis menulis (sastra), kita diajarkan untuk menulis dengan kaidah lead, body, & conclusion. Tapi dalam dunia kerja, khususnya menulis memo, itu semua menjadi tak terpakai. Hal-hal penting sajalah yang ditulis. Tidak usah bertele-tele. Langsung saja to the point. Intinya saja yang disampaikan.

Apapun memang butuh latihan supaya mahir. Demikian pula dengan menulis. Bahkan salah satu penelitian mengatakan, ternyata dunia tulis menulis, termasuk pekerjaan wartawan/jurnalis tidak dikuasai oleh mereka yang kulih di jurusan komunikasi, tetapi oleh jurusan-jurusan lain.
Bahkah jurusan komunikasi tidak sampai 10 %. Ini artinya bahwa persoalan menulis bukan monopoli sebuah jurusan komunikasi saja.

Layaknya seorang atlet terbaik, dia hanya akan jago dan menang setiap kali pertandingan hanya karena latihan dan latihan. Seorang Beckam yang terkenal tendangan pisangnya, ternyata selalu latihan ekstra. Demikian pula penerusnya di MU, Cristiano Ronaldo. Tendangan Beckam dan Ronaldo memilik ciri sendiri. Dan itu adalah buah dari latihan keras. Orang sekarang melihat bagaimana spektakulernya tendangan mereka. Padahal jauh hari mereka sudah melatihnya dengan keras. Dan itu tidak dilihat orang. Demikian pula dengan menulis. Ada yang begitu cepat bisa menumpahkan isi kepalanya dalam tulisan dalam waktu singkat, ada pula yang harus menunggu jatuhnya ilham dari langit. Itu semua adalah buah dari latihan setiap hari. Jadi
good writing ya good rewriting. Iya gak sih?