<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145</id><updated>2011-12-28T02:21:33.465-08:00</updated><title type='text'>appamadena sampadetha</title><subtitle type='html'>Berjuanglah dengan sungguh-sungguh karena hidup penuh perjuangan!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>115</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-4063609203388849694</id><published>2011-09-27T03:59:00.000-07:00</published><updated>2011-09-27T03:59:05.285-07:00</updated><title type='text'>Berpijak Membumi</title><content type='html'>Kita perlu melihat. Melihat untuk merasakan. Merasakan yang sebenarnya. Apa yang sesungguhnya terjadi. Menyelami apa yang sedang berlangsung. Melihat ke bawah, kita pasti akan merasakan, betapa kita harus mensyukuri hidup kita. Setidaknya kita cukup makan, cukup minum. Bandingkan dengan mereka yang harus hidup berdesakan di kolong tol atau di gubuk-gubuk semi permanen di pinggir rel kereta. Atau bandingkan kita dengan mereka yang hidup di petak 2 x 2, yang disesaki 12 orang? Dimana untuk tidur saja mereka harus bergantian karena tempatnya tidak muat? Bagaimana dengan mandi, cuci, buang hajat mereka? Melihat semuanya kita pasti bersyukur dengan semua yang kita miliki sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi untuk lebih bersemangat dalam penghidupan, kita perlu juga untuk melihat ke atas. Menyerap semangat kesuksesan orang lain. Merasa tips &amp;amp; trik mereka bisa seperti sekarang ini. Juga belajar untuk seperti mereka, meski kita tak akan pernah bisa menjadi mereka. Tapi setidaknya kita bisa menyerap gelora semangat bagaimana perjuangan kesuksesan mereka. Tak dipungkiri, ada kalanya memang kita akan merasa serba tertinggal. Dari dulu sampai sekarang kok seperti ini saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukankah untuk mencapai tingkat 100, kita harus menapak setingkat demi setingkat? Setahap demi setahap? Mereka bisa seperti sekarang tentu butuh proses. Memang kita terkadang tidak sabar untuk melalui proses. Kita maunya langsung dapat hasil. Terlihat dan nyata. Kita mungkin merasa stag, padahal mungkin saja memang prosesnya perlu waktu. Tak ada yang instan di dunia ini. Serangkaian proseslah yang menentukan, yang membentuk. Selama kita bersungguh-sungguh, apa yang kita harapkan tak lama lagi pasti tercapai. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) ditulis di Stasiun Senen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-4063609203388849694?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/4063609203388849694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=4063609203388849694&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4063609203388849694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4063609203388849694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2011/09/berpijak-membumi.html' title='Berpijak Membumi'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6310397551768231295</id><published>2011-08-08T01:24:00.001-07:00</published><updated>2011-08-08T01:28:16.894-07:00</updated><title type='text'>Teror Sahur</title><content type='html'>Jakarta, 02.30&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dak dik. Dar Der Dor. Tang Tang. Ting Tung. Bkekk......&lt;br /&gt;Bunyi-bunyian itu keras terdengar. Sepertinya dipukul persis di sebelah telinga. Sangat memekik. Entah apa yang merasuki orang-orang itu begitu kejam dengan tetabuhannya. Di luar sana gulita masih terbenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, umat Muslim dunia melakukan ibadah puasa. Saya lebih suka menyebut Muslim daripada Islam. Muslim dibenak saya, yang bukan pemeluknya, terdengar Indah, Teduh. Sementara Islam, karena beragam atribut, saya merasa Garang, Tukang Bikin Onar, Kerusuhan, juga Terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kecil sampai hari ini, saya memiliki banyak kawan Muslim. Bukan Islam. Bahkan keluarga besar almarhum Ayah saya adalah pemeluk Muslim yang baik. Sampai detik ini. Juga Ketika saya kuliah dulu, hampir semua kawan saya adalah Muslim. Dan mereka memperlakukan saya sebagai seorang minoritas dengan baik.Intinya Muslim yang saya kenal benar-benar sangat baik dan menyejukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke puasa. Tahun ini adalah tahun kedua saya tinggal sendiri, di sebuah petak kecil. Seperti tahun lalu juga, puasa kali ini terasa lebih ramai di sekitar rumah. Gang sempit menuju rumah, hampir pasti selalu penuh kendaraan lalu lalang. Apalagi menjelang jam buka puasa. Hampir semua lapak makan &amp; minuman diserbu warga. Baik yang puasa &amp; tidak, sama-sama  berburu. Terutama hidangan yang manis. Seperti bunyi iklan, "berbukalah dengan yang manis"....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tiap hari, saya tidur jam 12an ke atas. Jam bisa terlelap sejam kemudian. 1 hingga 2 jam kemudian, biasanya berbagai bebunyian di nyalakkan! Saya bilang menyalak karena suaranya memekakkan telinga. Apaun di tabuh, di pukul. Seolah semua harus bangun. Seolah semua tidak bisa bangun untuk sahur. Saya yakin seorang Muslim yang taat, sekalipun tidak dibangunkan dengan "keras" seperti itu, jika memang puasanya sudah diniati dengan tulus, pasti akan bangun dengan sendirinya. Kebetulan saya memiliki beberapa kawan yang melakukan puasa tidak hanya bulan puasa. Dan mereka bisa mengatur diri sedemikian rupa sehingga dia bisa bangun tepat pada waktunya, tanpa harus di "teror". Saya yakin, pemeluk Muslim yang baik sekalipun, jika dibangunkan seperti itu, pasti akan berkeluh. Bahkan bisa jadi akan mematik emosi. Ujung-ujungnya niat untuk melakukan ibadah puasa pun menjadi berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati saya berpikir, apa memang tidak ada cara yang lebih sopan untuk membangunkan orang? Bukankah tujuan baik harus disertai tindakan yang baik, agar tujuannya tercapai dengan baik? Bukankah puasa adalah ibadah? Apakah yang namanya ibadah harus dijalankan dengan baik? Biar pahalanya juga baik?Apakah karena merasa mayoritas, jadi tak perlu kewajiban untuk menghormati yang minoritas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin MUI perlu memberi fatwa untuk urusan "beginian". Jangan cuma kasih fatwa urusan "begituan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6310397551768231295?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6310397551768231295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6310397551768231295&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6310397551768231295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6310397551768231295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2011/08/teror-sahur.html' title='Teror Sahur'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-4740023494026190582</id><published>2011-05-03T00:17:00.000-07:00</published><updated>2011-05-03T03:53:46.445-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan nan Menenangkan.....</title><content type='html'>Minggu lalu, kami melakukan perjalanan ke sebuah desa di perbatasan Bogor dan Sukabumi. Dari awal, hanya sepotong gambaran yang tertangkap mengenai desa ini. "Pokoknya gak jauh dari SPN Lido Mas" beber Marina, reporter kami. Kami berangkat berlima, termasuk driver. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah agak sore, kami berangkat dari Jakarta. Beberapa urusan masih harus diselesaikan. So far perjalanan lancar. Jalan tol arah Bogor tidak terlalu padat. Begitu keluar tol, kami sepakat untuk lewat Batu Tulis, lanjut ke arah Caringin, karena tiap weekend jalan Ciawi arah Sukabumi selalu macet parah. Di pengkolan jalan menanjak selepas Batu Tulis, kami sepakat isi perut. Pecel ayam kami pilih. Aku memilih tahu &amp; tempe saja, karena lagi mau vege. Yang lain, ada yang pesen pecel ayam &amp; pecel lele. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas perut terisi, kami lanjutkan perjalanan. Jalan arah Caringin memang kecil dan berlika-liku. Beberapa motor menyalip kami dengan suara yang memekakkan telinga. "Namanya juga yang punya kampung" gerutu Robert, kawan kami. "Iya, mereka emang gak tahu aturan" sambung Kasirun, driver kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa matahari ternyata sudah mulai hilang. Berganti nyala lampu disana-sini. Sudah hampir 3 jam kami masih belum juga sampai di Caringin. "Udah tanya orang aja" sergahku. Marina, segera membuka pintu mobil menghampiri ibu-ibu yang menggendong anaknya. Ibu-ibu ini masih muda. Mungkin seumuran dengan kami. "Wah mereka masih mudah gitu, tapi udah gendong anak"ujar Marina ketika mobil tak lama beranjak. "Katanya sih lurus aja, nanti kita tanya orang lagi deh" lanjut Marina. Lama kami berjalan. Tapi ujung jalan raya Ciawi - Sukabumi tak jua tampak. Sekali lagi mobil ditepikan untuk bertanya lagi. "Masih terus aja Neng, kalau ke Caringin malah harus balik tuh, udah kejauhan" ujar bapak yang kita tanya. "Wah kita mau lanjut, apa puter balik nih?" kata Kasirun gusar. "Udah lanjut aja, kalau balik bakal lama lagi" kataku kesal. Mobil dilajukan lagi. Hari benar-benar sudah gelap, ketika kami akhirnya menjumpai jalan raya Ciawi - Sukabumi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mampir indomaret untuk membeli beberapa perlengkapan. Sambil menunggu Robert dan Marina belanja, kita akhirnya bertanya sekali lagi kepada tukang ojek. "Bang apa tahu arah ke Pasir Buncir? ujarku. "Iya, itu dari SPN Lido, masuk aja" ujar tukang ojek. "Bang, mau gak anterin kita" timpal Marina. "Berapa kira-kira?". Tukang ojek ini bilang "teserah deh mau kasih berapa". "Ya udah 20 ribu ya" tawar Marina. Tukang ojek akhirnya kami buntuti. Benar saja, begitu sampai SPN Lido, kami lanjutkan ke jalan kecil. SPN Lido adalah Sekolah Polisi Negara. Sekolah buat polisi. Bangunannya terlihat luas, meski gelap. Jalan kecil kami terus telusuri mengikuti ojek didepan kami. "Duh ini kok belum sampai juga" batinku gusar. "Mar, ini beneran tempatnya?" tanyaku. "Aku juga gak tahu Mas, mbak Sita &amp; Putri juga gak bisa dihubungi" jawab Marina. "Wah bisa kacau nih". Tak terhitung jalan berkelok sudah kami lalui, tapi tempat tujuan belum jua terlihat. Hingga akhirnya tukan ojek berhenti di sebelah mesjid desa. "Wah sudah sampai kita" ujarku girang. "Tapi dimana panitia?" tanyaku. "Kok sepi sekali". "Mau ke Ciwaluh ya Neng?" tanya seorang ibu penjaga warung. "Arahnya masih ke atas, tadi siang anak-anak banyak yang ke arah sana" sambungnya. "Hah, berarti kita masih harus jalan kaki ke atas?". "Bagaimana dengan barang-barang kita yang begitu banyak?". Kino flo, kamera, tas, souvenir, dll. Wah, tak terbayang sulitnya perjalanan kali ini. "Ya udah naik ojek aja Neng" saran tukang ojek yang sedari tadi menemani perjalanan kami. "Oh ya, cerdas juga idenya". Tapi kita butuh setidaknya 4 ojek. Itu artinya masih kurang 3 motor lagi. "Nanti saya panggil teman-teman saya" ujar tukang ojek menenangkan. Barang-barang segera kami turunkan dari mobil. Satu per satu, membawa barang ke motor. Aku sendiri kebagian membawa kino flo dan juga tiang besinya yang lumayan berat. Jalan berkelok dan sempit tersaji. Kino dan tiangnya, harus diangkat. Sekitar 20 menit kami terombang-ambing di atas kuda besi. Ditambah jalan tak mulus, membuat tempe dan tahu yang aku makan serasa ingin keluar. Sepanjang jalan gemericik air sungai terdengar. Sejuk sekali rasanya. Udara segar segera aku hirup dalam-dalam. Dan benar saja, ternyata desa yang kami tuju adalah desa terakhir. Namanya Ciwaluh. Mungkin dulu banyak Waluhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi, segera aku picingkan mata melihat sekitar. Hamparan sawah hijau terbentang tak jauh dari rumah yang kami tinggali. Di ujungnya terlihat sungai besar melintas. Katanya, ini adalah hulu sungai Cisadane. Airnya bening mengalir mengundang hati ini untuk segera berbasuh. Sebagian warganya bertani. Ada juga yang menjadi buruh di pabrik. "Kalau disini warganya banyak yang miskin, tapi bahagia" ujar salah seorang ibu berkerudung. Seketika aku melihat ke dalam diri. "Orang kota memang mungkin memiliki banyak uang, tapi apakah mereka semua bahagia" tanyaku dalam hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2,5 hari kami habiskan untuk bekerja sambil liburan. Kami juga sempat melihat curug Ciwangkeni, tak jauh dari desa ini. Hamparan sawah menguning juga terlihat disana-sini. Suasana desa yang sejuk mengingatkan diriku ketika kecil. Ketika di desa. 2,5 hari ini pula, kami larut belajar tentang pentingnya biomonitoring dan juga herpetofauna, yang dilakukan malam hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frekuensi otak rasanya benar-benar tenang sekali. Melihat hamparan sawah menguning, melihat ayam berkokok, melihat kodok melompat. Tak harus bergegas, tak harus berburu waktu, tak harus dikejar deadline! Benar-benar tenang dan damai. Duh, rasanya tak mau kembali ke kota. Rasanya tak mau melepaskan segala ketenangan ini. Otak ini terasa tenang. Membentuk garis lurus seperti tanda kematian kardiografi. Berbeda sekali ketika sudah di kota. Otak ini pasti kembali lagi menjadi kardiografi yang menyerupai seismograf yang kejang-kejang mencatat gunung meletus. Lain hari, otak ini memang harus diistirahatkan ke desa lagi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-4740023494026190582?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/4740023494026190582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=4740023494026190582&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4740023494026190582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4740023494026190582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2011/05/perjalanan-yang-menenangkan.html' title='Perjalanan nan Menenangkan.....'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5550231257554112284</id><published>2011-04-28T00:32:00.000-07:00</published><updated>2011-05-03T03:51:58.068-07:00</updated><title type='text'>Manusia Gila</title><content type='html'>Berikut sebuah catatan tentang mereka yang cinta dengan negerinya. Mereka yang jarang berkeluh. Mereka yang lebih memilih untuk melakukan sesuatu untuk berbagi. Mereka yang banyak disebut orang banyak sebagai orang-orang "gila":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dosriana Bakkara&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-V5m94VO_7S0/Tb-l080yDmI/AAAAAAAAAi8/_r6Z2EEZdhY/s1600/IMG_3526.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-V5m94VO_7S0/Tb-l080yDmI/AAAAAAAAAi8/_r6Z2EEZdhY/s320/IMG_3526.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602378790571478626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilir mudik kereta lewat persis didepan mata meraung-raung minta jalan. Rumah-rumah semi permanen juga berderet, berserak di tepi. Di ujung sana, seorang ibu menelan dalam-dalam asap rokok yang baru dipatiknya. Matahari terasa membakar. Wajahnya pucat pasi kecoklatan. Beberapa pemuda tanggung, bekerja membangun toilet. Di seberangnya seorang ibu, membalut tubuhnya dengan handuk. Rambutnya masih basah. Sebagian besar warga yang tinggal bekerja di sektor informal. Kaki lima hingga pengemis di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut lain, suara anak-anak bersautan. Riuh, mengikuti setiap kata yang keluar dari mulut Dosriana Bakkara. Sejak 2007, Mis Dos, begitu Dosriana biasa dipanggil,  mendedikasikan penuh waktu dan tenaganya mendidik anak-anak di bantaran rel kereta api, Jl. Salak, Medan. Dua ruangan semi permanen ia sewa dengan kocek pribadi. Semua dilakukan atas nama panggilan. "Kalau ada niat, pasti ada jalan kok Mas" sambungnya ketika ditanya pendanaan.  Lulusan FISIP USU ini, melihat bahwa anak-anak tidak akan bisa memutus kemiskinan orang tuanya jika terus menerus turun ke jalan dan tidak mengenyam pendidikan. "Anak-anak ini, sangat rentan Mas" ujarnya. "Ya karena mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk belajar, padahal secara akademik mereka juga tidak bodoh". "Mereka pintar, tapi kurang pembinaan". "Bayangkan kalau mereka tidak berpendidikan, pasti ujung-ujungnya akan turun ke jalan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-zkgIk2KrOlo/Tb-pL7RDXbI/AAAAAAAAAjU/sA2o0drdB0s/s1600/IMG_3534.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-zkgIk2KrOlo/Tb-pL7RDXbI/AAAAAAAAAjU/sA2o0drdB0s/s320/IMG_3534.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602382483825057202" /&gt;&lt;/a&gt;Dosri masih ingat betul, bagaimana pandangan orang pertama kali. Kecurigaan terpancar dari warga sekitar. "Mereka sebenarnya juga orang-orang yang rentan" katanya. "Rentan, karena memang tidak banyak yang memihak mereka, terlebih pemerintah". Berkat kegigihannya, perlahan warga sekitar mendukung usaha ini. Bahkan mereka merasa, anak-anaknya makin rajin ke sekolah karena Dosri. "Ini adalah sekolah alternatif".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sekedar memberi pelajaran akademik, Dosri yang dibantu beberapa relawan dari mahasiswa juga membantu anak-anak rentan ini untuk belajar tata krama, sopan santun, kebersihan, dan juga karakter. "Memberi bahan ajar ini jauh lebih sulit daripada belajar akademik" ujarnya. Lanjutnya, mereka kan sudah terbiasa hidup tanpa aturan, di jalanan. Untuk mencegah anak-anak ini turun ke jalan menjadi pengemis, Dosri memperpanjang jam belajar di sekolah. "Ini semata-mata untuk melindungi mereka". "Jika mereka lama di sekolah kan berarti kesempatan mereka turun ke jalan berkurang, harapannya mereka nanti tidak lagi turun ke jalan" harapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya warga sekitar yang awalnya menaruh curiga terhadap upaya Dosri ini. Cibiran dan keheranan juga tampak dirasakan Dosri dari orang-orang terdekat. Maklum saja, sudah menjadi sebuah kelaziman, begitu lulus kuliah untuk mencari kerja. Menersukan kehidupan. Tapi Dosri memilih jalan lain. Jalan yang tidak biasa. Jalan yang sebagian besar orang disebut "gila". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi orang itu harus berguna. Itu yang menjadi pegangan Dosri. "Dan warisan ilmu, melebihi warisan apapun", "Warisan paling kekal adalah warisan ilmu" tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Munawar&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-mQ3-vpcnebY/Tb-n5L-_lmI/AAAAAAAAAjM/DXYj3okFXwM/s1600/IMG_3563.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-mQ3-vpcnebY/Tb-n5L-_lmI/AAAAAAAAAjM/DXYj3okFXwM/s320/IMG_3563.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5602381062383572578" /&gt;&lt;/a&gt;Sabtu pagi yang cerah. Ibu-ibu terlihat riang tertawa mengikuti setiap gerakan instruktur. Sesekali mereka mengelap keringat. Sesekali juga terbahak bila melirik kawannya yang salah mengikuti instruktur. Semua gaduh, tapi santai. Mereka terlihat sangat menikmati. Itulah sepotong kegiatan dalam posyandu lansia yang digagas Munawar dkk di yayasan amil zakat, Ulil Albab, jl. Gagak Hitam, Medan. Yayasan in merupakan bukti kebulatan tekad dari Munawar dkk. Beberapa program diusung, mulai dari pendidikan, kesehatan, dan layanan kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian program itu, Posyandu Lansia menjadi salah satu program unggulannya. Sebulan sekali di minggu ke-3, ia menggelar posyandu bagi lansia di Jl. Gagak Hitam, Medan. Halaman ruko yang digunakan sekaligus kantor lembaga ini menjadi pusat pelayanan. Posyandu selama ini identik dengan anak-anak, tapi Munawar melihat bahwa lansia juga memerlukan layanan terpadu layaknya anak-anak. "Puskesmas disini sudah ada, tapi kita melengkapi saja pelayanan yang memang belum ada selama ini" ungkapnya. "Prinsipnya, kita menangkap kebutuhan masyarakat". "Dan inilah yang dibutuhkan mereka". Semua layanan disini gratis. Tidak bayar sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posyandu lansia, layaknya posyandu bagi anak-anak, juga dilakukan penyuluhan kesehatan, timbang badan, dan juga pemberian gizi tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munawar dkk boleh jadi bermimpi bahwa posyandu lansia ini tidak ada lagi di masa yang akan datang. Itu artinya, pelayanan terpadu masyarakat kita sudah berjalan dengan baik. Tapi rasanya mimpi ini masih belum terwujud dalam waktu dekat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munawar dkk adalah manusia "gila" yang mau mengurusi hal-hal yang dianggap orang adalah remeh temeh. Tapi Munawar bergeming bahwa justru mengurusi hal remeh temeh ini ibarat menebar rahmat, menuai berkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Marandus Sirait&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-vEHSM3Ehhwo/TbkvEC_3dsI/AAAAAAAAAi0/0HiMR68aUlo/s1600/IMG_3753.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 267px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-vEHSM3Ehhwo/TbkvEC_3dsI/AAAAAAAAAi0/0HiMR68aUlo/s400/IMG_3753.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5600559358182651586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi masih tersisa ketika kami menginjakkan kaki di sebuah kampung di desa Rang, Kec. Lumban Julu, Kab. Toba Samosir. 30 menit berkendara dari pinggir danau Toba. Pohon dan dedaunan, masih basah embun. Udara sejuk langsung kami hirup dalam-dalam. Tak berselang, sosoknya menghampiri kami. Ramah. Kulit wajahnya kecoklatan terbakar. Kumis dan jenggotnya menggelantung. Beberapa warna putih terhias. Bukti si empunya sudah berumur. Tapi melihat fisiknya, masih terlihat sangat liat. Dialah Marandus Sirait. Pengelola Taman Eden 100, sebuah lahan konservasi yang pernah menerima penghargaan Kalpataru untuk kategori perintis lingkungan tahun 2005 silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari guru musik beralih menjadi penggiat lingkungan. Itulah jalan yang diambil Marandus. Jika kebanyakan orang akan menggunakan tanah keluarga demi pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, hal ini tidak berlaku bagi Marandus. Tanah keluarga seluas 40ha, ia sulap menjadi lahan konservasi. Marandus menamakan Taman Eden ini sebagai tempat agrowisata rohani. "Siapa saja bebas masuk kesini untuk berkomtemplasi diri" ujarnya. Taman Eden diambil dari Nats Alkitab : Kejadian 2 ; 15 "Usahai dan Lestarikanlah Bumi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari taman ini adalah setiap batang pohon yang ditanam, ia sertakan nama penanamnya. Usaha inilah yang membuat taman eden hidup dan berkembang. Selain itu juga Marandus melakukan upaya pembibitan beberapa jenis tanaman, seperti durian, dll. "Biar orang lain juga bisa menanam dimana pun mereka mau" ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dibantu seorang dokter, Marandus juga membudidayakan anggrek Toba yang sudah mulai langka. "Konservasi anggrek ini juga buat bahan penelitian" katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sudah lelah berwacana tentang kerusakan alam dan lingkungan". "Sudah saatnya bertindak". Apalagi danau Toba juga sudah mengalami kerusakan yang parah. Makanya dibutuhkan usaha bersama untuk menyelamatkannya. Di sekitar sini saja, saya rasa, perlu 10 ribu orang yang melakukan seperti saya ini" sambungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marandus Sirait dan Taman Eden, memberi sepenggal kisah yang merefleksikan manusia dan bumi yang ikhlas dalam upaya pemulihan, pelestarian, dan perlindungan integritas ekosistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini memang masih terus membutuhkan "orang-orang gila". Gila yang tak hanya pandai berdebat, gila yang tak hanya pandai mengeruti, tapi gila karena mau melakukan sesuatu yang berguna bagi orang banyak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-5550231257554112284?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/5550231257554112284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=5550231257554112284&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5550231257554112284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5550231257554112284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2011/04/manusia-gila.html' title='Manusia Gila'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-V5m94VO_7S0/Tb-l080yDmI/AAAAAAAAAi8/_r6Z2EEZdhY/s72-c/IMG_3526.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-7827775035679941015</id><published>2011-03-30T23:42:00.000-07:00</published><updated>2011-04-28T00:29:52.113-07:00</updated><title type='text'>Parkir oh Parkir</title><content type='html'>April Mop. Mungkin itu gambaran yang tepat buat kita yang sehari-hari berkantor dan punya kendaraan yang parkir di ITC Mangga Dua. Mulai 1 April biaya parkir naik hampir 100 %. Jika motor sebelumnya 35,000 sebulan, sekarang naik 60,000/bulan. Mobil dari 90,000 menjadi 120,000/bulan. Alasannya semua komponen mengalami kenaikan. Seingatku, memang sejak 2005 tarif parkir belum pernah naik. Tapi apa juga benar menaikkan tarif hampir 100%?  Apa juga sudah sebanding antara pelayanan dan harga yang harus ditanggung konsumen? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat benar, betapa kejamnya parkir disini. Jangan harap motor kita akan mulus sekeluar dari mall yang selalu ramai ini. Baret sana-sini adalah sebuah pemandangan sehari-hari. Lecet sudah biasa. Sebab selain memang jumlah motor yang terus meningkat, parkiran di ITC Mangga Dua, memang kurang daya dukung. Geser kanan-kiri, jika mau keluar sudah menjadi rahasia umum. Terlebih sikap petugas parkir yang sepertinya melengos ketika kita minta bantuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini, seorang kawan motornya raib di parkiran. Ketika cek ke loket keluar, tercatat motor ini belum keluar. Pertanyaannya: mengapa motornya raib? Sampai hari, kasus ini belum ada penyelesaian yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama juga, seorang kawan kaca mobilnya dipecah ketika parkir. Padahal petugas sering mondar-mandir. "Harga parkir naik, kok malah begini" gerutu kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumen adalah raja, rasanya belum berlaku disini. Saya bukan tidak mau harga parkir naik. Sepanjang itu dibarengi dengan pelayanan &amp; fasilitas yang memadai, rasanya harga naik sebuah kewajaran. Tapi jika sebaliknya, mungkin memang sudah demikianlah laku hukum pelayanan di negeri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh naik, asal parkir kita manusiawi. Asal parkirnya dibeneri. Asal petugasnya juga melayani dengan hati! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parkir oh parkir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-7827775035679941015?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/7827775035679941015/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=7827775035679941015&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7827775035679941015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7827775035679941015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2011/03/parkir-oh-parkir.html' title='Parkir oh Parkir'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5976112338450411778</id><published>2011-03-25T02:45:00.001-07:00</published><updated>2011-03-25T03:19:19.459-07:00</updated><title type='text'>Siapa mereka?</title><content type='html'>Senin. Langit sudah gelap. Matahari juga sudah sejak tadi terbenam. Wajahnya memelas. Tangan kanan menjulurkan bekas minuman fastfood ke arah pengendara yang berhenti di lampu merah. Bajunya pun lusuh, pertanda belum tersentuh air mandi. Kakinya terpasung di atas trotoar pemisah jalan. Malas bangkit. Entah sakit, entah menahan lapar.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa. Cepat sekali kakinya menuruni tangga eksalator. Tergopoh ia menggendong anak perempuannya yang terlihat beringus. Tergopoh pula ia karena menggendong bekas kardus di pundak lainnya. Beberapa detik langkahnya sudah tertelan waktu. Mungkin takut tertangkap petugas keamanaan yang rutin mengusir sambil bawa pentungan. Sorenya aku melihat dia lagi. Di dalam pagar pemisah jalan,di bawah jembatan penyebarangan mall, ia sibuk melipat kardus dan plastik yang dikumpulkan sedari siang. Deru lalu lalang kendaraan tak dihiraukan. Baginya makin cepat kardus dan plastik itu rapi, makin cepat pula ia bisa memberi makan anaknya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu. Jakarta masih sangat gelap. Tadi diujung sana, sebuah gerobak mulai bergerak. Mengais sisa sampah kota. Di dalam gerobak, tergolek istri dan anaknya pulas. Meski bercampur bekas sampah, mereka tak terganggu. Mungkin sudah biasa. Tak menjanjikannya lagi lahan pertanian di desa membuatnya angkat kaki ke kota. Ibukota adalah hamparan harapan baginya. Meski tak memiliki keahlian, tapi ibukota tetaplah tumpuan mencari makan. Gerobak ini pula menjadi rumahnya ketika malam tiba. Dengan atap rel kereta yang menjulur dari Kota hingga Manggarai, keluarga ini biasa tinggal. Bau anyir sampah sudah menjadi keseharian keluarga ini. Bau sampah adalah bau rupiah. Mungkin itu pemikirannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kamis. Lalu lintas pagi itu macet. Orang berebut segera naik bis kota menuju tempat kerja. Penuh sesak bis kota biru itu melaju. Tak berselang naik 3 orang berpakaian sederhana.Meski sesak, mereka mendesak minta tempat. Tak berselang lama, mereka bersuara. "Pak, Bu, saya bukan mau nodong, saya cuma minta keikhlasan ibu, bapak sekalian. Seribu, duaribu, tidak akan membuat bapak, ibu menjadi miskin. Asal tahu aja, saya baru aja keluar dari Cipinang". Sontak, bis sesak itu makin sumpek karena keberadan mereka.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat.Perempatan jalan. Sore itu ramai sekali. Maklum, orang mulai bergegas pulang. "Tahan, tahan. Ayo Pak, belok kiri pak, ya terus aja terus terus" ujar salah satu dari mereka. Sementara yang lain menahan mobil lain. Sambil mengacungkan ember bekas, mereka minta tinggalan recehan. Mereka biasanya berkelompok. Hasil yang didapat di ember, dibagi setelah operasi selesai. Kerja mereka terkadang membantu, tapi juga terkadang menyebabkan kemacetan makin panjang. Karena yang mereka kejar sebenarnya bukan membantu kemacetan, tapi sejumlah rupiah saja. Pak Ogah, itulah sebutannya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu. Sore itu hujan menderu. Padahal pagi-siang, panas menyengat. Cuaca memang tak pernah bisa diprediksi, bahkan oleh BKMG sekalipun. Prakiraan mereka sering kali tak tepat. Ya namanya juga prakiraan. Kadang tepat, kadang pula sebaliknya. Anak-anak berlarian basah kuyup. Padahal tangan mereka menggenggam payung. Oh, ternyata payung itu tidak mereka pakai. Tapi mereka tawarkan untuk siapa saja yang membutuhkan. Tentu, ganjarannya, beberapa lembar ribuan berpindah ke kantong mereka. Menggigil kedinginan tak mereka hiraukan. Yang penting, sang pelanggan terlayani. Makin banyak yang memakai payungnya, makin banyak pula rupiah masuk.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu. Hari ini aku belum melihat mereka-mereka lagi. Entah kemana mereka perginya. Atau aku saja yang tak cermat mengamati lagi. Aku justru melihat Pak BY di TV minta kenaikan gaji. Katanya sudah 7 tahun ini, dia gak naik gajinya. Padahal gaji Presiden itu 65 juta sebulan. Belum lagi dana taktis yang angkanya bikin bulukuduk berdiri. 2 M. Itu tentu bukan sedikit. Itu tentu jauh dari cukup. Itu tentu bisa mensejahterakan mereka-mereka yang ada di hari Senin-Sabtu. Agak lama aku termenung. Aku merasa makin gak kenal siapa sebenarnya mereka. Kepada siapa sebenarnya mereka bekerja? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar makin tak kenal siapa mereka!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-5976112338450411778?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/5976112338450411778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=5976112338450411778&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5976112338450411778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5976112338450411778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2011/03/siapa-mereka.html' title='Siapa mereka?'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1503458590696641143</id><published>2011-03-25T01:59:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T21:32:16.550-07:00</updated><title type='text'>Suparman yang Super</title><content type='html'>Peluh terlihat didahinya. Jalannya cepat dan tangkas. Tak terlihat lelah. Tak berselang lama, ia sudah didalam kelas, mengajar. Suaranya lantang, meminta murid di ujung bangku membaca buku sesuai perintahnya. Tak jarang ia sedikit membentak. Tidak kasar, tapi tegas. Dialah Suparman. Biasa dipanggil Pak Parman. Guru seni sekolah Seraphine Bakti Utama, Cengkareng, Jakarta Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya mengalami kelainan pertumbuhan sejak kecil. "Semua keluarga saya normal mas" ujarnya mulai bercerita. "Gak tahu kenapa, tapi ya sudahlah saya terima aja". "Memang awalnya sulit menerima, tapi ya lama-lama terbiasa juga". "Keluarga saya itu keluarga besar, 8 bersaudara". "Semuanya normal" tegasnya. Suparman kecil dihabiskan di Kutoarjo, pinggiran Jogja. Sekolah ia jalani selayaknya anak normal lainnya. Meski ejekan juga tak terhindarkan. "Dulu, kalau ada yang mengejek saya marah". "Tapi kalau sekarang, ya sudahlah, buat apa juga". Seni, menjadi daya tariknya. Dari situ pula, ia akhirnya mulai ikut bermain dalam berbagai pertunjukkan seni, terutama ketoprak, seni tradisional Jawa. "Dari setiap tampil, saya selalu jadi punokawan" imbuhnya. Hingga SMA, hal ini terus dilakukan sambil sesekali mengajar di SMA Seraphine di Jogja. Ketika kuliah ia bimbang. Ayah angkatnya ingin ia mandiri dengan menempuh pendidikan ekonomi. Tapi hati kecilnya ingin ke seni. Hingga semester 3 ia berhasil mengelabui keluarga, terutama ayah angkatnya. Ia mengaku kuliah ekonomi, padahal sehari-hari ia justru kuliah di Akademi Seni dan Drama. Ayah angkatnya marah besar ketika tahu. Sejak saat itu, sang ayah angkat tak mau lagi peduli dengan keseharian Suparman. Meski berusaha mandiri, Suparman, akhirnya tak kuat juga menanggung sendiri biaya hidupnya. Kehidupan pertunjukkan melalui ketroprak kembali dilakoni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari ketoprak, ia sempat mengadu keberuntungan di sebuah kafe di Cikarang. Dari menjadi komedian, hingga menjadi asisten manajer. Tapi hatinya selalu berontak. Suparman pun kembali lagi ke desanya. Sempat menganggur, Suparman akhirnya menemukan jalan. Jodoh bersambut ketika ia diminta untuk membantu SMA Seraphine Jogja membuat operet dalam menyambut Natal. Kepala sekolah puas dengan pertunjukkan itu. Suparman pun ditawari untuk menjadi guru seni di Sekolah Seraphine Bakti Utama, Cengkareng, Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bertubuh mungil, tak tampak dari murid-muridnya yang memandang ke bawah. Semua memandang ke atas. Mengikuti semua perintahnya. Pertanda hormat. "Kalau sudah mengajar seni, drama, atau teater, saya kadang merasa seperti orang normal mas", "Gak ada lagi tuh perasaan kalau tubuh saya ini kecil begini" ujarnya terbahak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui seni, Suparman ingin mendidik karakter anaknya dengan baik. Tanpa lelah ia selalu menyemangati anak didiknya. Salah satunya Selly, mantan anak muridnya yang hingga saat ini masih aktif mendampingi. Meski sudah lulus, Selly terus membantu Pak Suparman mengajar seni di sekolah. Selly sendiri merasa telat mengenal Pak Parman. "Saya sudah mau lulus, Pak Parman baru masuk" sesalnya sambil berkaca. Baginya, Pak Parman bukan sekedar guru, tapi juga teman yang baik untuk berbagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bertubuh mungil, Seuparman memiliki semangat yang super luar biasa. Kegemarannya dalam berkesenian mengantarkan murid didiknya meraih banyak prestasi. Teater, drama, dan musik menjadi ladangnya dalam menempa diri dalam berbagi. Pak Suparman yang super memberi bukti kepada kita semua bahwa segala keterbatasan tak menghalangi tercapainya beragam harapan dan impian. Selama ada niat dan tekad yang kuat, niscaya semuanya akan terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Suparman benar-benar manusia Super.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1503458590696641143?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1503458590696641143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1503458590696641143&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1503458590696641143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1503458590696641143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2011/03/suparman-yang-super.html' title='Suparman yang Super'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5894244051265235972</id><published>2011-03-25T01:56:00.001-07:00</published><updated>2011-03-25T02:34:25.361-07:00</updated><title type='text'>Treatment Bertani &amp; Belajar Kehidupan</title><content type='html'>April ini, kita mengangkat tema Hari Bumi. Diskusi panjang lebar kita lakukan untuk menentukan apa-apa saja yang akan kita angkat. Kebetulan April 211 ini, hari Kamis ada 4, itu artinya ada 4 episode tentang Hari Bumi yang harus kita persiapkan. Diskusi akhirnya menetapkan beberapa kesepakatan. Salah satunya pertanian organik. Metode pertanian organik alias PO sangat bersahabat dengan alam. PO sama sekali tidak memakai bahan kimiawi yang biasanya berpotensi merusak lingkungan. Dari alam oleh alam, itulah prinsip PO. Dan ini tentu cocok dengan Hari Bumi. Setelah riset kecil, akhirnya kami menemukan sebuah komunitas yang melakukan PO ini. Namanya Karang Widya. Lokasinya agak jauh dari Jakarta. Tepatnya di Cisarua. Karang Widya termasuk unik. Kenapa? Karena anak-anak yang dilibatkan di PO ini adalah mereka yang "bermasalah". Dari Sabang - Merauke, ada semua. Dari mantan anggota GAM, anak jalanan, pecandu alkohol, korban konflik Timor Timur. Bukankah mereka ini adalah anak-anak "bermasalah"?. Disini mereka tidak hanya diajarkan cara bertani organik, tapi juga bagaimana menempa diri untuk menjadi manusia yang lebih bernilai. "Karang Widya itu ya tempat untuk memberikan kesempatan kedua bagi anak-anak ini" ujar Johan Purnama, Direktur Karang Widya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia treatmentnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Treatment: “Bertani dan Belajar Kehidupan”&lt;br /&gt;Narasumber:  Johan Purnama (Direktur Karang Widya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opening&lt;br /&gt;Salam jumpa. Pemirsa, alam telah memberi manfaat begitu banyak bagi manusia. Namun banyak manusia yang alpa untuk membalasnya. Salah satu cara berterima kasih kepada alam adalah melalui metode pertanian organik. Bagaimana cerita selengkapnya? Sebelum berbincang dengan narasumber saya hari ini, mari kita simak tayangan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VT1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa, saat ini saya sudah bersama DirekturYayasan Karang Widya, Bapak Johan Purnama yang melakukan pendampingan terhadap budidaya pertanian organik. Terima kasih atas waktunya ya Pak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan:&lt;br /&gt;1. Pak Johan, pertanian organik meletakkan prinsip ekologi sebagai dasarnya yakni sebagai sistem ekologi kehidupan? Bisa dijelaskan lebih lanjut?&lt;br /&gt;2. Apa urgensinya pertanian organik ini ditengah beragam masalah lingkungan Pak? &lt;br /&gt;3. Apa benar bahwa pertanian organik ini adalah satu-satunya cara bertani yang ramah terhadap alam? (cerita tentang biaya produksi yang rendah dan juga tidak merusak lingkungan)&lt;br /&gt;4. Apakah ini menjadi keuntungan terbesar dari sistem pertanian organik kaitannya dengan kondisi bumi sekarang ini?&lt;br /&gt;5. Pak Johan, di Karang Widya kemudian juga memilih untuk melakukan budidaya pertanian organik ya? Apakah ada alasan tersendiri dengan pilihan pertanian organik ini? (cerita tentang respecting the future of humanity depends on us respecting nature. Organic farming is about respecting and working with nature, not against it).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumper 5”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Saya dengar sasaran program ini adalah anak jalanan dan pengangguran. Apakah benar demikian? &lt;br /&gt;7. Bagaimana proses anak-anak ini bisa ke Karang Widya? Apakah mencari sendiri ke pelosok-pelosok?&lt;br /&gt;8. Apakah ada persyaratan khusus dalam program di Karang Widya? &lt;br /&gt;9. Pak Johan, saat ini berapa banyak yang bergabung Pak? Dan darimana saja mereka berasal?&lt;br /&gt;10. Apa yang ingin dituju sebenarnya dalam program ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jeda&lt;br /&gt;Baik Pak Johan, menarik perbincangan kita ya. Tapi kita juga ingin tahu aktivitas sesungguhnya dalam komunitas Karang Widya. Bagaimana selengkapnya, mari kita simak liputan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VT2&lt;br /&gt;Aktivitas di Karang Widya, bertani di ladang, belajar, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Pak Johan, pendidikan yang diterapkan disini ternyata tidak hanya bertani, namun juga lebih kepada terapi jiwa ya? Apa maksudnya? (Di sini mereka diajar disiplin, bekerja, dan dilatih untuk memiliki kesadaran alam. Kehidupan di jalanan bisa membuat mereka tidak sensitif lagi dengan alam. Mereka di sini dituntut mengembangkan kepekaan. Air dan tanah bisa menjadi terapi jiwa, bisa menyejukkan pikiran yang panas).&lt;br /&gt;12. Apakah karena itu pertanian organik sengaja dipilih sebagai media untuk pendidikan karena pertanian organik membutuhkan ketekunan dan kecintaan terhadap tanah dan tanaman?&lt;br /&gt;13. Pak Johan, yang bergabung disini kan lumayan banyak ya? Dan saya dengar dalam mengolah lahan pertanian organik mereka dibagi beberapa kelompok? Bisa cerita tentang hal ini lebih lanjut Pak? &lt;br /&gt;14. Dan mengapa harus dikerjakan secara berkelompok seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumper 5” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Pak Johan, pertanian organik ini kan bertumpu bahan dari alam. Termasuk dalam mengusir hama, dll. Apakah disini juga melakukan hal itu? &lt;br /&gt;16. Bagaimana proses secara keseluruhan sistem pertanian organik disini? (cerita tentang pemanfaatan pupuk kandang, air seni kambing, air cuci beras, dll yang semuanya dilakukan sendiri oleh anak-anak di Karang Widya). &lt;br /&gt;17. Bagaimana pula dengan pembuatan perencanaan tanam hingga pemasaran? Apakah mereka juga diajarkan Pak?&lt;br /&gt;18. Selain berbagai hal tentang pertanian organik, apalagi yang diajarkan di komunitas ini? &lt;br /&gt;19. Apakah setelah selesai pendidikan disini mereka harus juga menjadi petani organik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeda&lt;br /&gt;Baik Pak Johan, kita jeda lagi ya. Pemirsa, bagaimana tanggapan anak-anak yang terlibat dalam program pertanian organik di Karang Widya ini? Mari simak tayangan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VT3&lt;br /&gt;Vox pop anak-anak Karang Widya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Pak Johan, banyak anak-anak yang mendapatkan begitu banyak manfaat dari pendidikan disini ya. Bagaimana pendapat Pak Johan sendiri?&lt;br /&gt;21. Pak, tentu sudah banyak alumni dari pendidikan di Karang Widya ini  dan sudah banyak pula yang meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Tapi apa sesungguhnya yang menjadi tolor ukur keberhasilan pendidikan di Karang Widya secara keseluruhan Pak? &lt;br /&gt;22. Pak Johan, apalagi yang akan dikembangkan untuk masa yang akan datang di Karang Widya ini?&lt;br /&gt;23. Terkait dengan hari bumi, apa harapan Pak Johan hubungannya pertanian organik ini dengan kondisi bumi kita? (Pertanian organik membangun tanggung jawab pelakunya pada kelestarian lingkungan. Keberhasilan sistem pertanian organik akan memberikan sumbangan berarti bagi kelestarian lingkungan dan keselamatan dunia pada umumnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Closing&lt;br /&gt;Pemirsa, tidak hanya mengajarkan kepada anak-anak mengolah tanah dan tanaman, tetapi komunitas ini juga membantu mengolah tubuh dan jiwa mereka untuk menyongsong kehidupan di masa depan yang lebih baik. Sampai jumpa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-5894244051265235972?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/5894244051265235972/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=5894244051265235972&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5894244051265235972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5894244051265235972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2011/03/treatment-bertani-belajar-kehidupan.html' title='Treatment Bertani &amp; Belajar Kehidupan'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6345283572832426862</id><published>2011-02-25T00:22:00.000-08:00</published><updated>2011-02-25T08:13:17.161-08:00</updated><title type='text'>Srikandi dari Lasem</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-K6J4IenlRmE/TWfUokB2imI/AAAAAAAAAis/tEKQEJ_SR0g/s1600/164765_10150118367322498_575077497_7642952_137521_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-K6J4IenlRmE/TWfUokB2imI/AAAAAAAAAis/tEKQEJ_SR0g/s400/164765_10150118367322498_575077497_7642952_137521_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5577660456852949602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place" downloadurl="http://www.5iantlavalamp.com/"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City" downloadurl="http://www.5iamas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Rambutnya mulai memutih. Tanda ketuaannya juga dipertegas guratan wajah. Tapi semuanya tak menghalangi langkah sandal jepit usangnya memeriksa pekerjaan ibu-ibu yang memiliki usia diatasnya. Sesekali dia berhenti. Membetulkan jika ada yang keliru, tanpa harus menggurui. “&lt;i style=""&gt;Sing niki warnane dibeneri njeh Bu&lt;/i&gt;” katanya kepada Ibu tua di sebelah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Itulah Ramini. Bu Ram, biasa dia disapa. Tidak lulus SD. Namun setiap hari memimpin sebuah kelompok usaha bersama pembatik yang diberi nama KUB Srikandi Jeruk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Bengkel batik yang dibuatnya pun terbilang sederhana. Tepat di depan rumahnya, dia sulap sebidang lahan kosong menjadi &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tempatnya berkarya. Dibantu Maryati, yang jago membuat motif, KUB ini menghidupi 12 orang pengrajin. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Desa Jeruk, tak jauh dari Rembang, sebuah &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; kecil di Pantura. Tanahnya kurang subur. Sawah pun hanya tadah hujan. Mayoritas penduduknya, terutama perempuan, memiliki keahlian membatik. Apalagi dulu ketika Batik Lasem sedang berjaya. Menjadi sopir adalah pekerjaan yang paling diidamkan bagi kaum laki-laki desa Jeruk. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua kaum perempuannya dulu adalah pembatik. Mereka biasanya bekerja di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Lasem. Biasa harus ditempuh 30 menit dengan sepeda setiap hari. Pengusaha batik Lasem kebanyakan orang keturunan Tionghoa. Namun, seiring hancurnya ekonomi nasional karena krisis ekonomi, hancur pula penghidupan perempuan desa Jeruk. Menganggur adalah pilihan yang paling sulit. Namun tak ada jalan lain. Termasuk Ramini. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Selama 4 tahun lebih ia berjuang mengatasi pengangguran yang dialaminya. Mau menghidupkan batik kembali terbentuk permodalan. Sementara hanya membatiklah satu-satunya keahlian yang dimiliki. Hingga datang tawaran dari Institut Pluralism Indonesia (IPI). “Tak mudah meyakinkan Ibu Ramini” beber William Kwan, direktur IPI. “Butuh waktu 4 bulan, saya meyakinkan”. “Padahal menemukan Ibu Ramini juga bukan perkara mudah, eh begitu sudah ketemu, belum mau juga” lanjutnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Setelah berpikir panjang, Ramini akhirnya menerima tawaran Pak Willy, begitu ia biasa menyebut William Kwan. Ia kumpulkan kembali teman-temannya. “Ini semua dari nol Mas” cerita Ramini. Meski sudah memiliki dasar membatik, namun IPI mengirim mereka ke sentra pembatikan seperti Pekalongan, Solo dan Jogja. Mereka tidak hanya diminta untuk belajar membatik, tetapi juga manajemen. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kelompok usaha bersama mereka pilih atas keinginan mereka sendiri. Mereka sadar betapa sulitnya jika bergantung dengan pengusaha. Pengalaman krisis moneter yang mengakibatkan mereka menganggur menjadi pelajaran berharga. Karena berbentuk KUB, segala keputusan dirundingkan bersama. Mulai dari membeli bahan, motif, hingga harga jual. Mereka sendirilah yang memutuskan, mau dihargai berapa buah karya mereka. Mereka sendiri pula yang mencari target pemasaran. Prinsipnya semua dilakukan atas nama kebersamaan. Mereka pula yang menentukan upah mereka setiap hari, yakni 18,000. Lebih murah sedikit yang dulu mereka terima ketika masih menjadi buruh, yakni 20,000. Meski lebih sedikit lebih murah, namun melalui KUB mereka tidak lagi harus jauh menggenjot sepeda setiap hari. Sebab lokasi bengkel batik dengan rumah mereka terbilang dekat. Belum lagi, ketergantungan pengusaha tak lagi mereka rasakan. Sebab merekalah pengusaha atas diri mereka sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Ramini dkk di KUB Srikandi Jeruk ini menepis anggapan bahwa buruh batik selamanya akan menjadi buruh. Padahal selama diberi kesempatan, mereka bisa menjadi lebih sejahtera. Mereka pula bisa menjadi srikandi bagi diri mereka sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6345283572832426862?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6345283572832426862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6345283572832426862&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6345283572832426862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6345283572832426862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2011/02/srikandi-dari-lasem.html' title='Srikandi dari Lasem'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-K6J4IenlRmE/TWfUokB2imI/AAAAAAAAAis/tEKQEJ_SR0g/s72-c/164765_10150118367322498_575077497_7642952_137521_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-487115197454864886</id><published>2010-07-27T04:03:00.000-07:00</published><updated>2010-07-27T04:04:00.095-07:00</updated><title type='text'>Kuda Tuli</title><content type='html'>Aku tak ingat persis hari apa itu. Suasana Jakarta tidak terlalu panas. Apalagi di kawasan Menteng masih banyak pohon. Agak enak untuk sekedar berjalan. Selepas ada keperluan di vihara di Menteng, bersama kawan kami lanjutkan perjalanan. Lalu lintas tampak normal. Tak ada yang istimewa. Jl. Imam Bonjol juga agak lengang. Tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dum... suasana tenang itu mendadak berubah. Panas. Bukan karena matahari datang, tapi panas karena kegaduhan orang. Seketika kami menyingkir mencari perlindungan. Tepatnya kami berlari menghindari massa yang terus datang entah dari mana. Makin lama makin banyak. Makin lama makin beringas saja mereka. Entah berapa jumlah mereka. Kami sudah tidak peduli. Yang penting cuma satu, menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah berjuang kami akhirnya bisa sampai juga di asrama. Radio Sonora segera kami putar besar-besar. Waktu itu seingatku TV berita belum ada. Jadi radio menjadi andalan lewat live reportnya yang gak putus-putus. Waktu itu sama sekali aku tak mengerti apa itu politik. Buta. Lamat-lamat, terdengar suara bentrokan dari radio usang kami. Agak sorean kami lihat di tv swasta, Jl. Imam Bonjol yang baru siang tadi kami lewati sudah membara. Api membumbung tinggi. Duh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh hari setelah itu, aku baru ngerti, itu adalah bagian dari mulainya pergolakan politik nasional kita. Megawati yang menang telak di kongres PDI tidak diakui pemerintah. Sementara Soeharto sudah punya PDI tandingan. Dan dia ingin PDI Soeharto inilah yang menempati gedung yang sekarang tak terurus itu. Banyak yang bilang kalau itu memang permainan Soeharto untuk mengangkangi kekuasaannya. Maklum saja, kala itu dukungan terhadap Mega jauh lebih besar. Jatuh korban tak terhitung. Tapi data valid belum juga didapat kepastiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sudah belasan tahun berlalu. Hingga sekarang, entah sudah berapa orang hilang tak berbekas. Negara tak lagi peduli. Negara tepatnya mengambil sikap membiarkan. Pembiaran. Ya itu mungkin kata yang paling tepat. Biarkan berlalu seiring waktu. Setelah itu banyak orang hilang tak berbekas. Sampai sekarang pun, negara tak peduli. Negara anggap semuanya angin lalu. Negara anggap mereka adalah korban sebuah perjalanan demokrasi yang memang tak perlu lagi diurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana nasibmu kawan yang hilang? Yang sekarang entah dimana? Semoga arwah mereka tenang di alam sana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-487115197454864886?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/487115197454864886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=487115197454864886&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/487115197454864886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/487115197454864886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2010/07/kuda-tuli.html' title='Kuda Tuli'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-7645025386403238192</id><published>2010-07-13T04:40:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T05:10:14.306-07:00</updated><title type='text'>Perubahan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hukum alam mengatakan bahwa tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Ada benarnya. Dari awal kita lahir, tumbuh, berkembang, hingga mungkin sekarang banyak yang sudah dewasa, banyak yang tak menyadari perubahan itu. Tidak perlu dibandingkan kita yang masih kecil dengan yang sudah dewasa. Coba lihat saja pas photo kita satu-dua tahun lalu dengan yang sekarang. Pasti sudah banyak perbedaan, meski terkadang kita tidak menyadari perubahan itu sendiri. Entah gaya rambut, entah bentuk badan, entah pula model baju yang kita pakai. Coba telisik barang sejenak jika tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan memang tidak bisa dihindari. Entah kita suka atau tidak, perubahan itu akan menghampiri. Keriput, misalnya. Ibu saya, mungkin sekarang usianya nyaris 70an, keriputnya jelas dimana-mana. Terkadang agak canggung saya mencuri pandang ke wajah tuanya. Tak tega rasanya melihat. Terlebih ketika terbayang akan masih berapa lagi usia ibu saya? Tak tahu. Meski takut, siap atau tidak siap, jika memang sudah waktunya perubahan itu datang, saya harus siap. Setiap pulang meski hanya beberapa saat, tak berani rasanya saya melihat utuh wajah ibu saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari kita selalu ditemani yang namanya sang perubahan ini. Perubahan bagi sebagian orang dipandang sebagai sesuatu yang harus dihindari. Yang harus ditakuti. Tapi bagi sebagian lagi yang lain, perubahan ada kesempatan. Kesempatan untuk bertindak, kesempatan untuk mencipta peluang. Dan peluang itu justru mendatangkan berbagai kesempatan. Bahkan seorang Prof. Rhenald Kasali mendirikan sebuah kawasan yang dinamai Rumah Perubahan. Diambil dari www.rumahperubahan.com, RP, sebutan untuk Rumah Perubahan, didirikan untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik melalui misi perubahan, baik pada level individu, komunitas, organisasi usaha sosial, dan pemerintah. Di RP, selain menjadi inkubator bagi pengembangan diri, juga ada pusat pengolahan sampah, yang tentu mendatangkan berkah. Tak hanya bagi RP, tapi juga bagi warga sekitar. Selain persoalan sampah selesai, fulus ekonomi dari pengolahan sampah ini bisa menjadi income tersendiri yang tidak bisa dipandang sepele. Selain itu, ada pula beragam pemberdayaan. Seperti pendampingan pemberdayaan ikan, PAUD, posyandu, usaha kreatif, dll. Semuanya demi satu tujuan, perubahan hidup yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan. Ya ya, kita semua mengalami perubahan. Usia tua, sakit, uban di kepala, itu salah satu pertanda saja. Padahal setiap saat, setiap detik, kita mengalami perubahan.  Di rumah, di sekolah, di kantor, semuanya berubah seiring waktu.  Orang tua meninggal, guru yang harus berpindah tugas, teman yang harus berpindah kantor, kawan yang entah berbagai sebab memang harus berpisah, semuanya itu menunjukkan ada perubahan. Pertanyaannya apakah kita sudah menyiapkan diri untuk menghadapinya? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-7645025386403238192?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/7645025386403238192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=7645025386403238192&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7645025386403238192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7645025386403238192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2010/07/perubahan.html' title='Perubahan'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1022635939637901909</id><published>2010-07-13T04:22:00.000-07:00</published><updated>2010-07-13T04:39:50.505-07:00</updated><title type='text'>Sangkar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kawan, entah sadar atau tidak sebenarnya kita semua hidup dalam sangkar. Keturunan, jabatan, posisi, apalagi kekuasaaan semuanya serta merta memenjarakan kita dalam sangkar itu. Dengan sangkar itu, menentukan dengan siapa kita harus bergaul, dengan siapa kita harus berbicara, dan juga dengan siapa kita harus berbaik hati, bahkan jika perlu menjilat? Semua demi satu alasan: kenyamanan dalam sangkar itu. &lt;/span&gt;Segala tindak tanduk kita juga menentukan dimana sebenarnya sangkar kita berada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Selama ini mungkin sangkar hanya dimaknai sebatas tempat pelihara burung saja. Semakin burung mahal, semakin mahal pula sangkarnya. Bahkan kadang, sangkar lebih mahal daripada isinya. Harganya bisa dalam kisaran ratusan bahkan jutaan. Siapa yang pelihara dan punya sangkar juga menentukan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Hidup kita memang terjebak dalam sangkar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1022635939637901909?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1022635939637901909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1022635939637901909&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1022635939637901909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1022635939637901909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2010/07/sangkar.html' title='Sangkar'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6819742273840065521</id><published>2010-03-09T00:30:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T00:53:17.342-08:00</updated><title type='text'>Tikus dalam Kopi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sore menjelang malam kemarin, langit Jakarta tak terlalu bersahabat. Entah mungkin karena sudah musimnya, atau yang lain, sebagian besar wilayah Jakarta kemarin tertumpah air dari langit. Padahal di parkir motor dekat kantor hanya mendung saja, tapi begitu sampai di Juanda, aspal basah ada dimana-mana. Ini pasti pertanda barusan air langit tertumpah. Tapi masih mendingan daripada hujan. Meski mengotori kuda besi hitamku, tapi tak apalah daripada hujan beneran. Hujan bagi penunggang kuda besi adalah waktu dimana segala kerepotan menghampiri. Mulai dari jas pelindung, sungai di jalan karena drainase kota tak pernah diurus dengan serius, hingga ancaman kecelakaan mengintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore menjelang malam kemarin, karena suatu keperluan kuda besiku harus diarahkan ke daerah Cikini. Sisa-sisa bentrok massa HMI dan polisi satu hari sebelumnya tak terlihat. Mungkin sudah dibersihkan. Suasana agak lengang meski tak terlalu sepi juga. Agak cepat ternyata aku mendahului sampai. Harus menunggu beberapa saat. Akhirnya setelah bertemu dan disepakati kami masuk ke sebuah warung kopi. Begitu masuk, aroma kopi menyambut kami. Seorang penjaga memakai baju putih tersenyum. "Mau yang di luar apa di dalam? Mau yang smoking area atau tidak?" tanyanya ramah. Akhirnya meja bulat dan dua bangku kami pilih tak jauh dari pintu masuk. Obrolan sana-sini akhirnya menemani kami. Segelas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ice cappucino&lt;/span&gt; besar juga tak lama datang setelah tertunda beberapa menit. Segala keperluan yang memang harus kami diskusikan tak terasa sudah hampir dua jam. Lamat-lamat, kopi di gelas tinggal beberapa teguk. Sementara kawan di depan, entah sudah berapa batang rokok tersulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba waktu undur diri. Obrolan masih saja keluar dari mulut seorang kawan dibarengi semburan asapnya. Sesekali ku lihat caranya berbicara. Namun, kali ini sesuatu berjalan di seberang sana melintasi bongkahan batu bata yang tersusun rapi. Sembari terus terdengar celotehan kawanku, ku  perhatikan yang melintas. Ternyata yang melintas itu adalah tikus. Ukurannya tak besar, seperti yang biasa aku lihat di got dekat gang kostku dulu. Seketika rasanya ingin berteriak. Tapi di jajaran meja agak ramai orang bersosialita. Rasanya tak tepat jika mengganggu keasyikan mereka bercengkerama. "Warung kopi mahal &amp;amp; terkenal seperti ini kok ada tikusnya" batinku. Samar terdengar ocehan kawanku diseberang. Sudah ingin rasanya mencabut pantat ini dari kursi.  Hilang sudah keinginan menyeruput kopi terakhirku. Ku lihat gelas kawanku sudah tandas sedari tadi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6819742273840065521?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6819742273840065521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6819742273840065521&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6819742273840065521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6819742273840065521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2010/03/tikus-dalam-kopi.html' title='Tikus dalam Kopi'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6254493325151955298</id><published>2010-01-24T23:34:00.001-08:00</published><updated>2010-01-24T23:36:25.212-08:00</updated><title type='text'>Stay Forward</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/S11J4RTgTAI/AAAAAAAAAiU/Qyqm9HD0ZZw/s1600-h/genjot+sepeda.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/S11J4RTgTAI/AAAAAAAAAiU/Qyqm9HD0ZZw/s400/genjot+sepeda.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430577956745399298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6254493325151955298?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6254493325151955298/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6254493325151955298&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6254493325151955298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6254493325151955298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2010/01/stay-forward.html' title='Stay Forward'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/S11J4RTgTAI/AAAAAAAAAiU/Qyqm9HD0ZZw/s72-c/genjot+sepeda.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5867165591963054883</id><published>2010-01-24T23:01:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T23:27:16.956-08:00</updated><title type='text'>Menulislah saja</title><content type='html'>Udah lama banget gak nulis di blog nih. Semenjak facebook alias FB muncul, rasanya tak sempat lagi nulis. Semua sejenak terhenti. Terganti oleh konfirmasi pertemanan. Entah karena mau praktis aja, atau emang gak niat nulis. Padahal banyak banget bahan yang bisa dijadikan tulisan. Fenomena seharian yang terjadi pasti menarik untuk ditulis. Dari persoalan air mati di rumah sampai kasus Century yang cuma disuguhi dagelan politis-selebritas, pasti menarik. &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;FB emang udah jadi trendsetter tersendiri. Hampir semua orang kini memilikinya. "Hari gini gak punya fb?". Seorang blogger mengatakan per 2009 aja, udah 15.000 orang Indonesia yang memiliki fb. Setidaknya angka ini akan terus menanjak. FB memang memungkinkan kita bisa bersua dengan kawan-kawan kita, yang mungkin udah lama gak ada diotak kita. Dari teman biasa, teman sekolah, mantan pacar, bahkan mungkin mantan selingkuhan. He....:) Kita pasti terpingkal ketika teman SMA atau SMP kita yang mempostingkan foto kelas kita. Betapa lucunya tampang2 kita ketika itu. Karena FB pula, saya bisa ketemu dengan kawan baik waktu SMA. Dia orang Kalimantan. Ternyata rumahnya masih ditempat yang sama ketika ia SMA. Dari situ kita bisa saling bertukar informasi, juga yang lain. Syukur2 dari situ bisa peluang bisnis baru. Ini pasti gak menutup kemungkinan. Dunia penuh kemungkinan" kata seorang kawan. Melalui FB kita bisa memonitor kawan kita sedang melakukan apa ketika kita melihat update statusnya. Walau tak semua status itu adalah asli dengan apa yang sedang dikerjakan atau dipikirkan. FB pula, mengingatkan kita, siapa saja yang hari ini berulang tahun. Ckkkk...Kita gak usah kirim sms ucapin selamat ulang tahun, tapi cukup posting aja di wall yang bersangkutan. Jelas, ini jauh lebih murah. Ckkkk......Dunia makin maju aja. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sementara blog? Ini sama saja dengan diary. Buku harian digital kita. Apa yang kita pikirkan, bisa dengan leluasa kita posting. Berbagai curahan kekesalan, kekecewaan, hingga apresiasi tumplek blek disini. Tak ada yang bisa menghalangi. Hanya saja kalau diary biasa kita bisa taruh kunci, kalau yang satu ini, ya kuncinya kita sendiri. He... Salah-salah kasus Prita bisa menghampiri kita. Meski akhirnya menang, tapi kasus Prita ini juga bukti bahwa negara belum memiliki aturan yang tegas soal yang satu ini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Blog juga bisa digunakan sebagai sarana belajar. Yup. Belajar menulis. Kita bisa belajar merangkai kata demi kata hingga akhirnya bisa menelurkan berbagai ide kreatif tulisan yang menarik, sehingga kita selain bisa menumbuhkan daya kritis, juga bisa menyampaikan pesan kepada siapapun yang mau membacanya. Menulis buat sebagian besar orang sangat sulit. Tapi jika ingin belajar menulis tidak ada cara lain selain mulai menulis itu sendiri. Mau menulis apa? Ya teserah....&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-5867165591963054883?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/5867165591963054883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=5867165591963054883&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5867165591963054883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5867165591963054883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2010/01/menulislah-saja.html' title='Menulislah saja'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-3739874287846754213</id><published>2009-10-22T02:50:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T03:24:19.302-07:00</updated><title type='text'>Pesen untuk Pak Beye</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Baru saja Pak Beye mengumumkan pembantunya. Sudah bisa ditebak jauh-jauh hari, hampir 60% lebih, pembantu Pak Beye diisi orang-orang yang ada dibelakang dia selama ini. Partai pendukung ketika pemilu lalu dapat porsi jatah. Partai Demokrat otomatis dapat jatah paling banyak, 6 menteri, PKS dikasih 4, PAN 3, PPP dan PKB cuma dikasih dua. Sementara partai oportunis, Golkar,  karena tidak ikut berkeringat diberi 3 menteri. Jadi total kursi menteri 20 dari partai. Golkar jadi pendukung di detik terakhir, setelah kalah telak waktu pemilu pilpres kemarin. Memang tidak ada yang abadi di politik. Sekarang lawan, besok sudah jadi kawan, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengumuman pembantunya ini, Pak Beye banyak menuai kritik. Plin plan soal penentuan menteri kesehatan yang sekarang jadi headline media massa kita salah satu contohnya. Siapa yang di fit &amp;amp; propertest, kok ternyata yang dipilih lain. Belum lagi kentalnya unsur "koncoisme" seperti yang dikatakan pengamat politik, Sukardi Rinakit, memberi bukti bahwa memang Pak Beye ditahun keduanya ini mau jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;safety player.&lt;/span&gt; DPR yang 75 % dikuasai partai pendukung jelas menjadi bukti. Kali ini benar-benar tidak ada satupun partai yang mengambil jarak kepada Pak Beye. Pak Beye sekarang tak beda dengan raja diraja, jaman kerajaan dulu. Titahnya menjadi hukum karena tak ada yang berani menyela. Jika sekarang banyak kaum oportunis yang merapat ke Cikeas, semata-mata ingin turut menikmati manisnya kemenangan Pak Beye.  Ibarat kata, Pak Beye sekarang seperti kue manis yang dikerubuti banyak semut. Mana ada sih semut yang gak doyan manisan? Tapi ya memang, ujung-ujungnya itu semua hak prerogratif Pak Beye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logikanya jika DPR sudah dikuasai, partai pendukung sudah diberi kursi, harusnya tak ada lagi nada-nada protes dari luar istana. Teori trias politica, yang mesti ada keseimbangan dalam pemerintahan tak terpakai di era Pak Beye sekarang. Tak ada pula check and balancing. Semua menjadi sentralistik, terpusat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lantas, jika sudah begini, apa yang bisa diharap dari pemerintahan Pak Beye kini?&lt;/span&gt; Tapi, biar bagaimana pun, kita harus kasih kesempatan Pak Beye membuktikan janji-janjinya. Jika memang melanggar, ya mari ramai-ramai kita kasih sanksi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-3739874287846754213?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/3739874287846754213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=3739874287846754213&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3739874287846754213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3739874287846754213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/10/pesen-untuk-pak-beye.html' title='Pesen untuk Pak Beye'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-494340584074672518</id><published>2009-10-05T02:19:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T02:20:03.585-07:00</updated><title type='text'>Sebatang Lisong</title><content type='html'>&lt;p&gt;Menghisap sebatang lisong&lt;br /&gt;melihat Indonesia Raya,&lt;br /&gt;mendengar 130 juta rakyat,&lt;br /&gt;dan di langit&lt;br /&gt;dua tiga cukong mengangkang,&lt;br /&gt;berak di atas kepala mereka&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Matahari terbit&lt;br /&gt;Fajar tiba&lt;br /&gt;Dan aku melihat depalan juta kanak-kanak&lt;br /&gt;tanpa pendidikan&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku bertanya,&lt;br /&gt;tetapi pertanyaan-pertanyaanku&lt;br /&gt;membentur meja kekuasaan yang macet&lt;br /&gt;dan papantulis-papantulis para pendidik&lt;br /&gt;yang terlepas dari persoalan kehidupan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Delapan juta kanak-kanak&lt;br /&gt;menghadapi satu jalan panjang&lt;br /&gt;tanpa pilihan,&lt;br /&gt;tanpa pepohonan,&lt;br /&gt;tanpa dangau persinggahan,&lt;br /&gt;tanpa ada bayangan ujungnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;…………&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menghisap udara&lt;br /&gt;yang disemprot deodorant,&lt;br /&gt;aku melihat sarjana-sarjana menganggur&lt;br /&gt;berpeluh di jalan raya,&lt;br /&gt;aku meliat wanita bunting&lt;br /&gt;antri uang pensiun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan di langit,&lt;br /&gt;para teknokrat berkata:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;bahwa bangsa kita adalah malas,&lt;br /&gt;bahwa bangsa mesti dibangun,&lt;br /&gt;mesti di-&lt;em&gt;up-grade&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;disesuaikan dengan teknologi yang diimpor&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Gunung-gunung menjulang&lt;br /&gt;Langit pesta warna di dalam senjakala&lt;br /&gt;Dan aku melihat&lt;br /&gt;protes-protes yang terpendam,&lt;br /&gt;terhimpit di bawah tilam.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Aku bertanya,&lt;br /&gt;tetapi pertanyaanku&lt;br /&gt;membentur jidat penyair-penyair salon,&lt;br /&gt;yang bersajak tentang anggur dan rembulan,&lt;br /&gt;sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya&lt;br /&gt;dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan&lt;br /&gt;termangu di kaki dewi kesenian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bunga-bungan bangsa tahun depan&lt;br /&gt;berkunang-kunang pandang matanya,&lt;br /&gt;di bawah iklan berlampu neon,&lt;br /&gt;Berjuta-juta harapan ibu dan bapak&lt;br /&gt;menjadli gemalau suara yang kacau,&lt;br /&gt;menjadi karang di bawah muka samodra.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;……………….&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.&lt;br /&gt;Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,&lt;br /&gt;tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.&lt;br /&gt;Kita mesti keluar ke jalan raya,&lt;br /&gt;keluar ke desa-desa,&lt;br /&gt;mencatat sendiri semua gejala,&lt;br /&gt;dan menghayati persoalan yang nyata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Inilah sajakku&lt;br /&gt;Pamplet masa darurat.&lt;br /&gt;Apakah artinya kesenian,&lt;br /&gt;bila terpisah dari derita lingkungan.&lt;br /&gt;Apakah artinya berpikir,&lt;br /&gt;bila terpisah dari masalah kehidupan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;19 Agustus 1977,  ITB Bandung&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;WS. Rendra in memoriam… &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selamat Jalan pujangga,&lt;br /&gt;Selamat terbang "Burung Merak"...&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-494340584074672518?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/494340584074672518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=494340584074672518&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/494340584074672518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/494340584074672518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/10/sebatang-lisong.html' title='Sebatang Lisong'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-4758831191951038907</id><published>2009-09-07T03:12:00.000-07:00</published><updated>2009-09-07T03:13:10.957-07:00</updated><title type='text'>Introducing Palace Players</title><content type='html'>All that I say we do?&lt;br /&gt;What is it that you do?&lt;br /&gt;You gotta get back up yourself.&lt;br /&gt;We know so much.&lt;br /&gt;So much we do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No answer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a word,&lt;br /&gt;You were told&lt;br /&gt;That he'd fix your shaky hand.&lt;br /&gt;And what got made&lt;br /&gt;Was broken, too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just to field with you&lt;br /&gt;Switching seeds with you,&lt;br /&gt;Tears us apart&lt;br /&gt;I don't want it to.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some peculiar fix,&lt;br /&gt;The two of us.&lt;br /&gt;I am not yourself.&lt;br /&gt;I didn't want it to.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every night turned on grey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What is it, that you do?&lt;br /&gt;You gotta get back up yourself.&lt;br /&gt;We know so much,&lt;br /&gt;So much we do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No answer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a word&lt;br /&gt;You were told,&lt;br /&gt;That he'd fix your shaky hand.&lt;br /&gt;And what got made&lt;br /&gt;Was broken, too.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just to field with you,&lt;br /&gt;Switching seeds with you&lt;br /&gt;Tears us apart.&lt;br /&gt;I didn't want it to.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some peculiar fix,&lt;br /&gt;The two of us.&lt;br /&gt;I am not yourself.&lt;br /&gt;I didn't want it to.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just to grieve with you,&lt;br /&gt;Switching seeds with you&lt;br /&gt;Tears us apart.&lt;br /&gt;I don't want it to.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What are we going to do?&lt;br /&gt;I'd really like it if you&lt;br /&gt;Turn out the lights as we planned.&lt;br /&gt;It's gonna hurt,&lt;br /&gt;I don't want it to.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But if you go,&lt;br /&gt;Lots of different reasons,&lt;br /&gt;Does that mean you can't even come?&lt;br /&gt;You think this way,&lt;br /&gt;Jumping off the see-saw,&lt;br /&gt;Company just wanting to be...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But if you go,&lt;br /&gt;Lots of different reasons,&lt;br /&gt;Does that mean you can't even come?&lt;br /&gt;You think this way,&lt;br /&gt;Jumping off the see-saw,&lt;br /&gt;Company just wanting to be...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-4758831191951038907?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/4758831191951038907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=4758831191951038907&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4758831191951038907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4758831191951038907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/09/introducing-palace-players.html' title='Introducing Palace Players'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1275763888760283705</id><published>2009-06-11T03:31:00.000-07:00</published><updated>2010-01-24T23:33:51.737-08:00</updated><title type='text'>Musisi Mencari Status</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/S11IxYV0p5I/AAAAAAAAAiM/z9AA9RRAxy4/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 89px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/S11IxYV0p5I/AAAAAAAAAiM/z9AA9RRAxy4/s320/images.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430576738863458194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Trebuchet MS&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;"&gt;Riuh rendah band menyeruak. Gambarnya bergerak tanpa arah. Jungkir balik sesuai hentakan musik. Panggung sempit itu terasa jebol. Sementara penonton di bawah teriak histeris mengikuti alunan yang pecah. Itulah secuplik penggalan &lt;i&gt;performance&lt;/i&gt; dari band Indie, Tani Maju. Namanya indie, jadi nama bandnya memang harus lucu biar mudah diingat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Trebuchet MS&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Keinginan menjadi selebritis membuat Leo, yang kuliah di Universitas Negeri Malang yang notabene akan menjadi guru kelak, menggeluti dunia musik. Musik segalanya buat dia. Tak ada hari tanpa bermain musik. Dandanan dan pola hidup pun layaknya anak band yang sedang digandrungi. Rokok, baju, dan segudang polah meniru tak kalah dari selebritis yang saban hari mondar-mandir di kotak ajaib bernama televisi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Trebuchet MS&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Film dokumenter tak sampai setengah jam ini bercerita bagaimana pilihan profesi musisi masih disepelekan orang tua. Orang tua Leo jelas tidak setuju dengan pilihan anaknya. Ayah Leo, seorang petani di Lamongan menginginkan anaknya menjadi seorang guru. Dengan menjadi guru, derajat keluarga dan orang tua menjadi terangkat. Demikian sang ayah beralasan. Profesi &lt;span class="highlightedsearchterm"&gt;musisi&lt;/span&gt; masih dinilai orang sebagai pilihan yang tidak mapan. Karena hanya terpaku pada sisi kekurangannya saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Trebuchet MS&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Leo beserta teman-temannya ingin membuktikan bahwa profesi apapun asal dilakoni dengan baik akan mendatangkan rejeki. Namun harapan akan perubahan status sosial keluarga juga tak bisa mereka pungkiri. Setengah sembunyi mereka terus menggelar latihan dan mengamen dari panggung hajatan. Siapapun yang mau menanggap mereka, Leo dkk serentak menyambar. Semua semata demi keberlangsungan hidup juga idealisme dalam bermusik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Trebuchet MS&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Gara-gara pilihan bermusik ini pula, perjalanan Leo dengan gadis pujaannya kandas. Calon mertuanya tak sudi menerima musisi kampung ini. Meski beberapa lagu Tani Maju band laku keras, namun itu semua tak cukup bagi keluarga sang pacar. Cinta kandas. Namun Leo, tak patah arang. Ia terus bermusik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Trebuchet MS&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pada suatu ketika, Leo tak bisa membantah kemauan orang tuanya. Ia lantas menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Namun hanya &lt;i&gt;part time&lt;/i&gt;. Ia mengajar musik, sesuai kesukaannya. Di malam hari ia berlatih dan manggung, paginya ia mengajar. “Kalau dia datang telat itu sudah biasa” cerita seorang guru. Beruntung, anak-anak didiknya sangat menyukai cara mengajar Leo. “Anak-anak kalau melihat Leo, seperti melihat selebriti” .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="Trebuchet MS&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Secara kultural, masyarakat memang akan lebih menghargai profesi sebagai seorang guru daripada musisi. Menariknya lagi, menurut sutradara “Musisi Mencari Status”, Ary Agung W SSn, film ini dilatarbelakangi oleh kehidupannya, Leo, dan beberapa guru lain yang masih berstatus Guru Tidak Tetap (GTT). ”Memang, idenya kita bikin film protes, GTT secara ekonomi pas-pasan, tak salah jika banyak dari mereka yang nyambi di bidang lain. Guru hanya merupakan posisi sebagai status saja,” kata guru Broadcasting TV dan Multimedia ini. Kehidupan guru memang masih jauh dari kata ideal. Maka tak jarang banyak guru yang harus banting tulang kerja sambilan, jadi apapun. Mulai dari musisi, tukang ojek, bahkan tukang sayur sekalipun. Meski terhormat, namun kehidupan banyak guru di negeri ini kembang kempis.&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1275763888760283705?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1275763888760283705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1275763888760283705&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1275763888760283705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1275763888760283705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/06/musisi-mencari-status.html' title='Musisi Mencari Status'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/S11IxYV0p5I/AAAAAAAAAiM/z9AA9RRAxy4/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-874415828515322417</id><published>2009-06-11T02:01:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T02:10:28.487-07:00</updated><title type='text'>Pemilu &amp; Harapan 5 tahun mendatang</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tahun 2009 adalah tahun politik. Tahun dimana penentuan komposisi kepemimpinan lima tahun mendatang dilakukan. Untuk ketiga kalinya pemilu secara demokratis digelar pasca reformasi 1998. Namun hingar bingar pemilu kali masih menyisakan sejumlah masalah. Dari persoalan logistik hingga masalah daftar pemilih tetap (DPT). Bagaima seorang Bima Arya Sugiarto dari Charta Politica memandang hal ini dan harapan lima tahun mendatang? Pengamat politik muda ini berbagi pandangannya dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Widodo dan Sukman, tim redaksi Majalah HB di kantor asrinya di Jl. Cipaku II/18, Jakarta Selatan. Berikut petikan wawancaranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendapat Anda soal pemilu tahun ini?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Secara umum memang ini ada dua pemilu ya, legislatif dan pilpres. Kalau kita evaluasi pemilu legislatif kali ini secara prosedural tidak lebih baik daripada 2004. Bahkan cenderung lebih buruk. Karena ada kisruh dengan DPT. Itu catatan pertama. Catatan kedua adalah tingkat partisipasi politik dalam pemilu legislatif juga lebih rendah dibandingkan 2004 yang mencapai 40 %. Tetapi sebetulnya kalau coba kita lihat dari perspektif optimis pemilu legislatif secara garis besar itu memiliki &lt;i&gt;output&lt;/i&gt; yang baik karena pertama kali suara terbanyak diterapkan. Dan banyak sekali caleg yang lolos bukan karena nomor urut, tetapi karena berada ditengah-tengah begitu. Ini bagus. Artinya rakyat sudah mulai digiring untuk memilih orang bukan lagi partai. Nomor dua, kalau kita lihat komposisi di anggota DPR terpilih ini menarik karena jumlah pendatang baru ini hampir 70 %. Di Amerika saja negara yang demokrasinya sudah mapan tidak lebih dari 10 % jumlah pendatang baru ini. Jadi dari segi jumlah kalau dalam konteks ini sebetulnya regenerasi sudah terjadi secara massif, secara luar biasa di parlemen. Harusnya kita bisa berharap 70 % pendatang baru ini bisa memberikan perubahan signifikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tapi pada kenyataannya pendatang baru ini adalah kroni      dari misalnya anaknya gubernur, kerabat pejabat, dll?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Memang harus kita lihat prosentasenya ya. Berapa banyak? Sama halnya dengan artis. Mereka sering dibilang heboh. Tapi artis kan kali ini cuma 15 orang dari 560 orang. Ini artinya kurang berapa ya? Ya kurang dari 5 %. Jadi masih sedikit begitu. Dan kita harus teliti juga yang kroni ini berapa persen. Nah tetapi harus diingat bahwa semua harus dilihat satu-satu. Kalau kita mau bicara politik dinasti atau kroni, itu juga harus dilihat satu-satu. Ada politik dinasti yang justru bagus ya karena betul-betul dikader, betul-betul disiapkan oleh orang tuanya. Tapi memang ada yang &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt; siap, dipaksa begitu. Artis pun juga begitu. Ada artis yang tidak memiliki kapasitas. Ada yang karbitan. Tapi memang ada yang memiliki jam terbang dan sangat artikuler. Jadi kita jangan sampai terjebak dikotomi pendatang baru pasti jelek, artis pasti tidak &lt;i&gt;perform&lt;/i&gt;, harus dilihat orang per orang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Persoalan DPT adalah masalah terbesar dalam pemilu kali      ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah harusnya bisa belajar dari      pemilu sebelumnya?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ya menurut saya yang terjadi adalah kelemaahan koordinasi antara KPU sebagai penyelenggara dan pemerintah yang sebetulnya punya fungsi untuk merapikan sistem kependudukan. Intinya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sebetulnya itu. Saya tidak melihat adanya agenda yang sistematik sebetulnya untuk memanipulasi daftar pemilih tetap ini karena pemainnya kan banyak. Jadi sangat beresiko kalau &lt;i&gt;incumbent&lt;/i&gt; ini bermain diwilayah itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="4" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Namun, bukankah banyak yang mensinyalir hal itu dilakukan?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ya wajar saja yang mengatakan hal itu. Bisa saja. Tetapi kalau kita lihat per daerah itu ternyata manipulasi juga dilakukan oleh partai-partai lain. Jadi kalau saya lebih melihat ini kisruh secara kolektif karena KPU tidak memiliki kekuatan melakukan &lt;i&gt;planning&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang baik. Harusnya KPU kan bisa belajar dari pemilu tahun 2004. Ini juga karena faktor bahwa anggota KPU itu baru semua. Kalau ada yang lama kan ada proses kontinuitas. Ada kesinambungan. Nah sekarang kan tidak ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="5" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artinya perlu adanya kontinuitas itu?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Menurut saya anggota KPU ini harusnya tidak baru semua. Harusnya tetap ada yang lama. Satu atau dua orang disisakanlah supaya ada semacam &lt;i&gt;early warning&lt;/i&gt; ada pra kondisilah tentang apa yang akan dihadapi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="6" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Artinya itu bisa jadi salah satu kondisi untuk memperbaiki      pemilu mendatang?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Iya kira-kira memang begitu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="7" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Saling klaim kebenaran capres-cawpres memanas. Apakah ini      sehat untuk demokrasi kita?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Dalam demokrasi yang namanya perdebatan itu sehat. Malah sangat sehat ya. Kalau menurut saya pilpres tahun ini lebih maju dibandingkan pilpres 2004. Karena kandidat sebelum disahkan saja sudah ada perdebatan. Tentang ekonomi kerakyatan, neo liberal, dan kemandirian ya. Ini bagus sekali sehingga rakyat diajak berpikir, rakyat diajak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk terlibat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara lebih dinamislah untuk menggali masing-masing perspektif itulah. Tetapi catatannya adalah ini ide-ide besar ini, konsep besar ini, konsep yang sifatnya jargonistik ini harus diturunkan, jangan diawang-awang saja. Bicara ekonomi kerakyatan itu apa, neo liberal itu apa. Karena yang lulus SD tentunya tidak paham istilah neo lib itu apa. Jadi yang kita tuntut itu dua hal. Para tim sukses capres cawapres maupun capres dan cawapres harus mampu untuk menyederhanakan dengan bahasa yang mudah dipahami rakyat. Yang kedua, menurunkan dalam level implementasi dan aksi. Contoh konkritnya apa. Relevansinya apa bagi kehidupan rakyat. Debat neolib dan liberal tidak akan ada artinya jika rakyat kemudian tidak diajak untuk paham bahwa oh jika ini maka efeknya bagi kehidupan kita akan seperti apa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="8" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Namun bukankah hal ini justru yang menjadi bahan jualan      semua kandidat sekarang? Antar neolib dan ekonomi kerakyatan?&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ini kan karena Boediono yang dipilih sebagai wapres. Kalau yang dipilih Hidayat Nur Wahid mungkin isu ini tidak akan naik. Jadi jelas sekali. Ini ada nuansa politisnya. Ada &lt;i&gt;labeling&lt;/i&gt;. Ada diferensiasi yang berusaha dilakukan. Karena memang ada kecenderungan orang Indonesia tidak suka jika negara atau pemimpinnya itu takluk pada asing. Tidak pada rakyat. Nah ini neolib kan kesannya tidak pro kepada rakyat begitu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="9" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tapi bukannya pada kenyataanya seperti itu pemerintah      sekarang?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ya kita harus lihat sebetulnya yang bicara neolib itu apakah tahu tidak dengan neolib ataukah bicara tentang kerakyatan konsisten tidak dari dulu seperti itu? Jadi menurut saya memang harus hati-hati. Lihat isunya dan lihat siapa yang bicara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="10" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana perjalanan demokrasi kita dari 1998 hingga      sekarang? Apakah ada perbaikan atau malah sebaliknya?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Menurut saya perbaikan itu ada. Tetapi &lt;i&gt;track &lt;/i&gt;ini memang harus diluruskan&lt;i&gt; gak&lt;/i&gt; boleh mencong-mencong,&lt;i&gt; track&lt;/i&gt; ini juga harus dikuatkan. Ada hal-hal sudah baik seperti yang sudah saya sampaikan tadi. Di pilkada itu banyak anak-anak muda yang naik jadi walikota, jadi bupati, hingga gubernur itu bagus, di parlemen hampir 70 % anak muda itu bagus, tetapi bahwa di politik kita masih ada politik uang, kesepakatan-kesepakatan masih didasarkan kesepakatan pragmatis itu juga betul. Jadi memang secara umum arah kita sudah benar tetapi pembenahan itu harus dilakukan secara luar biasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="11" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mungkin jalannya      sudah baik, tapi masih pelan-pelan begitu?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Iya masih pelan-pelan, masing bolong-bolong, kadang masih belok-belok begitu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="12" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalam pemilu kemarin politik uang masih menjadi kekuatan      utama. Pendapat Anda?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Iya ini dilemanya. Ketika demokrasi di-&lt;i&gt;install&lt;/i&gt;, diaplikasikan di tengah-tengah rakyat yang belum sepenuhnya terdidik, ditengah-tengah rakyat yang belum sepenuhnya juga kenyang, perutnya masih lapar. Jadi sulit bicara pada level tataran rasionalitas. Kebanyakan masih bicara pada tataran pragmatis dan emosional. Jadi keputusannya berdasarkan pada hal-hal yang pragmatis untuk menyambung hidup. Bukan saja pemilih tetapi para politisi juga begitu. Politisi ini masuk ke partai, jadi caleg, motivasinya adalah untuk hidup. Bukan mengabdi untuk publik. Jadi persoalan utamanya seperti ini. Dilema demokrasi yang dibangun di atas pondasi yang masih lemah secara ekonomi dan sosial ya seperti ini dilemanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="13" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Disisi lain mungkin itu benar, tetapi rakyat juga begitu.      Ketika pemilu legistalif kemarin misalnya, banyak rakyat yang minta uang      ke caleg. Ini kan rakyat secara langsung menggiring caleg untuk      ramai-ramai korupsi ketika terpilih?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Itu juga betul, tapi catatan saya begini memang biaya politik mahal ini jadi kepentingan bersama. Tetapi kita sering kali terlalu &lt;i&gt;over estimate&lt;/i&gt; terhadap peranan uang. Segalanya memang perlu uang, tapi sebetulnya yang ini bukan segalanya. Ada caleg-caleg yang lolos dengan uang yang minim ya, karena saya percaya pada teori &lt;i&gt;the economic of trust,&lt;/i&gt; semakin besar &lt;i&gt;trust &lt;/i&gt;kita ini dimiliki ditengah publik semakin murah kita ini bekerja untuk berkampanye, tetapi semakin kecil &lt;i&gt;trust&lt;/i&gt; itu di publik maka semakin mahal pula ongkos politik kita. Ini orang-orang yang tidak pernah turun ke bawah, ini bisa keluar 17 milyar. 18 milyar untuk menjadi anggota DPR itu kan tidak &lt;i&gt;make sense&lt;/i&gt; ya. Ini karena &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt; ada &lt;i&gt;trust&lt;/i&gt;. Tetapi ada orang yang hanya keluar 10, 20, 30 juta gitu karena memang punya citra yang bagus dan juga turun ke bawah begitu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="14" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kita menganut sistem presidensial, namun disisi lain kita      menganut sistem multipartai. Pandangan Anda?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Menurut saya jumlah partai tidak boleh lebih dari 6 ya. Harus lebih sedikit. Sekarang di parlemen ada 9. Saya harap di parlemen 2014 itu lebih ciut lagi menjadi 6 atau 5. Karena presidensil ini tidak &lt;i&gt;compatible &lt;/i&gt;dengan parlementer. Presidensil ini harus diimbangi dengan jumlah partai yang sedikit di parlemen supaya presiden punya otoritas, supaya presiden punya ruang gerak untuk tidak selalu berhadapan dengan parlemen tetapi untuk menetapkan kebijakan. Kalau jumlah partai di parlemen ini banyak, presiden akan selalu mengalami kesulitan ya untuk tawar menawar dengan yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="15" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Namun disisi lain kita begitu mudah mendirikan partai?&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Itu bisa dilakukan rekayasa &lt;i&gt;electoral &lt;/i&gt;namanya ya. Artinya nomor satu dibuat sesusah mungkin aturan mendirikan partai baru. Ini bisa diatur begitu. Kedua, dibuat satu sistem &lt;i&gt;electoral treshold&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;parlement treshold&lt;/i&gt; yang lebih kuat lagi. Artinya jika partai ini tidak mampu untuk memenuhi ambang batas sekian persen, &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt; boleh masuk parlemen kan. Nah sekarang ini &lt;i&gt;parlement treshold&lt;/i&gt; adalah 2.5 %. Saya berharap tahun 2014 itu dinaikkan menjadi 5 %, jadi lebih tinggi lagi. &lt;i&gt;Atau electoral treshold&lt;/i&gt; lebih kecil lagi. Sehingga kemudian orang berpikir ulang lagi banyak untuk mendirikan partai baru. Ya kalau susah &lt;i&gt;lewat parlement treshold&lt;/i&gt;, ya gak bisa. Jadi pelajaran sebetulnya tahun 1999, 2004, dan 2009 ini mengajarkan pada kita bahwa jika tidak punya tokoh yang kuat jangan berani buat partai politik. Atau jika tidak punya ideologi yang kuat, jangan berani buat partai politik. Atau yang ketiga kalau uang pas-pasan juga jangan. Nah itu saja. Jadi orang mesti sadar, kalau tidak memiliki ketiga kekuatan itu ya tidak usah bikin partai politik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="16" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dari ketiga capres-cawapres tidak ada diferensiasi      pemikiran yang nyata. Kira-kira apa yang menjadi dasar rakyat untuk      memilih mereka pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;akhirnya nanti?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ya itulah semuanya kan menggarap ekonomi kerakyatan ya, kemudian yang menjadi diferensiasi itu bukan diferensiasi gagasan, tetapi lebih kepada diferensiasi &lt;i&gt;personality,&lt;/i&gt; diferensiasi &lt;i&gt;leadership.&lt;/i&gt; Kalau dari segi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gagasan sama, tetapi gayanya berbeda. Nah mungkin gagasan yang sama dbawa oleh gaya kepemimpinan yang berbeda, beda juga &lt;i&gt;output&lt;/i&gt;-nya gitu. Nah ini gaya kepemimpinan kan beda-beda. Prabowo yang seperti itu,&lt;span style="color:red;"&gt; &lt;/span&gt;Megawati yang betul-betul menurut saya ibu rumah tangga begitulah, kemudian JK yang cepat sekali pergerakkannya, yang sangat pragmatis, atau SBY yang penuh perhitungan. Perpaduan antara pemikir strategi politik dan ekonom di SBY-Boedino, perpaduan antara nasionalis dan Islam, tentara dan pengusaha di JK-Win, dan perpaduan antara klan Soekarno secara biologis dan kira-kira ya tokoh Prabowo yang memiliki pemikiran lebih ideologis misalnya. Jadi diferensiasinya lebih kepada gaya kepemimpinan menurut saya, dibanding program, dll. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="17" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harapan Anda 5 tahun mendatang secara keseluruhan?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ya nomor satu saya betul-betul berharap bahwa ada keseimbangan antara aspek demokrasi dan &lt;i&gt;govern ability&lt;/i&gt; untuk berjalannya pemerintahan. Betul kita perlu demokrasi, kita perlu punya artikulasi yang jelas dari parlemen ya tentang nasib rakyat. Tapi kita juga harus paham bahwa &lt;i&gt;the government should govern&lt;/i&gt;, pemerintah harus memerintah, program harus jalan. Jadi kita berharap 5 tahun ke depan elit politik ini tidak menguras seluruh konsen energi mereka hanya untuk perdebatan politik, perdebatan kekuasaan, tetapi lebih bertarung untuk mengimplementasikan program-program yang konkrit begitu. Jadi jangan sampai kebijakan pemerintah itu yang ideal itu dijegal. Jangan sampai oposisi itu asal beda. Kalau ada pemerintahan dengan kebijakan yang bisa didukung kenapa tidak? Kan begitu. Jadi esensi oposisi sebetulnya ini mengkritisi bukan sekedar menjegal begitu. Kira-kira begitu. Jadi kita berharap 5 tahun mendatang semua tahu porsinya masing-masing. Oposisi menjalankan fungsinya, &lt;i&gt;incumbent &lt;/i&gt;menjalankan fungsinya, parlemen fokus pada ketiga fungsinya, pemerintah juga betul-betul paham apa yang dibutuhkan publik, dan bisa mengimplementasikan itu sampai level paling terbawah begitu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;(Dimuat di Majalah Hikmahbudhi 315)&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-874415828515322417?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/874415828515322417/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=874415828515322417&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/874415828515322417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/874415828515322417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/06/pemilu-harapan-5-tahun-mendatang.html' title='Pemilu &amp; Harapan 5 tahun mendatang'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-2364376642000319620</id><published>2009-05-01T20:05:00.001-07:00</published><updated>2009-05-01T20:25:02.416-07:00</updated><title type='text'>Siapapun Pemenangnya, Rakyatlah Pemenang Sejati</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;Pemilu legislatif untuk memilih wakil kita di DPR baru saja usai. Setelah mata kita disuguhi berbagai pose caleg menjajakan diri, entah itu di pohon, di perempatan jalan, juga di tembok kusam ibu &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Mereka kini harap-harap cemas menanti. Harap dan cemas karena apakah seluruh usaha dan biaya sebanding dengan hasil yang diinginkan. Belum usai perhitungan selesai dilakukan, ternyata banyak caleg yang tumbang. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari mulai stress ringan, migren, pening, bahkan ada pula yang depresi yang berujung pada bunuh diri. Entah apa akhirnya itu yang menjadi pilihan mereka. Belum lagi beberapa caleg malah mengambil kembali bantuan yang diberikan ketika melihat peluang mendulang angkanya kian tipis. TV, karpet yang pernah diberikan di pangkalan ojek pun di tarik kembali. Jelas ini bukti ketidakdewasaan dan kesiapan mereka. Harusnya dari awal sudah bisa mengkalkulasi diri. Apakah memang pantas dan layak menjadi wakil rakyat atau bukan. Layak dari segi intelegensia, kapasitas, kapabilitas, juga akuntabilitas. Belum lagi soal dana yang memang harus dipersiapkan. Tak ada modal, jangan coba-coba mimpi menjadi wakil rakyat. Apalagi belum apa-apa, masyarakat sudah minta jatah ini itu. Ini celaka. Bagaimana wakil rakyat kita benar-benar tidak akan korupsi jika dari sedari awal masyarakat memang mengajarkan mereka untuk segera mengembalikan modal yang dikeluarkan untuk ini itu tadi. Memang sulit. Tapi itulah adanya wajah bopeng potret demokrasi kita. Jika lantas ketika kampanye mereka berduyun mendatangi mimbar kampanye, bukan semata mereka mau mendengarkan visi dan misi partai. Mereka cuma mencari hiburan, selebihnya ya apalagi kalau bukan cari amplop. Demokrasi kita bukan demokrasi sejati. Tapi demokrasi pancingan. Artinya rakyat akan bergerak kalau ada iming-imingnya, bukan karena ideologi apalagi kata hati. Jangan harap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hajatan demokrasi kali ini benar-benar amburadul. Bahkan menjadi terburuk sepanjang sejarah pemilu kita, termasuk pemilu orde baru. KPU sebagai lembaga paling berwenang, kedodoran. Banyaknya rakyat yang tak terdaftar sebagai pemilih menjadi bukti budjet 14an triliun yang digelontorkan tak sebanding. Kinerja KPU bener-bener payah. Belum lagi soal distribusi logistik yang tak kalah kacaunya. Mana ada logistik bisa nyasar. Belum lagi yang sudah dicontrengi oleh petugas nakal. Juga angka golput yang mencapai 40 persen lebih, ini menjadi tanda bahwa pemilu kali ini bikin miris hati. Bagaimana tidak angka golput tinggi, rakyat mau menggunakan haknya saja malah di pasung. Antar anggota KPU juga saling berseberangan pendapat. Jelang hari pencontrengan, ada yang mengatakan bagi rakyat yang tidak kebagian surat undangan bisa menggunakan KTP, namun anggota lain mengatakan hal itu tidak diperkenankan. Lantas rakyat harus mengikuti yang mana. Persoalan DPT (daftar pemilih tetap) menjadi persoalan yang paling krusial . Bayangkan seorang mantan panitia KPPS, kali ini tak bisa menggunakan hak pilihnya. Belum lagi seorang caleg yang namanya tak ada di daftar kartu suara. Jika boleh diberi rapor, mungkin angka 5 menjadi hak KPU kali ini. Artinya mereka tidak naik kelas alias gagal total. Mengapa DPT bisa bermasalah? Bukankah harusnya mereka sudah dipersiapkan jauh-jauh hari? Bukankah mereka sudah lewat &lt;i style=""&gt;fit and propertest&lt;/i&gt; ketat di gedung dewan? Bukankah mereka itu para ahli di bidangnya? Entahlah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Walau secara resmi belum diumumkan karena menunggu perhitungan manual, namun dari &lt;i style=""&gt;quickcount&lt;/i&gt;, sudah bisa ditebak siapa yang akan menguasai jagat senayan lima tahun mendatang. Elit politik pun berakrobat, bermanuver sana sini menaikkan harga jual diri. Yang ada di benak mereka cuma kursi dan kepentingan sendiri. Lupa sudah dengan janji mereka ketika kampanye kemarin. Benar mungkin kata teman: caleg itu memang tidak bisa memberi janji apa pun. Karena mereka hanya bisa memberi janji tanpa pernah mampu merealisasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lepas dari carut marut pemilu kali ini, setidaknya kita bisa menjadi penonton yang baik. Meminjam kata dari Bang Komaruddin Hidayat, kita harus mengucapkan terima kasih kepada semua yang terlibat, baik yang menang maupun yang kalah. Ibarat permainan sepak bola, kalah menang itu biasa. Kalau tidak ada yang menang dan yang kalah, tentu pertandingan tak seru dilihat. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Tapi tetap haruslah, ujung-ujungnya, siapapun pemenangnya, pemenang sejati haruslah rakyat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-2364376642000319620?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/2364376642000319620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=2364376642000319620&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2364376642000319620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2364376642000319620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/05/siapapun-pemenangnya-rakyatlah-pemenang.html' title='Siapapun Pemenangnya, Rakyatlah Pemenang Sejati'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-3411496100464047363</id><published>2009-05-01T19:58:00.001-07:00</published><updated>2009-05-01T20:33:27.440-07:00</updated><title type='text'>The Shadow of the Flag: referendum tak berkesudahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/Sfu9OYK7RiI/AAAAAAAAAiA/wBym-FtOPAc/s1600-h/poster-TL-jadi-web.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/Sfu9OYK7RiI/AAAAAAAAAiA/wBym-FtOPAc/s320/poster-TL-jadi-web.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331062638627210786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Mengambil seting bumi Timor Leste pasca referendum. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Film dokumenter ini dibuka dengan dentuman gerak baris sipil bersenjata. Sejurus golok ada di komandan regu. Sesekali ia membentangkan goloknya pertanda barisan belum rapi. Wajah tua tak menyurutkan langkah tegap bak tentara sungguhan. Semua siap seolah perang segera dimulai. Maklum saja, euforia gempita kemenangan atas kemerdekaan baru saja mereka raih. Referendum menjadi jalan bagi kebebasan baru itu. Sesekali jejak konflik pasca referendum kental terlihat di film yang disutradarai Tony Trimarsanto ini. Semua penduduk Timor berharap referendum menjadi pintu bagi kemaslahatan. Maria, salah seorang warga mengatakan bahwa baginya referendum bisa mengubah garis hidup. Baginya menjadi warga Negara Indonesia tak ubahnya menjadi diri yang terjajah. “Terjajah di negeri sendiri” itulah kami waktu dulu, ujarnya. Mereka menganggap Indonesia adalah penjajah. “Dulu kami kemana-mana selalu takut, karena banyak tentara”. Bisa dimaklumi, ketika mereka menang referendum, mereka bersorak ada seberkas harapan disana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Semua terekam dengan baik. Walau agak bertele, terutama bagian awal. Pembagian jatah beras dari WFP terlalu lama. Beberapa potong adegan kamp pengungsian dan seutas tampah berisi beras sisa saja mestinya sudah bisa menggambarkan kegetiran hidup mereka. Beberapa gambar juga terlalu over pencahayaannya. Selain itu, audio terkadang memekakkan telinga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Harapan Maria tinggal harapan. Pasca referendum ternyata kehidupan mereka tak lagi berubah. “Maju tidak, mundur juga tidak. Ibaratnya kami terjebak diantara lautan air luas, tidak bisa kemana-mana” ujarnya. Mencari pekerjaan saja sulit. Bersekolah juga sama. Kalau mau kerja harus ada ketrampilan bahasa Inggris, komputer, dll. Mana bisa kami berbahasa Inggris. Selama 24 tahun kami selalu memakai bahasa Indonesia, tapi sekarang jika memakai bahasa ini dianggap sebagai bahasa penjajah. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Jadi semuanya serba repot. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Soal pendidikan pun tak kalah payahnya. Guru yang mengajar tidak banyak yang memenuhi kualifikasi. Seorang  lulusan SMP mengajar SMA? Bagaimana kami bisa maju. Pemimpin yang ada pun sangat sulit dicari pengharapan. Mereka sibuk dengan urusan sendiri. Jadi ujung-ujungnya kami hanya bisa berharap dengan diri kami sendiri. Pasca transisi pun tak banyak perubahan. Justru disinyalir ini mainan baru antara Portugal dan Australia. Jadi, lagi-lagi korbannya rakyat kecil. &lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Walau getir, namun film ini juga menampilkan lempengan pantai dan laut yang memang terkenal eksotis. Film ini berhasil memotret sisi lain bumi Timor Leste. Kemerdekaan memang mahal harganya. Konflik untuk merdeka. Merdeka untuk mencari pengharapan yang tak berkesudahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-3411496100464047363?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/3411496100464047363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=3411496100464047363&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3411496100464047363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3411496100464047363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/05/shadow-of-flag-referendum-tak-berujung.html' title='The Shadow of the Flag: referendum tak berkesudahan'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/Sfu9OYK7RiI/AAAAAAAAAiA/wBym-FtOPAc/s72-c/poster-TL-jadi-web.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-772309104616626021</id><published>2009-04-30T03:38:00.000-07:00</published><updated>2009-04-30T03:53:21.578-07:00</updated><title type='text'>Vote Fore ME: Demokrasi rasa China</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SfmC90rc-AI/AAAAAAAAAh4/pj3PyP_2PbY/s1600-h/vote+for+me.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 118px; height: 116px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SfmC90rc-AI/AAAAAAAAAh4/pj3PyP_2PbY/s320/vote+for+me.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330435632594221058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;Di Wuhan, China Tengah, anak-anak bernyanyi dan memberi hormat ke bendera merah dengan beberapa tanda bintang di tiang jauh. Semua tertib berbaris. Dengan tangan di atas pertanda hormat, anak-anak ini mengucap janji untuk setia kepada negara komunis ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Suasana riuh di dalam kelas. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Seorang guru perempuan mengumumkan akan dilakukan pemilihan ketua kelas. Tapi bukan sembarang pemilihan sebagaimana yang sudah-sudah. Kali ini anak-anak sendirilah yang memilih, bukan lagi dipilih oleh guru kelas. Segera sang guru menunjuk tiga orang sebagai kandidat (tetap saja cara diktator keluar,he….). terpilih Xiaofei (perempuan), Cheng cheng (ketua kelas terdahulu), dan Duo Lai. Dalam beberapa hari ke depan semua kandidat diminta untuk berkampanye. Cara inilah yang menjadi domain film dokumenter Vote for Me. Pemilihan ketua kelas 1 menjadi contoh sebuah demokrasi di negara komunis China. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Xiofei, anak tunggal seorang janda. Ibunya serius mempersiapkan segala keperluan kampanyenya. Tak jelas pekerjaan ibunya. Menyiapkan materi pidato, melatih intonasi, termasuk mengajari bermain musik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Cheng cheng anak seorang komisaris polisi, ibunya seorang polwan. Cara militer diajarkan orang tua Cheng cheng agar ia terpilih. Seperti mengajak jalan-jalan naik monorail. Maklum, di Wuhan, China, naik monorel masih menjadi barang mewah. Selain itu, gaya pidato militer juga pembagian amplop liburan jelang akhir kampanyenya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Duo Lai, anak seorang insiyur. Ibunya menjadi ibu rumah tangga biasa. Keluarga ini juga tak kalah seru mempersiapkan bahan kampanye anaknya. Walau terkenal bandel, Duo Lai mau tak mau menuruti semua perintah orang tuanya demi menjadi ketua kelas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Hari pertama kampanye digelar. Xiofei mendapat giliran pertama. Namun bukannya memberikan materi kampanye. Ia malah sesunggukan. Menangis. Itu karena ia grogi. Tisu diayunkan membasuh pipinya yang mulai basah. Dengan terdiam sejenak, ia menarik nafas, lalu melanjutkan sisa pidatonya yang terpenggal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Sepanjang film berdurasi hampir sejam ini, kita disuguhi adu strategi dari ketiga kandidat. Jangan harap ada gambar indah dalam film ini. Sebab percakapan dan ekspresi langsunglah yang banyak digelar. Jika ada gambar establish itu pun cuma sepotong sekolah saja. Namun justru inilah titik kuat film ini. Bagaimana Duo Lai yang kesal karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kecapean &amp;amp; lupa menghafal pidato tumpah tanpa sensor. Begitu pula Xiao Fei yang tersedu menanti hari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemilihan, belum lagi kerepotan orang tua Cheng cheng mengatur strategi anaknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Di kelas, masing-masing kandidat saling menyiapkan tim suksesnya. Xiao Fei yang perempuan memiliki dukungan kuat di hati kaum hawa. Cheng cheng percaya diri saja. Justru Duo Lai yang berjibaku. Berbagai manuver ia lakukan. Dari yang bersih hingga yang paling kotor sekali alias intimidasi. Badannya yang besar menguatkan hal ini. Sayang ia lupa kalau Cheng cheng didukung orang tuanya yang memang pintar strategi. Ia mengira Cheng cheng akan berada di belakangnya. Namun diam-diam, Cheng cheng justru membelot, dan memilih jalan sendiri. Apalagi ia ketua kelas terdahulu. Mana mau, jabatannya diserahkan begitu saja kepada Duo Lai. Menjabat dua kali tak ada salahnya, begitu pikirnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Sesi terakhir beradu debat. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IT"&gt;Semua kandidat di adu satu per satu. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Kebiasaan buruk lawan menjadi senjata umpatan. Sesi ini sangat menarik. Anak-anak begitu menjiwai. Saling ngotot dan serang terjadi. Hingga beberapa teman mereka tampak bengong menyaksikan, termasuk sang guru. Yang paling seru debat antara Cheng cheng dan Duo Lai. Duo Lai salah strategi lagi. Cheng cheng sangat menyiapkan diri. Bahkan ia menyiapkan waktu khusus untuk berlatih dengan ayahnya yang seorang komisaris polisi. Persiapan matang membuahkan hasil yang matang pula. Dan inilah yang akhirnya terjadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Cheng cheng memenangi perdebatan sengit ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Voting tertutup akhirnya harus digelar. Dan sudah diduga pemenangnya adalah Cheng cheng. Duo Lai kalah telak. Bahkan ia kalah dari Xio Fei. Duo Lai tak kuasa menahan tangis. Teman-teman menjauhi, karena ia kerap berlaku kasar. Ia kini merasa sendirian. Namun cepat, sang guru mendamaikan seantero kelas. Mereka pun saling bersalaman dan berpelukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Demontrasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kecil di sekolah dasar ini mungkin sebagai contoh kecil jika di negeri tirai bambu ini paham demokrasi mulai diajarkan, walau masih secuil. China yang selama ini identik dengan komunis terlihat mulai melirik demokrasi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Walau masih sebatas film dokumenter, minimal cuilan film ini bisa menjawab. Tak di pungkiri jika ada yang beranggapan bahwa ini cuma untuk kebutuhan film saja, bukan terjadi di dunia sebenarnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mana yang benar, tak tahulah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-772309104616626021?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/772309104616626021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=772309104616626021&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/772309104616626021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/772309104616626021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/04/vote-fore-me-demokrasi-rasa-china.html' title='Vote Fore ME: Demokrasi rasa China'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SfmC90rc-AI/AAAAAAAAAh4/pj3PyP_2PbY/s72-c/vote+for+me.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1334478393241371734</id><published>2009-03-17T23:15:00.001-07:00</published><updated>2009-03-17T23:18:24.189-07:00</updated><title type='text'>Dukung Petisi Tolak Buddha Bar</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jangan jadikan ketidak-melekatan sebagai alasan untuk sebuah ketidak pedulian.&lt;br /&gt;Memang benar Buddha mengajarkan untuk tidak melekat pada simbol-simbol dan bahkan pada ke-aku-an.&lt;br /&gt;Namun Beliau juga mengajarkan untuk mengembangkan kebijaksanaan supaya tidak terjerumus dalam kebodohan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat pangeran Siddharta belum menjadi Buddha, beliau mencoba tidak melekat pada badan jasmaninya dengan menahan lapar dan haus, menyiksa diri demi terbebas dari penderitaan.&lt;br /&gt;Namun akhirnya dia menyadari bahwa hal itu tidaklah bijaksana. Dan kembali makan dan minum demi kesehatan dan menguatkan badannya. Apakah artinya dia menjadi melekat kembali kepada badan jasmaninya?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-110"&gt;&lt;/span&gt;Ada sebuah cerita juga tentang Bhikkhu yang membakar patung Buddha dari kayu untuk menghangatkan badannya di cuaca yang sangat dingin. Karena sudah tidak ada kayu bakar lagi yang bisa dipakai untuk menghangatkan tubuh. Cuaca juga terlalu buruk untuk mencari kayu di luar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat ada Bhikkhu lain yang mempermasalahkan hal tersbut ia mengatakan kepada Bhikkhu-Bhikkhu yang lain bahwa patung tersebut hanyalah sebuah patung kayu, sebuah simbol dan kita tidak boleh melekat kepadanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bhikkhu ini bertindak bijaksana, karena jika dia tidak membakar patung kayu tersebut, mereka semua akan mati kedinginan.&lt;br /&gt;Tapi pada kasus Buddha Bar, apakah bijaksana membiarkan nama Buddha menjadi nama sebuah Bar? Apakah bijaksana meletakkan patung-patung Buddha di dalam sebuah bar?? Apakah ketidak-melekatan bisa dijadikan alasan untuk membiarkan hal ini terjadi?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu bijaksanakah jika ketidak-pedulian kita akhirnya menimbulkan akibat tidak adanya penghormatan lagi terhadap agama Buddha.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Walaupun agama Buddha tidak gila penghormatan, namun bijaksanakah membiarkan kualitas agama ini menurun dan mungkin menghilang dari dunia karena tidak dihormati lagi oleh orang lain dan bahkan oleh pengikutnya sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kondisi seperti itukah yang akan kita wariskan pada generasi mendatang?&lt;br /&gt;Apakah memang tidak ada pilihan lain sehingga harus menggunakan nama Buddha, dan apakah tidak ada hiasan lain sehingga harus menggunakan hiasan patung Buddha dalam sebuah Bar?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagai umat Buddha kita diajarkan untuk berpikir kritis dan bijaksana dalam melihat segala sesuatu. Membedakan antara ketidak-melekatan dan ketidak-pedulian. Mencerna esensi ajaran Guru Buddha tidak sebatas kulit luar dari apa yang tertulis.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span class="757260506-05032009"&gt;Bertindak atau tidak, &lt;/span&gt;pilihan tetap ada di  tangan masing-masing.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;em&gt;Appamadena Sampadetha&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;em&gt;Dian Saptiana&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;em&gt;SDM PP HIKMAHBUDHI&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;em&gt;(meneruskan Petisi teman saja).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1334478393241371734?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1334478393241371734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1334478393241371734&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1334478393241371734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1334478393241371734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/03/dukung-petisi-tolak-buddha-bar.html' title='Dukung Petisi Tolak Buddha Bar'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6233028827041086612</id><published>2009-01-12T02:45:00.001-08:00</published><updated>2009-01-12T02:49:17.761-08:00</updated><title type='text'>Izak Timisela: Bapak  Kaum Diffable Pinggiran</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Sayup-sayup celotehan suara itu membesar. Sumbernya dari sebuah bangunan yang menjulang di depan sana. Untuk sebuah daerah pinggiran, bangunan ini memang mencolok walau agak masuk ke dalam gang H. Ridwan, Kel. Kunciran Indah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Warna warni coraknya. Di kanan kiri masih tersedia tanah lapang. Tak di nyana, ternyata ini adalah bangunan untuk mereka yang berkebutuhan khusus alias SLB. Adalah seorang Nyong Ambon yang menggagasnya. SLB ini dinamakan Yenaiz. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Singkatan dari Yenny (anak), Nanik Isiati (istri), dan Izak Timisela. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;Rambut Izak tersebak uban ketika menemui kami.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Badan yang agak tambun tak menyurutkan langkahnya. Dengan cekat ia menjelaskan seluk beluk sekolah perjuangannya ini. Bagaimana tidak? Ia tinggalkan karier yang baik sebagai perawat demi memenuhi keinginan hatinya meningkatkan derajat kaum luar biasa ini. Namun hal ini semua tak datang begitu saja. Ini karena pengalaman melihat dengan jelas ketidakadilan sistem terhadap kaum SLB, apalagi SLB yang berasal dari keluarga tidak mampu. Ingatan akan hak-hak kaum SLB yang terampas memantapkan dirinya keluar masuk kampung untuk mendata kaum diffable ini. Data di dapat. "Tapi akan ditampung dimana anak-anak ini?" kenangnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ia lantas menjual rumah untuk menyewa rumah petak untuk memberi pelajaran anak-anak diffable. Istri, dan putri tunggalnya dilibatkan menjadi tutor. Sementara belajar mengajar berjalan di rumah petak, ia pelan-pelan bermimpi untuk mendirikan sekolah. Pontang-panting ia jalankan tugas mulia ini. Sementara penghidupan keluarga belum sepenuhnya normal. Beruntung ia sudah menyiapkan kebun kelapa 2 hektar di Ambon walau itu tidak sepenuhnya membantu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tak kurang ribuan proposal ia layangkan demi impian mulianya. "Tak jarang saya harus naik sepeda ke Depsos di Salemba" kenangnya. Padahal ia tinggal di Kunciran, Ciledung.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;"Ya mau bagaimana lagi sebab memang tidak ada uang kala itu". Lewat sebuah perjuangan tanpa lelah, ia akhirnya berhak mendapatkan dana sebesar 250 juta setelah menyisihkan ribuan proposal yang masuk. Hibah ini disambut dengan tangis haru. Bantuan ini lalu sepenuhnya digunakan demi pengembangan sekolah impiannya. Tak lama berselang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bantuan dari Jepang datang. Ia lantas menyekolahkan beberapa tutor ke UNJ jurusan SLB. Selain itu, program pemberdayaan bagi orang tua siswa SLB yang memang berkekurangan pun ia gagas. "Membantu mereka mesti tuntas, ya anaknya ya orang tuanya" tegasnya. Total anak SLB yang bersekolah di Kec. Pinang ini 130. Sementara di Cipondoh, walau masih menumpang di rumah petak, mampu menampung 30an anak. "Kami tidak memilih siswa, jadi tak heran semua kecacatan anak ada disini. Mulai tuna rungu, grahita bahkan autis sekalipun" tandasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Jangan tanya soal prestasi dan kebolehan. Beberapa deret tropi dan piala menghiasi sebuah lemari. Sore itu kami disuguhi ketrampilan anak-anak. Walau mengalami kekurangan, mereka lincah menari mengikuti langgam Jawa. Padahal beberapa dari mereka adalah tuna rungu. Semua itu berkat bimbingan guru dan tutor yang merupakan warga sekitar. "Saya biasanya tes dulu orang yang mau menjadi guru. Sebab mengajar disini sangat berbeda dengan mengajar di tempat lain". Bukan hanya persoalan materi yang minim, namun mengajar mereka yang berkebutuhan khusus ini harus dengan hati" tegasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tak hanya anak SLB yang menjadi siswa di sekolah ini. Ketika hari beranjak, anak-anak yang putus sekolah ia tampung dalam program pendidikan luar sekolah (PLS) atau biasa disebut kejar paket. Guru dan tutor ia sengaja rekrut dari warga sekitar dengan aneka ragam aktivitas. Ada dosen, guru, ibu rumah tangga menjadi tutor dan guru di sekolah yang selalu ramai aktivitas ini. "Mereka semua tergerak hatinya" ujar Izak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bagi Izak sekolah ini harusnya gratis. Karena memang hampir semua dari siswa di SLB ini berasal dari keluarga kurang mampu. Namun setelah dibentuk komite sekolah yang terdiri dari orang tua murid diputuskan biaya sekolah 5.000 - 10.000. Izak pun tak kuasa menolak putusan bersama ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Trebuchet MS&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Puas dengan apa yang sudah dicapai? Ternyata tidak. Izak bercita-cita mengulang sukses SLB Yenaiz di tempat lain. "Saya maunya Yenaiz ada di seluruh komunitas bangsa ini. Di Jawa, Bali, Kalimantan, bahkan Irian" ujarnya mantap. Biar mereka bergerak sesuai dengan komunitas setempat. "Ini kan seperti Indonesia kecil" ujarnya di derai tawa. "Kalau SLB untuk orang mampu sudah banyak, saya ingin membangun SLB bagi mereka yang benar-benar tidak mampu" ujarnya penuh harap. Semoga tercapai Pak Izak. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6233028827041086612?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6233028827041086612/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6233028827041086612&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6233028827041086612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6233028827041086612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/01/izak-timisela-bapak-kaum-diffable_12.html' title='Izak Timisela: Bapak  Kaum Diffable Pinggiran'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-8265898663338907263</id><published>2009-01-04T23:09:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T23:44:26.995-08:00</updated><title type='text'>Cak Munir</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Cak Munir yang terbaring,&lt;br /&gt;Penghujung tahun kamu dapat kado "istimewa" Cak. Segepok kado yang tak membuat istrimu nyenyak tidur. Aktor utama pembunuhmu di vonis bebas. Lengkap sudah rasanya awan kelabu di balik kematianmu. Makin berat saja terungkap ajalmu nan misterius itu. Mata rantai nan panjang itu  ternyata harus dihentikan di tangan seorang saja Cak.  Padahal  kamu dan kita menyakini bahwa  rantai itu masih menyisakan tuas-tuas  lainnya.  Justru tuas ini dipaksa berkarat dan terputus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak Munir,&lt;br /&gt;5 tahun sudah berlalu dari geger beritamu Cak. Ajal tiba-tiba menitikkan sejuta air mata. Air mata itu kini harus tumpah lagi. Kasusmu tak kunjung menemui titik terang. Padahal, terang itu mestinya menjadi hak anak dan istrimu. Sebaliknya, terang itu sengaja dibikin gelap dan makin gelap. Padahal SBY pernah bilang kalau &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;penyingkapan kasusmu ini sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;test of our history.&lt;/span&gt; Nyatanya tetap saja Cak. History bangsa ini memang tak pernah berpihak pada orang kecil.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;Cak,&lt;br /&gt;Buram lampu jalanan malam itu, sepertinya seburam siapa aktor penjagalmu Cak. Tapi kita masih yakin, di ujung sana terbersit sinar kecil. Sebuah harapan akan terungkap. Entah kapan Cak. Istirahatlah dengan tenang Cak. Doakan perjuangan kawan-kawan mengungkap tabir ajalmu menuai hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tidur Cak. Semoga prajurit HAM yang kamu tinggalkan segera menjadi panglima yang gagah perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) atas vonis bebasnya Muhdi PR.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-8265898663338907263?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/8265898663338907263/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=8265898663338907263&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8265898663338907263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8265898663338907263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/01/cak-munir.html' title='Cak Munir'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-7210807034626239599</id><published>2009-01-01T21:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-01T23:40:35.058-08:00</updated><title type='text'>tak ada tahun baru, yang ada hari berganti saja!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebuah pagi di hari pertama 2009. Langit agak cerah di ujung sana. Ku susuri jalanan. Sekedar ingin cepat berbaring setelah semalam suntuk ngoceh gak karuan di rumah kawan. Jalanan sepi sekali. Banyak warga Jakarta meninggalkan kota ini menjelang pergantian tahun. Jika masih tinggal, tentu jam sepagi ini mereka masih terlelap. Semburan kembang api masih terlintas di pening kepala. Sepi. Wah seandainya tiap hari begini, alangkah enaknya tinggal di Jakarta. Sepanjang jalan Hayam Wuruk, bekas terompet semalam masih berserakan. Petugas kebersihan tampak berjuang membereskan. Sengaja aku pilih jalan protokoler pagi itu. Semua lengang. Bunderan HI saja yang agak ramai. Itu pun karena air muncratnya dibuka lebar-lebar. Sebuah TV swasta nampak mengambil gambar. Jalan Diponegoro yang teduh, membuat mata makin mengantuk saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di perempatan Salemba ku lihat seorang ibu memapah dua anaknya yang bertelanjang kaki. Memelas dan menengadah bunga sosial dari pengendara. Beberapa gerombolan lain melakukan hal yang sama. Ada yang mengelap mobil, main ukulele. Kawasan yang sering terjadi bentrok mahasiswa ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada yang berubah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di sejengkal ingatan menelusur ke kawasan Tanah Merah. Tanah seluas 165 Ha lebih ini sudah lama menjadi sengketa antara negara dan warga. Letaknya persis bersebelahan dengan kawasan Kelapa Gading. Membandingkan Tanah Merah dan Kelapa Gading ibarat sebuah perbandingan bumi langit. Puluhan tahun hingga sekarang, keberadaan warga tanah merah tidak diakui negara. Mereka tidak diberikan hak kependudukan, apalagi hak-hak lainnya. Puluhan kali pula status kependudukan ini diusahakan. Namun hingga kini belum menuai hasil. Warga Tanah Merah umumnya bekerja di sektor informal. Tak kurang 16 ribu KK hingga kini tengah terkatung menunggu kepastian kependudukannya. "Kita ini ibarat hidup dinegeri orang lain" ujar Soegianto, tokoh masyarakat setempat trenyuh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di sebuah kantin makan, seorang petugas keamanan mengatakan kekecewaannya terhadap pemeritahan SBY. "Dulu di lingkungan saya semua pilih SBY. Kalau sekarang gak lagi deh" ungkapnya kesal sambil menyantap tempe goreng. "Gila barang-barang tetap mahal. Ongkos juga gak mau turun padahal BBM udah diturunin" ujarnya setengah jengkel. "Belum lagi ancaman PHK gila-gilaan". "Hidup rasanya kok gak tenang, padahal di negeri sendiri".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Seorang ibu merengek minta ditunjukkan jalan. "Naik dua kali Bu" ujarku singkat. "Wah saya gak mau naik angkot", mau jalan kaki aja. "Saya ada interview kerjaan hari ini" ujarnya gusar. "Sekarang cari kerja susah banget Mas". "Saya sudah jalan dari jauh kota". Rona matanya terlihat gelisah. Beberapa kali bahasa Tuhan meluncur dari mulutnya yang tak bergincu. Cemas. Ia lalu mengeluarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;handphone&lt;/span&gt;. Sejurus terdengar percakapan dengan orang di seberang sana. Entah benar entah sekedar pura-pura saja. "Saya ada indomie, adik mau beli gak? Tiga ribu aja" ujarnya menawarkan. "Buat ongkos deh". "GAK" jawabku sekenanya. Dari awal aku memang sudah agak curiga. Langkah cepat ia ambil seketika. Ku lihat di ujung sana ia bertanya kepada tukang ojek sepeda. Kadang aku merasa kasihan, tapi kadang jengkel juga ketika tahu belas kasihan itu hanya dijadikan topeng semata untuk mendapatkan beberapa rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Stasiun senen hari itu agak ramai. Riuh terompet lokomotif bersautan. Seorang teman sudah naik gerbongnya. Aku hanya menunggu menjelang ular besi itu meluncur ke Semarang. Seorang bapak bertopi berjalan di depanku. Ia berhenti. "Mau kemana Mas" tanyanya. "Cuma anter teman Pak" jawabku. Sejenak ia mulai ngerocos. Saya ini korban lapindo Mas. Rumah sudah tenggelam semua. Saya ke Jakarta mau ketemu saudara, eh malah dompet saya di curi orang. Gak tahu nih gimana pulangnya. Awalnya aku masih simpatik. Namun mendengar ceritanya yang sudah mulai gak karuan, aku bisa menyakinkan kalau orang ini hanya mencari belas kasihan saja. Dan benar saja. "Kasihan saya Mas, bisa minta duit untuk makan?" ujarnya tiba-tiba. "GAK ada Pak" jawabku ketus. Aku bukannya gak mau berbagi. Ingatanku melayang pesan seorang kawan: "Berbagilah dengan cara yang   mendidik". &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Perayaan tahun baru saja lewat. Harapan terjulang di dada. Harapan akan kebaikan dan perbaikan terhadap warga negeri ini.  Perayaan tahun baru tak ubahnya percikan kembang api yang segera habis setelah dipencarkan. Lenyap seketika. Benar mungkin, tak ada tahun baru, yang ada hanyalah hari berganti saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-7210807034626239599?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/7210807034626239599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=7210807034626239599&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7210807034626239599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7210807034626239599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2009/01/tak-ada-tahun-baru-yang-ada-hari.html' title='tak ada tahun baru, yang ada hari berganti saja!'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-3130683925449372275</id><published>2008-12-30T02:53:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T00:02:55.345-08:00</updated><title type='text'>Candi Jiwa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SVn-tZrtn0I/AAAAAAAAAhI/Qa9iUa1J6-A/s1600-h/P1150306.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SVn-tZrtn0I/AAAAAAAAAhI/Qa9iUa1J6-A/s320/P1150306.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5285535693637787458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SVn-tio2VzI/AAAAAAAAAhQ/g5g6-jfieYY/s1600-h/P1150348.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SVn-tio2VzI/AAAAAAAAAhQ/g5g6-jfieYY/s320/P1150348.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5285535696041695026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:georgia,times new roman,times,serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Penat kota mengantar kami serombongan ke pinggiran Karawang. Perjalanan panjang pun dimulai. Begitu keluar tol Karawang, suguhan sawah terhampar di sepanjang jalan. Candi Jiwa adalah tujuan kami. Candi Buddhis ini terletak di Batujaya, Karawang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-3130683925449372275?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/3130683925449372275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=3130683925449372275&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3130683925449372275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3130683925449372275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/12/candi-jiwa_30.html' title='Candi Jiwa'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SVn-tZrtn0I/AAAAAAAAAhI/Qa9iUa1J6-A/s72-c/P1150306.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-7014549716032860786</id><published>2008-12-25T17:08:00.000-08:00</published><updated>2008-12-25T17:10:01.966-08:00</updated><title type='text'>Greetings</title><content type='html'>SELAMAT NATAL &amp;amp; TAHUN BARU 2009.&lt;br /&gt;Semoga kedamaian menyebarluas di BUMI MANUSIA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-7014549716032860786?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/7014549716032860786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=7014549716032860786&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7014549716032860786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7014549716032860786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/12/greetings.html' title='Greetings'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-4449534280012490134</id><published>2008-12-24T02:42:00.000-08:00</published><updated>2008-12-24T02:46:55.741-08:00</updated><title type='text'>Selamat Hari Ibu</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Agak terlambat aku melihat tayangan siang itu. Di kotak ajaib terpampang seorang ibu, menggendong setengah menyeret anaknya. Rambutnya hampir semua berganti uban. Sepotong adegan itu lalu diikuti sebuah cuplikan judul, Tukirah. Rentetan wawancara dalam bahasa Jawa menyusul, tentu diiringi teks warna kuning. Dokumenter cerita itu terus mengalir. Ya Tukirah, dengan penuh kesabaran mengasuh ketiga anaknya yang mengalami kecacatan sejak lahir. Tanpa kenal lelah tentu. Mulai dari memandikan, menyuapi, hingga membantu anaknya ketika buang hajat. Jika dilihat, ketiga anaknya sudah dewasa dengan kumis menggelatung. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Bagi Tukirah, anak dengan segala kondisinya merupakan titipan yang di atas. Harus tetap disyukuri. Segenap waktu seluruhnya ia dedikasikan hanya untuk merawat ketiga anak-anaknya. Banyak yang memuji keteguhannya, namun tak jarang ada pula yang mencibir. Namun semua itu hilang dengan ketelatelannya dalam menjaga &amp;amp; membesarkan ketiga anaknya itu. Dengan keriangan seorang ibu, ia terus menemani anak-anaknya. Beruntung ia memiliki suami yang penuh perhatian. Suaminya, Samidan, seorang pendidik. Walau ia tak berpendidikan tinggi, namun ia memperoleh banyak pelajaran dari sang suami. Tukirah kadang merasa malu. Malu karena waktunya lebih banyak mengurus sang anak. Tugas sebagai istri akhirnya menjadi korban. Namun sang suami justru mendukung. Ia tidak pernah menuntut. Kadang kala pagi sebelum berangkat kerja sang suami tak sempat sarapan. Begitu sampai rumah, ternyata Tukirah juga belum sempat menyiapkan semuanya. Suaminya sangat mengerti dengan kondisi ini. Bagi Tukirah dan suami, anak-anak mereka adalah yang utama. Samidan tak pernah mau diistimewakan. Kadang kala, ketika makan, Tukirah mendahulukan sang suami, namun justru hal itu ditampik Samidan. Ia tak mau diistimewakan. Yang perlu diistimewakan adalah ketiga anaknya. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Walau terlihat teguh, ternyata Tukirah menyimpan kegundahan. Apalagi jika bukan ketakutan akan usianya. Ia takut jika kelak di panggil Yang Kuasa, siapa yang lantas mau menjaga anak-anaknya. . Ia justru berharap biarlah anak-anaknya dulu yang dipanggil.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Sebab menjaga anak dengan keterbatasan, tak hanya butuh kesabaran. Sentuhan seorang Ibu diyakini tak akan pernah tergantikan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Selamat hari Ibu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-4449534280012490134?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/4449534280012490134/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=4449534280012490134&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4449534280012490134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4449534280012490134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/12/selamat-hari-ibu.html' title='Selamat Hari Ibu'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-3884381988734484570</id><published>2008-12-11T19:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T01:49:28.075-08:00</updated><title type='text'>Buta Baca, Baca Buta</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sebuah pagi yang muram. Mendung sendu bertebaran. Tapi nyanyi burung terdengar riuh di pohon mangga. Hari itu sudah waktunya bayar pajak "si hitam". Niat hati bangun pagi, tapi rengek malas menggelayut. Agak siang akhirnya baru ku pacu "si hitam" ke samsat. Setengah jam sudah "si hitam" mengguncang badanku. Tiba jua akhirnya di kantor itu. Gedungnya tinggi, kokoh. Parkir motor sudah agak penuh. Wah coba kalau pagian dikit, pasti kebagian ditempat yang sejuk. Beberapa orang hilir mudik membawa berkas. Di sudut sana, kantin mulai ramai orang untuk mengganjal perut yang tak sempat sarapan. Di ujung berikutnya tukang foto kopi sibuk menerima order. Dengan gesit ia merobek lembar demi lembar dengan bekas plat nomor kendaraan. "Mas, habis ini kemana nih" tanya ibu muda. "Ya masukin aja tuh ke kantor sana" tunjuk seorang bapak di sebelahku. "Duh ribet nih kayaknya" timpal ibu muda ini. Dari gelagatnya bisa dipastikan ini adalah pengalaman pertamanya mengurus &amp;amp; membayar pajak. Tak berselang lama, selesai juga foto kopianku. "Semua 2.000 Mas" ujar tukang foto kopi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat detektor (entah berfungsi atau enggak) mencegat di pintu masuk. Beberapa orang berjaga-jaga waspada. Begitu masuk ternyata sudah ramai. Terlihat seorang polisi berpakaian resmi memakai selendang bertuliskan "Pemandu". Terlihat ada perubahan memang. Langsung saja mampir ke satu loket mengambil formulir pendaftaran. Sejurus aku sudah ditengah-tengah kerumunan orang mengisi lembaran kosong itu. Disana disediakan alat tulis, juga contoh lembar isian yang harus diisi. Aku bertemu lagi dengan ibu muda tadi. Lagi-lagi ia bertanya. "Ini gimana ngisinya Mas" ujarnya cemas. Hampir semua orang menjadi korban ketidaktahuannya. Padahal jelas-jelas disana tertulis jelas contoh pengisian formulir itu. Ternyata tidak hanya ibu muda ini saja yang bertanya. Seorang bapak tua juga bertanya hal yang sama. Belum lagi seorang anak muda berikutnya. Padahal disana semua sudah terpampang jelas. "Apa mereka tidak membaca ya?" pikirku. "Atau jangan-jangan mereka memang tidak bisa membaca?". "Masak hari gini masih ada orang gak bisa membaca sih?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatanku menerawang pada tulisan seorang teman di Bali. Karena sedang menggelar hajatan, tokonya tutup sementara waktu. Di depan toko jauh hari terpampang pengumuman kalau hari itu toko tidak buka. Namun apa lacur. Masih banyak saja orang datang menanyakan tokonya buka atau tidak hari itu. Sekali dua kali ia masih sabar memberi penjelasan. Tapi lama-lama ia jengkel juga. Dengan dongkol ia menyuruh membaca tulisan di depan toko setiap kali orang bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah berpacu menghindari jalan keriting sepanjang jl. Daan Mogot, aku termenung atas semua kejadian tadi. Ternyata banyak dari kita memang tidak pernah benar-benar melihat bacaan dengan baik. Lebih senang mendengar dan melihat daripada membaca. Lihat saja di bawah tanda dilarang parkir ternyata banyak pula mobil berjajar seenak hati. Tak heran banyak rumah di pintu tertulis: "SELAIN ANJING, DILARANG PARKIR DISINI".  Aku jadi teringat ketika masih SD, di setiap genteng rumah terpampang B3B, bebas tiga buta. Sebuah program mulia pemerintah kala itu. Salah satunya bebas buta aksara. So, jangan-jangan kita memang belum sepenuhnya B3B! Jadi kita masih saja mengalami buta baca.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-3884381988734484570?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/3884381988734484570/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=3884381988734484570&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3884381988734484570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3884381988734484570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/12/buta-baca-baca-buta.html' title='Buta Baca, Baca Buta'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-8233577874819195178</id><published>2008-12-03T00:53:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T01:22:39.501-08:00</updated><title type='text'>Siti Sumiyati: Bidan Apung Pulau Seribu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SUDYiYBZccI/AAAAAAAAAgw/OPpLTgXgnWs/s1600-h/periksa+pasien%EF%80%93.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 237px; height: 190px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SUDYiYBZccI/AAAAAAAAAgw/OPpLTgXgnWs/s320/periksa+pasien%EF%80%93.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278456848353685954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SUDYh1n_88I/AAAAAAAAAgg/clIFYab-n6g/s1600-h/periksa+pasien1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 193px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SUDYh1n_88I/AAAAAAAAAgg/clIFYab-n6g/s320/periksa+pasien1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278456839120352194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"Iya saya Ibu Sum" julur Ibu berkerudung coklat marun itu kepada kami. Usianya sudah 56. Bedak putih nampak tercecer di wajah yang mulai menua. Seragam PNS melekat di tubuhnya yang besar itu. Setelah menyempatkan kami duduk, ia terus memeriksa pasien. Ada yang sakit gatal, tapi kebanyakan ibu hamil. "Ibu jangan banyak makan garam ya, tensinya tinggi nih"semburnya kepada seorang ibu gembul. "Nanti harus sering periksa lagi ke sini ya" ujarnya sambil memberikan resep obat. Di ujung pintu periksa ia berteriak "Ayo siapa lagi". Seorang ibu tergopoh masuk ruangan dengan perut membuncit. Sementara di seberang sana, seorang lelaki tua teronggok di kursi menunggu giliran. Hiruk pikuk di pagi menjelang siang itu terasa di puskesmas Pulau Panggang. Hilir mudik petugas dan warga terlihat. Sesekali terdengar celotehan diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SUDYhH50dRI/AAAAAAAAAgQ/3uTjW67jXMQ/s1600-h/periksa+pasien3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 256px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SUDYhH50dRI/AAAAAAAAAgQ/3uTjW67jXMQ/s320/periksa+pasien3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278456826847065362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ibu Sum demikian bidan ini biasa disapa. Nama lengkapnya Siti Sumiati. Ia sudah bertugas sebagai petugas kesehatan di pulau sejak 1971. Itu artinya sudah 38 ia sudah berkeliling pulau seribu memberi pelayanan kesehatan. "Kalau bukan karena panggilan, sudah saya tinggalkan pulau ini jauh-jauh hari Mas" ujarnya membuka cerita. "Kalau dulu Ibu mah kemana-mana masih serba terbatas". "Kapal motor buntut deh pokoknya".  "Kalau sekarang sudah banyak kemajuan". "Ojek kapal juga sudah semakin banyak". "Jadi banyak banget perbedaannya". "Selain itu tenaga kesehatan sekarang juga sudah banyak". Hampir semua pulau yang ada di pulau seribu sudah ia singgahi. Termasuk Pulau Sebira yang harus ditempuh 7 jam kala itu. Namun sekarang cukup 2 jam dengan fasilitas speedboat puskesmas keliling. Seorang ibu membenarkan kiprah Ibu Sum. Ia yang kami temui di dermaga pulau pramuka bahkan mengatakan kelima anaknya yang lahir semua ditangani Ibu Sum. "Ibu Sum itu jasanya banyak banget untuk warga sini" ujarnya sambil menawarkan bungkusan ikan teri. "Hampir semua anak pulau sini, semua lewat tangan Ibu Sum" tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SUDYhu-q3gI/AAAAAAAAAgY/4ShvKYIunjs/s1600-h/periksa+pasien4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 256px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SUDYhu-q3gI/AAAAAAAAAgY/4ShvKYIunjs/s320/periksa+pasien4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278456837336391170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Meski sudah memasuki masa pensiun, namun jasa Ibu Sum masih dibutuhkan warga. Untuk itu pemerintah memperpanjang masa pensiunnya. "Ibu sebenarnya sudah mau istirahat, tapi gimana lagi?" "Ya sudah dinikmati saja" ujarnya. Dalam setiap memeriksa pasiennya, ia selalu mewanti-wanti untuk menjaga pola makan. Maklum sebagian besar pasiennya memang ibu hamil. "Mereka itu kan riskan, jadi mesti benar-benar menjaga pola makan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Sum sebenarnya ditugaskan sebagai bidan di kecamatan. Namun karena kecamatan yang ditunjuk tidak memiliki kantor, ia akhirnya "membantu" di puskesmas pulau Panggang. Tenaganya di pulau terpadat ini justru dirasa banyak warga. "Ibu Sum itu cekatan kalau periksa"ujar Susanti seorang warga. "Memang orangnya bawel, tapi ya memang begitulah orangnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hari Ibu Sum menyebrang ke Pulau Panggang dari rumahnya di Pulau Pramuka. Semua itu ia lakukan atas nama kemanusiaan. "Sehari saja saya tidak masuk, wah besokannya bakalan antri tuh warga" ujarnya terkekeh. "Maklum kadang saya harus pergi untuk banyak urusan. Hampir semua pelatihan saya ingin selalu terlibat". "Sebab pendidikan saya memang tidak tinggi". "Biar begitu saya harus terus mengasah diri biar tidak tertinggal". Atas semua jerih payahnya itu ia di ganjar penghargaan dari WHO sebagai penyelamat ibu melahirkan. Ini karena angka kematian ibu melahirkan di pulau Panggang dan sekitarnya nol persen. Artinya tidak terjadi kematian ibu ketika melahirkan. Ia diundang untuk datang di Glasgow, Skotlandia untuk menerima penghargaan itu Juni lalu. "Dari Indonesia cuma saya lho" ujarnya bangga. "Selain saya, yang dapat penghargaan dari Kuba".  "Seumur-umur ini pengalaman paling berharga". "Selain bisa ke luar negeri, banyak juga ilmu yang bisa ditimba".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali Ibu Sum juga diundang untuk berbagi pengalaman dengan bidan-bidan muda. Ia selalu menekankan bahwa menjadi tenaga kesehatan itu adalah panggilan kemanusiaan, bukan untuk mencari material semata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-8233577874819195178?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/8233577874819195178/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=8233577874819195178&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8233577874819195178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8233577874819195178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/12/siti-sumiyati-bidan-apung-pulau-seribu.html' title='Siti Sumiyati: Bidan Apung Pulau Seribu'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SUDYiYBZccI/AAAAAAAAAgw/OPpLTgXgnWs/s72-c/periksa+pasien%EF%80%93.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-7043055435911784657</id><published>2008-11-26T02:18:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T04:43:44.156-08:00</updated><title type='text'>PKBM Pelita: Penerang Warga Pelosok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS1DSAJbbXI/AAAAAAAAAf4/SENauFRJ1MU/s1600-h/P1140417.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 228px; height: 171px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS1DSAJbbXI/AAAAAAAAAf4/SENauFRJ1MU/s320/P1140417.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272944715276971378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sambil menggendong&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; anaknya, Ibu Uum menggerakkan pensil di tangan. Tak sedikit rasa lelah. Dengan tekun ia mengikuti instruksi dari tutor hari itu. Satu persatu huruf ia rangkai membentuk sebait kata&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; dan kalimat. Sesekali ia menenangkan anaknya yang mulai rewel&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; kepanasan. Kadang ia harus bangkit dari kursi. Sekedar membuat tenang sang anak. Ibu Uum, satu dari sekian peserta belajar kejar paket A. Sore itu, ruang kelas itu penuh sesak warga belajar. Di bangku yang lain, seorang anak terlelap di dekapan ibunya. Sementara sang ibu terus mencatat. "BERSIH ITU CERDAS". Itu yang tergores di papan tulis. Kelas ini satu dari beberapa kelas yang di buka PKBM Pelita. Selain kejar paket A, disini pula dibuka kejar paket B. Berpusat di desa Kadudampit, Kec. Saketi, Pandeglang, PKBM ini tak hanya menyelenggarakan kejar paket. Di kompleks PKBM ini juga tersedia ruang belajar bagi PAUD (anak usia dini), bimbingan al-quran, kelas memasak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;life skill&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS0-M25DjKI/AAAAAAAAAfw/6lX4gCONXSw/s1600-h/P1140357.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 178px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS0-M25DjKI/AAAAAAAAAfw/6lX4gCONXSw/s320/P1140357.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272939129334893730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Adalah Ahmad Suhaery, seorang putra daerah yang menggagas PKBM ini. Alumni UPI Bandung ini prihatin melihat kondisi pendidikan warganya. "Sekitar 60% dari jumlah warga sini hanya tamatan SD". "Penduduknya banyak yang bekerja sebagai buruh tani. Upahnya pun cuma Rp 10.000,- per hari. Sebagian lain merantau dengan berbagai pekerjaan."ujarnya. Sambungnya, seluruh kegiatan ini tidak dipungut biaya. "Semua masih saya usahakan sendiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; dibantu teman-teman"ungkapnya. "Belum pernah ada bantuan dari pemerintah". "Saya tak pernah memaksa mereka untuk ikut". "Ini semua atas kemauan mereka sendiri". "Mungkin karena banyak diantara mereka yang melamar pekerjaan di Jakarta hanya mengandalkan keahlian bela diri. Eh tak tahunya tanpa ijasah mereka tidak bisa melamar pekerjaan" ungkap bapak dua anak ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS1DSioai7I/AAAAAAAAAgA/MQNLpONmx4A/s1600-h/P1140363.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 191px; height: 143px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS1DSioai7I/AAAAAAAAAgA/MQNLpONmx4A/s320/P1140363.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272944724533742514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sambungnya, pendidikan itu harus berkelanjutan. Artinya tak hanya sebatas pada ijasah saja. Kemampuan mereka pun harus ditingkatkan. Makanya program &lt;span style="font-style: italic;"&gt;life skill &lt;/span&gt;juga digagas. Dengan memanfaatkan sumber yang ada, akhirnya diputuskan untuk membuat emping. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Maklum disekitar rumah warga memang banyak pohon melinjo. Ibu-ibu diberdayakan per kelompok. Mereka bekerja di rumah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS1DSxyk4mI/AAAAAAAAAgI/Lm4VjTx8Eos/s1600-h/P1140370.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 191px; height: 143px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS1DSxyk4mI/AAAAAAAAAgI/Lm4VjTx8Eos/s320/P1140370.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272944728602894946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;masing-masing tanpa harus meninggalkan anak-anaknya. Sementara kegiatan belajar tetap disesuaikan aktivitas. Jangan sampai pekerjaan terganggu jam belajar. "Makanya jam belajar ini pun masyarakat sendiri yang memutuskan". Jelas, penghidupan dapat, demikian pula pendidikan. Semua diserahkan kepada warga belajar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Asep Muhammad Natsir, seorang warga belajar kejar paket B mengatakan ingin segera punya ijasah. Dengan begitu ia berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Ami, peserta lain,  yang belajar bersama dengan ibunya yang sudah sepuh mengatakan pengen lancar membaca dan menulis. "Biar anak saya ketika bertanya soal PR saya bisa membantu. Nanti kalau gak tahu, saya diketawain anak-anak"ujarnya. "Harapan saya belajar ini semakin maju, meski saya semakin tua. Cari ilmu kan boleh sampai tua kan".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ahmad Suhaeri yang akrab dipanggil Ade berharap, PKBM ini bisa segera mandiri. "Target saya, tahun 2009 PKBM ini sudah sepenuhnya dikelola masyarakat. "Dari, oleh, dan untuk masyarakat itu prinsipnya" tegasnya. Sebab ia berkeinginan mengembangkan PKBM sejenis di tempat lain. Sebuah niat yang sangat mulia. Di tengah dunia pendidikan kita yang masih agak gelap, tentu pelita-pelita yang dinyalakan Ade semoga bisa memberi terang benderang ke pelosok negeri ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(foto by Irena)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-7043055435911784657?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/7043055435911784657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=7043055435911784657&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7043055435911784657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7043055435911784657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/11/pkbm-pelita-penerang-warga-saketi.html' title='PKBM Pelita: Penerang Warga Pelosok'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS1DSAJbbXI/AAAAAAAAAf4/SENauFRJ1MU/s72-c/P1140417.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-9066312517969042917</id><published>2008-11-24T01:30:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T02:16:18.589-08:00</updated><title type='text'>Harga Sebuah Stempel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS0h4FqFiZI/AAAAAAAAAfo/vc2oug6S9ek/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 110px; height: 136px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS0h4FqFiZI/AAAAAAAAAfo/vc2oug6S9ek/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272907986195810706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Pagi itu jam tanganku  belum lama beranjak dari angka sembilan. Suasana lalu lintas sudah mulai ramai. Tapi kantor kelurahan Duri Kosambi masih agak sepi. Meski di dalam ternyata sudah banyak warga yang mengantri mengurus berbagai surat. Di temani kakakku, hari itu aku bermaksud mengurus beberapa surat. Maklum, negara ini memang tak pernah lepas dari soal birokrasi. Di dalam kantor yang berasap karena rokok itu, ada seorang ibu yang mengurus surat domisili. "Untuk buka rekening Pak" jawabnya ketika di tanya petugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang juga tampak menunggu giliran. Dengan berbagai keperluan mereka datang. Tak menunggu lama, akhirnya giliranku tiba. "Pak ini surat pengantarnya dari RT" ujarnya sambil menyerahkan secarik kertas putih. "Ya pokoknya bikin sesuai surat  pengantar ini Pak" pintaku. Bunyi mesin printer terdengar ditengah keheningan pagi itu. Berharap segera selesai semua urusan ada di kepala barisan antrian. "Pak Lurah lagi ke wali kota" ungkap seorang petugas. "Wah berarti gak bisa selesai dong hari ini" timpal seorang bapak. "Tapi biasanya sih sekretaris lurah udah bisa kok Pak" hiburnya. "Duh hampir saja umpatan aku lontarkan". Beruntung urusan pagi itu di kelurahan cepat selesai. Tanpa ba bi bu, sekretaris lurah yang masih muda membubuhkan tanda tangan satu per satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendung tebal menggelayut di luar. Lalu lalang kendaraan makin padat saja. Jalanan ternyata sudah agak gerimis. Motor, gerobak, mobil saling bertarung merebut jalan. Klakson menggema dimana-mana. Tiba saatnya setelah kelurahan, kantor kecamatan yang harus dituju. Ini pengalaman pertama. Maklum tak pernah sekalipun aku berurusan dengan kantor ini. Suasana pagi itu sepi sekali. Beberapa pegawai tampak baru datang. Pelampung dan persiapan banjir teronggok di sudut kantor kecamatan yang agak lusuh. Tiba di lantai dua. Setelah menyerahkan berkas kepada seorang pegawai, segera ku istirahatkan badanku. Di bangku itu kudapati seorang ibu menunggu cap untuk mendapatkan gakin dari rumah sakit. Orangnya sudah paruh baya. Suaminya terkena vonis prostat di rumah sakit. Di seberang sana, beberapa pegawai kecamatan sibuk baca koran. Ada yang ngobrol. Ada yang bawa map kesana-kemari. Ada yang mengumpulkan uang untuk beli gorengan. Sangat kontras dengan kegelisahan Ibu ini. "Ibu sudah lama?" tanyaku. "Sudah Mas, tapi saya tak tahu juga kok lama begini". "Padahal kayaknya ya gak rame-rame amat ya". "Yah sabar deh Bu" hiburku. Setengah jam sudah berlalu. Akhirnya panggilan itu datang juga. "Saya duluan ya Mas" pamitnya. "Iya Bu silahkan". Tak kurang lima belas menit, namaku akhirnya di panggil. "Mas ini ada biaya untuk bulan dana PMI". "Masing-masing 5000, jadi semua 10.000". Kaget bukan kepalang. Padahal disana tercetak jelas bahwa satu kwitansi bulan dana PMI itu hanya 1.000. Seribu. SE-RI-BU. Dengan berat hati akhirnya kuikuti kemauan pegawai berkerudung itu. Aku yakin Ibu tadi juga kena jumlah yang sama. Jumlahnya mungkin memang tidak banyak. Tapi jika dikalikan dalam sehari saja, potensi korupsi dana PMI di kecamatan ini sangat besar. Ini baru satu kecamatan. Kalikan saja dengan jumlah kecamatan di Jakarta. Maskud PMI yang  mulia, ternyata masih saja dikotori oleh tangan-tangan tak bermoral. Jika kwitansi dana PMI saja di korupsi, gimana dengan proyek yang lain. Sebuah harga stempel yang mahal tentunya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-9066312517969042917?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/9066312517969042917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=9066312517969042917&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/9066312517969042917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/9066312517969042917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/11/harga-sebuah-stempel.html' title='Harga Sebuah Stempel'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SS0h4FqFiZI/AAAAAAAAAfo/vc2oug6S9ek/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-7670935662380748017</id><published>2008-11-19T00:47:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T00:55:33.130-08:00</updated><title type='text'>Darah Juang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Karena suatu keperluan, seorang teman memperlihatkan beberapa "lagu kiri" beberapa waktu lalu. Semua terasa asing di telingaku. Aku sendiri waktu mahasiswa tak pernah menyanyikan lagu ini. Maklum, ketika itu, demonstrasi sudah agak jarang. Dari total lagu yang disodorkan, lagu Darah Juang, yang paling menarik hati.  Walau sudah agak lama, tapi apa yang ada di lirik lagu ini benar-benar masih terasa . Intinya sebuah pertanyaan besar dari mahasiswa terhadap keadaan negeri ini. Bagaimana pemerintah yang bobrok dan brengsek. Bagaimana tidak. Negara yang kaya raya, melimpah semua bahan alam, tapi dimana-mana rakyatnya kelaparan. Rakyatnya sengsara. Bagaimana bisa, negara penghasil minyak, tapi dimana-mana rakyat mengantri minyak. Negara kaya, namun rakyat terjepit kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu Darah Juang adalah lagu perjuangan mahasiswa Indonesia yang lahir di era reformasi sejak menjelang jatuhnya orde baru. Lagu ini karangan aktivis John Sonny Tobing, Ketua KM UGM pertama, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM sekitar 1990. Lirik lagu ini dikerjakan bersama Andi Munajat (Fakultas Filsafat UGM). Lagu ini kemudian menjadi ikon perjuangan setiap demonstrasi  mahasiswa di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya lagu ini sampai sekarang masih tetap terasa semangatnya. Di tengah carut marut negeri, tak jua ada perubahan mendasar dari reformasi. Hidup makin sulit. Bahkan banyak banyak rakyat yang terusir di tanah sendiri. Negara masih belum berhasil mensejahterakan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah Juang&lt;br /&gt;Di sini negeri kami&lt;br /&gt;Tempat padi terhampar luas&lt;br /&gt;Samuderanya kaya raya&lt;br /&gt;Tanah subur kami Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Negeri permai ini&lt;br /&gt;Berjuta rakyat bersimbah luka&lt;br /&gt;Anak kurus tak sekolah&lt;br /&gt;Pemuda desa tak kerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terampas haknya&lt;br /&gt;Tergusur dan lapar&lt;br /&gt;Bunda relakan darah juang kami&lt;br /&gt;Tuk membebaskan rakyat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padamu kami berjanji&lt;br /&gt;Padamu kami berbakti&lt;br /&gt;Tuk membebaskan rakyat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;(dari beberapa sumber)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-afe83549087ac112" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v24.nonxt3.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dafe83549087ac112%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330186087%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D3F001BD3812BED8C0BCBAAF963D54864390BD379.7530E3E0CD0A163E82F345862DB3758EF0FE8EBC%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dafe83549087ac112%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DP39ik_peGBUbIrHKV5bDKUSQZFU&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v24.nonxt3.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dafe83549087ac112%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330186087%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D3F001BD3812BED8C0BCBAAF963D54864390BD379.7530E3E0CD0A163E82F345862DB3758EF0FE8EBC%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dafe83549087ac112%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DP39ik_peGBUbIrHKV5bDKUSQZFU&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-7670935662380748017?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='video/mp4' href='http://www.blogger.com/video-play.mp4?contentId=afe83549087ac112&amp;type=video%2Fmp4' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/7670935662380748017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=7670935662380748017&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7670935662380748017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7670935662380748017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/11/darah-juang.html' title='Darah Juang'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-2611876807165692641</id><published>2008-11-13T00:18:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T23:34:42.574-08:00</updated><title type='text'>Prof: Komaruddin Hidayat: Indonesia  Proyek Masa Depan yang Belum Selesai.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SSUSvpx5vaI/AAAAAAAAAfg/mPJ-IJxPUSE/s1600-h/2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 113px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SSUSvpx5vaI/AAAAAAAAAfg/mPJ-IJxPUSE/s200/2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270639548785343906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tonggak kebangkitan bangsa Indonesia mencapai seabad tahun ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam proses kebangkitan itu tak terpungkiri peran kaum muda. Disela-sela kesibukan yang padat dalam rapat majelis rektor di Hotel Atlet Century, Prof. Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Islam Nasional Jakarta, yang biasa disapa Komar mengungkapkan penilaiannya tentang kebangkitan nasional ini kaitannya dengan peran kaum muda. Berikut petikan wawancaranya: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tonggak panjang kebangkitan Indonesia sudah ditancapkan kaum muda.  Seberapa penting Bapak melihat peran kaum muda dalam melakukan perubahan?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bagi saya persoalannya bukan tua atau muda ya, tapi sebuah kesadaran bersama bahwa yang namanya Indonesia itu sebuah proyek masa depan. Proyek politik, kebudayaan, sebagaimana dicita-citakan oleh semangat proklamasi. Jadi Indonesia bukan warisan masa lalu yang sudah jadi, sudah selesai, tapi ini sebuah proyek masa depan. Nah kesadaran ini yang semestinya harus dimiliki oleh komponen-komponen bangsa, tidak peduli tua atau muda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tidak hanya tua muda saja ya Pak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SSUSvkFgFXI/AAAAAAAAAfY/_gd9LmQHEyE/s1600-h/1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 113px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SSUSvkFgFXI/AAAAAAAAAfY/_gd9LmQHEyE/s200/1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270639547256935794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Iya, jadi tidak ada tua muda. Tua muda itu kan pengaruh struktural dalam rumah tangga kecil, orang tua meninggal lalu digantikan muda. Tapi kalau ke-Indonesiaan itu, hemat saya sebuah agenda besar yang harus disadari bersama. Bahkan sejak anak SD pun harus sadar tentang Indonesia lewat &lt;i&gt;civic education,&lt;/i&gt; mahasiswa, termasuk orang tua. Jadi kesadaran bahwa Indonesia itu proses sejarah, budaya, yang belum selesai ini harus menjadi kesadaran bersama baik tua maupun muda, parpol, perguruan tinggi, businessman,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ini harus menyadari bersama.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nah yang kedua bagaimana kita itu memperkuat dari &lt;i&gt;etnic group&lt;/i&gt; menjadi &lt;i&gt;etnic nation&lt;/i&gt; tetapi lebih dari &lt;i&gt;etnic nation&lt;/i&gt; tetapi &lt;i&gt;civic nation&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi kalau sekarang kan &lt;i&gt;etnic group&lt;/i&gt; itu masih kuat ya, itu malah belum sampai. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah &lt;i&gt;etnic nation&lt;/i&gt; tapi pelan-pelan ini menjadi Indonesia, dari &lt;i&gt;etnic-etnic&lt;/i&gt; menjadi Indonesia, Indonesia yang tetap melindungi identity etnic tapi diperkuat dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;diikat oleh &lt;i&gt;civic values&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Makanya &lt;i&gt;civic education, education of citizenship&lt;/i&gt; ini penting. Disitu apa kontennya? Misalnya tentang &lt;i&gt;human dignity,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;respect others&lt;/i&gt;, demokrasi, etos kerja, menghargai ilmu pengetahuan, kesadaran tentang modernitas, kesadaran globalitas, nah yang begini-begini harus disadari dan diimplementasikan. Jadi kita tetap menghargai melindungi warisan &lt;i&gt;etnic-etnic, local wisdom&lt;/i&gt; dalam satu pilar, satu bingkai &lt;i&gt;civic nation&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;Tapi pada kenyataannya sekarang ini yang dominan malah lebih etnic group – dalam bentuk primordialisme itu Pak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Itu memang tidak bisa dihilangkan ya kedaerahan itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Primordial itu kan artinya begini. Sesuatu yang kita terima sebelum lahir, itulah primordial. Saya terlahir laki-laki itu kan primordial. Saya terlahir sebagai orang Jawa itu primordial. Saya terlahir sebagai orang Islam itu kan primordial. Dan itu gak bisa dihilangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tapi itu bukannya yang sekarang dikedepan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Nah persoalannya itu sekarang dikasih tempat tapi kemudian nilai-nilai primordial yang bagus itu, seperti &lt;i&gt;local genius, local wisdom&lt;/i&gt; itu dikembangkan di angkat sebagai &lt;i&gt;civic values&lt;/i&gt; tadi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Karena kita gak mungkin akan menghilangkan &lt;i&gt;identity&lt;/i&gt; keluarga, etnis. Untuk masa depan mungkin saja, tapi kapan?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Itu tidak bisa dielakkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mengingkari itu sama saja dengan mengingkari realitas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tapi tetap saja maksudnya sifat kedaerahan itu yang lebih menonjol jika dibandingkan nation itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pertanyaannya kan bagaimana dan mengapa itu terjadi? Karena apa ya? Ketika pendidikan semakin menguat, &lt;i&gt;law enforcement&lt;/i&gt; juga berjalan, lapangan kerja berkembang dengan baik. Hemat saya secara alami yang namanya keIndonesiaan itu akan terwujud. Dan secara alami sesungguhnya proses ke arah Indonesia itu berlangsung tanpa teriak-teriak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Generasi anak saya saja sudah menjadi anak indonesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya sudah lintas suku, istri saya. Anak saya sudah lintas lintas suku lagi. Jadi kalau saja pendidikan itu maju lapangan kerja terbuka itu secara alami akan menguat ke arah sana, di kalangan eksekutif sesungguhnya sudah terjadi. Cuma yang menjadi sorotan kita kan ngomong politik, parpol, padahal realitas lebih dari itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kembali soal peran kaum muda, seberapa pentingkan peran mereka dalam melakukan perubahan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di Indonesia sesungguhnya jumlah lapisan muda ini sangat besar dibanding di Jepang. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Disana yang tua itu banyak. Di Indonesia ini muda itu kuat sekali. Nah kalau saja pendidikan itu bagus…..Sebuah negara yang bagus itu kan kalau pilar-pilarnya itu saling bekerja sama. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Misalnya pilar pendidikan, pilar ekonomi industri, pilar masyarakat, parpol, pilar birokrasi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masing-masing itu kan sebuah pilar untuk membangun bangsa kan. Jadi kalau masing-masing ini dunia pendidikan, dunia industri, dunia politik dan birokrasi itu punya spirit dan diikat dengan spirit keindonesiaan dengan &lt;i&gt;civic values&lt;/i&gt; dengan patriotisme yang inklusif maka diharapkan terjadi satu proses akomodasi dan sekaligus ruang bagi setiap generasi yang tumbuh. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di birokrasi terjadi peremajaan, sosial politik terjadi, yang lain terjadi, itu alami saja. Ibarat satu taman ya sesungguhnya itu kan alami saja. Ketika yang atas itu tidak nutupin. Nah kalau di alam malah alami sekali itu tumbuh. Sedangkan di Indonesia proses regenerasi agak terhenti kemarin itu ya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Apa penyebabnya menurut Bapak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sesungguhnya jaman Pak Harto banyak anak-anak muda yang diakomodir.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Di sektor-sektor industri, birokrasi itu kan banyak anak-anak muda. Banyak sekali. Hanya kemarin itu karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;regenerasi kepemimpinan nasional saja yang terhambat sehingga mengganggu yang lain. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jadi karena kepemimpinan nasional itu terganggu, maka kemudian seakan-akan tua melulu. Padahal yang muda juga tumbuh. Sekarang ini misalnya Pak Harto itu kan lama sementara kemudian sekarang juga masih pemain lama walau yang maju ini muda, seakan-akan yang muda gak dapat kesempatan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena kita hanya ngomong dimensi itu. Tapi di kampus, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;regenerasi berjalan. Di sektor ekonomi, anak-anak muda tumbuh semuanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Saya dimana-mana ketemu anak muda. Banyak. Cuma kalau kita ngomong muda kita itu kaitannya kan vertikal politik saja.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gubernur banyak yang muda-muda. Bupati muda-muda. Problem kita kan bukan muda atau tua., problem kita kan bagaimana manajemen aset bangsa, pemberdayaan aset bangsa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Jadi begitu penting kaum muda Pak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Bagi saya tidak dikotomi kok.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Itu alami. Persoalan kita kan bagaimana pemimpin nasional me-&lt;i&gt;manage &lt;/i&gt;aset bangsa. Gak peduli tua muda, karena tua muda itu alami kok.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mau dilarang-larang pun tidak bisa. Kaum muda itu alami dimana pun gak bisa dibendung. Wong orang tua juga akan mati kok. Jadi makanya saya gak begitu hanyut tertarik untuk membuat dikotomi tua muda karena itu alami. Yang diperlukan itu adalah manajemen aset bangsa, misalnya manajemen sumber daya alam, manajemen penduduk, manajemen apa, sehingga kemudian potensi bangsa ini optimal. Dimana pun banyak anak muda. Kecuali di beberapa tempat ada yang tua. Tapi mereka akan berapa lama sih orang tua itu bertahan? Ya kalau sekarang yang tua, ya yang muda konsolidasilah nanti 2014 sudah siap.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ngapain &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;ribut-ribut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Tapi kalau menurut bapak sampai sekarang kita masih kesulitan me-&lt;i&gt;manage&lt;/i&gt; aset bangsa itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bukan kesulitan ya. Problemnya itu adalah bahwa kemarin itu ada satu kader-kader negarawan yang bagus-bagus, yang ketika Pak Harto kuasa itu tidak diberi peran distribusi, tidak ada pemerataan peran karena sentralisasi. Ini kan ekses dari sentralisasi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau di dunia bisnis sudah terjadi. &lt;i&gt;Don’t put your egg in the same basket.&lt;/i&gt; Jangan menaruh telur di keranjang yang satu. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebab kalau ini pecah akan pecah semuanya.&lt;i&gt; Bussinessman&lt;/i&gt; sekarang kan dipecah-pecah kan. Kalau ini jatuh ini ada gantinya, karena ini semua ter-&lt;i&gt;inter connected work&lt;/i&gt;. Nah dulu ketika Pak Harto itu harusnya sudah banyak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sehingga ketika Pak Harto turun tidak terjadi keributan dimana-mana. Kan itu saja problemnya. Jadi dia tidak meng-&lt;i&gt;grooming&lt;/i&gt; negarawan yang bagus-bagus, yang pinter-pinter. Jadi ada satu &lt;i&gt;missing&lt;/i&gt; generasi yang bagus-bagus yang dianggap saingan Pak Harto kemudian disingkirkan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Akibatnya kemudian kita krisis manajemen aset. Kalau sumber daya manusia kita banyak banget. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kalau sekarang masih terjadi krisis manajemen aset itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ya kita masih kedodoran sampai saat ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Karena pemerintah sekarang kan masih belum efektif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Gak efektif. Karena sistemnya yang ditinggalkan itu begitu berantakan, tidak sistemik.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini bedanya negara-negara yang dulu pernah ada transfer &lt;i&gt;skill management british&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;British&lt;/i&gt; itu kan ketika dia meninggalkan negaranya itu ada transfer manajemen. Manajemen &lt;i&gt;skill, knowledge.&lt;/i&gt; Jadi bangunannya itu pilar-pilarnya terpelihara kan. Tapi ketika Belanda itu kan dihancurkan, tidak boleh pinter, dua-duanya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang menguasai itu kan VOC kan. Bukan pemerintah Belanda. Kamar dagangnya kan. Kita kan dibuat bodoh lalu kita melawan. Begitu merdeka itu juga terjadi satu &lt;i&gt;fragmented of power&lt;/i&gt;, di Sumatera ada, di Jawa ada, disini ada, ini kan butuh waktu. Jadi fragmentasi politik itu disamping karena lingkungan sosial budaya yang begitu pluralistik juga tradisi yang berontak dan itu butuh waktu lama. Lalu kemudian Bung Karno itu tidak tuntas menyelesaikan, dia sendiri merupakan skenario,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;awalnya Pak Harto juga melupakan, jadi seakan-akan kita ini bangsa yang belajar-belajar terus.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Itu hemat saya terpengaruh. Kita itu mendapat warisan sistem yang belum mapan. Ini yang kemudian tidak efektif dalam me-&lt;i&gt;manage &lt;/i&gt;sampai sekarang.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Nah kita harapkan kalau toh SBY ini turun ini kan presiden pertama yang mengikuti sistem kan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Yang lain kan enggak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang lain gak sesuai dengan sistem. Karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita belum mapan sistemnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kalau menurut bapak kapan sistem kita &lt;i&gt;settle?&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ya sekarang sudah benar. &lt;i&gt;On the right track&lt;/i&gt;. Asal kita bersabar dengan demokrasi saja sudah benar.. Demokrasi butuh kesabaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tapi banyak yang gak sabar nih Pak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ya itu resikonya. India sabar sekali. Ongkosnya mahal. Tapi kan akhirnya ada stabilitas kan. Berapa tahun India demokrasi? Berapa puluh tahun? Lama kan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi dia terus…..jadi kalau seandainya kita bisa sabar dengan demokrasi ini, yang tua&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang muda harus diingatkan terus. Jangan berpikir sesaat. Saya pikir&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kita pasti belajar dari proses ini.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; Misalnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memilih pemimpin. Partai nanti yang tidak baik pasti akan berguguran kan, sehingga lama-lama akan mati. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Sabar itu bukannya ada batasnya pak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Sabar itu kan kita jangan lupa dengan tujuan. Walaupun ada problem seperti apa kita &lt;i&gt;commited&lt;/i&gt; menjaga martabat demokrasi, nilai-nilai kejujuran. Apapun tantangannya kita &lt;i&gt;commited&lt;/i&gt; dan sabar. Jadi kalau kita &lt;i&gt;commited&lt;/i&gt;….yang diperlukan kan bangsa yang memiliki komitmen cita-cita kemerdekaan. Jadi siapapun pemimpinnya kalau punya komitmen itu saya optimis. Bahwa sekarang kelihatannya amburadul itu bagian dari ongkos perjalanan. Seperti ongkos sekolahlah. Tapi selama sabar pasti ada hasilnya. Dan rakyat lama-lama kan juga belajar. Kalau terjadi demitologisasi simbol-simbol primordial, entah itu agama, figur kharismatik atau apa itu kan terjadi proses demitologisasi kan. Artinya apa? Rakyat itu sekarang semakin kritis dan rakyat semakin terbuka partisipasinya. Ini sehat. Ini demokrasi. Walau kalau pemilu banyak yang golput, nanti lama-lama partai kan juga belajar dari golput ini. Itu kalau tidak memilih itu ya salahmu sendiri kalau nanti ada pemimpin yang gak bagus. Kalau anda mau mencari pemimpin yang nilainya 10 ya mimpi dong. Gak ada dong. Kalau memang ada 6 atau 5,5, daripada gak memilih. Tapi ini kan proses demokrasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Perubahan besar di negeri ini seperti Boedi Oetomo hingga Reformasi 1998 juga digerakkan kaum muda. Namun ketika kaum muda terlibat bahkan duduk di tampuk kekuasaan, mereka seolah tak terdengar lagi suara lantangnya. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apa ada yang salah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Peran pemuda itu menguat ketika institusi belum mapan dan pendidikan belum maju. Dulu jaman kemerdekaan ya yang paling pinter ya mahasiswa. Tahun 65 juga mahasiswa, pemuda, tapi ketika institusi mapan, sistem mapan maka kekuatannya bukan lagi sama pemuda. Tapi pada gagasan dan institusi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Di Jepang yang mapan kan tua-tua kan bukan yang muda-muda. Di Amerika sistem sudah mapan, jadi siapapun yang punya pikiran dan gagasan misalnya Obama bisa saja. Tapi McCain bisa juga meski tua. Kekuatannya bukan tua atau muda kan, kekuatannya tetap pada satu tawaran-tawaran pikiran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Iya, tapi jika melihat kaum muda ketika di luar parlemen suaranya sangat lantang, Namur ketika di dalam parlemen tidak terdengar lagi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Artinya yang membuat sistemnya kan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketika sistemnya bagus mau tua atau muda dia akan terbawa.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Misalnya namanya pemuda, mahasiswa, nah sekarang kan ada s3, namanya mahasiswa…..lha mahasiswa umur berapa? Kalau dulu mahasiswa s1 boleh dong, nah kalau sekarang kan gak cukup. Muda atau tua itu yang penting gagasan dan kedewasaan sebuah sistem. Makanya kalau ingin memperbaiki sistem di perbanyak orang yang baik-baik yang bisa merubah. Kalau sendiri berat. Sendiri bisa saja menjadi tukang peluit kebakaran. Dan itu sudah terjadi kan. Ada beberapa anggota DPR ketika dia teman-temannya terima uang dia terima uang, sebab kalau tidak terima akan dikucilkan. Tapi diserahkan ke KPK. Dari situ kemudian terbongkar yang lain. Ada beberapa anggota DPR yang saya tahu. Jadi walau sedikit pun ternyata ada peran kalau memang ada komitmen.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jadi dia terima kemudian dari situ dia pulangkan. Memang belum banyak, syukur-syukur bisa banyak.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jadi kalau sedikit itu agak beratlah tapi itu pun sudah mulai. Jadi DPR yang punya komitmen ternyata diam-diam entah formal maupun informal sudah memulai. Sekarang sudah agak lumayan. Saya tahu ada beberapa orang, karena komitmen bisa berubah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Tahun ini kita memperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Apa bangsa kita sudah benar-benar bangkit?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Ya sebenarnya bangkit itu ukurannya apa sih? Kebangkitan sadar dari penjajahan, ya kita sudah bangkit, karena itu menyangkut harga diri ya. Ya dulu ketika melawan Belanda itu kan sebuah kesadaran untuk berubah dan itu harus dihargai dong.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Luar biasa. Nyawa taruhannya lho. Nah kalau sekarang ada penjajahan baru sadar atau tidak itu lain persoalan. Tapi pada jamannya kan luar biasa. Nyawa taruhannya. Diponegoro, Imam Bonjol, yang lain-lain, jangan dianggap ringan itu. Itu mata rantai dari pengorbanan batu bata dari bangsa ini. Berkah kesadaran perlawanan pengorbanan. Jaman Kartini mungkin hanya dalam bentuk tulisan. Itu juga sudah suatu kebangkitan untuk tulisan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lalu menyatakan merdeka itu suatu kebangkitan. Itu hanya berapa orang saja di Pegangsaan. Sementara yang lain mungkin lagi minum-minum dengan Belanda, itu hanya sekelompok orang. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dan saya kagum sekali. Jadi kebangkitan itu jelas. Hanya saja kemudian dalam konteks global tantangan diluar tenyata berkembang. Ada globalisasi, kapitalisme, &lt;i&gt;free market&lt;/i&gt; dan sebagainya. Ada bangsa yang sudah lebih siap menghadapi ada yang terkaget-kaget. Kita juga macem-macem, pluralistik. Ada sekelompok yang belum siap. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kalau kita bilang kita itu kita yang mana? Kita Papua, kita Jakarta, Jakarta sendiri Jakarta yang mana? Jadi sebenarnya kalau kita bilang kita itu kita yang mana? Tapi kalau secara general kita ya masih tertinggal. Sebenarnya sudah bangkit, hanya yang lain bangkitnya lebih maju lebih lari. Betapa pun bangsa ini sudah bangkit. Hanya saja kemudian kalau dulu tantangan intervensi global itu tidak seterbuka sekarang. Pelabuhan saja kita punya 400 pelabuhan. Jadi bayangkan kalau ekpor China ditolak AS karena krisis, sementara mereka harus bergulir terus &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;industrinya, apa gak lari ke sini? 400 pelabuhan bisa jebol kan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Industri dalam negeri kan bisa hancur itu. Itu baru dari pelabuhan. Kemudian jebolnya lewat perbankan, belum lagi lewat udara, Internet, saham, informasi, tambang, sumber daya alam, jadi kita sesungguhnya satu sisi itu peluang kita masuk dalam suatu pergaulan global, tapi di sisi lain kalau kita gak siap ibarat pemain kelas kabupaten kita ketemu pemain sepakbola kelas eropa, ….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Tapi kan ada beberapa aset yang harus tetap di &lt;i&gt;protec&lt;/i&gt;t Pak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Dalam beberapa hal harus. Dalam beberapa hal. Ya misalnya Korea Selatan, di sana itu gak ada mobil Jepang, mobil asing itu jarang-jarang, yang ada buatan dalam negeri dan kalau mereka menggunakan produk asing itu di sindir gitu, jadi malu gitu. Di India juga begitu kan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Sektor apa yang harus di &lt;i&gt;protect&lt;/i&gt;?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Ya misalnya sumber daya alam, mestinya itu di &lt;i&gt;protect &lt;/i&gt;untuk semakin meningkatkan putra-putra dalam negeri, kemandirian teknologi. Hanya saja mungkin kalau kita ingin maju, negara lain juga banyak yang gak seneng karena berarti menutup pintu ekspor mereka kan. Coba kalau kita membuat industri kereta api misalnya, itu sama saja menutup ekspor Jepang kan. Jadi artinya apa? Artinya tidak semua negara tetangga itu senang kalau kita maju. Karena kalau kita maju mereka akan terganggu ekonominya. Nah itu perlu disadari. Ada beberapa hal kita bisa bekerja sama sebab kalau dijauhkan juga tidak mungkin. Tapi untuk aset-aset penting memang harus ditutup dari asing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Ya memang sekarang berantakan. Itu kan warisan masa lalu yang terjadi kan atas nama negara.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Maka perlu DPR itu mengawasi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi DPR juga harus yang benar, sebab sekali kita membuat transaksi dengan negara asing siapa pun presidennya yang bayar negara kan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kalau&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;gak kita kan bisa jatuh di mata dunia. Kita tidak bisa membatalkan sepihak karena investor juga tidak bisa masuk, Indonesia tidak bisa di pegang omongannya. Tapi memang sebetulnya bisa kok, hanya perlu keberanian. Iran berani, Bolivia berani.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi hemat saya Indonesia itu pluralistik sekali. Kecuali kita punya pemimpin yang agak diktator.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang diperlukan itu pemimpin yang &lt;i&gt;strong, clean, and clever&lt;/i&gt; yang membangkitkan Indonesia.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jakarta ini misalnya sudah tidak sanggup menyangga bebannya. Jakarta harus bisa bangun kota baru. Tapi siapa? Selain Pak Harto gak ada lagi. Kita sendiri memang paradoks. Salahnya kita selalu menyalahkan pemimpin tapi rakyat tidak partisipatif,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mau gak prihatin begitu? Kita menuntut demokrasi tapi kita gak mau tunduk sama hukum. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kita terlambat banyak hal ternyata. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Jika begitu apakah sekarang kita masih mengalami &lt;i&gt;crisis &lt;/i&gt;multidimensi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Krisis itu sebenarnya kan tantangan juga. Kalau di respon dengan cerdas, kita bisa keluar dari krisis kok. Paling krisis sebenarnya kan Yahudi tuh, tapi mereka tetap tegar dan bekerja cerdas.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi dimana-mana sekarang banyak orang Yahudi. Palestina juga krisis. Tapi dimana-mana pemudanya gigih dan pintar. Kita itu masih enak dibandingkan dengan negara lain. Saking enaknya akhirnya menjadi manja dan cuma bisa menuntut. Di India itu 200 juta itu mungkin absolut miskin, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;….Indonesia itu masih jauh lebih baiklah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Harapan Bapak terhadap kaum muda?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Apapun situasinya kalau pemuda itu pendidikannya bagus ya dan punya integritas dan dia punya mimpi-mimpi untuk harapan bangsa ini.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tapi kalau pemuda itu sudah tidak mau belajar, akan sulit. Belajar itu sudah lebih dari sekolah ya. Kedua kalau dia sudah tidak punya integritas dan dedikasi terhadap bangsa dan kerjanya hanya teriak-teriak, hanya menuntut tapi tidak pernah menuntut pada dirinya. Pernahkah orang yang menuntut itu balik menuntut kepada dirinya? Aku harus belajar keras, kerja keras, untuk menolong diriku sendiri sebelum menolong orang lain. Tapi kalau kerjanya itu hanya membuat proposal mencari sumbangan resana kemari dan laporannya tidak bagus kalau toh dia jadi pejabat saya gak yakin dia akan bener. Dia menuntut mengkritik orang lain, tapi dia tidak pernah mengkritik dirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Bagaimana dengan gaya hedon kaum muda saat ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Tidak hanya kaum muda, bangsa ini sudah dimanjakan, jadi sulit untuk kembali hidup prihatin lagi, tidak tua dan muda. Karena waktu orde baru kita dimanjakan oleh sistem dan itu fatal. Sekarang ini untuk kembali hidup lagi untuk ukuran orang tua jaman dulu, orang tuanya kasihan sama anaknya, anaknya gak punya pengalaman tenderita, jadi mentalitasnya sudah mentalitas konsumtif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mentalitas memanjakan diri.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ini sulit diubah, sebab perubahan generasi itu butuh 20 tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Bagi saya apapun itu, selama pendidikan itu dibuat maju , pemimpin itu &lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;baik &amp;amp; jujur, saya masih ada harapan untuk bangsa ini. Tetap optimis. Asal pendidikan diperhatikan dan pemimpin punya komitmen terhadap bangsanya, dan jujur. Kita bisa maklumi kok kalau bodoh dan salah. Asal seseorang itu jujur aja dan mau belajar. Orang itu jujur dan mau belajar tidak malas itu pasti masih ada harapan. Semua itu perlu dukungan keluarga dan sekolah. Ketika saya di pesantren diajarkan, jangan mencari pekerjaan, ciptakanlah pekerjaan. Tangan diatas lebih baik daripada dibawah. Kalau kamu tidak bisa menolong orang lain, minimal kamu tidak menyakiti orang lain, minimal jangan bikini susah orang lain. Itu pendidikan yang saya terima di pesantren. Lebih baik menghargai karya orang daripada membenci, terlalu banyak yang bisa dikritik, tapi kamu sendiri apa yang sudah dilakukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Asal pendidikan bagus, prestasi kita bagus, pasti nasionalisme baru akan muncul. Orang-orang India dimana-mana, tetap cinta India, ternyata mereka itu jembatan bagi kemajuan India. Orang China yang di Amerika ternyata pintu gerbang. Selama dalam negeri bagus,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orang-orang kita pasti kembali. Orang kita itu terrenal cinta negaranya. Yang diperlukan beresi pendidikan, keadilan, kemakmuran, nasionalisme itu pasti akan ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;(dimuat di Majalah Hikmahbudhi edisi 314).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-2611876807165692641?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/2611876807165692641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=2611876807165692641&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2611876807165692641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2611876807165692641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/11/prof-komaruddin-hidayat-indonesia.html' title='Prof: Komaruddin Hidayat: Indonesia  Proyek Masa Depan yang Belum Selesai.'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SSUSvpx5vaI/AAAAAAAAAfg/mPJ-IJxPUSE/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1171886225532068126</id><published>2008-10-26T23:07:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T02:55:09.770-08:00</updated><title type='text'>Jangan Berhenti Bermimpi</title><content type='html'>Mungkin agak terlambat menulis tentang film ini. Tapi tak apalah. Lebih baik terlambat.  Satu hal yang ditangkap dari film ini: Bermimpilah. Itu yang aku tangkap dari film Laskar Pelangi. Hasilnya, penggalan kisah kecil di pelosok Pulau Belitong mampu menginspirasi banyak orang untuk berubah ke arah yang lebih baik.  Mimpi atau cita-cita adalah hak semua orang. Mimpi untuk menjadi yang terbaik, memiliki hidup yang baik. Itu semua adalah impian kita.  Apapun yang kita lakukan, semata-mata demi impian-impian kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi, kata kamu online wikipedia adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra-indra lain dalam tidur. Namanya saja bunga tidur. Nah, artinya begitu kita bangun mimpi itu sudah buyar seketika. Namanya juga mimpi....:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak contoh kisah sukses yang dibangun dari cuma sekedar mimpi ini. Soichiro Honda bukan berasal dari keluarga konglomerat. Ayahnya hanya seorang pandai besi. Di sekolah pun prestasinya biasa aja. Tapi siapa sangka dari impian sederhana, kita semua sekarang mengenal merk otomotif handal bernama Honda dengan filosofi yang cemerlang &lt;em&gt;“The Power of The Dream”.&lt;/em&gt; Kita juga mengenal  Thomas Alfa Edison sebagai penemu lampu pijar, lampu bohlam. Bahkan gerakan anti diskriminasi ras yang digalang Martin Luther King pun diilhami dari impian atas nama kesetaraan antara kaum kulit putih dan hitam. Meski akhirnya ia tertembus timah panas atas mimpinya ini. Dan bangunan impian panjang itu sekarang dinikmati luas oleh warga Amerika, dengan bukti terpilihnya Obama.  Semuanya berasal dari keberanian untuk bermimpi. Namun mimpi tidak bisa terwujud hanya dalam waktu semalaman saja. Ia butuh waktu untuk terus mengerucut menjadi jalan lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nidji bahkan bilang, kalau mimpi itu adalah kunci untuk menaklukkan dunia. Dan bagiku,  orang yang tidak "bermimpi" sama dengan dia sudah mati ketika masih hidup. Bukankah Indonesia sudah diimpikan sejak 1908 dan baru merdeka 1945? So, jangan pernah berhenti untuk bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Masih dalam rangka mewujudkan "Mimpi")&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1171886225532068126?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1171886225532068126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1171886225532068126&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1171886225532068126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1171886225532068126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/10/jangan-berhenti-bermimpi.html' title='Jangan Berhenti Bermimpi'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-2884999305724032555</id><published>2008-10-08T02:51:00.000-07:00</published><updated>2008-11-13T00:54:00.132-08:00</updated><title type='text'>Laskar Pelangi: Film Pencerahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SRvqBrJvuBI/AAAAAAAAAfQ/qtNGP97z9Qg/s1600-h/andh01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 126px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SRvqBrJvuBI/AAAAAAAAAfQ/qtNGP97z9Qg/s200/andh01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268061503624296466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Gambar indah langsung tersaji ketika melihat film ini. Meski belum pernah membaca novelnya, tapi film ini mampu menggeser film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mainstrem &lt;/span&gt;yang disokong "Suami-suami Takut Istri" &amp;amp; "Barbie" yang melulu menjual sensualitas &amp;amp; hedonisme. Film ini lagi-lagi menunjukkan tangan dingin Riri Reza yang sangat baik mengadaptasi novel sebagaimana halnya dengan Catatan Seorang Demonstran: Soe Hok Gie. Film dan buku memang berbeda. Maka banyak diantara mereka yang sudah membaca buku banyak yang kecewa karena ternyata di filmnya tak "seheboh" bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada satu adegan yang agak menjenuhkan. Yakni  ketika Lintang beberapa kali terhadang buaya ketika akan berangkat sekolah. Termasuk ketika akan berangkat ikut lomba cerdas cermat yang memang kemudian dimenangkan sekolah "kandang ayam" ini.&lt;br /&gt;Kontrasisasi yang berada dan kaum papa tergambar jelas dalam film ini. Bagaimana anak-anak ini bersekolah tanpa seragam, kondisi kelas yang tak layak, dll, dimana hal ini jauh kontras dengan sekolah PN Timah yang bergelimang fasilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh sentral dalam film ini adalah Lintang. Anak cerdas yang telah ditinggal ibunya. Tempat tinggalnya agak jauh dari sekolah. Ia harus mengasuh adik-adiknya karena ayahnya melaut mencari ikan. Adegan Lintang yang kehilangan ayah dan dipaksa menjadi orang tua bagi adik-adiknya sekaligus berpisah dengan bangku sekolah, bagiku menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scene&lt;/span&gt; paling menggetarkan hati. Bagaimana bisa seorang anak SD yang baru akan lulus harus menanggung itu semua. Menjadi kakak sekaligus menjadi orangtua bagi adik-adiknya. Hampir saja air mata tertumpah. Sedih, haru, juga terbahak semua menyatu dalam film ini. Ini semua karena  kekompakan murid-murid sekolah yang kondisinya tak jauh dengan kandang kambing ini begitu menonjol. Mahar yang jago seni memanfaatkan akal budinya untuk memanfaatkan apapun yang ada disekitarnya untuk lomba kesenian. Walau mereka sederhana hanya memakai dedauan, ternyata mereka mendapatkan applause dari masyarakat.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui bahwa secara umum film ini memang layak menjadi film terbaik tahun ini. Bagaimana tidak, dengan tanpa teriak-teriak, film ini mampu "menyentil" semua orang, terutama pemangku kekuasaan di negeri ini. Jika dulu Pak BY termehek-mehek melihat "Ayat-Ayat Cinta" yang cuma ngajarin bagaimana berselingkuh, sekarang saatnya Pak BY termehek-mehek beneran karena inilah realitas rakyatnya yang sesungguhnya. Semoga Pak BY gak cuma termehek-mehek tapi benar-benar tercerahkan!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-2884999305724032555?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/2884999305724032555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=2884999305724032555&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2884999305724032555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2884999305724032555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/10/laskar-pelangi-film-pencerahan.html' title='Laskar Pelangi: Film Pencerahan'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SRvqBrJvuBI/AAAAAAAAAfQ/qtNGP97z9Qg/s72-c/andh01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-8765100617145833314</id><published>2008-09-25T03:41:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T04:47:08.224-07:00</updated><title type='text'>Change</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;Buku ini saya pinjam dari kantor secara tak sengaja. Lumayan tebal, jadi agak lama bacanya. Kata-kata dalam sampul buku karangan Rhenald Kasali ini menarik perhatian. Disana tertulis TAK PEDULI SEBERAPA JAUH JALAN SALAH YANG ANDA JALANI, PUTAR ARAH SEKARANG JUGA.  Sebenarnya kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;change&lt;/span&gt; sudah ada sejak dulu. Buddha mengajarkan bahwa hidup adalah perubahan. Semua tidak kekal. Selalu berubah. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Dalam buku setebal 428+28 hal daftar pustaka ini, ada kata yang menarik perhatianku. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Turn arround. &lt;/span&gt;Kurang lebih intinya ya balik badan, putar haluan. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;Turn arround&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; yang paling tepat adalah ketika kita berada di posisi puncak. Hal ini pula yang dilakukan salah satu legenda MU, Eric Cantona. Di usia 30, ia bukan pergi dari MU untuk berlabuh ke klub lain, tapi Ia meninggalkan sepakbola ketika di usia 30 tahun. Usia dimana bagi sebagian sepakbola merupakan usia emas. Tapi Cantona memilih hal lain. Keputusan yang diambil "King Cantona" ini tepat. Meski sudah lama, namun namanya tetap dihati pendukung setia setan merah hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Perubahan adalah pertanda kehidupan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Change is the only evidence of life)&lt;/span&gt; Evelyn Waugh. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;"&gt;Manusia yang hidup akan selalu berubah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;. Jim Collins (2001) mengatakan bahwa "Good is the enemy of great". Artinya, kalau seseorang menganggap prestasinya sudah baik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(good)&lt;/span&gt; dan para pengikutnya merasa yakin mereka telah mencapai kondisi itu maka mereka akan terhalang untuk berevolusi memasuki kondisi yang lebih baik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(great)&lt;/span&gt;.  (hal. 39).  Buku ini juga menawarkan berbagai strategi dalam proses "berubah" itu. Selain itu juga kita belajar cari contoh kasus yang diberikan yang memang pernah terjadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Paradox of Change: A Leader takes people where they want to go. A great leader takes people where they don't necessarily want to go but ought to be. &lt;/span&gt;(Rosalynn Carter).  Kondisi bagus adalah lawan dari kejayaan. Bangsa yang sudah puas akan berhenti belajar dan menjadi angkuh. Pada saat itulah kehidupan kita mengalami ujian yang sesungguhnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Berubah atau diubah. Semua ada di tangan kita sendiri. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Change is the law of life&lt;/span&gt; (John F. Kennedy).  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The purpose of life is life&lt;/span&gt;. (Karl Lagerfield). &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Change" juga  menjadi jargon Barack Obama dalam upaya menuju Gedung Putih. Bahkan debat publik Obama yang mengusung "Change" ini mengalahkan jumlah final piala dunia silam. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-8765100617145833314?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/8765100617145833314/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=8765100617145833314&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8765100617145833314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8765100617145833314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/09/change.html' title='Change'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-7625893614999817530</id><published>2008-09-19T01:54:00.001-07:00</published><updated>2008-09-28T18:24:50.763-07:00</updated><title type='text'>Yang Tersisa dari Taman BMW</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtW_GCQXHI/AAAAAAAAAYo/xZ-eIdRxGuY/s1600-h/P1130532.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtW_GCQXHI/AAAAAAAAAYo/xZ-eIdRxGuY/s200/P1130532.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249885432582265970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Siang itu udara terik sekali. Tapi suasana itu makin "terik"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; ketika menyambangi eks taman BMW. Sepanjang mata memandang, reruntuhan bekas pembongkaran terlihat. Ditemani Romo Sandyawan, pengagas Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK), kami menuju salah satu posko darurat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Disana sudah ada beberapa orang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtW_8SObrI/AAAAAAAAAZA/cObzhkvGqGY/s1600-h/P1130556.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtW_8SObrI/AAAAAAAAAZA/cObzhkvGqGY/s200/P1130556.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249885447144763058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Satu diantara mereka sebut saja namanya Ibu Ana. Berawakannya agak besar. Rambut dibiarkan tergerai&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; diterjang angin siang itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Badannya agak hitam kepanasan. Beberapa kali air mukanya diseka ketika bercerita tentang pembongkaran paksa 24 Agustus silam. Rasa geram dan marah berkecamuk di dadanya. Rumah satu-satunya yang ia bangun bersama sang suami luluh lantak di buldozer aparat satpol PP. Yang membuatnya makin geram, pembongkaran itu tidak disertai dengan peringatan apalagi uang kerohiman. Hingga kini Ibu Ana dan sekitar 400 KK tetap bertahan  tinggal di eks-taman BMW dengan mengandalkan bantuan makanan dari berbagai pihak. "Saya tak tahu lagi harus kemana Pak" ujarnya mulai menitikan air mata. "Saya tidak boleh putus asa, sebab anak-anak akan bagaimana". "Sebisa mungkin saya berjuang demi anak-anak".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtXACVqOiI/AAAAAAAAAZI/PnGsnFKRjzc/s1600-h/P1130559.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtXACVqOiI/AAAAAAAAAZI/PnGsnFKRjzc/s200/P1130559.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249885448769780258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Yang tersaji sepanjang hari itu, memang tampak beberapa gubuk telah berdiri kembali. Tapi kerusakan jelas masih tersisa. Sebuah topi lusuh, salah satu SMP Negeri, tampak teronggok di atas reruntuhan. Seorang warga menuturkan, setidaknya ada 80 anak SD yang tidak sekolah disini. Itu belum yang SMP dan SMA. "Kita ini ibarat hidup tidak di dalam negeri sendiri"timpal seorang ibu yang menggendong putranya. "Saya juga pernah jadi TKW, di gusur sana-sini, jadi kejadian ini sama persis yang saya alami ketika di Malaysia dulu". "Jika sudah begini, kemana kami harus mengadu". "Di negara sendiri saja kami seperti tidak dikehendaki". "Rakyat miskin memang selalu dibikin makin miskin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtW_gYn7cI/AAAAAAAAAY4/7LE7OLUV6WM/s1600-h/P1130536.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtW_gYn7cI/AAAAAAAAAY4/7LE7OLUV6WM/s200/P1130536.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249885439655407042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Romo Sandyawan yang sejak awal mendampingi korban gusuran ini tak kalah geramnya. "Jika memang tidak boleh mengapa disini mereka bisa menikmati air dan listrik". "Itu kan sama halnya bayar pajak". "Nah pajak itu sekarang kemana" gusarnya. "Artinya keberadaan mereka kan diakui"ungkapnya sengit. Warga jelas kecewa karena pembongkaran ini belum ada titik temunya. Artinya belum jelas akan kemana mereka akan dipindahkan. "Ini jelas pembangunan yang memiskinkan rakyat"ungkap Romo Sandy. "Kalau memang mau gusur ya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbok&lt;/span&gt; dikasih pilihan yang baik "pintanya. Lanjutnya, perlu dipikirkan proses pembangunan kota yang memanusiakan manusia. Romo Sandy menambahkan, ketika proses penggusuran paksa, di Taman BMW juga terdapat peternakan kambing. Dan itu diberikan tenggat waktu, sementara warga disana tidak diberikan tenggat waktu untuk  pindah.  "Masak harga manusia tak lebih tinggi dari pada nilai kambing?" ujarnya geram. Romo Sandy juga meyayangkan sikap satpol pp yang terus berpatroli di sekitar taman BMW. "Ini adalah bentuk teror pemerintah terhadap warganya". Jelas teror ini membuat Ibu Ana &amp;amp; warga lain ketar ketir. Sewaktu-waktu satpol pp ini bisa saja menggusur paksa kembali begitu ada perintah dari komandannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Ana dan warga lain juga menyadari bahwa tanah yang mereka tinggali memang bukan milik mereka. Tapi pembongkaran yang sepihak dan tidak diberikan alternatif pilihan tepat jelas membuat hari warga makin merana. Negara gagal melakukan kewajibannya untuk melindungi warganya. Taman BMW kini tak lagi bersih, manusiawi, apalagi ber(Wibawa).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-7625893614999817530?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/7625893614999817530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=7625893614999817530&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7625893614999817530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7625893614999817530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/09/yang-tersisa-dari-taman-bmw.html' title='Yang Tersisa dari Taman BMW'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtW_GCQXHI/AAAAAAAAAYo/xZ-eIdRxGuY/s72-c/P1130532.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-3868909094982115317</id><published>2008-09-19T01:54:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T04:41:30.753-07:00</updated><title type='text'>Capung</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNNyp7diV5I/AAAAAAAAAYA/QGdCcZ4AKyI/s1600-h/P1110408.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNNyp7diV5I/AAAAAAAAAYA/QGdCcZ4AKyI/s320/P1110408.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247664055478540178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ketika kecil binatang yang satu ini biasa aku temui. Entah ketika di sawah atau ketika sedang menggembalakan kambing-kambingku. Warnanya yang khas selalu menarik perhatian. Biasanya capung hanya tak lama terbang, setelah itu hinggap di pucuk-pucuk rumput bahkan padi. Menjelang sore biasanya ia akan "berpesta" dengan berkumpul bersama sesamanya. Dengan warna warni yang berbeda "pesta" itu selalu ramai. Capung alias kinjeng biasa kita temui di sawah. Ia termasuk kelompok serangga yang tak pernah jauh dari air, tempat mereka bertelur dan menghabiskan masa pra dewasa anak-anaknya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Capung tidak termasuk hama. Capung bahkan menjadi sahabat para petani karena membantu mengusir beberapa jenis serangga yang menjadi hama tanaman, seperti walang sangit.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; Capung juga disebut helikopter karena bentuk dan cara mendaratnya hampir sama persis. Warna warni capung yang semarak membuatnya sering diburu anak-anak untuk dijadikan mainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Di Jawa ada kepercayaan, bahwa capung dapat juga dijadikan sebagai obat untuk menyembuhkan kebiasaan mengompol pada anak-anak. Caranya capung yang masih hidup didekatkan dan ditempelkan pada pusat si anak agar digigit. Hal yang sama juga bisa dilakukan bila mau bepergian jauh. Katanya sih, mabuk dalam perjalanan bisa dihindari dengan cara murah meriah ini. Tapi kayaknya nangkap capung gak segampang itu deh?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-3868909094982115317?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/3868909094982115317/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=3868909094982115317&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3868909094982115317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3868909094982115317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/09/capung.html' title='Capung'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNNyp7diV5I/AAAAAAAAAYA/QGdCcZ4AKyI/s72-c/P1110408.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6519054307030556715</id><published>2008-09-18T04:50:00.000-07:00</published><updated>2008-09-18T05:01:39.513-07:00</updated><title type='text'>The Mask by The Maestro</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB-9F1EeI/AAAAAAAAAW4/3s-n17pFLfg/s1600-h/P1110432.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB-9F1EeI/AAAAAAAAAW4/3s-n17pFLfg/s200/P1110432.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247329065646756322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB_I5QqwI/AAAAAAAAAXA/6kmpI4asGaQ/s1600-h/P1110437.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB_I5QqwI/AAAAAAAAAXA/6kmpI4asGaQ/s200/P1110437.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247329068815264514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB_Y8I97I/AAAAAAAAAXI/6kDowYpysng/s1600-h/P1110447.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB_Y8I97I/AAAAAAAAAXI/6kDowYpysng/s200/P1110447.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247329073122310066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;TOPENG KEDOK TIGA BETAWI - &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Berasal dari pinggiran Jakarta, Tarian ini&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; kini terbilang sangat langka. Dalam beberapa referensi, Topeng Betawi ini&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; secara lebih spesifik disebut dengan Topeng Kedok. Ada yang menyebutnya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; dengan Topeng Cisalak atau juga Topeng Kedok Tiga. Nama Topeng Cisalak&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; sendiri diberikan berdasarkan tempat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; menetap dan kesenian topeng&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; berkembang saat itu di Kampung Cisalak, Cimanggis Depok Jawa Barat.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Padahal saat pertama kali muncul tahun 1918 Topeng Kedok ini bernama&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; topeng Kinang oleh dua pelopornya Djioen dan Mak Kinang. Hal ini tidak&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; dapat dibantah kalau kesenian topeng ini masuk dalam lingkup Budaya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Betawi. Meskipun nyanyian dan waditra yang dipergunakan asli Sunda tapi&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; dialek yang dimainkan lebih banyak Betawinya dan juga Tionghoa atau Betawi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Ora (Betawi Pinggiran) di mana seni topeng berkembang. Kini kondisi para&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; seniman Topeng semakin mengkhawatirkan. Selain kurang minatnya generasi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; penerus akan seni tradisi leluhur mereka juga tidak mendapat dukungan dari&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; pihak pemerintah.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Topeng Kedok Tiga ini pertama kali muncul&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; tahun1918. Kesenian yang dulunya terkenal dengan topeng Kinang ini&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; dipelopori oleh Djioen dan Mak Kinang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tokoh sentral dalam tari ini adalah Kartini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Keluarga dari pelopor kesenian&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; inilah yang meneruskan keberadaan Topeng Cisalak hingga kini. Kartini&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; adalah salah seorang cucu dari Mak Kinang yang hingga kini masih serius&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; meneruskan keberadaan kesenian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB_wLy8vI/AAAAAAAAAXY/4H7izsKHoiU/s1600-h/P1110469.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB_wLy8vI/AAAAAAAAAXY/4H7izsKHoiU/s200/P1110469.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247329079361991410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;TOPENG PAJEGAN -&lt;br /&gt;Di masyarakat Bali, Topeng lebih dikenal melalui&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; upacara-upacara keagamaan Hindu. Karena di Bali, kesenian lebur dalam&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; agama dan masyarakat. T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;openg Bali merupakan kesinambungan dari karya seni&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; manusia pra sejarah yang mencapai kesempurnaan bentuk pada masa budaya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Hindu di Bali atau Bali klasik serta mendapatkan fungsi baru, sebagai&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; dramatari dengan membawakan lakon babad dan sejarah.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kata pajegan mengacu kepada kegiatan pedesaan masyarakat Bali agraris,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; yang kini bisa diterjemahkan dengan ''memborong' '. Penari Topeng Pajegan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; memborong semua peran yang ada di dalam cerita. Yang ada hanya seorang&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; pemain, dan cerita berkembang dengan seutuhnya lewat satu pemain. Pada&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; intinya, Topeng Pajegan adalah ritual yang mengiringi upacara keagamaan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Hindu dalam budaya Bali yang diakhiri dengan Topeng Sidakarya sebagai&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; puncak dari ritual itu. Oleh karena itu, penari Topeng Pajegan adalah&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; orang yang tinggi tingkatan spiritualnya, karena dia harus memberikan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; pencerahan kepada masyarakat (penonton) apa inti upacara itu, apa tujuan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; upaca&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ra, dan apa akibatnya apabila upacara ini tidak dilaksanakan. Seorang&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; penari Topeng Pajegan adalah seorang pendharma wacana yang piawai,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; sekaligus memiliki kemampuan bercerita seperti seorang dalang&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tokoh sentral tari ini adalah I Made Djimat - Putra dari maestro tari Bali Ni Ketut&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Cenik ini mengikuti jalur yang ditekuni oleh keluarganya. I Made Djimat&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; adalah seorang penari Bali yang kini telah menjadi seorang maetro tari&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; topeng Bali. Nama I Made Djimat kini tersohor di berbagai pentas-pentas&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; seni pertunjukan bergengsi di dunia. Meskipun demikian, dalam berbagai&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; kesempatan, Djimat juga masih tampil di berbagai Pura untuk membantu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; hari-hari perayaan di Bali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB_gmWVMI/AAAAAAAAAXQ/P5hibBNKbRA/s1600-h/P1110456.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB_gmWVMI/AAAAAAAAAXQ/P5hibBNKbRA/s200/P1110456.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247329075178394818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;WAYANG TOPENG YOGYAKARTA -&lt;br /&gt;Di tanah Jawa, ada banyak versi dari tari&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Topeng Klana ini. Mulai dari gaya Keraton Surakarta (Mangkunegaran dan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kasunanan), Keraton Yogyakarta, gaya Klaten. Ada pula komposisi khusus&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; yang melebur dalam Reog Ponorogo, hingga Topeng Klana dalam gaya Topeng&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Jabung Malang, Ini belum terhitung dari sebaran lainnya mulai dari&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Cirebon, tanah Pasundan hingga daerah pesisir selatan Kalimantan atau&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Banjarmasin. Ada berbagai alasan dibalik penggunaan topeng pada komposisi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; ini. Sebagian beranggapan bahwa ini hanyalah alasan estetis. Sebagian lagi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; beranggapan karena tarian ini pada awalnya ditarikan di pendopo kerajaan,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; demi menjaga kesopanan terhadap raja, maka sang penari diminta mengenakan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; topeng. Namun ada pula cerita yang berkembang di rakyat Jawa Timur yang&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; percaya pada keberadaan Prabu Klana mengatakan bahwa topeng dibuat karena&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; keinginan Prabu Klana sendiri tatkala ia meminang sang putri Candrakirana&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; guna menutupi wajahnya.&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Tari Topeng Klana yang akan disajikan di Bimasena adalah komposisi klasik&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; yang didasari oleh Topeng Klana klasik dari Keraton Yogyakarta&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Hadiningrat. Beberapa master tari Yogyakarta – diantaranya Bagong&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Kussudiardjo dan Romo Sas, telah membuat sebuah perubahan pada gerak dan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; tempo tarian Topeng Klana ini menjadi lebih ekspresif dengan perubahan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; pada tempo yang lebih cepat. Saat ini tarian ini cukup jarang ditarikan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Namun otentisitas kekeratonannya masih sangat terlihat.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tarian Topeng Klana dari Yogya ini dibawakan oleh Lantip Kuswala Daya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Selain sebagai&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; penari, Lantip juga merupakan seorang penggerak kesenian tradisional dan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; klasik dari Yogyakarta. Energi dan hidupnya ia curahkan sepenuhnya untuk&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; kesenian. Dalam kesehariannya ia dibantu oleh istrinya, seorang wanita&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; berdarah Amerika dan Korea yang bernama Jeannie Park - yang kini lebih&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; memantapkan pilihan hidupnya untuk mencintai kesenian Jawa. Lantip banyak&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; belajar tari Jawa dari Sasmita Mardawa atau lebih populer dengan sebutan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Romo Sas yang merupakan empu tari gaya Yogyakarta. Daklam berkesenian&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Lantip telah menjelajah dunia membawakan tari Jawa gaya Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6519054307030556715?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6519054307030556715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6519054307030556715&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6519054307030556715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6519054307030556715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/09/mask-by-maestro.html' title='The Mask by The Maestro'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJB-9F1EeI/AAAAAAAAAW4/3s-n17pFLfg/s72-c/P1110432.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5643662965502497297</id><published>2008-09-18T02:25:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T02:12:59.952-07:00</updated><title type='text'>Sempulur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIfPDZKMZI/AAAAAAAAAWw/vFyV_W3XgTI/s1600-h/P1110412.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIfPDZKMZI/AAAAAAAAAWw/vFyV_W3XgTI/s320/P1110412.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247290859309379986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-5643662965502497297?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/5643662965502497297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=5643662965502497297&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5643662965502497297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5643662965502497297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/09/sempulur.html' title='Sempulur'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIfPDZKMZI/AAAAAAAAAWw/vFyV_W3XgTI/s72-c/P1110412.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1474708775199994707</id><published>2008-09-18T01:59:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T02:32:20.863-08:00</updated><title type='text'>Belajar  Naik Kuda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbjXI-mZI/AAAAAAAAAWI/tt_Z4w76sgc/s1600-h/P1110202.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbjXI-mZI/AAAAAAAAAWI/tt_Z4w76sgc/s200/P1110202.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247286810161093010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Duh kudanya lari gak ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbj-XZzwI/AAAAAAAAAWY/sWrByHO13SU/s1600-h/P1110205.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbj-XZzwI/AAAAAAAAAWY/sWrByHO13SU/s200/P1110205.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247286820690579202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Ternyata mayan enak juga, meski pertama kali. Perut rasanya kontraksi!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbkhrYhFI/AAAAAAAAAWo/VErzZx96fwM/s1600-h/P1110212.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbkhrYhFI/AAAAAAAAAWo/VErzZx96fwM/s200/P1110212.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247286830169621586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pose dulu ah? Mirip gak ya? Ha......:)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbkC1aMBI/AAAAAAAAAWg/ZYd-Y4PvH1M/s1600-h/P1110208.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbkC1aMBI/AAAAAAAAAWg/ZYd-Y4PvH1M/s200/P1110208.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247286821890174994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tuk wak tuk wak......Asyik juga ternyata. Tapi kasihan banget nih kudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbjmZEMDI/AAAAAAAAAWQ/xTWV_p1VRXg/s1600-h/P1110203.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbjmZEMDI/AAAAAAAAAWQ/xTWV_p1VRXg/s200/P1110203.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247286814255099954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Udah dulu deh. Meski belum waktunya turun, karena kasihan kudanya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1474708775199994707?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1474708775199994707/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1474708775199994707&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1474708775199994707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1474708775199994707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/09/belajar-naik-kuda.html' title='Belajar  Naik Kuda'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIbjXI-mZI/AAAAAAAAAWI/tt_Z4w76sgc/s72-c/P1110202.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-816219001269703933</id><published>2008-09-18T01:40:00.000-07:00</published><updated>2008-09-19T03:55:01.023-07:00</updated><title type='text'>Santai Sejenak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIXmOA95bI/AAAAAAAAAWA/sHqHNLpI364/s1600-h/P1110189.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIXmOA95bI/AAAAAAAAAWA/sHqHNLpI364/s200/P1110189.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247282461204669874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Wah ada yang menarih tuh disana....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIVbmtRlRI/AAAAAAAAAVw/QsMizb_4K9U/s1600-h/P1110182.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIVbmtRlRI/AAAAAAAAAVw/QsMizb_4K9U/s200/P1110182.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247280079831143698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Wow lautnya jauh menarik juga ya. Walau siang bolong begini....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIVbO0dmEI/AAAAAAAAAVg/H2e6mkl6O48/s1600-h/P1110179.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIVbO0dmEI/AAAAAAAAAVg/H2e6mkl6O48/s200/P1110179.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247280073418840130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Disini nih...............&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIVbjNYHSI/AAAAAAAAAVo/cMf1rdqpdWQ/s1600-h/P1110180.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIVbjNYHSI/AAAAAAAAAVo/cMf1rdqpdWQ/s200/P1110180.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247280078892047650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Another pose....:)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIVb8bEQjI/AAAAAAAAAV4/vsPzLsF7taM/s1600-h/P1110187.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIVb8bEQjI/AAAAAAAAAV4/vsPzLsF7taM/s200/P1110187.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247280085660353074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Langit biru sebiru-birunya hati.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIVazFPX8I/AAAAAAAAAVY/qrPFSydBal0/s1600-h/d+gank.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIVazFPX8I/AAAAAAAAAVY/qrPFSydBal0/s200/d+gank.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247280065973018562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;font-size:100%;" &gt;Pose bersama kawan sejawat. Ring road lagi Pak?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-816219001269703933?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/816219001269703933/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=816219001269703933&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/816219001269703933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/816219001269703933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/09/santai-sejenak.html' title='Santai Sejenak'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNIXmOA95bI/AAAAAAAAAWA/sHqHNLpI364/s72-c/P1110189.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-7551966413891717733</id><published>2008-09-15T22:58:00.000-07:00</published><updated>2008-09-18T05:11:00.246-07:00</updated><title type='text'>Otak Setetes!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJEQJpdvbI/AAAAAAAAAXw/H-Fzjrm0kgI/s1600-h/_MG_0458.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJEQJpdvbI/AAAAAAAAAXw/H-Fzjrm0kgI/s200/_MG_0458.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247331560098479538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perawakannya agak kurus tinggi. Sorot matanya tajam. Meski tajam, namun kelopak matanya agak menjorok ke dalam. Bicaranya ceplas ceplos seperti kebanyakan orang Betawi. Agus Sadikin namanya. Berbagai jenis narkoba pernah masuk ke dalam badannya. Mulai dari ekstaksi hingga heroin. Semua hampir pernah di cobanya. Semua berubah ketika ia mendapati beberapa temannya bergelimpangan karena OD. Ketika itu pula puluhan konseling dan rehabilitasi dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJEP4HP3yI/AAAAAAAAAXo/_5dlu1-PTG4/s1600-h/_MG_0334.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJEP4HP3yI/AAAAAAAAAXo/_5dlu1-PTG4/s200/_MG_0334.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247331555391561506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setahap demi setahap proses rehab ia jalani. Tak cuma medis tapi juga psikis. Hingga akhirnya ia menemukan jalan bertemu dengan “After Care” sebuah lembaga yang didirikan dr. Aisyah yang memang khusus bergerak menangani mantan pengguna narkoba. Perjumpaan yang berkesan. Apalagi di dalam After Care,  banyak program sengaja dibuat bagi para mantan pemakai narkoba ini. Bagi Agus, “After Care’ tak hanya menyelamatkan nyawanya, namun juga menyelamatkan seluruh hidupnya. Sebab di lembaga ini tak hanya dilakukan pendampingan medis, namun juga dibekali berbagai ketrampilan. Seperti membuat kerajinan dari koran bekas, main musik, hingga kursus brodcasting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJEPugicGI/AAAAAAAAAXg/8dsk4SN4GL4/s1600-h/_MG_0306.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJEPugicGI/AAAAAAAAAXg/8dsk4SN4GL4/s200/_MG_0306.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247331552813281378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tiap tahun “After Care” memiliki tema besar dalam “menggembleng” mantan pecandu. Untuk tahun ini, multimedia menjadi temanya. Maka kursus broadcasting di pilih. Mereka diajari teknik kamera, pengambilan gambar, tata cahaya, hingga proses editing. Sebuah production house bernama 515 yang didirikan dr. Aisyah bersama suami juga menjadi tempat belajar anak-anak ini. Bahkan beberapa dari mereka  talent dari proyek-proyek yang digarap PH ini.&lt;br /&gt;Menurut Agus, para mantan pecandu ini memang harus sengaja diberi banyak aktivitas supaya otaknya tidak “tidur”. Kita ini ibarat otak setetes. Jadi perlu terus di beri rangsangan aktivitas. Sebab jika dibiarkan tidur sebentar saja, godaan untuk kembali ke jurang gelap itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus yang juga kehilangan adiknya karena narkoba ini pun kini tak lagi memiliki otak setetes. Ia menjadi pendamping bagi anak-anak yang masuk di “After Care”. Baginya bebas dari narkoba adalah sama halnya dengan tidak berhubungan sama sekali dengan barang haram ini. Zero, istilah dia.  “Jika masih make dikit-dikit itu sama halnya dengan makin menjerumuskan diri sendiri”ujarnya. Jika sudah tercebur sulit sekali beranjak. Kuncinya ada pada diri sendiri. “Jangan pernah nyoba deh” pesan akhirnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-7551966413891717733?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/7551966413891717733/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=7551966413891717733&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7551966413891717733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7551966413891717733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/09/otak-setetes.html' title='Otak Setetes!'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNJEQJpdvbI/AAAAAAAAAXw/H-Fzjrm0kgI/s72-c/_MG_0458.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1473244333648960422</id><published>2008-08-28T23:52:00.000-07:00</published><updated>2008-09-25T01:35:11.226-07:00</updated><title type='text'>Qaryah Thayyibah: Sekolah yang Memerdekakan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtJnAgkayI/AAAAAAAAAYY/iUcKbmtKiio/s1600-h/qt7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtJnAgkayI/AAAAAAAAAYY/iUcKbmtKiio/s200/qt7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249870725130775330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Terjepit diantara belantara rumah desa. Sekilas tak berbeda dengan rumah yang lain. Yang membedakan bangunan ini agak lebih tinggi dibanding dengan tetangganya. Disinilah letak sekolah alternatif Qaryah Thayyibah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="de-DE"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tepatnya di desa Kalibening, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Salatiga, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;sekolah ini terkenal dengan sebutan QT. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bahruddin,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;warga setempat adala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;h penggagasnya. Ia prihatin dengan kondisi pendidikan yang bobrok dan makin mahal harganya. Rumahnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;disulap menjadi tempat bermain sekaligus belajar bagi anak-anak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ak ada yang dibatasi dalam sekolah ini. Jaringan internet juga bisa diakses sewaktu-waktu dengan harga yang sangat murah. Cuma 1000 per jam. Kenapa harus dihargai bukan digratiskan? "Semata-mata sebagai bentuk pertanggungjawaban saja" katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtJmoeV2tI/AAAAAAAAAYI/ZWr7g8y9XoE/s1600-h/qt2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtJmoeV2tI/AAAAAAAAAYI/ZWr7g8y9XoE/s200/qt2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249870718678981330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bahruddin menambahkan, di QT model pembelajarannya adalah murid sebagai subyek pembelajaran, bukan sebagai obyek. Sebab muridlah yang paling tahu apa yang harus dipelajari dan tidak. Walau di pedesaan, sekolah ini juga mengadakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;english morning &lt;/span&gt;setiap paginya. Maka murid disini mahis cas cis cus dalam bahasa Inggris. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Menurut Bahruddin, walau format sekolah ini adalah sejenis sekolah terbuka, akan tetapi ia mengubah kecenderungan sekolah terbuka sekadar sebagai lembaga untuk membagi-bagi ijazah dengan mengelola pendidikannya secara serius. Bahruddin menambahkan, sekolah ini tidak mengeluarkan surat tamat belajar, sebab baginya belajar adalah sepanjang hayat manusia. Jika manusia tamat belajar itu sama saja dengan mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Walau sekilas tampak tak tertata, namun murid-murid disini sangat menikmati sekolahnya. Bersekolah merupakan sesuatu yang menyenangkan. Guru bukan sebagai otoritas penguasa di kelas, melainkan sebagai teman belajar. Mereka bebas merdeka berbicara dengan guru dalam bahasa Jawa ngoko, stratata bahasa yang hanya pantas dipergunakan bagi kawan yang seusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtJnNA425I/AAAAAAAAAYg/GzlYJNAM6Ck/s1600-h/qt9.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtJnNA425I/AAAAAAAAAYg/GzlYJNAM6Ck/s200/qt9.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249870728487558034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di sekolah ini tak ada papan nama. Apalagi pagar pembatas. Sebab pagar hanya akan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;memagari kreativitas anak-anak saja.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Murid disini disebut sebagai warga belajar. QT menyebutnya sebagai komunitas pembelajar. Maia misalnya. Ia sudah jatuh mati dengan sekolah ini. Baginya sekolah ini benar-benar membebaskan warga belajar untuk memilih materi pembelajaran. Sementara kalau di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;sekolah formal semua serba diatur, dimana belum tentu sesuai dengan kesukaan murid didik. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hal yang sama diakui Giaz. Ketika ditanya mengapa memilih bersekolah di QT, kecewa dengan sekolah formal adalah jawabannya. Baginya sekolah di QT memerdekakan dirinya untuk belajar mengatur diri sendiri. Mengatur kapan harus belajar, kapan harus bermain, dll. Ia dkk bahkan belajar membuat susu kacang sekaligus belajar menjualnya sendiri kepada warga sekitar untuk bertahan hidup. Selain itu, Giaz juga rajin mengumpulkan bahan bekas untuk dijahit menjadi berbagai barang yang layak pakai kembali, seperti tas, dompet, dll. "Mana ada sekolah yang begini" tegasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtJmkbnkfI/AAAAAAAAAYQ/J4yHBj7zq2U/s1600-h/qt5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtJmkbnkfI/AAAAAAAAAYQ/J4yHBj7zq2U/s200/qt5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249870717593817586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Lingkungan dan rumah warga yang tersebar disekitar rumah Bahruddin adalah tempat mereka belajar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Maka ketika bertandang kesana, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;jangan bayangkan akan banyak kelas-kelas. Sebab yang ada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;adalah bangunan rumah-rumah saja. Bangunan kelas hanya ada dua kelas, itupun digunakan sebagai kelas perantara, supaya mereka yang tadinya belajar di sekolah formal tidak kaget. Setelah itu, warga belajarnya dibebaskan untuk memilih forum sesuai minat dan bakatnya. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Forum adalah istilah bagi mereka yang berkelompok sesuai dengan minat dan bakat. Ada forum fotografi, film, teater, musik, berternak kelinci, daur ulang, dll. Maka tak heran sekolah ini maju dalam berkesenian. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Di bawah bimbingan guru musik, Soedjono, anak-anak sekolah ini bergabung dalam grup musik Suara Lintang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Grup musik anak-anak ini juga telah diperbanyak dalam bentuk kaset, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;video CD album Tembang Dolanan Tempo Doeloe yang diproduksi sekaligus sebagai upaya penggalangan dana. Semua siswa bisa bermain gitar, yang menjadi keterampilan wajib sekolah ini. Seperti yang saya lihat sore itu. Seorang anak berjilbab asyik membetot bass.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Moeksa, salah satu murid dari Jakarta berujar: mana ada sekolah desa seperti ini yang bisa membuat album musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;QT dan mungkin banyak komunitas lain sudah barang tentu menjadi bahan pelajaran bagi pemerintah kita dalam mengelola pendidikan di negeri ini. Institusi belajar harusnya bukan lagi sebagai obyek "pemerasan"&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; saja tiap tahunnya, namun harus menjadi subyek keberdayaan dari komunitas sekelilingnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1473244333648960422?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1473244333648960422/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1473244333648960422&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1473244333648960422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1473244333648960422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/08/qaryah-thayyibah-sekolah-yang.html' title='Qaryah Thayyibah: Sekolah yang Memerdekakan'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SNtJnAgkayI/AAAAAAAAAYY/iUcKbmtKiio/s72-c/qt7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-3008535388351131275</id><published>2008-08-28T20:48:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T01:27:35.905-08:00</updated><title type='text'>Ibu Yuni: Ibu bagi anak-anak Lapak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLeCZLna4JI/AAAAAAAAATI/mDFSouHrv1Q/s1600-h/P1110846.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLeCZLna4JI/AAAAAAAAATI/mDFSouHrv1Q/s320/P1110846.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239800060595331218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah beberapa kali bertanya, sampai juga kami di bangunan berpagar kayu itu. Sebuah rumah Jawa lengkap dengan pendopo di depan. Rumah Jawa ini tampak anggun. Bukan karena arsitekturalnya saja yang menarik, sebab rumah ini rumah Joglo asli kayu jati memang sengaja diboyong empunya dari kota kretek, Kudus. Di teras rumah kami menunggu sang empu. Ketika kami menunggu, beberapa anak kecil hilir mudik di dalam pendopo. Tak lama menunggu, seorang Ibu berbaju hijau menghampiri kami. Ramah. Itu kesan pertama saya. Selain itu,  Ibu yang satu ini selalu ceria. Tak ada rasa letih pun mengemuka. Itu yang aku lihat ketika bertemu. Tanpa jeda, dia bersemangat menceritakan perjalanan "membangun" rumah belajarnya ini. Persisya berada&lt;br /&gt;di Jalan H Gandun, Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLeCYhPbG8I/AAAAAAAAATA/hgXDO-I-CCM/s1600-h/P1110511.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLeCYhPbG8I/AAAAAAAAATA/hgXDO-I-CCM/s320/P1110511.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239800049220393922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;R. Ay. Tri Wahyuniati Subali Andi Firman, adalah penggagas Sekolah Merah Putih. Sekolah ini memang diperuntukkan bagi warga sekitar, khususnya anak-anak yang tinggal di lapak sampah tak jauh dari rumahnya. "Kasihan mereka mas" ujarnya. Lanjut Ibu Yuni, begitu ia biasa disapa, awalnya memang tidak mudah. Banyak tentangan dari warga, belum lagi RT setempat yang tidak mendukung kegiatan ini. Namun pelan-pelan ia mampu menyakinkan orang tua anak-anak lapak untuk memberi waktu anak-anak mereka untuk "belajar". Untuk mendekati anak-anak ini, ia semacam melakukan wawancara dengan anak-anak ini. Dari wawancara ini semua "unek-unek" anak lapak di tampung, untuk ditindaklanjuti sebagai formula yang cocok bagi proses pembelajaran berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLeCZqITazI/AAAAAAAAATQ/msUoDZfWtfw/s1600-h/P1110851.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLeCZqITazI/AAAAAAAAATQ/msUoDZfWtfw/s320/P1110851.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239800068786318130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 250 murid sekarang belajar di sekolah kesetaraan itu. Mereka diajarkan berbagai mata pelajaran seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Kesenian, juga bela diri. Berbagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;life skill &lt;/span&gt;juga diberikan. Kebun yang membentang di pekarangan menjadi lahan hidup pembelajaran. Mereka belajar bercocok tanam, membuat kompos, dll. Maka tak heran kebun halaman merupakan ruang belajar mereka. Semua dilakukan dengan semangat kemandirian. Artinya guru, yang mereka sebut sebagai tutor hanya bertugas sebagai teman belajar saja.&lt;br /&gt;Sekolah ini membebaskan muridnya dari berbagai pungutan sebagaimana marak di sekolah formal. Semua  biaya dikeluarkan Ibu Yuni dan keluarga. "Tak kurang 200 juta per bulan" ujarnya seraya menyebut sekolah ini sudah ada di 18 provinsi. Lanjutnya, untuk seragam memang ada semacam uang pengganti. Itu pun tidak besar. Hanya sebagai simultan bagi mereka supaya ada perasaan memiliki karena membeli. Dan ternyata mereka sangat antusias. Bahkan ada anak yang gak mau ganti seragam karena mereka selama ini tidak mengenal seragam sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar yang menggembirakan. Itulah yang ditanamkan di sekolah ini. "Belajar itu harus bergembira". "Jika sudah bergembira pasti bisa mendapatkan ilmunya. Sementara kalau belajar sambil bermain, itu akan sulit konsentrasinya. Belajar kok main-main. Lha kapan dapat ilmunya" ujarnya mengkritisi metode sekolah serupa yang kini menjamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak ini bagi Ibu Yuni adalah mutiara terpendam. Mutiara yang membuat hati Ibu Yuni sekeluarga selalu bergembira dan bersyukur. Sebab mereka mampu membantu anak-anak yang termarjinalkan oleh struktural yang membelenggu ini. Di benak anak-anak ini, Ibu Yuni selalu bertanya: "Apakah kalian mau terus mewarisi pekerjaan orang tua kalian sebagai pemulung?" Tentu jawaban serempak anak-anak ini: TIDAK. Dengan begitu, sekolah kesetaraan ini selalu dipenuhi anak-anak untuk belajar. Sebab dengan pendidikanlah jerat marjinal itu sedikit demi sedikit terurai meniti masa depan yang cerah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-3008535388351131275?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/3008535388351131275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=3008535388351131275&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3008535388351131275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3008535388351131275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/08/ibu-yuni-ibu-bagi-anak-anak-lapak.html' title='Ibu Yuni: Ibu bagi anak-anak Lapak'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLeCZLna4JI/AAAAAAAAATI/mDFSouHrv1Q/s72-c/P1110846.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-8277031764231896360</id><published>2008-08-27T00:14:00.000-07:00</published><updated>2008-08-29T03:38:00.751-07:00</updated><title type='text'>Mark: "Che Guevara" baru dari Rusia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLfNWGSIokI/AAAAAAAAATY/cQZDBENC71k/s1600-h/0_3c1c_f6e5e60a_orig.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLfNWGSIokI/AAAAAAAAATY/cQZDBENC71k/s200/0_3c1c_f6e5e60a_orig.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239882470996353602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLfNWVV_uSI/AAAAAAAAATg/0l8M3sD9lt0/s1600-h/0_35be_3c93aa04_orig.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLfNWVV_uSI/AAAAAAAAATg/0l8M3sD9lt0/s200/0_35be_3c93aa04_orig.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239882475039078690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLfNWUxxVzI/AAAAAAAAATo/eXpEdBTlK54/s1600-h/0_35f8_bce55eb3_orig.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLfNWUxxVzI/AAAAAAAAATo/eXpEdBTlK54/s200/0_35f8_bce55eb3_orig.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239882474887141170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Setelah &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLfRVkM1JFI/AAAAAAAAAUA/iIPxNY8XWII/s1600-h/0_1ba8_b63cc715_XL.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLfRVkM1JFI/AAAAAAAAAUA/iIPxNY8XWII/s200/0_1ba8_b63cc715_XL.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239886859893810258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;bertanya dengan penghuni wisma MBI, bule itu akhirnya keluar juga. Perawakannya tinggi besar. Rambut coklat pendek dengan dua kuncir kuda di belakang. Sekilas tak ada yang istimewa dari sosok bule yang satu ini. Namun semua itu berbeda ketika sudah bersapa. Orangnya ramah. Walau berasal dari Rusia, namun keramahannya seraya ia berasal dari Asia. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;My name is Mark&lt;/span&gt;, itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya. Mark berasal dari Rusia bagian utara. Namun semenjak sekolah ia menghabiskan sebagian besar waktunya di Moskow, ibukota Rusia. Pernah belajar ilmu kedokteran, namun hatinya berpaling pada psikologi. Pernah pula berkeliling beberapa negara karena pekerjaannya. Namun semua itu berubah. Pekerjaan mapan ia tinggalkan. Ia merasa tidak puas dengan hidup yang ia jalani kala itu. Ia lalu memutuskan berkelana dari satu negara dengan cara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backpacker&lt;/span&gt; dan menumpang mobil yang lewat, tentu secara gratis. Tak banyak uang di kantongnya. Untuk bertahan hidup, ia bekerja beberapa waktu, tak jarang ia pun menumpang makan. Dari Rusia ia memasuki wilayah pecahan Uni Soviet, Kazakstan, lalu masuk Tibet, Cina, India, Filipina, Malaysia, hingga Indonesia. Semuanya dilakukan dengan cara jalan kaki dan menumpang. Kecuali perjalanan dari Filipina ke Malaysia ia lakukan dengan pesawat terbang, itupun dengan harga yang sangat murah karena ia tidak menemukan kapal laut menuju Malaysia. Dari Malaysia, ia memasuki Indonesia melalui Dumai, Riau. Lalu melintas Pematang Siantar, Aceh, Medan, hingga akhirnya bisa menyeberangi selat Sunda menuju Jakarta. Ketika ditanya bagaimana cara menyebrang ke selat Sunda, ia menjawab dengan penumpang kapal kargo. Sebab dengan kapal kargo kita tidak perlu lagi mengeluarkan uang. Hal baru yang tentu baru aku ketahui dari seorang Mark. Untuk bermalam ia biasanya menumpang pada siapapun yang bersedia menampungnya, namun jika tidak ada, maka tenda pun siap ia buka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan hampir mirip dengan perjalanan Che mengeliling benua Amerika Selatan dengan sepeda motor buntutnya, namun kali ini Mark melakukannya dengan jalan kaki dan menumpang. Mark berseloroh, kalau dulu Che berkeliling untuk melakukan perubahan bagi dunia, namun ia berkeliling untuk merubah dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari Jakarta, ia berencana melanjutkan langkah kakinya ke seluruh penjuru Indonesia. Beberapa tempat sudah menjadi incarannya. Borobudur, Bromo, Bali adalah tempat-tempat yang ingin dituju, selain tentu daerah-daerah lainnya termasuk Papua. Ketika kami mendengar rencananya ke Borobudur, seketika kami bermaksud membelikannya tiket kereta api menuju Jogja. Namun dengan cepat niat baik itu ia tepis. Ia ingin tetap berjalan kaki dan menumpang saja hingga menuju Borobudur. "Kalau mau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;drop&lt;/span&gt; saja, saya di luar kota Jakarta" pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Total ia  sudah meninggalkan Rusia sejak 1 tahun 5 bulan yang lalu. Mark memutuskan berjalan kaki karena ia ingin menyelami kehidupan orang-orang yang ditemuinya. Dengan berjalan kaki, ia bisa mengenal seluk beluk kehidupan masyarakat suatu daerah. "Hal ini tentu tidak akan bisa ditemui ketika kita menjadi turis" ujarnya. Lanjutnya, ketika kita menjadi turis yang terlihat sepertinya selalu indah. Tentu kita tidak bisa menyelami kehidupan dari obyek wisata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau hanya sebentar, pertemuan dengan Mark terasa begitu dekat. Tidak neko-neko itu pula yang menjadi cirinya. Itu terlihat ketika kami ajak dia makan di warung tegal. Walau menjadi pusat perhatian di warung itu, ia dengan santai melahap. Ketika ia minta ditemani mencari sandal, ia pun mencari yang murah dan awet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, perjalanan Mark adalah perjalanan spiritual. Perjalanan praktik meditatif yang tidak pasif, namun aktif mengenal dan menyelam ke dalam suatu masyarakat yang ditemuinya. Memerdekakan diri dari silang sengkarut hidup itulah yang dilakukan Mark. Merdeka untuk memilih "berjalan kaki". (foto by Mark).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-8277031764231896360?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/8277031764231896360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=8277031764231896360&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8277031764231896360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8277031764231896360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/08/mark-che-guevara-baru-dari-rusia.html' title='Mark: &quot;Che Guevara&quot; baru dari Rusia'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SLfNWGSIokI/AAAAAAAAATY/cQZDBENC71k/s72-c/0_3c1c_f6e5e60a_orig.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6800030989096826407</id><published>2008-07-15T04:28:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T02:58:22.085-08:00</updated><title type='text'>Puncak Lawu Part. III</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyLhiHlrVI/AAAAAAAAASY/GxDnl1jmOKY/s1600-h/P1000546.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyLhiHlrVI/AAAAAAAAASY/GxDnl1jmOKY/s320/P1000546.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223203076053511506" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto bareng di Puncak Lawu, Hargo Dumilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyLh0hNhqI/AAAAAAAAASo/AISAmLChbQs/s1600-h/P1000559.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyLh0hNhqI/AAAAAAAAASo/AISAmLChbQs/s320/P1000559.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223203080992818850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pose bentar ah...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyLiLhrcgI/AAAAAAAAASw/L2MFjRHvapI/s1600-h/P1000569.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyLiLhrcgI/AAAAAAAAASw/L2MFjRHvapI/s320/P1000569.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223203087168795138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat dibelakangku ada dua gunung, Merapi dan Merbabu menyembul ke angkasa. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyLiPO3iXI/AAAAAAAAAS4/2X4XYjT5oTk/s1600-h/P1000581.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyLiPO3iXI/AAAAAAAAAS4/2X4XYjT5oTk/s320/P1000581.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223203088163637618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan kembali ke bumi. Melintas batas dan ngarai.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyLiPO3iXI/AAAAAAAAAS4/2X4XYjT5oTk/s1600-h/P1000581.jpg"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6800030989096826407?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6800030989096826407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6800030989096826407&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6800030989096826407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6800030989096826407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/07/blog-post_15.html' title='Puncak Lawu Part. III'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyLhiHlrVI/AAAAAAAAASY/GxDnl1jmOKY/s72-c/P1000546.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1882264598358750027</id><published>2008-07-15T04:02:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T03:11:00.850-08:00</updated><title type='text'>Puncak Lawu Part. II</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyHipH1MsI/AAAAAAAAARw/pH-16DdHJIs/s1600-h/P1000483.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyHipH1MsI/AAAAAAAAARw/pH-16DdHJIs/s320/P1000483.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223198697066934978" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga kurcaci berjemur usai kedinginan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyHjOTFpOI/AAAAAAAAASA/kDifOPZ4BJQ/s1600-h/P1000510.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyHjOTFpOI/AAAAAAAAASA/kDifOPZ4BJQ/s320/P1000510.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223198707046261986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan menuju puncak Hargo Dumilah, 3265 dpl. Penuh debu, tandus, &amp;amp; kering.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyHjQV7iXI/AAAAAAAAASI/jAHygCeDI1A/s1600-h/P1000534.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyHjQV7iXI/AAAAAAAAASI/jAHygCeDI1A/s320/P1000534.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223198707595053426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah botol. Sebuah rumah perlawanan bagi pendaki yang tak tahu diri dengan membuang bekas botol &amp;amp; plastik bekas.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyHjj3tShI/AAAAAAAAASQ/lmXDGSZp2i4/s1600-h/P1000544.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyHjj3tShI/AAAAAAAAASQ/lmXDGSZp2i4/s320/P1000544.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223198712836999698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pose di puncak Lawu, Hargo Dumilah, 3265 dpl.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1882264598358750027?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1882264598358750027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1882264598358750027&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1882264598358750027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1882264598358750027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/07/blog-post.html' title='Puncak Lawu Part. II'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHyHipH1MsI/AAAAAAAAARw/pH-16DdHJIs/s72-c/P1000483.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1025999040298409697</id><published>2008-07-14T01:34:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T03:17:10.591-08:00</updated><title type='text'>Perjalanan menuju Hargo Dumilah, 3265 dpl</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXx0PcfqI/AAAAAAAAAOo/xE2sxb_Rd2k/s1600-h/P1000395.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXx0PcfqI/AAAAAAAAAOo/xE2sxb_Rd2k/s320/P1000395.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222794337470676642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ning stasiun Balapan, kuto solo sing dadi kenangan" Ini adalah tempat berpijak pertama kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXyHe6osI/AAAAAAAAAOw/5NzU_UFTGNc/s1600-h/P1000403.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXyHe6osI/AAAAAAAAAOw/5NzU_UFTGNc/s320/P1000403.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222794342635840194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi liwet Bu Tini menjadi teman pengganjal. Enak, tentu murah meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXyNKwIEI/AAAAAAAAAO4/xTdrgFD9Nhk/s1600-h/P1000408.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXyNKwIEI/AAAAAAAAAO4/xTdrgFD9Nhk/s320/P1000408.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222794344161878082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik-naik ke puncak pick up, eh...naik-naik ke puncak gunung dingin-dingin sekali. Kiri kanan kulihat banyak................:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXyaPz60I/AAAAAAAAAPA/-USisv83YPU/s1600-h/P1000414.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXyaPz60I/AAAAAAAAAPA/-USisv83YPU/s320/P1000414.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222794347672759106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pose bentar ya. Ini tepat di depan pintu timur pendakian, "Cemoro Sewu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXymIEInI/AAAAAAAAAPI/UYAV-fQEurU/s1600-h/P1000417.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXymIEInI/AAAAAAAAAPI/UYAV-fQEurU/s320/P1000417.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5222794350861492850" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuk wak tuk wak tuk wak. Selangkah-selangkah yang penting sampai atas deh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1025999040298409697?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1025999040298409697/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1025999040298409697&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1025999040298409697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1025999040298409697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/07/foto.html' title='Perjalanan menuju Hargo Dumilah, 3265 dpl'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHsXx0PcfqI/AAAAAAAAAOo/xE2sxb_Rd2k/s72-c/P1000395.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-4318704092813815935</id><published>2008-07-08T23:09:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T03:39:17.299-08:00</updated><title type='text'>Candi Ceto - Candi Sukuh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHXxLzYhlHI/AAAAAAAAANo/ifKf9BaLqfM/s1600-h/P1000596.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHXxLzYhlHI/AAAAAAAAANo/ifKf9BaLqfM/s320/P1000596.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221344528079885426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHXxMMBqB7I/AAAAAAAAANw/BS0C0es9Cws/s1600-h/P1000649.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHXxMMBqB7I/AAAAAAAAANw/BS0C0es9Cws/s320/P1000649.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221344534694856626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pulau Jawa, lebih-lebih di wilayah Jawa Tengah, Solo, dan Yogyakarta, dikenal sebagai gudang situs purbakala berupa candi. Bangunan purba ini ada yang berlokasi di daratan, tak sedikit terbangun di daerah pegunungan, seperti Candi Ceto (Ceta), di Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Berlokasi di lereng barat Gunung Lawu yang merupakan bentang alam gunung, berbukit, dan dikelilingi tebing serta jurang nan terjal.&lt;br /&gt;Memasuki kawasan Candi Ceto, tak ubahnya melakukan pendakian rohani. Sepanjang perjalanan berliku-liku melalui perkebunan teh dan hutan. Tiap tingkatan dihubungkan dengan pintu masuk hingga menuju ke tingkatan paling suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibeberapa tingkatan juga terdapat relief yang bercerita tentang kehidupan binatang, dan manusia. Hingga akhirnya di puncak tidak ada apa-apa, kecuali kosong. Kosong ini disinyalir sebagai manifestasi dari "Manunggaling Kawula Gusti", bersatunya diri manusia dengan tuhan.&lt;br /&gt;Warga yang berdiam di sekitar Gunung Lawu dominan pelakon utuh ajaran Kejawen . Mereka amat menyucikan candi di kawasan berketinggian 1.400 meter dari atas permukaan laut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu penting arti kehadiran Candi Ceto beserta Gunung Lawu bagi warga Hindu di Karanganyar, bahkan Hindu di Nusantara. Ini bisa dipahami mengingat bangunan candi di wilayah pegunungan tua ini, merupakan candi Hindu peninggalan sisa-sisa kerajaan Majapahit. Di Candi Ceto juga banyak tersimpan arca bercerita tentang Samuderamanthana dan Garudeya, satu kisah yang diambil dari mitos Hindu. Ada pula patung Saraswati, dewi simbol kebijaksanaan yang berhiaskan peralatan sembahyang. Bahkan sesuai cerita yang berkembang di Karanganyar dan sekitarnya, Raja Majapahit, Prabhu Brawijaya V, sebelum moksa terlebih dahulu meruwat diri di Candi Sukuh yang berada di deretan bawah Candi Ceto. Usai menyucikan diri secara alam niskala, barulah sang raja mengakhiri hidupnya dengan jalan moksa di Candi Ceto. Ini memang kisah lawas yang hingga kini tetap diyakini kebenarannya oleh warga Karanganyar dan sekitarnya. Lebih-lebih lagi di areal candi, terutama pada halaman XIII, ada ditemukan arca Sabda Palon, tokoh penting dalam babak akhir Kerajaan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi arsitektur, candi ini mengingatkan pada kebudayaan Maya dan Aztec kuno di Amerika Tengah. Bangunannya berbentuk punden berundak-undak, seperti halnya Candi Sukuh. Semakin ke belakang bertambah meninggi—sekaligus berarti semakin sakral, suci. Secara filosofis posisi tempat suci seperti ini menyiratkan keyakinan bahwa gunung adalah suci dan arwah nenek moyang berada di gunung. Kepercayaan seperti ini telah tumbuh dan berkembang lama, sebelum Hindu dan Budha bertumbuh di negeri ini. Keyakinan masyarakat akan posisi gunung sebagai tempat yang suci mencapai puncaknya pada masa kejayaan Raja Majapahit. Pada zaman ini, orientasi bangunan suci bukan lagi ke timur-barat, melainkan berpatokan pada gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Candi ini terbagi ke dalam tiga halaman, mengikuti konsep trimandala (hulu, tengah, dan hilir) dan ada 12 teras. Masing-masing teras ditandai dengan ciri-ciri tertentu, di antaranya ada arca dan relief melambangkan ajaran Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada halaman pertama (terbawah) terdapat pintu masuk cukup tinggi. Di sini bisa ditemukan dua arca laki-laki yang sedang duduk bersimpuh menghadap ke arah barat, serta satu arca perempuan duduk bersimpuh menghadap ke timur. Teras berikutnya, ditandai dengan tangga masuk dan pada halaman tengah terdapat arca laki-laki. Pada teras ketiga ada bangunan gapura (candi bentar ) lumrahnya tempat suci di Bali, dan di teras empat juga terdapat arca laki-laki.&lt;br /&gt;Untuk menuju teras lima, mesti melewati tangga masuk dua buah undakan dan di sebelah utara (kiri) ada punden berundak. Bangunan tua itu ditutupi sebuah bangunan kayu beratapkan ijuk. Masyarakat turunan Gunung Lawu menyebut punden berundak itu dengan nama Krincing Wesi serta dipercaya sebagai penunggu kawasan Ceto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah timurnya ada tiga buah lingkaran sinar, yang di bagian bawahnya terdapat arca kura-kura di atas burung garuda yang sedang mengembangkan sayapnya.&lt;br /&gt;Pada sisi kiri dan kanan arca terdapat tumpukan batu sudah aus, di sebelah timurnya terdapat arca laki-laki sedang duduk menghadap ke barat. Di areal ini ada pula arca manusia berdiri menghadap barat, menggambarkan Dwarapala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teras delapan dilengkapi rilief kisah Adiparwa serta relief kisah Sudamala serta dua arca Dwarapala. Di teras sembilan dan sepuluh dilengkapi pendopo. Pada teras sebelas, selain ada pendopo, juga ditemukan arca Nayagenggong, yang memiliki kaitan erat dengan kisah Sabda Palon. Sedangkan arca Sabda Palon sendiri ditemukan pada teras XII. Di halaman paling atas, yang ditandai dengan gapura masuk, terdapat bangunan piramida terpancung. Belakangan lebih dikenal dengan sebutan trapezium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik lebih dalam makna simbolik pahatan-pahatan yang tergambarkan di Candi Ceto itu merupakan simbol kesuburan, mohon kesuburan dan kesejahteraan. Bukti konkret peradaban manusia kala itu dan sudah seharusnya kita bersyukur dengan peninggalan muktahir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(disadur dari berbagai tulisan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-4318704092813815935?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/4318704092813815935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=4318704092813815935&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4318704092813815935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4318704092813815935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/07/candi-ceto-candi-sukuh.html' title='Candi Ceto - Candi Sukuh'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHXxLzYhlHI/AAAAAAAAANo/ifKf9BaLqfM/s72-c/P1000596.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6155503440119868818</id><published>2008-07-08T23:04:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T04:00:35.564-08:00</updated><title type='text'>Mbah To &amp; Mbah Panut: Penunggu Gn. Lawu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHX-L034laI/AAAAAAAAAOY/heHoQJHlbpo/s1600-h/P1000499.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHX-L034laI/AAAAAAAAAOY/heHoQJHlbpo/s320/P1000499.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221358822131013026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Wajahnya agak lusuh. Pertanda kurang mandi. Perawakannya agak kurus. Penutup kepala buram menempel di kepala yang penuh uban. Sekilas cuek. Tapi matanya terus berkeliaran memperhatikan kami. Mbah To, itu namanya. Suprapto nama lengkapnya. Ia bersama istrinya, Mbah Panut sudah belasan tahun menjadi penghuni lereng Gn. Lawu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kenal maka tak sayang. Rasa penasaran mengantarkanku di peraduannya. Dari sekedar numpang menghangatkan badan, hingga pada obrolan seru. Ternyata mereka sangat ramah. Ini terlihat "rumah"-nya penuh sesak para pendaki. Sementara tak ada ruang lagi bagi sepasang suami istri ini. Ia merelakan semua tempatnya "diduduki" pendaki. Dari obrolan itu ternyata Mbak To  sudah naik Gn. Lawu ketika masih berusia 12 tahun. Dan sejak 1970, ia bersama istri, Mbah Panut, memutuskan berdiam di Gn. Lawu, tepatnya persis di depan Sendang Drajat. Sendang Drajat adalah satu-satunya sumber air di lereng Lawu. Tempat ini diyakini sebagai petilasan yang harus dijaga dan dilindungi. Untuk itu Mbah To, menjadi penjaga tempat keramat ini. Di sekitar Lawu sendiri terdapat banyak petilasan keramat yang sampai kini banyak dikunjungi orang, apalagi hari-hari tertentu, seperti malam 1 Suro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHX-Lt6mAiI/AAAAAAAAAOI/qYOJOwidQoU/s1600-h/P1000507.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 247px; height: 185px;" src="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHX-Lt6mAiI/AAAAAAAAAOI/qYOJOwidQoU/s320/P1000507.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221358820263330338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Untuk menjaga Sendang Drajat ini, Mbah To membuat rumah seadanya, mereka juga menyiapkan makan dan minum bagi pendaki yang kelaparan. Rumahnya pun unik, tersela dilereng, layaknya sebuah gua. Selain bertugas menjaga Sendang Drajat, Mbah To juga diperbantukan dinas kehutanan untuk menjaga hutan sekitar Lawu.  Tak jarang pula, Mbak To menjadi pihak pertama yang diberitahu ketika pendaki tersesat. Hampir semua pencarian pendaki yang hilang selalu melibatkan Mbah To.  "Disini hidupku tentram Mas" ujarnya singkat. "Nek dibawah sana, semrawut" katanya beralasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah barunya itu, Mbah To &amp;amp; Mbah Panut membuka warung sederhana. Tujuan cuma satu, membantu pendaki yang kehabisan bekal. "Kasihan mereka mas kalau kelaparan" sambung Mbah Panut. Untuk harga tidak ada patokannya. Bahkan tak jarang banyak pendaki yang tidak bayar karena lupa. Mbah Panut berujar semua itu ia relakan. Tak ada dendam, bahkan umpatan yang terdengar. Justru ia merasa bersyukur karena sudah bisa membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah To &amp;amp; Mbah Panut, seminggu sekali bergantian turun ke bawah untuk belanja. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Nek bareng-bareng mboten saget Mas, lha sing njagi niki sinten".&lt;/span&gt; Mereka juga sangat jarang mengunjungi keluarga, kecuali memang ada keperluan yang sangat mendesak, seperti kematian, dll. Sementara  itu, anak dan cucu dari Mbah To &amp;amp; Mbah Panut sudah  banyak yang tinggal &amp;amp; bekerja di Jakarta.  Mbah Panut bercerita, lebih enak tinggal di gunung daripada di kota besar. Kalau disana, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aku iso nyasar mas, nek ning gunung mboten nate kesasar.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6155503440119868818?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6155503440119868818/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6155503440119868818&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6155503440119868818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6155503440119868818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/07/mbah-to-mbah-panut-penunggu-gn-lawu.html' title='Mbah To &amp; Mbah Panut: Penunggu Gn. Lawu'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHX-L034laI/AAAAAAAAAOY/heHoQJHlbpo/s72-c/P1000499.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-2953213668356116744</id><published>2008-07-08T22:35:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T05:23:17.923-07:00</updated><title type='text'>Puncak Lawu: Hargo Dumilah 3265 dpl</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHXxx81aUMI/AAAAAAAAAN4/qlv0KkE1aNw/s1600-h/P1000442.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHXxx81aUMI/AAAAAAAAAN4/qlv0KkE1aNw/s320/P1000442.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221345183451992258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHXxx4bJQdI/AAAAAAAAAOA/Au0j12ZcDfo/s1600-h/P1000559.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHXxx4bJQdI/AAAAAAAAAOA/Au0j12ZcDfo/s320/P1000559.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221345182268080594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angan-angan naik gunung akhirnya kesampaian juga. Setelah terpendam cukup lama, hasrat itu terwujud.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-2953213668356116744?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/2953213668356116744/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=2953213668356116744&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2953213668356116744'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2953213668356116744'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/07/puncak-lawu-hargo-dumilah-3265-dpl.html' title='Puncak Lawu: Hargo Dumilah 3265 dpl'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHXxx81aUMI/AAAAAAAAAN4/qlv0KkE1aNw/s72-c/P1000442.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5575632358656550408</id><published>2008-06-27T00:43:00.000-07:00</published><updated>2008-06-27T03:30:42.474-07:00</updated><title type='text'>Film Itali: Cinta Tak bisa Dibeli</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Antonio, Lucia, Maria, dan Paolo adalah tokoh utama film semalam. Lucia bekerja di sebuah biro modeling. Maria dan Paolo tengah  mengikat janji menjadi sepasang suami istri. Maria juga bekerja di sebuah biro model yang berbeda. Lucia, Maria, dan Paolo bersahabat sejak lama. Di tengah persiapan pernikahan Maria dan Paolo, diam-diam ternyata Lucia juga menaruh hati dengan Paolo. Sebaliknya Paolo juga demikian. Di tengah kesibukan, dan tentu tak diketahui Maria, mereka sering berkencan. Dengan tekad bulat, Lucia mencari berbagai cara untuk memisahkan Maria &amp;amp; Paolo. Dengan pekerjaan di biro model, Lucia dengan mudah mencari calon lelaki yang akan dijadikan "umpan" untuk menjebak dan memainkan perasaan Maria. Dari sekian pilihan, akhirnya ia memilih Antonio. Seorang pengangguran yang tinggal bersama mantan kakak iparnya di sebuah flat yang kumuh. Alasan keuangan menjadikan Antonio menerima tawaran gila Lucia. Karena latar belakang yang sangat berbeda, Lucia mengajarkan banyak hal kepada Antonio tentang Maria. Mulai dari makanan kesukaan, tontonan favorit, tempat nongkrong, termasuk karya sastra yang paling disukai Maria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkah polah Antonio menghafal, menghayati setiap detil perannya ini membuat kekonyolan makin menjadi. Sebagai langkah awal pendekatan, Lucia menugaskan Antonio menonton teater yang juga sedang di tonton Maria seorang diri. Dengan berbekal buku tentang pentas teater itu, ia mantap mengambil duduk sebelah gadis berkaca mata tak jauh dari duduk Maria. Hanya saja bukannya menyimak jalan cerita teater itu, justru ia  tertidur pulas dengan buku lepas dari genggaman. Buku yang terjatuh inilah yang akhirnya menjadi titik awal perkenalan Antonio dan Maria. Hingga akhinya hubungan Maria-Antonio makin dekat. Maria bukannya tanpa beban menjalani &lt;span style="font-style: italic;"&gt;affair&lt;/span&gt; ini. Beberapa kali ia merasa bersalah dengan apa yang dilakukan. Dan Lucia pun menjadi pemenang untuk sementara waktu. Dan beberapa lembar uang Lira pun berpindah ke tangan Antonio. Sementara Maria berselancar dengan hubungan barunya, demikian pula Paolo-Lucia. Masing-masing tenggelam dalam benang kusut yang dibuat sendiri ini. Celakanya mereka semua menikmatinya. Benang kusut ini akhirnya menjalar pula pada pekerjaan Lucia. Bahkan ia hampir dipecat, hingga akhirnya ia memberdayakan segenap rasa untuk membuktikan bahwa pemecatan itu bisa dibatalkan. Dan memang akhirnya ia berhasil. Di tengah keberhasilan menyakinkan atasannya, ia pun diliputi kecemasan yang dasyat  hubungannya dengan Paolo. Dalam hati dia merasa bersalah. Apalagi ia pun tak mau merusak persahabatan dengan Paolo-Maria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut lain, Maria-Antonio tengah di mabuk asmara. Maria pun sudah berbulat hati memutuskan tali tunangannya dengan Paolo. Niat itu sudah bulat. Hanya saja akhirnya tidak sanggup ia sampaikan. Sementara Antonio pun sudah jatuh hati "betulan". Mendengar niat Maria, Antonio menjadi marah dan gusar. Ia pun mengumpat dan mengecam Lucia. Kata yang aku ingat, Antonio  mengatakan bahwa cinta itu tidak bisa dibeli dengan uang.  Sebab cinta itu datang dari hati. Di tengah ketersambungan kembali tali kasih Maria-Paolo, Antonio memutuskan pergi keluar negeri. Sementara Lucia ternyata merasa kehilangan Antonio. Dengan berbagai cara ia mencari Antonio. Biar bagaimana pun ia berhutang banyak dengan Antonio. Berbekal penuturan mantan kakak ipar Antonio, didapat kabar bahwa memang Antonio sudah berangkat ke bandara. Dan segera Lucia meluncur menyusul. Lalu lalang orang yang padat, membuat ciut Lucia untuk mencari Antonio. Seperti kebanyakan film lainnya, akhirnya Lucia pun berhasil mempertemukan Antonio. Usut punya usut ternyata, pertemuan dibandara ini merupakan skenario Maria yang ingin menyatukan Lucia dan Antonio. Jadi mereka semua ternyata menjadi sutradara masing-masing bagi sahabat-sabahatnya. Lucu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita film ini mungkin sudah jamak di layar kaca kita. Hampir semua sinetron kita pun sudah sering mengangkat cerita ini. Bahwa cinta itu memang tidak bisa dipaksakan, apalagi ditukar dengan materi. Seperti lagu Padi: Cinta bukan sekedar kata, cinta pasti bukan hanya harta dunia semata................&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-5575632358656550408?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/5575632358656550408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=5575632358656550408&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5575632358656550408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5575632358656550408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/film-itali-cinta-tak-bisa-dibeli.html' title='Film Itali: Cinta Tak bisa Dibeli'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-2721935625084676158</id><published>2008-06-26T20:44:00.000-07:00</published><updated>2008-06-27T02:10:59.858-07:00</updated><title type='text'>Bus Way, Bye Bye</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SGSuVGUmwYI/AAAAAAAAANY/oefVRtuvu7g/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SGSuVGUmwYI/AAAAAAAAANY/oefVRtuvu7g/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216485945899401602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Pagi tadi, aku bangun seperti biasa. Hanya saja hari ini ada perlu persiapan ekstra yang perlu dilakukan. Maklum, aku dkk jauh hari berencana naik gunung. Tepatnya gunung Lawu. Dan kami sepakat nanti malam kita berangkat ke Solo naik kereta api. Agak pagi, sengaja aku bangun untuk mempersiapkan semuanya. Harapannya bisa naik busway.  Maklum hari ini aku tidak naik motor seperti biasa ke kantor. Tas besar sudah di punggungku. Agak berat ternyata. Tak apalah, naik gunung memang yang perlu dibawa banyak. Akhirnya dengan berusaha melangkah santai aku menuju halte busway tak jauh dari kostku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak lihat pasti jam berapa aku berangkat. Tapi rasanya sih masih pagi. Lalu lalang orang dan kendaraan sudah mengeriyap di hadapanku. Tak biasa rasanya. Sebab tiap pagi, aku memang tidak melewati jalur umum ini. Tanpa pikir panjang, beli tiket busway, 3.500. Cukup murah sebenarnya. Di halte itu, tak banyak orang. Hanya beberapa antrian aja. Semenit dua menit menunggu. Ada busway meluncur kencang.Tapi kosong dan melintas saja di depan. Ruat muka kecewa hampir semua terlihat. Was-was akan terlambat datang ke kantor terjadi.  Beberapa busway memang datang, tapi sudah sangat sarat penumpang. Tiap kali berhenti, yang bisa naik hanya satu orang. Gila. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Seorang perempuan muda terlihat beberapa kali mengangkat telpon selulernya. Pertanda mengabarkan ketidaksabaran menunggu. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sejurus kemudian ia memutuskan membubarkan diri dari antrian dan beranjak keluar halte. Tak lama menunggu ia sudah di atas bus Patas arah Blok M. Sementara aku dan beberapa orang masih menunggu dan menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melirik ke arah sebelah, ternyata jam sudah hampir pukul 8. Wah bisa telat nih, batinku. Aku memutuskan untuk mengikuti jejak perempuan tadi meninggalkan halte busway. Ojek akhirnya menjadi pilihan. Dalam boncengan aku berpikir. Wah bisa sinting kali kalau tiap pagi selalu begini keadaannya. Busway selama ini memang menjadi angkutan alternatif. Sayang manajemennya masih amburadul. Ulah sopir yang masih jauh dari ideal, jadwal yang kacau balau, masih menggelayut. Busway ideal bagi mereka yang gak dikejar-kejar waktu. Sebab selain harus menyambung halte berikut jika tak searah, penyediaan jalur khusus pun tak mampu menjawab "kecepatan" busway. Jika memang mepet waktu tak ada gunanya menggunakan busway. Lebih baik cari angkutan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busway, bye bye aja deh. Mending naik "si hitam" aja pasti cepat sampai tak perlu menggerutu menanti busway yang selalu penuh sesak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-2721935625084676158?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/2721935625084676158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=2721935625084676158&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2721935625084676158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2721935625084676158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/bus-way-bye-bye.html' title='Bus Way, Bye Bye'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SGSuVGUmwYI/AAAAAAAAANY/oefVRtuvu7g/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1303042388839784718</id><published>2008-06-24T03:42:00.000-07:00</published><updated>2008-06-26T22:07:19.842-07:00</updated><title type='text'>22 Juni</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;22 Juni bisa jadi hari istimewa buat aku. Hari jadi kota Jakarta juga menjadi peringatan hari kelahiranku beberapa tahun silam. Ning adalah orang pertama yang kasih ucapan. Tepat pergantian hari, dia telpon. Beberapa saat, Ibu OHL sms. Isinya sama. Mengucapkan selamat ulang tahun. Segera pun aku balas. Kebetulan hari itu Ibu OHL juga berulang tahun. Paginya aku sempat mengulangi ucapan ini tapi via telpon. Tak lama kemudian, Ibuku sendiri telpon. Mengucapkan ulang tahun. Tak sempat berbicara banyak karena dia harus berangkat menuju TPS. Maklum hari itu Jawa Tengah mengadakan pilkada. Di tengah asyik telpon, diam-diam, Isy, teman kostku mengguyur aku dengan air kendi. Aku sempat semprot dia. Beberapa teman kost akhirnya juga memberi selamat. Aku terima ucap salam mereka dengan suka hati. Abangku yang di Jogja juga sms mengucapkan selamat. Di sms itu ada kata-kata: "Mana kadonya"? Hah? Bukannya yang ulang tahun yang harusnya dikasih kado? Hari itu inbox HP-ku beberapa kali berdering. Teman-teman di Semarang, Surabaya, bahkan dari Balik Papan memberi pesan ucapan selamat. Banyak juga ternyata yang kasih ucapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat baru pasti selalu ada ketika peringatan hari lahir tiba. Namanya peringatan, pasti kita diingatkan beberapa saat tentang diri kita. Siapa kita, keluarga kita, komunitas kita, dll. Hari itu aku mengawali hari dengan berbenah kamar kost. Maklum selama ini kamar itu aku agak bengkalaikan. Mungkin cuma numpang tidur saja tepatnya. Beberapa buku yang tercecer aku rapikan. Nyapu dan ngepel akhirnya aku lakukan. Hari itu pula, aku nitip belanja ke Mbak Gina, pembantu kost kami. Ada beras, ayam, bumbu, lalapan, dll untuk makan malam teman-teman. Aku memang sengaja mengundang mereka untuk merayakan hari lahir itu. Mungkin sudah lama aku tak melakukannya. Meski sederhana, yang penting mereka bisa merasakan kebahagiaan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resolusi? Entahlah. Aku sama sekali tak mengenal istilah itu. Yang ada diotakku ya berusaha menjalani saja hidup ini sebaik mungkin. Kadang jika melihat teman-teman seusiaku, memang banyak yang berbeda. Tapi toh perbedaan itu memang pilihan yang kita ambil sendiri. Bukankan hidup itu cuma serangkaian pilihan-pilihan saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, ulang tahun sebenarnya tak beda jauh dengan hari-hari yang lain. Yang berbeda cuma satu bahwa aku makin tua. Jatah hidup makin berkurang. Ibarat kita punya jatah hidup 50 tahun di bumi ini. Tiap tahun kita dikurangi jatah hidup itu. Jadi sebetulnya yang tepat menurutku bukan selamat ulang tahun, tapi selamat memperingati hari lahir. Supaya kita selalu ingat bahwa hidup kita makin singkat dan berkurang. Selamat memperingati hari lahir untuk diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1303042388839784718?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1303042388839784718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1303042388839784718&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1303042388839784718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1303042388839784718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/22-juni.html' title='22 Juni'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6853139147404362637</id><published>2008-06-20T04:02:00.000-07:00</published><updated>2008-06-24T19:21:30.465-07:00</updated><title type='text'>Bubur Istana</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hari itu, seperti hari-hari lain aku menunaikan tugas seperti biasa. Pagi-pagi benar sudah harus sampai kantor karena ada acara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bike to Work&lt;/span&gt; bersama SBY jam 7 pagi. Sebenarnya sangat berat harus bangun pagi. Tapi karena tugas apa mau dikata. Bukankah pekerjaan ini memang aku yang mau sendiri. Suruh siapa mau bekerja yang tidak mengenal waktu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang kita dapat, peserta akan dibagi beberapa titik temu. Salah satu titik bundaran HI. Tempat ini memang titik paling strategis seantero Jakarta. Siapa sih yang gak kenal? Saban demo pasti tempat ini menjadi titik favorit. Begitu kami datang, sudah ada beberapa orang yang memarkirkan sepedanya. Wajah ceria tampak diiringi gelak celoteh diantara mereka.  Mereka masih menunggu beberapa kawan yang akan bergabung. Satu per satu peserta datang, termasuk ketua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bike to Work&lt;/span&gt;, Mas Toto Sugito. Ternyata kedatangan Mas Toto membawa keramaian. Di tangan dan kakinya terdapat beberapa luka. Usut punya usut Mas Toto mengalami kecelakaan. Katanya sih nabrak pohon. Nah lho. Mas Toto lain kali, ati-ati ya. He........:) Ketika di bundaran HI ini, aku berpikir, acara besar seperti ini kok gak ada yang liput ya? Apa karena kepagian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan akhirnya berangkat juga. Dengan santai namun semangat, mereka menggenjot sepeda masing-masing menuju Monas. Dan ternyata di pelataran Monas, Jl. Merdeka Selatan, SBY sudah menanti. Tentu disini, sudah bejibun wartawan yang nongkrong. "Ternyata aku salah tempat nih" batinku sesal.  Bertandem dengan Ibu Ani, SBY tampak bersiap menggenjot sepedanya. Acara hari itu juga diikuti beberapa menteri. Tampak Marie E. Pangestu, Rachmat Witoelar, Purnomo Yusgiantoro, Menpora Adhyaksa Dault, dll. Tak ketinggalan bang kumis, jubir Presiden, Andi Malarangeng. Tak lama setelah berkumpul, SBY pun memimpin rombongan ini menuju istana. Yang pasti jaraknya tak jauhlah. Lha wong sekelabatan mata saja, istana sudah nampak kok dari lokasi rombongan ini. Tapi yang penting suasana dan kampanye untuk irit energi patut diapresiasi. Para pemburu berita, sibuk dengan kamera masing-masing. Tak ketinggalan aku juga. Namun segera setelah SBY mengayuhkan sepedanya, semua bubar berebut naik ke mobil pick up yang sudah dipersiapkan. Dan celakanya aku kurang gesit diantara mereka. Akhirnya tertinggallah diriku. Kecewa pasti, tapi apa mau dikata. Sementara rombongan sudah bergerak, akhirnya aku langkahkah kaki menuju istana bersama beberapa orang yang tertinggal. Yah ternyata ada temannya juga. Gak malu-malui bangetlah kalau gitu. He......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sampai dipintu masuk istana, ternyata kami tak tertinggal jauh dengan peserta bike to work. Banyak peserta juga yang baru sampai. Kami pun langsung berbaur dengan mereka bersama masuk ke dalam istana. Beberapa pemeriksaan tetap dilakukan walau agak santai. Hingga tiba di pintu pemeriksaan terakhir, seorang penjaga menanyakan identitas istana bagi wartawan. Lalu aku jawab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gak &lt;/span&gt;ada karena memang sehari-hari, saya tidak bertugas disana. Namun kali ini kami diperbolehkan untuk masuk istana. Uh..........:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam istana suasana sangat santai. Beberapa orang tampak berfoto ria. SBY sendiri pun berbaur dengan mereka. Sangat berbeda dengan keseharian yang penuh protokoler. Setelah lepas lelah, Mas Toto memberi sambutan yang diteruskan SBY. "Saya kira banyak yang bisa kita dapatkan karena itu saya telah sampaikan kepada saudara Toto, mari kita  buat kegiatan ini lebih reguler dan rutenya lebih panjang, terutama untuk kami. Lebih pagi sedikit supaya tidak mengganggu lalu lintas" ujarnya disambut tepuk tangan komunitas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bike to work. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara pagi itu dilanjutkan dengan penyerahan satu bingkai foto bergambar SPBU dengan tangki berbentuk galon air. Segera setelahnya, peserta &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bike to work &lt;/span&gt;menyerbu beberapa gerobak makan yang sudah disediakan SBY. Ada lontong sayur, ada pula bubur ayam. Dan akhirnya aku memutuskan memilih bubur ayam untuk mengurangi kesemrawutan pagi itu. Untung ada bubur istana. Jalan kaki monas-istana terbayar sudah. Hah!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6853139147404362637?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6853139147404362637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6853139147404362637&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6853139147404362637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6853139147404362637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/bubur-istana.html' title='Bubur Istana'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-3806358913963861794</id><published>2008-06-19T02:11:00.000-07:00</published><updated>2008-06-24T19:37:10.435-07:00</updated><title type='text'>RENCANA BESAR</title><content type='html'>&lt;p&gt;by Padi (Tak Hanya Diam)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bisakah ku singgah dihatimu&lt;br /&gt;Berharap sebentuk tempat yang tulus&lt;br /&gt;Sesuatu yang kupercaya&lt;br /&gt;Ada tersimpan disana&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terlalu lama aku harus terdiam&lt;br /&gt;Atau mungkin ku tak percaya sungguh&lt;br /&gt;Akan kesempatan dan kemungkinan&lt;br /&gt;Yang terjadi nanti&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karna ku yakin ada pintu yang terbuka&lt;br /&gt;Diantara hatiku dan hatimu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Its been years since we've met&lt;br /&gt;And days had gone by&lt;br /&gt;Now its time to make up my mind&lt;br /&gt;And I hope that we can make it to the end&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila firasat ini memang benar&lt;br /&gt;Memilikimu adalah maksud&lt;br /&gt;Dari sebuah rencana besar&lt;br /&gt;Merubah hidupku&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jikalau aku harus berhitung benar&lt;br /&gt;Akan kemungkinan yang bisa ada&lt;br /&gt;Bilaku bisa memilikimu&lt;br /&gt;Bahagialah aku&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena ku yakin ada pintu yang terbuka&lt;br /&gt;Diantara hatiku dan hatimu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Its been years since we've met&lt;br /&gt;And days had gone by&lt;br /&gt;Now its time to make up my mind&lt;br /&gt;And I hope that we can make it to the end&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Its been years since we ve met&lt;br /&gt;And days had gone by&lt;br /&gt;Now its the  time to make up my mind&lt;br /&gt;Oh...May be I could nev er have you in my life&lt;/p&gt; &lt;p&gt;(Perkenankanlah aku singgah dihatimu&lt;br /&gt;Berharap sebentuk tempat yang tulus&lt;br /&gt;Sesuatu yang kupercaya&lt;br /&gt;Ada tersimpan disana)&lt;/p&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Note: Lagu ini menurutku mantap banget. Minimal bisa bikin goyang kaki &amp;amp; kepala. Kalau gak percaya cari aja deh mp3-nya. Dijamin gak cukup dengar sekali.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Time to make up my mind. Rasanya itu yang perlu aku lakukan sekarang ini.!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-3806358913963861794?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/3806358913963861794/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=3806358913963861794&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3806358913963861794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3806358913963861794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/rencana-besar.html' title='RENCANA BESAR'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5833399879680684655</id><published>2008-06-16T22:25:00.000-07:00</published><updated>2008-06-16T23:11:15.556-07:00</updated><title type='text'>Kungfu Panda: Panda yang bikin Terpingkal!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SFdMIkA7OWI/AAAAAAAAANA/jywLCjJnZ7g/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SFdMIkA7OWI/AAAAAAAAANA/jywLCjJnZ7g/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5212718803694860642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;"Mau nonton Kungfu Panda gak" begitu seru seorang teman diujung sana. Tanpa pikir panjang aku pun mengiyakan saja. Padahal aku gak tahu sebelumnya tentang film ini. Aku bukan maniak nonton film. Sesaat, seorang teman diujung telpon bilang, "elu gila ya masak nonton film kartun, untung gua hari ini ke Solo, jadi gak bisa ikut". Entah betulan mempertanyakan film kartun yang aku akan tonton atau perasaan iri saja karena tidak bisa nonton bareng. Ha.....:)&lt;br /&gt;Bioskop malam itu ternyata sudah penuh sesak. Tak ada bangku tersisa. Semua umur lumer jadi satu. Ada anak kecil juga orang tua. Yah artinya aku bukan termasuk barisan orang yang nonton tak sesuai umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Po (Jack Black) si Panda adalah anak seorang penjual mie. Melihat Po yang seorang Panda dan ayahnya yang seperti bebek rasanya aneh. Tapi itulah kehebatan film kartun. Suatu hari, ketika tidur Po bermimpi menjadi jagoan Kung Fu. Namun ia takut merealisasikan mimpi ini karena tak mau mengecewakan ayahnya. Sang ayah berharap Po menjadi generasi penerus penjual mie tulen. Kesempatan tak datang dua kali. Mungkin itu yang ada di benak Po, ketika sebuah perguruan Kungfu ternama mencari pendekar naga. Ia ingin mengikuti audisi itu. Namun untuk mengelabui sang ayah, ia turut serta membawa gerobak mie ayahnya dengan alasan akan berjualan di dekat tempat audisi itu. Namun karena perguruan kungfu terletak di atas gunung, Po pun kesulitan mengangkut gerobak ayahnya. Ke pucuk gunung dengan membawa diri yang super besar saja ia kerepotan. Akhirnya gerobak ditinggal. Dengan berbagai cara dan usaha ia akhirnya sampai di tempat audisi. Sayang, ketika ia akan masuk ke dalam perguruan, ternyata pintu persis baru saja ditutup. Kecewalah si Po. Dengan seribu akal, Po berusaha masuk ke dalam, salah satunya dengan menaiki pohon dan menaiki balon udara sederhana. Cara kedua inilah yang akhirnya menuntun dia ke dalam perguruan kungfu meski itu pun secara kebetulan, khas film kartun. Ketika seorang Shifu (kepala perguruan) akan mengumumkan siapa yang akan menjadi pendekar naga, tiba-tiba tubuh tambun Po terhempas di singgasana bagi pendekar naga. Dan akhirnya Po dinobatkan sebagai pendekar naga. Dia pun masih belum menyadari hal ini. Sementara proses penobatan ini tentu membuat berang Furious Five, yang selama ini digadang-gadang sebagai calon pendekar naga. Mereka adalah Tigress, Monkey, Mantis, Viper, dan Crane. Pertemuan dan pertemanan mereka pun tak pernah akur.  Po dianggap tak layak menjadi pendekar naga untuk mengalahkan Tai Lung, mantan murid perguruan itu yang tamak hingga akhirnya dijebloskan ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam penjara, ternyata Tai Lung berhasil kabur dan menuntut balas dendam ke perguruan. Disisi lain, tubuh gendut, jalan yang lamban, dan seabreg kekurangan Po membuat dirinya tak percaya diri belajar kungfu. Bahkan Master Shifu sempat meragukannya. Namun ketika Master Oogway meninggal, Master Shifu tak punya pilihan lain untuk terus melatih Po. Ia melatih Po dengan makanan, mengingat Po memang suka sekali makan. Dan seiring berjalan waktu, cara ini berhasil. Tubuh gendutnya tak lagi halangan untuk bergerak membuat jurus kungfu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya Tai Lung datang balas dendam. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Furious Five tak berhasil membendung Tai Lung. Termasuk Master Shifu. Melihat hal ini, Po tak tinggal diam. Awalnya Tai Lung menganggap remeh Po. Namun dengan hasil kerja keras latihannya selama ini akhirnya mampu mengalahkan Tai Lung. Po pun akhirnya dinobatkan sebagai pendekar naga sejati oleh rakyat sekitar perguruan. Ayahnya yang semula tak suka Po berlatih kungfu pun akhirnya menerima dan tentunya bangga dengan anak tambunnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;br /&gt;Kungfu Panda mengingatkan aku dengan The Cars. Film kartun serupa yang tak kalah seru. Efek grafis yang membahana membuat decak kagum plus tertawa terbahak sepanjang film diputar. Film ini juga sarat makna. Bahwa tubuh tambun tak harus menjadi halangan untuk maju. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-5833399879680684655?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/5833399879680684655/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=5833399879680684655&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5833399879680684655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5833399879680684655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/kungfu-panda-panda-yang-bikin.html' title='Kungfu Panda: Panda yang bikin Terpingkal!'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SFdMIkA7OWI/AAAAAAAAANA/jywLCjJnZ7g/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5961607507801804456</id><published>2008-06-15T23:04:00.000-07:00</published><updated>2008-06-26T22:05:20.099-07:00</updated><title type='text'>Lagi Lagi Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SGRzpI3PmFI/AAAAAAAAANQ/wKDNVakXVw8/s1600-h/P1080789.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SGRzpI3PmFI/AAAAAAAAANQ/wKDNVakXVw8/s320/P1080789.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216421418992900178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Naiknya harga BBM membuat pusing banyak pihak. Dan pihak yang paling pening kepalanya sapa lagi kalau bukan ibu-ibu rumah tangga. Mereka harus berjibaku mengatur keuangan keluarga. Sebenarnya jauh hari sebelum BBM naik, mereka pasti sudah "ahli" bagaimana memilah kebutuhan yang harus dipenuhi dengan uang yang selalu mepet. Itu pula yang dilakukan Ibu Eni dan Ibu Rohmani. Mereka tinggal berhimpitan di pemukiman padat tak jauh dari terminal Pulo Gadung. Ibu Eni tinggal bersama 2 orang anak yang masih bersekolah, namun suaminya tak bekerja hingga kini karena PHK beberapa tahun silam. Keluarga yang berasal dari Sukoharjo, Solo ini mengontrak sepetak rumah seharga 400.000 per bulan. Sehari-hari Ibu Eni berdagang apa saja. "Yang penting halal Mas" ujarnya suatu ketika. Awalnya Ibu Eni menjadi Yakult Lady, penjual minuman Yakult keliling. Maksud hati ingin menambah pemasukan dengan menambah barang yang di jual, namun pihak Yakult tidak mengijinkan. Akibatnya pemberhentian pun dilakukan. Sebab memang aturannya tidak boleh menjual barang lain selain Yakult. Terpaksa, Ibu Eni mencari akal lain. Bagian konsumsi hajatan kelurahan selalu diembannya. Harapan tentu ada sedikit pemasukan dari sini. Seperti hari itu kami mengikuti Ibu Eni memesan sejumlah kue untuk acara di kelurahan. "Kalau tidak begini, anak-anak tidak bisa sekolah Mas" ungkap Ibu yang juga aktif di Komisi Perempuan Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa juga dilakukan Ibu Rohmani. Wanita asli Betawi ini telah menjanda dengan anak-anak yang sudah besar. Ndut, demikian biasa wanita berbadan besar ini di sapa. Meski memiliki rumah sendiri peninggalan orang tuanya, dengan beberapa kamar kontrakan, namun ia tak berpangku tangan. Setidaknya sudah tahunan ia menjalani sebagai seorang Yakult Lady. Pembawaan yang ceplas ceplos memudahkan ia menjaring beberapa konsumen. Seperti hari itu, ketika kami mengikutinya. Dalam sekejap beberapa botol kecil Yakult telah berpindah tangan. Bahkan ada seorang ibu yang gigit jari karena tidak kebagian. "Nanti saya datang lagi kok Bu" demikian hiburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Ibu-ibu ini mengingatkan saya dengan Ibu di rumah. Sejak Bapak meninggal, Ibulah yang membanting tulang membesarkan kami berlima. Prinsip Ibu waktu itu cuma satu: kerja, kerja, dan kerja. Anak-anaknya tak satupun yang tidak diperbolehkan nganggur, apalagi bermain. Harap maklum, jika kami kurang banyak teman bermain. Sebab masa kecil kami, hanya diisi dengan bekerja. Mainanku cuma satu kala itu: sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di keluarga kami semua sudah ada jatah kerjanya. Ada yang ambil kayu, memasak, menggembala kambing, dan tentu juga membantu membuat tape singkong. Dari jenis tapioka inilah Ibu mempertahankan ekonomi keluarga, juga berhasil mengentaskan pendidikan kami. Urusan pendidikan memang tak pernah ditinggalkan Ibu. Setiap kali ada kartu pembayaran SPP datang, setiap itu pula, SPP segera dilunasi. Bahkan sampai satu tahun ajaran. Selain itu juga, jika ada buku pelajaran yang harus dibeli, Ibu segera meminta kami untuk memberi catatan untuk diberikan kepada penjual buku pelajaran tak jauh dari tempat berdagangnya di emperan pasar. Dan hari itu pula biasanya kami sudah memegang buku pelajaran yang diminta ibu guru. Meski berpeluh, tapi itu semua patut kami syukuri kini. Sebab hingga sekarang keluarga kami baik-baik saja. Ibu sudah kami minta untuk "pensiun". Biarlah kami yang menggantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Eni, Ibu Rohmani mungkin contoh umum masyarakat pinggiran dalam menyiasati melambungnya harga-harga. Walau tak jarang banyak pula yang akhirnya tergilas dalam perubahan ini dan menyerah terhadap keadaan. Namun rasa optimis harus terus ditumbuhkan. Rasa bahwa masih ada harapan tersisa dari situasi yang sulit inilah yang menjadi semangat untuk terus bertahan dan berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-5961607507801804456?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/5961607507801804456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=5961607507801804456&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5961607507801804456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5961607507801804456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/lagi-lagi-perempuan.html' title='Lagi Lagi Perempuan'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SGRzpI3PmFI/AAAAAAAAANQ/wKDNVakXVw8/s72-c/P1080789.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-4361090780185911426</id><published>2008-06-12T01:13:00.000-07:00</published><updated>2008-06-13T04:24:57.708-07:00</updated><title type='text'>May</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SFDa3E7m1dI/AAAAAAAAAM4/Uz41rd1_8Fk/s1600-h/maythemovie1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SFDa3E7m1dI/AAAAAAAAAM4/Uz41rd1_8Fk/s320/maythemovie1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5210905408619075026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="item_desc"  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;May. Singkat. Itulah judul film yang terpampang. Diliputi rasa penasaran, aku cari infonya di internet. Info singkat yang aku dapat bahwa May  merupakan kisah cinta dengan latar belakang kesaksian atas peristiwa yang merupakan catatan kelam bangsa Indonesia yaitu Peristiwa Mei 98. May menggambarkan bagaimana cinta antara tokoh Antares yang pribumi dan May yang warga keturunan harus berpisah dan hancur lebur karena peristiwa sosial yang terjadi, termasuk memisahkan orang-orang sekitar mereka. Namun demikian May juga menampilkan upaya penyembuhan luka dan pemaafan melalui cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang karena agak terlambat, aku tidak mengikuti pemutaran film ini dari awal. Alur maju mundur terlihat jelas di film ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Angle &lt;/span&gt;dokumenter terasa sekali dalam proses pengambilan gambar film ini. Sangat memanjakan indra penglihatan kita. Maklum DOP film ini adalah seorang dokumentaris, Ical Tanjung yang memang sudah malang melintang di jagad dokumenter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat film ini awalnya saya berharap dapat melihat "rekonstruksi" utuh tentang kejadian 10 tahun silam. Maklum, saya termasuk yang melihat langsung sejarah kelam itu. Namun harapan tinggal harapan karena ini hanyalah sebuah film semata. Adegan kerusuhan, penjarahan, kebringasan 10 tahun silam tak terekam jelas. Hanya simbol-simbol saja yang berbicara. Itu pun tak tuntas sekali. Yang ada hanya samar-samar saja. Padahal dalam benak saya, justru bagian ini yang harusnya menjadi titik perhatian dalam film ini. Namun lepas dari itu semua,  dramaturgi cerita film ini patut diacungi jempol. Akting Jenny Chang yang memerankan May menurut saya sangat baik. Dia mampu memerankan dua tokoh di beda jaman dengan baik, meski tidak bisa dikatakan terlalu baik. Kecentilan vs kedewasaan inilah yang menjadi kontradiksi peran May. Dia yang selalu manja dengan Antares sepuluh tahun silam berbanding terbalik dengan kondisi dia kini yang harus tumbuh sendiri tercerai berai dengan masa lalu, anak yang tak dikehendaki, juga terpisah dengan Cik Bing (ibunya) sendiri. Sayangnya, bagi saya kisah cinta May &amp;amp; Antares terasa sangat datar. Kisah manusia yang berbeda mungkin akan menarik jika disertai pertentangan orang tua yang memang biasa terjadi. Bagaimana perjuangan mereka dalam mewujudkan cinta itu akan menarik kalau dieksplor lebih lanjut. Mungkin karena urusan durasi, sehingga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;point &lt;/span&gt;ini kurang tergarap. Sementara itu, akting yang kurang maksimal justru datang dari Yama Carlos (Antares), pacar May. Kurang maksimal. Selebihnya akting aktris pendukung seperti Ria Irawan, Lukman Sardi, Niniek L Karim mampu menutupi kekurangan-kekurangan sebagai mana terjadi pada sebuah produksi film. Namun dari sekian banyak peran, menurut saya, justru peran Lukman Sardi yang harus diapresiasi. Dia mampu berperan sebagai orang Jawa  yang patuh dan memiliki prinsip, juga memiliki hati nurani. Meski sukses, tapi karena diliputi perasaan bersalah karena telah menggadaikan sertifikat rumah Cing Bing (ketika Cing Bing mau meloloskan diri ke luar negeri), ia mati-matian berjuang, termasuk menanggung malu keluarganya sendiri demi mengobati perasaan bersalahnya kepada keluarga Cik Bing. Baginya, hidup sederhana tak memiliki beban nurani jauh lebih bermartabat daripada hidup kaya raya namun di atas derita orang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Point &lt;/span&gt;ini yang menurut saya kejelian penulis cerita film ini. Sebuah nilai yang patut dilihat dan diteladani punggawa negara kita yang masih jauh dari "nurani" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ending &lt;/span&gt;film ini terasa kurang menggigit, namun tontonan malam itu benar-benar sarat makna.  Meski pula yang melihat malam itu bisa dihitung  dengan jari, namun saya yakin mereka yang pulang ke rumah pasti membawa sesuatu. Seonggok sejarah kelam bangsa yang jangan sampai terjadi lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-4361090780185911426?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/4361090780185911426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=4361090780185911426&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4361090780185911426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4361090780185911426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/may.html' title='May'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SFDa3E7m1dI/AAAAAAAAAM4/Uz41rd1_8Fk/s72-c/maythemovie1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1347934185712363601</id><published>2008-06-09T03:01:00.000-07:00</published><updated>2008-06-12T05:44:01.898-07:00</updated><title type='text'>Pancasila Sakti vs Pancasila Sakit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SE0Dxukj_VI/AAAAAAAAAMw/KdEes3kPoAY/s1600-h/180px-Garuda_Pancasila,_Coat_Arms_of_Indonesia.svg.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SE0Dxukj_VI/AAAAAAAAAMw/KdEes3kPoAY/s320/180px-Garuda_Pancasila,_Coat_Arms_of_Indonesia.svg.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209824496787389778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Silang sengkarut sosial kemasyarakatan akhir-akhir ini merajalela. Aksi kekerasan di balas kekerasan. Aksi saling menantang mengemuka di bumi pertiwi. Dengan menggandang ayat-ayat agama, orang dengan lantang memberi pentungan kepada sesama, hanya karena perbedaan sikap. Seolah negeri ini tanpa komando, tanpa pemimpin. Barbar. Yang ada cuma hukum rimba saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jauh hari, negeri ini dibangun atas dasar kebhinekkaan. Berbeda-beda tapi satu jua katanya. Ideologi adi luhung itu terasa hambar kini. Asam. Semua tak dipakai lagi. Semua bertindak atas kehendak sendiri. Tak ada lagi beda yang satu itu. Tak ada lagi aneka yang satu itu. Bahkan dalam sebuah peringatan hari lahir Pancasila beberapa waktu lalu, sebuah spanduk menggambarkan gambar burung Garuda sedang tertusuk tombak dan berlumuran darah. Ini pertanda bahwa Pancasila memang sedang sakit. Pancasila tak lagi dipandang sebagai ideologi bersama, namun kini masing-masing kelompok memiliki ideologi sendiri-sendiri. Ideologi yang terkadang dibenturkan dan dipaksakan kepada kelompok lain yang bersebrangan. Ideologi yang berbeda tak lagi dimaknai sebagai sebuah kekayaan, bukan lagi sebagai aset bangsa, namun dilihat sebagai musuh meski itu bangsa kita sendiri. Bahkan seorang teman beberapa kali mengatakan, sekarang ini sebenarnya kita masih terjajah. Bukan saja terjajah dengan bangsa asing, lewat liberalisasi dan globalisasi, namun juga kita terjajah oleh bangsa kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah dengan siapa lagi kita berharap negara hukum ini ditegakkan. Sementara pemerintah terkesan lamban dalam bersikap. Terlalu hati-hati. Hingga akhirnya bukannya menyelesaikan masalah, justru malah menambahi masalah. Persoalan kekerasan misalnya, tindak tanduk polisi sebagai petugas keamanan terdepan pun masih jauh dari mottonya. Pelindung dan pengayom masyarakat. Beberapa memang ada tindakan tegas, namun itu masih belum mencerminkan aparat "formal" negeri ini. Yang digaji dan difasilitasi rakyat. Namun yang cepat tanggap justru aparat "informal" yang justru hanya berkelakuan sesuai pesanan saja. Aparat "informal" inilah yang terkadang makin memperkeruh suasana. Bukankah aparat "formal" harusnya menindak aparat "informal" ini? Karena secara hukum mereka ilegal karena membawa pentungan dan kelewang kemana-mana? Bukankah UU mengatakan siapapun yang membawa senjata tajam dan membahayakan harus ditangkap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas desakan semua pihak, akhirnya Pak BY pun bersuara. Ia mengatakan bahwa negara tidak boleh kalah dengan kekerasan. Ini perlu diacungi jempol. Tinggal kita lihat dan tunggu aksi nyata dari pernyataan kepala negara ini. Negara hukum yang digadang-gadang Pancasila kini sudah ditinggalkan penganutnya. Jangan-jangan Pancasila sekarang memang sudah sakit sehingga kehilangan kesaktiannya, seperti yang dikemukakan alm. Harry Rusli:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garuda Pancasila, aku lelah mendukungmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Patriot sudah habis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tidak bersedia berkorban untukmu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pancasila dasarnya apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rakyat adil makmurnya kapan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pribadi bangsaku tidak maju maju, tidak maju maju, tidak maju maju&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1347934185712363601?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1347934185712363601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1347934185712363601&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1347934185712363601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1347934185712363601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/pancasila-sakti-vs-pancasila-sakit.html' title='Pancasila Sakti vs Pancasila Sakit'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SE0Dxukj_VI/AAAAAAAAAMw/KdEes3kPoAY/s72-c/180px-Garuda_Pancasila,_Coat_Arms_of_Indonesia.svg.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-41642131028441821</id><published>2008-06-05T02:16:00.000-07:00</published><updated>2008-06-05T23:44:56.873-07:00</updated><title type='text'>Demokrasi, Demonstrasi, Democrazy</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;Sekian lama dibumpat, akhirnya era itu datang juga.  Sejak kran kebebasan dibuka Habibie, masyarakat bebas menumpahkan segala unek, aspirasi, dan kehendak. Hanya saja kata Buya Syafiie Maafif, kran itu terlalu lebar dibuka. Sehingga yang ada ya seperti sekarang ini terjadi. Dimana orang dengan bebas sesuka hati memotong hak orang lain tanpa beradab. Menghantam pihak yang berseberangan dengan pentungan seperti tragedi Monas minggu silam. Itu dilakukan kelompok yang mengatasnamakan pembela agama. Padahal agama mana sih yang menghalalkan kekerasan atas alasan apapun? "Boleh saja berbeda pendapat dan argumen, tapi yang dewasa dong"begitu kelakar teman suatu sore. Benar juga. Jika melihat yang terjadi sekarang, otak tak lagi dipakai sebagian orang untuk menyampaikan aspirasinya. Yang digunakan cuma otot dan okol. Yang penting apa yang diinginkan terpenuhi. Persetan dengan hak orang lain yang tercarut. Ini kan alam demokrasi, jadi bebas sesuka hati. Boleh bebas, tapi apa boleh bebas juga menginjak-injak orang yang berseberangan pikiran dan pendapat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alam bebas itu kini dimaknai dengan demonstrasi. Unjuk rasa biasanya identik dengan demontrasi. Demo itulah yang belakangan kerap terjadi. Bahkan intensitasnya ada tiap hari. Lihat saja TV kita. Tiap hari pasti selalu disuguhi berita demontrasi dengan berbagai sebab. Gaji yang tak dibayar, hak yang terampas, dan seabreg ketidakadilan disana. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Prinsipnya demo atau unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau menentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak yang merugikan. Namun tak jarang unjuk rasa dan demonstrasi dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu dengan tujuan tertentu pula. Ringkasnya sesuai pesananlah. Jadi kelompok ini berunjuk rasa tergantung siapa yang bayar, walau tak paham betul apa yang diunjukrasakan. Maklum jaman sekarang cari pekerjaan susah. Bahkan Pram dalam salah satu tulisan mengatakan  "orang Melayu itu kalau berjuang cuma sampai perut." Artinya, kalau perut sudah terisi, maka kekritisan hilang dengan sendirinya. Itu pula yang menghiasi wajah-wajah demontran kita. Meski tak semua begitu. Tapi begitulah yang terjadi. &lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang kumis, Andi Malarangeng mengatakan bahwa demonstrasi adalah bunga-bunga demokrasi. "Silahkan berdialog, berargumen, tapi jangan anarkis"pintanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Memang benar adanya bahwa demonstrasi merupakan hal lumrah dalam alam demokrasi. Terlebih ketika parlemen tak memiliki daya dan tenaga dalam mengatasi aspirasi yang berkembang. Sehingga, demonstrasi biasa disebut sebagai "parlemen jalanan". Tapi justru dari parlemen jalanan inilah, biasanya kekuatan massa terbentuk untuk membuat perubahan yang lebih besar. Jika melihat peristiwa 98 justru disinilah titik pijak perubahan bangsa ini dimulai, bukan dari dalam parlemen yang kala itu menjadi "hamba" penguasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain, tak bisa dipungkiri, peran media begitu besar dalam mendorong terjadinya demokrasi ini. Sayangnya, media hanya men-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cover&lt;/span&gt; hal yang bombastis dan sensasional saja dari proses demokrasi ini. Ini terbukti dari ucapan  seorang wartawan 9 tahun silam ketika saya masih menyandang status mahasiswa. Ia mengatakan kalian percuma saja teriak-teriak.  Akan seru kalau ada bentrokan.  Itu baru berita.   Ini kan kacau balau. Justru yang memprovokasi terkadang wartawan itu sendiri. Bahkan grup media besar, membuat dua koran yang saling bertentangan di Ambon. Ini bukti kecil dari sekian ribu andil media dalam memprovokasi proses demokrasi yang akhirnya sering berujung anarki. Padahal jauh hari jurnalisme damai  digembar-gemborkan.  Ide ini muncul ditengah berkecamuknya media yang selalu berdarah-darah (kekerasaan). Hingga kini idealime jurnalisme yang santun masih terus diperjuangkan. Sebab idealisme ini kurang mendapat porsi yang lebih dalam media ditengah persaingan media yang makin bebas.  Memang tak ada hukum yang melarang media untuk  mengekpos tindak kekerasan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bad news is good news&lt;/span&gt;. Itulah pedoman dasar yang dipakai pemilik media. Atas nama oplah dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rating&lt;/span&gt;, mereka memburu berita apapun tanpa pernah mau berpikir terhadap eksesnya. Yang penting oplah dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rating&lt;/span&gt; naik. Habis perkara. Tak peduli berita itu berdarah-darah dan menitikkan air mata kesedihan, yang penting oplah dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; rating&lt;/span&gt; berlipat-lipat. Jika sudah begitu, kuncinya cuma satu: diperlukan kecerdasan masyarakat dalam memaknai berita media dalam arus deras demokrasi sekarang ini. Jangan hanya melihat permukaannya saja. Jika tidak maka  demonstrasi  akan menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;democrazy&lt;/span&gt; yang disertai anarki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-41642131028441821?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/41642131028441821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=41642131028441821&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/41642131028441821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/41642131028441821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/demokrasi-demonstrasi-democrazy.html' title='Demokrasi, Demonstrasi, Democrazy'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6161153196519804374</id><published>2008-06-02T03:13:00.000-07:00</published><updated>2008-06-03T02:14:24.833-07:00</updated><title type='text'>BLT vs BKM</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sempat menuai protes dari segara penjuru, pemerintah tetap berkeras menaikkan harga BBM. Alasannya sederhana; harga minyak dunia makin melejit, APBN menipis. Pertanyaannya kemudian, jika harga minyak tak terkendali begini, apakah pemerintah akan terus menaikkan BBM? Pemerintah berdalih subsidi BBM selama ini hanya dinikmati oleh kaum mampu. Padahal efek domino dari kenaikan BBM ini otomatis akan berlangsung. Barang-barang pasti akan melejit. Untuk "membantu" warga miskin,  pemerintah menurunkan BLT, bantuan langsung tunai, sebesar 100rb untuk sebulan.  BLT pun nasibnya sama dengan BBM. Sama-sama diprotes oleh banyak kalangan, termasuk perangkat desa yang tergabung dalam Parade Nusantara. Mereka menilai bahwa selain tidak dilibatkan dalam pembagian BLT ini, padahal merekalah yang paling mengetahui data siapa-siapa saja kelompok yang paling membutuhkan. Jika demikian, pemerintah dapat data itu darimana? BLT memang membantu bagi rakyat miskin. Tapi itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Sebab BLT akan habis masa berlakunya. Sementara beban rakyat akibat kenaikan BBM tak akan ada batas berlakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok terbesar yang menentang keras kenaikan BBM adalah kaum mahasiswa. Jatuh korban pun tak terelakkan ketika aksi mahasiswa ditanggapi dengan pentungan aparat seperti  yang terjadi di Unas beberapa waktu lalu. Aksi ini menyulut api besar demonstrasi anti kenaikan BBM di beberapa wilayah lainnya. Hari-hari mahasiswa dipenuhi dengan aksi ini. Mahasiswa sebagai agen perubahan sosial tentu paham betul dengan penderitaan rakyat. Untuk itu aksi ini diambil semata-mata beban rakyat yang pasti makin berat jika harga BBM naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam istana, SBY mencanangkan ada perlunya mahasiswa juga diberikan bantuan. Dan program bantuan khusus mahasiswa (BKM) pun dilakukan. Semangat untuk membantu/mensejahterakan rakyat, dalam hal ini mahasiswa sih patut diberi apresiasi. Sayangnya BKM dilakukan ditengah berkecamuknya demonstrasi mahasiswa menentang kenaikan BBM pemerintah. BKM pun tak luput dari sasaran protes. Walau ada yang mendukung, tapi lebih banyak yang melihat sebagai mudaratnya. Alih-alih membantu mahasiswa, bantuan ini diindikasikan sebagai upaya pemerintah saja dalam menekan daya kritis mahasiswa belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajroel Rachman dalam Kompas bahkan dengan lantang mengatakan bahwa BKM adalah suap terhadap daya kritis mahasiswa. Pertanyaannya apakah daya kritis mahasiswa akan mandul karena BKM ini?  Kita memang tidak perlu skeptis dengan program ini, tapi jika tidak mengapa program ini diterbitkan ketika mahasiswa ramai turun ke jalan? Jangan-jangan sinyalemen bahwa &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; BKM ini sebagai "suap" kepada mahasiswa benar adanya?! Silahkan "nurani" mahasiswa bersuara.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6161153196519804374?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6161153196519804374/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6161153196519804374&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6161153196519804374'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6161153196519804374'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/blt-vs-bkm.html' title='BLT vs BKM'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-3120059996741043738</id><published>2008-06-02T00:17:00.000-07:00</published><updated>2008-06-02T03:07:33.738-07:00</updated><title type='text'>FPI = Front Preman Indonesia?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Minggu sore yang tenang berubah menjadi gelisah kacau begitu melihat  berita di salah satu TV swasta. FPI lagi-lagi membawa berita. Sudah seperti biasa, bukan aksi simpatik, tapi aksi antipatik. Aksi penyerangan lagi-lagi menjadi "berita" setiap kali FPI naik menjadi bintang. Kali ini yang menjadi ketika beberapa orang dari aliansi kebangsaan untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan (AKK-BB) terluka diserang massa yang memakai atribut FPI. Hari itu rencananya aksi damai ini akan berjalan dari Monas menuju Bunderan HI. Namun aksi ini batal karena penyerangan itu. Banyak korban luka akibat aksi preman jalanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jubir FPI mengatakan bahwa aksi penyerangan ini dilakukan karena massa dari berbagai ormas pluralisme ini ingin mendukung eksistensi Ahmadiyah. Padahal Ahmadiyah jelas-jelas sudah dibubarkan melalui Bakor Pakem. Namun disisi lain,  SKB Ahmadiyah dari pemerintah melalui tiga menteri hingga kini tak kunjung ada. Baginya tak ada lagi negosiasi dengan eksistensi Ahmadiyah. Ahmadiyah katanya adalah organisasi kriminal. Jadi apapun yang dilakukan harus ditumpas. Yang disebut kriminal itu apa sih? Bukankah kriminal itu adalah sebutan bagi mereka yang melakukan perusakan, penghancuran, bertindak kriminil. Ini kata bung wikipedia:&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;seorang kriminal adalah seseorang yang melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau sebuah tindak kejahatan&lt;/span&gt;. Perbuatannya disebut kriminalitas atau tindak kriminal. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Biasanya yang dianggap kriminal adalah seorang maling atau pencuri, pembunuh, perampok&lt;/span&gt;. Dari terjemahan bebas arti kriminal ini saja, FPI sudah salah mengartikan. Sementara Ahmadiyah tak pernah kedengaran melakukan perusakan dan kekerasan terhadap orang lain, juga tidak pernah merusak fasilitas umum dan mengganggu milik pribadi dengan dalih memberantas judi dan maksiat. Ahmadiyah yang terdengar adalah kelompok yang cinta akan kedamaian. Bahkan ketika terjadi penyerangan dan  pembakaran mesjid Ahmadiyah di beberapa wilayah di tanah air, massa Ahmadiyah tak pernah sekalipun terdengar membalasnya. Terakhir malah terdengar untuk memperingati hari kebangkitan nasional mereka menggelar berbagai donor darah dan pengobatan bagi rakyat miskin. Jadi siapa lebih yang kriminil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau desakan dari banyak tokoh dan organisasi mengemuka untuk membubarkan FPI dan ormas sejenis, namun hingga kini pemerintah tak bergeming. Entah apa alasannya. Padahal jelas-jelas, tak ada gunanya keberadaan mereka, kecuali kekacauan dan ketidaknyamanan di berbagai penjuru negeri ini. ketika negara tidak mampu melindungi rakyatnya dari kekerasan akibat perbedaan sikap dan pendapat,  artinya negara sudah gagal menjalankan fungsinya. Mengutip seorang kawan: ketika kekacauan sudah merebak itu artinya pertanda demokrasi telah mati. Belajar dari kasus kemarin, (tidak adanya aparat keamanan yang memadai) ketika aksi itu berlangsung, makin memperkuat kegagalan pemerintah melindungi rakyatnya. Lantas apa yang bisa diharap dari pemerintah kalau begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat sesak dada adalah kekerasan ini selalu dan selalu dilabeli dengan nama agama. Agama dipakai sebagai legalisasi kekerasan untuk menindas kelompok lain yang tidak seirama. Padahal kelompok ini juga berasal dari agama tersebut. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lha &lt;/span&gt;jika dalam satu agama saja tidak bersahabat bagaimana akan bersahabat dengan kelompok agama lain?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Artinya kebebasan beragama yang digadang-gadang Pancasila butir 1 menyisakan bopengan noda. Noda yang dibuat sendiri oleh mereka yang katanya paling "beragama". Selamat memperingati hari lahir Pancasila yang ternoda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-3120059996741043738?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/3120059996741043738/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=3120059996741043738&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3120059996741043738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3120059996741043738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/06/fpi-front-preman-indonesia.html' title='FPI = Front Preman Indonesia?'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-7634768877191272129</id><published>2008-05-27T20:21:00.000-07:00</published><updated>2008-05-28T22:50:17.487-07:00</updated><title type='text'>Berdoa Saja Tak Cukup</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDzQozRqpoI/AAAAAAAAAMk/NgLLmQ90DFQ/s1600-h/P1070478.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDzQozRqpoI/AAAAAAAAAMk/NgLLmQ90DFQ/s320/P1070478.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205264668711102082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Minggu kemarin, datang dua orang Bhikkhu dari Burma. Ven. Awbhasa (kiri) dan Ven. Ashin Nayaka (kanan). Kedatangan mereka dalam rangka mengumpulkan dukungan internasional untuk perubahan di Burma. Mereka sempat bertemu dengan Gus Dur, Bhikkhu Pannyavaro, dll. Travelling ini tidak hanya dilakukan di Indonesia, tapi juga beberapa belahan dunia lainnya. Disela-sela kepadatan jadwal mereka, kami berhasil berbincang di lobi hotel Millenium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menanyakan beberapa hal, terutama kondisi terakhir di Burma. Dengan sangat lugas Ven. Ashin Nayaka menjelaskan kondisi terakhir Burma pasca hantaman badai Nargis. Banyak warga yang menderita. Tapi junta malah menolak (meski akhirnya menerima dengan syarat) bantuan internasional. Jika kita melihat junta membagikan makanan, itu sebenarnya mereka hanya membagikan di lingkungan terdekat saja. Sementara korban masih banyak yang belum menerima bantuan. Ven. Ashin sendiri sebenarnya telah lama meninggalkan Burma dan menetap di New York, AS. Sehari-hari  beliau mengajar di beberapa universitas. Namun  melihat penderitaan rakyat Burma yang makin berat, beliau bersama teman-temannya keliling dunia untuk meminta bantuan internasional menekan Burma. Sementara Ven. Awbhasa sendiri merupakan salah satu bhikkhu yang melakukan unjuk rasa september silam. Namun karena persoalan keamanan, akhirnya mengasingkan diri ke Sri Lanka. Dan hingga kini tidak bisa berkomunikasi dengan sanak keluarga &amp;amp; teman-teman di Burma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan di Indonesia, mereka berdua mengatakan bahwa bhikkhu di Burma berada di posisi tinggi dalam sosial kemasyarakatan. Artinya mereka adalah contoh panutan baik bagi rakyat maupun penguasa. Namun tingkah polah junta yang makin membuat menderita rakyat, akhirnya mengundang para bhikkhu melakukan beberapa perlawanan. Sebetulnya, para bhikkhu ini sudah menyampaikan "protes" kepada junta, tapi ternyata tak di gubris. "Demo-demo kecil sudah sering kami gelar" ujar Ven. Ashin. "Hingga yang terbesar september tahun silam". Itu adalah puncak akumulasi kekesalan bhikkhu terhadap junta. Sebelumnya, sebagai protes, para bhikkhu memboikot setiap upacara seremoni junta yang menghadirkan para bhikkhu. "Demonstrasi besar kemarin adalah bukti bahwa para bhikkhu peduli dengan penderitaan rakyat". "Kami tak mau hanya berteori mengajarkan kebaikan di vihara-vihara". "Membaca doa itu penting tapi tidak cukup" sambung Ven. Ashin.  Harus ada tindakan konkret terhadap apa yang terjadi di Burma. Apalagi, di tengah eskalasi politik yang makin akut akibat junta militer, Burma juga tengah di hantam badai Nargis. Ven Ashin menambahkan, junta adalah seorang buddhis, tapi apa yang dilakukannya bukanlah cerminan seorang buddhis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha mengajarkan bahwa hidup adalah penderitaan. Dan sudah merupakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KEWAJIBAN&lt;/span&gt;  para bhikkhu untuk membantu melenyapkan penderitaan itu. Tidak hanya berdoa saja tentunya. Karena berdoa saja ternyata tidak cukup. Justru yang menjadi persoalan adalah jika para bhikkhu yang merupakan penjaga ajaran Buddha, tidak membantu melenyapkan penderitaan itu. "Jadi jika ada bhikkhu yang membiarkan (tanpa melakukan apapun) penderitaan rakyatnya, itu yang patut dipertanyakan." "Saya bukan seorang politisi, saya seorang bhikkhu, tapi saya memiliki kewajiban untuk turut serta melenyapkan penderitaan rakyat saya" tegasnya. Bhikkhu Burma yang telah lama menetap di New York ini juga mengatakan bahwa penderitaan yang terjadi di Burma itu bukan alamiah, tapi buatan. Dibuat secara sistematis oleh junta militer. Sangat sulit untuk merubah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mindset&lt;/span&gt; junta saat ini. Yang bisa dilakukan adalah terus menerus menggalang dukungan dunia internasional untuk bersama menekan junta hingga terjungkal. Dan satu lagi: berdoa saja tidak cukup!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-7634768877191272129?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/7634768877191272129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=7634768877191272129&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7634768877191272129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/7634768877191272129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/05/berdoa-saja-tak-cukup.html' title='Berdoa Saja Tak Cukup'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDzQozRqpoI/AAAAAAAAAMk/NgLLmQ90DFQ/s72-c/P1070478.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-2719423043252789004</id><published>2008-05-26T00:41:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T20:31:15.065-07:00</updated><title type='text'>Andong Pak Kamto</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDt9zTRqpkI/AAAAAAAAAME/ZljuEkPYB0I/s1600-h/tn1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDt9zTRqpkI/AAAAAAAAAME/ZljuEkPYB0I/s320/tn1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204892114657912386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDt9zjRqplI/AAAAAAAAAMM/1L1EAnpRkWI/s1600-h/tn.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDt9zjRqplI/AAAAAAAAAMM/1L1EAnpRkWI/s320/tn.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204892118952879698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDt_DjRqpnI/AAAAAAAAAMc/CIBlDBF9mo0/s1600-h/tn2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDt_DjRqpnI/AAAAAAAAAMc/CIBlDBF9mo0/s320/tn2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204893493342414450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDt9zjRqpmI/AAAAAAAAAMU/zcNm9xzBrSE/s1600-h/tn3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDt9zjRqpmI/AAAAAAAAAMU/zcNm9xzBrSE/s320/tn3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204892118952879714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Siang itu aku dkk bermaksud ke Borobudur dari Mendut. Kar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;ena terik, kami putuskan untuk naik angkutan umum. Karena &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;menunggu bus agak lama, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;lalu terlintas mengapa tidak naik andong di ujung sana? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Segera setelah sepakat soal harga, kami berdelapan pun terguncang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;dalam alunan andong. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Sensasi pasti kami rasakan. Maklum tidak setiap hari kami&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;menaiki angkutan tradisional ini. Sambil &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;menikmati suasana, aku ngobrol &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngalor ngidul&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;dengan kusirnya. Namanya Pak Kamto. Sebut saja begitu. Usianya 70an. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ini terbukti dengan kerutan penanda tua disana-sini. Dengan topi  khas kebesarannya, Pak Kamto beberapa kali melecut kudanya agak berjalan lebih cepat. "Namanya Parjiem Mas, kan cewek," kelakarnya sembari &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;mengayunkan pecutnya. Pak Kamto lalu cerita. Dulu narik &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;andong sangat menguntungkan. Karena memang belum ada saingan. "Wah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Mas, kalau sekarang &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;susah. Ojek udah dimana-mana". Dan mereka pasti lebih cepat daripada naik Andong. "Tapi kenapa Bapak masih mau narik Andong?"tanyaku. "Yah daripada kudanya nganggur Mas" ujarnya mantap. Lagian narik andong kan disela-sela kerjaan utama. Samben (nyambi).  "Lha kerjaan utamanya apa Pak?" tanyaku lagi. "Kerjaan utama ya tetap tani Mas"terangnya mantap. "Ya nanam cabe, sayur, dll." "Jadi kalau bosen nanam, narik Parjiem. Ya begitulah keseharian saya." ujarnya.&lt;br /&gt;Kerja keras dan semangat meski sudah berumur itulah cerminan Pak Kamto. Dan satu lagi: Tanpa mengeluh. Dia tetap pacu terus kuda betinanya. Tanpa pernah protes terhadap kondisi, tanpa protes kepada pemerintah, tanpa protes kepada ojek pesaingnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-2719423043252789004?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/2719423043252789004/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=2719423043252789004&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2719423043252789004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2719423043252789004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/05/andong-pak-kamto.html' title='Andong Pak Kamto'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDt9zTRqpkI/AAAAAAAAAME/ZljuEkPYB0I/s72-c/tn1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-4642388185086779267</id><published>2008-05-26T00:23:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T00:39:03.087-07:00</updated><title type='text'>Museum Affandi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDpltTRqpjI/AAAAAAAAAL8/x_Q8mYBBAyU/s1600-h/21052008%28005%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDpltTRqpjI/AAAAAAAAAL8/x_Q8mYBBAyU/s320/21052008%28005%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5204584148322919986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;  Museum  Affandi berada di &lt;i&gt; Jalan Laksda Adi Sucipto 167, Yogyakarta&lt;/i&gt;.  Jalan ini juga terkenal dengan sebutan Jalan Solo karena  menghubungkan dua kota besar, yaitu Yogyakarta dan Solo. Museum  yang terletak di sebelah barat Sungai Gajah Wong ini memiliki  area seluas 3500 are yang terdiri dari museum itu sendiri dan  bangunan yang dulunya merupakan rumah Affandi. Bentuk permukaan  tanah yang tidak lazim memberikan inspirasi kepada Affandi untuk  merancang bangunan yang unik dan lingkungan yang mengitarinya.  Hasilnya, sebuah lingkungan terpadu yang sangat unik hasil dari  rancangan Affandi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Sebagai  bagian dari komplek museum, rumah milik Affandi memiliki  atap berbentuk daun pisang, sama seperti galeri-galeri  sebelumnya. Rumah yang memiliki dua lantai ini sebagian  besar terbuat dari kayu. Lantai atas merupakan kamar  pribadi Affandi. Sebagai tambahan, lantai bawah  digunakan sebagai tempat bersantai dan juga terdapat  garasi. Menikmati suasana alami dari lantai bawah ini  merupakan kenyamanan tersendiri. Suasana santai yang  berbeda dengan lingkungan artistik yang penuh dengan  sentuhan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak kerja artistik sepanjang hayat Affandi dengan lugas ditampilkan disini. Tak lupa, goresan kanvas, Kartika, anaknya juga turut dipajang. Lelah keliling kita bisa duduk santai di kursi ban bekas sambil nyeruput minuman dingin. Suara gemericik air sungai sebelah juga makin menambah suasana damai siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu yang pasti: Dari semua itu Affandi begitu sayang dengan istrinya Maryati. Beberapa lukisannya mengambil subyek istrinya ini. Sebagai bentuk "sayang", pemerintah Jogja juga mengabadikan nama jalan Gejayan menjadi Jl. Affandi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;(di kutip dari beberapa sumber)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-4642388185086779267?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/4642388185086779267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=4642388185086779267&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4642388185086779267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/4642388185086779267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/05/museum-affandi.html' title='Museum Affandi'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SDpltTRqpjI/AAAAAAAAAL8/x_Q8mYBBAyU/s72-c/21052008%28005%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6019832742330307654</id><published>2008-05-12T22:40:00.001-07:00</published><updated>2008-05-26T20:35:05.381-07:00</updated><title type='text'>10th silam.............</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sebuah hari di bulan Mei. Ketika itu aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Tepatnya kelas 3. Hari-hari kami lalui dengan belajar dan belajar. Maklum saja, setelah ujian sekolah terlewati beberapa hari, saya masih harus menggeluti soal-soal demi bisa masuk ke PTN yang saya idamkan. Saya sangat beruntung, karena diberikan kesempatan untuk mendapat pelajaran tambahan berkat kebaikan dari seorang Guru saya. Dengan bantuan ini, saya belajar pematangan materi di sebuah SMA terbaik di Jakarta Barat. Hampir tiap hari saya ke SMA tersebut dengan naik bis dari sekolah saya. Meski lelah, namun semua harus dijalani demi sebuah cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, seperti biasa sehabis bubar sekolah, saya langsung menuju SMA 78 di bilangan Kemanggisan. Sepanjang perjalanan semua terasa biasa. Kemacetan di kawasan Roxy yang kala itu belum ada jembatan fly overnya, membumbung di depan mata. Setelah oper ke metromini 91, saya berusaha menenangkan nafas. Jalanan masih seperti biasa. Orang beraktivitas seperti biasa. Rasanya memang tak ada yang istimewa hari itu. Belajar tambahan pun berjalan seperti biasa. Soal-soal dibagikan, lalu kami kerjakan. Habis itu pembahasan. Dari situ terlihat meningkat tidaknya prestasi kita dari hari ke hari. Setelah 2 jam-an berkutat di sekolah yang megah itu, akhirnya selesai juga belajar kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dengan bis yang sama. Metromini 91 warna orange. Sengaja aku duduk di dekat jendela agar mendapat angin segar. Agak ngantuk sebenarnya. Tapi aku paksakan melihat soal-soal yang tadi aku kerjakan. Ternyata banyak salah karena kecerobohanku yang tidak teliti menjawab soal.&lt;br /&gt;Bis yang aku tumpangi memang tak sesak. Maklum masih agak siang. Belum banyak orang pulang kantor. Menjelang di kawasan Tanjung Duren, bis ternyata tak jalan-jalan. Macet dimana-mana. Hampir semua penumpang menggerutu. Samar-samar terdengar, kenek bis meminta kami untuk turun karena bis sama sekali tidak bisa bergerak. Akhirnya setengah menanggung kantuk, aku paksakan turun dan melangkah, berharap diujung sana masih ada bis yang masih jalan. Ya. Begitu jalan, ternyata memang kemacetan parah terjadi. Kendaraan sama sekali tidak jalan. Saya terus berjalan ke arah Universitas Tarumanegara. Disini kondisinya malah makin parah. Selain kendaraan tidak ada sama sekali, beberapa titik telah terjadi pembakaran.&lt;br /&gt;Aku tak ingat jelas apa yang terjadi. Aku menuju jembatan penyeberangan arah kampus I Untar. Dari atas jembatan, aku lihat barisan panjang pasukan loreng menghadap ke arah Grogol. Entah pasukan dari mana. Yang pasti jumlahnya sangat banyak. Juga membawa tameng dan senjata. Aku paksakan berjalan terus ke arah Grogol. Melewati kampus Tri Sakti, aku melihat beberapa mahasiswa teriak-teriak dari dalam kampus. Di bawah jembatan layang Grogol, sebuah truk sampah (kalau tidak salah) telah dijilati api. Sepanjang jalan depan Tri Sakti tumpah ruah oleh mahasiswa. Di seberangnya polisi mulai memainkan gas air mata. Aku sempat terkena sedikit. Agak perih. Tapi karena tak terlalu mengganggu, aku lanjutkan langkah kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah juga kaki melangkah. Di depan terminal Grogol, ternyata tak jua angkot berada. Semua mata terlihat terpana tak percaya apa yang terjadi. Sementara pompa bensin dekat terminal Grogol pun sudah dibakar massa. Massa mulai banyak bergerak dari arah Kyiai Tapa ke kampus Tri Sakti.&lt;br /&gt;Terus saja aku melangkah. Di persimpangan Roxy, akhirnya aku menemukan bus kuning. Ya bus sekolah jurusan Grogol-P. Jayakarta yang berbelok arah. Di dalam bus sudah penuh sesak. Semua orang ingin segera mungkin sampai di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di asrama (saya tinggal di asrama bersama teman-teman), segera kami monitor radio. Dilaporkan bahwa ternyata sudah terjadi proses pembakaran didepan Roxy, lalu meluas ke Gajah Mada, dan itu artinya sudah tak terlalu jauh dengan tempat kami tinggal. Kami semua tidak boleh keluar rumah. Beberapa kali telpon asrama berdering. Intinya sama-sama menanyakan keadaan kami seasrama. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Stok makan kami cek. Beruntung stok makanan di rumah masih tersedia. Telpon masih berdering. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hingga akhirnya, salah seorang pengurus asrama meminta salah seorang dari kami untuk melihat kondisi rumah familinya di kawasan Kota. Akhirnya aku memberanikan diri keluar rumah. Aku berjalan keluar rumah. Ternyata benar berita radio. Bangunan hampir di sepanjang jl Gajah Mada &amp;amp; Hayam Wuruk banyak yang dibakar dan dijarah. Glodok pun tak luput dari pembakaran &amp;amp; penjarahan. Perasaan was-was tentu ada, namun tetap aku beranikan diri melangkah ke Kota. Ada yang bawa gerobak untuk mengangkut kulkas dan TV super besar. Ada anak kecil yang bawa gitar listrik. Sesekali orang-orang yang melihat ditawarinya. Orang sebelahku, suatu kali dia tanya: Mas, kok gak ikut ambil barang-barang disana?" tunjuknya ke arah Harco. "Enggak mas, cuma mau lihat sekitar aja kok"jawabku seketika. Banyak orang lalu lalang dengan berbagai bawaan. Yang pasti banyak barang elektronik.  Makin sore makin banyak saja orang yang menjarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak sore aku langkahkan kaki pulang. Di sana sini masih banyak pembakaran dan penjarahan. Juga pelemparan kaca-kaca gedung. Di rumah, kami sama-sama memantau berita via radio. Sebab setiap saat radio meng-update beritanya. Pembakaran yang pasti makin meluas. Sentra perdagangan menjadi prioritas. Entah apa sebabnya. Kala itu yang aku ingat cuma satu: Manusia dan binatang tak ada bedanya. Semua menjadi anarkis tak terkendali. Entah dimana aparat kita.&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya hanya dilengkapi dengan ketidakpercayaan atas peristiwa ini. Berita terakhir, terjadi penembakan di kampus Tri Sakti yang tadi siang baru saja aku lewati. Hah??? Gila......&lt;br /&gt;Hari kelabu menjadi historikal tersendiri akhirnya. Pesta perpisahan SMA yang sudah kami siapkan jauh hari pun tak terjadi terlaksana. Proses penerimaan NEM pun di sekolah sepi sekali. Beberapa teman bahkan sudah berangkat ke luar negeri menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya, lembar koran kita disuguhi berita tentang reformasi &amp;amp; KKN. Dan ternyata sampai sekarang berita tentang ini tak pernah habis dibahas &amp;amp; di kupas. Kala itu, mahasiswa mampu menduduki gedung "rakyat" dan akhirnya memaksa Pak Harto&lt;span style="font-style: italic;"&gt; lengser kepabron&lt;/span&gt; setelah berkuasa 32 tahun. Demo besar di Jakarta diikuti juga kota-kota lain. Rasanya kala itu, mahasiswa dan rakyat memiliki satu musuh: Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang sudah 10 tahun berlalu. Angin reformasi memang sudah kencang terasa. Pers bebas tumbuh. Orang-orang bebas bersuara tanpa perlu takut diculik &amp;amp; di cekal lagi. Itu sekelumit buah manis reformasi. Tapi juga reformasi masih meninggalkan beberapa PR besar. Kesulitan hidup adalah persoalan mendasar. Dan itu makin diperparah dengan kenaikan BBM bertubi-tubi. Otomatis kehidupan rakyat makin sengsara saja. Mengutip demo mahasiswa di Jogja beberapa waktu lalu: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Naik-naik, BBM naik, tinggi tinggi sekali. Kiri kanan ku lihat banyak rakyat yang sengsara". &lt;/span&gt;PR reformasi sekarang adalah bagaimana meningkatkan derajat kehidupan rakyat di tengah neoliberalime dan kapitalisme yang merajalela. Sebab kebanyakan rakyat sekarang memaknai reformasi sebagai &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;REPOT-NASI! &lt;/span&gt;&lt;span&gt;alias susah cari makan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6019832742330307654?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6019832742330307654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6019832742330307654&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6019832742330307654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6019832742330307654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/05/10th-silam.html' title='10th silam.............'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5323666136399639567</id><published>2008-05-12T03:04:00.001-07:00</published><updated>2008-05-12T19:58:08.998-07:00</updated><title type='text'>Ganti Rugi Vs Ganti Untung</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Hingar bingar rencana kenaikan BBM pemerintah serta merta menyurut kemarahan di berbagai belantara kota. Rakyat marah, mahasiswa demo, sopir mogok, dan serentetan problem sosial lainnya menganga ke permukaan. Harap-harap cemas kini ada di sudut-sudut mata rakyat. Di media tak sedikit  dari usaha kecil menengah gulung tikar di tengah hantaman harga yang tak terkejar lagi.  Kegelisahan akan hidup esok hari mengemuka. Tapi justru di tengah kegelisahan rakyat terhadap keputusan kenaikan BBM yang ke-3 kalinya ini di era  SBY-JK, Wapres malah mengeluarkan pernyataan aneh dan sangat menyesatkan. Menurut Kalla, jika kenaikan harga BBM batal, sama artinya akan membatalkan rencana pemerintah memberikan bantuan langsung tunai kepada orang miskin. "Jadi, setiap ada demonstrasi menyatakan tak setuju (kenaikan harga BBM) sama dengan mengurangi rezeki orang miskin" (Kompas, 8/5 hal 18). Pendapat hampir senada juga ditelurkan Pak BY. BY bilang, jika BBM tidak dinaikkan, itu sama halnya makin memperpanjang jangka waktu pemerintah dalam mensubsidi orang kaya. Menurut Pak BY, selama ini justru yang menikmati subsidi itu orang kaya. Padahal jika mau mencabut subsidi orang kaya kan tidak harus menaikkan BBM. Bisa saja dengan pajak barang mewah yang mahal, atau yang lain. Lhah?&lt;br /&gt;Jika memang pemerintah mau memberikan (syukur-syukur) bisa meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, mengapa harus nunggu kenaikan harga BBM dulu? Bukankan harga-harga kebutuhan sudah jauh hari naik sebelum BBM naik? Artinya pemberian pemerintah itu tak ada manfaatnya sama sekali. Bukankah memang tugas pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya sesuai konstitusi? Lha kok ini mau kasih BLT kalau BBM dinaikkan dulu. Rakyat bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi dengan permen gula-gula. Menurut Dita (Kompas, 12/5) artinya rakyat baru berhak dapat sesuatu dari pemerintah setelah pemerintah mengambil sesuatu dari kita. Terima dulu kenaikan ini, baru kemudian bantuan kami kucurkan ke tanganmu. Ini sama artinya pemerintah sejatinya tidak memberikan apa-apa, nol, kosong, hampa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini yang dipikirkan pemerintah itu  artinya  ganti rugi bukan ganti untung.  Harga-harga makin tak terjangkau rakyat. Sementara BLT yang diterima (yang tak seberapa itu) akan ludes seketika untuk membayar utang di warung sebelah. Belum lagi dalam tulisan Dita (Kompas, 12/5), mengatakan bahwa data dalam departemen sosial bahwa efektivitas bantuan langsung tunai (BLT) hanya sekitar 54,96 persen saja, sementara sekitar 45 persen rumah tangga miskin penerima BLT menyatakan bahwa bantuan ini sama sekali tidak meringankan biaya hidup mereka yang kian berat pascakenaikan harga BBM sebesar 120 persen awal oktober 2005?&lt;br /&gt;Rakyat sebenarnya mau bekerja asal di berdayakan. Persoalan yang dihadapi rakyat sekarang selain harga yang tak lagi terjangkau adalah persoalan pekerjaan. Daya beli yang rendah disertai pendapatan yang tak layak, jelas itu persoalan mendasar rakyat sekarang. Jadi solusinya yang benar bukan diberikan BLT, tapi bukalah kesempatan kerja seluas-luasnya bagi rakyat ini supaya mereka memiliki pendapatan. Alih-alih memberikan kesempatan kerja, pemerintah malah menaikkan BBM industri, yang ini tentu makin mempersulit ruang gerak sektor riil kita. Ujung-ujungnya industri pun kembang kempis menjalankan roda mesinnya.&lt;br /&gt;BLT plus versi pemerintah "akan" dijamin sasarannya. Itu kata pemerintah. Padahal pemerintah sendiri masih simpang siur soal data orang miskin calon penerima BLT ini. Kalau tidak percaya, lihat saja proses pemberian BLT yang lalu. BLT   ibarat pil pahit ditengah pahitnya hidup rakyat. Dan ternyata pil pahit ini bukannya menyembuhkan penyakit, tapi malah membuat makin parah penyakit itu sendiri. Ganti rugi memang selalu merugikan!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-5323666136399639567?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/5323666136399639567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=5323666136399639567&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5323666136399639567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5323666136399639567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/05/ganti-rugi-vs-ganti-untung.html' title='Ganti Rugi Vs Ganti Untung'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-2169285866499543836</id><published>2008-05-08T00:33:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T01:08:32.045-07:00</updated><title type='text'>BBM, Bener-Bener Mabok!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;Hari-hari belakangan ini, kita semua dikejutkan dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Hitungannya sih katanya “cuma” maksimal 30%. Tak tahulah hitungan-hitungan rumit itu. Bahkan kemarin surat kabar bilang ada 89 opsi untuk menaikkan BBM ini. Gila, banyak banget ya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;Sontak, rencana ini mengundang berbagai reaksi. Mahasiswa di berbagai kota sudah turun ke jalan. Kelangkaan BBM juga terjadi dimana-mana. Yang bikin treyuh adalah penyelundupan BBM ke negara tetangga. Satu kata: Edan! Cuma satu yang pasti bahwa rakyat makin menderita. Begitu harga BBM naik, harga-harga kebutuhan yang lain pasti juga naik. Lha wong walau sekarang masih sekedar ”rencana” saja, harga-harga sudah balapan? Siapa yang paling terpukul dampak kenaikan BBM ini? Siapa lagi kalau bukan rakyat kecil. Selama ini pemerintah berdalih bahwa meroketnya harga minyak dunialah yang menjadi keuangan pemerintah “megap-megap”. Sementara selama ini subsidi pemerintah terhadap BBM hanya dinikmati golongan mampu saja alias salah sasaran. Jika alasan pertama yang dipakai, artinya pemerintah hanya berpikir &lt;i&gt;dollar &lt;/i&gt;sementara penghasilan kita masih rupiah. Sampai kapan pun gak bakal kesampaian. Ibarat kata: Penghasilan rupiah kok mau bergaya hidup &lt;i&gt;dollar? &lt;/i&gt;Lalu kalau pakai analogi alasan kedua, sebenarnya silang sengkarut subsidi BBM ini sebagai bukti ketidakbecusan pemerintah dalam mengelola dan melayani rakyatnya. Padahal bangsa kita banyak orang pintar. Tim ekonomi kita juga lulusan luar negeri semua, tapi mengapa hanya bisa menaikkan harga saja?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;Mengutip pendapat Kwik Kian Gie, sebenarnya Indonesia bisa terbebas dari krisis BBM dengan satu syarat mau mengelola sendiri tambang minyaknya. Tidak diprivastisasi ke asing. Contoh kasus seperti blok cepu saja. Jika dikelola sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebenarnya itu bisa. Hanya saja pemerintah tidak ada kemauan ke arah itu. Pemerintah cuma mau terima duit secara cepat tanpa mau berusaha alias bersusah payah. Jadinya tambang-tambang minyak digadaikan ke pihak asing. Bener-bener gak habis mikir. Padahal kita memiliki putra-putra bangsa yang bisa dihandalkan.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;" lang="SV"&gt;Pemerintah mengatakan bahwa sebagai kompensasi dari kenaikan harga ini akan diberikan bantuan langsung tunai plus. Tak jelas apa yang dimaksud plus ini. Jangan-jangan seperti pijat plus lagi. Ha…….:) Lha wong kemarin program BLT saja masih gak karuan, kok mau mengulang kesalahan yang sama. Keledai saja tidak akan terperanjab dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bukankah bantuan langsung itu juga tidak mendidik. Dari ilmu pemberdayaan jelas hal ini tidak tepat. Yang dibutuhkan rakyat sekarang adalah keberdayaan bukan bantuan. Artinya berilah kail, bukan ikannya. Jika rakyat diberikan ikan, yang pasti akan membuat mereka akan makin malas. Selain itu, ada waktunya ikan juga akan habis. Sementara jika diberikan kail, rakyat akan bisa memancing ikan dimana pun mereka mau dan kapan pun mereka butuh. BLT itu cuma sekejap saja sudah habis. Sementara keberdayaan selain bisa memperpanjang nafas hidup rakyat, juga bisa memicu kreativitas rakyat untuk menata hidupnya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt;"&gt;Sebab rakyat sekarang sudah tidak bisa berharap terhadap pemerintah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-2169285866499543836?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/2169285866499543836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=2169285866499543836&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2169285866499543836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2169285866499543836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/05/bbm-bener-bener-mabok.html' title='BBM, Bener-Bener Mabok!'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-9125506785204036206</id><published>2008-05-06T03:12:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T00:27:20.908-07:00</updated><title type='text'>Perang</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Buku sejarah kita selalu disuguhi adegan perang. Dari mulai perang perebutan wilayah raja-raja Jawa, perang Diponegoro, perang dengan Belanda, hingga perang dingin antar Amerika &amp;amp; Soviet kala itu. Di bangku sekolah dulu, dengan mantap, guru saya menceritakan soal perang dingin ini. Waktu itu aku tak tahu jelas mengapa dikatakan perang dingin. Yang ada dipikiranku, mungkin dikatakan demikian karena terjadi di benua yang menganut musim dingin?? He.........Kali.&lt;br /&gt;Yup. Sejarah manusia memang diliputi dengan peperangan yang satu ke peperangan berikutnya. Entah sudah berapa banyak korban jiwa. Salah satu buku yang pernah aku baca malah bilang: Perang itu ada demi sebuah kedamaian. Hah? Bukankah perang hanya menyisakan isak tangis dan darah? Bukankah perang hanya menyisakan mesiu bedil saja? Dimana letak kedamaiannya? Aneh. Tapi itulah yang terjadi. Sampai saat ini pun sebenarnya kita masih saja diliputi berbagai macam bentuk perang. Ada perang mulut, ada perang harga, ada perang urat syaraf, dll. Jenis perang terakhir kita kenal di dunia olahraga. Menjelang pertandingan-pertandingan penting &amp;amp; panas, biasanya sang pelatih saling meluncurkan kata-kata "panas" untuk menjatuhkan mental lawan.&lt;br /&gt;Perang saat ini memang tidak begitu se-frontal seperti dulu. Kecuali perang di Irak yang diprakarsai "polisi" dunia. Alasannya sepele, katanya di Irak sarang teroris, terjadi penimbunan senjata pemusnah massal, dan seabreg alasan yang bener-bener sepele. Padahal alasan utamanya adalah penguasaan minyak. Apalagi sih yang dicari?&lt;br /&gt;Perang juga tengah hingar bingar setiap hari. Ya, perang iklan tarif telpon. Hari ini ada yang berani kasih diskon 1 rupiah per detik. Tapi besokannya sudah ada yang berani pasang tarif 0,0000001 rupiah per detik. Yang mengherankan, pemasangan iklan ini saling berdekatan. Bahkan ada yang dengan sengaja berdampingan tentu dengan iklan yang saling mencela. Bahkan ada iklan yang menggambarkan manusia kawin dengan monyet &amp;amp; kambing, hanya gara-gara kalau taruhan soal tarif telpon ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Perang memang tidak  bisa dipisahkan dari hidup manusia. Karena memang perang diciptakan manusia. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Mengutip candaan seorang guru sejarah SMA, Timur Tengah akan selalu perang, jika disana terjadi perdamaian, justru akan terjadi kiamat? Nah lho??!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-9125506785204036206?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/9125506785204036206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=9125506785204036206&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/9125506785204036206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/9125506785204036206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/05/perang.html' title='Perang'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-8377913004095306122</id><published>2008-04-28T02:18:00.000-07:00</published><updated>2008-04-28T23:39:55.392-07:00</updated><title type='text'>Atas Nama Kompromi</title><content type='html'>Selama ini aku dan semua penghuni kost mengenalnya sebagai seorang wartawan yang idealis karena memang bekerja di media yang sangat idealis. Tepatnya radio. Sebut saja namanya H.  Dia sebenarnya sudah mapan dengan posisinya kala itu. Posisi penting sudah ditangan. Jabatan, anak buah, tentu berbanding lurus dengan materi. Belum lagi soal jam terbang dan pengalaman. Sudah pasti, sehingga sangat tidak layak lagi untuk di bahas disini. Beberapa kali diskusi dengannya sangat menarik. Berbagai argumentasi diberikan. Dan memang rasanya masuk akal. Semua terasa nikmat. Walau terkadang terasa narsis dan egois, tapi memang demikianlah adanya dia. Kami memakluminya. Karena urusan keluarga, doi akhirnya pindah. Walau pindah, terkadang doi mampir ke kost. Sekedar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;say hello &lt;/span&gt;dengan penghuni baru atau sekedar nostalgia, entahlah.&lt;br /&gt;Tiba-tiba sore itu, dia datang setelah sekian lama. Dengan cara yang sama, sedotan filter yang tak tak pernah lepas dari mulutnya. Sesekali dikebulkan asap keluar. Terkadang batuk mengiringi. Di teras depan dia bicara bahwa sekarang dia harus beranjak tugas. Intinya pindah kantor. "Pindah kemana sih bos?" tanyaku. "TVOne" ujarnya bingung. "Lha bukannya enak tuh bos". "Gaji pasti gede tuh". "Apalagi kan masih baru begitu". cerocosku. "Masalahnya bukan cuma itu". Ini soal idealisme sih. Apalagi ini kan masih berbau Bakrie. Tau sendiri kan gimana orang-orang Lapindo menderita karena Bakrie. Sementara selama ini, kita begitu dasyat mem-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;blow up&lt;/span&gt; kasus Lapindo ini. Wah repotlah pokoknya. Belum lagi kantor lama juga berat untuk ditinggal. Apa kata dunia. Begitu kira-kira. Oh itu toh yang bikin dia pening sore itu. Tapi memang mereka menawarkan sesuatu yang "konkret" bos.&lt;br /&gt;Lain lagi cerita seorang teman. Dia sehari-hari bekerja di balik salah satu program infotainment terkenal. Bahkan mengklaim bahwa program ini adalah program infotainment pertama di Indonesia. Entahlah. Dia cerita bahwa lama-lama, kerja di infotainment itu kok rasanya seperti cuci otak ya. Ya rasanya kok tak sesuai nurani saja. Begitu keluhnya suatu siang di kawasan Tebet. Kita seolah dicekoki hal-hal yang kadang diluar rasionalitas kita. Hedon &amp;amp; konsumerisme, itu sudah pasti. "Tapi jujur aja, kita juga butuh uang dari situ".  "Jadi ya sekedar numpang hidup kali ya" selorohnya.&lt;br /&gt;Yup. Idealisme memang susah-susah gampang. Ditengah hiruk pikuk dunia seperti sekarang ini, sebuah idealisme memang tak mudah diejawantahkan. Solusinya mungkin adalah kompromi. Ya, kompromi. Kompromi kan bukan berarti kita menjadi kalah dengan keadaan kan? Kompromi maksudnya, jika selama ini kita berharap jalan yang kita tempuh menghasilkan angka 10, artinya kita harus menurunkan angka tersebut menjadi 7 atau 6 mungkin dengan jalan yang sama. Sama halnya dengan pernikahan. Walau aku belum menikah hingga kini, tapi aku yakin bahwa sebenarnya pernikahan itu adalah bagian dari kompromi. Kompromi untuk menyatukan dua pikiran yang berbeda. Jangankan soal pernikahan, ketika tahap pacaran pun kita gak lepas dari kompromi-kompromi. So, bukankah hidup memang bagian dari kompromi dan kompromi. Seorang teman pernah mengatakan bahwa jika kita sedang dirudung masalah, solusinya sebenarnya cuma satu, kompromi saja dengan masalah itu. Nah lho!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-8377913004095306122?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/8377913004095306122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=8377913004095306122&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8377913004095306122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8377913004095306122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/04/atas-nama-kompromi.html' title='Atas Nama Kompromi'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5853823287243391749</id><published>2008-04-25T02:11:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T00:15:56.751-07:00</updated><title type='text'>Ibu Murni: Antara Bakau &amp; Mal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SCKogRwa2PI/AAAAAAAAAL0/A_Sx5Y2l4QA/s1600-h/index_r1_c1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SCKogRwa2PI/AAAAAAAAAL0/A_Sx5Y2l4QA/s320/index_r1_c1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197902192414742770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Siang itu udara di pesisir Jakarta lumayan menyengat. Sembari menunggu si empunya, saya masuk ke sebuah aula bambu yang lumayan besar. Di dinding tertempel beberpa foto kegiatan penanaman bakau. Tak hanya anak-anak sekolah, tapi juga anggota militer. Siang itu, saya berbincang dengan Ibu Murni. Seorang Ibu rumah tangga yang menghabiskan waktunya untuk mengurusi bakau. Perawakannya agak gemuk, namun langkahnya masih tegap. Ya, Ibu Murni menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurusi bakau di Taman Wisata Alam (TWA) Kapuk, Muara Angke. Akrab. Itu obrolan kami siang jelang sore itu. Ibu Murni cerita panjang lebar tentang perjuangannya mempertahankan hutan kota ini. Obrolan juga mengarah ke berbagai arah. Mulai dari Lia Eden, (yang Ibu Murni sebut sebagai Lia Edan - itu kata cucu saya, katanya), soal pungutan Dephut hingga pemilu 2009. Khusus Lia Eden, kebetulan Ibu Murni kenal baik. Sempat mengikuti "jalan" Lia Eden, namun berbalik arah di tengah jalan. "Sebetulnya Lia itu orangnya baik sekali, hanya saja jalan yang ditempuh menjadi tidak baik". Lia itu dulunya pengusaha bunga.&lt;br /&gt;Khusus mengenai kegigihannya mempertahankan hutan bakau seluas hampir 1000 ha ini, tak lain karena panggilan hati. "Masak setiap jengkal tanah di Jakarta tak ada tumbuhannya". "Apalagi hutan?" Hampir tak ada kan. Karena adanya bakau, ya akhirnya saya memilih melestarikan bakau. "Disini kami melakukan pembibitan, juga membantu penanaman". "Selain itu juga perawatan". "Banyak kan yang selesai tanam gak tumbuh-tumbuh karena gak di rawat" kelakarnya. "Liat aja tuh penanaman bakau di Marunda"kritiknya. "Semangat menanamnya sih boleh, tapi kan tak cukup sampai disitu". "Kalau disini, begitu selesai tanam, anak-anak saya minta turun untuk mengecek, bener tidaknya cara menanam orang-orang itu"terangnya.&lt;br /&gt;Obrolan kami terpenggal. Sesaat kemudian, saya diantar salah seorang pegawai Ibu Murni untuk melihat secara langsung proses pembibitan dan juga persiapan penanaman bakau. Memang terbukti apa yang disampaikan Ibu Murni. Bakau disini tumbuh lebat. Karena tidak hanya dijaga, namun juga lokasi dan jarak penanaman diperhitungkan dengan matang. Saya melihat beberapa orang sedang mempersiapkan pot-pot dari bambu untuk penanaman. Pot-pot ini sedianya akan ditanami organisasi gereja beberapa hari kemudian.&lt;br /&gt;Rimbun, itulah kesan yang saya dapat. Sementara selama ini, ketika kita berlibur di Jakarta hanya selalu disodori mal dan mal, TWA ini bisa menjadi pilihan. Wisata alam di Jakarta. Kapan lagi?&lt;br /&gt;Setelah melihat sekeliling, saya kembali ke ruang bambu itu. Ibu Murni masih disana. Sambil minum teh, Ibu Murni kembali bercerita. "Saya tuh heran sama dephut". "Lha wong kita ini mau ngurusi bakau kok malah mereka minta duit". "Harusnya kan justru mereka yang kasih duit ke kita karena kita mau ngurusi hutan bakau ini". "Iya gak". Karena urusan duit ini, sebenarnya saya malu. Dephut maunya di TWA ini ada retribusi karcis masuk, dll. Ya intinya harus menghasilkan. Mereka beranggapan bahwa TWA itu tempat wisata, jadi harus ada kontribusi ke dephut. "Saya sudah diultimatum 3x". "Akhirnya saya menyerah deh, walau itu bertentangan dengan hati nurani saya". "Daripada fungsi hutan bakau ini akan diselewengkan". "Siapa yang bisa menjamin, hutan ini akan tetap seperti ini kalau di pegang orang dephut". "Jangan salah mas, yang incer tempat ini tuh banyak". "Kemarin malah ada yang nawari mau bikin mal". "Gila apa?". "Pemda malah sempat mengusulkan akan dijadikan TPA pengganti Bantar Gebang". "Apa kurang sintingnya tuh ide pemda". "Belum lama ini orangnya Ciputra juga datang". "Mereka bilang: Ibu Murni mau butuh berapa M". "Kalau saya gelap mata, mungkin sudah saya ambil saja tuh uang mereka". "Jaman sekarang siapa  yang tidak butuh uang". "Nah karena itulah saya mati-matian perjuangkan hutan bakau ini". "Sebab kalau sampai jatuh ke tangan yang salah, bisa-bisa hutan bakau Jakarta hanya tinggal kenangan" imbuhnya. Jangan-jangan disini nantinya akan menjadi "BAKAU MAL". Ha............&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-5853823287243391749?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/5853823287243391749/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=5853823287243391749&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5853823287243391749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/5853823287243391749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/04/ibu-murni-antara-bakau-mal.html' title='Ibu Murni: Antara Bakau &amp; Mal'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/SCKogRwa2PI/AAAAAAAAAL0/A_Sx5Y2l4QA/s72-c/index_r1_c1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1181169373777830473</id><published>2008-04-15T20:36:00.000-07:00</published><updated>2008-04-15T23:50:39.389-07:00</updated><title type='text'>Kembang Mbah Siti</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hari itu aku dalam sebuah perjalanan menuju Ungaran, Jawa Tengah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Begitu naik, ternyata masih banyak bangku yang kosong. “Asyik” batinku. Aku dengan bebas memilih bangku agak belakang, favoritku. Segera saja kudaratkan badan yang terasa pegal setelah semalaman terguncang di dalam ular besi dari Jakarta. Walau lelah, tapi aku paksakan melihat sekeliling kota Semarang yang beberapa waktu silam pernah aku tinggali. “Bandung bandung” teriak kenek bus. Yang dimaksud Bandung bukannya kota Bandung di Jawa Barat, tapi Bandungan, sebuah daerah sejuk di lereng Menoreh. Tak banyak yang berubah. Kota tua masih seperti dulu. Tapi agak tertata sekarang. Beberapa bangunan mengalami renovasi. Yang paling mencolok atribut kampanye pemilihan gubernur Jawa Tengah bertebaran dimana-mana. Calonnya lumayan banyak. Ada wali kota Semarang, ada mantan Pangdam, ada mantan dosen bahasa Jepangku juga. Wah bakal semarak sepertinya. Bus masih melaju pelan sambil terus mencari penumpang. Menginjak Jl. Dr Cipto, tepatnya di perempatan kampung kali, seorang nenek tua naik dan duduk di sebelahku. Awalnya aku diam saja. Hanya anggukan yang aku berikan ketika si nenek permisi mengambil duduk di sebelahku. Warna putih menghampiri hampir semua rambutnya. Beberapa helai masih tampak hitam, tapi itu sudah jauh berkurang. Wajah tuanya tak bisa disembunyikan. Kerut kulit terlihat jelas di sana-sini. Dari wajah hingga kaki. Pertanda si empunya memang sudah berusia lanjut. Matanya sudah cekung masuk ke dalam. Dengan baju motif cerah dipadu terusan batik, tak lupa selendang kesayangan tak henti melekat di leher. Selendang ini pula yang dijadikan tempat penyimpanan harta. Usianya aku perkirakan 70-an tahun. Mungkin lebih. Sebab hampir sama dengan Ibuku di rumah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akhirnya aku beranikan diri ngobrol dengannya. Turun mana, dari mana adalah pertanyaan standar yang aku sodorkan. Dengan ramah, dia jawab semua pertanyaanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i&gt;Bade wonten pundi Mbah&lt;/i&gt;” tanyaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i&gt;M&lt;/i&gt;a&lt;i&gt;ntuk Mas. Wonten Sumowono&lt;/i&gt;” tungkasnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i&gt;Oh Sumowono, wah tebih ngeh Mbah&lt;/i&gt;” lanjutku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i&gt;Nggih, tebih Mas&lt;/i&gt;” jawabnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i&gt;Ben dinten nggih kados niki&lt;/i&gt;”.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“&lt;i&gt;Sadean kembang Mas&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i&gt;Gadahan piyambak Mbak&lt;/i&gt;” tanyaku lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i&gt;Mboten Mas, mendet saking tiyang&lt;/i&gt;” pungkasnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Belum sempat aku tanya namanya. Naik seorang ibu. Usianya agak lebih muda. Begitu naik, mereka terlibat obrolan. Setelah itu, naik lagi seorang ibu paruh baya. Sama. Mereka saling akrab. Dari obrolan itu bisa aku pastikan bahwa mereka bertetangga. Dari obrolan itu pula, aku tahu kalau nama nenek yang duduk di sebelahku itu adalah Siti. Ya Mbah Siti. Walau terlihat sepuh, tapi jangan ditanya soal energi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Hampir tiap hari, Mbah Siti membawa bunga-bunga bukit Menoreh untuk dijajakan di Semarang dan sekitarnya. Subuh biasanya ia berangkat, jauh sebelum magrib sudah berada di bus menuju pulang ke rumah lagi. Demikian kesehariannya. Tak tampak rasa lelah apalagi kecewa di wajahnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Itu yang aku kagum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Souvenir Light BT&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bus makin melaju. Seketika, penuh sesak penumpang terjadi. Mbah Siti sudah tidak bisa lagi berbincang dengan tetangganya. Dan lelap akhirnya yang dipilih. Aku pun rasanya terpengaruh lelap Mbah Siti. Tapi mata ini tak mau terpejam. Aku biarkan kepala Mbah Siti sesekali mampir di pundakku. “Tak apalah” pikirku. “Kasihan Mbah Siti”. Tak selang lama, aku pun siap-siap turun. Sementara Mbah Siti masih jauh dari tujuan. Setelah minta diri, aku pun siap-siap menjejakkan kaki ke jalan aspal besar. Dengan susah payah aku berhasil keluar dari sesakan penumpang. Bus sudah jauh melaju. Pikiranku ternyata juga ikut melaju….. Selang berjalan beberapa meter, perut rasanya minta diisi. Segera aku hampiri, tukang nasi kucing. “Es teh mas” pesanku sembari mencomot nasi tempe kering. Sambil melahap potongan mendoan, aku masih terpikir dengan sosok Mbah Siti. Usia sepuh tak menghalanginya beraktivitas. Semangatnya itu lho. Aku yang jauh lebih muda merasa kalah. Tiap kali diberi beban pekerjaan sedikit aja selalu ada kata keluhan. Ini kurang, itu kurang, dsb. Mbah Siti mengajarkanku apa itu semangat. Ya semangat. Semangat itulah yang belakangan aku merasa kehilangan. Semoga kembang Mbah Siti terus mekar di benak semangatku. Ya semoga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Souvenir Light BT&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Souvenir Light BT&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Souvenir Light BT&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1181169373777830473?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1181169373777830473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1181169373777830473&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1181169373777830473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1181169373777830473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/04/bunga-mbah-siti.html' title='Kembang Mbah Siti'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-1950682168534844580</id><published>2008-04-11T00:38:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T01:49:45.474-07:00</updated><title type='text'>Good Writing = Rewriting</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt;Selama ini aku merasa bahwa menulis itu adalah pekerjaan yang mudah &amp;amp; gampang. Mengapa? Bukankah dari sejak TK kita sudah diajari ibu guru? Lantas waktu SD kita selalu di ajak menulis di papan hitam: ini Budi, ini bapak Budi, ini ibu Budi? Kita juga diajari nulis yang rapi, dst, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti itulah adanya jika melihat teman-teman di kantor. Mereka sepertinya tak menemui banyak kesulitan dalam membuat skrip atau naskah lainnya. Toh selama ini rasanya lancar-lancar saja (Mungkin aku tak tahu kesulitan mereka secara dalam) karena memang aku hanya mengamati dari luar saja. Memang kadang kala aku dengar si bos membenarkan atau merapikan skrip yang telah ditulis biar sesuai dengan tema atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;angle&lt;/span&gt; yang diangkat. Kebetulan aku jarang berhubungan dengan teknis menulis secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sepintas mudah, menulis ternyata tidak mudah. Banyak hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya, tujuan kita menulis. Walau banyak orang bilang, kalau mau nulis ya nulis aja, tapi ternyata kita harus tetap memperhatikan untuk apa tulisan itu kita buat. Minimal kita menyiapkan pikiran kita sebelum menulis. Itu yang disampaikan bosku di kantor dalam tr&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aining: clear business writing. Think, then we can write.&lt;/span&gt; Begitu ujarnya. Beliau juga menegaskan, apapun pekerjaan kita, entah level manajemen, entah level teknis sekali pun, diperlukan adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;skill writing&lt;/span&gt; ini. Sebab ini adalah penilaian dasar  manajemen terhadap karyawan.  Di Indonesia kita masih lebih senang memakai budaya lisan. Alias cuap-cuap saja. Padahal komunikasi tertulis jauh lebih penting. Setidaknya bisa sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;reminder,&lt;/span&gt; sebab kemampuan otak manusia ada batasnya. Menulis internal memo saja, itu ternyata juga tidak mudah. Padahal sering kali aku baca, intenal memo ya intinya begitu begitu saja. Padahal di balik itu semua ternyata rumit juga. Bagaimana kita menyampaikan "kekesalan" kita melalui internal memo, apalagi itu. Kalau dalam dunia tulis menulis (sastra), kita diajarkan untuk menulis dengan kaidah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lead, body, &amp;amp; conclusion&lt;/span&gt;. Tapi dalam dunia kerja, khususnya menulis memo, itu semua menjadi tak terpakai. Hal-hal penting sajalah yang ditulis. Tidak usah bertele-tele. Langsung saja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;to the point. &lt;/span&gt;Intinya saja yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun memang butuh latihan supaya mahir. Demikian pula dengan menulis. Bahkan salah satu penelitian mengatakan, ternyata dunia tulis menulis, termasuk pekerjaan wartawan/jurnalis tidak dikuasai oleh mereka yang kulih di jurusan komunikasi, tetapi oleh jurusan-jurusan lain. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:100%;"  &gt; Bahkah jurusan komunikasi tidak sampai 10 %. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ini artinya  bahwa persoalan menulis bukan monopoli sebuah jurusan komunikasi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya seorang atlet terbaik, dia hanya akan jago dan menang setiap kali pertandingan hanya karena latihan dan latihan. Seorang Beckam yang terkenal tendangan pisangnya, ternyata selalu latihan ekstra. Demikian pula penerusnya di MU, Cristiano Ronaldo. Tendangan Beckam dan Ronaldo memilik ciri sendiri. Dan itu adalah buah dari latihan keras. Orang sekarang melihat bagaimana spektakulernya tendangan mereka. Padahal jauh hari mereka sudah melatihnya dengan keras. Dan itu tidak dilihat orang. Demikian pula dengan menulis. Ada yang begitu cepat bisa menumpahkan isi kepalanya dalam tulisan dalam waktu singkat, ada pula yang harus menunggu jatuhnya ilham dari langit. Itu semua adalah buah dari latihan setiap hari. Jadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt; good writing ya good rewriting.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Iya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;gak sih?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-1950682168534844580?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/1950682168534844580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=1950682168534844580&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1950682168534844580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/1950682168534844580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/04/good-writing-rewriting.html' title='Good Writing = Rewriting'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-2478697594862288239</id><published>2008-04-07T21:24:00.000-07:00</published><updated>2008-04-07T21:56:34.092-07:00</updated><title type='text'>Republik Birokrat Buta &amp; Tuli</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Hari ini aku baca koran. Pak BY marah karena banyak peserta pembekalan kepala daerah di Lemhannas yang tertidur ketika dia sedang berpidato. Ini cuplikan kemarahan Pak BY :  &lt;/span&gt;"Pimpinan bagaimana dapat memimpin rakyat kalau tidur! Malu dengan rakyat yang memilih. Untuk mendengarkan pembicaraan untuk rakyat saja tidur! Jangan main-main dengan tangung jawab. Berdosa, bersalah dengan rakyat," ujarnya. Itu di depan kepala negara yang katanya orang no. wahid se-negara ini. Gimana mereka kalau dihadapan rakyatnya sendiri? Mungkin ditinggal main petak umpet kali ya. Ngomongin soal aparat negara ini, rasanya memang yang terdengar selalu nada miring. Yang boloslah, yang ngopi ketika jam kerja, yang shopping di saat jam kantor, dll. Belum lagi soal lambannya birokrasi ketika kita mengurus ini itu. Padahal kita yang menggaji mereka dengan pajak yang selalu kita bayar. Heran kan. Beberapa waktu yang lalu aku juga sempat ke salah satu kantor pemerintahan. Gila banget. Sepi banget, padahal itu jam kerja. Kemana saja mereka? Ternyata di seberang sana terlihat mereka yang sedang terlelap, ngopi, ngerumpi, dan seabreg aktivitas tak produktif lainnya. Padahal listrik nyala, ac nyala, dll yang semuanya mengeluarkan biaya. Siapa yang membayar biaya boros itu? Bukan mereka tapi kita-kita ini, rakyat!&lt;br /&gt;Makanya jangan heran kalau rakyat skeptis dengan program-program pemerintah. Sebab hampir selalu tak kenal ujung pangkalnya. Belum lagi yang mengatasnamakan proyek yang pasti ujung-ujungnya duitnya dikorupsi juga. Sudah jadi rahasia umum, selalu saja ada biaya siluman kalau kita mau berurusan dengan birokrat kita. Ini memang tak bisa dipungkiri sebab ketika mereka akan menjadi birokrat saja diperas habis-habisan. Lha kapan lagi balikin modal jika bukan sekarang? Mungkin itu pemikiran mereka. Artinya mereka akan ramai-ramai membalikkan modal secepat kilat dengan berbagai cara, tak peduli jika dalam prosesnya  itu berdampak pada kesengsaraan rakyat.&lt;br /&gt;Memang ada sih beberapa perubahan birokrat. Misalnya di Sragen Jawa Tengah. Disana birokrat-birokratnya dilengkapi teknologi yang memungkinkan semua rakyat bisa mengawasi. Belum lagi beberapa aturan yang dulu kolot dirubah drastis. Seperti pembuatan KTP. Yang dulunya berhari-hari, sekarang tinggal 5 menit saja. Jika birokrat dalam melayani lebih lambat dari waktu yang ditentukan, yang bersangkutan dikenakan sanksi. Prinsip ini nyaris serupa dengan cara kerja pelayanan di rumah makan cepat saji. Perubahan birokrat juga  terjadi di Tabanan Bali. Disini bupati mengeluarkan kebijakan untuk membebaskan  biaya pendidikan. Belum lagi di Bantul, DIY, semua guru-guru SMA-nya diwajibkan untuk mengambil S2 dengan fasilitas bupati. Mereka sadar bahwa rakyatnya harus terus dipintarkan untuk mengikuti perkembangan dunia yang kian mengglobal. Jika tidak sekarang, kapan lagi? Itu salah satu batin birokrat yang mau memikirkan rakyatnya.&lt;br /&gt;Contoh-contoh diatas memang masih jauh dari panggang api. Dari sekian ribu daerah di Indonesia, masih saja terdengar pejabat kita yang berkorupsi. Tak tanggung tangung mereka berkorupsi berjamaah alias ramai-ramai. Ini artinya birokrat kita masih saja buta &amp;amp; tuli dengan kesulitan rakyatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-2478697594862288239?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/2478697594862288239/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=2478697594862288239&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2478697594862288239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/2478697594862288239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/04/republik-birokrat-buta-tuli.html' title='Republik Birokrat Buta &amp; Tuli'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-3461488387304398128</id><published>2008-04-02T01:58:00.000-07:00</published><updated>2008-04-02T02:24:45.700-07:00</updated><title type='text'>Balada Togel, Lapindo, &amp; Tokek</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;Sambil duduk termenung Is menghirup rokoknya. Hembusannya dalam menerpa angin sore itu.  Si Is, tukang mie dekat rumah selalu mengeluh. Harga-harga terus naik. Terigu, minyak sayur, termasuk sayuran terus saja naik. Sementara dia tak berani  menaikkan harga mie-nya yang tak beranjak dari angka 5 ribu perak.  "Bisa bangkrut kalau begini terus"ujarnya. Is akhirnya menyiasati keuntungan dagangnya dengan bertaruh togel. Baginya togel bisa sebagai obat mujarab kegundahan hatinya. Apalagi kalau dapat! Sebenarnya bukan hanya Is yang mengeluh. Mbak Gina, pembantu kostku juga mengeluh hal yang sama. Apalagi soal minyak tanah. Selain mahal, barangnya pun semakin langka. Seorang kawan juga mengeluh hal yang sama. Jika sebelumnya untuk beli susu anaknya cukup 300rb per bulan, kini harus dikeluarkan hampir dua kali lipatnya.  Entah fenomena apa yang terjadi sekarang ini. Hampir semua Pemerintah hanya sibuk dengan urusan kepentingannya sendiri. Seolah tak pernah mengurusi rakyatnya. Dalam buku (mem)Bunuh Lumpur Lapindo, Syafii Maarif mengatakan: Sudah berkali dikatakan bahwa sejak kita merdeka, hampir tidak pernah ada pemerintah kita yang benar-benar membuat kebijakan yang pro-rakyat miskin, rakyat terlantar. &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;Kita menilai pemerintah tidak serius dalam menangani bencana Lapindo ini. Artinya sebuah negara yang ditegakkan di atas nilai-nilai Pancasila yang luhur dan agung di tangan penguasa yang tidak peka dan tidak tanggap, akibatnya adalah serba ketidakpastian yang membawa penderitaan bagi rakyat yang dihimpit bencana. Jika memang lumpur Lapindo ini disumbat berdasarkan perhitungan teknologi mutakhir, mengapa pemerintah tidak memaksa pihak perusahaan untuk melakukannya? Bukankah pemerintah adalah sebuah kekuatan pemaksa secara konstitusional terhadap mereka yang tidak patuh? Jika paksaan ini tidak dilaksanakan, padahal kekuasaan ada di tangan, maka tidak ada kesimpulan lain kecuali bahwa pada pemerintah memang tidak punya wibawa, apapun pertimbangan yang melatarbelakanginya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tragedi Lapindo merupakan cerminan bobroknya pengelolaan negara dan elit politik yang diberi kepercayaan oleh rakyat. Mereka sebenarnya diberi amanat untuk menyejahterakan rakyat lahir dan batin, sehingga diperbolehkan mengeksploitasi sumber daya alam (SDA), tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sumber daya alam habis, rakyat tetap dalam keadaan miskin dan nestapa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Tak tahulah ada apa dengan bangsa ini. Tapi yang pasti mereka yang miskin selalu yang dimarjinalkan. Akhirnya mereka akan lebih memilih menikmati tebak tokel angka togel daripada pusing memikirkan harga yang makin menjerit.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-3461488387304398128?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/3461488387304398128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=3461488387304398128&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3461488387304398128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/3461488387304398128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/04/balada-togel-lapindo-rakyat-kecil.html' title='Balada Togel, Lapindo, &amp; Tokek'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-8637593563983999620</id><published>2008-03-19T02:06:00.001-07:00</published><updated>2008-03-30T06:45:10.194-07:00</updated><title type='text'>Antara Si Belang, Poni, &amp; Bandit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/R-DYi5qYmwI/AAAAAAAAALk/E0PG6XvwH9Q/s1600-h/P1070762.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/R-DYi5qYmwI/AAAAAAAAALk/E0PG6XvwH9Q/s320/P1070762.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179377665581816578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hari ini aku cuma mau nulis aja. Gak ada yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;special &lt;/span&gt;sih kali ini. Cuma mau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sharing&lt;/span&gt; sedikit saja tentang si Belang. Sebut saja namanya begitu karena dia memang tidak memiliki nama.&lt;br /&gt;Mata bulatnya tajam ke sana kemari. Ekor putihnya berkibas. Telinga panjangnya menjulang ke udara. Dengan jalan pelan ia menghampiri kami. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Langkahnya mantap walau tak terlalu cepat karena badan yang gemuk. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tak tampak rasa ketakutan di wajahnya. Padahal kami baru bertemu pertama kali. Bulunya merona putih bercampur hitam. Entah siapa namanya. Aku sebut saja si belang. Sebab bulunya cuma 2 warna hitam &amp;amp; putih. Dia menghampiri kami. Satu per satu berusaha di dekati. Tak lama ia pun mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita seorang kawan, Idris,  dari Yayasan Terangi, si Belang ini dibawa dari Bogor. Dulunya sekawan tiga ekor, namun yang berhasil beradaptasi tinggal si Belang. Entah sampai kapan si Belang masih bisa bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Belang di pulau Panggang ini menyeruakkan pikiranku ke masa lalu. Masa dimana aku masih pakai baju merah putih. Masa itu kami sekeluarga memelihara si Belang hampir 40an ekor. Sekandang besar. Tiap hari kami harus mencari rumput &amp;amp; beraneka pakan lain. Pemeliharaannya tak bisa main-main. Pergantian pakan, cukup sirkulasi udara, persediaan air, dll adalah sebagian kecil dari ritual pemeliharaan si Belang dkk. Salah urus sedikit saja, si Belang satu per satu meninggalkan kita. Dan itu juga yang terjadi dengan si Belang kami. Entah karena kesibukan kami yang harus ikut membantu orang tua, satu per satu si Belang meninggalkan kami. Saat-saat yang paling mendebarkan adalah ketika si Belang betina beranak. Sekali beranak bisa mencapai 5-6 ekor sekaligus. Hampir sama dengan anjing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Flash back&lt;/span&gt; sebentar, keluarga kami pada dasarnya penyuka binatang. Setidaknya ada kambing hingga 8 atau malah 10 ekor ya. Ayam, belum lagi 2 anjing kami. Poni dan Bandit. Poni anjing betina dengan corak belang juga. Hitam dan putih. Poni sudah beranak pinak entah sampai berapa. Tiap kali kami ke sawah, Poni selalu membuntuti dan menjaga kami dari belakang. Bahkan suatu kali, tanpa kami sadari dia berhasil menangkap "garangan". Garangan dalam bahasa kami adalah sejenis hewan liar yang merusak tanaman. Hari itu Poni membawa lauk untuk kami hari itu. Sebagai balasannya, kami berikan Poni porsi besar. Poni seperti anjing kampung lainnya, selalu menjaga kami di malam hari. Dia tidak pernah tidur di dalam rumah. Jarang sekali dia seliweran di dalam rumah. Satu dua kali dia di dalam rumah karena urusan makan. Kami biasanya makan bareng. Poni sangat penurut. Tiap kali makan kami selalu memintanya duduk. Dan dia menuruti. Mungkin itu karena kami latih semenjak dia kecil. Sayang sekali, Poni harus meninggalkan kami dengan tragis. Sebuah motor mencabut nyawanya. Kami pun sangat kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa lama, kami menemukan penggantinya. Masih kecil. Kira-kira baru berusia beberapa bulan. Kami namai Bandit. Bandit artinya bandel, karena kali ini anjing kami jantan. Bulunya berwarna coklat. Tiap kali pulang sekolah, rasanya kurang afdol kalau tidak menggendongnya atau memberi tajin kesukaannya. Sayang, Bandit juga meninggalkan kami dengan tragis. Kali ini sebuah bis mini. Poni &amp;amp; Bandit meninggalkan kami selamanya. Itu kejadian sudah lama sekali. Rasanya masa-masa itu, sekarang ini sedang aku sangat rindukan. Entah sampai kapan aku akan kembali dikelilingi Si Belang, Poni, ataupun Bandit lagi. Poni, Bandit dimana kamu sekarang??&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-8637593563983999620?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/8637593563983999620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=8637593563983999620&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8637593563983999620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/8637593563983999620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/03/kelinci.html' title='Antara Si Belang, Poni, &amp; Bandit'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/R-DYi5qYmwI/AAAAAAAAALk/E0PG6XvwH9Q/s72-c/P1070762.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-6703979613011115548</id><published>2008-03-17T23:43:00.001-07:00</published><updated>2008-03-19T02:56:45.604-07:00</updated><title type='text'>Anarchy</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/R-DjUZqYmxI/AAAAAAAAALs/_xTRQ1dmCpU/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/R-DjUZqYmxI/AAAAAAAAALs/_xTRQ1dmCpU/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179389511101618962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Papyrus;"&gt;Anarchy&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Papyrus;"&gt; itu artinya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanpa pemerintahan. Bebas merdeka tanpa aturan. Itulah yang menjadi paham bagi anak-anak &lt;i&gt;punk&lt;/i&gt;. Kita sendirilah yang berhak mengatur diri kita sendiri. Tak ada aturan apalagi pemerintahan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dari luar dandanan mereka “menyeramkan”. Rambut gimbal, kadang juga model Mohawk, kusam, jarang mandi, dekat minuman keras, dan seabreg emblem negatif ditujukan kepada mereka. &lt;i&gt;Punk&lt;/i&gt; memang identik dengan kebebasan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ekspresi kebebasan itulah jalan hidup mereka. Bebas mengatur diri sendiri tanpa tergantung orang lain apalagi pemerintah. Paham ini aku dapatkan dari anak &lt;i&gt;punk &lt;/i&gt;sendiri.&lt;i&gt; Anarchy&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;inilah yang menjadi jiwa &lt;i&gt;punk&lt;/i&gt;. Memang tak dipungkiri banyak juga diantara mereka yang hanya sekedar ikut-ikutan kawan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Papyrus;"&gt;Prinsipnya anak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;punk &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ingin mengatur dirinya sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Papyrus;"&gt;Jika direnungkan sejenak, paham ini rasanya kok hampir sama dengan yang sekarang bangsa ini alami. Rakyat harus berjuang sendirian di medan pertempuran. Harga terus melambung tinggi, susu terigu dan serangkaian bahan pokok lainnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pemerintah seraya tak berdaya menghadang harga-harga.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketika harga minyak dunia terus merangkak, pemerintah pun tak kuasa mencari terobosan. Malah mereka berencana menaikkan BBM. Bisa diduga, naiknya BBM berarti pula naiknya kebutuhan lainnya. Ujung-ujungnya makin berat saja beban rakyat ini. Kalau pemerintah hanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bisa menaikkan harga, itu sama artinya pemerintah membunuh rakyatnya sendiri pelan-pelan.  Pemerintah cuma  mikirin perutnya  sendiri  bukan perutnya rakyat.  Bukankah pemerintahan itu sebagai manifestasi dari  pelayanan publik alias  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;public servant&lt;/span&gt;?  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Papyrus;"&gt;Ketika banjir menerjang Jakarta beberapa waktu lalu, pemerintah mengkambinghitamkan curah hujan yang tinggi. Ketika sekarang banyak jalanan ibukota yang berlubang, pemerintah juga menyalahkan pemotongan anggaran perbaikan oleh DPR. Selalu saja mencari alasan.  Berbagai alasan selalu dicari pemerintah tanpa pernah mau mencari solusinya. Jika pemerintah hanya bisa mencari kambing hitam, untuk apa mereka menjadi pejabat publik? Mereka seolah lupa bahwa yang menggaji mereka itu duit rakyat. Mobil yang dinaikinya itu bensinnya hasil patungan 200an juta rakyat. Ringkasnya pemerintah gagal melindungi rakyatnya. Lantas apa gunanya ada pemerintah? Bukankah pemerintah berkewajiban menyejahterakan rakyatnya? Memberi rasa aman rakyatnya? Tapi mengapa masih saja ada anak &amp;amp; gelandangan di pinggir jalan, kasus busung lapar, dll. Kemana saja mereka yang ketika berkampanye menjanjikan “perubahan”. Jangan-jangan mereka sekarang sudah berubah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Papyrus;"&gt;Berubah menjadi lupa?!  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Papyrus;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2455676979469286145-6703979613011115548?l=wiedodo.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wiedodo.blogspot.com/feeds/6703979613011115548/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2455676979469286145&amp;postID=6703979613011115548&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6703979613011115548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2455676979469286145/posts/default/6703979613011115548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wiedodo.blogspot.com/2008/03/anarchy.html' title='Anarchy'/><author><name>hidoep@perjoeangan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07583241197122556093</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_RsVTkDG9Mng/SHRUJNhTWZI/AAAAAAAAANg/yhpWvP3rWbw/S220/P1000550.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/R-DjUZqYmxI/AAAAAAAAALs/_xTRQ1dmCpU/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2455676979469286145.post-5948480087995423677</id><published>2008-03-10T21:09:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T21:18:40.655-07:00</updated><title type='text'>Memandang Mentari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/R9YGmZqYmuI/AAAAAAAAALU/mTJco8wAwEA/s1600-h/siapa+ya.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_RsVTkDG9Mng/R9YGmZqYmuI/AAAAAAA
