Friday, January 11, 2008

Futsal = Kapok Lombok!


Menurut Wikipedia, futsal adalah permainan bola yang dimainkan oleh dua regu, yang masing-masing beranggotakan lima orang. Tujuannya adalah memasukkan bola ke gawang lawan, dengan memanipulasi bola dengan kaki. Selain lima pemain utama, setiap regu juga diizinkan memiliki pemain cadangan. Tidak seperti permainan sepak bola dalam ruangan lainnya, lapangan futsal dibatasi garis, bukan net atau papan.
Futsal turut juga dikenali dengan berbagai nama lain. Istilah "futsal" adalah istilah internasionalnya, berasal dari kata Spanyol atau Portugis, football dan sala.
Permainan sepak bola mini ini pun kini kian menjamur. Hampir ditiap ujung ada tempat futsal. Apalagi dikota-kota besar. Dengan bandrol berkisar dari 100 ribu - dua ratusan ribu per jam, tempat futsal biasanya buka dari siang - malam. Maklum, banyak yang main sehabis pulang kerja untuk melepas penat. Mereka biasanya rame-rame biar gak terlalu berat bayarnya. Semakin banyak orang maka semakin ringan bayarnya. Hobi ini pun dijadikan sebagai ajang sosialita sesama penggila bola.
Belum lama ini pun kami sekantor main futsal. Tepat dihari yang keesokan harinya tanggal merah. Biasalah biar bisa leluasa main dan keesokannya bisa bangun siang. Kalau paginya ngantor mana bisa tidur puas. Ha.........
Karena gak bawa perlengkapan futsal, akhirnya aku memutuskan untuk pulang dulu. Akibatnya aku pun telat datang. Apalagi aku sempat nyasar segala. Aku baru sampai jam 8 kurang 15 menit, padahal teman-teman sudah main dari sejak jam 7 malam. Kita hanya booking dua jam.
Teman-teman sudah riuh rendah terdengar. Tertawa, kesakitan, guyonan, dll sering terdengar dari lapangan. Gila, ternyata yang main banyak juga. Ada sekitar 20an orang. Dalam permainan kemarin tidak ada tim. Jadi siapapun yang kelelahan langsung digantikan, tak peduli timnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiba juga giliranku masuk ke lapangan. Saling menyerang dan membuat gol terjadi. Walau gak banyak, aku pun kebagian memasukkan si kulit bundar ke gawang. Jatuh bangun pun kami lakukan demi sebuah bola. Memang kelihatannya seperti orang gila. Satu bola kok direbutkan 10 orang!!! Tapi justru disitulah letak seni main bola, apalagi futsal. Kalau gak salah ingat aku masuk ke lapangan dua kali setelah istirahat. Ketika main, tak terasa kaki sakit. Yang terasa hanya perasaan senang apalagi bisa menjebol gawang lawan. Semua terasa menyenangkan. Dan waktu jua yang akhirnya harus mengakhiri permainan kami malam itu. Setelah istirahat sebentar, kami pun berpencar ke rumah masing-masing. Malam itu tak terasa sakit apapun di badan. Apalagi aku mandi dengan air hangat. Keesokan hari badan juga masih terasa gak masalah. Hanya saja hari ini (setelah dua hari) badan rasanya rontok semua. Dari mulai tulang rusuk, tangan, lengan, dan paha ke bawah rasanya tidak karuan. Rontok semua. Yang ada sekarang tinggal kesakitan belaka. Namun kesakitan ini akan menjadi sembuh ketika ada yang mengajak main futsal lagi. Main futsal, walau tak jarang mengalami cidera, bagi penggila bola, ibarat makan cabe bagi penggemar masakan pedas. Walau pernah kepedasan, tapi suatu saat dia akan melanjutkan makan cabe lagi. Itu namanya KAPOK LOMBOK. Sama juga dengan futsal. Meski cidera, badan rontok, suatu saat pasti akan main lagi. DASAR!!!

Lapangan permainan
1. Ukuran: panjang 25-42 m x lebar 15-25 m
2. Garis batas: garis selebar 8 cm, yakni garis sentuh di sisi, garis gawang di ujung-ujung, dan garis melintang tengah lapangan; 3 m lingkaran tengah; tak ada tembok penghalang atau papan
3. Daerah penalti: busur berukuran 6 m dari setiap pos
4. Garis penalti: 6 m dari titik tengah garis gawang
5. Garis penalti kedua: 12 m dari titik tengah garis gawang
6. Zona pergantian: daerah 6 m (3 m pada setiap sisi garis tengah lapangan) pada sisi tribun dari pelemparan
7. Gawang: tinggi 2 m x lebar 3 m
8. Permukaan daerah pelemparan: halus, rata, dan tak abrasif
Bola
1. Ukuran: #4
2. Keliling: 62-64 cm
3. Berat: 390-430 gram
4. Lambungan: 55-65 cm pada pantulan pertama
5. Bahan: kulit atau bahan yang cocok lainnya (yaitu, tak berbahaya)

Jumlah pemain
1. Jumlah pemain maksimal untuk memulai pertandingan: 5, salah satunya penjaga gawang
2. Jumlah pemain minimal untuk mengakhiri pertandingan: 2
3. Jumlah pemain cadangan maksimal: 7
4. Batas jumlah pergantian pemain: tak terbatas
5. Metode pergantian: "pergantian melayang" (semua pemain kecuali penjaga gawang boleh memasuki dan meninggalkan lapangan kapan saja; pergantian penjaga gawang hanya dapat dilakukan jika bola tak sedang dimainkan dan dengan persetujuan wasit)
Perlengkapan pemain:
Kaos bernomor, celana pendek, kaus kaki, pelindung lutut, dan alas kaki bersolkan karet
Lama permainan
1. Lama: dua babak 20 menit; waktu diberhentikan ketika bola berhenti dimainkan. Waktu dapat diperpanjang untuk tendangan penalti.
2. Time-out: 1 per regu per babak; tak ada dalam waktu tambahan
3. Waktu pergantian babak: maksimal 10 menit.

Thursday, January 10, 2008

Hidup Mati: Begitu Dekat Begitu Nyata!

Kemarin pagi aku janjian sama temanku, Ismu Nugroho, untuk cari kost Andri. Andri adalah kakaknya Denny, salah satu temanku di Semarang. Andri baru pertama kali ke Jakarta. Sebelumnya dia kerja di Batam & Pekan Baru.
Kami janjian di depan RS Satyanegara, Sunter. Tak lama setelah sampai, aku telpon Ismu.
"Mas aku udah di depan RS"ucapku diujung telpon.
"Wah sorry Wid, aku gak bisa nemenin. Istriku lagi ada insiden. Sekarang aku di Husada"jawabnya diujung sana.
"Aku kasih alamatnya aja ya"sambungnya lagi.
"Ok"sahutku.
"Tut tut"seketika telpon pun terputus.
Aku dan Andri pun meluncur ke alamat yang dimaksud. Setelah tanya sana sini, akhirnya kami mencapai rumah yang dimaksud. Hanya sayang, kostnya sudah penuh. Kamipun meluncur ke tempat lain. Ada satu kamar yang kosong. Tapi sepertinya Andri tidak cocok.
Kami masih berputar putar di sekitar Sunter. Aku berhenti sebentar menelpon Ragil. Ragil adalah adiknya Ismu. Mereka dulu sama-sama tinggal di Sunter. Maksud hati ingin tanya daerah kost-kostan.
"Halo Nduk kamu dimana"tanyaku.
"Di Husada Mas"sambungnya.
"Anaknya Mas Ismu meninggal Mas, kena air ketuban". "Udah ya Mas, aku mau ngurus jenazahnya" sambungnya cepat.
"Klik" Telpon pun dimatikan.
Ada perasaan yang tidak enak mendengarnya. Siapa sih yang enak mendengar kabar duka. Kami masih berputar-putar sendirian di sekitar Sunter. Terik matahari yang hebat membuat kami sepakat meluncur pulang. Andri aku antarkan sampai kostnya di Kenari setelah sebelumnya mampir ke kostku.
Kabar duka ini pun aku sampaikan ke teman-teman kosku yang juga teman-temannya Ismu dan Ragil.
Tiba-tiba flexiku bunyi.
"Halo Wid kamu dimana"tanya Pupun. Pupun adalah tetangganya Ismu & Ragil di Prambanan, Klaten.
"Aku di kost"jawabku.
"Eh Wid, kita ngelayat yuk, baca Paritta, anaknya Ismu meninggal". "Kamu udah tahu?" cerocos Pupun.
"Udah"jawabku singkat.
"Ok". "Jam satu ya ketemu di kost" sambungku.
Tak lama Pupun pun datang. Akhirnya aku, Pupun, dan dua teman kostpun, Agus & Isyanto, berangkat ke RS Husada.
Begitu sampai di rumah duka Husada, ternyata jenazahnya baru saja berangkat ke Cilincing untuk di kremasi. Setelah berembuk, akhirnya kami putuskan menengok istrinya Ismu, Wahyuni, yang masih di rawat di lantai 5 ruang 512. Disana masih banyak orang yang menengok. Kamipun menunggu diluar kamar. Akhirnya tiba pula giliran kami. Setelah salaman sebagai rasa duka cita, Wahyuni pun bercerita kronologis kejadiannya.
Walau telah kehilangan, tapi wajah tegar dan iklas terpancar jelas dari mukanya yang masih agak lemas. Terus terang, aku salut dengan apa yang dilakukan Wahyuni. Aku tak tahu apa yang akan aku lakukan jika hal ini aku alami. Aku masih ingat, waktu kelas 4 SD, ayahku meninggal. Aku pun tak berani melihat jenazahnya. Aku hanya diam membisu di rumah tetanggaku.
Tak lama kami datang, Ivana juga datang.
Aku dan Agus memutuskan menunggu Ismu & Ragil dari tempat kremasi. Sementara Isyanto, Pupun, dan Ivana sudah pulang duluan. Kami duduk di teras ruangan. Di depan teras ini digunakan lalu lalang banyak orang. Tak hanya keluarga pasien tapi juga hilir mudik para suster yang membawa boks-boks bayi yang baru saja lahir. Tempat duduk kami memang tak jauh dari ruang bersalin. Selama kurang lebih 1 jam kurang, tak kurang dari 7 bayi merah melintas di depan mata kami. Masih dibalut selimut, wajah & kepala yang mulus terlihat. Lucu banget!
"Gila, banyak banget ya Gus, bayi yang lahir"ujarku memecah keheningan kami.
"Iya". "Tapi juga banyak kematian" sambung Agus serius.
Bener juga kata Agus. Kehidupan dan kematian memang dua keping mata uang yang tak bisa dipisahkan. Salah satu buku yang pernah aku baca malah bilang: Disitu ada kehidupan, maka disitu pula ada kematian. Buddha malah menegaskan: Kehidupan adalah awal kematian!

Kambing Balap



Liburan natal kemarin aku sempatkan diri mudik ke kampung halaman. Mudik ya memang ke kampung halaman lah! Karena naik kereta api dari Semarang, aku pun menuju ke kota Lumpia itu sore hari sebelum keretaku berangkat. Aku ke Semarang sekalian bertemu dengan kawan lama. Namanya Kukuh. Dia udah merit. Istrinya Tutik, temanku juga waktu sama-sama di Semarang.
Aku sampai di Semarang sekitar jam 5 sore. Suasana Patas AC Surabaya-Semarang yang sejuk masih tersisa begitu aku turun. Apalagi waktu itu hujan kecil terjadi. Segera aku tarik jaket penutup kepalaku untuk menghindari "berkah langit" itu.
Suasana depan terminal Terboyo sore itu agak rame. Maklum bubaran orang pulang kerja juga. Hujan rintik-rintik membuat beberapa orang mempercepat laju kakinya mencari halte berteduh.
Segera setelah berteduh, aku keluarkan HP untuk janjian dengan temanku.
Setelah pencat sana sini HP, akhirnya setelah 15 menit temanku itu dateng.
"Bang kamu liat ke kanan" sahut Kukuh diujung telpon.
"Kanan mana, aku kan nunggu di depan Terboyo" sanggahku.
"Aku udah di dekatmu, mobil pick up putih"sambungnya lagi.
Setelah aku lihat ke kanan, aku lihat samar-samar dia melambai-lambai.
"Oalah" batinku, ternyata wis bawa mobil to sekarang. He..............
Ternyata dia ditemani istrinya yang sedang hamil tua.
"Wah bentar lagi nih" cerocosku ke istrinya.
"Iya nih Mas" ujarnya mesam mesem.
"Bang kita jemput dik Metta dulu ya di Pemuda"sergah Kukuh.
Metta adalah adiknya Tutik. Jadi Metta itu adik iparnya Kukuh.
"Dia gek PKL di DP Mall" ujar Kukuh.
"Tapi kita mampir tempat Ninik dulu ya, aku mau ambil tiket kereta" sambungku.
"Ok" Kukuh mengiyakan.
DP Mall adalah Mall baru di Semarang yang terletak persis di belakang kantor walikota Semarang. Walau sempat di protes pedagang kecil, karena letaknya tak jauh dari pasar tradisional Bulu, Tugu Muda, toh Mall tetap saja jalan. Mungkin mereka menganut asas: Pedagang Menggonggong, Mall Jalan Terus!!
"Dik aku nunggu ditempat biasa ya"sambung Kukuh di ujung telpon.
Tak lama kemudian, Metta dateng dengan pakaian item putihnya. Seragam PKL.
"Wah Metta ternyata udah besar sekarang" batinku. Padahal waktu aku di Semarang dulu, dia masih SD. Iyalah itu kan 5 tahunan yang lalu. He............
Kami berempat, akhirnya berjubel di depan. Hari itu, hujan bukannya berhenti, tapi malah makin deras.
"Bang mau makan apa" tanya Kukuh.
"Teserah"jawabku sekenanya.
"Yo ojo teserah"serang Kukuh.
"Lha dik kamu mau makan apa" tanyaku ke Tutik & Metta.
"Teserah deh Mas"ujar mereka hampir bersamaan.
"Lho ojo teserah to"sambungku.
"Nek aku pengene sing berkuah panas"usulku.
"Ok, nek garang asem mau gak"jawab Kukuh.
"Boleh".
Pick Putih itu terus melaju memecah derasnya hujan kota Semarang. Tak lama, kami berhenti di Jl. Pamularsih. Kami pun segera turun mengingat perut sudah minta diisi.
Celakanya, ternyata garam asem yang kami mau sudah habis.
"Duh makan apa nijh"tanya Kukuh lagi.
"Yo wis seadanya rak wis" sambung seketika. "Yang searah ke rumah aja".
"Bakso ya?"sambung Kukuh lagi.
"Boleh deh".
Tak sampai 30 menit kamipun sampai di warung bakso. Terletak disamping Klenteng Sam Poo Kong. Itu lho klenteng yang katanya dibangun oleh Laksamana Cheng Ho.
Dalam hati aku berpikir, wah nek makan bakso tok pasti gak kenyang. Padahal aku kan malam ini jalan ke Jakarta. Walau sudah pesan bakso, aku pun mencari tambahan ganjalan perut. Setelah liat kanan kiri, ternyata disebelah warung bakso itu ada warung yang di depannya tertulis "Kambing Balap". Segera aku melangkah ke warung setelah itu. Warungnya agak sepi. Hanya beberapa orang saja yang duduk, termasuk yang si penjual.
"Mas ada sop gak?" tanyaku PD. Aku mau makan sop kambing. Dingin-dingin begini pasti enak.
"Wah gak ada sop mas" ujar penjualnya.
"Lha adanya apa"tanyaku balik.
"Disini gak ada sop kambing mas, disini jual hek"tegas penjual berkaos oblong itu.
"Hek?" "Apa itu mas" sergahku tak kalah.
"Hek, masnya gak tau to?" ujar pedagang itu lagi.
"Apa to mas" ujarku polos.
"Itu lho mas, daging anjing"kata pedagang.
"Wah enggak deh mas"sergahku sejurus kemudian.
Setelah itu aku balik ke warung bakso dengan perasaan dongkol, malu, kecewa, campur aduk jadi satu. Kambing balap itu aku pikir kambing beneran. Gak taunya nama lain dari daging anjing. Wekkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!????
"Piye Bang wis pesan kambing"tanya Kukuh.
"Apa", "Lha sing dijual kuwi ternyata daging anjing" umpatku kesal.
"Ha...................." Mereka bertiga pun terpingkal-pingkal menertawakan aku.
"Sialan kalian semua". "Bukannya kasih tau dari awal"ujarku kesal.
"Aku sendiri juga gak tau Bang"bela Kukuh.
Ya wis lah. Akhirnya untuk mengganjal perutku yang akan pergi jauh, aku pesan 1 mangkok lagi bakso.
Apa yang kemarin aku alami, bener-bener harus jadi pelajaran berharga. Kambing balap ternyata nama lain dari anjing. Mungkin di tempat lain namanya pun beda-beda. Mesti waspada nih.............................

Monday, January 7, 2008

Tsunami Bisu

26 Desember tiga tahun lalu, bencana dasyat tsunami meluluhlantakkan bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Ratusan ribu korban meninggal. Aku sendiri baru menginjakkan kaki seminggu kemudian di bumi serambi mekah itu. Kondisi kehancuran terasa sekali. Hilir mudik petugas PMI dan TNI membantu korban yang akan dievakuasi keluar Aceh. Ratapan kesedihan menyeruak mereka yang kehilangan sanak saudaranya.
Kini, 3 tahun berselang. Walau tak sering, aku beberapa kali melihat sendiri proses rekonstruksi dan rehabilitasi yang dikomandoi BRR. Dibawah kepemimpinan Pak Koen, ada banyak kemajuan. Rumah-rumah dibeberapa titik sudah berdiri lengkap dengan fasilitasnya. Semuanya atas bantuan dari berbagai pihak, terutama NGO dari luar negeri.
Namun disisi lain, ternyata sampai hari ini masih banyak pula warga yang tinggal di barak-barak pengungsian. Penanganan paska tsumani memang tidak mudah. Terutama persoalan rumah. Akses tanah adalah salah satu kendalanya. Disatu sisi, banyak NGO yang memiliki aturan: akan membantu pembangunan rumah, jika korban tsumani ybs memiliki tanah. Sementara tak banyak pengungsi yang memiliki tanah. Sebab selain sudah sebagian hilang diterjang tsunami, banyak pula diantara mereka tidak memiliki tanah karena sebagai pendatang di Banda Aceh. Layaknya Jakarta, Banda Aceh juga menyedot semut-semut urbanisasi di Aceh.
Pergantian tampuk kepemimpinan Aceh turut mempengaruhi laju kerja proses rekonstruksi dan rehabilitasi ini. Beberapa orang gubernur memang menempati pos-pos di BRR. Secara politis pun gubernur menjadi wakil BRR. Tentu tarik menarik kepentingan pasti terjadi disini.
Ada teman yang cerita bahwa sekarang ini, banyak NGO yang sudah angkat kaki. Padahal mereka memiliki dana melimpah. Hanya saja karena proses birokrasi yang berbelit, NGO ini pun pergi entah kemana. NGO-NGO ini sebenarnya memiliki niat yang sangat mulia, ingin membantu saudara-saudara kita. Tapi ternyata kok malah dipersulit. "Mau berbuat baik ternyata gak gampang" seloroh temanku.
Setahun lalu, ketika peringatan dua tahun tsunami, ada kata-kata menarik: Remember & Re-built. Maksudnya bahwa kejadian tsunami harus tetap di kenang dan juga harus membangun kembali puing-puing kehidupan yang sudah runtuh. Peringatan kala itu sangat meriah. Namun peringatan tinggal peringatan. Peringatan bulan desember kemarin tak seramai lagi. Pemerintah justru mengadakan latihan penanggulangan tsunami di Banten. Entah apa alasannya.......
Tiga tahun sudah berlalu. Peringatan itu pun kini hanya menyisakan kebisuan belaka. Kebisuan yang entah sampai kapan akan kembali bersuara. Kebisuan peringatan menjalar pula pada kebisuan nasib sebagian besar warga yang hingga kini masih belum memiliki tempat tinggal.
Selamat memperingati tsunami yang penuh kebisuan.

Boim oh Boim

Kuliah kedua jam 11. Di dalam kelas ada beberapa teman yang lagi nonton film sambil nunggu dosen. Gak tau judulnya apa, yang pasti ada Al-Pacino main disana. Gak lama Pak Yul, sang dosennya dateng. Orangnya cool sih. Dengan tas kebesarannya dipunggung. Semua terasa biasa saja. Tapi yang agak aneh itu orang dibelakangnya. Perawakannya agak tambun, walau gak tambun banget. Rambutnya keriting dan pendek. Bagian depan agak botak dikit. He...... Dengan baju koko, dia mengambil duduk di bangku depan. Sama seperti mahasiswa lainnya. Mendengarkan uraian Pak Yul. Tak lama, Pak Yul, cerita kalau temannya ini adalah Boim Lebon. Itu lho yang bikin serial Lupus. Akhirnya Boim dipersilahkan memberikan "kuliah singkat" ke kita-kita.
Seperti serial Lupus yang gokil banget, demikian pula pembawaan Boim. Dia menceritakan sedikit tentang riwayat perjalanan hidupnya. Mulai mengarang Lupus, kerja di TV, dll hingga sudah banyak buku-buku se-genre Lupus dihasilkan dari tangannya yang usil. Salah satu bukunya: I Love U SOMAD, plesetan dari I LOVE U SO MUCH. Ada juga SUPARMAN RETURN, plesetan dari Superman Return. Kira-kira Suparman Return bercerita tentang seorang kaum urban yang bernama Suparman yang mudik ke desanya. Ternyata di desanya sudah banyak perubahan yang tidak dia sangka. Selain itu masih banyak lagi buku plesetan lainnya. Kalau teman-teman sempat mampir di toko buku, pasti ada tuh buku-buku dia.
Emang dasarnya gokil, celetukan dan gaya bahasanya pun gokil. Banyak cerita lucu yang dia kasih. Salah satu ceritanya:
"Seperti anak SMA pada jaman itu, bandel bin badung pastinya. Ketika itu, rambut keriting saya agak panjang. Jadi ketika naik motor gak pernah pake helm karena ribet. Suatu saat ketika naik motor saya berhenti di lampu merah, padahal disana tertulis "LURUS JALAN TERUS"! Seketika juga saya di dekati polisi:
Polisi: "Eh kamu, bisa baca gak tulisan itu?"
Boim: "Tulisan apa Pak"
Polisi: " Tuh tulisan LURUS JALAN TERUS"
Boim: "Saya kan KERITING Pak bukan LURUS"
Polisi: ?????
Dasar Boim, begitu gerutu teman saya. Kuliah dari Boim hari itu agak menyegarkan suasana. Biasanya kan kita agak serius melulu. Ha............Thank U Pak Yul. Thank U Boim. Btw, nama asli lu itu siapa sih? Dasar Boim Boim.....

Lucu Lucuan Aja sih

Suatu hari di dalam pesawat sebuah penerbangan. Duduk tiga perempuan yang awalnya tidak kenal, tapi karena bersebelahan akhirnya saling berkenalan. Yang pertama, Dina (wanita cantik, pengusaha emas, simpenen salah satu pengusaha top Indonesia). Kedua, sebut saja Rebbeca. Dia adalah model kelas wahid dari Hongkong. Jadi ya badannya lu sendiri taulah kayak apa. Ha.........
Yang ketiga, cewek Nigeria yang punya bisnis di Jakarta. Mungkin ganja kali ya? Orang Nigeria pasti item kan badannya. Walau item legam, tapi bolehlah. Namanya sebut saja Jomo.
Tiba-tiba ditengah keasyikan obrolan mereka, salah satu pramugari mengatakan bahwa pesawat mengalami gangguan cuaca. Semua penumpang diminta untuk waspada dan mengencangkan sabuk pengaman. "Fasten your shit belt, please" begitu kira-kira pengumuman pramugari berulang-ulang. Tapi bukannya mengencangkan sabuk kursi, Dina malah sibuk mengeluarkan koper yang berisi emas. Semua emas dia pakai. Tentu saja Rebbeca dan Jomo terheran-heran.
Rebbeca: "Lu ngapain pake emas segala"
Dina: "Biar nanti kalau pesawat jatuh tim rescue segera menolong aku karena aku orang kaya"
Sejurus, Rebbeca malah melucuti semua pakaiannya.
Jomo: "Lu ngapain juga copot semua pakaian kayak gitu"
Rebbeca: "Biar nanti kalau tim rescue datang dia segera memberi pertolongan karena badanku aduhai"
Tak lama, Jomo juga melucuti pakaiannya.
Rebbeca: "Lu ngapain ngikut lepas baju segala"
Jomo: "Bukannya kalau ada pesawat jatuh yang dicari kotak hitamnya dulu"
Dina & Rebbeca: ????!!!!!!!!!

Badan Bangun Pikiran Tidur

"KRINGGGGGGG" bunyi keras itu membangunkanku dari lelap. Setengah sadar aku cari sumber bunyi itu. "Jam 6" itu yang tertera di alarm HP-ku. Tapi karena aku kuliah jam 8, aku tarik lagi sarungku. Maklum, semalaman aku begadang nongkrongin MU vs Aston Villa di FA Cup. Emang cuma setengah babak sih kuatnya. Ha..........Beruntung aku dengar berita radio pagi-pagi kalau MU menang 2-0 berkat gol Ronaldo & Rooney.

"SHITTTTTTT" aku harus ngeprint tugas kuliah pertama. Sekarang udah jam 7 lagi. Setelah gedor pintu kamar teman kost akhirnya tuntas juga tugas ini. Beruntung banget printernya emang pinter. Tau kalau aku lagi buru-buru. Hi...........

Setelah mandi "singkat" aku pacu si Bebek Hitam kesayangan meluncur ke kampus. Aku memang sudah diatas bebekku, namun rasanya pikiran ini masih ada di kamar. Ini terbukti ketika aku harus memutar kembali ke kost karena ada barang yang tertinggal. Bener-bener blank. Udah telat, masih aja ada barang yang ketinggalan. Dengan susah hati aku putar si Hitam ke kost lagi.

Sebenarnya jalur ke kampus lurus lurus aja plus belok dikit. Jalur ke kampusku: Salemba, Merdeka Selatan, Tanah Abang, Slipi, Kemanggisan, Jl. Lapangan Bola, Meruya Selatan. Tapi begitu aku sampai Senen harusnya kan belok kiri ke arah Tugu Tani, tapi entah mengapa aku malah lurus ke arah Gunung Sahari. Agak tak sadar aku udah sampai di dekat terminal Senen, tetap saja aku jalan. Dan aku baru sadar kemudian. Akhirnya aku arahkan si Hitam ke Jl. Lapangan Banteng, Veteran, Tomang, lewat TA. Dari TA aku udah mikir akan lewat kolong bawah tol Kebon Jeruk. Tapi bukannya belok kiri arah Arjuna Selatan, tapi aku malah ambil kanan ke Arjuna Utara. Lagi-lagi penyesalan saja yang ada. Setelah 30an menit terguncang di atas si Hitam, akhirnya aku sampai juga kampus. Tepat 18 menit lewat dari jam 8. Segera aku cari HP utk telpon teman. Soalnya dosen kuliah pertama ini rada killler walaupun sebenarnya baik. Ya pokoknya gitulah............. "Met Pak Heri udah masuk"tanyaku ke Metta, temanku. "Belum ada tuh" sambung Metta. Wah syukur banget. Artinya masih ada waktu untuk cari sarapan. Maklum cacing pita di perut udah minta makan dari tadi. Akhirnya aku beli 2 roti dan susu bantal. Roti pertama aku habiskan di jalan menuju kelas. Kemudian sambil nunggu dosen dateng, di depan kelas aku habiskan roti ke-2. Sayangnya, baru 2 gigitan, eh tuh dosen dateng. "HUHG" rese banget. Makan rasanya gak nikmat banget!!!!!!!! Akhirnya dengan rasa kesal, aku masukkan sisa potongan roti ke dalam tas.

Kuliah pertama ini berjalan biasa aja. Dosen cuma memberi gambaran trik-trik menyusun skripsi yang cepat. Lagian siapa juga yang mau lama-lama. Akhirnya kuliah pertama selesai juga setelah jam 09.30. Uh........akhirnya selesai juga. Pagi itu aku benar-benar merasa bahwa pikiranku masih tertinggal di tempat tidur padahal aku udah ada di dalam kelas. "WOI BANGUN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Wake up!!!!!!!!!! Rasanya pasti enak kalau ada guling dan kasur di dalam kelas, apalagi di kelas ada AC, jadi sejuk.